alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5723a2f9dac13e415d8b4569/i-hate-this-love-song
I Hate This Love Song (A True Story)
Boleh dibilang ini adalah tempat aku menceritakan sebuah kisah di masa lalu yang rasanya kaya sebatang coklat. Manis pahit namun cepat meleleh saat digenggam sehingga harus segera dihabiskan.

Kisah yang berawal dari patah hati, saat aku benar benar membenci lagu cinta karena dikhianati.

Bukan, ini bukan tentang si pengkhianat itu. Ini tentang sosok yang membangunkanku dari keterpurukan. Seperti coklat, ia yang dibutuhkan saat depresi. Manis, meskipun agak pahit, namun harus segera dihabiskan jika tidak ingin meleleh di tangan.



Spoiler for Jadwal Update:


Spoiler for I Hate This Love Song:

Chapter 1
He Wasn't - Avril Lavigne

Maret 2008. Hampir pertengahan semester ke 2, kelas 1 SMA. Mereka bilang ini lah masa yang nantinya akan selalu dikenang. Awal mula kenangan terbusuk dalam hidupku. Entah ketololanku atau kehabisan akalku, aku menerima teman sekelasku, Arsya (nama disamarkan) jadi pacarku. Dia bukan pilihan pertamaku, aku sebenarnya sedang menyukai salah satu senior kelas 2 IPS bernama Ryo. Namun mungkin patah hati karena Ryo yang baru saja jadian dengan teman sekelasnya, aku, yang diberi kode kode picisan dari Arsya, mau menerimanya jadi pacarku. Padahal aku tahu, aku sedang bermain api. Arsya terkenal playboy, bahkan aku pernah melihat dia ciuman dengan kakak kelas 3 yang satu ekskul dengannya.

Mungkin aku kecewa. Dan aku menjadikan Arsya sebagai reboundku. Namun itu adalah pilihan tertolol dalam hidupku yang sampai sekarang aku sesali. Bego banget lo, Senna, main api malah kebakar sendiri.

Oiyaa, namaku Senna (nama samaran). Ini kisahku waktu zaman SMA sampai kuliah. Berfokus pada 1 orang, dan ini baru latar belakang.

Baru 5 hari aku jadian dengan Arsya, waktu itu hari valentine. Aku yang baru kali itu pacaran, pada hari kasih sayang ini, merasakan namanya ciuman pertama. Mungkin karena terbawa suasana. Ditambah rasa penasaranku apa sih ciuman itu. Maklum, anak baru gede.

Tadinya, aku jadian dengan Arsya hanya untuk rebound alias melampiaskan kekecewaan. Tapi karena ciuman pertama itu, aku malah jadi bablas mulai sayang sama dia. Dia juga baik dan perhatian. Meskipun kadang plin plan dengan perasaannya sendiri. Saking plin plannya dia, dia meladeni cewek-cewek lain yang datang ke hidupnya. Yap! Aku terbakar saat bermain api. Aku tahu dia cowok yang baik pada semua cewek alias playboy. Akhirnya, belum genap 3 bulan kami jadian, aku diselingkuhi. Tidak tanggung-tanggung, ia meladeni 3 cewek sekaligus sebagai pengisi hatinya. Di saat aku yang bodohnya mulai merasakan rasa cinta busuk kaya ta*i.

Senna, cewek polos patah hati karena seorang cowok yang haus kasih sayang. Hahaha... Bego!
6 bulan selanjutnya, aku larut dalam sakit hatiku. Kadang berpikir, "Udah Sen, masih banyak cowok di sana. Ngapain masih mikirin dia yang awalnya cuma rebound?"
Tiap malam aku menangis, sampai akhirnya tertidur. Selalu memimpikan hal yang sama, yaitu Arsya.

Secinta itu kah aku dengan Arsya? Rasanya pengen nyanyi sekeras-kerasnya, "He wasnt what i want what i thought no, he wouldnt even open up the door. He never made me feel like I was spesial, coz i was special!"

Akhir Oktober 2008. Aku berusaha untuk bangkit, menyibukan diri ikut kegiatan di sekolah. Mengiyakan ajakan guru untuk mewakili sekolahku ikut lomba debat.

Hari pertama diisi dengan perkenalan mengenai lomba, administrasi, pembagian kamar dan makan makan. Saat hendak daftar ulang, salah satu tim dari kotaku manghampiri tim kami dan mengajak berkenalan. Cahyo, Disty dan Lucky nama mereka. Entah kenapa tatapan Lucky seolah berusaha membaca diriku. Ah, mungkin dia seperti itu pada semua orang.

Disty yang supel memperkenalkan Lucky secara spesifik kepadaku. Hmmmmm.... Ada yang mencurigakan, pikirku. Namun aku tidak terlalu memikirkan lebih.

Saat aku sudah mulai melupakan Arsya karena kesibukanku di perlombaan tersebut, Arsya malah terus-terusan menghubungiku. Apa yang ia inginkan?

Danny dan Tricia tau tentang Arsya. Saat tengah maju ke podium debat, Arsya menghubungi ponselku dan Dhanny mereject panggilan tersebut lalu mematikan ponselku. Aku baru tahu setelah turun dari podium.

