alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57265fb556e6af1b608b456b/wanita-di-seberang-jendela-kelas
Wanita di Balik Jendela Kelas Seberang
A. Prolog

Orang bilang masa SMA merupakan masa yang paling indah, namun bagiku segalanya berjalan begitu lambat. Seminggu telah berlalu namun tak ada yang begitu spesial selain memperhatikan guru yang sedang mengajar. Menjemukan, itu yang aku rasakan. Terjebak dalam segala rutinitas yang terpakza harus ku jalani hari demi hari. Duduk dikelas dari pagi, memperhatikan guru mengajar, mendapatkan PR atau tugas kelompok, pulang kerumah atau mampir ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu sebelum matahari tenggelam.

Setelah 9 tahun menjalani rutinitas yang sama, hari ini baru ku sadari ada sesuatu yang mengganjal di hati. Entahlah, akupun tak tahu. Sepi, itulah yang ku rasakan. Rasanya ada lubang di dalam hatiku. Membuatku ingin berteriak begitu kencang namun ku tak bisa, karena aku tak tahu alasannya. Mengapa aku begitu gelisah. Rasanya aku ingin mati saja, biar aku bisa bertemu dengan Tuhan dan bertanya tentang apa yang aku rasakan.

Hari ini adalah puncak dari kegelisahanku. Terlalu bosan mendengarkan ocehan guru hari ini memaksaku memalingkan wajah ke arah jendela. Kulihat seorang wanita yang duduk di samping jendela kelas seberang. Posisi kela kami berseberangan, namun posisi dudukku berhadapan dengannya sehingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rona wajahnya. Wajahku terpaku menatap wajahnya. Begitu indah. Rasanya aku ingin ingin berlari kesana agar aku bisa menculiknya. Kan ku sembunyikan kau dari pandangan dunia dan ku jadikan kau milikku selamanya. Mungkin inilah jawaban yang ku cari selama ini.

Tanpa sadar aku bergumam, “Hei nona bolehkan aku mengetahui siapa dirimu meskipun itu hanya sebatas namamu ?”. Namun aku tidak memiliki keberanian itu. Hei nona mungkin aku terlalu lancang untuk memberikan sebuah nama. sebuah nama yang ku sebutkan sebelum aku tertidur hingga aku bisa memimpikanmu setiap malam. Jangan khawatir nona, aku akan memberikan nama yang indah. sebuah nama yang indah untuk wanita yang indah sepertimu. Dan mulai saat ini ku panggil kamu dengan nama ‘Citra Dewi’.

Citra Dewi, sungguh nama yang indah. Suatu nama yang menunjukkan bagaimana dirimu yang sesungguhnya. Apakah kau tahu apa arti dari nama Citra Dewi nona ? Nama itu berarti gambaran dari sang dewi. Yah, ku pikir kau adalah gambaran dari bidadari-bidadari penghuni surga.

Maaf nona kelancanganku bukan hanya satu tapi dua. Dan inilah kelancanganku yang kedua, yaitu selalu membayangkan kamu selalu berada di sisiku mulai dari saat ini hingga aku mati dengan bahagia di pelukanmu nanti. Namun aku sadar nona, ide tidak akan mampu melampaui realita. Dan kurasa ide itu sudah cukup membuatku bahagia hingga saat ini.
***

Hari senin adalah hari favoritku. Hari dimana aku pertama kali melihat sosok citra dalam hidupku. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat semenjak kehadiran sosok citra disana. Ya, di balik jendela kelas itu.

Seminggu telah berlalu, namun tak ada yang berubah selain rasa benciku terhadap hari sabtu dan minggu. Ya, sabtu dan minggu. Saat orang lain sedang bersenang-senang, aku hanya bisa membayangkan diriku duduk dikelas memandangi sosok citra yang berada dibalik jendela kelas itu. Semenjak hari itu aku mulai merasa gila. Bahkan sampai aku melakukan hal diluar logika. Yah, mungkin tak salah apabila Jallaluddin Rumi menyatakan bahwa cinta membunuh pengetahuan.

Hari minggu atau lebih tepatnya disebut dengan kemarin. Aku datang ke sekolah hanya untuk memandangi tempat duduk citra dari arah kelasku. Ada yang kurang, dan itu adalah citra. Tempat itu tanpa citra bagai taman tak berbunga. Terasa begitu hampa, atau lebih tepatnya kehilangan nilai eatetikanya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tempat itu adalah tempat favorit bagiku. Sebuah tempat yang menyimpan kenanganku tentang sosok citra yang mengganggu lamunanku.

