alexa-tracking

CAMOUFLAGE

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/570b07be98e31b484c8b4569/camouflage
CAMOUFLAGE
CAMOUFLAGE
tak ada yang pasti tentang akan seperti apa hakikat cinta yang tumbuh dalam diri seseorang

Ini hanya sebuah cerita
Bukan sepenuhnya cinta
Bukan sepenuhnya luka
Bukan sepenuhnya semangat hidup yang menggebu-gebu
Aku tak seperti itu

Ini hanya sebuah cerita
Tentang luka, dusta,cinta, penghianatan, kegetiran, dan kebencianku pada diriku sendiri

Ini hanya sebuah cerita tentang jatuh bangun manusia memaknai cinta, betapa picik dan lemahnya.

Ini hanya sebuah cerita
Saja











*Untuk mereka yang tertakdir membaca dan telah men-DEWASA

Selamat Membaca emoticon-afro



PERCIKAN CERITA
Percik 1
Percik 2
Percik 3
Percik 4
Percik 5
Percik 6
Percik 7
Percik 8

CAMOUFLAGE #2


September 2014

Uluwatu, Bali, 02.00 WITA

[Fiska]

Ombak masih berdebur, memecah karang, juga sunyi. Liukan angin memainkan air semakin tinggi dan memecahkannya seperti sekelompok kelelawar yang berpesta menyambut senja. Batu-batu karang di bawah sana tetap kokoh dalam diam. Fiska merapatkan selimut yang ia lilitkan ke badan. Matanya awas menyaksikan angin yang menggulung lautan air ke dalam satu pusaran sebelum menghempaskan mereka ke pinggir pantai. Seperti kehidupan yang bergejolak lalu tenang.

Ratusan partitur nada Alessandro Scarlatti dalam opera La Rosaura hingga The Humilation of Drupadi, Ananda Sukarlan, tidak mampu membuat kelopak matanya terpejam. Ia pun memutuskan untuk menghabiskan sisa malam di balkon sembari menyaksikan opera paling hidup hasil gubahan tangan keganasan samudera.

CAMOUFLAGE
[Partitur Alessandro Scarlatti]

Aroma laut yang harum. Hempasan gelombang. Adalah kedamaian yang terbaca melalui serangkaian pemindahan data di dalam sistem saraf manusia. Hanya sepinya batu karang yang mampu merasakan betapa menderitanya butir air yang terhempas itu. Dan mungkin juga Fiska. Ia entah mengapa selalu merasa bahwa dirinya tercipta untuk menghayati hal-hal yang nyata namun tersembunyi. Bahwa kegembiraan yang tampak dari luar, bisa saja menyembunyikan induk kegetiran yang beranak-pinak menggerogoti jiwa. Paradoks yang akan selalu mengikuti kehidupan manusia.

Kini, Fiska mendapati kaki-kakinya harus berjalan di dalam paradoks yang sama. Hal paling menjijikkan yang harus ia lakukan. Manusia menangis saat tertawa. Diam saat bicara. Sepi di saat riuh. Berkata bijak di saat hidup hambar. Dipaksa berjalan ketika ingin berhenti.

Menurut ayahnya, dulu sewaktu kecil, ombak adalah gelombang yang berlari menghadang lalu jatuh dan pergi lagi. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah mundur. Lelaki itu mengucapkannya seraya memberikan sebuah buku berisi dongeng klasik Perancis, Si Tudung Merah, yang ia dapatkan setelah berdebat sengit mengenai harga di toko buku.

Bibir Fiska kecil yang selalu menceritakan petualangan SiTudung Merah dengan semangat sepulang dari perpustakaan telah menjadikan energi yang lain tumbuh membesar di sanubari ayahnya. Dengan energi itu, lelaki ringkih tersebut mampu melipat sendi-sendi uang berhari-hari. Untuk kemudian mengantarkan jumlah yang tidak akan pernah cukup ke toko buku. Melalui perdebatan dan mata sayu penuh harapan, dongeng mengenai gadis kecil dan serigala berpindah ke tangannya. Buku itu sekaligus menjadi hadiah ulang tahun untuk pertama dan terakhir kali di kehidupan Fiska. Dari manuskrip klasik yang telah diceritakan ribuan kali, Fiska belajar bahwa ada banyak tokoh jahat di dunia ini. Termasuk Serigala yang memakan Si Tudung Merah dan Neneknya.

Tidak selamanya orang jahat menjadi penjahat. Kata-kata ayahnya kembali dideburkan ke dinding sanubari oleh lengkingan ombak. Betapa ia saat ini merindukan tangan-tangan kasar ayah yang terus membesarkan harapan di saat-saat pelik.

“Wah, gelombang tidak pernah lelah ayah?

