alexa-tracking

Amateur Traveller

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/570bbec554c07ab9208b4569/amateur-traveller
Amateur Traveller
(Pindahan dari forum Heart to heart) SALAH KAMAR, katanya
*enggak backpacker, enggak ngaskus, amatir emoticon-No Hope

Amateur Traveller, adalah catatan perjalanan gua dan temen-temen menjelajah liburan (kurang lebih satu tahun yang lalu, 2015) dengan cara backpacker. Kami adalah sekelompok amatir di dunia per-backpacker-an. Ini 95% kisah nyata ditambah (5%) bumbu-bumbu imajinasi dari gua. Semua nama dan tempat gua tulis apa adanya juga ada tips (amateur traveller), gambaran ittenary, sampai estimasi biaya. Cerita ini bersambung dan akan diapdet tiap hari senin.Tapi kalo sempet dan banjir ide
(dan permintaan emoticon-Hammer (S) ) diusahakan diupdate secepat mungkin.

Ini adalah postingan pertama gua, setelah mengenal kaskus dari 2009 tapi baru buat akun februari 2016 emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


Part 1: Perjanjian Lama
Wushhhh….

“Lot, tutup kacanya lagi di tol.”

Rabu sore menjelang maghrib, gua sama Bolot lagi nemenin Temo belanja perlengkapan workshopnya. Kita bertiga duduk di depan. Bukan, bukan cabe-cabean. Kita lagi naek mobil sport 2 pintu. Iyak, betul. Mobil pick-up.

Anginnya rada kenceng, kayaknya mau turun hujan. Kaca ditutup, bener aja ga sampe 10 menit hujan turun bertubi-tubi.
*feels like a cenayang

Dalam derasnya hujan, Temo membuka percakapan tentang perjanjian lama yang udah kita bina selama… 3 bulan. Kalo dijadiin hari kurang lebih 90, kalo dijadiin minggu kurang lebih 12, kalo dijadiin janin udah bisa bergerak dan jenis kelaminnya udah keliatan.

Kami pernah berujar tentang sebuah janji atau mungkin tepatnya wacana. Di mana kita pengen liburan bareng temen-temen jaman SMK, enggak muluk-muluk waktu itu cuma ada empat orang. Gua, Temo, Bolot, dan Tenglenk. Nama tersebut memang begitu adanya. Mereka lebih dikenal dengan nama itu, nama panggilan jaman sekolah. Gua pengen kasih tau nama asli mereka tapi bagusan nama samarannya. Udah panggil aja begitu.

Kita berempat berencana liburan ala-ala backpacker, sedikit banyak kami adalah korban film.

Bolot bilang,”gimana kalo kita ke Bali?”
“sekalian aja lanjutin ke Lombok, gua ada temen di sana, gimana?” jawab Tenglenk

Gua sama Temo ga jawab, kita ga ada di situ. Itu obrolan waktu mereka lagi berdua. Ya terus ngapain diceritain? *Suka-suka penulislah emoticon-Stick Out Tongue

Akhirnya pas ketemu berempat, kita diceritain. “Gimana? Oke ga?” kata Bolot.
“boleh juga” gua bilang, Temo sependapat.
“okeh, berarti kurleb (kurang lebih) 3 bulan dari sekarang kita berangkat yak” kata Bolot semangat.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, lovato demi lovato pun bernyanyi. Sampe akhirnya Temo nanya tentang wacana liburan di sela-sela kita belanja buat workshopnya, iya di mobil sport.

“gimana men?”
“men? Ya nggak tauk, tanya cewe lu lah kalo men”gua berseloroh.
“taikkk, belom kelar gua. Gimana men, rencana liburan?” Temo nambahin.
“ooh.. okeh aja gua. Ayok kapan?” gua timpalin, Bolot ngangguk.
“gimana kalo hari sabtu ini?” Temo ngagetin.
“sabtu ini? 3 hari lagi?” Bolot memastikan, gua nengok ke arah Temo.
“iya, gimana? Pas kan?” Temo ngeyakinin.

Entah standard-pas-apa yang Temo gunakan. Mungkin Temo yang berdarah jawa, udah menghitung weton yang bagus buat perjalanan kita dan sabtu legi dia pilih untuk hari keberangkatannya. Tapi ada benernya juga, mesti dikagetin, mesti diseriusin, bukan cuma wacana tapi harus jadi rencana. Karena kalo ditengok ke belakang, bahwa.. di belakang itu ga ada tulisan gua. Ga percaya? coba deh lu nengok. Ga ada kan? *krik-krik*

Enggak-enggak, seriusan nih, karena beberapa kali gua sama temen-temen ngerencanain sesuatu terlebih untuk liburan atau refresh(ing) atau F5 atau apalah itu namanya berakhir pada kegagalan. Ga siap waktulah, uanglah, akhirnya balik lagi, waktu kita dipake buat nyari uang (lagi). Terus kapan uang kita dipake buat senang-senang (liburan)? Masa dipake buat “mijit” terus. *Ups

Menurut gua, dengan meng-infak-an waktu untuk diri sendiri adalah salah satu bentuk investasi. Kita bakal nemuin sesuatu yang baru, sesuatu yang di luar dari lingkaran kita sehari-hari. Kita bisa ngeliat perspektif dan dimensi baru sebagai “manusia”. Sesuatu yang kayak gitu tuh mahal apalagi dijaman yang individualis kayak sekarang, perlu banget buat mengenal diri sendiri. Menyadarkan bahwa sebenernya kita adalah bagian dari dunia, serpihan kecil bagi alam semesta. Gua yakin aja pasti akan berguna, kelak.