Citra kau tahu mengapa sabtu dan minggu terasa begitu menyiksa ? Bagi seorang pecinta sepertiku, tak ada yang lebih menyiksa selain rasa rindu yang menyayat hati. Itulah alasan mengapa hari sabtu dan minggu menjadi hari yang paling ku benci ku mulai menyadarinya.

Tak pernah sedetikpun ku palingkan wajahku dari citra. Hal tersebut terlihat begitu mencurigakan apalagi bagi teman sebangku ku yang juga sahabatku. Dia adalah topan. Sifatnya sama seperti namanya, begitu mengganggu dan senang membuat keributan. Jika di dunia ini ada keajaiban kkedelapan mungkin itu adalah aku dan topan. Dua orang yang mempunyai sikap saling bertolak belakang bisa bersahabat merupakan sebuah keajaiban bukan ?

Ya semuanya diawali dari setahun yang lalu. Saat kami berada di smp. Saat itu aku sedang asyik menulis sebuah puisi dan kebetulan puisi itu adalah puisi cinta karena aku sedang terbawa suasana oleh pesona seorang Pablo Neruda. Seorang penulis yang sangat kharismatik, bahkan kata benci saja bisa ia jadikan sebuah kaya yang indah untuk meluluhkan hati seorang wanita. Sungguh luar biasa.

Disaat aku sedang asyik-asyiknya menulis. Tiba-tiba seseorang datang mengambil catatanku. Dan itu adalah Topan. Sejujurnya aku agak marah namun ia terlihat begitu senang seperti seseorang yang menemukan barang yang hilang. Dia pun berkata,

Quote:"ini dia yang ku cari-cari selama ini",
"Maksudnya ?" Tanyaku
"Aku ingin membuat puisi untuk menyatakan cinta kepada seorang perempuan, namun aku tidak pernah merasa puas. Jika ku ambil dari internet pasti mudah ketahuan bahwa aku menjiplak. Oh iya namaku topan dari 3E. Kamu siapa ?
"Farid dari 3G"
"Rid buat aku ya ?"
"Iya tak masalah tapi..."
"Alah ga ada tapi-tapian"


Ia pun bergegas pergi, ya sudahlah mungkin ia menyadari bahwa puisi itu belum selesai. Ya sudah aku tulis kembali siapa tahu ia membutuhkannya.

Setahun telah berlalu. Ku dengar mereka menjalin hubungan. Sepertinya tak ada masalah antara mereka berdua. Ya syukurlah, meskipun aku merasa khawatir bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua. Yah meskipun aku tidak pernah mengetahui bagaimana sosok wanita yang di idam-idamkan topan selama ini.

Tak ada gading yang tak retak. Itu pula yang patut disematkan pada sosok Topan. Meskipun dia termasuk sahabat yang baik, namun tetap mempunyai satu kebiasaan buruk. Dan itu adalah mengagetkanku saat aku sedang asik sendirian.

Quote:"Woi, rid kenapa kamu melamun ?"
"Ngaco, siapa yang melamun ?"
"Kamu, liat ke arah sana emang ada yang aneh ya. Kamu liat apa sih ?"
"Tuh liat seorang wanita sedang asik menari"
"Mana ?"
"Itu" sambil ku dongakkan kepalaku
"Ah jangan becanda kamu, mana ga ada"
"Ada, kamu saja yang ga memerhatikan"
"Ah jangan bercanda kamu, buat aku takut saja"
"Serius, itu lihat. Emang aku keliatan bercanda ya ?"
"Engga sih, wah parah. Mana sih ?"
"Itu, seorang wanita yang sedang menari-nari dipikiranku"
"Sialan kamu"
"Hahaha"
"HHhhmmm, kamu liatin dia ya ?" Tanya Topan dengan wajah yang mencurigakan"
"Liatin siapa ?" Ku coba menghindar
"Itu wanita cantik yang berada di balik jendela di kelas seberang ?" Tanya Topan sembari menunjuk ke arah wanita yang selama ini ku perhatikan
"Memang siapa itu ?"
"Itu Amanda, mantanku...."

***
gelar tiker gan
Gelar karpet dulu ahh..
bahasanya lempeng yak ehehehe
smoga rame ya mas brur......

sekalian ijin gelar koran (tiker dan lapak mahal,skrg)
Aamiin, makasih agan- agan silahkan. Sekalian mohon kritiknya apabila ada yang kurang berkenan baik gaya penulisan, plot atau latar atau penggambaran tokoh
B Surat Cinta Untuk Citra

Quote: “Memang Siapa itu ?”
“Itu Amanda, mantanku. Wanita yang ku kirim surat cintamu waktu itu ?”
“Oh dia orangnya ?”
“Iya dia orangnya, seorang wanita yang luar biasa. Asal kau tahu, dia adalah wanita yang menerima ku meskipun dia tak tahu siapa aku. Ya kami tak sempat menjalani pendekatan. Sungguh puisi cintamu ajaib kawan, hahaha”
“Apa ?” kagetku, yah pantas saja dia laki-laki yang atletis, pandai pula. Wanita mana yang tak mau dengan dia
“Yah sayangnya kita pacaran tak lama. Cuman seminggu. Alasannya cukup konyol, dia pikir puisinya belum selesai dan dia memaksaku untuk menyelesaikan puisinya. Sungguh konyol bukan, hahaha.


