KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rediscovering Memories
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57037fb498e31b984a8b4567/rediscovering-memories

Rediscovering Memories

Rediscovering Memories


A truly amazing cover design thanks to quatzlcoatl


Rediscovering Memories


Setiap orang pasti memiliki kenangan. Entah itu pahit atau pun manis. Semua yang kita alami setiap detiknya akan terekam dengan sendirinya didalam kepala kita, beberapa begitu membekas dalam ingatan entah itu karena hal baik atau buruknya, seberapa besarnya perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita tidak akan pernah bisa merubah apa yang sudah tertanam dalam bentuk ingatan itu. Disini gue akan mencoba menelusuri kembali ingatan gue selama beberapa tahun ke belakang, memproyeksikan kembali kenangan kenangan yang begitu membekas dalam ingatan gue dalam sebuah bentuk tulisan tangan. Kenangan tentang seseorang yang begitu berarti untuk gue..seseorang yang selalu mengisi hari hari gue..seseorang yang selalu ada disamping gue, melukiskan senyumnya untuk menghangatkan hari hari gue, menitihkan air matanya untuk menangisi gue, sebuah kenangan yang selamanya akan selalu mengiringi langkah gue.


"Good times come and go, but the memories wont seem to let me walk away"


Spoiler for Index:


Spoiler for Side Story:


"The only reason people hold on to memories so tight is because memories are the only things that don't change when everything else does"

profile-picture
profile-picture
profile-picture
ndsteam dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fastestracer
Part 25

Gue selalu kebayang bayang kejadian malam itu, dimana Lexa mengungkapkan perasaannya, begitu pun gue. Satu hal yg gue sesali, kenapa gue ngga minta Lexa untuk jadi pacar gue saat itu? kalimat itu seakan tertahan di tenggorokan gue, kenapa? padahal kalo dipikir pikir momen nya udah pas, tinggal ngucap doang..sesimpel itu..sh*t...im a f*cking idiot!!

Gue sendiri jadi uring uringan, diselimuti rasa penyesalan..gue selalu mencoba berpikir positif, mungkin memang sebaiknya gue melakukan ritual itu lebih spesial, karna hal semacam itu bakal selalu diinget kan? tapi gue gabisa bohong kalo rasa penyesalan itu selalu balik ke pikiran gue..

"Lo kenapa sih uring uringan banget Bas?" tanya Niva yg ngeliat gelagat aneh dari gue

"Engga...gapapa kok.." sahut gue datar

"Masa sih? apa emang lo aneh darisananya ya?" balas Niva

"Ah..serah lo deh Niv.." gue beranjak meninggalkan Niva menuju kamar gue

Lexa udah balik ke apartemen nya kemarin malam, lama dia menginap dirumah gue itu 3 hari. Ibu gue kayanya seneng punya satu lagi temen perempuan dirumah selain Niva, Lexa selalu ditahan untuk pulang sama ibu, alasannya buat nemenin ke salon lah, belanja lah, sampe beli baju samaan bertiga, dan gue ngga diikut sertakan dalam kegiatan itu, ladies day out judulnya..ini sebetulnya yg anaknya siapa sih?

"Bas..Lexa lagi dimana?" Kata ibu gue yg muncul kepalanya dari sela sela pintu kamar

"Ya di apartemen kali bu.." sahut gue "Kenapa emang?"

"Hehehe..engga..ibu mau minta temenin pergi sama Lexa sama Niva.."

"Lah aku ngga diajak?" tanya gue

"Kamu temenin Bapak main tennis aja sana..ini urusan cewe cewe tau" ujar ibu sambil senyum senyum penuh maksud "Yowes lah..biar Lexa nya istirahat dulu, besok aja perginya.."

Gue cuman diem nanggepin Ibu gue

Ngga lama setelah Ibu gue keluar dari kamar, Lexa pun menelfon gue

"Halo Bas..." Sapa Lexa

"Hooy..ada apa nona Lexa?"

"Besok mau kemana Bas?"

"Belum ada acara sih..kenapa?" Feeling gue dia ada mau yg aneh aneh nih

"Mau liat ikan Bas hehehehe.." Kan bener, gue bilang apa

"Ya kerumah gue aja sini..liat ikan koi dikolam" jawab gue sekenanya

"Di Sea World laahhh!! masa dikolam ikan, bosen ah! mau ya?" bujuk Lexa

"Ha? Sea World?"

"Berangkat jam 10 yah Bas..duduw!"

"Eh tapi lo diajak ibu......halo? halo? Lex?" telfon pun dimatikan secara sepihak, dan keputusan pun diambil secara sepihak

Gue cuma bengong, entah apa isi otak nya Lexa, kenapa setiap saat selalu muncul ide ide ajaib dikepalanya.

Keesokan harinya gue terbangun karna suara hp gue yg membabi buta

"Halo?" Sapa gue dengan suara serak baru bangun tidur

"Bas!!! Mandiiii! udah setengah sembilan nih!!" Suara bocah Lexa sukses membuat gue melek seada adanya

"Ha? ngapain? nanti aja ah kan libur juga"

"Ih cepetan bangun! sarapan terus minum obat! terus mandi!" rengek Lexa

"10 menit lagi.." tawar gue

"SE...KA...RAAAANG!! lo udah janji mau nemenin gue liat ikan!" ujar Lexa setengah berteriak

"Kapan gue janji?"

"Kemaren.."

"Kan lo yg mutusin secara sepihak Lex..gue belom jawab apa apa.."

"Bodo! pokoknya kalo jam 10 belum siap, gue ngambek 3 bulan!" Mulai keluar kepribadian diktatornya

"Eh buset..galak betul.."

"Ngambek pokoknya!! Cepet yahhh!" Lagi lagi telfon dimatikan secara sepihak

Dengan sangat amat berat hati gue beranjak dari kasur gue yg empuk nan dingin ini, bersiap siap untuk karya wisata bersama Lexa dengan judul liat ikan. Selesai bersiap siap, gue langsung bergegas menuju apartemen Lexa, dan ketika gue sampe, Lexa udah duduk manis nungguin gue di lobby apartemennya

"Lama banget sih bas! gue udah disini 20 menit loh!" Lexa mulai nyerocos

"Lahini baru juga jam 10 Lex.." ujar gue

"Ya kan mana tau lo sampe duluan hehe.." Lexa nyengir dodol "Udah yuk berangkat yuk!"

Lexa bangkit dari tempat duduknya dan langsung menarik tangan gue menuju tempat parkir

"nggeh ndoro putri.." cibir gue

Diperjalanan pun Lexa ngga berhenti berceloteh, topik hari ini kebanyakan tentang ikan laut, mirip mirip lah sama dengerin guru biologi waktu SD dulu..tapi gue salut juga sih, rupanya wawasan Lexa sangat luas sampe mencangkup urusan ikan.

1 jam berkendara, gue dan Lexa tiba di akuarium raksasa itu, sebetulnya gue ngga terlalu tertarik sama kegiatan melihat ikan ini walaupun waktu gue kecil hal ini terasa sangat mengasyikan. Lexa selalu jalan didepan gue kesana kemari sambil menggandeng tangan gue. Ngeladenin Lexa itu kurang lebih seperti punya balita umur 5 tahun, seperti kebanyakan pengungjung yg berada disini, persis!