Ada yang bilang bahagia pada waktunya. Mari, mari kita buat waktunya!! *pasang slayer*

Balik lagi ke cerita,
Ada hening sejenak sehabis Temo menentukan sabtu sebagai hari keberangkatan, akhirnya setelah ditimang cukup alot dan waktu yang lama, 8 detik. Gua baru keinget kalo weekend ini ada kuliah yang ga bisa gua tinggalin, gua ada ujian. Gua minta keringanan supaya diundur di hari senin. Senin wage, itu jatuhnya dua tahun dari sekarang. *kalimat terakhir abaikan*

Senin 30 maret 2015 akhirnya terpilih sebagai waktu keberangkatan kita melalui proses aklamasi. Deklarasi tadi sontak membuat riuh rendah bergemuruh di kabin pick up grand max. Wajah kami antusias. Gua yang duduk di tengah melakukan gerakan yes dengan dua tangan, Bolot yang paling kiri tereak “BALI KAMI DATANG, ROCK N ROLL” disambar langsung oleh Temo “YEAHHHH” dari balik kemudi. Kami pun bersahut-sahutan “YEAHH” serta bergerak random ke kanan dan kiri diri dilanjut menyetel lagu nidji (ost 5cm), bernyanyi bersama meski entah nadanya kemana. Di situ kami merasa keren. Betul, standard keren yang aneh.

Kan bener kan korban film -__-

(bersambung)
Quote:


bangkeee khayalan ente ngeri juga gan emoticon-Ngakak (S)

ni sepi amat yaak, ane ramein dah *bakar ban bekas*
kayaknya kepanjangan ya gan? maklum nubie gan emoticon-Bingung
Selamat menulis dan jangan berhenti di tengah jalan emoticon-Cool
Quote:


kagak gaaaan
itu di awal gak ada perkenalan apa gimana yak
nama panggilan ente siapa, usia waktu itu brapa, di kota mana gitu gan emoticon-Big Grin
Part 2: Akal-Akalan
(masih di dalam mobil pick-up dengan suhu di atas panas normal) emoticon-Cape d... (S)

Euphoria setelah deklarasi ga berlangsung lama, gerakan kami tadi menambah parah rasa gerah yang udah kita tahan dari awal berangkat. Sebab karena mobil ini tidak dilengkapi dengan fitur air conditioner. Situasi dilematis, buka kaca kehujanan tapi kalo enggak dibuka mati kegerahan. Sejurus kemudian oksigen semakin sedikit mengalir ke otak, kami mulai kepayahan. Bolot bersandar dan terkulai lemah, sesekali mengerang mengeluh panas. Temo mencoba bertahan tapi guratan wajahnya jelas mengisyaratkan lelah dan kepanasan. Gua juga tidak lebih baik dari mereka tapi gua harus bikin suatu penyelamatan.

Gua harus bertindak, gua harus berbuat. Dengan sisa tenaga dan stamina gua coba menggapai engkol sisi kiri mobil. Cukup sulit dalam kondisi seperti ini, sesekali gua berfikir untuk menyerah tapi bayangan wajah kedua orang tua menguatkan gua.

Gua ga boleh menyerah meski harus berdarah, dengan sedikit merayap gua berhasil meraihnya. Gua putar engkolnya tapi kaca tidak turun sama sekali, belakangan gua tau gua salah memutar arahnya. Akhirnya gua putar kembali ke arah yang benar, kaca mulai turun dan tetesan air mulai menghapus peluh. Terbayar usaha gua, gumamku dalam hati. Air yang masuk seperti memberikan tenaga baru, menstimulus stamina yang sedari tadi sudah berlogo tanda seru. Gua putar kembali sampai batas maksimal, kaca terbuka sudah secara utuh. Ahh.. Airrr segar sekali.

“Seger banget ya, Lot” imbuh gua.
“iya, nikmat banget ya air ini. Aahh.. seger banget” jawab Bolot dramatis.
“air hujan ini aja nikmat, gimana kalo ada minuman dingin ya” gua melanjutkan dengan nada terbata.
“pastinyaaaa…” tambah Bolot dengan suara yang parau.