Pantas saja aku tak pernah melihat sosok wanita yang membuat dia berjuang hingga seperti itu. Aku tak tahu apa yang harus aku bilang pada saat itu. Apakah aku harus jujur saja bahwa puisi itu memang tak pernah terselesaikan. Ataukah aku harus berbohong bahwa itu mungkin hanya pemikirannya saja. Semuanya bercampur aduk dalam ingatanku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan dalam posisiku ini. Aku seperti orang yang jahat. Seorang yang menghubungkan sekaligus memutuskan hubungan mereka berdua di waktu yang sama. Seolah-olah aku mempermainkan perasaan mereka berdua.

Quote:”Maaf ya Pan aku tak bermaksud seperti itu”
“Tenang saja rid aku tahu. Asal kamu tahu sampai saat ini pun aku masih belum bisa melupakan dia. Ssstttt, jangan bilang-bilang ya, ini rahasia kita berdua”


“Aku masih belum bisa melupakan dia”. Kata yang terus terngiang-ngiang di dalam ingatanku bahkan sampai membakar hatiku. Saat ini aku merasa berada di titik nadir. Aku menyukai seorang wanita yang disukai oleh sahabatku. Aku tak tahu bagaimana aku harus bersikap. Antara marah, kecewa, cemburu dan kasihan bercampur menjadi satu. Bagaimana aku harus bersikap. Apa yang harus aku katakan. Siapa yang harus disalahkan. Aku sungguh bingung. Ya Tuhan selamatkan aku dari posisiku sekarang ini. Tak lama bell istirahat pun berbunyi. Aku bergegas berdiri sembari berkata,

Quote:”Pan, maaf aku duluan ya biasa mau ke perpustakaan”
“Ah kamu kan belum selesai aku ceritanya, ya udah aku ikut setelah itu kita ke kantin oke ?”
“Jangan pan, aku ada perlu di sana. Ku pikir akan agak lama, mungkin sampai istirahat selesai”
“Oh oke, ya udah aku duluan ya”
“Iya pan”


Iya pan aku ada perlu dan jika kamu ikut semuanya akan sia-sia, karena keperluanku adalah menghindarimu. Aku tak mau kondisiku saat ini menjadi bahan pikiranmu. Aku tak mau dikasihani oleh siapa pun Pan, terutama dirimu. Aku pikir jatuh cinta begitu sederhana. Semuanya tentang gairah dan hasrat mencintai. Ternyata aku salah. Cinta begitu kompleks, bahkan ketika kita mencintai seseorang, semuanya tak melulu soal cinta. Contohnya, keberadaan dirimu mempengaruhi bagaimana aku mencintai seorang Amanda. Apakah ini benar-benar cinta ataukah rasa kagum yang datang sesaat. Aku sungguh tak tahu Pan. Aku sungguh bingung dengan kondisiku sekarang.

Perpustakaan, merupakan tempat paling ideal untuk menyendiri. Tempat ini merupakan tempat yang paling tidak favoritkan oleh siswa di sekolah. Namun sekarang, perpustakaan merupakan salah satu tempat yang paling aku sayangi di sekolah ini. Tempat di mana aku bisa menyendiri, serta tempat di mana aku tidak diganggu olehmu Pan.

Sudah menjadi kebiasaan, saat perasaanku tercampur aduk. Aku selalu menulis puisi. Entah itu karena membaca buku, karena berimajinasi ataupun saat aku bingung seperti ini. Sebuah puisi yang merefleksikan rasa cintaku untuk Amanda, bukan tapi puisi yang merefleksikan rasa cintaku untuk Citra. Citra dialah cinta pertamaku. Citra bukanlah Amanda. Meskipun mereka orang yang sama, namun memiliki perwujudan yang berbeda. Citra adalah pandanganku yang sempurna tentang wanita yang aku cintai. Sedangkan, Amanda adalah seorang wanita yang aku cintai namun telah tercemari oleh pandangan Topan tentang sosok wanita itu. Dan aku tidak mau itu.

Ku goreskan penaku dengan penuh cinta dan kasih. Setiap tetesan tinta yang mengalir adalah sabda cintaku untukmu. Dan setiap kata yang teruntai merupakan puja-puji yang ku sampaikan untukmu Citra, sang maha cintaku. Untukmu Citra yang bertahta di hatiku.