Satu hal yang aku sadari saat aku di atas podium, Lucky menonton ronde debat di mana tim ku maju. Aku melihatnya sekelibat saat aku berjalan dari podium menuju tempat dudukku.

Pada lomba itu kami tidak lolos babak penyisihan, namun Danny dan Trisia sepakat, lomba ini menjadi ajang aku untuk move on dari Arsya.

Lomba ini mewajibkan kami menginap 3 malam di sebuah hotel di pinggir pantai. Aku sekamar dengan Tricia dan beberapa cewek dari SMA lain. Danny 1 kamar dengan cowok dari sekolah lain. Salah satunya bernama Rakka.

Entah kenapa Rakka memiliki aura yang meneduhkan, sampai aku menceritakan tentang Arsya padanya. Dia bisa dengan mudah membuatku nyaman. Aku curhat padanya sampai pukul 3 pagi di tepi pantai. Dan ia dengan nada bercanda menyebut dirinya malaikat penghibur.

Kedekatan kami terlihat seperti HTSan. Padahal kami baru beberapa jam mengenal satu sama lain. Kami bahkan sayang sayangan di media sosial, sampai beberapa fans nya merequest pertemanan saking penasarannya dengan aku.

Aku mulai bisa ceria lagi di perlombaan tersebut. Seolah Arsya memang tidak pernah ada dalam hidupku. Aura ceriaku keluar lagi. Sampai Danny bilang, "ini Senna yang gue kenal"

Keesokan harinya saat kami sedang istirahat, Disty menghampiriku.

"Ciiiieee...Sen, Lucky bilang ke gue dia interest sama lo."

"Lucky?" aku bilang sedatar mungkin berusaha menutupi rasa ingin tahuku.

"Temen satu tim gue" Disty jawab "Dia tuh lebih muda dari kita, tapi dia anak aksel."(Aksel = kelas percepatan)

"Oh, gitu. Yaudah salamin aja."

Ada sedikit rasa senang. Ternyata aku masih 'laku', pikirku.

"Hoyyy!" tiba-tiba Rakka mengagetkanku. "Ngelamunin gue ya senyum senyum gitu!"

"Kok tau?" jawabku dengan centil.

"Tau dong, kan lo mulai jatuh cinta ama gue." jawabnya tak kalah PD.

"Hahahahhaa!" Dari sudut mataku, aku lihat Lucky memperhatikan kami dan buang muka masamnya. Kena kamu!
Chapter 2
Katakan Saja - Kahitna

Sampai perlombaan selesai tidak ada yang spesial dengan Lucky. Aku hanya beberapa kali memergoki dia memandang ke arahku. Dan ia juga merequest pertemanan di media sosialku. Friendster saat itu. Dia juga sempat minta nomor hapeku langsung. Sambil diejek ejek ala anak SMA oleh Disty, "ciiieee ciieeeee".

Beberapa saat setelah lomba aku mulai intense berhubungan dengan Lucky dan Rakka. Namun aku tidak terlalu menganggap Rakka serius karena aku tahu Rakka sama seperti Arsya, baik pada semua cewek. Jahatnya, aku memanfaatkan Rakka untuk membuat Lucky cemburu.

Lucky yang berumur hampir 2 tahun lebih muda dari aku. Pada awal perkenalan dengan tegas dia bilang, "sorry to say but I am not going to call you 'mbak' atau 'kak' even though you are older than me."

"Gue gak akan mempermasalahkan, panggil gue Senna, it's up to you" jawabku.

Menarik ini bocah, pikirku. Meskipun lebih muda dari aku, hasil ubek ubek sosmed dan blog dia aku menyimpulkan dia tipe pemikir. Pola pikirnya bahkan lebih dewasa dari aku pada saat itu. Aku suka. Tapi dia lebih muda dari aku. Masalahkah?

Aku menceritakan tentang Lucky pada sahabatku di kelas 1 yang bernama Okta yang saat ini sudah beda kelas denganku di kelas 2. Dia hanya mendengarkan tanpa komentar, tampaknya dia senang aku kembali ceria.

Akhir Desember 2008.
Aku mulai semakin dekat dengan Lucky. Meskipun terkadang Arsya menghubungiku, namun aku sudah mulai gagal fokus dengannya dan menikmati kedekatanku dengan Lucky. Intense sekali kami menghubungi satu sama lain. Melalui sosial media, messenger dan sms. Pernah kami chatting sampai larut malam dan dia dipergoki ibunya sehingga dia langsung mematikan komputer. Ibunya masih menganggap dia anak-anak, dan dia ditegur secara halus oleh ibunya.

Aku mulai merasa tidak enak. Aku punya firasat ini tidak akan berjalan lancar. Dan untuk mengalihkan perhatianku, aku menghubungi Rakka. Tentu saja Rakka meladeniku. Aku telah membuatnya berjanji untuk setia menjadi malaikat penghiburku.

Beberapa hari setelah itu Lucky bertanya, sebenernya ada apa denganku dan Rakka. Aku tertawa dalam hati. Mulai frontal ini anak.

"Cemburu ya?" tanyaku.

"Nanya aja." dia jawab.