"Bas liat deh..ikan nya gede banget!"

"Hem eh.."

"Bas kok yang kecil kecil itu gak dimakan yah sama ikan hiu?"

"Puasa kali Lex.."

"Bas foto dulu disini sama ikan ikan!"

"hayuuukk.."

"Bas ada cumi cumi masa.."

"Itu gurita Lex..."

"Bas itu ada bintang laut lucu banget..coba pegang bas!"

"Kenapa ngga lo aja?"

"Yeeee..nanti tangan gue basah dong.."

"........."

Sekitar 1 jam gue mengekor Lexa berkeliling, foto foto dan melihat lihat ikan diakuarium suasana Sea World yang lumayan ramai tidak mengurangi semangatnya. Kami pun memutuskan untuk duduk sejenak untuk mengistirahatkan kaki.

"Kok lo bisa sih tau tau pengen kesini Lex?" tanya gue heran

"Kemarin gue nonton animal planet di tv Bas, terus jadi pengen liat yang beneran hehehe.." sahut Lexa sambil tertawa

"Jadi semua ini cuman gara gara habis nonton acara tentang ikan?" gue makin heran

"He euh!! ikannnnn" Lexa menggangguk dengan antusias, dia menggembungkan kedua pipinya menirukan ikan fugu

"Bener bener nih anak emang deh.." gue bergumam pelan

"Udah liat semuanya kan Lex? sekarang mau kemana lagi?" lanjut gue

"hemm..makan aja yuk Bas..? laperrrr"

"Yaudah, mau makan apa ndoro?"

"Jagung bakar puncak...ya Bas ya..plissss..lagi ngidam banget ini" Sahut Lexa lengkap dengan senyum sok imutnya

"Subhanallah....dari ujung ke ujung inimah judulnya Lex..males ah, jauh bangettt" ujar gue ke Lexa

"Aaaaahh Bas..ayo dong..itung itung bayar yg kemarin lo gajadi ke medan.." Kini muncul dua tanduk merah dikepala Lexa dan satu ekor berbentuk panah

"Yatapi kan itu karna gue sakit, bukannya ngga mau loh.." sahut gue

"Ya tapikan udah janji..hayooo!"

Gue skak, mau ngga mau gue harus nurutin kemauannya kalo gini sih. Dengan berbalut rasa malas yg amat sangat untuk menempuh jarak yg begitu jauhnya, akhirnya gue menggandeng Lexa menuju mobil gue untuk segera berangkat ke puncak demi jagung bakar.

3 jam gue tempuh demi seonggok jagung bakar, indomi rebus dan susu hangat di warung pinggir jalan kawasan puncak pas, Lelah sudah pasti, terutama kaki kiri gue yg rasanya udah mau copot karna bolak balik injek kopling, namun semua itu terbayar melihat Lexa begitu riang gembira hari ini.

"Bas makasih ya hari ini udah nemenin gue jalan jalan.." kata Lexa sambil meniup susu yg masih mengepulkan asap di gelasnya

"Inimah sama kaya mudik Lex.." cibir gue

"Yeeeeee yang ikhlas gitu loh! biar banyak pahala lo Bas.."

"Ikhlas kok ikhlas banget!" sahut gue "Abis ini mau kemana lagi?"

"Ke Bandung yuk! mau liat liat factory outlet.." jawab Lexa antusias

"Dorong aja gue dari sini sekalian Lex, biar nyusruk di kebon teh!!" kata gue sewot

"Ehehehe becanda deng, abis ini kita pulang aja.."

Setelah ngobrol ngobrol ringan dan menghabiskan semua makanan dimeja, gue dan Lexa memutuskan untuk pulang. Belum ada 20 menit, Lexa udah terlelap dalam tidurnya sementara gue manyun sendiri ngadepin kemacetan yang ampun ampun ini, emang suka seenaknya banget ini anak ninggal tidur, tapi ya begitulah Lexa, kadang nyebelin banget banget kalo lagi banyak maunya, apalagi kalo udah merengek rengek, tapi begitu dia ngga ada....jangankan ngga ada deh, begitu dia tidur kaya sekarang ini, rasanya langsung sepi banget! Lexa memang beda dari yang lain, entah bagaimana caranya, dan entah kapan terjadinya, tapi dia berhasil membuat gue jatuh cinta sejatuh jatuhnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fastestracer
Part 24

Keesokan harinya gue diperbolehkan pulang dari rumah sakit, gue merasa udah cukup baik walaupun belum sepenuhnya pulih. Lexa ikut kerumah gue, karna sudah pasti gue gak bawa mobil, jadi ngga bisa langsung nganterin Lexa pulang.

"Lexa kamu nginep aja dirumah..daripada diapartemen sendirian.." celetuk Ibu sambil menoleh ke bangku belakang, tempat gue dan Lexa duduk

"Eh..gausah tante, udah biasa kok..aku nanti ngerepotin hehe.." jawab Lexa

"Halah..ngga kok, malah tante yg ngerepotin kamu dari kemarin..udah, nginep aja ya.." sahut Ibu ibu yg suka memaksa

"Maaf ya Lexa, om gabisa bantu, tante emang kalo udah maunya gabisa ditolak hahaha" Bapak pun kini ikut ikutan

"Ehehe iya om.." Lexa nampak malu malu menanggapi orangtua gue

"Kok lo jaim gitu sih Lex? hahaha..." Celetuk gue, dan sukses membuat gue dicubit sambil dipelototin

"Adududuh...sakit dodol.." tangan gue mencoba melepaskan cubitan Lexa

"Awas lo yah Bas.." ucap Lexa tanpa suara

Gue cuman menjulurkan lidah gue mengejeknya

"Duh..jadi inget jaman muda ya pak hahaha.." Komentar Ibu gue melihat kelakuan gue dan Lexa

"Ahaha..jangan digangguin lah bu.." sahut Bapak gue

20 menit kemudian kami tiba dirumah, home sweet home, seneng rasanya bisa balik ke tempat yang gak bau alkohol dan obat obatan. Niva pun menyambut kedatangan kami.

"Hai Lexa.." sapa Niva antusias, mereka pun berpelukan layaknya dua sahabat yg udah bertahun tahun ngga ketemu

"Lah ini adeknya baru keluar rumah sakit yg disapa malah Lexa.." ujar gue ke Niva

"Lah Lexa kan adek gue juga...adek ipar hehehe.." Niva menjulurkan lidahnya mengejek gue

"Serah lo Niv.." jawab gue ketus

"Udududuh..adek aku ngambek nih ceritanya nih.." Niva mencubit pipi gue brutal

"Apaansih woy.." Gue menepis tangan Niva

"Heh ini apasih baru juga pulang udah ribut ribut.." Kata Ibu sambil berjalan menuju kamarnya "Ohiya Niv, nanti malem Lexa nginep sini, tidur sama kamu ya.."

