alexa-tracking

Just ♥ Me

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/570bc2ef1cbfaaf24b8b456b/just--me
Just ♥ Me
Just ♥ Me


— BASED ON TRUE STORY


Quote:
Just ♥ Me
Just ♥ Me


Quote:
KASKUS Ads
Spoiler for :


Just ♥ Me


Hanya dengan duduk berdiam diri sambil memandangi padatnya jalanan bisa membuat aku sangat tenang. Lantunan suara Hayley Williams yang mengalir melalui headset membuat semua rasa penat dan letih hilang begitu saja, aku tersenyum kecil. Entah sudah berapa lama aku duduk di atas atap kostan itu, aku sudah tak ingat waktu. Di lantai tiga itu aku terkadang bepikir, apa yang akan terjadi jika aku langsung melompat ke bawah. Apakah aku akan menderita kesakitan dan langsung mati, atau hanya langsung tak sadarkan diri kemudian mati. Entahlah, yang pasti itu bukan salah satu cara yang menyenangkan untuk bunuh diri.

Tidak, aku tidak ingin mengakhiri hidupku dengan cara konyol. Akan aku simpan pikiran melompat itu di tempat terpencil di sudut otakku, dan mungkin suatu saat nanti aku bisa menggunakannya jika beban hidupku sudah tak tertahankan lagi.

"Kira–"

Suara itu memanggil namaku dari lantai dua, terdengar dia sedang berada di pertengahan tangga menuju lantai tiga. Aku tidak membalas. Aku bersiap menunggu seseorang itu dengan senyuman di bibirku sambil melihat ke arah ujung tangga.

"Dipanggil bukannya jawab. Lo udah makan belum? di kamar ada nasi goreng baru gue beliin"

Aku tersenyum mendengar dia mengomel seperti ibuku. Aku masih belum mengeluarkan sepatah kata sembari dia berjalan mendekatiku, lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahku.

"April, lo percaya bidadari penyelamat gak?" Ucapku

"enggak!"

"Siang tadi gue baru transfer semua uang gue ke mama, katanya dia butuh banget uang buat biaya adik gue berobat. Adik gue masuk rumah sakit"

"Serius lo?" Perempuan itu mengubah posisi duduknya. Kedua tangannya memeluk erat tanganku yang dingin.

"Baru aja tadi gue pikir kalau gue kayaknya gak bakalan bisa makan untuk malam ini dan entah sampai kapan. Kemudian lo datang dan–"

Aku menangis, tak sanggup berkata. Kedua tangan aku arahkan untuk menutupi wajahku yang sudah memerah, tak ingin ku lihatkan kepada April. Kemudian dia datang memelukku dari samping.... dan ikut menangis. Suara isak tangisnya bahkan lebih kencang jika dibandingkan denganku.

"Lo kalau ada masalah jangan pendem sendiri dong, gue ini temen lo, Ra" Ujarnya

Perlahan ku coba tarik nafas sedalam-dalamnya dan berusaha untuk mengentikan tangis cengeng itu. Ku lihat wajah April yang memerah, matanya sembab seperti orang tak cukup tidur dalam sekejap dan aku tertawa pelan melihatnya.

"Kenapa lo ketawa?"

"Lo kenapa ikut nangis? 'kan yang sedih gue"

"Ya gue ikut ngerasin lah"

"Gue gak bakalan lupain lo seumur hidup gue"

April tersenyum, tangannya terbuka lebar bersiap untuk mendapatkan pelukan hangat. Malam itu adalah malam dimana kedua perempuan cengeng yang sok tangguh mengeluarkan air matanya. Yang satu menangis sedih karena bertubi masalah kerap mendatanginya, dan yang satu menangis karena melihat temannya menangis. What a silly girl.
Spoiler for ♫♫♫:


Chapter I

Part 1


"KIRA, LIAT SEPATU GUE ENGGAK?"

Suara teriakan April memecahkan kesunyian tidurku, namun aku tak beranjak bangun. Bahkan setelah kupingku ditutupi dengan bantal, suara April yang sedang sibuk mencari sesuatu masih juga terdengar. Aku tau jika dia sudah mendekati waktu terlambar untuk interview kerjanya, tapi itu semua bukan kesalahanku. Tadi malam dia pulang ke kost pada jam 02.00 tengah malam selepas acara malam mingguannya. Kemudian tidur dua jam setelahnya.