Beberapa saat setelah itu aku pasang status di sosial media ku, sebuah lagu "katakanlah saja bila benar-benar cinta jangan buatku ragu karna ku sungguh-sungguh. Katakanlah saja bila benar-benar sayang jangan buatku terlalu lama menunggu mu". (kalau tidak salah kurang lebih seperti itu lagunya hehe)

Tiba-tiba ada sms dari Lucky...

"Sen, bisa online?"

"Eh... Iya Luck.. Bisa kok nanti gue ke warnet."

"Gue pengen lo baca blog gue updatean terbaru, baru gue post. Itu buat lo."

"Ok, siap! Nanti gue baca." Sepertinya ini reaksi dari status ku, pikirku.

"Okta, anterin ke warnet dong. Penting!"

"Hujan, Sen."

"Penting, Ta.. Gue gak bisa sendiri. Butuh support lo"

"Oke deh, apa sih yang gak buat lo tuan putri?"

Yap, Okta jemput aku dan saat itu hujan deras. Dramatis banget kita nembus hujan cuma untuk ke warnet buat cek blog Lucky.

Sambil gemetaran aku ketik URL blog dia dan postingan itu muncul. Curahan hati Lucky tentang seorang cewek yang buat dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku sampai kehabisan kata-kata. Aku tidak menyangka bakal jadi salah satu postingan di blog nya. Dia membuat aku merasa benar-benar istimewa.

"Ky, itu buat gue?"

"Iya. Gimana? Suka?"

"Banget. Makasih ya."

Tidak sia-sia aku menerabas hujan naik motor. Jalan malam itu lumayan sepi karena derasnya hujan. Rasanya aku ingin teriak sekencang-kencangnya saking girang pada saat itu.

Aku jatuh hati.
Chapter 3
Awake - Secondhand Serenade

Awal tahun 2009 menjadi minggu yang memompa semangatku. Sesosok cowok menembak aku dengan cara yang menurutku amat manis, dengan postingan di blog nya.

Beberapa hari setelah itu ia nengajakku ketemuan. "Sen, besok pulang sekolah ketemuan di Alun-alun ya. Abis itu kita ke pantai, lagi pengen ke pantai ni."

"Yakin, Luck? Ini kan pertengahan minggu sekolah.."

"Gak mau?"

"Mau...." tentu saja aku mau. Itu adalah kencan pertama kami.

Keesokan siangnya kami bertemu dan langsung berangkat ke pantai. Kami lebih banyak diam mendengarkan deburan ombak.

"Sen." Tiba-tiba ia buka mulut.

"Luck?"

"Gue utang ama lo."

"Hah? Utang?"

"Iya.. Gue utang nembak lo secara langsung gak lewat tulisan. Kayanya gak gentle banget." matanya menatap mataku.

"Ya ampun, lo tau, itu hal paling manis yang cowok pernah lakuin ke gue!" aku berusaha untuk menyembunyikan pipiku yang memerah.

"Tapi gue pengen ngomong langsung!" tatapan matanya berusaha meyakinkanku. "Lo mau nerima gue jadi cowok lo?"

"Gak mau," gue jawab. Dia tersentak kaget. "Gue maunya jadi masa kini dan masa depan lo, bukan sekedar cewek lo."

Dia langsung buang muka. Entah apa yang dia pikirkan.

"Sebenarnya gue gak boleh pacaran." Dia berkata pelan-pelan. "Gak tau apa yang bikin gue kaya gini. Gue gak bisa bohongin diri gue kalo gue ada rasa sama lo."

"Yaudah kalau gitu, kita jalanin aja dulu apa yang ada di depan kita."

Setelah itu kami berdua terdiam, memandangi deburan ombak yang berkejar-kejaran. Dia ambil handphone ku dan melihat daftar lagu di playlistku. Dan dia memainkan sebuah lagu, "Awake" dari Secondhand Serenade berulang-ulang. Mungkin itu isi hatinya. Mungkin terlalu banyak yang ada dipikirannya saat itu yang tak bisa ia ungkapkan secara langsung.

Aku mulai berharap, waktu berhenti berputar dan ini ada untuk selamanya.

"Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything.
"


Seru juga.. Nenda di sini ahh..
lanjut gk nihh emoticon-Cool .. salken gan emoticon-Shakehand2
azin bangun istana di sini gan sambil ngopi di pejwan
Lanjut ganemoticon-2 Jempol
Chapter 4
Pieces of Me - Ashlee Simpson

Awal tahun 2009.
Ingin melupakan seseorang? Belajarlah mencintai orang lain. Dan Lucky benar-benar membuat aku lupa rasa sakit yang ada. Bukan karena luka itu sembuh, tapi aku hanya lupa untuk merasakan.

Yang aku ingat hanyalah senyumnya, cara bicaranya dan yang pasti tatapannya. Tatapan seorang yang ingin berusaha mengenal orang yang ada di hadapannya. Tatapan yang seolah membaca setiap gerak geriknya. " Ooooohhh.. It seems like I can finally rest my head on something real, I love the way that feels. Oooohhh it's as if you know me better than I ever knew myself. I love how you can tell all the pieces.. Pieces... Pieces of me"

"Lo tuh cewek pertama gue, Sen" dia bilang suatu malam ditelpon. "Aneh ya, baru kenal langsung jadian."