"Wah serius..?! Oke oke bu!" Niva nampak kegirangan mendengar kabar itu

"Hehehe maaf yah kak aku ngerepotin jadinya.." Ujar Lexa ke Niva

"Ngga kok..aku malah seneng ada temennya..Ohiya nanti sore kita ke pim yuk, aku mau beli make up.." sahut Niva

"Boleh boleh..aku nemenin aja ya.." Lexa setuju dengan usulan Niva

"Gue ngga diajak nih?" tanya gue

"Ngga lah..lo tidur aja sana, baru sembuh..ini ladies day, no boys allowed" jawab Niva

Gue cuman bisa diem mendengar jawaban Niva. Niva dan Lexa pun bergegas ke kamar entah apa yg mau mereka lakukan, sementara gue juga sedang dalam perjalanan menuju kasur kamar gue yg empuk.

Gue menemukan hp gue dalam keadaan mati karena batre nya habis setelah gue tinggal seminggu. Gue charge hp gue sambil mencoba menyalakannya, rupanya cukup banyak pesan masuk ke hp gue, sekitar 100 chat yang 50 nya dari Lexa yang menanyakan keberadaan gue sampe akhirnya mengetahui bahwa gue sedang sakit serta ada sekitar 20 sms dari kawan kawan gue yg ngajakin nongkrong. gue buka pesan satu persatu dan gue coba balas sambil menjelaskan kenapa gue gak merespon pesan pesan mereka sebelumnya.

Gue merasa harus sangat berterimakasih sama Lexa karna udah merawat gue selama dirumah sakit, gue udah beberapa kali mengucapkan terimakasih ke Lexa, namun gue merasa itu masih kurang. Lama gue berpikir akhirnya gue memutuskan untuk membelikan Lexa hadiah.

Gue keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Niva.

"Niva..keluar dulu dong bentar.." Kata gue dari balik pintu

"Ada apaan Bas?" tanya Niva setelah membukakan pintu

"Kebawah dulu deh yuk bentar, gue mau ngomong.." Tanpa menjawab, Niva pun mengikuti gue turun kebawah

"Ada apaan sih Bas??" tanya Niva heran

"Gini, gue pengen beliin Lexa hadiah, ucapan terimakasih gitu..nah lo kan mau ke pim, sekalian gitu lo beliin.." gue menjelaskan keinginan gue

"Terus lo mau beliin apa rencananya?"

"Jam tangan, menurut lo gimana?" tanya gue meminta pendapat Niva

"Bagus tuh..bakal sering dipake juga kan..terus merk sama modelnya mau yg kaya gimana?" lanjut Niva

"Nih kaya gini.." Gue menunjukan gambar jam yg menurut gue cocok untuk Lexa di hp gue

"Oke oke siap..kirimin gambarnya nanti ke bbm gue ya" Niva menyanggupi

"Nih lo bawa kartu atm gue.." kata gue sambil menyerahkan kartu ke Niva

"Btw buat gue nggak sekalian Bas? hehehe.." Niva nyengir

"Buset..satu satu dong, mau makan apa gue kalo beli sekaligus 2 biji..jatah lo pas ulang tahun aja ya hehe.."

"Hahaha becanda sihh..tapi kalo lo mau beliin sih gue gak nolak.." ujar Niva sambil berjalan kembali ke kamarnya

"Iya nanti gue beliin.." cibir gue

Sore itu Niva dan Lexa pun pergi untuk shopping,dan gue mengingatkan Niva agar tidak lupa dengan tugas suci yang gue amanatkan ke dia, sementara gue dikamar harap harap cemas memikirkan apakah Lexa akan suka dengan hadiah yang gue kasih, namun entah kenapa, rasa kantuk pun berhasil mengalahkan kekhawatiran gue

Malam harinya gue dibangunin Ibu gue untuk makan malam, gue lihat Niva dan Lexa udah duduk dimeja makan bersama orangtua gue. Selesai makan malam kami sempet ngobrol ngobrol ringan dimeja makan, sampe akhirnya Ibu dan Bapak memutuskan untuk tidur lebih awal, dan Niva pergi ke kamarnya untuk bersih bersih, menyisakan gue dan Lexa di meja makan.

"Ke halaman belakang aja yuk Lex, gue mau ngerokok.." ajak gue ke Lexa, dia cuman ngangguk dan mengekor gue menuju teras halaman belakang rumah gue.

Gue mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, Lexa yang duduk disamping gue masih terdiam.

"Bas..makasih ya.." kata Lexa memecah keheningan malam ini

"Makasih untuk apa..?" tanya gue sambil menghembuskan asap putih ke udara

"Hadiahnya lah..tadi Kak Niva ceritain pas lagi beli jam itu, katanya itu hadiah dari lo sebagai ucapan terimakasih buat gue.." Sahut Lexa

"Haha..iya, sama sama Lexa.." kata gue sambil tersenyum

"Harusnya lo gausah repot repot beliin hadiah segala..lo sembuh dengan cepat aja itu udah jadi hadiah loh buat gue.." Lanjut Lexa

"Dan lo harusnya gaperlu repot repot terbang dari medan ke jakarta cuman buat ngurusin orang sakit kan..doa lo aja menurut gue udah lebih dari cukup kok.." balas gue

"Tapi lo malah dateng kesini, ngurusin gue, ngerawat gue, ngasih perhatian buat gue..rasanya hadiah dari gue masih kurang ketimbang apa yg udah lo lakuin buat gue"

Lexa pun tesenyum mendengar omongan gue, tatapannya mendadak berubah sayu, entah ngantuk atau terharu

"Tapi perhatian gue kemarin masih kalah kok sama semua perhatian yg udah lo kasih ke gue dari awal kita saling kenal.." Lexa menitihkan air mata

"Heh..kok nangis..?cup cup ah, jangan nangis, nanti gak imut lagi loh hahaha.." kata gue sambil menyeka air mata yg jatuh ke pipinya

"Gue kalo nangis juga tetep imut kok.." Sempet sempetnya nih anak narsis sendiri sambil nyengir lebar

"Makasih ya Lex.." Gue raih badan Lexa untuk mendekat ke arah gue, kemudian gue kecup kening Lexa perlahan

"Sama sama Bas..inget yah janji lo, jangan kemana mana.." Lexa memeluk gue erat, tubuhnya bergetar karena tangisannya "Gue sayang sama lo Bas.."

"Gue juga sayang sama lo Lex.." gue membalas pelukan Lexa

Gue dan Lexa pun larut dalam suasana ini untuk beberapa saat, sampai tangisannya mereda, Lexa melepaskan pelukannya, kini dia menyandarkan kepalanya di bahu gue.

Kami sama sama terdiam dan menikmati keheningan malam, larut dalam pikiran masing masing.

Malam ini terasa berbeda, ketika sepasang manusia menyatakan bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain, dalam satu kesempatan, ditengah tengah kehidupan yang biasa saja, kasih sayang bisa merubah hari yang biasa menjadi mimpi indah yg menjadi nyata. Gue masuk kedalam kehidupan Lexa untuk suatu alasan, begitupun Lexa, tapi apapun alasan itu, saat ini gue hanya ingin bersyukur bahwa kami saling mengisi kehidupan satu sama lain.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 4 lainnya memberi reputasi
Part 15

Sepanjang perjalanan pulang, gue melamun, pikiran gue seperti memutar ulang kejadian yang gue alami hari ini, terutama bagian Lexa mencium pipi gue yg sukses bikin gue senyum-senyum sendiri.