Aku begitu menghayati setiap bait yang ku tulis, dan berharap alam menuntun dia datang kepadaku. Ikatan telah terbentuk dan mengikat antara aku dan dirinya. Saat ini dia berada di hadapanku. Aku begitu gugup, bibirku terasa kelu. Bahkan untuk sekedar berkata ‘hai’ padanya. Aku kembali bergegas membereskan alat tulisku dan meninggalkan perpustakaan.

Aku merasa ada yang tertinggal namun entah apa. Pena, kertas bahkan buku semuanya ada di tanganku. Oh puisiku, kaulah kegelisahanku, harapankku dan bayangan akan citraku. Aku harap aku bisa menemukanmu agar aku bisa menempelkanmu di sudut kamarku. Ditempat yang mudah untuk ku baca. Tempat dimana aku bisa melihat untuk pertama kalinya saat aku terbangun dan terakhir kalinya sesaat sebelum ku terlelap tidur.

Apakah di kelas, ataukah lorong kelas atau bahkan di perpustakaan. Aku harus mencarinya bahkan jika aku harus meninggalkan jam pelajaranku. Sejujurnya, tulisan itu masih teringat jelas di ingatanku. Namun ingatanku akan sosok Citra akan terasa berbeda dari yang pertama ku tulis itu. Sosok Citra yang berada di tulisan itu adalah tentang apa yang ku rasakan. Apabila ku buat lagi maka itu adalah ingatanku tentang apa yang ku tulis akan sosok citra yang berada di tulisan terdahulu. Maka harus ku temukan bagaimana pun caranya.

Ku susun lagi ingatanku di waktu istirahat tadi. Setiap sudut telah aku lalui, harapan terakhirku hanyalah di perpustakaan sekolah. Saat ini aku berada di depan pintu perpustakaan. Sekarang aku sedang mempersiapkan diriku akan kemungkinan terburuk yang terjadi pada diriku ini. Meskipun bukan sepotong kertas yang aku khawatirkan atau puisi yang bisa ku buat ulang. Namun yang ku khawatirkan adalah kenangan serta bayangan yang bangkit saat ku gambarkan sosok citra dalam puisi itu. Aku hanya takut hilangnya puisi itu membawa kenangan serta bayangan sosok citra yang bangkit dari ruangan ini.

Ku perhatikan setiap sudut ruangan denga seksama. Namun tak ku temukan puisi itu. Namun ada satu tempat yang belum ku datangi, yaitu tempat dimana seorang yang sedang duduk sambil memegang secarik kertas dengan anggunnya hingga membuatku terpana. Ya Tuhan, keindahan dan keanggunannya merefleksikan betapa sempurna dan agungnya ciptaanmu. Ku beranikan mendekat, lalu ku tanya

Quote:“Maaf mba, liat secarik kertas yang berisi puisi berjudul ‘Sajak Cinta Untuk Citra’ ?”
“Ini maksudnya, tapi sebentar mas apa benar mas yang punya ?”
“Iya mba, memang kenapa ?”
“Saya tidak percaya, kan bukan cuman anda yang datang ke perpustakaan ini”
“Iya mba tapi itu punya saya”
“Mana buktinya ?”
“Itu kertasnya ada”
“Bukan, maksudnya bukti bahwa ini milik anda mas”
“Aduh disini tak ada saksi mba, tapi saya berani sumpah itu milik saya”
“Ya sudah, kamu harus buktikan bahwa ini punya anda”
“Bagaimana caranya mba”
“Kamu harus menyelesaikan puisi ini di depan saya”


Hah, menyelesaikan puisi tentang seseorang sembari diperhatikan oleh orangnya merupakan hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Sesungguhnya ini merupakan hal yang berat, bukan hanya tentang gambaran dirinya dimataku namun juga bagaimana realitas yang terbangun akan sosok dirinya yang ada di hadapanku. Akankah dia terpuaskan ataukah tidak. Itu merupakan ujian yang berat. Ku ambil lalu ku baca puisi ku dengan seksama,

Quote: Sajak Cinta Untuk Citra

Untuk Citra,
Maafkan aku atas kelancanganku
Yang selalu memperhatikanmu
Disaat kau tak tahu

Untuk Citra,
Maafkan aku atas kelancanganku
Yang selalu membayangkanmu
Berjalan berdua bersamamu

Untuk citra,
Maafkan aku atas kelancanganku
Yang selalu memimpikanmu
Di setiap malam-malamku

Untuk Citra,
Maafkan aku atas kelancanganku
Yang selalu mengharapkan kau berada di sisiku
Di Sisa akhir hidupku

Andaikan kau tahu
Suatu hari nanti ku tak lagi bisa memperhatikanmu
Andai kau tahu
Suatu hari nanti ku tak lagi bisa membayangkanmu

Andaikan kau tahu
Suatu hari nanti ku tak lagi bisa memimpikanmu
Andaikan kau tahu
Suatu hari nanti ku tak lagi bisa mengharapkan kau berada di sisiku

Begitu menyiksa
Ku rasa aku tak lagi kuasa
Menahan beban yang ada

Dan terakhir, untuk citra
Maafkan aku atas kelancanganku
….
….

