alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[TAMAT] The End of Horizon
4.88 stars - based on 52 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5715d724dc06bde60b8b456c/tamat-the-end-of-horizon

THE END OF HORIZON

[TAMAT] The End of Horizon
courtesy of picture: nasa.gov



I’ve learned that waiting is the most difficult bit, and I want to get used to the feeling,
knowing that you’re with me, even when you’re not by my side

--Paulo Coelho in Eleven Minutes--


A Love Story

by

Nayla Dee
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 44

INTRO AND FAQ

Quote:







Quote:
profile-picture
irfan579 memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah

INDEKS DAN DAFTAR MUSIK

Spoiler for INDEKS:





Spoiler for DAFTAR MUSIK:
Diubah oleh ladeedah

Ajeng Bukan Andromeda



Fragile
by Sting

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the color of the evening sun
Tomorrow's rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay

Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime's argument
That nothing comes from violence and nothing ever could

For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are
On and on the rain will fall
Like tears from a star
Like tears from a star



Gue merogoh saku jeans untuk meraih kontak motor: tidak ditemukan. Shit!! Kemana?? Gue cari di semua saku dan tas juga tidak gue temukan. Akhirnya gue lepas lagi helm full face yang udah gue pake dan gue tenteng lagi menyusuri jalanan yang tadi gue lewati, mungkin terjatuh atau tertinggal di sekre, tempat gue nongkrong seharian ini. Perut sudah keroncongan, jam tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Nasib anggota kongres yang selalu dihajar jadwal rapat yang ketat dan padat.

Gue tiba di sekre, hanya ada dua orang disana, Wendra dan Sapta, anggota kongres yang masih mengobrol sambil menyulut rokok. Rapat kongres sudah bubar setengah jam lalu, menyisakan mereka berdua yang tampak masih asik berdiskusi.

"Hey Jeng! Ngapain balik?" Sapa Sapta saat melihat gue celingukan di pintu depan mencari kontak motor.
"Kontak motor gue ilang, ada yang nemuin ga disini tadi?" Tanya gue sambil memeriksa kotak lost and found.
"Kalo lo mau gue cium, gue balikin nih kontak motor!" Kekeh Wendra.

Gue menoleh ke arah mereka berdua yang cengengesan sambil memamerkan kontak motor dengan gantungan Batman (kontak motor gue).
"Enak aja! Gue mau balik udah laper dan ngantuk!" Gue mengulurkan tangan untuk mengambil kunci motor itu dan malah diejek.
"Cium dulu dong Jeng! Bibir tipis lo kayaknya asik dicipok!" goda Wendra.

"Bukkkk!!" tanpa ragu gue layangkan helm di tangan gue ke pipi Wendra. Tidak cukup keras tapi gue rasa itu sudah bikin Wendra meringis. Sapta hanya melongo kaget melihat kelakuan gue. Wendra memegang pipinya dan mengusap darah di sudut bibirnya.

"Anjing! Becandaan doang kali Jeng!" Makinya sambil melempar kontak motor ke gue. Gue cuma senyum dan gue deketin Wendra dan Sapta yang masih duduk.

"Gue tau isi otak lo, Wen. Sekarang tau kan bayarannya kalo lo becanda sama gue?" Gue pun berbalik badan meninggalkan mereka berdua.

"Dasar ayam kampus!" maki Wendra setelah gue keluar pintu sekre.

Gue hanya memejamkan mata sejenak dan terus berjalan ke parkiran.

Gue bukan ayam kampus, gue hanya cewek normal yang berusaha menjalani hidup senormal-normalnya. Nama gue Diajeng Kalya, biasa dipanggil Ajeng. Apakah gue cantik? Cantik selalu mempunyai standarnya sendiri dan selalu terkalibrasi oleh penilaian-penilaian sesaat yang bisa berubah kapan saja oleh apa saja.

Kata Papa, Mama gue cantiknya seperti Nereids, yang kecantikannya menjadi simbol kecantikan lautan hingga Sang Poseidon pun jatuh hati padanya. Gue memang mewarisi kecantikan seorang Nereids dalam diri Mama, tapi gue tidak layak disandingkan dengan Mama, yang siapapun yang mendekatinya akan lumpuh dan bersujud memuja wajahnya.

Ajeng adalah ayam kampus. Ajeng adalah simpanan Om-Om tajir. Ajeng adalah wanita panggilan.

Sudah biasa. Sebutan itu sudah melekat erat di diri gue sejak gue menjadi anggota kongres di BEM.

Semua sebutan itu bermula saat gue menjabat sebagai sekretaris BEM di tingkat dua. Saat itu adalah bulan Ramadhan dan bertepatan dengan panasnya panggung politik yang akan melaksanakan pemilu beberapa bulan ke depan. Gue memeriksa beberapa proposal milik jurusan dan unit-unit yang harus ditanda tangani Davi, sang ketua BEM. Salah satu proposal itu berisi acara buka bersama di kampus sekaligus ceramah dan sholat tarawih yang akan dipimpin oleh salah satu pemimpin partai yang sedang bergelut di panasnya politik.