Gak sadar, ternyata gue udah sampe didepan rumah. Gue parkir mobil gue didepan pagar, rupanya abang-abang gue pulang kerumah hari ini, digarasi terparkir mobil Bang Adam dan motor Bang Alvin.

Gue berjalan ke dalam rumah, melalui ruang tamu dan di ruang tengah gue mendapati abang-abang gue serta kakak gue sedang berkumpul disitu, gue menduga mungkin Niva sedang curhat tentang kejadian siang ini, gue lihat dia memegang selembar tissue dan sesekali menyeka ujung matanya, gue dan saudara-saudara gue memang sangat akrab dan terbuka satu sama lain, sering kami sekedar curhat atau sharing tentang kehidupan masing-masing.

Ketika gue berjalan menuju ruang tengah, semua langsung menoleh ke arah gue.

"Eh bas..sini duduk" kata Bang Adam dengan nada datar dan ekspresi serius.

Kayaknya gue bakal dinasehatin soal kejadian siang tadi, gue berjalan dan mengambil posisi duduk disamping Bang Alvin

"Tadi siang lo mukulin anak orang?" Masih dengan nada dan ekspresi yg sama, abang-abang gue memang sangat mengintimidasi

"I..iya bang.." jawab gue tertunduk, persis dugaan gue, ini yg bakal jadi topik bahasan malem ini

"Mati nggak anak orang?" kini Bang Alvin ikut bersuara

"Enggak bang.." Gue masih tertunduk

"Kenapa lo pukulin?" lanjut Bang Alvin

"Gak suka gue bang, dia main tangan sama Niva pas didepan mata gue.."

Kedua abang gue cuman mengangguk-angguk

"Terus?" selidik Bang Adam

"Ya gue tarik lah bang, abis itu gue tonjok"

"Kok lo nggak manggil kita?" lanjut Bang Adam

"Lah...??" kini gue bingung dan masang muka bodoh "Maksudnya?"

"Ya biar kita ikut mukulin lahh hahahaha.." Jawab Bang Alvin diiringi tawa Bang Adam dan Niva "Berani si Robby rupanya nampar adek abang ini hahaha.."

"Ya..yakali..." suasana tegang tiba tiba langsung mencair "Matilah dia bang kalo elo yg sikat hahaha.."

Sesaat tadi gue kira bakalan habis diomelin sama kedua abang gue ini, nyatanya gue emang segan sama mereka, selain karna mereka lebih tua, juga karna Bang Alvin ini badannya gede betul, hobi dia ngegym seminggu 2-3 kali, kalo Bang Adam sendiri, dia gak serem, tapi sangat mengintimidasi kalo lagi serius, lebih mirip mafia mafia di film godfather lah..

"Oiya..kata Niva lo udah punya cewe ya? Cantik pula kaya bule" tanya Bang Adam di sela sela obrolan kami

"Temen aja itu bang..bukan pacar..eh..belum..hehehe..."

"Ohhh..siapa namanya? kenalin ke gue dong" lanjutnya lagi

"Alexandra bang..iya nanti gue kenalin, eh kok lo bisa bilang dia cantik dan kaya bule?" gue mengerutkan dahi, baru Niva yg kenalan sama Lexa di keluarga gue

"Iyalahhh..kan gue punya bbm nya Lexa.." sahut Niva

"hemm..udah akrab rupanya lo berdua.." cibir gue

"Buruan pacarin bas, biar bisa jadi pager ayu di nikahan gue hahaha.." kata Bang Adam sambil mengganti ganti channel tv

"Ya liat nanti deh.." jawab gue males, gue merasa belum siap kalo harus nembak Lexa dalam waktu dekat, gue juga masih terbayang bayang kegagalan gue dalam berhubungan sebelumnya.

Malem itu gue dan abang abang gue ngobrol-ngobrol ringan sambil main PS yang ujung ujungnya jadi begadang sampe subuh, sukses membuat gue sedikit kesiangan pagi hari nya.

Pagi ini gue siap siap kilat, mandi 5 menit, sarapan gue bawa buat makan dimobil, semua buku matkul gue masukin ke tas karna gue gapernah hafal jadwal mata kuliah gue sendiri, semua udah beres, tinggal berangkat.

"Mas, tadi abang pesen suruh pake mobil dia kuliahnya, mobil mu dipake sama abang kerja" Mbok gue menghampiri saat gue sedang mengikat tali sepati

"Ohiya makasih ya mbok, saya jalan dulu, titip rumah ya.."

Gue segera bergegas ke mobil dan tancap gas menuju kampus. Kegiatan perkuliahan berlangsung seperti biasa, membosankan dan bikin ngantuk, gue duduk disamping Lexa di baris belakang, udah lama juga gak bersebelahan sama dia dikelas. Disela sela pelajaran, Lexa mencolek gue dan menyodorkan hp nya didepan gue.

"Bas, liat deh, masa banyak yg sms gue 'hai' gitu, ada yg ngajak kenalan, ada yg ngeadd bbm juga" Lexa bicara setengah berbisik

"Hemm..terus?" gue tau memang cepat atau lambat Lexa bakal punya penggemar

"Ya gak ada terusannya.."

"Lo ngga bales balesin fans lo?" selidik gue, ada sedikit rasa yg mirip cemburu, tp mungkin lebih tepatnya insecure

"Enggak ah..takutttt..hihihi"

"Takut kenapa?" gue menaikan sebelah alis gue

"Takut ada yg cemburu nanti hihihi.." Lexa menjulurkan lidah nya penuh maksud

"Siapa emang yg cemburu?"

"Elo lah..lo kan salah satu fans gue hihihi" jawabnya pede sambil memainkan rambutnya dgn telunjuknya

"Lah..? elo kali yg ngefans sama gue, kan elo yg ngajak kenalan" Jawab gue dengan nada meledek

"Ehiya..ya..." Lexa menutupi mulutnya, gue cuman bisa nyengir pede

Gue mengambil hp Lexa dan melihat lihat isi smsnya, ada sekitar 10 nomer berbeda yg sms Lexa, bermacam macam memang, ada yg cuman nyapa, ada yang nanya boleh kenalan apa engga, bahkan ada yg langsung bilang suka, dan emang gaada satupun yg di respon sama Lexa, diam diam gue merasa lega..

"Bas bas bas...itu di siku lo ada apa?" Lexa membuyarkan fokus gue ke hp nya

"Hem? ada apaan?" Gue mengangkat tangan gue untuk melihat ada apa di siku gue

"Yak..silahkan bastian maju ke depan.." Suara dosen menganggetkan gue, maju? untuk apa?

"Hah? Maju pak?" tanya gue kebingungan

"Iya, itu kamu angkat tangan, silahkan jawab soal nomer 13"

Gue melongo, sesaat gue sadar apa yg sedang terjadi..Lexa menjebak gue! dia bilang sesuatu tentang siku tadi biar gue angkat tangan!! gue menoleh dan mendapati dia sedang tertawa tanpa suara, puas sekali, dia menutup mulutnya mencegah suara tawanya meledak, mukanya menjadi merah..

