alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/572449d1902cfeef028b4567/cerita-super-pendek-berseri-blood-rain
Video & Image 
Blood Rain
Halo Semua!
Quote:This I wrote 9 years ago while i worked in Aceh. Kuputuskan buat ngelanjutin lagi sekarang Enjoy! emoticon-Smilie
Sekedar informasi, Split personality itu bukan sekedar denial atau penyakit kejiwaan lho emoticon-Smilie percaya deh ama ane :P Jika aku tiba tiba menulis dengan bahasa inggris disini, kemungkina itu adalah alter egoku emoticon-Smilie
Dan Maaf kalau nanti bakal agak banyak gore-gorenya, ga mau jadi terlalu stensilan juga sih emoticon-Smilie Soalnya banyak yang agak related dengan realita hidupku

Part 2
Part 3
Part 4


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Part 1:
......

Aku harus lari, ... dia mengejarku ....bangunan ini tak cukup luas untuk kami berdua. Darah mulai membasahi lengan kiriku, "sial, aku tidak boleh berhenti.... kebenaran harus terungkap!" Aku menguatkan hati, mengingat Rida dan Erina putriku yang menunggu dirumah. Mereka pasti khawatir, sudah 4 hari ini aku menghindari 'dia', si baik keparat yang menyiksaku siang malam demi mendapatkan yang dia mau.

Dia selalu menuntut bahwa aku pernah melukai dia, aku pernah melupakan dia dan mencampakkan dia. Padahal sungguh mati, kenal diapun aku tidak pernah. Sejak terakhir aku meninggalkan rumah 4 hari yang lalu, yang kuingat hanyalah ketika aku melangkahkan kaki keluar kantor dan berbelok di jalan kecil menuju parkiran mobilku. Berikutnya aku sudah berada di kamar berwarna putih terang dengan orang-orang aneh yang selalu mengikatku dengan tali temali seakan aku pesakitan. Kemudian 'dia' muncul, dia selalu muncul saat orang-orang berbaju putih itu pergi dan lampu telah dimatikan, pertama kali yang dia ucapkan saat muncul dihadapanku adalah "MATI KAU!!"

Sayang aku tak pernah bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia selalu menyamarkan diri dalam kegelapan,. dan menyerangku ketika aku lengah dan mengalihkan pandangan.... entah sudah berapa luka dia torehkan di wajah dan badanku, lebam-lebam dimana-mana. Dia selalu menyebutkan aku telah menyiksanya selama ini, dan sekarang giliran dia membalasku.

"Kamu adalah orang yang tidak tahu diri, aku menahan diri tidak keluar bertahun-tahun karena aku menghormati status kamu sebagai orang sukses, aku tak mau menyusahkanmu dengan kehadiranku, tapi kamu malah berusaha melenyapkan aku dengan pergi ke orang-orang itu.... berusaha mencelakai aku dengan menyuntikkan obat-obatan dan berbagai macam barang-barang aneh.... AKU tidak TERIMA!!!"
Paling sering dia mencekikku, tapi anehnya pada saat dia seakan sudah membunuhku, datang lagi para orang putih itu, mereka menyingkirkan dia dan sejenak kemudian semuanya kembali gelap.

lambat laun aku menyadari, "mungkinkah mereka bekerja sama hendak menyiksaku dan membunuhku kemudian?" Apalagi sering kudengar pria ini membawa2 nama istri dan anakku, "Aku akan menggantikan peranmu yang payah sebagai suami..... kamu ini sungguh menyedihkan!!"

Pikiran buruk ini terus membuatku gila, sampai pada hari ke 4, akhirnya ada celah .... ketika akhirnya mereka membolehkan aku melepas ikatan dan memberikan aku semangkok sup panas untuk dimakan.....