Gua dan Bolot melahap air dengan rakusnya persis bayi yang mencicip ASI pertama. Enggak lama berselang, laju mobil terhenti. Oiya, Temo. Temo kenapa? Gimana keadaannya? Belum sempurna tengokan gua, udah kedenger suara pintu tertutup. Gua berbalik dan mendapati kalo Temo udah ga ada. Gua belom terlalu pulih buat beranjak terlebih misi penyelamatan yang baru gua selesaikan. Bolot setali tiga uang dengan gua, masih meringkuk meski sudah lebih baik dibanding sebelumnya. Alhasil di mobil menyisakan gua dan Bolot yang masih juga belum berdaya, gua duduk di tengah dengan badan jatuh ke kanan sementara Bolot di ujung kiri menghadap depan tidak sempurna, duduknya mulai melorot.

Namun, tidak beberapa lama ada cahaya terang yang memaksa gua membuka mata. Gua buka mata secara perlahan sambil menguatkan batin yang terus bertanya “apa gua udah sampe di surga?” lalu muncul sosok seperti manusia, tinggi, dan wajahnya menyerupai Temo tapi membawa sesuatu. Dia melontarkan pertanyaan “siapa Tuhanmu?” enggak-enggak. Dia bilang “kenapa lu berdua?” aksennya pun Temo banget, Purwekerto-Depok. “HAH? Jangan-jangan Temo malaikat?” Ahh ga mungkin. Dia 5 waktunya aja jarang.

Pertanyaan kedua muncul, “sakit jiwa ya lu pada?” “nih” sambil memberikan sesuatu yang dia tenteng tadi. Orang itu masuk, gua membenarkan duduk sambil ngeliat isi bungkusan yang baru dikasih. Satu botol pepsi, dua botol tebs, dan dua bungkus sampoerna mild (biasa dan menthol) itu isinya.

Gua sikut bolot tanda udahan.

“Lot, udah. Udah kelar” gua bilang.
Bolot merangsak bangun “mana? Mana bagian gua?”
“nih, jatah lu. Pepsi yee” gua lempar ke arahnya.
“ckckckck.. udeh? Udeh pura-pura gilanya? Udeh noh, gua bela-belain ujan-ujanan ke indomaret. Udeh jangan kayak orang gila lagi, pake drama segala -_-” kata Temo.

Iya, orang itu adalah Temo dan kejadian tadi cuma teatrikal gua sama Bolot. Kode supaya Temo beli aer sama rokok di minimarket. Begini brader, dalam kondisi seperti itu (hujan dan mager) kita harus punya siasat, terlebih dalam kondisi ganjil, 3 orang. Kita harus punya strategi, bangun koalisi jadi taktik paling mumpuni.

Pada kasus di atas yang paling lemah itu Temo, karena lagi nyetir. Jelas dia ga berdaya dalam menjalin kerja sama selain itu juga dia bertanggung jawab secara moril atas ketersediaan logistik selama di mobil. Gua sama Bolot kan diajak dia buat nemenin belanja. Jadi wajar aja kalo misal kita menuntut ini dan itu. Siapa suruh ngajak kita? Siapa suruh mobilnya ga ada AC? Wek emoticon-Stick Out Tongue

Tapi kejadian tadi ga bisa jadi patokan karena ga menutup kemungkinan besok-besok gua atau Bolot yang jadi korban (atau Temo lagi). Selalu siaga, selalu waspada.

Temo masih speechless sambil geleng-geleng kepala sesekali ngisep rokoknya. Gua dan Bolot ketawa menang, merayakannya dengan menabrakkan botol minuman kami dan mengangkatnya ke udara.

Hal-hal bodoh seperti itulah yang menjadi dinamika pertemanan, yang bikin kangen kalo berjauhan tapi malah “berantem” kalo berdekatan.

Bolot bilang, “yes kita menang” tangannya ngajakin gua toss.
Gua tepuk telapak tangannya sambil bilang “yeah, perjuangan kita ga sia-sia, Lot”
“taek” Temo komentar.
“Bener-bener korban film lu pada” lanjut Temo dengan suara volume 3.
“lah, Mo, yang jadi korban mah elu. Ye, Lot?” balas gua.
“Yoihhhhh. Mo, Mo, tolong Moo. Toooooo.. longggg….” Bolot men-teatrikal-kan kembali situasi tadi.
“HAHAHAHAHA” tawa kembali pecah.
“bwodooo amaaaat” Temo menyudahi sambil menginjak pedal gasnya kuat-kuat.

Wushhhh…. emoticon-Ngacir2

(bersambung)
manteb, cerita seger di gelapnya dunia per eseftehaan emoticon-Ngakak
Gelar tiker dulu gan, numpak ndeprok.. emoticon-Matabelo
Part 3: Tentang Pembukaan
Kamis, 26 Maret 2015
(setelah deklarasi kami berkonsolidasi memikirkan akomodasi)

Tirai dibuka dan memancarkan sinar mentari masuk ke relung-relung sanubari. Mengingatkan ku pada suatu janji tentang hari ini. Janji di mana akan adanya suatu pertemuan untuk mencari solusi demi memudahkan akomodasi. Perjalanan tentang kami. Perjalanan tentang mengenal diri sendiri.