"Baik pak..." Gue pasrah dan akhirnya bangkit dari bangku gue, gue jitak pelan Lexa saat gue berjalan melaluinya "Awas lo ya!" kata gue setengah berbisik

"Cemangat basss hihihi.." Kata Lexa sok imut sambil mengacungkan kedua jempol nya

Ya..cukup lama gue dibuat berdiri didepan, karna gue harus berpikir cara memecahkan soal ini, kalo daritadi merhatiin dosen sih gapapa, lah wong ngobrol, gue hopeless..jadilah gue menggunakan option 'Call a friend', Dhea yg duduk paling depan mendikte gue cara mengerjakan soal yg baik dan benar tanpa sepengetahuan dosen, sementata dibelakang sana Lexa masih tertawa geli.

Ibaratnya saat ini Dhea adalah malaikat penyelamat gue, sedangkan Lexa adalah setan yang mencoba menarik gue ke lubang neraka..terimakasih Dhea, jasa jasamu tak kan pernah ku lupakan...

Gue balik ke kursi gue, gue menoleh ke Lexa, Lexa menoleh ke gue dengan ekspresi lugu, polos, tak bersalah

"Puas lo ya ngerjain gue?"

"Tuh gitu aja ngambek sihh lo mah.." Lexa menggoda gue, dia mencolek-colek pipi gue

"Btw...gue PUAS banget! hahaha" Lexa tertawa penuh kemenangan

Gue cuman bisa gondok dalem hati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 4 lainnya memberi reputasi
Part 42

"Hai Bas.." sapa nya yg lembut seakan meluruhkan seluruh badan gue

"Hai......" sahut gue tak percaya

"Ngeliatinnya biasa aja kali, kaya liat setan aja lo! hahaha.." ujarnya tertawa renyah

"Gue ngga nyangka aja ketemu lo disini..udah berapa lama ya?" sahut gue masih diliputi dengan sejuta ketidakpercayaan dalam otak gue

"Hemm..2 tahun 5 bulan.." balasnya sambil tersenyum manis

"........" gue kehabisan kata kata, gak hentinya gue tersenyum memandang wajahnya

"Heh..malah senyam senyum sendiri, duduk sini.." ujar nya sambil menunjuk tempat kosong dihadapannya

"Eh....Adriana???" ujar Sonia yg kini sudah berdiri tepat dibelakang Adriana

Sontak kami berdua menoleh ke arah Sonia, seketika gue merasa brengsek banget tiba-tiba lari ninggalin dia sendirian disana, memotong pembicaraannya.

"Eh iya..Sonia?!!!" Adriana terkejut melihat sosok Sonia yg berdiri tepat dibelakangnya dan langsung berdiri memeluknya

"Eh..iya...Son...maaf gue tadi langsung lari, yg tadi telfon tuh dia...gue reflek...." kata gue terbata bata mencoba menjelaskan kepada Sonia tentang sikap bodoh gue

"Ngga apa apa Bas, ngerti gue.." sahutnya halus sambil membalas pelukan Adriana

"Eh mana dua lagi? si Rayi sama Abdul?" ujar Adriana seraya melepaskan pelukannya pada Sonia

"Ngga ikut, pada lagi sibuk, kita berdua doang hehe.." jawab Sonia, sementara gue masih diam mematung memandangi Adriana

"Ooohhh...i see i see.." sahut Adriana sambil mengangguk pelan

Kami pun akhirnya duduk bertiga di sebuah meja dan bercerita tentang kehidupan kami masing masing, Adriana banyak bercerita mengenai hidupnya setelah meninggalkan gue saat terakhir kali, bagaimana dia meninggalkan Jakarta dulu dan kini sudah menjadi salah satu mahasiswi di sebuah universitas di Australia. Gue dan Sonia sangat antusias mendengarkan ceritanya, sesekali gue menerawang kembali ke masa lalu, masa dimana dalam 1 detik seorang Adriana bisa begitu melekat dalam hidup gue, sampai sekarang...

*****

Hari pertama masuk SMA, dimana ratusan wajah baru menghiasi pemandangan gue pagi ini, mulai dari yang gue gapernah liat sama sekali, sampai dengan beberapa sahabat gue yang kebetulan satu sekolah lagi sama gue.

Gue duduk di bangku pojok paling belakang di kelas, memandang sekitar dan mendapati seorang wanita yang begitu menarik perhatian gue, cantik...batin gue langsung berkata. Dia duduk selang 1 barisan meja dari tempat dimana gue duduk, dia terlihat sibuk dengan hp nya dengan headset pink yang menggantung di telinganya. Mata nya tajam, rambutnya hitam dan panjang, pipinya sedikit chubby membuat nya terlihat sangat menggemaskan, kulitnya putih beraih tanpa noda, dengan behel gigi berwarna biru yang seirama dengan tas jansportnya.

"Ngeliatin nya serius banget sih men! hahaha" suara Rayi yang kenceng banget sontak membuat gue yg sedang melamun kaget

"Asem! pelan pelan napa kalo ngomong! kedengeran sama yang lain nanti dodol!" ujar gue sewot

"Ajak kenalan sih, cemen banget cuman ngeliatin doang" ejek Rayi mencoba memanas manasi gue

"Nanti ajalah, nanti juga paling perkenalan satu satu didepan" sahut gue datar

"Cemen lo katro hahaha"

"Yeee asem lo bewok!"

Kelas pun mulai terisi oleh siswa yang berdatangan satu persatu, gue perhatikan kelas gue ini berisi banyak cewek cantik nya, tapi cuman 1 cewek yang membuat gue begitu tergila gila akan kehadirannya. Guru didepan kelas pun meminta satu persatu orang untuk memperkenalkan diri, orang yang gue tunggu kemudian maju ke depan, sebuah nama terlontar dari bibir manis nya 'Adriana' itulah sebuah nama yang membuat gue tersenyum ketika mendengarnya. Gue memandangnya lekat lekat, sampai pada satu titik dimana mata kami sempat bertemu, tatapannya yang tajam seakan membuat gue bergetar, namun senyum tipisnya lah yg membuat gue damai.

Bulan pertama, bulan kedua, gue belum pernah sama sekali ngobrol langsung dengan Adriana, namun memandanginya dari bangku gue udah menjadi kegiatan rutin dikelas, cemen? bukan bukan! Adriana ini adalah anak yang sedikit pendiam pendiam cool gitu, dia bukan tipe cewek yang hobi rumpi atau heboh sendiri, maka sulit untuk gue menemukan celah berbicara padanya, sampai akhirnya semesta ingin kami melangkah lebih dekat.

Gue diberikan tugas untuk presentasi, secara berpasangan, dan dengan segala konspirasinya, semesta menginginkan gue dan Adriana untuk bersama. Namun selama bekerja dengan nya, dia terlihat begitu murung, tidak bersemangat, dan lebih banyak merenung. Hanya sesekali gue disuguhkan sapa nya yg lembut.