***
sang pujangga cinta emoticon-Cool
ngopi sambil nunggu kelanjutan ceritanya plus puisi2nya
C. Tak Pernah Bisa Berhenti Untuk Mencintaimu

Quote:Dan terakhir, untuk citra
Maafkan aku atas kelancanganku
….
….


Sebuah jawaban yang sudah terngiang di kepalaku. Akankah dia merasa puas akan jawabanku. Sejujurnya aku tak tahu. Sebuah puisi yang menggambarkan dirinya akankah dia dapat menerimanya. Aku takut dia tidak menyukai jawaban yang aku berikan. Tanganku kaku dan hatiku meragu bahwa puisi yang tak terpuaskan bagi sang pemilik jiwanya bukanlah potret dari dirinya.

Mungkin yang ku takutkan bukanlah jawaban yang terlontar dari sosok Citra yang ada di hadapanku. Namun obsesiku akan sosok Citra yang mengabur dari ingatanku. Mengabur bersama sosok Citra yang menolak sebuah permintaan maaf atas kelancanganku. Sebuah kelancangan untuk menggambarkan dirinya dalam sebuah rangkaian kata, sebuah kelancangan bahwa puisi itu tertuju hanya untuk dirinya, serta kelancangan bahwa yang aku tulis tidaklah menggambarkan keinginan dirinya.

Andaikan kau tahu Citra, bahwa hidup menjadi seorang pecinta adalah kesediaan untuk hidup demi sang maha cinta. Dan andaikan kau tahu Citra, di setiap sudut dunia begitu banyak sosok laki-laki yang baik, kaya dan rupawan. Namun takkan pernah kau temukan sosok laki-laki yang ingin hidup demi kamu kecuali aku. Iya, aku, hanya aku yang berani mengabdikan sisa hidupku hanya untukmu.

Mungkin terdengar klise bagimu. Jika Tuhan mengizinkan kita untuk bersama, maka izinkanlah aku untuk membuat kau tertawa. Maka izinkanlah aku untuk mebuat kau tersipu malu dan izinkanlah aku untuk berusaha berjuang mewujudkan impian kita berdua. Namun maafkanlah aku jika aku membuatmu menangis, maafkanlah aku jika aku mebuatmu terluka dan maafkanlah aku jika aku membuatmu berduka. Karena sesungguhnya cinta bukan hanya tentang suka dan cita namun juga tentang duka dan air mata.

Maafkan aku Citra, membuatmu menunggu hanya untuk sesuatu yang remeh temeh seperti puisi ini. Namun, aku lebih memilih menggenggam yang remeh temeh seperti ini daripada mencoba menggenggam dunia. Karena bagiku, hanya cukup kamu yang aku jadikan alasan untuk menggenggam dunia. aku pikir itu sebuah perjuangan. Apakah kau tahu mengapa aku tak mau menggenggam dunia ? Bagiku, saat aku menjadikan dunia sebagai alasan untuk mendapatkanmu itu hanyalah sebuah pelarian. Karena kamu belum tentu mau denganku.

Cinta itu begitu sederhana, penuh dengan kesahajaan. Dan aku mencintaimu dengan cara yang sederhana dan bersahaja. Sebuah cara yang pantas untuk sosok wanita sepertimu. Sosok yang begitu sederhana dan bersahaja.

Begitulah aku. Seorang lelaku yang selalu mencintaimu dengan cara yang sederhana. Seperti taman-taman kota Bandung yang berhiaskan bunga anggrek dan azalea. Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana. Seperti untaian kata yang tak sempat terucap atau tersembunyi di dalam kotak Pandora. Begitulah aku mencintaimu dengan kata yang sederhana dan tak perlu banyak bicara tentang rasa bangga.

Ku tatap matamu, ku yakinkan diriku akan jawaban atas puisiku. Dan ku tegaskan dari awal kata di bait akhirku seraya ku ucapkan kepadamu,

Quote:Dan terakhir, untuk citra
Maafkan aku atas kelancanganku
Yang tak pernah bisa berhenti
Untuk mencintaimu


Bagaimana pun aku tak bisa mencari kata yang tepat selain rangkaian kata tersebut. Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengetahui serta memahami ungkapan kata yang sesuai dengan bait akhir puisi tersebut. “Tak pernah bisa berhenti untuk mencintaimu”, bahkan di saat aku tahu bahwa Topan masih mencintaimu.