“Tidak, tidak pernah. Kamu juga harus jadi manusia yang tidak pernah lelah menuntut ilmu seperti ombak,” ujar ayahnya sembari menatap ombak dengan air laut yang keruh dan berminyak di sekitar pelabuhan.

Waktu itu, mata Fiska mengamati sampul buku bewarna-warni pemberian ayahnya. Sesampai di rumah, ia segera berlari ke sebuah kursi untuk segera melumat riwayat yang terpapar melalui aksara yang begitu menarik perhatian dirinya.

Tapi hari ini aku benar-benar ingin berhenti ayah. Aku tidak ingin seperti ombak yang terhempas berulang kali. Harapan yang kulukis telah lebih daripada sekadar melebur menjadi buih. Labirin-labirin yang panjang dan rumit melingkari jiwanya. Kelam juga luka. Ia terlalu sulit dimasuki.

Fiska kembali menatap laut. Belum pernah ia merasakan kekalahan serupa ini sendirian. Kelindapan yang dalam mencerabut satu persatu akar dari pohon semangat dirinya yang sedari lama kekeringan.

Matanya menatap jauh. Lampu sorot kapal nelayan masih belum menyerah menari di dalam gelombang untuk bertarung atas nama nyawa mereka atau nyawa ikan-ikan.Gelombang yang cukup besar menimbulkan suara nelangsa seperti orang-orang tersesat yang tidak tahu jalan pulang. Seperti musik, air yang terburai dalam gelombang memiliki notasi sendiri untuk menceritakan kehidupan.

Seharusnya Fiska sudah pulang. Seharusnya ia ada di rumah kontrakan ibunya di Jakarta mencari data untuk skripsinya. Akan tetapi, di sinilah ia saat ini. Mengambil jarak untuk menjauh dalam hitungan waktu sebelum memutuskan untuk pulang. Di tempat ini, ia menanak periuk-periuk yang akan memberikan gairah. Yang akan memberinya semangat untuk berjuang seperti nelayan tua di tengah badai yang mengambang tepat dalam pandangan.

Siapa pula yang peduli dengan semua hal seperti ini?

Kesunyian macam apakah ini?

Fiska menarik nafas dalam. Penyiksaan serasa semakin bertubi-tubi. Ia ingin keluar dari sarang kemuakan. Ah, tidak, ia sedang ingin berada dekat dengan akhir kehidupan. Pikirannya semakin kacau.

Fiska menatap langit-langit balkon penginapan yang ia sewa dua hari.

Kekalahan adalah seringai yang luput. Harusnya diriku lebih tegar dari badai manapun seperti kata ayah.

Ia benar-benar tidak percaya bahwa empat belas tahun masih tidak cukup untuk membuat seorang pria mencintai dirinya. Pria itulah yang telah mematahkan sayapnya dan kini ia terpaksa menggelepar di tempat ini. Pria itu juga yang menjadikan Fiska merasakan kehausan akan pertolongan ayahnya yang dulu senantiasa datang. Segala sesuatu akan menjadi lebih mudah dengan bantuan ayah. Begitu janji ayahnya dulu.

Hanya seorang Fiska, hanya seorang.

Setiap Fiska ingin menyentuh jiwa lelaki itu, ia melihat perbatasan dingin lebih kaku daripada balok es. Fiska berteriak-teriak merubuhkan dinding pembatas. Yang ia dapati hanyalah tangan yang gigil juga beku. Sanubari lelaki itu seperti bunga kukuh di batu karang. Sesuatu yang dekat tapi tak kunjung tersentuh. Bunga itu tegak mengalirkan air ke dalam kehausan dirinya. Yang mengantarkan dingin kepada panasnya. Fiska ingin menggenggam dan menghirup wangi kelopak bunga di tangannya. Bunga yang tumbuh bersama dirinya bertahun-tahun. Mereka hidup bersama, memunculkan daun-daun hijau di ladang harapan. Sinar mentari terus mengirim kehangatan melalui reaksi fusi berantai hasil hantaman partikel-partikel yang jalang. Mengapa ia masih juga tidak berhasil menyentuh sesuatu yang ia cintai dan kenali. Sesak kembali menjelang.