"Boong banget! Terus kenapa kalo baru kenal? Gak boleh?"

"Beneran! Abis lo pasang status kaya gitu di sosmed, kaya nantangin. Frontal banget!"

Seandainya itu bukan obrolan di telpon, pasti Lucky bisa lihat pipiku yang memerah seperti kepiting rebus. Aku percaya, sangat percaya kalau aku memang pacar pertamanya. Seorang cewek itu bisa melebihi intel dalam mencari info tentang seseorang. Dan tidak sulit memang mencari info tentang Lucky, karena dia ternyata tetangga dari teman SMPku.

"Nggak apa frontal, dulu juga waktu lomba lo frontal, ngintip-ngintip ke ruangan waktu gue naik podium," godaku.

"Shhhhh****t!!! Lo liat itu?! Anjir malu banget gue!!!"

"Keliatan banget kali lo interest ama gue. Hahahaa"

"Ehh.. Tapi sumpah, gue sempet cemburu banget ama Rakka," akunya jujur.

"Rakka mah cuma laki-laki penghibur,Luck. Tenang aja."

Percakapan ditelpon setiap malam sangat tidak terasa. Kami terus-terusan ngobrol menceritakan tentang satu sama lain sampai kami masing-masing terlelap tidur. Kami bisa tahan mengobrol sampai jam 2 malam. Aku sampai berpikir, jika memang dia jadi suamiku aku tidak akan pernah bosan mendengar ceritanya setiap malam dan dia juga pendengar yang baik.

Dia bilang dia ingin tahu sekecil-kecilnya detail tentangku. Aku ceritakan semua, keseharianku, keluargaku, masa kecilku, dan yang pasti lukaku dari Arsya. Lucky bukan rebound seperti yang teman-temanku kira, karena aku begitu cepat jadian dengan dia, ditambah lagi dia lebih muda dariku. Lucky benar-benar penyembuhku.

"Sarah siapa, Luck?" tanyaku suatu hari setelah melihat nama tersebut di sosmed nya.

"Temen sekelas gue, sahabat gue. Tenang aja, dia udah punya cowok," jawabnya santai.

Oh, pantes akrab, pikirku dalam hati. Bukannya apa, tapi dari percakapan mereka di sosmed seolah Sarah sengaja menunjukan dia kurang setuju dengan Lucky yang memilihku jadi pacarnya. Kurang lebih dia berkata, hati-hati jadian dengan yang lebih tua, biasanya cuma berakhir menyakiti.

Jujur, aku merasa marah. Seolah-olah dia berkata aku tante-tante gatal yang hanya mempermainkan Lucky. Namun aku pendam amarahku.

"Maaf ya, mungkin kata-katanya kurang pantas ya? Gue juga gak tau kenapa dia ngomong kaya gitu," Lucky berkata seakan tau apa yang ada di pikiranku.

"Slow aja, Luck. Dia kan sahabat lo, wajar kalo dia khawatir tentang lo," jawabku berusaha menenangkan dia. "Secara gue lebih tua dari lo, belom kenal banget tapi kita udah jadian. Malah gue jadi termotivasi untuk ngebuktiin kalau firasat dia tentang gue gak bener. Tapi kesannya kaya gue tante-tante hiks hiks"

Yap! Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak ingin melukainya. Aku akan berusaha jadi pacar pertama dan terbaik buat Lucky.

Dia tertawa mendengar kata-kataku. "Tante-tante? Parah! Lo cuma lebih tua dari gue setahun 7 bulan Sen, masa tante tante? Gak usah diambil hati ya."

"By the way, lo punya facebook?" tanyanya.

"Facebook? Apaan tuh?"

"Ya sama kaya friendster."

"Ah males ah, nambah-nambah akun lagi, nanti ribet ngurusnya. Kenapa?

"Nggak kenapa-kenapa.. Nanya aja," jawabnya santai. "Oh iya, sabtu depan di sekolah gue ada pensi, lo bisa dateng?"

"Haduuuuhh.. Sabtu depan gak bisa, sekolah gue juga ada acara seminar gitu di hotel. Gue jadi panitianya. Maaf ya."

"Oh ya?" ada sedikit nada kecewa dari suaranya. "Selesai jam berapa?"

"Mungkin malam, jam 7. Gue sama temen se geng gue jadi panitia."

"Kalau gitu, gue pulang pensi ketemuan di hotel itu ya?"

"Eh, serius?"

"Iya. Paling pensi beres sebelum maghrib. Gue juga sekalian pengen kenal sama temen satu geng lo."

"Boleh.."

Langsung saja, aku menghubungi 3 sahabatku untuk menceritakan rencana Lucky. Mereka pun tidak sabar ingin bertemu Lucky, cowok yang bisa membuat aku melupakan Arsya, yang selama ini membuat mereka sedih melihatku yang terpuruk.

Quote:Original Posted By orwid
Seru juga.. Nenda di sini ahh..