Aku tak tahu mengapa kau tersenyum, dengan senyum yang begitu indah. Penuh dengan ketulusan dan keanggunan. Sebuah senyum yang memancarkan pesona ilahiah yang hadir dalam bentuk seorang hawa. Ku yakin inilah surga dunia, begitu sederhana dan menghangatkan jiwa.

Kau sodorkan secarik kertas milikku, ku lihat dengan sekmana ternyata ada yang berubah. Tepat di bait akhir, sama seperti yang ku ucapkan kepadamu. Ternyata aku memang tak pernah bisa berhenti untuk mencintaimu.

Quote:“Hebat kau bisa tahu apa yang ku pikirkan”, Ucap Citra
Tidak kamu salah itu adalah ungkapan perasaanku jawabku dalam hati
“Sungguh beruntung sosok Citra itu”
“Bukan Citra yang beruntung tapi aku”
“Mengapa ?”
“Karena aku bisa mencintai wanita seperti dia”
“Hahaha, kamu aneh”
“Aneh kenapa ?”
“Aneh saja”
“Tak apa karena cinta mematikan nalar dan membunuh pengetahuan”
“Boleh ga aku bertemu dengan Citra mu ?”
“Tak perlu, mungkin kamu sudah tahu”
‘Tahu bagaimana, yang ku lihat hanyalah sebuah puisi yang berisi tentang kesedihan yang mendalam”
“Iya memang itulah aku”
“Jika aku bertemu dengannya aku pasti akan membantumu”
“Tak perlu, cukup aku saja yang tahu”
“Baiklah, aku memang tak berhak mencampuri urusanmu”


Iya Citra karena itu kamu. Aku sudah mencukupkan kamu atas untaian kata dalam puisiku. Memilikimu hanya akan menjadi anganku. Yang telah aku cukupkan hanya dalam sanubariku.

Sehari telah berlalu. Dan aku masih seperti kemarin. Menulis puisi di sudut perpustakaan yang menjadi tempat favoritku. Bel pun berbunyi dan ku biarkan puisi itu tergeletak di atas meja sama seperti kemarin. Ku harap kau sudi untuk mengambilnya sama seperti kemarin. Ya, sama seperti kemarin. Namun ku sadar bahwa keajaiban tak pernah datang dua kali. Mungkin puisi itu akan berakhir di tangan orang lain atau berakhir di tempat sampah. Namun yang ku harapkan puisi itu berakhir di dekapanmu.

Seminggu telah berlalu. Tak ada tanda bahwa kau berada disini. Sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, aku hanya sibuk dengan untaian kata yang ku susun sebagai rasa hormatku kepadamu. Aku terhanyut dalam suasana yang menggugah jiwa laksana surga yang tak bertepi, hanya ada aku dan dirimu yang tak terikat ruang dan waktu. Yang berakhir dalam keabadian cinta. Tanpa sadar bahwa ada sosok hawa yang berdiri dibelakangku. Sebuah tepukan bersarang di pundakku. Aku terkejut. Apakah itu kamu Citra. Segera ku balikkan badan. Siapakah dia, sosok wanita yang rupawan. Namun jangan khawatir Citra, karena aku percaya bahwa kecantikan bukanlah standar seseorang untuk merasakan jatuh cinta. Cinta yang sesungguhnya itu tidaklah seperti itu. Dia penuh dengan misteri. Seperti halnya dirimu. Dan seperti halnya diriku yang tak pernah tau mengapa dan bagaimana bisa mencintaimu. Lalu dia pun berkata,
Quote:"Hai, namaku Citra"
***
cerita baru nih
izin nongkrong dimari gan 😀
Mantep-mantep emoticon-Big Grin

Bahasa sastra banget yah.. penasaran sama kelanjutannya gan emoticon-Metal:

Lanjutkan wahai kisanak, tak tahukah kau diriku menanti akan curahan kisah kasihmu yang menggetarkan sanubariku.. hihihi emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By borsallino
Mantep-mantep emoticon-Big Grin

Bahasa sastra banget yah.. penasaran sama kelanjutannya gan emoticon-Metal:

Lanjutkan wahai kisanak, tak tahukah kau diriku menanti akan curahan kisah kasihmu yang menggetarkan sanubariku.. hihihi emoticon-Big Grin



setuju
sekalian nenda
numpang stand by ya gan emoticon-Blue Guy Smile (S)
Gelar tikar, ctrl+d dulu :v
Quote: D. Sebuah Gagasan Tentang Cinta I

Quote:"Hai, namaku Citra"

Citra ? Siapakah sosok wanita yang berada di hadapanku ini ? Apakah dia sedang bermain-main denganku, menyebut nama Citra sebagai sebuah gurauan. Apakah Tuhan sedang mengujiku seberapa besar rasa cintaku untuk Citra ku, ataukah Ia ingin menggantikan Citra ku dengan sosok Citra yang lain. Jika seperti itu aku tak mau. Karena bagiku Citra bukan hanya sebagai sebuah nama. Namun sebagai sebuah wujud.