Bedebah

Aku benci hal serupa ini.
Bagus juga nih emoticon-thumbsup
KASKUS Ads
image-url-apps
Wehh kaya'a bkln seru nih
Nenda dlu
image-url-apps
Seru kayaknya Nih Cerita, Moga Ga Kentang emoticon-Big Grin
Ijin Nampang Di Pejwan Gan emoticon-Big Grin

RED CARPET CANNES FILM FESTIVAL

Perancis, 14 Juni 2000

Cannes Film Festival

[Prapto Sudibyo]

Seorang aktris perempuan sedang terlentang di lantai dengan pose mengangkat sebelah kaki dan menekuk lutut untuk memperlihatkan keindahan tungkai jenjang yang muncul setelah ujung gaun pendek itu mencapai batas akhir. Gaun yang lebih putih setingkat daripada warna kulitnya itu terlihat kontras dengan karpet merah. Ketiga warna tersebut mampu mencipta karya mengenai keindahan lain tubuh perempuan yang terus dipuja sejak keberadaan mereka di dunia. Ia mengangkat leher dan menoleh ke depan. Sementara, kamera wartawan sibuk mengabadikannya, aktris Rusia yang berhasil mendapatkan undangan dari ajang tua dan bergengsi bagi perfilman di Eropa, Cannes Film Festival. Semua orang pasti akan memberikan mahakarya mereka di ajang perfilman yang telah memulai debut penghargaan film sejak tahun 1946.

Perempuan itu cantik, matanya bulat sipit, agak memanjang di ujung. Mungkin hasil darah campuran. Tubuhnya sintal dan menggairahkan. Kulitnya masuk ke dalam daftar yang disebut para ahli kecantikan berada di level pertama urutan warna kulit, sebutan umum yang diberikan ahli kulit adalah porselin. Aktris kenamaan Hollywood seperti Amanda Seyfried dan Emma Stonejuga memiliki nada kulit yang sama.

Rumah kosmetik besar paling tidak memiliki lima tipe warna kulit mulai dari putih terang, kuning langsat, cokelat, cokelat tua, dan hitam. Para ahli mereka selanjutnya meluncurkan berjenis produk dengan berbagai kriteria kulit yang mereka kelompokkan sendiri. Kelak hasil kelihaian tangan ahli itu dipersiapkan untuk bertempur di ajang-ajang mewah sebesar Cannes Film Festival di Perancis atau Sundance Film Festival di Amerika.

Para artis akan membawa satu merek ternama lalu menceritakan kepada wartawan mengenai efek benda ajaib buatan pakar terhadap tubuh mereka. Tujuannya hanya satu: untuk membius rasa lapar manusia terhadap kecantikan. Para gadis di berbagai belahan dunia yang mulai peduli dengan perawatan tubuh dipastikan akan rela menyisihkan uang untuk bertahan bersama produk-produk yang menjanjikan kemolekan itu.

Cannes Film Festival bukan hanya perang antarfilm dan negara. Cannes adalah tempat harapan dan keputusaasan berpadu menjadi satu di meja putih megah. Tempat yang siap membuang mereka ke titik terbawah jika salah mengambil langkah. Artis besar sekalipun akan berubah menjadi sampah hanya karena masalah kecil, tetapi logis, seperti memilih peran yang tidak tepat. Para kritikus telah disiapkan untuk mengubur mereka yang jatuh ke dalam jurang agar sampai di titik terdalam. Selanjutnya, mereka yang terbuang dengan susah payah merangkak kembali sementara rumah produksi lain telah menerbitkan bintang-bintang baru yang segar dan tidak membosankan. Tidak jarang kegagalan membawa sang bintang menuju tiang bunuh diri. Di ajang ini, harapan dan keputusasaan saling mengancam dengan taringnya masing-masing.



Perempuan berambut blonde itu bermata Jepang dan pipi cantik khas Rusia. Seksi, liar, juga sempurna. Ia digadang-gadang berhasil membawa film dari sebuah rumah produksi kecil Rusia ke karpet merah melalui film satir masyarakat modern di negara yang lebih sering dikunjungi bulir-bulir es daripada sinar matahari. Aku akui, ide produsernya sangat tepat dengan momen perfilman saat ini. Sutradara yang cerdas dan momentum adalah dua hal yang mampu mengguncang dunia, tidak peduli mereka berasal dari rumah produksi mana dan siapa artis yang dibawa. Bagi sutradara, artis adalah sarana, serupa barang yang datang dan pergi. Yang akan diperebutkan berbagai rumah produksi ketika nama mereka melejit. Seperti angin, tak ada yang benar-benar loyal di dunia ini.

Aku menegak segelas wine dan tersenyum. Wangi anggur khas Eropa yang menenangkan. Bartender yang kutemui di Bar Blouinartin mengatakan bahwa anggur Prancis adalah anggur terbaik yang diolah secara klasik oleh petani berpengalaman dan didiamkan di dalam tong-tong yang terbuat dari kayu pohon ek selama bertahun-tahun. Sebuah perlakuan yang eksotis nan indah dalam pembuatan minuman. Sejenak kemudian, perasaan berdebar mengenai film yang akan menjadi pemenang muncul. Jantungku mulai tidak karuan. Siapa sangka film dokumenter tengik yang aku rekam di Jakarta dan iseng kuunggah lewat internet terpilih sebagai nominasi. Ini surga. Sungguh. Bagi sutradara sepertiku, yang tidak memiliki rumah produksi, tidak memiliki asisten, diabaikan nasib, tertawa bersama kartu gaple, biduan dangdut amatiran--sejujurnya keningnya sudah sedikit mengeriput, tetapi bokong dan ukuran payudaranya masih menarik perhatian pemain gaple di pertigaan gang--dan bir oplosan. Aku tersenyum memandang wine terbaik di tanganku. Sedetik kemudian, gelas itu sudah kosong.