Awalnya aku ingin langsung merebahkan badan disaat dia sudah pulang, tetapi dia malah mengajakku untuk bergadang dan menikmati film yang baru dibelinya. Bagaimana mungkin dia bisa tidak sadar jika di pagi harinya dia ada interview.

"APRIL, GUE MAU TIDUR. PLEASE JANGAN BERISIK!"

"Enak aja lo mau tidur, bantuin gue dulu"

Dengan sekuat tenaganya dia menarik kakiku sampai aku ikut terjatuh ke lantai bersama selimut yang terlilit di tubuhku. Aku tertawa geli melihat ekspresi paniknya. Aku memang seharusnya membantu, tapi aku lebih memilih menyandarkan diri di kasur dan melihat April berbicara kepada dirinya sendiri sambil mengobrak-abrik seisi kamar.

"Nah ini sepatu gue"

"Lah iya itu sepatu lo, yaudah pergi sana ntar terlambat. Gue mau lanjut tidur"

***


Di tengah siang dengan seluruh kepanasan dan kegerahan aku terus mengebut melaju di lalu lintas dengan motor matic milik April. Terkadang aku senang shift siang karena pelanggan cafe cendrung lebih sedikit, tapi jika panasnya seperti ini, shift malam jauh lebih baik. Selain karena pelanggan yang lumayan sepi, apa beberapa hal lain yang aku sukai pada shift siang. Salah satunya seperti, aku bisa menikmati waktu luangku dengan menggunakan Wi-Fi gratis untuk streaming dan lainnya. Atau bahkan mendownload film untuk kemudian aku tonton di kost bersama April.

Siang panas itu aku habiskan di ruang karyawan dengan sebotol teh dingin dan sebuah laptop milik cafe. Aku merasa seperti ratu di tempat kerjaku sendiri, sungguh aneh.

"Ra, giliran lo" Kata pria yang berseragam sama sepertiku.

"Berapa orang?"

"Dua puluhan kali. Katanya acara ulang tahun"

Oh, please god. Just give me a break for one day. Sudah jelas dan pasti siang ini aku bakalan sibuk nganterin makanan dan minuman ke mereka anak-anak orang kaya. Semakin lama aku bergumam akan kekesalan kepada diri sendiri, semakin jauh pula aku mengeluh akan pekerjaan ini. Seharusnya aku bersyukur atas pekerjaan ini, bukannya berkeluh kesah.

Jika di ingat-ingat, aku mendapatkan pekerjaan ini juga berkat Giovan–Pria yang mempuyai kost dimana aku tinggal. Aku masih ingat waktu itu aku mengadu kepada April akan sulitnya mendapatkan pekerjaan dan kemudia hal terakhir yang aku tau Gio menawarkan aku sebuah pekerjaan di Cafenya. Dan berkat pekerjaan ini pula aku masih bisa memberikan beberapa persen gajiku kepada ibu.

Aku terus bolak-balik dari dapur ke meja pemesan. Kenapa rasanya seperti apa yang aku lakukan ini tak kunjung habis, padahal aku melakukannya bersama dua orang karyawan lainnya. Entah berapa banyak makanan dan minuman yang anak-anak itu pesan.

"Ini yang terakhir, Ra"

Aku menghembuskan nafas panjang arti kelegaan. Dengan penuh rasa semangat aku membawa kedua minuman itu. Akhirnya senyuman berhasil terbentuk di bibirku. Setelah mengantar pesanan terakhir, aku kembali ke ruang karyawan untuk beristirahat sembari menunggu pesanan berikutnya. Ditambah giliran selanjutnya bukan giliranku, jadi aku masih bisa bersantai sedikit agak lama. Tepat sebelum aku masuk ke ruang karyawan, di depan pintu dengan tidak sengaja aku menabrak seseorang dan hal yang aku tau adalah dentuman suara benda keras ke lantai.

"Eh, lo punya mata gak sih?"

Sebuah smartphone dengan logo apple itu terjatuh ke lantai. Dengan respon cepat aku mengambil ponsel itu dan memberikannya kepada wanita itu. Wajahnya sungguh murka, seperti ingin memakanku. Tatapannya dan sentuhannya sibuk kepada posel itu.