Dizinkan gan/sis. Makasi udah mampir... emoticon-Salam Kenal

Quote:Original Posted By kinal.d
lanjut gk nihh emoticon-Cool .. salken gan emoticon-Shakehand2

Lanjut sis. Cuma baru bisa posting malem-malem.. Biar dapet mood nginget masa lalunya hehehe. *eh emoticon-Malu
Quote:Original Posted By rhygesanjaya
azin bangun istana di sini gan sambil ngopi di pejwan
Lanjut ganemoticon-2 Jempol


Bagi-bagi gan kopinya...btw ane sis emoticon-Rate 5 Star
Chapter 5
Bronies-T2

Aku sejak masuk SMA tinggal di kota S bersama budeku yang sudah janda di rumahku. Sedangkan Lucky tinggal di kota C, dimana aku lahir dan nenekku tinggal. Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 15 menitan naik motor dengan kecepatan 80km/jam. Meskipun kami sama-sama memiliki KTP dengan domisili di kota C, kami berdua sekolah di kota S, di sekolah yang berbeda. Sekolah Lucky isinya anak-anak berotak encer yang sudah pasti melanjutkan ke sekolah tinggi terkemuka, sekolahku isinya anak/kerabat pejabat dari mulai kepala RT sampai kepala propinsi.

Saat itu sekolah kami kebetulan sedang sama-sama mengadakan acara. Sekolah Lucky mengadakan pensi dan sekolahku mengadakan acara training/seminar motivasi. Lucky menginginkan aku datang ke sekolahnya untuk menghadiri pensi, namun pada saat yang bersamaan aku sedang sibuk menjadi panitia acara seminar di hotel yang berjarak 1 kali naik angkot dari sekolah Lucky.

"Jam 5an sore aku ke Hotel L ya, ya Sen." bunyi pesan singkat dari Lucky.

Aku sudah memberitahu ketiga sahabatku, Luna, Vira dan Ayla. Luna dan Ayla sama sekali belum pernah bertemu Lucky. Sedangkan Vira pernah sekali, saat aku dan Lucky baru beberapa hari jadian, aku pulang ke rumah nenekku di kota C. Vira, yang tinggal di kota C, aku minta untuk menemaniku bertemu dengan Lucky di sebuah kedai makan. Di situlah kami pertama kali bertemu lagi setelah "jadian" di pantai. Di situ pula pertama kalinya aku dan Lucky foto berdua.

Aku bukan tipe orang yang suka difoto, meskipun banyak yang bilang aku fotogenik. Ternyata Lucky pun sama, tidak terlalu suka berfoto-foto. Namun Vira memaksa kami untuk berfoto berdua. Foto itu masih ada di salah satu folder di harddisk komputerku.

Vira tampak semangat melihat aku ceria dengan Lucky. Vira yang paling tau apa yang terjadi antara aku dan Arsya karena ia dan Arsya juga bersahabat. "Luck, jagain temen gue ya," ia berpesan saat kami berpamitan.

Sambil hormat Lucky menjawab, "Siap Vir!"

Di jalan pulang aku diam saja, sampai Vira memulai percakapan. "Baek tuh anak Sen."

"Iya Vir, gue jadi takut."

"Takut buat apa?"

"Takut buat jatuh cinta," lanjutku. "Dia bilang dia belum boleh pacaran sama nyokabnya. Itu aja kita ketemuan tadi dia bohong sama ibunya bilang mau ke rumah Fajar temennya."

"Hmmmm...." Vira tak memberi komentar apa-apa.

"Gue gak tau gimana rasanya kalau jatuh terus sakit lagi. Luka dari Arsya aja belum kering."

"Jalanin aja ya..." Vira berkata lembut. "Gue selalu ada buat lo apapun yang terjadi nanti."

Setelah itu semua baik-baik saja seperti hari hari biasanya. Sampai akhirnya kami bertemu lagi di Hotel L tempat kami menjadi panitia. Pukul 5 lewat Lucky menghubungiku lewat telpon untuk bilang kalau dia sudah di depan hotel. Aku pun menjemputnya dan membawanya bertemu dengan Luna, Vira dan Ayla. Ayla menggoda kami dengan menyanyikan lagu "Bronies". "Cintai aku brownies,bagi ku kamu brondong manis," Haha sial, pikirku. Mentang-mentang Lucky lebih muda dariku.

Di antara kami berempat, aku lah yang paling dulu lahir, disusul Vira, kemudian Ayla dan terakhir Luna. Luna hampir seumuran dengan Lucky. Hanya lebih tua 2 bulan dari Lucky. Jadi memang benar, buat kami, Lucky adalah brondong manis.

Setelah pembubaran panitia menjelang isya, aku dan Lucky berpamitan. Kami memutuskan untuk makan malam di kota C dan aku pulang ke rumah nenekku. Motorku aku titipkan ke Ayla untuk dibawa pulang, sedangkan aku naik angkot dengan Lucky.

Sesampainya di kota C kamimemilih untuk makan di fastfood tengah kota Tanpa terasa sudah pukul 10 malam. Lucky menghubungi Fajar untuk menjemputnya dan meminjam motor untuk mengantarku sampai ke rumah nenekku.

Di rumah nenekku, Lucky langsung pamit karena sudah malam.

"Pulang dulu ya Sen."