Saat itu aku tak berpikir lagi, otakku hanya berpikir "Aku harus BEBAS!!", aku menumpahkan sup panas itu ke orang didepanku, kemudian kudorong dia ke samping menubruk 2 orang temannya, aku meloncat menuju pintu .... berlari demi kebebasan!!

dan disana .... di ujung lorong itu .... aku melihaat dia lagi .... dia menyeringai dan mulai berjalan ke arahku, "Harimu telah tiba!! hari ini kamu harus membayar semua dosamu!!" Aku segera berbalik lagi, lamat-lamat terdengar seruan "Beritahu rekan-rekan yang lain, dia kabur ... ini sudah usaha dia yang ke 3..!!! pastikan kamu bawa obat bius nya!!"

Aku tertegun sejenak, ... aku ga pernah mencoba melarikan diri sebelumnya .....namun kutepiskan pikiran itu dan aku segera berlari berbalik arah menuju pintu utama, aku sama sekali tidak tahu arah, aku cuma berpatokan pada jendela yang mengarah ke taman saja.

Dan disinilah aku sekarang, bersembunyi di basement... setelah berhasil melarikan diri dari kamarku, entah sudah berapa lantai dan anak tangga aku lalui, lengan kiriku masih berdarah..... mengalir dengan pelan..... nafasku masih terengah-engah... suara ribut yang mengejarku mulai terdengar lagi. "cari dia di parkiran mobil, cepat!! Sebelum dia meninggalkan gedung ini!"

Aku mulai ketakutan, keringat dingin membasahi dahiku, ketika itu tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

"kamu ga bisa lari dariku, kamu harus membayar semua yang telah kamu lakukan untuk menyingkirkan aku! Kamu mencoba menyingkirkan aku dari hidupmu, dari keluargamu, kamu pikir selama 4 hari ini siapa yang berusaha melepaskan kamu dari sel putih itu???"

suaranya, aku mengenali suara itu lagi. "K k k amu, .. apa yang kamu mau sih sebenarnya?" Kataku dengan gugup dalam sisa sisa kesadaranku.

"Aku tak pernah menuntut apapun darimu, aku hanya meminta kamu tidak Menyiksa dan berusaha menyingkirkan aku, tapi kamu tidak pernah mendengarkan aku!! kamu berusaha membunuhku dengan obat-obatan itu dan berusaha meminta tolong orang-orang itu untuk membunuhku!!"

"aku ga ngerti kamu ngomong apa !!!" Teriakku dengan histeris, aku ga habis pikir, kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa dia harus mengincarku? apa salahku?

Langkah-langkah itu semakin jelas , "Aku sudah bosan menjelaskan ini kepadamu, kan sudah kubilang berkali-kali aku cuma tak ingin disakiti, sama sepertimu, jadi berhentilah menemui orang-orang di ruangan putih itu!! dan keluarlah dari sini!!!"

Aku tersentak, mereka bukan kawannya? lantas dimanakah aku ini, siapakah mereka itu?
siapakah pria hitam ini, dan siapakah orang-orang putih itu?

kesadaranku kembali perlahan, "aku harus pulang ke rida, HARUS!"

Aku menyeret kakiku yang mulai mati rasa karena tidak memakai alas, melangkah menuju pintu masuk basement. Lamat-lamat terdengar suara "dia sudah ga ada di bawah lagi!! Cepat cek pintu depan!!!" Aku tersentak, lebih tersentak ketika aku melihat ke arah pintu basement

" RUMAH SAKIT JIWA KOTA TUA : BASEMENT"

Demi TUHAN!!! Aku ada di RUMAH SAKIT JIWA!!??? Kenapa bisa terjadi?? Suara itu kembali muncul, "Puas sekarang? Sekarang kamu tau kenyataannya kamu itu tidak sempurna, dari kemarin aku muncul juga untuk menyadarkan kamu bahwa kamu selam a ini telah menyiksaku dengan obat-obatan ini dan kamu juga yang telah berusaha memasukkan aku ke dalam ruangan putih ini.... kamu kira aku pesakitan????"

dan di hadapanku sekarang dia berdiri, gelap, tingginya sama denganku, namun..... ASTAGA!!!

ketika aku mendongak melihatnya........

aku melihat diriku sendiri ..... tersenyum sinis kepadaku yang terduduk di lantai semen.