"Dri..lo kenapa? kayanya lagi ngga semangat gitu?" tanya gue sambil mengerjakan bahan presentasi gue

"Eh emm..gapapa kok Bas.." sahutnya sedikit terbata bata

"Kalo lo ada masalah cerita aja kali, ngga baik di pendem sendiri gitu.." ujar gue pelan

"Eh..emm gimana ya...sebenernya ada sih.." jawabnya sedikit ragu

"Yaudah cerita lah, gue siap mendengarkan dan ngasih solusi kok.." sahut gue

Adriana pun mulai bercerita mengenai cowok nya, sial dia ternyata udah punya cowo! tapi cowok nya melakukan kesalahan fatal, yaitu kakak-adek zone yang mulai menjurus lebih jauh dengan 'adek' nya. Suara Adriana bergetar, nampak dia sangat menyayangkan kejadian itu.

Giliran gue yang angkat bicara, mencoba menenangkan dan memberikan solusi, matanya nampak berkaca kaca mendengar setiap kalimat yg gue ucapkan, nampak ada sedikit penolakan atas solusi yang gue berikan, nampak dia masih ingin mencoba bertahan. Ingin sekali gue berkata, 'Udahlah, lupain cowok lo, coba sama gue, gue bakal jagain lo sampe kapanpun!' namun barisan kata kata itu gue kubur dalam dalam.

"Yaudah kalo lo emang mau coba pertahanin dulu, lo omongin lah baik baik sama cowok lo itu, perlu kah gue temenin ngomong?" entah, rasanya sakit ketika mengucap kalimat barusan kepada orang yg gue idamkan

"Makasih ya Bas, lo udah mau dengerin curhatan gue, kayanya gue bakal coba ngomong sendiri dulu deh.." sahutnya sambil menyeka airmata yg belum sempat menetes di ujung matanya

"Iya sama sama dri, kalo lo butuh apa apa, sebut nama gue 3x hahaha.." canda gue untuk menutupi kekecewaan gue

"Hahaha..terus lo langsung dateng dan bantu gue gitu?"

"Ya kalo kedengeran sih insyallah, kalo gak denger ya maap maap ajasih hehehe.."

"Yeeeeee ngga sigap dong lo! harus dateng kalo gue panggil!" kata nya sambil menoyor kepala gue pelan dengan telunjuknya

Semenjak itu, gue dan Adriana menjadi sahabat, dimana salah satu dari kami sebenarnya memendam rasa yang begitu mendalam. Adriana dan cowoknya akhirnya berbaikan untuk beberapa saat, gue pun mencoba mengikhlaskan namun gagal menghapus rasa yg gue punya terhadapnya. Monica datang ke kehidupan gue, mengalihkan fokus gue terhadap Adriana, menghalau segala pancaran pesona nya, namun tidak untuk selamanya.

Adriana kali ini putus hubungan dengan cowoknya, pertahanannya akhirnya roboh setelah 1 tahun lamanya dia mencoba menjaga hubungannya. Orang pertama yang dia cari siapa lagi kalo bukan gue? disebuah cafe dibilangan jakarta selatan, Adriana menumpahkan semua airmatanya di dalam dekapan gue, menangis terisak seperti anak kecil, seisi cafe memerhatikan kami, namun kami tidak peduli, satu hal yang gue sayangkan adalah bukan hanya pertahanan Adriana yg jebol, gue pun merasakan hal yang sama, rasa sayang gue, rasa rindu gue, rasa kagum gue, terhadap Adriana kembali lagi, namun kali ini gue gak bisa begitu saja mengungkapkannya, ada Monica disisi gue saat ini. Gue marah, kenapa harus sekarang? disaat gue lagi ngga sendiri? apa emang lo dan gue ditakdirkan cuman untuk berdampingan sebagai sahabat? engga! rasa yg gue punya buat lo lebih dari itu!

"Udah dri, jangan nangis lagi..gue rasa emang ini jalan yang terbaik buat kalian.." ujar gue sambil membelai lembut rambutnya

"........." Adriana masih terisak didada gue

"Ini udah jalan nya, mungkin jodoh lo bukan dia, mungkin dia adalah pembelajaran buat lo, kadang hidup selucu itu.." kata kata ini sebenernya merepresentasikan keadaan gue sendiri, miris

".....Iya Bas..." jawab nya singkat, memeluk gue lebih erat

"Jangan nangis lagi, cowo kaya gitu ngga pantes buat lo tangisin..mending lo simpen air mata lo untuk tangis bahagia nantinya dri..udah ya, cup cup.." ujar gue sambil mengecup keningnya perlahan

"....Makasih ya Bas.." perlahan tangisnya pun mereda

"Sini liat ke gue.." Adriana menoleh ke arah gue, gue seka semua airmata yg berhamburan diwajahnya sambil tersenyum

"Lo cantik dri..pasti banyak cowok yang mau sama lo, tinggal pilih yang baik nya aja.." kata gue sambil menatap matanya dalam dalam

Adriana seperti mengucap sesuatu, pelan sekali, gue bahkan hanya mendengar sedikit, tapi kalo gue ngga salah baca gerakan bibirnya, dia seperti berkata

"Kalo lo mau ngga sama gue?"

"Ha? lo ngomong apa? gue ngga denger wey.." gue cubit pipinya pelan

"Ehehe..engga...engga..gue ngomong...."

"Apa???"

"Lo tua banget ceramahnya!"

"Ah sialan lo..."

"Hahahahahahahaha..." Adriana tertawa, cantik sekali

"Makasih ya Bas udah berhasil buat gue ketawa, cuman lo yang bisa emang.." lanjutnya sambil mencubit pipi gue, orang lain yg melihat pasti mengira kami pacaran gue yakin

"Sama sama mbem! jangan nangis lagi ya, jatoh entar pipi lo haha.."

"Yaudah maaf pipi gua tembem!!! tapi imut kan? hihihi" Adriana mengedip manja

"Gak! hahahahaha..." padahal dalem hati ngomongnya, lo sempurna!

Semenjak itu, gue menjadi semakin lengket dengan Adriana, Monica pun memaklumi hal itu, mereka saling kenal dan Monica tau kalau Adriana adalah sahabat gue. Yang Monica ngga tau adalah gue menyimpan rasa sayang yang sama besarnya kepada Adriana....atau mungkin lebih besar....

Memang ketika terjadi hal baik dalam hidup kita, biasanya diiringi dengan berita buruk dibelakangnya. Adriana harus pindah karna tuntutan pekerjaan orang tuanya, gue hancur berantakan mendengar kabar itu via telfon darinya, gue gak mau mengangkat telfon nya, membalas smsnya, atau bertemu dengannya, gue merenung dikamar gue, mencoba menerima namun tidak bisa.

Ratusan missed call menghujami hp gue, hari ini hari keberangkatan Adriana ke luar negeri, fakta bahwa gue ngga bisa menemuinya setiap hari seperti biasa lah yang membuat gue marah, dan fakta bahwa gue gak bisa mencegah hal ini lah yang membuat gue sedih. Berlebihan? namanya juga anak SMA, tapi untuk melepas seorang Adriana? ini adalah sesuatu yang wajar.