Maaf-maaf, gua pake template kodian. Konon katanya pembukaan tulisan seperti di atas adalah formula sempurna untuk penulis (biasanya novel) agar karyanya berakhir di tempat sampah penerbit atau kalo penggunaan kata tempat sampah sebagai keterangan tempat terlalu kasar, gua ganti analoginya menjadi trik terbaik supaya pembaca tidak membuka halaman berikutnya. Jauh lebih halus sepertinya.

Gua bukan berasa expert tapi bukan juga dari analisa sotoy. Pertama, gua secara sadar mengakui bahwa masih banyak banget kekurangan dalam menulis dari mulai tanda baca sampe penggunaan kata yang masih boros (dan masih banyak lagi, lagi, dan lagi). Kedua, ini bukan analisa sotoy. Gua pernah baca salah satu artikel di media cetak tentang hal ini, sudah usang dan terlalu mainstream mukadimah seperti itu, katanya. Terlebih di kalimat pertama pada tulisan ini Tirai dibuka dan memancarkan sinar mentari masuk ke relung-relung sanubari. *pfftt

Maka dari itu, ayo kita lebih kreatif tentang pembukaan supaya 10 atau 20 tahun ke depan bisa dipake lagi. emoticon-Hammer (S)
Biasanya kan gitu orang kita suka kangen sama yang dulu-dulu, terjebak dalam romantisme masa lalu. Dulu begini-dulu begitu-dulu begini-dulu begitu, ya itukan dulu. Dulu juga masih ada dinosaurus, bro.

Quote:

Jam 9 pagi sesuai janji kami bertiga mau berkonsolidasi ngebahas tentang akomodasi. Namun janji tinggallah janji karena pada kenyataanya sampe jam 11 pun, kediaman rumah Temo yang sudah diatur sebagai titik temu masih terasa sepi. Baru berdua, padahal janjian cuma bertiga. Dasar orang Indonesia, tepat waktu aja susah banget. Akhirnya baru pada jam 2 siang lengkaplah sudah kami bertiga. emoticon-Shutup (S) emoticon-Mad (S)

“sory-sory, gua telat. Abis nganter nyokap” (IYAK GUA YANG TELAT, IYAK GUA PAKE ALESAN KLASIK) emoticon-No Hope

Padahal biasanya gua variatif dan selektif dalam memilih alesan. Misalnya,
• Rumah gua dikepung zombie,
• Mampir ke pabriknya Willy Wonka, sampe
• Motor gua dislengkat Balotelli. Pokoknya macem-macem lah.

Tapi entah kenapa, siang itu seketika buntu dalam menghasilkan alesan yang bermutu. Alhasil, Bolot dan Temo begitu bernafsu mengadili gua. Emang salah gua, tidak memberikan alasan secara maksimal.
Dengan memasang tampang calon karyawan pengen interview, gua menghampiri mereka.

“emm.. Lot, sehat, Lot? Mo, wei apa kabar? weits, lagi pada ceria nih kayaknya”

Temo buang muka, kemudian gua pungut dan gua pakein kembali.

Bolot pura-pura ga denger (padahal ga usah pura-pura juga dia sering ga denger)

“Mo, rumah lu rada angker nih. Kayak ada suara tapi ga ada wujudnya” Bolot beranalogi.

(dalem hati) suara kan emang ga ada wujudnya, analogi yang aneh.

“iye nih, Lot, kayaknya mesti dicat nih pager gua” Temo dari balik komputer.
“wah bener juga, Mo, soalnya kalo gua nginjek ubin udah berasa rapuh” Bolot tambah parah.
“kan gua bilang apa, kalo kopi ga usah manis-manis, biar janji pejabat aja yang manis” Temo diplomasi.
Bolot semakin absurd tak terkendali “iya gua paham, gua ngerti, kalo terlalu manis kan ga baik buat perserikatan bangsa-bangsa apalagi kalo rokok tinggal 2 batang”
“yaaahh.. parah itu, Lot, mending lu coba berkunjung ke Pasar Grosir Cililitan, siapa tau ada aer es ready stock di sana” Temo sambil mengangkat teko yang udah kosong.

Di meja terhampar pemandangan botol fanta 1 liter dengan isinya tinggal seperdelapan, chitato 2 bungkus yang gua yakin udah tidak berisi, teko kosong, dan 2 gelas kopi item yang tinggal ampasnya. Oiya sama puntung sampoerna mild yang gua taksir sekitar 34 buah. Bolot memandang smartphone sementara Temo masih di balik komputer.

