alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Budaya /
Tanpa Kebudayaan Tidak Akan Ada Peradaban, Anak Muda Tulang Punggung Kebudayaan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/570b77d31ee5df42628b456a/tanpa-kebudayaan-tidak-akan-ada-peradaban-anak-muda-tulang-punggung-kebudayaan

Tanpa Kebudayaan Tidak Akan Ada Peradaban, Anak Muda Tulang Punggung Kebudayaan

Regenerasi “Bathoro Katong” Menuju Reog Ponorogo yang Mendunia
Suara musik yang dimainkan ‘pengrawit’ terdengar kompak. Alat musik kendang, tipung, kempul, kenong, angklung, dan sompret saling beradu satu sama lain. Musiknya yang khas seperti memanggil orang-orang di luar sana untuk datang.

“Ini masih pemanasan. Acara puncaknya belum dimulai,” ujar seorang pria yang memainkan alat musik kempul.

Karuan, hanya berselang beberapa menit, rumah megah beralamatkan Rungkut Asri no. 2, Surabaya, itu mendadak ramai penonton. Orang kampung langsung menyerbu. Dari jauh sana, orang-orang juga datang. Tampaknya acara kesenian tradisional yang digelar sudah menjadi langganan masyarat setempat.

Rumah itu memang cukup besar. Para pengrawit tampil di halaman yang cukup luas. Sementara jika kita masuk ke dalam, nyaris ruang tamunya dipenuhi bangunan kayu jati sebagai penopangnya.

Yah, rumah itu selama ini dikenal sebagai Padepokan Bathoro Katong. Ada yang bilang itu Sanggar Bathoro Katong. “Itu sanggarnya para pelaku seni Reog Ponorogo,” cetus seorang penonton.

Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa campur aduk meramaikan pagelaran warisan leluhur pada Minggu, 10 April 2016.

Baik pemain maupun penonton tampak antusias. Kesenian ini sampai kapanpun selalu mendapat tempat di hati banyak orang. Maklum, Reog Ponorogo memiliki ciri khas yang sangat unik.

Spoiler for foto:



Ratih Anggraini Dewantoro, pelaku seni reog asal Ponorogo mengatakan, keunikan reog bisa dilihat dari setiap penampilan pemainnya.

“Para pemainnya beragam. Ada warok, jathil, ganongan, klono sewandono, dan dadak merak yang menjadi ciri khas reog,” kata Ratih kepada Siagaindonesia.com.

Yang menjadi unik di kesenian ini, lanjut Ratih, setiap pemain memiliki uniform atau atribut yang berbeda-beda. Sebut saja warok, untuk tampil dia harus mengenakan celana kombor, jarik, stagen, kolor, wok (kumis buatan) dan penadon. Untuk pemain jathil atribut yang kenakan cukup banyak, seperti celana, jarik, stagen, sampur, sabuk, boro, binggel, baju, sempyok, udeng, eblek (kuda). Lalu ada ganongan, pakaian yang dikenakan antara lain rompi, celana, sampur, binggel, sabuk dan topeng. Untuk pemain klono sewandono atribut yang dikenakan meliputi celana, jarik, uncal, sabuk, sampur, cakep, klat beho, kace, topeng, boro. Sementara untuk pembarong atau dadak merak, pemainnya mengenakan celana gembyong, kain mori, dan embong.

Dari banyaknya atribut Reog Ponorogo, wajar jika kesenian ini dibilang unik. Apalagi untuk setiap pagelaran yang ditampilkan selalu melibatkan banyak orang. “Kesenian ini (reog) bukan lah pertunjukan atau hiburan yang instan, tapi sudah menjadi tradisi leluhur yang turun temurun. Saya bersama generasi muda di Ponorogo mulai giat mengenalkan kesenian ini. Dan saya melihat di sini (Padepokan Batharo Katong) pelestarian reog sudah jalan,” terang Ratih.


Spoiler for Pembinaan kesenian reog sejak dini dapat meningkatkan pengembangan karakter pada anak. Seorang anak mengenakan atribut Reog Ponorogo.:


Dan ketika hari makin siang, pagelaran kesenian Reog Ponorogo dimulai. Beberapa orang bertubuh gempal dan berperawakan sangar mulai menari. Mereka inilah para warok. Dengan diiringi musik, warok-warok itu menari dengan ciri khasnya. Selanjutnya acara dimulai dengan penampilan jathilan. Beberapa wanita berpenampilan cantik berbaris rapi dan menari dengan mengenakan kuda. Berikutnya sang pembarong masuk. Dadak merak yang dikombinasi dengan singobarong mulai dikibas-kibaskan. Dua dadak menari dengan cukup cekatan. Mereka berguling-guling, lalu meliuk-liuk. Penonton pun bersorak.

