alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/571db7139e740453778b4579/seputar-dugaan-suap-bandar-narkoba-kepada-perwira-polisi
Seputar dugaan suap bandar narkoba kepada perwira polisi
Seputar dugaan suap bandar narkoba kepada perwira polisi
Ilustrasi narkoba
Presiden Joko Widodo secara gamblang pernah menyatakan bahwa perang terhadap narkoba agar dilangsungkan dengan"lebih gencar, lebih berani, lebih gila...(serta) komprehensif dan terpadu." Namun, dalam tataran eksekusi, arahan itu diterjemahkan berbeda.

Tindakan yang diambil Badan Narkotika Nasional (BNN) terhadap seorang perwira pertama polisi di Sumatera Utara menjadi bukti. Dilansir Detik (24/4), Ajun Komisaris Polisi (AKP) Ichwan Lubis, kepala satuan (Kasat) narkoba Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Belawan, dicokok oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), Kamis (21/4) menyusul dugaan penerimaan suap dari seorang bandar narkoba. Ia pun dengan serta-merta ditetapkan sebagai tersangka tindak pencucian uang.

Oleh BNN, sang Kasat dijerat dengan Pasal 137 huruf b Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dan Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Penangkapan Ichwan bermula dari penggeledahan BNN di Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Pakam pada 25 Maret 2016. Kala itu, BNN menyasar Togiman alias Toni, seorang pengedar narkoba yang diduga menjadi bagian jaringan perdagangan narkoba internasional.

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso pada Jumat (22/4) menyatakan bahwa pergerakan Ichwan telah diawasi secara ketat hingga saat ia menerima uang tunai sebesar Rp2,3 miliar dari seorang kurir berinisial CC, 30 tahun. "Dari rekaman pembicaraan, kasat narkoba ini meminta Rp8 miliar kepada Togi supaya kasus Togi tak diusut," ujarnya. Bahkan, Ichwan berdalih bahwa uang sebesar itu bakal diserahkan kepada Kepala BNN.

Detik menulis bahwa uang tunai Rp2,3 miliar yang ditemukan di rumah Ichwan bakal dimanfaatkan untuk menutup kasus seorang bandar narkoba yang sudah berada di tangan BNN.

Dalam keterangan terbaru, BNN meralat informasi mengenai dana sebesar Rp8 miliar yang ternyata bukan milik Ichwan Lubis. "Soal AKP (Ichwan), kalau ada rekening Rp8 miliar, itu bukan rekening (Ichwan)," ujar juru bicara BNN, Komisaris Besar Slamet Pribadi dikutip Detik (25/4).

Menurut Komjen Budi Waseso, Ichwan semasa "bertugas di Belawan belum pernah mengungkap kasus narkotika. Padahal, kasus itu banyak sekali." Ia mengaku, Ichwan pernah menangani kasus narkoba yang melibatkan bandar yang kini kasusnya ditangani BNN. Namun, ungkapnya, kasus itu lenyap. "Dia sudah pernah menangani kasus tersangka yang kita tangkap ini...tapi tidak ditindaklanjuti," ujar Budi dikutip Republika.

Dalam hemat pria yang karib dengan sebutan Buwas, antara Ichwan dengan tersangka bandar narkoba itu bermula saat operasi gabungan BNN, Polri dan Bea Cukai berlaku. Saat itu, Ichwan juga berada di lokasi. "Kan kita di Medan itu pada saat operasi itu selalu bergabung dengan Polri, BNN, Bea Cukai dan lain sebagainya. Kasat narkoba Belawan itu pun ada di situ pada saat itu. Dia memanfaatkan kasus itu," ujarnya.

Bandar termaksud adalah Togi.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Utara Inspektur Jenderal Raden Budi Winarso, dilansir laman Koran Sindo, mulai membidik jaringan Ichwan. Menurutnya, pria itu tidak bekerja seorang diri. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan terdapat sejumlah personel kepolisian lain yang terlibat. "Tetapi, itu masih penyelidikan," ujarnya.

Budi Winarso pun memastikan bakal melerai Ichwan dari jabatan Kasat Narkoba setelah proses hukum di BNN Jakarta tuntas. "Besok yang bersangkutan itu saya copot dari jabatannya. Selanjutnya, akan dilakukan proses hukum setibanya di Medan dan akan langsung dijemput oleh Profesi dan Pengamanan (Propam) di bandara," katanya Sabtu (23/4).

Pekan lalu, Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap ada transaksi mencurigakan sebesar Rp3,6 triliun. Transaksi itu disamarkan dengan pembayaran tagihan barang konsumsi. PPATK menyebut pelaku mengendalikan transaksi dari bilik penjara.

Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menyebut, transaksi yang mengarah pada bandar narkoba "dikendalikan oleh dua tahanan".

Keduanya menggunakan kaki tangan yang berada di luar penjara untuk bertransaksi dengan nilai sebesar itu. Uang itu disamarkan dengan pencucian uang. Modusnya dilakukan lewat usaha money changer, jual beli menggunakan lingkaran pengusaha, serta invoice asli tapi palsu. "Misalnya impor AC tapi ditulis kipas angin," ujarnya.

Uang itu dikirim dari Indonesia ke banyak negara dengan modus pembayaran tagihan barang konsumsi. "Ini jaringannya dengan kerja sama dengan judi online dan money changer dan perdagangan internasional palsu," ujar Agus. PPATK telah melaporkan transaksi ini ke BNN.


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...perwira-polisi

---

Baru dugaaan....