alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56a597d4d44f9f180a8b4569/rebutan-proyek-gas-masela-senilai-rp-390t-panas-gara2-untungkan-segelintir-orang
Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Kisruh Blok Masela, Ini Tanggapan Terkait Sindiran Faisal Basri “Tertibkan” Rizal Ramli
25 Januari 2016 10:00 AM

Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Blok Masela (Foto: Istimewa)

Jakarta, Aktual.com — Pernyataan Faisal Basri, Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas tentang rencana konsep pengelolaan blok Masela yang sebaiknya dilakukan dengan konsep offshore atau pengelolaan di atas laut mendapat kritikan dari Tenaga Ahli Bidang Energi di Kemenko Maritim, Dr Haposan Napitupulu

Menurut Haposan Napitupulu, bagi hasil atau Split Blok Masela adalah 60/40 atau 60% untuk Pemerintah dan 40% untuk Kontraktor setelah dikurangi cost recovery.

“Yang perlu diketahui bahwa jalur pipa yang akan dibangun di skenario Kilang LNG Darat adalah dari Lapangan Abadi ke Pulau Selaru sepanjang 90 km. Proyek ini bukan merupakan proyek pipa terbesar di Indonesia, karena sebelumnya juga pernah dibangun jalur pipa gas laut, masing-masing,” tuturnya ditulis pada Senin (25/1).

Pernyataan tersebut diatas membantah pernyataan Faisal Basri yang menyatakan jika pembangunan pipa dengan skenario darat di blok Masela akan menjadi proyek pipa terbesar di Indonesia.

Haposan membeberkan, sebelumnya berbagai proyek pipa telah dibangun di tanah air, North Bali ke Gresik/Jatim sepanjang 370 KM, Lapangan Kakap/Natuna ke Singapore sepanjang 500 KM, Lapangan Koridor Jambi ke Singapore sepanjang 248 KM dan Lapangan Kepodang ke PLTU Tambaklorok di Semarang sepanjang 100 KM.

” Jenis pipa yang akan dipergunakan untuk transportasi gas di laut merupakan jenis pipa khusus yang dapat menahan tekanan kedalaman air sekian ribu meter, karena posisinya dipasang atau digelar di dasar laut dengan kedalaman sekian ribu meter. Pipa yang khusus untuk dapat menahan tekanan di kedalaman, flexible untuk menahan arus dasar laut dan pergerakan dasar laut. Seperti yang disampaikan oleh Konsultan JG Kenney yang telah melakukan studi jalur pipa atas permintaan kontraktor Inpex,” paparnya.

Sampai saat ini, lanjut Haposan, jenis pipa dengan spek tersebut belum diproduksikan di Indonesia, artinya masih diimpor sebagaimana juga sebelumnya untuk beberpa jalur pipa gas seperti Natuna-Singapore, Kangean-Gresik, dan lain-lain.

Mengacu kepada biaya LNG Laut di Prelude – Australia, maka perkiraan biaya pembangunan skenario Kilang LNG Laut sekitar US$23 – US$26 milyar. Sedangkan perkiraan biaya Kilang LNG darat, mengacu kepada biaya pembangunan 16 Kilang LNG darat yang telah terbangun di Indonesia dan 1 Kilang LNG yang masih dalam tahap perencanaan Kilang LNG Tangguh Train 3, diperkirakan mencapai US$16 milyar (termasuk biaya pembangunan jalur pipa laut us$1,2 milyar dan biaya pembangunan FPSO sekitar US$2 milyar).

“Sehingga, secara keekonomian skenario LNG Laut lebih mahal, yang akan berakibat tingginya cost recovery atau semakin berkurangnya pendapatan bagian negara (dibandingkan dengan Kilang LNG darat yang biayanya lebih murah),” ungkapnya.

Haposan menyebutkan, tujuan investor membangun kilang LNG Laut bukan karena faktor pendapatannya tergerus, melainkan untuk mendapatkan cost recovery setinggi mungkin dengan beberapa alasan sebagai berikut.