Daripada obrolan semakin absurd dan mendustai nilai-nilai kesussastraan. Gua memilih keluar untuk mengabulkan permintaan terselubung para kampret. Bukannya apa-apa terakhir kali gua denger obrolan mereka yang kayak gitu, IQ gua turun 17 point. emoticon-Hammer2

(bersambung)
Quote:


siap gan, paling berenti kalo udah ada jodoh yang tepat emoticon-Wow

hahaha
Quote:


syit, ane pertama bacanya per-sctv-an.
ah syit membaca pun gua amatir emoticon-No Hope

Quote:


dipersilahkan gan, enjoy the tread emoticon-Imlek
update gan emoticon-Traveller
Part 4: CUT-LICIOUS
(masih di hari dan tanggal yang sama)
Kamis, 26 Maret 2015

Berangkat ke minimarket terdekat untuk mengganti logistik yang sudah habis akibat menunggu gua yang dateng agak telat, ralat: cukup telat, emm.. maksud gua telat banget. Setelah sudah merasa cukup gua kembali untuk menjinakkan duo kampret.

Balik lagi dan ternyata udah ada mba Firda (kakaknya Temo) sama temennya (Cut, mba Cut) lagi gabung sama Temo dan Bolot. Duo kampret lagi konsultasi perihal rencana jalan-jalan kita. Mba Firda lumayan sering jalan-jalan kalo mba Cut lebih sadis lagi doi selain eksplore Indonesia juga udah menjamah mancanegara malah belom lama ini dia abis dari eropa. Jelas, duo kampret tidak salah pilih narasumber. Baru sebentar gua nimbrung, mba Firda dan mba Cut cabut. Bukan karena gua mengacaukan pembicaraan tapi emang mereka lagi ada urusan. Entar malem aja dilanjut lagi, boi, katanya.

Setelah mba Firda dan mba Cut pergi, kami baru memulai diskusi. Suasananya lebih manusiawi, aman terkendali. Mereka udah jauh lebih anteng dibanding pertama gua dateng.

Bolot mem-presentasi-kan apa-apa yang udah dia dapet sama Temo selama gua belom tiba. Mereka berdua sudah bergerilya mencari tiket dan akomodasi terbaik, maksudnya: semurah-murahnya. Dari mulai tiket kereta sampai jasa rental mobil selama di Bali. Berbekal info dari gugel dan menyesuaikan dengan budget, terpilih lah cara terbaik travelling yang gereget. Secara resmi kami menggunakan metode backpacker dan mengharamkan kemewahan. Bukan karena anti kemapanan, ini murni masalah keuangan.

Tiket kereta yang ekonomi, nginep di kosan temen selama di Jogja (karena juga cuma semalem), di Bali kita nyewa mobil untuk transportasi kesana kesini, dan karena sudah nyewa mobil kami menghapus daftar penginapan selama di Bali. Kami berencana tidur di mobil dan mandi di pom bensin (di kamar mandi pom bensin bukan di pom-nya). Pertimbangannya jelas biar lebih irit, lagipula laki semua ini. Gereget, bukan? emoticon-Cool

Sedikit demi sedikit rencana mulai tersusun. Sudah begitu serius bahkan rasanya agak sulit untuk melangkah mundur. Berangkat dari situ gua inisiatif untuk menanyakan bisa tidaknya ikut ke Tenglenk. Karena waktu rencana ini masih sebatas wacana ada si Tenglenk juga di dalamnya. Gua tanyakan via telpon ternyata dia masih belum bisa memastikan, posisi dia lagi diluar kota urusan pekerjaan. Gua sedikit mendesak masalahnya waktu sudah semakin dekat.

“gini aja deh, nanti malem gua kabarin lagi bisa apa enggaknya” kata tenglenk.
“okeh. Ditunggu, Lenk”

Melanjutkan kembali ke perbincangan, duo kampret asik ngobrol sambil memakan cemilan. Tapi sebenernya essensi pembicaraan sudah selesai, untuk Lombok sifatnya masih disesuaikan kita akan memutuskan di perjalanan (tergantung mood, stamina, dan sisa uang). Selebihnya cuma obrolan-obrolan sampah yang diwarnai khayalan.

Kayak misal Bolot bilang begini, nanti pas di Jogja gua pengen nyamar jadi tukang getuk terus menabrakan diri ke cewe dengan sengaja kemudian kenalan, musuhan, pacaran, dan jadian. Korban FTV.
Kalo Temo, pengen kenalan sama cewe bule di Bali terus check-in di hotel melati. Korban film, blue film.
Kalo gua, berkhayal pas di kereta ditepuk pundak sama cewe cantik dari belakang kemudian diajak ke toilet dan “menyerahkan” semuanya. Itu korban juga. Korban hipnotis. Eh gendam ya namanya? Ya gitu lah pokoknya, ga penting.