Kalo ini adalah sebuah film, mungkin gue akan berlari sekuat tenaga menuju bandara, berpelukan sebelum Adriana mencapai gate, dan dia tidak jadi pergi, atau Adriana yang memutuskan untuk tidak pergi, berdiri didepan pintu kamar gue, berpelukan, menangis, mengikat janji, dan happy ending. Nope..it's not that kind of movie, actually..this is not even a movie..this is reality, and sometimes, reality sucks!

*****

"Eh gue balik ke villa dulu ya, hp gue lagi dicas disana, nanti meledak lagi haha.." ujar Sonia sambil berlalu meninggalkan kami berdua

"Apa lo liat liat!?" ujar Adriana dengan nada sok galak tapi malah jadi imutnya

"Gue masih ngga nyangka bisa ketemu lo disini dri.." sahut gue sambil menyimpulkan senyum diwajah gue

"Gue juga gitu Bas..gue ngga sengaja lihat lo, dan entah kenapa gue yakin banget kalo itu adalah elo, makanya gue telfon aja.." ujar Adriana

"Hahaha kalo salah orang gimana?"

"Ngga mungkin, udah afal gue sama lo, lagian...itu, masih lo pake.." Adriana menunjuk sebuah kalung hitam yg bertahun tahun gue kenakan

"Ahaha ini? ngga pernah gue lepas dri.." kata gue sambil melirik kalung gue

"Kalung itu ada sepasang Bas, satu lagi disini.." Adriana menarik keluar sebuah kalung yang sama persis dengan punya gue, perbedaannya cuman satu, inisial yg ada dibaliknya

"B-S-T-N?" tanya gue menaikan sebelah alis gue

"Hahaha udah ah, lo pasti ngerti maksudnya..btw rumah lo masih yang dulu kan?" tanya nya mengalihkan topik

"Iya iya masih kok, oiya lo tinggal dimana??"

"Ngga jauh dari rumah lo pastinya hahaha.."

"Serius????" ada perasaan senang yg berlebih dalam dada gue

Adriana mengangguk mantap sambil tersenyum

Ada jeda keheningan beberapa menit antara kami berdua, sampai akhirnya Adriana angkat bicara

"Bas.....jujur ya..gue belum nemuin orang seperti lo selama ini, orang yg bisa buat gue begitu nyaman..."

Adriana menghela nafas dan memandang gue dengan senyum tipisnya

"Gue kangen banget sama lo Bas....."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sseeenv dan 3 lainnya memberi reputasi
Part 22

Sore ini gue mendarat dengan selamat di Jakarta, setelah menghabiskan momen liburan akhir tahun bersama keluarga gue selama seminggu diluar kota. Rasa lelah pun langsung menghinggapi tubuh gue, begitu sampe dirumah, gue langsung merebahkan diri dikamar gue.

Suara hp yg berdering membangunkan gue yg belum lama terlelap, sukses kepala gue pusing dibuatnya akibat tertidur yg cuman sesaat.

"Bassss basssss bass bas.." Sapa Lexa antusias, membuat gue tersenyum kecil

"Hei..girang banget kayanya nih.." sahut gue

"Hehehehe..udah beli tiket belum?" Hampir tiap hari Lexa mengingatkan gue untuk membeli tiket dan memenuhi janji gue berkunjung ke Medan

"Udah kok kemarin gue pesen..gue berangkat lusa ya kesana"

"Yipieee!" Suara Lexa yg nyaring kaya anak kecil bikin gue makin pusing "Eh kenapa gak besok aja?"

"Yee..musim liburan gini, susah nyari tiket" jawab gue

"Oiya juga yah hehe..lo baru sampe rumah ya?"

"Iya nih..baru banget sampe hehe"

"Udah makan?"

"Udah"

"Minum?"

"Udah lah.."

"Mandi?"

"Belum.."

"Hii jorok..mandi dulu sana! terus tidur, istirahat.."

"Perhatian banget sih lo sm gue hehe" Goda gue

"Hehehe..ya kan gue anaknya emang perhatian.." Jawab Lexa sekenanya "Udah sana mandi dulu..nanti gue telfon lagi"

"10 menit lagi ya.."

"Sekarang!!" Suara Lexa kembali memecahkan telinga gue, rumahnya ada ditengah hutan kali ya, seneng banget teriak teriakan

"Iya iyaa.." Gue nurut sebelum kuping gue pendarahan

"Good! dah sana hihi..dadah Bas"

"Yoo..dadahh" Lexa pun menutup telfon

Kepala gue terasa sangat berat, untuk bangkit dari tempat tidur aja rasanya lumayan tersiksa, mungkin efek kelelahan pikir gue, gue memutuskan untuk berbaring sebentar dan mengistirahatkan tubuh gue sampe akhirnya gue ketiduran sampe pagi.

Gue membuka mata dan seisi kamar serasa berputar, pusing dikepala gue semakin menjadi jadi dan gue merasakan dingin sampai menusuk ke tulang, bisa gawat nih kalo berkepanjangan, rencana untuk ketemu Lexa bisa gagal.

"Nivaaaa..." Suara gue terdengar menyedihkan, gue coba panggil Niva karna kamarnya bersebelahan dengan gue

Beberapa gue panggil sampe akhirnya dia masuk ke kamar gue dengan masih mengenakan baju tidur dan rambut yg acak acakan, nampaknya dia terbangun dengar panggilan gue

"Ada apasih Bas? masih pagi udah teriak teriak.." Kata Niva sewot

"Kepala gue pusing banget nih..tolong ambilin obat dong dibawah.." pinta gue

"Kenapa lo? Sakit?" Niva menghampiri gue dan menempelkan punggung tangannya di dahi gue "Badan lo anget nih..demam kayanya"

"Yaudah makanya tolong ambilin obat.." pinta gue lagi "Ibu kemana?"

"Lagi jalan pagi sama Bapak kayanya.." Jawab Niva "Yaudah tunggu bentar ya, gue kebawah dulu"

Gue cuman ngangguk, menarik selimut sebatas leher dan kembali memejamkan mata

"Bas..bas.." Niva membangunkan gue dengan menepuk nepuk lengan gue

"Apa Lex?" jawab gue ngaco

"Yee..Lexa di medan, ini gue kakak lo" Sahutnya "Nih sarapan dulu, udah gue buatin roti, abis itu minum obat nih"

"Eh emang tadi gue manggil lo siapa?" Gue bingung sendiri

"Udahlah cepetan makan nih.." jawabnya ketus

Gue cuman bisa nurut, gue mencoba bangkit dan duduk dikasur, dan seisi kamar kembali berputar, gue makan roti yg udah dibuatin Niva dan segera minum obat. Niva segera merapihkan piring dan gelas bekas gue makan, walaupun keliatan terpaksa, namun Niva bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini.

"Makasih ya Niv.." Kata gue sambil merebahkan diri ke kasur

"He euh.." Jawabnya singkat sambil berjalan meninggalkan gue dikamar

Gue bener bener gak berdaya, rasanya badan gue ngga enak banget. Kepala pusing, kedinginan, suara yg mulai serak, lengkap sudah penderitaan gue hari ini. gue cuma berharap keadaan gue segera membaik.