"Sekarang kamu lihat kan .... bukan salahku kamu ada disini, kamu yang berpenyakitan bukan aku, makanya aku marah ketika kamu pergi menemui mereka dan membiarkan mereka menyuntik kita dengan obar-obat itu, sakit rasanya tahu!!!"

tunggu dulu, kita??? "apa maksudmu dengan kita? siapa kamu, kenapa kamu mirip denganku ?"

Dia tertawa, "kamu ini bodoh sekali ....... tentu saja mirip!!! aku adalah kamu, dan kamu adalah aku, bedanya adalah kamu adalah pesakitan, sementara aku terjebak bersamamu disini !!!"

Aku tersentak lagi, "tapi mana mungkin..... aku waras! Aku bukan orang gila, aku mau pulang sekarang ke anak istriku!!"

Dia tertawa, "Rida? kau masih berani menghadap istrimu? setelah yang kita lakukan berdua terhadapnya???"

"baik!!" TEriakku, "Apa yang kamu lagukan padanya!!!"

"Eh eh tenang dulu, bukan AKU ,tapi tepatnya KAMU, karena kamu yang telah membunuhnya 4 hari yang lalu di kamar mandi dengan pisau dapur!"

Bagai geledek di siang hari aku tersambar oleh ucapannya ... "Kamu bohong!!!"

Pada saat yang sama aku menoleh dan melihat 'mereka' datang, para orang-orang putih itu kembali datang berlarian menuju ke arahku, dengan bingung aku menoleh kembali. 'dia' sudah tidak ada disana lagi ...

tiba tiba ,..

"Sadarilah bahwa kita adalah satu, seandainya kamu menerimaku sebagai dirimu sendiri, semua ini tak perlu terjadi, istrimu tak perlu mati, dan kamu punya hidup yang sukses... bodohnya kamu"

"TIDAKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!" Aku berteriak histeris, dan dengan sisa-sisa tenagaku, semua kenangan indah hidupku yang sempurna .... semua keharmonisan kami, lenyap gara2 'dia' .... menggunakan tubuhku untuk merenggut semua milikku ..... bodohnya aku .......

3 jam kemudian....

Aku berdiri disana, masih berusaha berdiri sempoyongan ...... aku melihat sekeliling, gelap....pusing ..... apakah ini bau darah? sosok-sosok putih bergelimpangan di sekelilingku, merintih-rintih "panggil polisi!!" kudengar lamat-lamat teriakan seseorang dikejauhan, "Pembunuh ini sudah gila!! semua staff di jatuhkan!!"

Pembunuh!?? .. dalam sejenak aku berubah dari orang gila jadi pembunuh!????? ....aku mengangkat tanganku .... merah ..... ini darah??

tes .... tes .... aku mendongak pelan-pelan .... air? apakah hujan?....

rintik hujan mulai turun .... seiring air mata yang mulai menetes bercampur darah dari kepalaku.... apa yang telah terjadi dengan diriku?
Rida .....aku membunuhnya? dengan tanganku sendiri? ..... kembali aku melihat orang-orang putih yang bergelimpangan ini, ..... aku melakukan ini semua?? ... Ataukah 'dia' ? ....

Hujan bertambah deras ..... warna merah menelusuri sekujur tubuhku ... aku mulai merasakan perih dan sakit disekujur tubuhku......

lelah ... aku lelah .....aku bingung ..... aku tak tahu lagi ......

(BERSAMBUNG)

Video & Image 
Blood Rain's New Beginning: #dancingblood

- Hujan mulai reda.... -

" Ini belum berakhir,... Rida menantikan kita berdua di ujung masa, tetapi tidak sekarang, AKU tidak mengijinkanmu untuk semudah itu lepas dari Balas dendam..."


