alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56fb355b5c7798ae6e8b4569/episode-1--sebuah-ketabahan-yang-di-uji
Episode 1 : Sebuah ketabahan yang di uji.......
Istriku menangis, terisak. Sangat dalam, sembari dia menyelesaikan cuciannya yang menggunung. Aku memeluknya, terus kuberi dia semangat, kita harus sabar. Sambil tetap menangis, dia berkata :
"Boleh kan pap, aku menangis? Boleh kan pap aku mengeluh? Aku juga perempuan biasa, didadaku sudah bertumpuk sesak dan malu yang berkepanjangan. Setiap hari kehidupan kita di support oleh kakakku. Terkadang adik-adikku juga memberikan uang buat kebutuhan kita sehari-hari. Aku malu pap, malu......" Aku tidak berkata apa-apa, hanya bisa larut dalam kesedihannya.
"Ditambah lagi, barusan saja seorang collector datang. Dia menanyakan anak kita, ternyata anak kita disamping hutangnya yang kemarin belum terbayar dia punya hutang lain. Sebenarnya berapa sih hutang dia semua? Kenapa anak-anak kita jadi hobby berhutang, pada saat rejeki kita sedang di uji oleh Tuhan?" Aku masih memeluknya, berdua kami duduk dilantai persis di depan pintu kamar tidur. Ku usap-usap pundaknya sambil terus mengingatkan agar bersabar. "Sabar sayang, ada banyak orang yang lebih susah dibanding kita. Beruntung masih ada sisa gaji yang kita punya. Beruntung masih ada keluarga yang bisa kita mintakan pertolongan. Coba kamu lihat, bagaimana mas bentar harus hidup setiap harinya. Dia di pecat dari pekerjaannya, sementara anaknya butuh biaya untuk sekolah. Dan mereka juga harus makan? Kamu tahu kan, diantara kesusahan kita. Sesekali kita bisa membantu dia, kita bagi rejeki kita dengan dia. Walaupun sama-sama dapat sedikit, kita memberikannya dengan ikhlas. Padahal kita tidak tahu apakah besok kita masih bisa hidup? Dan bisa makan? Karena memang kita tidak punya lagi uang sisa......tapi Tuhan tetap memberi kita hidup dan pertolongannya selalu datang setiap hari entah dari mana hanya Dia yang tahu. Aku yakin cobaan Tuhan tidak akan lama kita lewati sayang, saat ini kita hanya perlu tabah dan sabar. Sambil tetap berdoa dan berikhtiar". "Iya, pap" dia menjawab lirih.
"Nanti jangan kamu tegur anak kita saat dia pulang, aku merasa sebagai Lelaki yang tidak hanya bodoh tapi juga raja tega. Anak-anak kita, demi melihat kesulitan kita. Mereka rela untuk cuti kuliah saat kuliahnya tinggal selangkah lagi. Anak kita yang pertama, berjualan jajanan kecil dipinggir jalan di sebuah gerobak pinjaman kawannya. Hasilnya kadang-kadang dibelikannya beras buat kita, dibelikannya pakaian untuk adiknya. Sesekali dia belikan makanan kesukaan kita, untuk dimakan bersama. Aku tidak sampai hati membayangkan kegigihannya, diantara matahari yang memancarkan panas yang menyengat dia setia menunggu dagangannya yang juga dimodalinya sendiri. Hingga lewat shalat isya.......sementara adiknya. Kerja pada sebuah usaha jasa entry data di bilangan kuningan jakarta selatan dengan upah yang sangat jauh dari cukup. Miris aku melihat mereka sayang........."

Aku masih terus memberinya semangat, istriku masih tersengguk. Air matanya hangat, jatuh diantara dadaku. Tidak beberapa lama, anakku sang pedagang pulang. Adiknya telah lapor ke istriku, bahwa hari ini dia bermalam dirumah temannya. Dia tengah mengadu nasibnya, ikut casting iklan sebuah produk di bilangan jakarta barat. Nampak keletihan yang amat di wajah putriku...........Ya Tuhan semoga segera setelah ini ada hikmah yang bisa kami petik.......bahwa hidup tidak melulu untuk bernafas, tapi kita perlu bernafas karena kita perlu untuk hidup.

Jakarta, 30 Maret 2016
Bangun tenda ah emoticon-linux2
wihh emoticon-Matabelo
Episode 1 : Sebuah ketabahan yang di uji.......