"Bas..kamu nda apa apa?" Kata Ibu yg sudah duduk dikasur gue

"Ngga apa apa bu, cuman kecapean aja kayanya"

"Tapi badanmu ini panas lho Bas.." Ibu menempelkan punggung tangan nya di dahi gue "Udah minum obat?"

"Udah bu, sama sarapan juga, tadi dibuatin Niva"

"Ke dokter aja ya?" Tanya Ibu gue

"Gausah deh Bu..nanti sore aja kalo belum baikan" Bukannya apa apa, masalahnya duduk aja gue susah gimana mau jalan ke dokter

"Yauwis..Ibu masakin sup dulu ya.." Sahut Ibu gue sambil berjalan keluar kamar

Gue meraba raba kasur untuk mencari hp gue, gue buka dan disana udah ada beberapa chat dan misscall dari Lexa, sebagian besar nanyain gue kemana karna lama ngga bales chatnya, namun gue rasanya ngga kuat untuk melihat layar hp lama lama, gue letakan kembali hp gue tanpa sempat membalas satu chat pun dari Lexa.

Keadaan gue memburuk, obat yg gue minum pagi dan siang ini sama sekali ngga berpengaruh, jadi gue minta Ibu gue untuk mengantar ke dokter.

Gue diperiksa selama beberapa saat, ditanya beberapa pertanyaan oleh dokter yg sejujurnya gue ngga inget dengan jelas prosesi itu, hal terakhir yg gue inget cuman duduk dimobil bersama Bapak dan Ibu gue.

*****

Gue terbangun disebuah ruangan yang sangat terang, berwarna putih dan berbau seperti alkohol, pandangan gue masih sedikit buram, gue yakin ini bukanlah kamar tidur gue, gue lihat sekeliling dan mendapati seorang wanita sedang duduk di sofa beberapa meter dari ranjang gue.

"Niva..ini dimana?" gue coba panggil wanita itu, yg gue duga adalah Niva

"Bas..lo udah bangun rupanya..ini dirumah sakit Bas.." sahut wanita itu, belum terlalu jelas pengelihatan gue

Rumah sakit? ngapain gue pake nginep dirumah sakit segala? tiba tiba gue merasakan nyeri di punggung tangan gue, gue melirik dan melihat ada selang panjang yg terhubung ke kantung berisi cairan yg digantung samping ranjang gue, yap..ini infus..

"Emang gue sakit apa? kok nginep disini segala?" tanya gue heran "Ibu kemana Niv?"

Belum sempat dijawabnya, pintu kamar terbuka, dan disitu Ibu masuk bersama Niva, pengelihatan gue perlahan mulai jelas, gue kembali menoleh ke wanita yg sedang berdiri disamping gue, ini bukan Niva...

"Lexa?" Tanya gue sedikit terkejut

Lexa mengangguk dengan senyum kecil menghiasi wajahnya, nampak kekhawatiran tergambar melalui ekspresi wajahnya

"Eh Bas..udah bangun rupanya.." Kata Ibu menghampiri gue

"Aku kenapa sih ini bu? kok pake di infus?" asli gue bener bener heran, masalahnya gue bahkan gainget jalan kerumah sakit, cuman ke dokter waktu itu

"Demam berdarah kamu Bas..sampe ngigo gitu.." Ibu membelai rambut gue perlahan

"Ah masa sih? kok aku ngga inget?"

"Yaiyalah ngga inget, orang lo ditanya nama aja jawabnya 'Lexa'.." sahut Niva yg kini duduk di sofa "Sakit Malarindu inimah Bu hahaha.."

Gue malu sendiri, tapi beneran, gue ngga inget sama sekali pada saat itu. Lexa sama terkejutnya dengan gue mendengar penuturan Niva, wajah Lexa kini memerah

"Wah bener juga kamu Niv, ada Lexa disini buktinya Bastian mulai sadar" Ledek ibu sambil mengambil posisi duduk disebelah Niva

"Eh..harusnya kan aku ke Medan hari ini yah Bu? apa ini di Medan?" gue teringat rencana liburan gue begitu melihat Lexa

"Dua hari yang lalu itu..udah angus tiket lo" Sahut Niva

"Loh..jadi ini di jakarta? kok lo ada disini Lex?" Gue makin kebingungan

"Iyah..kak Niva yang ngasih tau kalo lo sakit Bas, terus gue langsung kesini deh.." Lexa tersenyum simpul, gue terharu denger penuturannya

"Loh, jadi lo langsung kesini begitu denger gue sakit..?" Lexa mengangguk "Maaf yah Lex gue gajadi ke medan"

"Gimana mau pergi kalo nama sendiri gak inget hihi.." Lexa tertawa kecil

"Ibu sama Niva pulang dulu ya Bas, kasian Bapak sendirian..gapapa kan? ada Lexa disini.." Ibu tersenyum penuh maksud

"Gapapa kok tante..gantian Lexa yang jagain hehe" Sahut Lexa

"Yaudah tante titip Bastian ya.." Ibu dan Niva berjalan keluar kamar, Lexa mengantar mereka sampai sebatas pintu

Gue ngga habis habisnya melihat Lexa, gue masih nggak nyangka kalo dia ada disini

"Lo dateng kapan Lex ke jakarta?" tanya gue, Lexa kini duduk di ruang kosong di sebelah kiri ranjang gue

"Emm..pas gue baru dapet kabar, gue langsung beli tiket, 2 hari yang lalu lah.." Gue cuman nyimak dengan seksama

"Terus lo nginep disini?" tanya gue lagi

"Tadinya pengen nginep..tapi kata Ibu lo gue pulang aja, suruh istirahat..tapi gue selalu kesini kok pagi pagi, malem baru pulang hehe"

"Ohhh gituu.." gue ngga tau harus berkomentar apa, saat ini gue merasakan senang dan haru, Lexa bela belain dateng kesini untuk menjenguk gue..bahkan sampe nungguin seharian..

"Bas..jangan lama lama sakitnya..gue sedih.." Wajah Lexa kini menjadi sendu

"Iyah..ini udah mau sembuh kok.." Gue tersenyum menatap Lexa "Maaf ya gue ngerepotin lo Lex.."

"Engga kok..lagian kan biasanya gue yg selalu ngerepotin lo Bas hehehe.." Lexa kembali tersenyum

"Lo cantik deh kalo senyum.." tiba tiba saja gue berkata seperti itu

"Ah...masa sih...biasa aja kali.." Lexa salting sendiri, gue cuman bisa tertawa kecil

"Malem ini lo nginep sini ya Lex..? temenin gue" pinta gue

Lexa mengangguk, menyanggupi permintaan gue

"Makasih ya Lex.." kata gue sambil tersenyum

Perasaan nyaman itu kembali ketika Lexa ada disamping gue. gue ngga mau momen ini cepat berlalu..gue mau Lexa terus berada disamping gue, menemani gue..

Gue ngga nyangka kalo dia bakal langsung terbang ke Jakarta untuk menjenguk gue yg sedang sakit, gue merasa senang ada yg begitu memperhatikan dan peduli akan keadaan gue..dan pada saat itu gue sadar kalo gue benar benar menyayangi Lexa..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fastestracer


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di