Gua membuka percakapan kembali “ga berasa yak udah jam 8 aja. padahal kita ngobrol dari jam 9 pagi”
“JAM 2, NYET” Temo membantah cepat.
Bolot udah siap menerkam.
“iya..iya” gua menunduk.
“yaudah lah ya, mau cabut nih gua mau….” Belum selesai gua bicara udah dipotong Temo.
“anter nyokap? Apa jemput nyokap? Hah?”
“enggak..enggak, iya ga jadi. Masih betah gua dimari”
Bolot duduk kembali.

Suara pintu gerbang terbuka, mba Firda dan mba Cut ternyata.

“wei, boi, masih belom pulang lu pada” mba Firda menyapa.
“iya mbaFir, tadinya udah mau pulang tapi..” lagi-lagi belom tuntas gua bicara, gua di intervensi dengan tatapan ala manusia harimau dari duo kampret, gua ga jadi melanjutkan.
“tapi ape?” mba Cut nanya.
“enggak.. enggak.. enggak jadi mbaCut” gua cengengesan.
“eiya, jadi gimana itu rencana liburan lu pada?” mba Firda pengen tau.

Dibuka dari Bolot menjelaskan, nektok ke mbaCut kemudian gua dan Temo menambahkan, mba Firda masih sebatas mendengarkan, kami tuker cerita sambil haha hihi. Setelah berbagi cerita dan saran kayaknya kita berbeda pandangan tentang arti liburan. Menurut gua mereka ga punya jiwa petualang apalagi mbaCut, cemen banget dya. Hampir tiap liburannya selalu dekat dengan kemegahan atau bahasa sederhananya: mereka punya kekuatan uang yang lebih dari cukup dalam mengarungi liburan sementara kami tidak. Yang bisa diartikan juga seperti ini: mereka KAYA, kami tidak maksudnya BELUM. emoticon-Malu (S)

Walaupun agak ga nyambung obrolannya, gua tetep seneng aja ngedenger mereka ngomong. Mba Firda orangnya asik, mba Cut cantik. Jadi setiap mba Cut ngomong gua perhatiin bener-bener (wajahnya). Begitu juga pas giliran mba Firda, gua dengerin dengan seksama, tatapan gua masih buat mba Cut. Nah... pas duo kampret komentar, gua ga dengerin, bodo amat, tapi tetep pandangan gua masih ke arah yang sama. Pokoknya aku padamu mba Cut. *Ttd ketua Cut-licious chapter Margonda

Tanpa terasa udah jam 10 malem. Mungkin akibat keasikan karena saling memandang (memandang doank woiii, BUKAN SALING) emoticon-Malu (S)
gua ga sadar ternyata Tenglenk udah ngabarin via whatsapp. Ga bisa kerjaan belum selesai, diundur aja men, katanya. Namun, rencana ini sudah sangat sulit untuk dibendung, udah ga bisa diundur atau bahkan dibatalkan. Momentumnya terlalu bagus untuk diberangus. Jadilah kami bertiga dengan semangat yang tak pernah padam, menyatukan jari terkecil kami melayangkan ke udara dan berjanji untuk menyukseskan perjalanan ini. *mata nanar*

(bersambung)
Up gan ane doain banyak yang view,ama komeng
wow.. agan suka ngetrip nih.. ane jd pgen tw pengalaman agan ttg ngetrip seseru apa... ane pantengin trus deh ni trit... emoticon-Wow
Ijin buka warung sapa tau rame kan mayan
lanjut bray emoticon-Betty

dah seminggu ni mana lanjutannya emoticon-Selamat
Wohooo.. beckbone is back. Yes, i am beck.
Part ini menceritakan dengan singkat aktifitas gua di Bandung (kuliah), misi mengejar ujian sambil nyari tambahan teman untuk backpackeran.

Q: Apa masih ada hubungannya sama cerita backpackeran lu?

A: Iya donk, jelas. Semuanya berkorelasi koq emoticon-Smilie

Part 5: Doktrinisasi
Jumat, 27 maret 2015

Pasar Rebo, jumat tengah malem.

Rutinitas gua setahun terakhir, nunggu bus buat berangkat ke Bandung. Jadi kalo udah ada bus yang berangkat ke Bandung. Udah, gua pulang lagi. Enggak-enggak, gua kuliah kelas karyawan di salah satu sekolah tinggi di Bandung. Gua satu kampus sama Tenglenk. Kalo Temo dan Bolot, kuliah di Riau. Mengenai mekanisme kuliah mereka, cuma mereka, Tuhan, dan kepala tata usaha kampus yang tau.

Ada beberapa kaka kelas dan adek kelas waktu jaman SMK yang sekarang seangkatan sama gua. Biasanya kita berangkat bareng dari Pasar Rebo ber-7 laki semua. Gua, Diba, Tole, Indra, Gugum, dan Imam. Tenglenk ga masuk, lagi di luar kota. Gua ingetin ya, meskipun kami ber 7 kami bukan boyband. Sekali lagi BUKAN.
Kami girlband. emoticon-Betty (S)

TIDAAAAKKK!!!
Astaghfirullahh emoticon-Hammer (S)

Perjalanan ke Bandung makan waktu, kalo makan tempat Adiba namanya. Diba itu temen kampus gua yang punya ukuran tubuh di luar dari manusia kebanyakan. Porsi makannya Diba untuk 1 pekan itu mampu membuat gua bertahan selama 3 bulan.