"Berhentilah menjadi penakut dan pengecut, berjiwa besar diluar, tetapi paranoid akut, itulah kamu...."

Aku terdiam sejenak, hujan masih menorehkan dingin di kulitku samar-samar. Sosok-sosok putih yang tergelimpang, rintihan dan teriakan para penjaga yang tersisa menyadarkanku.....

Naluri bertahanku, ataukah naluri-NYA?

Tiada Tuhan, Tiada kepercayaan yang bisa menutupi rasa takutku sekarang pada DIA, betapa tidak.. dia adalah AKU! Dia yang membunuh Rida dibalik topeng kepengecutanku.... tidak.. SALAH....AKUlah yang telah membuat Rida terbunuh karena sifat pengecutku.

“Masih bermain dengan pikiranmu? Lupakah kamu, bahwa KITA berbagi otak dan hati yang sama?” Suara itu kembali muncul, kali ini tanpa sosokku yang legam lagi, hanya berupa suara halus yang mengetuk kepalaku dengan setiap hentakan intonasinya yang hampir datar..

Dengan masih sempoyongan di halaman, aku mencoba berdiri lagi...

“apa maumu?!”

“sudah jelas...”

“Apanya yang JELAS?! Kamu membuatku terlibat semua hujan darah ini!”

“Bukan AKU, tapi KITA, ingat kita adalah satu, Aku adalah keberanian yang tak pernah kamu punya sepanjang 33 tahun hidupmu!”

33 tahun? TIGA PULUH TIGA TAHUN?

33 tahun yang kulewatkan bersama 17 tahun kebohongan berbalut cinta dan persaudaraan? Apa yang telah terjadi sebenarnya?

“Ikutlah denganku akan KUJELASKAN ketika kamu sudah membawaku keluar dari tempat laknat ini...”

Aku tidak punya pilihan lagi, demi Allah, demi RIda, demi apapun yang bisa kujadikan pegangan, kumohon lepaskan aku dari penderitaan ini, apakah aku harus mengulang memori 33 tahun itu?

Aku tidak punya pilihan, SELALU tidak punya. Seiring pikiranku yang masih kacau, tiba-tiba kakiku serasa melangkah sendiri melewati tubuh yang bergelimpangan, menuju pintu keluar belakang.

Kini...... Sekarang ..... .tinggal KAMI berdua yang terjebak dalam kungkungan takdir.

- end of Prologue --

Blood Rain: In Denial


Sekali lagi kujelaskan ya, AKU tidak sakit. Aku normal!

Pria ini,.. DIA lebih tepatnya yang sakit jiwa!

Sepanjang jalan setapak yang kutemukan di belakang bangunan putih itu,... Rumah Sakit Jiwa itu kutinggalkan bersama noda darah yang masih mengikutiku.

"Akhirnya kita bisa sepakat pada satu hal kecil ya?"

"DIAM kamu! Kenapa kamu lakukan semua ini padaku?"

"Demi kebaikanmu juga.... Rida dan orang-orang itu ingin menyingkirkan AKU dari hidupmu! Dan KAMU telah membantuku untuk mencegah mereka memisahkan KITA."

Aku berhenti tiba-tiba..."Jadi kamu sengaja mengambil alih tubuhku dan membunuh istriku?"

"TIDAK... Kamu yang membunuhnya ketika kalian bertengkar soal KITA, dan ketika aku mengambil alih, itu karena Kamu pengecut dan memilih untuk pingsan disaat istrimu mengacungkan gunting di depan mukamu! Emangnya aku harus bagaimana? Membiarkan Kita berdua mati konyol?"

..... Hening sesaat.....

Dokter Heru benar, aku telah salah menilai kondisiku selama ini. Ini bukan sekedar 'in denial'. Seseorang yang 'Lain' Benar-benar tinggal dan berbagi badan denganku...

