alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571dd13b582b2e7c128b4571/pilgub-jakarta-rasionalitas-pemilih-di-antara-skandal-dan-kinerja
PILGUB JAKARTA: RASIONALITAS PEMILIH DI ANTARA SKANDAL DAN KINERJA
Quote:JAKARTA. Setelah bergulirnya isu seputar dugaan Korupsi Pembelian Lahan Rumah Sakit
Sumber Waras dan terjaringnya Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, M. Sanusi dalam Operasi
Tangkap Tangan (OTT) KPK, Populi Center mengadakan survei untuk melihat apakah
petahana masih kuat di Pilgub DKI dan apakah pemilih Jakarta mampu membedakan
informasi dan menilai kinerja. Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan
400 responden, di 6 wilayah DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat,
Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. Survei ini menggunakan metode acak bertingkat
(multistage random sampling) dengan margin of error ±4.9% pada tingkat kepercayaan 95%.
Survei ini juga bertujuan untuk melihat tren dukungan publik di Jakarta dan melihat potensi
kandidat yang semakin menguat dukungan elektoralnya dibanding survei sebelumnya yang
sudah dilakukan pada bulan Desember 2015, dan Februari 2016.
Dalam survei ini, Populi Center mendapatkan beberapa temuan menarik. Petama, secara
keseluruhan, tingkat kepuasan terhadap kinerja Pemprov DKI Jakarta sedikit naik, dari 70%
di bulan Februari menjadi 73.3% di bulan April 2016. Sementara itu untuk persentase
tingkat kepuasan terhadap kinerja Gubernur Ahok juga naik, yaitu dari 73.5% di bulan
Februari 2016 menjadi 73.7% di bulan April 2016. Di bulan April, sebanyak 81.5%
masyarakat DKI menyatakan puas terhadap kepemimpinan Gubernur BTP. Sementara itu, di
bulan Februari 2016, 85.5% masyarakat DKI yang menyatakan puas dan 77.7% yang
menyatakan puas di bulan Desember 2015. Tren ini meski fluktuatif, namun masih tetap
berada pada level stabil karena naik dan turunnya persentase tidak signifikan.
Kedua, untuk kinerja DPRD DKI Jakarta, lebih dari 50% masyarakat tidak puas dengan
kinerja DPRD DKI Jakarta dan merasa bahwa DPRD DKI tidak mewakili aspirasi rakyat. Meski
demikian, angka ini menurun dibanding bulan Februari 2016.
Ketiga, untuk isu‐isu yang sedang bergulir seperti isu kasus Rumah Sakit Sumber Waras dan
kasus suap Reklamasi Teluk Jakarta, mayoritas masyarakat Jakarta masih menyatakan tidak
percaya akan keterlibatan Gubernur Ahok dalam kasus Rumah Sakit Sumber Waras, meski
persentase masyarakat yang percaya sedikit bertambah dibanding bulan Februari 2016.
27.2% masyarakat pun lebih percaya Gubernur Ahok dibanding yang percaya dengan BPK
sebesar 19%. Meski demikian, 53.8% mengaku tidak mengetahui kasus tersebut dan
memilih untuk tidak menjawab. Ini artinya kasus yang bergulir tidak menyita perhatian
masyarakat. Sementara itu untuk kasus suap reklamasi Teluk Jakarta, paling banyak
masyarakat (34.2%) yang tidak percaya bahwa Gubernur Ahok terlibat kasus tersebut.
Sebaliknya, 64.5% masyarakat percaya terhadap keterlibatan anggota DPRD yang lain dalam
kasus dugaan korupsi, salah satunya terkait dugaan suap Reklamasi Teluk Jakarta.
Keempat, untuk tingkat popularitas, mayoritas persentase popularitas tokoh naik dibanding
bulan Februari 2016. Sementara itu, popularitas Gubernur Ahok masih berada di posisi
