alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56e3eec932e2e6f7258b4575/kerajinan-batu-ri-terbang-ke-prancis-hingga-yunani
Kerajinan Batu RI 'Terbang' ke Prancis Hingga Yunani
Jakarta - Indonesia tak hanya terkenal oleh kerajinan kayunya, tapi juga kerajinan bebatuan. Batu-batuan Indonesia ini banyak diterbangkan ke berbagai belahan dunia.

Binterlink Stone Indonesia merupakan produsen batu-batuan asli Indonesia yang sudah memulai usaha bisnis sejak tahun 2006 di Malang. Sebanyak 90% dari hasil produksinya diekspor ke Eropa (Prancis, Italia, Jerman, Yunani, Belanda) dan Asia (Thailand, Taiwan, Malaysia).

Batu-batu sungai dan gunung banyak didapatkan di Malang, Tulungagung, dan daerah lainnya di Jawa Timur. Pabrik dan tempat produksinya berpusat di Tulungagung.

Kalo toko dan galeri di Malang, karena bandar udara terdekat berada di sana. Hal tersebut diperhitungkan untuk kemudahan pengiriman dan transaksi pembayaran oleh para pembeli.

"Karena kalau pembeli biasanya tuh kalau tahu jarak tempuhnya 3 jam setengah itu sudah capek duluan. Makanya kita bikin galeri yang mudah dijangkau oleh mereka untuk bisa melihat produk-produk kita di sana," ujar Direktur Binterlink Stone, Joe Prasetyo, kepada detikFinance di pameran Furniture Indonesia and Mozaik Indonesia JCC, Sabtu (12/3/2016).

Joe menyebutkan sampai saat ini ada 11 negara yang rajin memesan produk kerajinan batu dari Interlink Stone Indonesia. Kebanyakan mereka memesan untuk dijual lagi di negaranya masing-masing.

"Ya mereka kebanyakan menjadi reseller. Mereka punya toko," katanya.

Kerajinan Batu RI 'Terbang' ke Prancis Hingga Yunani

Harga yang ditawarkan untuk ekspor pun beragam, seperti wastafel dijual US$ 20, kursi US$ 75, lampu-lampu US$ 20-25. Semua barang tersebut tentunya terbuat dari batu sungai, batu gunung, batu kebun, batu lava, dan batu onix.

Joe mengaku dengan banyaknya permintaan dari mancanegara ternyata tak membuat produsen kerajinan batu asal Malang itu kekurangan batu sebagai bahan utamanya.

"Kita terus menyusuri sungai-sungai, kali, gunung, bahkan kebun petani yang di dalam tanahnya kalau digali itu banyak bongkahan batu," ujarnya.

"Seperti Thailand dia tidak punya batu lava. Walaupun serumpun dengan kita, tapi dia tidak punya gunung. Sehingga dia memilih produk kerajinan batu yang kita punya ini untuk dibeli dan dia suka banget. Entah mau dipakai di rumah sendiri atau dipasarkan lagi di sana." jelasnya.

Hal serupa juga terjadi di Jerman dan Italia. Menurutnya, kedua negara yang sudah terlampau modern tersebut sangat tertarik ketika melihat sesuatu yang unik dan alami yang dipamerkan dari Indonesia. Sehingga, peluang pasar di sana lebih besar.

Di tahun keempat, pengrajin batu asal Malang ini sudah melakukan pameran di Eropa sekaligus mendapat penghargaan sebagai eksportir terbaik Jawa Timur dari Badan Pengembangan Ekspor Nasional.

Selama 10 tahun mengepakkan sayapnya, Interlink Stone telah menjalankan kemitraan dan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian.

"Untuk pasar domestik sendiri sebenarnya sudah menggeliat mulai 2 tahun ini. Hanya dulu kita memang tidak dilirik sama sekali. Karena batu ini dianggap sesuatu yang mudah didapat dan tidak berharga. Sehingga kita dulu malah dikira aneh, dilihat kok batu kayak gini yang mau beli siapa. Ternyata Karang Pilang dan Centro itu 2 perusahaan besar yang bergerak di bidang building material menciptakan komposit (campuran antara serbuk batu dan semen) untuk dibuat cetakan semen," paparnya.

"Jadi kita supply batu aslinya dan ternyata masuk di pasar domestik mereka. Itu harga jualnya malah lebih tinggi dari kita. Karang Pilang Rp 350.000 dari kita itu berupa batu asli dan mereka jual Rp 380.000," tambahnya.

"Nah, nanti ada treatment-nya lagi yang kita kasih direction-nya ke mereka, baru bisa mereka siap jual," katanya.

"Untuk memperoleh batunya itu kita memanfaatkan penduduk sekitar (Malang danTulungagung). Kalau di luar tanah Perhutani ya, kan kalau di tanah Perhutani harus ada izin. Penduduk sering mendapatkan batu kali tapididapatnya dari dalam tanah di kebun-kebun petani. Kalau di dalam sungai ada, tapi sudah tidak boleh dieksplorasi," ceritanya.
http://m.detik.com/finance/read/2016...-hingga-yunani
-----
Jaman jokowi jaman batuemoticon-Wakaka ( jaman yg apapun bisa Di jadikan duit )
Kayak era flintstones ya gan..
Asem..hasil ny bagus
kreatif juga ye emoticon-Matabelo
Batu akik uda go international emoticon-Matabelo
klo buat prabot orang luar lbh demen.
klo buat perhiasan lbh milih ruby atau berlian.
Keren udah bisa kesana emoticon-Matabelo
emoticon-I Love Indonesia
Gembok