CAMOUFLAGE
[Ikon Cannes Film Festival]

CAMOUFLAGE
[Kemegahan panggung Cannes Film Festival]

TARIAN PELUANG

Aku pernah membaca sebuah artikel di koran lokal di Jakarta mengenai seorang pemuda desa yang berhasil memajukan ekonomi sebuah kota. Hari ini, sebentar lagi, aku akan menjadi berita di hampir semua koran termasuk koran dunia. Sehelai undangan ajaib dari panitia Cannes Film Festival mampu mengubah segalanya. Aku akan dicatat para wartawan sebagai insan film berbakat, apalagi ditambah dengan latar belakangku yang mencengagkan. Prapto Sudibyo, pria paruh baya yang biasa menggelandang, kini berdiri tepat 2 meter di sebelah pemain film dunia. Aku masih tidak percaya.

Untuk struktur kota, sejujurnya aku lebih mencintai Italia daripada Prancis. Bahasa Italia yang berirama berlomba-lomba mengarungi dinding tinggi nan kokoh. Gadis-gadis putih dan cokelat eksotis menghiasi jalanan di antara tarian burung-burung merpati. Bangunan-bangunan tua—meskipun banyak membuat turis Indonesia kecewa karena tidak ada apa-apa di sana—amat menarik di mataku. Mereka dibiarkan berbicara apa adanya. Kokoh sekaligus rapuh. Keindahan Fontana della Barcaccia, air mancur di dalam perahu yang terletak di tengah kolam, menyatu bersama dua bangunan yang tegak menjulang. Di Italia, aku menemukan sisi lain yang dapat dibaca lebih dalam.

Tapi, untuk sebuah ajang sekaliber Cannes Film Festival, tidak ada salahnya ikut merayakan lenggak-lenggok jubah kemewahan yang tersembunyi di balik ambisi-ambisi terselubung. Cannes berdiri tegak di tengah kedigdayaan. Ia adalah sang Pembajak yang pulang dengan sebongkah emas.

Siapa sangka ajang film yang kini hampir pernah menyeleksi seluruh film dari belahan dunia, termasuk film pendek, dulu pernah terancam ditutup akibat kekurangan biaya selama lebih dari dua tahun. Kini, Cannes bisa dengan pongah memamerkan gelimangan Euro miliknya. Aku harus berterima kasih kepada Jean Zay yang membuka karpet pertama Cannes tahun 1930.

Karpet merah, gadis-gadis Prancis, para artis, tentu saja. Satu lagi, sekelompok perempuan yang kaku. Mereka adalah kaum marginal yang terpinggirkan. Merajuk-rajuk masuk ke acara sebesar Cannes melalui agen-agen film murahan. Tujuan akhir para gadis itu tidak lain untuk menaklukkan pemilik agen yang lebih besar. Di Cannes, harga diri dipertaruhkan. Popularitas adalah sasaran.

Sepasang kekasih atau hanya kekasih berdasarkan kepentingan sedang bermesraan di sebuah pojok. Setiap sisi harus mampu dimainkan dengan apik. Kamera akan mengabadikan ciuman mereka malam ini dalam sebuah rubrik bertema skandal. Tentu saja hanya akan dijadikan pancingan untuk menarik media ke karya terbaru mereka.

Sekelompok sutradara muda, sepertinya asal Asia, terlihat sumringah karena mendapat kesempatan besar belajar selama festival film berlangsung. Tentu saja, bagi mereka, undangan dari Cannes adalah penghormatan terhadap bakat yang akhirnya singgah di tempat seharusnya. Pemuda itu tampak sedikit gugup ketika berbicara dengan sutradara kenamaan, Christopher Nolan. Mereka juga menyampaikan harapan mengenai perfilman di negara kelahiran melalui pers asal negara mereka yang telah melalui perjuangan pelik untuk mendapatkan izin meliput berita di sini.

“Hi, Wellberg!” Aku mengangkat tangan.

Ia tersenyum padaku.

SCENE 1

Ia tersenyum padaku. Pria tinggi jangkung bermuka lebar itu mendekat. Wangi parfum khasnya menyeruak dari sela-sela kemeja putih lengan panjang yang dihias dengan luaran tanpa lengan.

“Finnaly, we got the invitation!” Wellberg menuju kursi para undangan. Di luar, suara wartawan dan jepretan kamera menangkap satu per satu bulu-bulu merak yang ditawarkan para artis.