pertama. Sementara itu, untuk penilaian terhadap 14 tokoh, hanya Abraham Lunggana (Haji
Lulung) dan Ahmad Dhani yang masuk dalam top five untuk popularitas namun memiliki
penilaian negatif lebih banyak dibanding penilaian positif. Ini artinya Haji Lulung dan Ahmad
Dhani popular karena penilaian negatifnya, sementara tokoh lain popular karena dinilai
positif oleh masyarakat Jakarta. Adapun nama‐nama baru seperti Dede Yusuf, Safrie
Sjamsoeddin, Ganjar Pranowo, dan Heru Budi Hartono, meski nama‐nama ini baru muncul di
survei bulan April namun penilaian positif dari masyarakat masuk dalam 15 besar.
Kelima, untuk tingkat kelayakan, Gubernur Ahok dinilai masih layak untuk maju kembali
menjadi Gubernur DKI periode 2017‐2022 karena ternyata meski yang menyatakan
Gubernur Ahok layak maju kembali memiliki persentase yang lebih kecil dibanding bulan
Februari 2016, namun posisinya masih teratas. Selanjutnya masyarakat Jakarta juga masih
yakin bahwa Gubernur Ahok bisa membawa perubahan ke arah lebih baik untuk Jakarta.
Kemudian untuk persetujuan maju jalur independen, data menunjukkan bahwa 49%
masyarakat DKI menyatakan tidak mempermasalahkan jalur parpol dan jalur independen.
Namun, secara spesifik, 59.2% masyarakat Jakarta menginginkan Ahok maju kembali
menjadi calon Gubernur lewat jalur independen.
Keenam, untuk tingkat elektabilitas top of mind. Temuan menarik dari survei ini adalah
meski diterpa kontroversi dan skandal, namun elektabilitas Gubernur Ahok sedikit naik
dibanding bulan Februari lalu, yaitu dari 49.5% menjadi 50.8%. Kenaikan Yusril Ihza
Mahendra juga cukup signifikan dari 3% pada bulan Februari 2016 menjadi 5% pada bulan
April 2016 dan berada di posisi kedua. Elektabilitas Ridwan Kamil pun turun drastis sebagai
akibat dari pernyataannya bahwa dia tidak akan ikut Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
Ketujuh, Saat BTP diadu head to head dengan Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga Uno,
elektabilitasnya menurun dan elektabilitas Yusril dan Sandiaga Uno meningkat. Meski
demikian, pemilih yang belum menentukan pilihan dan yang memilih untuk tidak menjawab,
lebih besar dibanding bulan lalu. Ini berarti bahwa seiring bertambahnya pilihan bakal calon
Gubernur, maka masyarakat pun tidak cepat‐cepat menjatuhkan pilihan, namun masyarakat
juga ingin melihat seberapa kompeten bakal Calon Gubernur yang lain.
Kedelapan, Untuk top of mind pasangan ideal, paling banyak masyarakat tidak tahu akan
pasangan idaman mereka. Namun 11.8% masyarakat menilai pasangan ideal mereka adalah
Ahok dan Heru dan angka ini menempati posisi pertama. Sementara itu, untuk posisi kedua,
sebanyak 9.5% masyarakat menilai pasangan ideal adalah Ahok‐Djarot untuk maju sebagai
Gubernur dan Wakil Gubernur.


Spoiler for SIMULASI PASANGAN:


Spoiler for PENILAIAN TERHADAP PEMROV DKI:


Spoiler for ELEKTABILITAS HEAD TO HEAD:


Spoiler for ELEKTABILITAS:


SOURCE = http://populicenter.org/index.php/co...-25-april-2016


ndak percaya surpei2an saiya.
langsung nunggu hari h nya aja.
Kalau dari kinerja sih ahok oke, gw akuin itu. Coba kalau ahok sikap dan tutur katanya dijaga. Jalan menuju gub dki terbentang lebar, bahkan untuk presiden pertama indonesia dari kaum minoritas. Sayang sekali ahok merusak citranya sendiri.