"Lo balik kemana Luck?"

"Ke rumah Fajar paling, jam segini orang rumah udah tidur."

"Ibu gak marah kamu nginep di rumah Fajar?" aku punya firasat tidak enak.

"Gak apa-apa weekend juga kan. Jadi gak masalah." Lucky berusaha menenangkan

"Yaudah hati-hati, udah malem banget. Sampai rumah Fajar kabarin."

"Sippp... Malem Sen."

"Malem Luck."

Aku menunggu sampai Lucky menelponku untuk mengabarkan kalu dia sudah sampai dengan selamat. Aku sedikit lega. Namun entah kenapa firasatku mengatakan bahwa hari ini akan menjadi sebuah masalah.
Selesai merapihkan thread, semoga agan sis suka emoticon-Toast emoticon-Shakehand2 emoticon-Rate 5 Star emoticon-Salam Kenal
Quote:Original Posted By 27serafina


Bagi-bagi gan kopinya...btw ane sis emoticon-Rate 5 Star


Eh sorry gan eh sallah maaf sis ane gk tau. Hehehe.. indexnya jgn lupa di update sis, ini ane kasih cendol yg msih enak
Quote:Original Posted By rhygesanjaya


Eh sorry gan eh sallah maaf sis ane gk tau. Hehehe.. indexnya jgn lupa di update sis, ini ane kasih cendol yg msih enak


sipp gan... makasiii yaaaa... jadi makin semangat untuk menggalau nih biar dapet feel ceritanya hehe emoticon-Salam Kenal
ehh.. itu indexnya ada di post pertama bagian spoiler, ada yg gak fungsi kah? maklum newbie bikin thread huhuhuhuhu emoticon-Malu
Chapter 6
So Yesterday - Hilary Duff

Berita bahwa seorang Senna berhasil move on dari seorang Arsya sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolahku. Bahkan Bang Goceng, salah satu pedagang di kantinku yang lumayan akrab denganku menanyakan kebenaran dari berita tersebut pagi ini.

"Neng Senna udah punya pacar baru ya, neng?" tanya Bang Goceng

"Iya, bang tahu aja," ujarku tersipu.

"Anak mana Neng? Kenalin dong ama Bang Goceng."

"Anak SMAN Tokcer bang, itu yang anaknya pinter-pinter. Kapan-kapan ya kalo dia maen ke sekolah kita."

"Pantesan si Arsya keliatan gak bersemangat, ternyata Neng Senna udah punya yang baru. Tuh, orangnya lewat."

Arsya datang ke arah kantin, masuk menuju salah satu lapak pedagang kantin. Dia sempat melihat ke arahku kemudian menunduk. Memang semenjak aku memutuskan dia karena dia 'mentiga', dia selalu menunduk apabila kami bertemu. Mungkin dia merasa bersalah.

Pernah suatu hari aku menanyakan pada Vira yang merupakan teman dekatnya, kenapa Arsya masih belum merasa cukup dengan aku sebagai pacarnya, Vira bilang bahwa Arsya hanya iseng meladeni mereka. Namun untuk kembali kepadaku, Arsya masih berpikir ulang. Katanya, ia kurang begitu suka dengan aku yang terlalu 'teoritis' dan melankolis. Maksudnya adalah, aku terlalu menyukai membaca dan mengaplikasikan bacaanku ke dalam hidupku. Ah`, terserahlah... Alasan macam apa itu.

"Salah sendiri bang dia maruk. Ah males ah, ngomongin dia."

"Iya, neng. Masa lalu biarlah masa lalu ya... Pokoknya Bang Goceng yakin, si Arsya bakal nyesel seumur hidup nyia-nyiain Neng Senna."

"Aaaaaaamiiinnnnnnnn, ya Bang! Ni bang, goceng kan semuanya? Senna balik dulu ya, ditunggu ama Luna, Vira ama Ayla"

"Syiiippp! Makasih ya neng!"

Setelah membayar aku kembali ke salah satu sudut taman di sekolahku di mana Luna, Vira dan Ayla menungguku. Sambil memikirkan pembicaraan tadi dengan Bang Goceng. Aku teringat tatapan Arsya yang hanya sesaat sebelum dia menunduk.
"If it's over, let it go and
Come tomorrow it will seem
So yesterday, so yesterday
I'm just a bird that's already flown away
" aku menyanyi dalam hati.

Sesampainya di taman aku langsung menuju ke arah sahabat-sahabatku. Saat itu mereka sedang seru berbincang dengan Sensei Sony, guru Bahasa Jepang di sekolahku.

"Beneran, Sensei? Kita boleh ikut?" seru Vira.

"Iya boleh, nanti abis istirahat kalian ke kantor aja untuk ambil surat dispensasi ya? Sensei ke kantin dulu."

"Makaaasiiiii Sensei!" ujar mereka serempak.

Saat aku menghampiri mereka, dengan sangat semangat Ayla langsung nyerocos ke arahku. "Sen, abis ini ambil barang-barang kita dari kelas. Kita boleh ikut nonton Japan Fest di SMAN CC. Dapet dispensasi loh! Nanti kita barengan ke guru piket urus suratnya."