Aku menarik napas sumringah. Tidak percuma film dokumenter yang awalnya kubuat dengan perekam pas-pasan mampu bertarung di Perancis. Hal yang paling membanggakan adalah filmku muncul di tengah kritik bahwa ajang film ini nyaris tidak pernah memberi tempat untuk film dokumenter. Sepanjang sejarah perfilman, festival film Cannes hanya dua kali memberi penghargaan untuk film dokumenter. Mungkin, mereka melirik karyaku karena film itu sebenarnya memiliki alur cerita yang logis sehingga sedikit banyak memiliki ciri film pendek. Mungkin. Dalam hal ini, Amerika memang terlihat lebih ramah terhadap film dokumenter melalui ajang bergensi yang terkenal ke seantero dunia, Sundance Film Festival.

Wellberg adalah nama pertama yang membalas emailku mengenai slum area di Jakarta. Pria bertinggi badan 180 sentimeter itu dulu pernah mengunjungi Indonesia. Selain itu, ketertarikannya mengenai Indonesia juga dipicu oleh kecintaan terhadap naskah-naskah klasik Nusantara yang ia temui saat berkuliah di Leiden University, Belanda. Wellberg menyebut tumpukan berasal dari kulit hewan atau hasil olahan serat singkong itu dengan istilah manuskrip.Naskah pudar yang dibaca Wellberg masih menggunakan aksara Arab. Sepertinya, ia jauh lebih tahu sejarah aksara di Indonesia dibandingkan dengan orang Indonesia sendiri.

Wellberg mengambil jurusan seni. Semasa kuliah, ia aktif dalam komunitas yang meluncurkan film-film indie. Satu-satunya hal yang membuatku tidak nyaman bekerja sama dengan Wellberg adalah perasaan kurang srek yang kadang muncul. Perasaan itu datang diam-diam menikam tengkukku dengan pisau keraguan. Namun, hal itu masih bisa aku singkirkan. Pembuktian atas kesetiaan Wellberg paling tidak telah membawa kami bertemu di tanah Eropa.

Dua puluh dua hari kami merekam lalat yang beterbangan di saluran air. Menyorot petak-petak sempit triplek-triplek yang disewa oleh banyak keluarga. Berpacu dengan sinar mentari pagi menuju gang kecil beraroma air seni manusia, kucing, juga tikus.

Kami menyaksikan ibu-ibu di dalam ruang ukuran dua kali dua meter masih tergelepar tak berdaya tanpa kegiatan di depan televisi bersama tetangga mereka. Selepas pagi, para perempuan itu adalah budak cerita picisan tak berkelas. Sesekali, mereka mencari kutu di rambut-rambut yang kusut dan sengak. Pada hari yang mereka nyatakan sebagai hari “kerja”, sekumpulan perempuan itu menjelma menjadi para pengemis, pedagang otak-otak keliling, pemulung, atau pekerja seks murahan.

Ruang yang pengap, beberapa orang antre di depan sebuah kamar mandi. Satu buah rumah yang terletak di ujung dihuni oleh lima keluarga. Dua keluarga di lantai bawah, tiga keluarga di lantai atas. Setiap gerakan akan terdengar di kamar sebelah mereka atau bahkan seluruh kamar. Suara perempuan yang sedang mabuk cinta di satu sudut bisa saja membangunkan anak kecil yang sedang tidur bersama ayah dan ibu. Anak kecil itu pun lalu tenggelam dalam kebingungan yang kelak akan membangun kelainan perilaku ketika mereka dewasa-- jika tidak kunjung mendapat penjelasan. Sementara dunia seakan dicipta untuk memelihara kebingungan. Seorang nenek tua dengan tatapan kosong terjebak di dalam ruang pengap, juga seorang penjaga masjid yang lumpuh di kursi roda.

Pukul empat pagi aku berada di terminal, menunggu para ibu rumah tangga yang turun dari truk-truk ekspedisi untuk mencuci kondom bekas setelah menerima uang sebesar lima ribu rupiah. Merekamnya dalam bentuk potongan-potongan yang suatu saat berubah menjadi film yang anggun, tentu saja setelah berdebat sengit dengan Wellberg yang keras kepala mengenai adegan yang harus dihilangkan dan ditampilkan. Film cantik itu tidak lupa mengabadikan acara pesta kematian khas kawasan kumuh di Jakarta yang menggairahkan.

Kala itu, ibu-ibu bergegas menyambut berita mengenai satu nama yang akan hanya dikenang oleh pengeras suara dari masjid.

“Anak Yudi ketabrak Patas, kepalanya pecah!”

“Ayo buru bantuin masak buat makan orang yang ngelayat di rumah dia.”

JAKARTA'S RAINBOW

“Ha! Kok bisa?” Mira si pedangang legging terperangah.