"Maaf mbak, saya minta maaf"

"Maaf lo bisa apa? bisa ngilangin goresan ini?"

Astaga, aku pasti tau jika ujung-ujungnya nanti aku harus mengganti rugi ponsel pintar milik wanita yang sedang berpacaran dengan bosku ini, Giselle. Aku tidak tahu berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk ponsel itu. Beberapa bulan ini aku sudah menyimpan uang untuk membeli ponsel baru, tapi kelihatannya itu semua gak bakalan terjadi. Sepertinya aku harus tetap menggunakan ponsel jadul bekas ibuku itu.

"Bentar mbak, saya bakal ganti rugi"

Aku berjalan masuk ke dalam ruangan untuk mengambil dompetku yang berada di dalam loker. Semua mata mereka mengarah kepadaku. Pandangan itu seperti berkata "Aduh, kasihan banget lo, Ra". Aku tau jika Giselle adalah seorang wanita bajingan, kita yang bekerja disini tau. Semenjak dia berpacaran dengan Gio, dia berlagak seolah dia yang mempunyai segalanya, bla...blaa...bla. Dan aku gak mengerti mengapa Gio dengan beraninya memberi kepercayaan kepada ceweknya itu untuk menjalankan bisnisnya. Apakah dia sebodoh itu, atau dia belum tau Giselle kelakuannya gimana. Tapi aku tau pasti hal yang barusan terjadi tadi memang salahku.

"Ni mbak, saya ada lapan ratus ribu. Cuman segini yang bisa saya ganti"

Dia terlihat seperti berpikir. Matanya melihat kearah uang, kemudian kembali melihat mataku dan hal itu berlangsung terus sampai Gio datang dari pintu belakang dan melihat apa yang terjadi.

"Eh, kenapa ni? Kira, kenapa?" Tanya pria itu dengan helm yang masih terpasang.

"Ini Tad–"

"Dia jatuhin hp aku, mana lecet lagi" Balasnya dengan manja

"Jadi itu uangnya untuk apa?" Mata Gio melihat kearah uang yang sedang aku pegang

"Mau gue gantiin ke dia. Gue juga minta maaf, gue gak sengaja"

"ah, gak ada ganti-ganti. Kira, lo masukin uang lo ke dompet, ga usah pikirin lagi."

Sesuai perintah, aku masukkan kembali uang itu ke dalam dompet dan langsung menyimpannya di loker. Aku sungguh gak bisa bayangin jika saja uang yang sudah aku kumpulkan selama dua bulan itu harus hilang begitu saja, i earned it. Mungkin bisa saja aku menangisi uang itu jika tadi aku memberikan kepadanya.




image-url-apps
Wahhh story perjuangan hidup lagi nih..

Semangat ya sampai storynya tuntas.
Quote:


Mudah-mudahan tuntas emoticon-Smilie
Spoiler for ♫♫♫:


Chapter I

Part 2




April menggeram kuat bagian rahangnya ketika aku menceritakan apa yang terjadi siang tadi. Dia terlihat sangat geram dan marah mendapati temannya diperlakukan seperti itu. Aku tau April pasti sangat kesal kepada Giselle, tapi itu memang murni kesalahanku.

Malam itu disaat lampu kamar sudah redup, aku membuka laptop usang yang kubeli second pada tahun 2009 untuk mengerjakan sedikit permintaan edit foto. April sudah tertidur di atas kasur dengan novel yang baru dibelinya tadi siang. Meskipun penghasilan yang aku hasilkan dari edit foto tidak begitu besar, namun rasanya uang itu cukup untukku makan satu hari.

Jika kebanyakan orang pasti berpikir, apakah yang akan terjadi kepada mereka di tahun depan atau bulan depan. Lain ceritanya denganku, aku berpikir apakah aku masih bisa makan diesok hari. Sewaktu kecil, tak ada yang pernah menceritakan kepadaku bagaimana hidup bak orang susah dan tumbuh dewasa tanpa sosok ayah. Ayah? percayalah, itu satu kata yang pantang aku ucapkan. Tidak pantas baginya yang telah meninggalkan aku, adikku dan ibuku begitu saja saat kami beranjak dewasa tanpa sepeser uang dipanggil dengan sebutan ayah.