"Eh, tapi kan kita bukan anak ekskul budaya Jepang. Kok boleh ikut?" tanyaku heran.

"Boleh lah! Geng LVSA jadi perwakilan siswa aja kata Sensei. Maksa sih.. katanya harusnya anak OSIS, tapi anak OSIS sibuk ngurusin apaaaaa gitu. Jadi kita yang berangkat."

Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi, dan kami segera menuju kelas untuk merapihkan barang dan mengurus surat dispensasi. Saat sedang mengurus surat dispensasi, aku melihat anak-anak ekskul budaya Jepang dibantu beberapa anak cowok mengangkut perlengkapan mereka ke dalam bus. Ternyata salah satu di antara anak-anak cowok tersebut adalah Arsya.

Seketika aku langsung menarik baju Vira, "Vir, Arsya ikut?"

"Arsya, Okta, Muha dan Iwan juga kepilih kaya kita secara random, tapi buat bantu jadi seksi perlengkapan gitu, Sen."

"Kita gak bareng mereka kan?" tanyaku dengan nada cemas.

"Kita naik motor kok Vir, motor lo ama Luna. Gue bawa motor lo, si Ayla bawa motor Luna."

Fiuuuhhhh.... Aku bernapas lega mendengarnya. Lalu aku teringat akan sesuatu. SMAN CC adalah salah satu SMA di Kota C, berarti aku bisa janjian dengan Lucky untuk ketemuan. Langsung aku kirim pesan singkat ke Lucky.

"Luck, ini gue dadakan mau ke Japan Fest di SMAN CC, bisa kesana juga gak?"

Tidak lama dia membalas, "Okey, nanti gue nyusul ya!"

"Guys, gue nyajak Lucky ya," aku memberitahu mereka sebelum berangkat.

"Ada Arsya gak apa-apa, Sen?" tanya Luna khawatir.

"Justru karena ada Arsya gue ngajakin Lucky. pengen gue kenalin."

Luna dan Ayla melongo. "Udah, biarin aja," ujar Vira menenangkan mereka.

Sesampainya di Japan Fest, kami menjadi perwakilan SMAN SS menghadiri pembukaan acara duduk di bawah tenda depan panggung. Setelah acara pembukaan kami mengelilingi beberapa stand baazar dan duduk di salah satu sudut taman dan berfoto-foto.

"Serasa penting banget, jadi perwakilan abal-abal," Ayla berkata sambil tertawa. "Lucky mana?"

"Udah di jalan," jawabku. "10 menit lagi sampai."

Sesampainya Lucky di SMAN CC, Lucky menghampiriku. Dia menggunakan batik seragam SMAN Tokcer yang khas. Setelah basa-basi sedikit dengan Luna, Vira dan Ayla, kami mengelilingi baazar berdua. Kami menyempatkan diri mengunjungi stand SMAN SS, sekolahku. Di situ ada Arsya dan teman-teman cowok lainnya. Aku langsung menghampiri mereka dan memperkenalkan Lucky. Setelah itu kami berbincang-bincang seolah-olah Arsya tidak ada di sana.

"Laugh it off let it go and
When you wake up it will seem
So yesterday, so yesterday
Haven't you heard that I'm gonna be okay
"

Tanpa sadar aku menggumamkan lagu itu, Lucky tampak heran, "Kenapa senyam senyum sambil ngumamin lagu. Lagu apa sih?"

"Ada deh..." jawabku sambil tertawa.
nandain ya gan emoticon-Traveller
Quote:Original Posted By ikakaze
nandain ya gan emoticon-Traveller


emoticon-Salam Kenal siippp gan.. semoga suka ceritanya
Quote:Original Posted By 27serafina


sipp gan... makasiii yaaaa... jadi makin semangat untuk menggalau nih biar dapet feel ceritanya hehe emoticon-Salam Kenal
ehh.. itu indexnya ada di post pertama bagian spoiler, ada yg gak fungsi kah? maklum newbie bikin thread huhuhuhuhu emoticon-Malu


Ok sama sama sis.. bisa kok sis kan tdi ane blom lihat index yg di upgrade langsung coment aja..hehe
Lanjutkan perjuanganmu orang cantik hehe emoticon-Smilie
Quote:Original Posted By rhygesanjaya


Ok sama sama sis.. bisa kok sis kan tdi ane blom lihat index yg di upgrade langsung coment aja..hehe
Lanjutkan perjuanganmu orang cantik hehe emoticon-Smilie


Makasii orang ganteng emoticon-Malu
Chapter 7
Innocence - Avril Lavigne

"Ini adalah salah satu tempat favorit gue n Ayla buat ngegalau," ceritaku ke Lucky pada saat kencan kami yang kesekian kalinya. Saat itu kami sedang menikmati sore hari di pinggir pantai dimana terdapat sebuah situs bersejarah.

Angin pantai berhembus memanjakan kami. Dari atas situs tersebut kami bisa melihat bibir pantai dan kapal nelayan di laut lepas. Aku menghela nafas panjang sambil memejamkan mata seakan melepas beban hidup dan rasa sakit dari luka yang ada.

"Terimakasih ya Luck," ucapku sambil memandang ke arah pantai. "Terimakasih udah mau jadi malaikat penyembuhku."