Gue langsung mencoret proposal itu dengan spidol warna merah, artinya tidak disetujui. Davi sudah mengumumkan bahwa kampus kami netral, tidak boleh ada kampanye terselubung dengan membawa kepentingan-kepentingan partai di dalam kampus. Dua hari kemudian, gue didatangi dua orang perwakilan unit yang proposalnya gue coret dan langsung gue kembalikan ke unit mereka.

"Bisa ketemu sama Ajeng?" sapa mereka saat gue sedang merekap hasil rapat semalam.
"Gue sendiri." jawab gue.
Raut wajah mereka langsung berubah. Lalu mereka tunjukkan proposal yang ada bekas coretan spidol merah.
"Kenalin, gue Soma dan ini Zera, kami dari--"
"Kok main coret aja sih sebelum dibaca Davi?" tanya Zera tanpa menunggu Soma selesai basa-basi.
"Kok lo tau kalo itu belom sampe ditangan Davi?" tanya gue heran.
"Karena Davi kan lagi kunjungan ke Jakarta dan baru balik lusa!" jawab Zera kesal. Oh dia ternyata tau kalau Davi sedang tidak ada di kampus.

Gue pun menjelaskan mengapa gue mencoret proposal mereka tanpa perlu menunggu Davi karena Davi pasti juga akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin dengan cara yang tidak hormat disertai marah-marah ala Davi. Soma dan Zera masih tidak menerima alasan gue dan minta proposal mereka diputuskan sampai Davi tiba.

"Sorry, aturannya udah jelas. Lo eksekusi program harusnya kalo proposal udah disetujui kan?" tanya gue setelah mereka berbelit-belit membahas perjanjian yang sudah mereka buat dengan sang pembicara, beberapa dosen yang turut diundang hingga soal sewa tempat yang sudah dilakukan.

"Kami ga peduli! Program ini akan tetap jalan dengan atau tanpa persetujuan BEM!"

"Gabisa dong! Lo bawa nama kampus dan lo lakuin itu atas nama BEM juga. Kalo kami bilang gabisa dengan alasan rasional seperti yang kami jelaskan, maka gabisa." jelas gue masih berusaha lembut dan sopan.

Tak lama kemudian, Juan, sang wakil Ketua BEM datang dan menghadapi mereka berdua, berujung proposal mereka tetap ditolak.

Acara mereka pun batal. Tak sedikit yang menghujat BEM, terutama menghujat gue sebagai orang pertama yang menggagalkan proker milik mereka. Sejak saat itu desas-desus Ajeng adalah seorang sekuler, liberal dan pluralis melekat di diri gue. Entah berawal darimana dan siapa yang menggosip ria seperti itu.

Tak jarang beberapa teman kampus memang sering menjumpai gue di Planet Dago sekedar main bilyard bersama teman-teman luar kampus gue atau nongkrong di Camden Beer and Longue di Trunojoyo hasilnya gosip miring mulai mengarah bahwa gue adalah cewek nakal yang doyan mabok sambil party lalu melayani Om-Om hidung belang di vila-vila Lembang. Disgusting kan?

Sesederhana itu cara sebuah aib melekat di diri gue tanpa bisa gue kendalikan. Awalnya sedih dan ketakutan karena gue selalu menerima email dan SMS tentang order ayam kampus. Dari yang meminta dengan sopan hingga yang langsung frontal nan vulgar.

‘Ini Ajeng ya? Kalo minta ditemenin sama Ajeng, tarif perjam berapa ya?’
‘Jeng, weekend free? Having good fuck di Puncak yuk! Gue tanggung semua biayanya!’
‘Wanna taste your mouth on my willie, Baby!’
‘Lick my whole body and jizz me with your lusty eyes, Ajeng Baby!’

Perlahan dengan seringnya gue mendapat sms dan email seperti itu, ditambah tempaan Kongres BEM membuat gue semakin kuat dan cuek dengan penilaian orang yang semakin menjadi. Namun tak sedikit pula yang menghormati gue atas kemampuan gue sebagai seorang cewek dengan kemampuan berorganisasi yang baik dan cukup berprestasi.

Gue pun menguat dengan helm full face yang gue bawa kemana-mana. Tak jarang gue harus pulang malam setelah rapat sehingga gue harus bisa melindungi diri gue sendiri. Gue tidak mau bergantung dengan orang lain, terutama dengan teman-teman laki-laki karena gue takut kebaikan mereka tidak gratis harganya. Menyendiri selalu menjadi pilihan terbaik saat gue merasa berada dalam lingkungan abu-abu.

Gue hanya cewek biasa yang ingin hidup apa adanya karena gue bukan Andromeda yang kecantikannya melebihi Nereids.

Tapi hidup kadang aneh. Hidup kadang mengabulkan keinginan untuk jadi biasa saja menjadi sebaliknya: menempatkan di jalan yang tidak biasa saja.