"Betul! Sayangnya istrimu tidak mau memahami itu. Padahal aku sangat menikmati kehidupan kalian saat itu. Kalian sedang mesra-mesranya, karirmu sedang bagus di sebuah perusahaan multinasional terkenal. Setiap malam aku selalu mendambakan bisa merasakan sensasi membelai istrimu yang molek itu secara langsung, tidak hanya mengintip dari dalam sini."

"DIAM!"

Aku kehabisan kesabaran. "Bisa-bisa kamu bicara begitu! Aku sudah dituduh gila, sekarang jadi pembunuh banyak orang...."
Mataku mulai berkaca-kaca lagi, luka di kepalaku mulai mengucurkan darah kembali karena emosi tidak terkontrolku.

"Semua ada waktunya.... Dengar kamu boleh membenciku, boleh mengutukku, tapi pada waktunya kamu akan mengerti ini semua karena apa. Jadi ayo ikutlah denganku menuju TUJUAN kita yang baru."

"akan ada lebih banyak orang mati?"

Dia nampak diam sejenak, tiada balasan dari dalam pikiranku. "Mungkin Tidak.... Jika kamu tidak meledak seperti tadi..."

"Apa Maksudmu?"

"Kita tidak sendirian, kamu dan aku hanya sebagian dari hal baik yang tersisa di dalam dirimu... Sudah kubilang kan? Semua ada waktunya dan tidak semuanya seperti yang kamu pikir dan lihat selama ini."

Aku mulai bingung dan lelah lagi dengan ucapannya yang penuh misteri....
Beberapa pejalan kaki yang kutemui di seputar jalan setapak ini mulai memperhatikanku... beberapa malah bertanya dan berbisik..

"Kenapa pak? ada yang bisa kami bantu?"

(DIA menyela: "jangan balas ucapan mereka, tanya saja rumah penduduk terdekat yang menyediakan baju bersih yang bisa kita pinjam!")

Aku menghela nafas.... Perasaanku tidak enak, apakah akan ada yang mati lagi hari ini?

Yang paling penting, apakah itu BENAR-BENAR perbuatanku semata?


Blood Rain: First Step


Baru Sejenak rasanya aku menutup mata dan menghela nafas.

"Hey Bangun! Mas Bangun! Ngapain pingsan disini?"

Suara Perempuan membangunkanku.....

Apa yang terjadi? Kenapa aku terbaring di tepi rumah orang? Dimana ini? Tidak ada suara Dia lagi kali ini. Jadi aku ada dalam kontrol kali ini?

"Maaf mbak..." sambil kulihat perempuan yang kira-kira berumur 20-an ini (tidak, tidak ada BB+17 kali ini, karena aku dalam kontrol) sepertinya warga sini, pakaiannya biasa, jins belel dan kaos merah sambil menjinjing bungkusan kresek hitam.

"Aku dimana ya?"

"Wah mas nyasar ya? Tadi saya lihat kaya orang bingung, terus ini bajunya kok penuh noda darah?" Mata perempuan ini mulai was-was. Dan tingkah lakunya mulai menampakkan gejala gelisah ketika bicara denganku, kepalanya berulang kali menoleh sejenak kanan kiri seakan mencari bantuan.

"Aku kurang ingat mbak, saya sedang mencari tempat untuk meminjam baju, tadi kena kecelakaan " Aku coba berbohong sebaik mungkin.

"Tapi setahu saya nggak ada apa-apa mas tadi, malah di rumah sakit di ujung kampung sebelah tadi yang ada keributan katanya....."

Aku langsung terdiam...

Dan seketika itu juga tiba-tiba migrainku kumat. Selama 1-2 detik mataku menjadi gelap. Detik berikut kuingat, aku telah memegang leher perempuan itu... "Tollllll......" Cengkeramanku semakin kuat membekap mulut perempuan yang hendak berteriak ini.