Aku sadar bahwa bukan hanya kamu yang memiliki dia yang bernama Citra, termasuk juga kamu. Sosok wanita yang ada di hadapanku. Bahkan bukan hanya kamu yang ada di hadapanku tapi banyak orang-orang yang ada di dunia ini memiliki nama yang sama dengan kalian berdua.

Mungkin aku harus meminta maaf pada seluruh wanita yang bernama Citra, bahwa hanya ada satu Citra yang aku cintai di dunia ini. Citra bukan dalam bentuk sebuah nama, namun Citra dalam bentuk sebuah perwujudan rasa cintaku, rasa kasihku dan rasa sayangku pada suatu sosok. Dan itu adalah kamu, sosok wanita yang setia berada di jendela kelas seberang.

Untuk Citra yang ada di hadapanku. Sejujurnya aku tahu, seorang wanita cantik sepertimu bersedia menjulurkan tangannya kepada lelaki adalah sosok wanita yang luar biasa. Wanita yang penuh dengan keberanian, bahkan melawan rasa takut yang ada di dalam dirimu. Serta menentang ada ketimuran yang dianut di tatanan masyarakat kita. Kau lawan ego mu, rasa malu mu dengan perasaan rendah hati. Namun, kau tunjukkan keanggunanmu dengan tetap menjaga menjaga harkat dan martabatnmu sebagai seorang hawa. Itu merupakan hal yang luar biasa. Andai saja aku tidak mencintai Citraku, maka aku takkan membiarkan kau pergi dari hadapanku. Kau adalah sosok wanita yang luar biasa. Alangkah bodohnya lelaki yang menyia-nyiakanmu, termasuk aku. Tapi aku harus, karena mataku telah buta, telingaku telah tuli dan hatiku telah beku untuk merasakan cinta yang lain selain dirinya.

Sungguh apa yang aku ucapkan bukanlah sebuah kebohongan, karena aku tahu apa yang kau rasakan. Keberanian untuk mengajak orang yang tak kau kenal untuk berkenalan sama seperti keberanian untuk menghadapi sebuah penolakan. Aku tahu bagaimana rasanya karena itu yang aku rasakan saat pertama kali aku bertemu dengan Citra ku. Saat itu dia berada di hadapanku, sejujurnya saat itu aku melarikan diri karena aku takut dia mengacuhkanku. Sejujurnya aku takut diacuhkan olehnya, karena aku juga tahu bahwa diacuhkan sama seperti penolakan akan keberadaanku. Dan aku takut akan hal itu. Itulah alasannya bahwa saat ini aku tak boleh untuk mengacuhkanmu

Quote:”Citra ?”
“Iya, memang ada yang salah dengan namaku”
“Oh tidak”
“Kenapa kau tampak keheranan saat mendengar namaku, apa kamu pikir nama ku tak pantas untukku ?”
“Tidak, Citra merupakan nama yang indah dan pantas untuk wanita sepertimu. Jangan pernah kau pikir bahwa namamu tak pantas untukmu. Karena dalam sebuah nama ada sebuah do’a dan pengharapkan dari orang tuamu yang disematkan dalam dirimu. Terlebih lagi, sebuah nama adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua mu kepadamu. Dan itu tak bisa dibeli oleh apapun. Itulah mengapa sebuah nama bisa kau sebut sebagai bentuk kasih sayang terbesar yang diberikan orang tuamu kepadamu. Oh iya, ada yang bisa aku bantu Citra ?”
“Oh iya maaf jika aku mengganggu kamu ya Rid, cuma ada yang mau aku tanyakan”


Hah, apakah itu hanya sebuah kebetulan ataukah memang sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku merasa terkejut dan juga heran. Bagaimana seorang wanita yang luar biasa sepertimu bisa mengetahui lelaki sepertiku. Tanpa sadar aku berkata,

Quote:“Rid ?”
“Oh iya, maaf aku menyebut namamu”, wajahnya memerah menunjukkan rasa malu yang teramat sangat
“Oh tak apa Citra, bagaimana kamu bisa tahu namaku ?”
“Dari Amanda, dia adalah teman baikku. Dia pikir kamu bisa membantu masalahku”