Tapi tetap saja, gue bukan Andromeda yang menunggu diselamatkan oleh Perseus dari Cetus.
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
Diubah oleh ladeedah
euleuh... tos aya nun anyar deui...
Quote:


abisnya nungguin punya lo yang baru ga muncul2 -___-
entar... abis dari perth ane kluarin yang baru...
hai.. hai..

kak nay, miss...
mejeng dulu emoticon-Cool udah baru lagi aja
hello mba, ada cerita baru nih. pasti saya pantau dan tunggu update dari mba
wah mbaaak ada cerita baru lagi,asyikkkemoticon-Embarrassment

penjelasan bandungnya emang kuat banget ya,jadi kangen...

apalagi yang ditrunojoyoemoticon-Hammer

btw buat masalah yang mbak bicarain emang bener si... walaupun trit gue sendiri ada label (true story) nya.

tapi ya,kadang pernah kepikiran ga sih kalo ada seseorang yang bikin cerita fiksi terus biar banyak minatnya dia labeli true story? dan ditambah unsur bb ++

gue setuju banget sih mbak sama opini lo tentang itu. mungkin balik ke penulis juga sih,dia cerita karena suka bercerita atau memang punya motivasi untuk bercerita dan bukan cuman pengen eksis belaka atau terkenal.

tapi btw cerita gue emang asli kok mbak,beneran dehemoticon-Peace
Diubah oleh ron.
pleswan dl jeng... ciehhhh kali ini pake nama ajeng jugaaaaaa.....

hidup membacaaaaaa!!!!
Quote:


I dont care about the label Ron. Mau ada yang beneran RL atau fiksi.
Tapi sejujurnya gue ga pernah tertarik dengan RL Story emoticon-Big Grin
Gue ga tertarik buat tau kisah hidup orang lain dan segenap dramanya.
Label True Story selalu buat gue down duluan sebelum baca emoticon-Peace

anyway, lo wondering juga ga sih kenapa di Indo banyak FTV dan sinetron? Diliat dari tren cerita SFTH?
Gue rasa budaya kepo dan pamer cerita hidup itu jadi inspirasi buat sineas indo buat bikin FTV dan sinetron atau sebaliknya.

sekali lagi, gue hanya mengajak untuk lebih rajin baca buku bukan melarang baca trit SFTH emoticon-Wink
mungkin baca trit SFTH bisa jadi selingan pas bosen baca buku, but still, read a book.
Quote:


hahahaha tapi ya inilah realita mbak,disaat orang orang suka sama yang namanya "real story" padahal belom tentu juga fiksi jelek dan cerita asli itu bagus kan?

tapi ya berbeda kan belom tentu salah,jadi ngapain ngikutin arus kalo misalnya kita sendiri gabisa nikmatin arus itu kann?maksud lu mungkin begitu kan mbak?

hahahahha kebetulan gue emang jarang buat nonton tv sih,tapi buat liat dari socmed yang gue pake,yes. gue setuju kok tapi ya kita sebagai penikmat media itu sendiri hanya bisa melawan dengan cara untuk tidak menikmatinya kan?kayak gausah nonton atau apalah hahahaha

iyaa,bener kok, budaya baca emang disini kurang banget,harus gue akuin. gue bukannya sok pinter yang tiap waktu gue senggangin buat baca suatu buku atau apalah, tapi ya gue bisa ngeliat dari budaya kita sekarang emang nganggep baca buku tuh bosenin.

padahal ya,kalo kita emang niat buat nyari suatu bacaan yang ga bosenin juga banyak banget kok.

gue aja suka baca GoT,gone girl,narnia, sampe sampe buku yang judulnya the one yang emang itu buku cewek banget ( minjem sama audrey) tapi ya emang salah?engga kan

mindset disini udah nganggep "baca buku " itu kuper, ga melek lingkungan,dan hal hal lainnya yang jauh banget dari kenyataannya hahahhaa
Diubah oleh ron.
Numpang lesehan Mba. Kayanya bagus nih ceritanya. Tetap semangat menulis ya
Numpang neduh dago ujan gede bgt hehehe #siap2 twisteran lg
mantap mba nay udah buka cabang lagi emoticon-Matabelo
wah pindah rumah lagi dengan cerita baru
ane ijin nenda di pejwan ya mbak
Salah satu author dengan karya terbanyak di SFTH dan tanpa kentang berformalin, dan dari semua cerita di SFTH, entah, tapi saya jujur menyukai tulisan Sis yang satu ini. Dan saya setuju sekali dengan pendapat bahwa minat membaca orang Indonesia bisa dikatakan kurang. Saya sendiri tidak suka membaca buku, saya sukanya hanya baca Wikipedia. Lanjutkan karyanya sis, dan tetap menulis hingga tamat.
Trit baru! trit baru! trit baru! Hu ha! Hu ha! Hu ha!
This story has dedicated to the readers who love reading and have open minded who not kepo for unimportant things for better future.

#omongapasihnov?? emoticon-Stick Out Tongue

Prolognya serius bgt ya ato jangan2 kebawa emosi sang tokoh utama nih emoticon-Big Grin




Diubah oleh nhofhiel
Halaman 1 dari 44
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di