Pertama, riset kilang LNG Laut dilakukan oleh Shell yang sekarang merupakan leading player di pembangunan LNG Laut, yang rencananya akan diimplementasikan untuk pertama kali di dunia di lapangan Prelude – Australia.

“Sehingga jika kilang LNG Laut akan diimplementasikan juga di Masela, maka proyek Masela akan menanggung biaya riset yang telah dikeluarkan oleh Shell,” sebutnya.

Kedua, peralatan proses kilang LNG Laut hanya dibuat oleh Shell, sehingga “Refrigerant” nya proyek kilang LNG Laut di Blok Masela sebagai komponen utama proses LNG hanya akan disuplai oleh Shell, tidak ada pilihan lain.

“Ketiga, dengan pemilihan kilang LNG Laut, harga gas sudah tidak ekonomis lagi bila digunakan sebagai bahan baku untuk industri petrokimia atau industri lainnya, karena LNG lebih mahal sebesar 5-6 $ (karena terdapat biaya proses regasifikasi) dibandingkan harga gas alam dari pipa. Sehingga LNG produk kilang LNG Laut akan “terpaksa” diekspor, khususnya ke Jepang, dalam rangka mengamankan security of supply,” paparnya.

Selain itu, pertimbangan persetujuan POD (Plan of Development) adalah perkiraan pendapatan bagian negara. Dengan lebih tingginya biaya kilang LNG Laut dibandingkan dengan skenario LNG Darat, tentunya bagian negara akan lebih besar dengan skenario LNG Darat dibandingkan dengan skenario LNG Laut.

Apalagi saat ini, berkembang kabar, spekulan tanah dari Surabaya yang bekerjasama dengan oknum mantan pekerja SKK Migas telah “bermain” dengan telah menguasai tanah-tanah milik masyarakat di sekitar Saumlaki – Pulau Yamdena dengan asumsi pengembangan gas adalah LNG Laut dengan Logistic Shore Base akan dibangun disekitar Saumlaki – Pulau Yamdena.

“Kabarnya para spekulan tanah tersebut telah menawarkan kepada Kontraktor INPEX, bahwa tanah yang ditawarkannya tidak untuk dijual tapi hanya untuk disewakan. Sementara itu, bila yang dipilih adalah skenario LNG Darat, hingga saat ini status kepemilikan tanah di sekitar pulau Selaru yang jarang penduduk sebagian besar masih berstatus tanah adat,” tutupnya.

Sebelumnya Faisal Basri menyindir sikap Menteri Koordinator (Menko) bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli terkait pengembangan kilang di Blok Masela, Maluku yang membuat gaduh dan menciptakan ketidakpastian bagi investor. Bahkan, dia secara terang-terangan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menertibkan Rizal Ramli.

Faisal menambahkan jika kilang tersebut dibangun sejak saat ini, produksi baru bisa dilakukan paling cepat pada 2024. Jika menggunakan skema pipanisasi, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk pembebasan lahan.

Bahkan, jika diasumsikan pembebasan tanahnya berlangsung selama lima tahun, maka kilang di Blok Masela baru berproduksi pada 2029 hingga 2030 mendatang.

“Enggak ada lagi yang percaya investor di sini. Tobat semua, dan pada akhirnya mengatakan ini pemerintahnya serius enggak sih tarik investor. Kok kita dipersulit terus, suatu yang sudah pasti jadi enggak pasti karena omongan satu menteri (Menko bidang Kemaritiman-Rizal Ramli). Ya harus ada penertiban lah (menterinya),” tandasnya.
http://www.aktual.com/kisruh-blok-ma...n-rizal-ramli/

Quote:
Menteri ESDM: Proyek Blok Masela Nilainya Rp 390 T
Selasa, 29/12/2015 19:09 WIB

Jakarta -Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan Blok Masela. Bahkan hari ini Jokowi mengumpulkan para menteri untuk membahas blok migas yang ada di Laut Arafura, Maluku.

Menteri ESDM Sudirman Said menilai, perhatian pemerintah terhadap Blok Masela wajar, karena merupakan proyek besar bernilai investasi mencapai US$ 30 miliar, atau setara Rp 390 triliun, dengan cadangan gas sangat besar. Presiden Jokowi menegaskan, jangan sampai sumber daya alam yang ada di Blok Masela hanya dinikmati segelintir orang.