Hampir setiap malam di dalam kamar mandi aku menunci diri dan menangis. Jauh dari jangkauan April yang sedang tertidur di atas kasur. Aku mengeluarkan semua beban hidupku, perih dan sakitnya. Astaga–

Mungkin agak terdengar aneh, tapi aku paling tidak suka dengan keramaian. Bukan karena aku takut dicopet atau takut kehilangan seseorang dikeramaian. Hanya saja aku tidak kuat menahan melihat mereka para anak-anak dapat tersenyum dan tertawa ketika sedang bermain dengan ayahnya. Barang-barang baru keinginan sang anakpun akhirnya terbeli, dan senyuman indah terbentuk di pipi mereka. Oh, bukan karena aku iri. Disaat aku melihat hal indah itu, aku teringat kepada adikku yang berada di kampung halaman. Kadang aku berpikir, apakah dia bisa merasakan apa yang anak-anak lain rasakan. Memiliki barang baru dan..... tertawa bersama ayah.

"Kira, lo belom tidur?" Tanya April. Dia terbangun.

"Hah? belom. Manis nanggung, dikit lagi"

"Udahan aja dulu, mata lo udah merah"

"Iya nih, sakit mata gue. Bentar lagi deh"

***


Pagi itu aku mengambil hari libur dengan menelfon Gio. Aku tidak bisa masuk karena aku harus berangkat ke Jakarta untuk menemani April mengambil mobil dari rumah orang tuanya. Bahkan aku sudah tahu jika Gio pasti sudah akan memberikan aku izin sebelum aku menelfon. Aku juga yakin jika dia pasti akan baik-baik saja jika aku bolos untuk sehari. Tapi akan lebih baik semua itu jelas.

Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya kami tiba di salah satu rumah April, iya salah satu. Jika dibandingkan, aku ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perempuan asli bandung itu. She literally has everything. Meskipun begitu, dia tidak pernah mencoba menunjukkan sisi itu kepada teman-temannya atau aku. Dia berusaha low-profile dan dia berusaha agar tidak dipandang aneh dari orang lain. Kalian tau, pandangan seperti "OMG, SHE'S TOTALLY RICH". Jika dibandingkan dengan pendidikan, tentu April lebih unggul dibandingkan aku yang hanya tamatan SMA dan kemudian mencoba mencari perkerjaan yang layak dengan upah minim, miris.

"Sama Kira kamu, Pril?" Tanya pria yang mempunyai hubungan darah dengan April itu. Tiga tahun lebih tua dari April.

"Iya nih. Btw, mama sama papa dimana kak?"

"Baru aja pergi. Gak tau kemana"

"Yaudah deh, kalau gitu aku langsung balik lagi ya"

"Baru aja nyampe kok langsung balik? ga makan dulu atau apa gitu?"

"Mama sama papa aja ga ada, males ah"

"Bentar, sebelum kamu berangkat kakak mau bicara dikit sama Kira"

Huh, what me? what i've done?. Perasaanku cukup takut, tapi aku mencoba untuk bertigkah se-normal mungkin. Aku bahkan tidak tahu mengapa Randy ingin berbicara kepadaku. Bisa saja dia berbicara langsung kepadaku di dalam mobil, tapi dia mengajakku masuk ke dalam rumah untuk berbicara empat mata. Rasanya aku ingin menolak tapi aku takut. Dengan terpaksa aku masuk ke dalam rumah.

"Kira, kerjaan kamu gimana?" Dia bertanya sembari tangannya sibuk dengan dompetnya.

"Aman-aman aja, kak"

"Nih, temen aku ada yang lagi nyari orang buat kerja, aku gak tau sih kerjaan apa. Tapi dia butuh cewek dengan penampilan menarik dan lainnya. Aku rasa kamu cocok deh"

Lalu dia memberiku sebuah kartu nama dengan nomor telfon di belakangnya. Kartu nama itu sungguh terlihat tidak professional. Nomor itu bahkan tertulis dengan tangan.

"Oh makasih ya, Kak"






Wih SFTH lagi kebanjiran cerita baru. Keep update sis, jgn berhenti di tengah jalan emoticon-Cool
Quote:


Pengennya sih gitu emoticon-Smilie
Seru nih kayaknya, cerita ttg kehidupan. Nitip sandal, post pertama emoticon-Ngakak (S)
jejak