"Lo cewek terkuat yang pernah gue kenal, Sen. Ada satu hal yang gue sadar kalo lo lagi badmood, lo harus tidur dulu. Habis itu, badmood lo ilang deh hahaha!"

"Sama satu lagi Luck, empanin gue makanan enak!" tambahku.

Kami tertawa lepas. Baru beberapa bulan kami kenal tapi kami bagaikan sudah lama mengenal satu sama lain.

"Gue kepikiran mau mengundurkan diri dari aksel." Tiba-tiba auranya menjadi redup.

Aku kaget, "kenapa?"

"Banyak pertimbangannya, salah satunya gue gak ngerasa jadi manusia di sana. Dan gue ngerasa otak gue gak sampe. Dikejar2 pelajaran, nilai gak sampai kkm. Gue frustrasi liat temen2 gue cepet nguasain pelajaran sedangkan gue enggak," lanjutnya.

"Udah bilang ke ibu?"

"Belum."

"Hmmmm..." aku tahu itu hal yang sulit, karena masuk kelas aksel di SMA Tokcer pasti adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi ibunya.

Tak berapa lama kemudian datanglah sesosok cowok seumuran kami menghampiri kami dan dengan sok kenal sok dekat mengajak kami mengobrol. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Edi. Awalnya aku mengira dia akan mengusir kami karena berpacaran di situs sejarah, ternyata aku salah. Dia bahkan tidak mempercayai bahwa kami adalah sepasang kekasih. Sial, pikirku, lalu kami terlihat seperti apa?

Karena sudah masuk waktu shalat ashar, kami menanyakan mushola terdekat dan Edi mengantarkan kami ke sebuah langgar di desa tidak jauh dari situs tersebut. Tidak lupa pula ia memberitahu kami dimana kami harus menitipkan motorku.

Setelah shalat ashar kami berbincang bertiga jalan ke arah motorku diparkir. Edi mengajak kami menuju salah satu tempat ibadah masyarakat konghucu tidak jauh dari tempat motorku diparkirkan. Kami memutuskan untuk masuk ke sana. Aku agak canggung karena baru pertama kali mengunjungi tempat ibadah tersebut.

Edi seperti tour guide dadakan yang mengantarkan kami mengelilingi kelenteng tersebut. Dan setelah selesai, dia mengantarkan kami ke tempat motorku diparkirkan yang ternyata adalah tempat penitipan kendaraan sekaligus pangkalan ojek.

Ada beberapa tukang ojek yang sedang duduk sambil menghisap rokok di situ. Saat aku hendak mengeluarkan motorku salah satu dari mereka mengajakku berkenalan sambil menggodaku, seolah-olah Lucky tidak dianggap sebagai kekasihku bahkan seolah-olah dia tidak ada. Bahkan ada yang memberiku origami bunga mawar sambil bilang, "ini buat neng." Aku berterimakasih dan Lucky menyegerakan untuk mengeluarkan dan menyalakan motorku, kemudian kami berpamitan dan segera pergi.

"Sen, pesona lo dahsyat emang ya, gak dimana ada aja yang ngajakin kenalan," ujarnya. "Tapi kok gue ngerasa kaya gak dianggep jadi seorang cowok ya tadi, yang harusnya orang juga langsung kepikiran kalo gue itu pacar lo."

"Hahaha... Hati-hati Luck, berarti banyak yang mau nih ama gue," aku bilang setengah bercanda.

"Tersinggung ni gue," tawanya.

"Udah gak usah diambil hati, Edi juga tadi menyangkanya kita bukan pacaran. Mungkin kita kurang mesra kali ya.. Tapi kalo mesra nanti diusir lagi karena melakukan tindakan asusila," tawaku lepas berusaha menenangkan dia.

"Btw gue udah punya facebook loh Luck, tapi belum paham gimana pakenya."

"Ya, pelan-pelan. Nanti add gue ya?"

Malamnya aku buka facebook dari hapeku dan merequest pertemanan dengan Lucky. Saat itu dia sedang tidak online. Aku scroll timelinenya sampai aku menemukan status-status paling awal.

"Suka sama S" tulisnya.

"Is in relationship."

"Seandainya memeluk dan menciumnya tidak haram." ujarnya di salah satu statusnya yang lain.

Whaaaatttt?!?! Ternyata dia kepikiran buat itu, pikirku dengan pipi yang memerah semerah-merahnya. Aku juga tak memungkiri, aku ingin sekali memeluk dan menciumnya. Namun aku harus jaga diri. Aku tidak mau hubungan ini menjadi hubungan yang dinodai fisik. Setelah sakit hati dari Arsya, aku ingin menjaga diri.

Aku melanjutkan melihat-lihat timeline Lucky. Sampai aku menemukan comment dari seorang ibu-ibu. "Lucky udah punya pacar ya? Wah ponakan tante udah gede. Bawa ke rumah dong kenalin dong ama tante dan ibu."

"Iya tante, nanti kapan-kapan. Hehehe."
untuk kelanjutannya, agan sis mohon sabar ya, ane sedang agak ribet dengan RL, mohon memaklumi emoticon-Mewek