"Investasi di Masela mencapai US$ 30 miliar. Blok Masela saya jelaskan sudah banyak hal yang kita tata. Partisipasi daerah harus ada. Partisipasi daerah ya jelas dengan operator lokal atau BUMN. Tidak orang-orang lain yang menerima manfaat," kata Sudirman, dalam jumpa pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Selasa (29/12/2015).

Sudirman menjelaskan, terkait rapat yang digelar Presiden siang tadi, Presiden menegaskan bahwa Masela merupakan proyek bernilai besar yang harus ditangani secara profesional dan memberi manfaat bagi perekonomian Indonesia.

"Masela ini menurut Presiden proyek besar. Maka kita kaji dengan meng-hire konsultan independen. Cara meng-hirenya pun sangat profesional. Laporan hasil kajian konsultan sudah kita sampaikan ke Presiden," tambahnya.

Sudirman menambahkan, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa pesan terkait perencanaan pengelolaan Blok Masela.

"Pesan Presiden, pertama yaitu rekomendasi-rekomendasi dari kalangan profesional. Kedua, keberadaan Blok Masela harus membawa dampak pembangunan bagi daerah setempat. Ketiga, dari Kementerian Keuangan kalau ada skema pembiayaan yang bisa diberikan akan dirumuskan," jelasnya.

Sejauh ini pembahasan mengenai pengelolaan blok Masela, kata Sudirman Said, belum sampai membahas plan of development (PoD) atau rencana kerja dan anggaran.

"Kita ingin dengar dari semua pihak dan akan ada keputusan terbaik. Masela PoD setelah dapat persetujuan Presiden," ucapnya.
http://finance.detik.com/read/2015/1...ainya-rp-390-t


Inpex Bangun Kilang LNG Apung di Blok Masela
Kilang LNG apung itu akan ditempatkan di lepas pantai Laut Arafura.
Kamis, 5 November 2009 | 10:39 WIB

Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Receiving terminal LNG

VIVAnews - Pemerintah akhirnya memutuskan proyek pengolahan gas dari Lapangan Gas Abadi, Blok Masela, menggunakan kilang LNG terapung. Proyek ini milik perusahaan minyak dan gas asal Jepang, Inpex Corporation.

Berdasarkan data publikasi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Kilang LNG Terapung (Floating LNG Plant) itu akan ditempatkan di lepas pantai Laut Arafura.

Produksi dari lapangan ini diperkirakan 4,5 juta ton per tahun LNG dan 130.000 barel per hari kondensat. LNG yang diproduksi di kilang ini akan langsung dikirim ke pembeli dengan kapal tangki LNG. Untuk mendukung operasi kilang, Inpex berencana membangun basis logistik di Pulau Yamdena.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Evita Herawati Legowo menuturkan, pemerintah akan menunjuk konsultan independen untuk menentukan kepastian rencana pembangunan kilang LNG di Blok Masela.

Evita mengatakan, dengan penunjukan konsultan ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. "Kami akan menunjuk konsultan untuk memberi masukan kepada pemerintah baiknya LNG plant tersebut dibangun dimana, dasar laut, floating, atau di darat," ujar dia beberapa waktu lalu

Menurut dia, alasan pemerintah menunjuk konsultan indepen, karena proyek LNG Masela merupakan proyek yang besar, sehingga butuh persiapan yang matang dan proses kajian yang lebih mendalam.

Inpex Masela merencanakan untuk mengembangkan Lapangan Gas Abadi yang berlokasi di Lepas Pantai Laut Arafura, pada kedalaman laut berkisar antara 400 - 800 meter, sekitar 150 km barat daya Saumlaki, Ibu Kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/r...di_blok_masela


Sengitnya Pertarungan di Blok Masela
Senin, 4 Januari 2016 | 07:09 WIB

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Deputi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Aussie Gautama mengatakan, kilang terapung di Blok Masela lebih untung ketimbang kilang di darat.