Citra adalah teman baik dari orang aku cintai. Dengan kata lain, dia telah bersedia menyisihkan sebagian hidupnya untuk menemani hari-hari Citra ku agar ia tak kesepian. Aku mencintai Citraku. Aku menghormati kelahirannya, aku menjunjung tinggi sikapnya dan aku menyanjung keberadaannya. Oleh sebab itu aku menghargai setiap orang yang mewarnai hidupnya. Sudah selayaknya aku menyayangi orang yang disayanginya. Itulah alasan mengapa aku tidak boleh menolak permintaannya karena itu sama seperti aku menolak keinginan orang yang aku cintai, lebih tepatnya aku gagal memenuhi pengharapan yang disematkan oleh orang aku cintai terhadap ku.

Quote:“Apa yang bisa aku bantu ?”
“Aku mau meminta pendapatmu ?”
“Sejujurnya aku tidak pandai memberikan pendapat”
“Tapi, Amanda pikir kamu bisa memberikanku solusinya ?”
“Itu kata Amanda kan ?”pungkasku; “Asal kamu tahu, apa yang dikatakan orang tentangku belum tentu mencerminkan bagaimana aku yang sesungguhnya. Apa yang kau dengarkan dari orang tentang aku bukanlah aku, itu hanyalah cara pandang orang lain melihat sosok aku. Aku yang sesungguhnya hanya aku yang tahu, bukan kamu, orang tua ku atau siapapun yang ada di dunia ini. Kalian tidak pernah mengetahui aku, kalian hanyalah memaknai bagaimana sosok aku. Itulah alasan mengapa aku tidak pernah mau memberikan pernilaian terhadap orang lain.”
“Tapi kamu mau kan mendengarkan permasalahanku ?”
“Baik tapi aku tidak bisa memberikan solusi untuk permasalahanmu, karena permasalahanmu hanya kamu yang tahu bagaimana cara menyelesaikannya”
“Lalu untuk apa aku cerita kepadamu”


Lalu Citra beranjak pergi. Tak sengaja ku pegang tangannya lalu ku berkata,

Quote:”Tunggu Citra, aku memang tidak bisa memberikan solusi kepadamu. Tapi aku berjanji bahwa aku akan memberikan bagaimana gagasanku mengenai masalah tersebut. Ku pikir aku hanya bisa melakukan itu. Dan satu lagi, kamu harus berjanji”
“Berjanji untuk apa ?”
“Tidak boleh ada yang kau tutup-tutupi”
“Kenapa ?”
“Karena segala sesuatu yang tidak dilandasi dengan kepercayaan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik”
“Baiklah, Farid aku diacuhkan oleh pacarku. Menurutmu, apakah dia sungguh-sungguh mencintaiku ?
“Tergantung”
“Tergantung bagaimana maksudmu ?
“Tergantung alasan mengapa dia mengacuhkanmu ?”
“Menurutmu, memang apa alasan dia mengacuhkanku ?”
“Hanya ada dua. Dia tidak mau membuatmu khawatir atau dia sudah tidak lagi mencintaimu”
“Apa alasanmu mengapa dia tidak lagi mencintaiku ?”
“Karena manurutku cinta adalah candu”

***
Maaf buat agan dan aganwati update nya tengah malam, soalnya ane harus berkutat dengan skripsi. Mohon kritik dan sarannya, keep in touch ya.
Quote:Original Posted By hellogirls
Maaf buat agan dan aganwati update nya tengah malam, soalnya ane harus berkutat dengan skripsi. Mohon kritik dan sarannya, keep in touch ya.



kalo bisa di tambah emot gan
biar feel nya dapet emoticon-Smilie
*saran ane emoticon-Toast
Quote:Original Posted By lady.symphonia
numpang stand by ya gan emoticon-Blue Guy Smile (S)


Loh? Ini bukannya mbak yang di threat-nya bang Beni ya emoticon-Bingung (S)
Kok kebetulan banget bisa ketemu disini emoticon-Ngakak (S)
Sukanya baca yang sastra banget ya mbak? Gak suka yang bahasanya gaul? ketahuan deh emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By aerosmith98


Loh? Ini bukannya mbak yang di threat-nya bang Beni ya emoticon-Bingung (S)
Kok kebetulan banget bisa ketemu disini emoticon-Ngakak (S)
Sukanya baca yang sastra banget ya mbak? Gak suka yang bahasanya gaul? ketahuan deh emoticon-Ngakak (S)

Apa sih ini? emoticon-Malu (S) emoticon-Ngakak (S)
ditunggu update-nya emoticon-Ngakak (S)