Pagelaran berikutnya yang disuguhkan Sanggar Bathoro Katong adalah ganongan dan kelono sewandono. Yang menarik, para pemainnya adalah anak-anak. Mereka cukup lihai menari dan bersalto dengan mengenakan topeng. Ada seorang bocah kira-kira berusia 4 tahun sudah mahir memainkan Ganongan. Tepuk tangan pun membahana. Penonton berjubel. Pagelaran makin meriah.

Tidak bisa dipungkiri, kesenian reog kini sudah merambah generasi muda. Dalam menghadapi jaman modern dan kemajuan teknologi yang cukup pesat, memang tingkat kesadaran masyarakat Indonesia soal kebudayaan sangat rendah. Kendati demikian, kesenian Reog Ponorogo boleh dibilang cukup berhasil mengambil hati anak muda. Reog, kini diminati masyarakat. Karena itu para pegiat seni sekaligus pelestari Reog Ponorogo sangat getol untuk mempromosikan kesenian tersebut.

“Kita sering kali mengabaikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Sebagai generasi muda kita harus tetap mempertahankan kebudayaan yang menjadi warisan nenek moyang. Negara akan mati tanpa kebudayaan. Tanpa kebudayaan tidak akan ada peradaban. Sebab kebudayaan merupakan identitas bangsa,” demikian disampaikan Sugiri Heru Sangoko, Ketua Persatuan Reog Ponorogo Indonesia (PRPI) Jawa Timur.


Spoiler for Mbah Heru memperkenalkan kesenian Reog Ponorogo sejak dini pada anaknya.:


Pria yang akrab disapa Mbah Heru tersebut mengatakan, seni Reog Ponorogo harus bisa regenerasi. “Seni itu diwariskan. Dan sekarang tugas kita untuk mewariskan ke anak cucu. Kalau bukan sekarang kapan lagi,” katanya.

Untuk melalui proses regenerasi diakui Mbah Heru tidak mudah. Pertama dibutuhkan peran semua orang yang terlibat di kesenian tersebut, seperti pelaku atau pemain, pengrajin dan pelestari. Kedua, peran pemerintah untuk mendukung Reog Ponorogo sebagai warisan bangsa haruslah nyata.

Menurut Mbah Heru, saat ini pemerintah sudah melakukan perannya, sayangnya belum maksimal. “Bantuan pemerintah sangat kami harapkan. Cuma kalau dibilang maksimal, saat ini belum. Saya kira pemerintah belum serius untuk ikut melestarikan kesenian tradisional,” ujar pemilik Sanggar/Padepokan Bathoro Katong ini.

Harapan Mbah Heru agar pemerintah memperhatikan kesenian Reog Ponorogo yang kini tersebar tidak hanya di Indonesia tapi juga manca. Apalagi saat ini, sebut Mbah Heru, para generasi muda mulai tertarik mempelajari kesenian reog, semisal menari, memainkan alat musik, memainkan peran warok, hingga menjadi pembarong.

“Jangan salah, anak-anak jaman sekarang sudah akrab dengan reog. Tugas kita hanya mengarahkan mereka. Sudah saatnya reog bangkit. Pasalnya, generasi muda ini satu-satunya penopang bangkitnya kesenian tradisional,” ucap Mbah Heru bersemangat.

Karena itu Sanggar Bathoro Katong sudah menyiapkan segala macam atribut Reog Ponorogo untuk dipelajari. “Di sini anak-anak bebas berlatih kapanpun. Bahkan setiap minggu kami menyiapkan pelatih yang ahli di bidang reog untuk mengajari mereka. Kami tidak memungut biaya. Justru kami senang anak-anak sudah bersedia datang. Dengan begitu mereka punya minat cukup besar untuk belajar. Harapan kami anak-anak dapat menjadi regenerasi masa depan bagi kesenian Reog Ponorogo. Inilah kepuasan batin kami,” tutur Mbah Heru.

Spoiler for Anak balita pun tertarik dengan Reog Ponorogo.:


sumber : http://www.siagaindonesia.com/121033...-mendunia.html
Urutan Terlama
betul gan cm sekaraang selain anak muda nya kadang orang tua jg langsung sewot kalo anak nya mw terjun ke bidang budaya dengan alasan kamu mau makan apa dan anak dengan cekokan media spt televisi langsung mengamini hal itu
jgn2 generasi ini jg Bakalan di claim malingsia lagi nih kayanya emoticon-Ngakak


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di