"Jadi memang sudah berkali-kali konsep floating LNG ini, diuji oleh berbagai pihak, Dan hasilnya kembali ke floating," kata Aussie di Jakarta, Sabtu (02/01/2016).

Aussie berpendapat, pembangunan Floating LNG, lebih menguntungkan untuk Blok Masela yang letaknya di sekitar laut Arafuru, Maluku. "Bahwa Floating LNG ditenggarai tidak memberikan keuntungan bagi ekonomi masayarakat sekitar, itu tidak lah benar. Karena justru dengan Floating LNG, seluruh perangkat kilang, top-sidenya akan dilakukan di Indonesia. Dan ini bisa menjadi katalis bagi industi maritim kita," papar Aussie.

Kata Aussie, jika pemerintah ingin melakukan pembangunan dengan skema F-LNG, maka perlu dana investasi sebesar US$ 14,8 miliar, dengan kapasitas produksi 7,5 juta ton setahun. "Biayanya memang mahal sekitar 14,8 miliar dolar AS, namun lebih murah di bandingkan biaya pembangunan kilang di darat yang mencapai 19,3 miliar dolar AS," Kata dia.

Beda pandangan disampaikan Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan, Sugita, bahwa skema pegolahan LNG di Blok Masela, justru lebih menguntungkan dengan kilang di darat.

Dengan teknologi onshore-LNG, kata Sugita, manfaat bagi pemerintah pusat dan daerah lebih optimal. "Hasil samping dari pengembangan gas di Blok Masela hanya bisa dimanfaatkan bangsa Indonesia, jika prasarana fisik pengembangan gas blok Masela berada di darat," kata dia.
http://ekonomi.inilah.com/read/detai...di-blok-masela


Soal Blok Masela, Rizal Ramli Sebut Ada Pejabat Keblinger
Rabu, 7 Oktober 2015 | 13:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumberdaya Rizal Ramli menyebut, ada pejabat-pejabat yang keblinger sehingga ingin menandatangai keputusan pengembangan 'Lapangan Gas Abadi' Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku, untuk kepentingan perusahaan migas asing.

Dia mendesak penandatanganan yang akan dilakukan pada 10 Oktober 2015 oleh Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) itu dibatalkan. "Ini ada pejabat yang keblinger yang akan putuskan tanggal 10 ini (Oktober) bahwa untuk membangun itu (kilang) terapung sesuai dengan kepentingan internasional. Saya peringatkan, jangan kebangetan," ujar Rizal Ramli saat berbicara di seminar energi di Jakarta, Rabu (7/10/2015).

Saat ini, pemerintah memiliki dua opsi pengembangan Blok Masela. Pertama membangun kilang gas cair (LNG) terapung di tengah laut (floating) atau offshore dan kedua membangun pembangunan pipa ke Pulau Saumlaki dan kilang LNG di darat (onshore).

Menurut Rizal, para pejabat di Kementerian ESDM dan Satuan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berhasil dibujuk oleh perusahaan migas asing untuk membangun kilang LNG terapung di tengah laut. Argumennya, pembangunan floating itu lebih murah ketimbang membangun pipa gas ke daratan.

Namun kata dia, hitung-hitungan itu kajian perusahaan migas asing yang memiliki kepentingan di Blok Masela yaitu Inpex Masela Ltd dan Shell Corporation. "Setelah kami cek angka-angkanya ngawur. Dan pejabat yang bersangkutan hanya terima (masukan) dari perusahaan asing. Dan ditakut-takuti ada palung dalam. Setelah diselidiki ternyata ada darah yang rendah," kaya Rizal.

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu juga mengeritik pedas SKK Migas. Kata dia pejabat-pejabat SKK Migas banyak yang tidak berpikir independen meski gajinya besar. Penolakan pembangunan floating itu pun datang dari masyakarat Maluku.

Rizal mengatakan masyakarat Maluku tak mau kejadian sumberdaya perikanan lebih banyak diambil oleh asing ketimbang untuk masyakarat Maluku. Oleh karena itu lah, dia mendesak agar penandatangan itu dibatalkan oleh Kementerian ESDM sebagai kementerian yang berwenang.