"Sudah kubilang.... baru saja kubiarkan kamu sendiri, kamu tidak bisa mengurus dirimu sendiri"

Dia lagi....

"Perempuan ini akan melaporkan kita berdua, dan kamu tidak akan pernah tahu kenapa semua ini terjadi bukan?"
"Sekarang akan kuberikan 2 pilihan, Kamu bunuh perempuan ini, atau AKU yang akan melakukannya!"

Pilihan apa yang kupunya....? Aku jelas tidak mungkin melakukan hal hina macam ini! Tetapi ...... aku tidak mau mati konyol juga. Aku INGIN HIDUP dan mencari tahu kenapa aku harus menderita seperti ini...


"Mas.... Toll...on.....g ... jangan.........jang...."

Suara perempuan muda ini memecah keheningan.... untung saat ini tidak ada orang lewat, dengan panik kuseret badan lelahku dan badan perempuan yang mulai lemas itu ke belakang rumah...

"Kalau aku yang melakukannya pasti akan kunikmati dulu tubuh sintalnya, sayangnya kamu terlalu pengecut untuk melakukannya.... bahkan istrimu saja jarang kau sentuh!"

" DIAM!, jangan bawa-bawa Rida, dasar brengsek pembunuh!" Jawabku dengan panik, sementara mata perempuan itu membelalak mendengar aku entah bicara dengan siapa..

"Lha kamu yang membunuh dengan tanganmu bukan AKU.. Polisi tidak akan percaya!" Jawabnya lagi dengan meledek. "Jadi sekarang kamu akan melakukannya atau aku terpaksa mengambil alih seperti waktu 4 hari yang lalu?"

Tertawa sinis itu membuatku muak.... SUDAH CUKUP!.... Kudekatkan bibirku ke telinga perempuan yang semakin meronta dan panik itu.... "Maaf mbak.... Tapi jalanku masih panjang, aku belum ingin mati konyo...."

Kubekap mulutnya, Kutarik Kepalanya sekuatku.... kugunakan kedua tanganku dari belakang tubuhnya, dan ketika dia mulai lemas, tanganku sudah tidak kuat lagi, aku jadi panik, kutarik ke atas baju merahnya menutupi mukanya. Pada saat normal mungkin aku akan berahi melihat tubuh wanita muda seperti itu, dan mungkin juga DIA. Tapi di otakku saat ini yang adalah: Jangan sampai DIA mengambil alih! Dia akan menambah daftar dosaku dengan Perkosaan... TIDAK!...

Dengan sisa tenaga dan nafasku kutarik kaos yang membungkus wajah si mbak ke arah belakang sekeras mungkin. "Urgh... aah....... oh.....tolll......o.........o.......................nng..h.h.h."

Setelah beberapa lama tangannya menjadi lemas....aku mengendor dan terduduk disamping tubuh mbak berbaju merah yang kini stengah bugil dengan kaos merah menutup kepalanya dan leher yang mungkin hampir patah. Dia mungkin sudah mati kehabisan nafas.

"Pastikan dia sudah mati, atau kamu akan menyesal dan aku mengambil alih lagi!"
"Jangan perintah aku! Cukup kau jelaskan saja nanti apa yang terjadi, ini tubuhku, aku tidak mau menambah dosaku lagi!"

"Dosa? Kamu bicara dosa? (tertawa) Kamu sudah membunuh istrimu... KAMU!, mau dosa apalagi?"

Aku terdiam....

Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan mbak malang itu dibelakang pintu rumah. Tapi apa dikata, ketika aku sedang menyeret badannya, pintu terbuka!

nitip kolor gan emoticon-Ngakak
bau gan :P lagi cari ilham nih gan mau bunuh siapa lagi ya
semangat menulis gan,mudah2n ceritanya rame emoticon-Traveller
jujur aku bingung,
kenalan dulu bang,
oia, ini fiksi kan.
kalau real, apa iya ada yg seperti ini.