Sedikit gambaran tentang dirinya,
Diba itu kalo lewat anak SMP suka diberhentiin, sambil bilang “bang bm bang ampe depan”. Itu antara anak SMP-nya yang kurang ajar atau Diba nya yang menyerupai. Ya pokoknya begitulah kurang lebih gambarannya. Meski begitu dia adalah kaka kelas gua di SMK (yang disegani), sebenernya tentang anak SMP tadi cuma jokes kita-kita aja. Karena ga mungkin berani anak SMP kayak gitu, paling anak STM. *Lah sama aja -_-

Nah balik lagi, perjalanannya itu kurang lebih 4 jam buat sampe kosan (Iya, kami ngekost di sana dan hanya ditempati 2 hari dalam seminggu).
Pertama dari pasar rebo kita harus naek bus (primajasa) posisi duduk (biasanya) kami ngincer di area merokok, kurang lebih 3 jam di bus kemudian turun di Cileunyi, setelah itu lanjut nyarter angkot selama 1 jam menuju kosan tapi dengan catetan personelnya lengkap semua, 7 orang. Karena itu adalah minimum kuota yang ditetapkan oleh abang angkot terhadap kami. Kurang dari itu dia ga mau, benar-benar abang angkot yang berintegritas. Kalo personel kita kurang dari standard terendah yang diberlakukan angkot driver, terpaksa setelah turun dari bus kita nyambung ke angkot (tanpa nyarter) lalu dilanjut moda transportasi ojek menuju kosan.

Biasanya 4 jam di perjalanan kita habiskan dengan membahas mata kuliah minggu kemarin sambil mengoreksi tugas yang akan kita kumpulkan minggu ini. (Harapannya) emoticon-Cool

(Kenyataannya) obrolan ga jauh dari get rich, selangkangan, sampai menentukan jam berapa war coc. emoticon-Tai
Meski kadang juga ngebahas tentang kebijakan pemerintah dan obrolan-obrolan berkaitan pekerjaan.

Di dalem bus lampu mulai dimatikan, gua, Diba, Tole, masih terjaga. Anak-anak yang lain tidur, penumpang yang lain ga tau, enggak merhatiin. Kita bertiga belom ngantuk, mencoba ngobrol untuk membunuh suntuk.

Di tengah obrolan bareng Diba dan Tole, gua iseng ngajak mereka backpackeran bareng.
(mereka berdua mengenal Bolot dan Temo)
Tole realistis, dia jawab enggak bisa karena prosedur ngambil cuti di tempatnya emang sulit, terlebih 3 hari lagi kita berangkat. Diba cukup antusias tapi kebentur juga masalah cuti, apalagi dia statusnya masih anak baru di sana. Dia baru 2 bulan jalan di tempat yang sekarang, malah lebih rumit lagi karena belom dapet jatah cuti. Mau ijin sama senior enggak enak masih baru. Saking barunya Diba, dia itu masih diplastikin emoticon-Stick Out Tongue

Diba bilang gini:
”untuk sementara gua ga bisa ikut, tapi pengen. Enggak deh, tapi.. enggak-enggak, gua enggak ikut. Tapi pengen si, Bali ya? Lombok ya? Em.. enggak deh, ga bisa gua kalo deket-deket ini. Belom dapet cuti. Lagian insya Allah 6 bulan lagi gua mau ke Lombok, nanjak ke Rinjani.” (Tapi ngernyitkan dahi)
*Diba hening sejenak*

Gua? Gua cengegesan. Tole juga.
Lagi cekikikan liat mukanya yang bingung tiba-tiba Diba mengejutkan gua. Tanpa disangka tanpa diduga.
Sebuah pertanyaan terlontar polos dari mulutnya.
Adiba: “apa gua resign aja yak?”

Pertanyaan tadi betul-betul mengagetkan kami. Yang tadinya cengengesan, seketika membungkam keadaan. Kemudian ada hening yang cukup panjang, 2 detik. Eh enggak deng, 4 detik. Abis itu ngakak luar biasa. Diba di bibir doang kagak tapi mukanya galau, sekarang malah nekat mau resign segala. -__-

Fyi: Sekali lagi gua kasih tau. Diba itu kaka kelas gua jaman SMK dan dia termasuk kaka kelas yang cukup disegani di jamannya, makanya pas ngeliat komuk dia yang lagi bingung. Gua ketawa terus. KOCAG emoticon-Big Grin

Setelah menghela nafas gua jawab, “jangan, Ba, kalo sampe resign mah jatohnya maksa. Allah ga suka sesuatu yang dipaksakan. Apalagi beda keyakinan: dya suka bengbeng dingin lu kaga, ribetlah pokoknya.
*kalimat terakhir abaikan*
“Bener, Ba, kalo sampe resign mah sayang. Masa gara-gara liburan lu jadi pengangguran” Tole nimpalin.