“Iye, pan ade program ngosongin jalan, eh si Fajar maen bola. Gak taunye tu bola ketendang ke jalan sebelah. Pas dia ambil ada patas lewat. Serem deh, darahnye amit-amit. ”

“Juni, Yumi! Ayo buru.”

Asap mengepul. Makanan siap. Keluarga korban berduka. Sementara ibu-ibu lain sibuk memanggil anak-anak mereka.

“Buruan! Ke rumah almarhum Fajar. Mumpung ibu-ibu udah selese masak. Makan di sana buru. Adek mana adek, ayo bawa.”

Sekelompok bocah yang sedari tadi mengadu ikan cupang segera berlari menyambut tawaran yang tak layak disia-siakan itu.

Rumah duka itu sebuah petakan berukuran 3 x 2 meter. Bau kotoran tikus menyeruak. Mayat terbujur kaku tepat di bawah televisi. Di atas loteng kipas angin berputar-putar mengeluarkan bunyi berdecit. Kabel kipas itu digabung dari beberapa buah kabel lain yang disambung serampangan menggunakan selotip warna hitam. Dua hari yang lalu, kabel itu sempat terpanggang. Untunglah, salah satu tetangga yang tinggal di petakan sebelah mengendus bau kurang sedap.

Mata sang ibu tampak sembab menangisi kepergian anak yang masih terlalu muda. Sementara, anak-anak dan para ibu lain berubah menjadi monster lapar yang merubung makanan seperti semut mengoyak mangsa empuk. Dari sorot mata mereka tak ada duka terselip untuk mayat yang terbujur. Taring-taring mereka menjulur diguyur air ludah. Rasa lapar hari ini terbayar sudah secara cuma-cuma. Tamu-tamu terus datang.

Di sudut dekat tiang, sebuah lidah yang renta kesulitan menelan sayur asem dengan pelan. Ia adalah Kong Soleh yang setia menjadi imam masjid.

“Eh, anu, itu, apenye, batu nisan tadi pake uang siapa?”

“Uang sodaranye, udah dipesen. Abis tiga ratus rebu. Sewa makamnya setahun dua juta.”

“Kesian ye, anaknya masih kecil,” suara seorang perempuan gempal berdecak-decak di antara tumpukan sayur asem yang belum selesai ia kunyah.

Hari ketiga aku meliput Jakarta, keluarga yang anaknya tewas karena kecelakaan sedang terkaget-kaget menghadapi total tagihan yang disodorkan tetangga juga saudara sedarah sebagai akibat kematian anaknya. Tagihan itu meliputi belanja bahan makanan, kain kafan, batu nisan, juga sewa kuburan. Termasuk pula sewa jasa memandikan mayat. Matanya terperangah menatap kekejaman orang-orang yang ia anggap saudara.Bagiku, kisah tersebut adalah fenomena satir yang akan menjadi ide film bagus untuk mengembangkan bisnisku.

Aku tersenyum sinis. Ia pasti tidak menyangka total pengeluaran yang dilakukan tetangga secara serampangan siap menjelma menjadi kekejaman yang lebih menyakitkan daripada kematian sang anak. Sementara itu, mereka juga pasti tahu, tidak semua manusia dapat lari dari budaya. Perut perempuan itu tampak mendorong semiliar rasa mual yang terbaca di garis wajahnya. Budaya adalah terungku yang tak pernah mati mencekik manusia. Konon kabarnya, keluarga itu harus menjual setrika, televisi, juga membuka utang baru untuk mengatasi semuanya.

Kamera amatirku telah mengantar film berjudul Jakarta’s Rainbow untuk mengabadikan pemukiman, demo di Jakarta, pabrik tahu dengan air yang berasal dari kali, warga sekitar pelabuhan, lingkungan padat dan kumuh. Tentu saja, perekaman ini melibatkan beberapa aktor dadakan yang dengan senang hati akan membantu. Semua kulakukan demi memajukan bisnis baruku. Sebuah fenomena parawisata terbaru kaum urban. Berwisata ke kawasan kumuh. Eskapisme unik bagi masyarakat negara maju, semacam pelangganku dari Eropa atau Amerika. Mereka sungguh-sungguh terkagum-kagum menyaksikan hal serupa ini.

Festival film Cannes dimulai. Satu persatu pemenang diumumkan. Tepuk tangan riuh hingga pelukan hangat aktor dan kru film silih berganti. Hatiku tak karuan. Peradaban telah menyumbangkan altar dan kemewahan di Cannes Film Festival. Sejujurnya, aku agak kepanasan menggunakan jas dengan dasi kupu-kupu ini. Sejak peristiwa nahas badai yang menimpa Cannes di tahun 1949, panitia memindahkan perayaan ke musim panas untuk menghindari gangguan cuaca.

Pembawa acara memasuki kategori film dokumenter dan film pendek. Jantungku semakin tidak karuan.