Akhirnya malam itu Diba memutuskan untuk tidak ikut ngetrip bareng gua, dengan muka galau kayak abis putus ditinggal nikah pacar. Udah gitu nikahnya sama bokap kita sendiri lagi. Anjir perih emoticon-Berduka (S)

“Jadi pusing gua, udah ah mau tidur aja” Diba menyelesaikan.
“jangan pusing-pusing, Ba, nanti jadi barbie. Jadi barbie ga enak, Ba, ga punya puting” Kata gua
“auk ahhhhh.” Jawab Diba ogah-ogahan.

Sebelum Diba tidur, gua mau doktrin dia biar kebawa mimpi.

“Ba, sini deh gua bisikin”
“apaan?” Diba nahan ngantuk.
“dalam hitungan ketiga, lu bakal keinget terus sama ajakan gua. 1..2..tii..” belom selesai udah diselak.
“taekkkk….” setengah tereak, sambil Diba pindah tempat duduk.
“gaa”

Gua sama Tole cekakakan ngebuat penumpang lain ke bangun. Padahal penumpangnya beda bus. *Lah

Sampe kosan jam 04:02 dini hari sementara masuk kuliah jam 08:00 pagi. Butuh perhitungan algoritma dan kalkulus tingkat dewa buat nentuin tidur atau begadang. Kalo tidur takut kebablasan, kalo begadang takut ga ada artinya, nanti dimarahin Rhoma Irama. Gua harus bersikap.
Okeh, akhirnya gua putuskan untuk…….. googling.
Gua searching: Be-ga-dang

begadang/be•ga•dang/ v berjaga tidak tidur sampai larut malam: semalam dia -- sehingga pagi ini ia mengantuk (KBBI versi online)

Ternyata BEGADANG itu ADA ARTINYA, bro. Gua ga harus takut lagi akan propaganda pak haji. Gua punya bukti valid dan terpercaya tentang arti dari begadang, kalo pak haji ga suka silakan ajukan permohonan ke MK atau bisa menempuh jalur pra peradilan kalo sudah ditetapkan jadi tersangka. *calling lawyer*

Setelah mantap akan keputusan gua buat begadang, menyeduh kopi sachetan merupakan salah satu cara buat menghidupkan kembali momentum begadang sekaligus merayakan kemenangan atas keberhasilan mematahkan doktrinisasi pak haji yang sudah tertanam puluhan tahun di benak gua dan masyarakat Indonesia. Enggak sabar buat nyeritain ke ayah dan mama sesampainya balik dari Bandung. Mereka pasti bangga sama gua.
*duduk sila*
*muka kemenangan*
*pedemeter 18000 persen*
Sambil bergumam dalam hati, gua pasti satu dari sepuluh pemuda yang bung Karno cari. Indonesia pasti membutuhkan gua. Pasti. Pastiiiiii…. emoticon-Metal

Gua mengelilingi kamar kost, gua liatin satu-satu wajah pemuda tidak diharap bangsa ini. Sambil mencibir dalam hati, gini hari tidur gimana Indonesia bisa maju? Gimana mau bersaing dengan masyarakat ekonomi ASEAN? Gimana Indonesia mau jadi macan asia? Kalau pemudanya kayak begini. Dasar pemalas. Hih-

Sampe akhirnya adzan shubuh mengingatkan gua, bahwa… UDAH JAM SEGINIII!!!
langsung gua bergegas ke masjid (ralat: kasur) mencari posisi yang ideal buat merebahkan diri. Sebelum tidur, gua sedikit berkontemplasi. Ngapain juga yak gua pake begadang? kenapa gua ga langsung tidur? ngapain juga gua berasa menang ngelawan Rhoma Irama? beradu argumen dengan diri sendiri tentang Indonesia hari ini.

NGAPAIN, BRO?? suara dari gelas kopi yang gua seduh tadi, yang belum gua icip barang se-sruput.
Kemudian ada senyuman sarkastik dari jam dinding, sambil bilang: (((JAM 5))) (((JAM 5)))) (((JAM 5)))
Disambut riuh tawa dari seisi barang di kosan, dari lemari, engsel pintu, kaos kaki, kaleng pomade, biore cair, sampai semut merah yang berbaris di dinding.

Sebelum ada pertanyaan-sedang apa di sana-nya semut merah. Gua ambil handphone sebagai salah satu obat mati gaya abad 21. Ke menu musik -> klik playlist, kemudian Endah And Rhesa mengalun syahdu sebagai pengantar bubu. Atur volume seperlunya dan kangen kamu sepenuhnya.

Ch3l4madH buBu qAqa. emoticon-Wowcantik emoticon-Moon
(bersambung)
Quote:


yoi gan, terima kasiong doanya emoticon-Toast
×