“The winner is Jakarta’s Rainbow.”

Aku melangkah maju di tengah gemuruh penonton. Seluruh kamera mengabadikan tanganku yang tengah memegang piala kebanggaan Cannes, Palme d’Or. Aku tersenyum menatap Wellberg juga piala pohon palem di tangan. Gadis-gadis dari berbagai agen perfilman menatap iri.

Hei, kami lebih berhak mendapatkannya.

Mungkin kata-kata itulah yang menjalari pikiran mereka saat ini. Permata Cannes akhirnya ada dalam genggaman. Nasib baru akan menantiku. Di kepalaku, sedang menyusul adegan untuk film kedua.

PELUANG

“Congratulation! My name is Louis,” seorang pria Prancis menghampiriku setelah aku turun dari panggung. Louis tampak mewah dengan jas hitam yang disambut oleh wajah oval dan mata biru. Pipinya sedikit kemerahan. Tangan-tangan Louis tegap meninggalkan jejak-jejak latihan otot yang teratur. Di pergelangan tangan kiri, sebuah jam Tudor terbaru dengan penanda waktu yang terbuat dari berlian melekat gagah.

Aku mengambil jeda sejenak untuk meredakan demam panggungku.

Louis memperkenalkan dirinya sebagai salah satu utusan sebuah organisasi yang peduli terhadap pengembangan kawasan kumuh di Afrika dan Asia. Perusahaannya pernah mengirim sukarelawan ke distrik tertutup di Cina. Pemerintah Cina menghapus nama tempat yang digunakan untuk isolasi para penderita kusta itu dari peta negara mereka. Tak ada satu pun situs dunia maya yang akan menampilkan lokasi di pedesaan kecil itu. Tentu saja, Louis hanya mengirim dana dan perintah. Sukarelawan dengan mudah ia datangkan dari universitas setempat dan negara tetangga.

“Simple, make the announcement, they will come,” ujar Louis menceritakan bagaimana organisasinya berhasil memasang iklan di beberapa universitas ternama. Mahasiswa yang masih terlalu muda tentu mudah diarahkan untuk segala hal. Dengan sendirinya, mereka akan mendaftarkan diri apalagi tawaran tersebut berselimutkan iming-iming kesempatan ke luar negeri secara gratis. Suatu hal yang langka untuk orang-orang di negara berkembang. Sebagai penghalus, organisasi yang dipimpin Louis juga menawarkan adanya sertifikat yang diakui secara internasional. Tikus bahkan tidak bisa lari dari perangkap rencana pria ini.

Beginilah seharusnya pemerintah menerapkan seni di dalam kemiskinan.

Aku melangkah dengan lima kartu nama baru. Semua nama yang tercantum di kartu nama itu kurang lebih memiliki keinginan seperti Louis. Berniat menggelontorkan sejumlah dana untuk penduduk di kawasan kumuh serta memintaku untuk menjadi koordinator. Aku tersenyum puas. Tentu saja sebagian dana akan turun ke tangan sang koordinator.

Tak selamanya nasib seorang Prapto akan gelap. Prapto, kau menang.

MAHAL

Jakarta, 18 Juni 2000

“Fiska! Bangun!” Guncang ayahnya.

Azan Subuh menggema. Fiska berlari ke luar menuju kamar mandi. Seekor tikus besar melintas. Bau kencing kucing dan sisa limbah di selokan menyengat dari sisi kanan juga kiri. Tangan kecil itu memutar kran. Matanya masih mengantuk. Tapi, ia ingat kata-kata ayah, Tuhan menyukai orang-orang yang bangun pagi dan salat lebih awal.

“Oaaaaahm,” kantuk Fiska. Ia mengangkat kelopak mata sekuat tenaga. Kran terbuka. Air sedikit berminyak keluar membangunkan lantai yang licin. Aliran air segera memenuhi bagian lantai yang terkelupas. Fiska memandang toilet yang ditutup triplek karena mampet. Kemarin, ia masih bisa melihat kotoran manusia di sana. Ia segera mempercepat aktivitasnya.

“Ayah tunggu!”

Sandal jepit ia kenakan serampangan. Fiska berputar melewati gang sempit. Sekelompok orang tertidur di pinggir gang. Mereka adalah kelompok preman yang suka bermain gaple setiap malam. Satu wajah yang paling Fiska takuti bernama Jack. Hidung Jack nyaris rengkah di antara anting yang ia jejalkan. Daun telinga Jack lebar, seperti menempel di bagian yang tak seharusnya. Fiska melambatkan langkahnya takut jika nafas teratur Jack dan teman-temannya akan terganggu. Ia melihat Ria yang tergelepar. Masih terngiang-ngiang makian ibu Ria saat memarahi anak perempuan itu.

“Dasar anak iblis. Bisa-bisanya elu ngilangin uang orang tua. Elu gak tau apa gue harus jual semuanya buat ngumpulin tuh duit,” Bu Susi yang telah lama menjanda berang. Tapi, berbicara dengan Ria sama saja berbicara dengan batu. Wak Mijon bahkan pernah mengatai Ria dengan kalimat,” masuk kanan keluar kanan,” untuk menggambarkan pendengaran Ria yang resmi dianggap tidak berfungsi.

Sejujur-jujurnya, Fiska tidak terlalu paham apa yang mereka perdebatkan, tetapi saat itu hatinya tiba-tiba kecut. Fiska masih mempertahankan telapak kaki untuk berjalan sepelan mungkin. Setelah agak berjarak, kaki kecil itu kembali mengejar langkah ayah.

“Wah, semalam mereka tidak tidur ya Ayah?”

“Kemarin mereka disiram Bu Haji gara-gara jam tujuh belum bangun-bangun. Kata Bu Haji mereka mabok.”

Ayahnya membiarkan Fiska bicara.

“Kenapa orang-orang mabok ya Ayah?”

“Mereka tidak takut Tuhan, tidak mau menghargai Tuhan,” ayah Fiska menjawab pelan.

“Tuhan itu siapa sih Ayah? Kalau orang agama lain masuk neraka begitu?”

Ayahnya mengangguk.

“Idih, kok gitu ya. Mereka kan baik. Tante Christine juga baek.”

“Makanya, Fiska harus jadi muslim yang baik, biar nanti mereka tertarik sama Islam.”

Fiska hanya mengangguk-angguk.

“Sebentar lagi Fiska selesai lho, Yah, menghafal juz tiga Amma. Ayah jadi kan memberi Fiska buku kalau Fiska bisa hapal,” mata anak itu merajuk.

Ayahnya mengangguk sambil tersenyum. Mereka melewati satu kelokan terakhir. Poster boneka yang menjadi lambang Dunia Fantasi Ancol dan acara terbaru melekat di dinding bata yang tak diplester halus. Itu adalah rumah Wak Mijon. Setiap hari, Wak Mijon bekerja melukis poster khusus Dufan secara manual. Gambar hasil coretan Wak Mijon selalu dikeringkan di dinding rumah.

Fiska pernah bertanya kepada Wak Mijon mengenai Ancol. Keterangan panjang lebar itu akhirnya ditutup dengan satu pernyataan Wak Mijon,” MAHAL.” Fiska paham bahwa arti kata MAHAL adalah haram.

Koh Soleh yang juga guru mengaji Fiska pernah berkata bahwa haram berarti dosa. Ayah Fiska juga setuju dengan pemikiran itu.

“Mahal adalah haram. Haram adalah dosa,” Fiska bergumam lalu kembali mempercepat langkah.

“Koh Soleh tidak pernah berdusta,” kata ayahnya waktu itu.

DOSA BARU

Wak Mijon bahkan tidak pernah berwisata ke Dufan. Setiap hari ia hanya mengecat dan mengecat di atas kain. Menggambar tokoh Dufan dan mengganti tanggal serta tema. Bosnya hanya pernah mengantarkan Wak Mijon hingga depan wahana terbaru untuk membantu imajinasi Wak Mijon dalam melukis. Belum sekali pun Wak Mijon mencicipi wahana-wahana itu.

Fiska menatap lukisan Wak Mijon sekali lagi. Boneka ikon Dufan itu terlihat lucu di matanya. Fiska membalas senyum di lukisan Wak Mijon. Tangannya menyentuh hidung besar di gambar boneka itu. Ia lalu mempercepat langkahnya.

Fiska mengenakan mukenanya. Seperti biasa hanya ada dirinya dan Nenek Birah, jamaah perempuan di masjid itu. Mata Fiska masih terkantuk-kantuk. Ia sempat terlalu lama sujud.

“Ayah!” Fiska kembali memanggil ayahnya dalam perjalanan pulang.

Ayahnya diam seperti biasa menghadapi anak yang terlalu banyak ingin tahu ini. Tentu saja lelaki ini tak pernah marah menanggapi putrinya itu. Hanya hal seperti ini yang diyakini mampu ia berikan lebih banyak untuk memberi kebahagiaan gadis kecilnya. Lingkungan mereka telah lebih banyak mencuri kesenangan dalam umur anak-anak yang seharusnya manis.

“Ayah!” Fiska mengguncang tangan ayahnya.

“Iya.”

“Di Al Quran ada ayat tentang hukum mahal yang haram ya?”

Ayah Fiska tertawa, “tidak, itu ada di kitab lain. Tapi, kamu harus mematuhinya.”

Fiska mengangguk-angguk.

“Mahal adalah haram. Haram adalah dosa,” gumamnya menyambut pagi.
×