"Saya enggak mau debat soal kewenangan. Karena pejabat harus dalam batas konsitusi. Tidak bisa pejabat yang seenaknya bilang 'ini kewenangan saya'," ucap Rizal.
http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...abat.Keblinger


Kisruh Blok Masela, Presiden Jokowi Diminta Evaluasi Rizal Ramli
SELASA, 19 JANUARI 2016 | 04:15 WIB

Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean meminta Presiden Joko Widodo mengevaluasi Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli. Hal ini terkait dengan proyek Blok Masela. Rizal dinilai menentang pembangunan Blok Masela di laut.

"Menko Kemaritiman tidak berpihak pada pengembangan kemaritiman," kata Ferdinand lewat pesan pendek, Senin, 18 Januari 2016.

Menurut Ferdinand, Blok Masela sangat kaya cadangan gas. Namun, karena ulah kabinet, proyek ini sepertinya masih butuh waktu lebih lama untuk bisa menyumbang pemasukan ke anggaran pendapatan dan belanja negara.

Ferdinand menyayangkan Rizal Ramli tak bisa sepaham dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said perihal ini. "Mereka tak sepaham terkait dengan keputusan nasib Masela, apakah dibangun onshore atau offshore," katanya. Ferdinand juga heran karena Rizal merasa berhak menentukan nasib Masela. Padahal kementerian teknis adalah Menteri ESDM.

"Jika mengacu pada konsep Presiden Jokowi, yaitu konsep maritim, dan Rizal Ramli mengerti posisinya adalah Menko Maritim, mestinya dia harus mendukung pengembangan kemaritiman kita," ujar Ferdinand.

"Bukan malah mengabaikan maritim dan ingin berfokus ke darat. Ini aneh menurut kami, Menko Maritim, tapi tidak berpihak pada pengembangan maritim. Ada apa dengan Rizal Ramli?"
http://bisnis.tempo.co/read/news/201...si-rizal-ramli

-------------------------------

Hutan dibabat habis kayunya, habis itu sawit ditanam meski harus membakar hutan, lalu mengupas kulit bumi untuk mengeduk batubara, dan emas, kini rebutan ladang gas lagi di laut?... gilak memang orang-orang kitak sekarang ini

emoticon-Turut Berduka


Jokowi: Blok Masela Jangan Menguntungkan Segelintir Orang
Selasa, 29/12/2015 13:48 WIB

Rebutan Proyek Gas Masela Senilai Rp 390T Panas! Gara2 Untungkan Segelintir Orang?
Jokowi: Blok Masela Jangan Menguntungkan Segelintir OrangPresiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil keputusan tentang skema pengembangan Blok Masela di Maluku. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil keputusan tentang skema pengembangan Blok Masela di Maluku. Meskipun konsultan yang disewa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Poten & Partners merekomendasikan penggunaan teknologi Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) seperti yang pernah diusulkan SKK Migas.

Rekomendasi konsultan tersebut seperti diketahui berbeda dengan permintaan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli yang lebih memilih fasilitas pengolahan LNG dibangun di darat ketimbang terapung di laut. Rizal menyebut untuk membangun fasilitas pengolahan di darat dengan investasi sebesar US$ 14,6 miliar sampai US$ 15 miliar, maka efek turunan dari fasilitas tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar lokasi pembangunan fasilitas tersebut.

Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyebut untuk membangun fasilitas pengolahan di darat butuh investasi sekitar US$ 19,3 miliar, lebih mahal dibandingkan perhitungan pembangunan FLNG yang dihitung SKK Migas sebesar US$ 14,8 miliar. Sehingga Sudirman cenderung memilih konsep fasilitas pengolahan terapung karena dinilai bisa memberikan kesempatan bagi industri perkapalan nasional untuk berkembang.

“Saya menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa bumi dan air serta kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," ujar Jokowi sebelum memimpin rapat terbatas guna membahas nasib Masela di kantornya, Selasa (29/12).

Mantan Gubernur DKI Jakarta menjelaskan, maksud dari dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat adalah apa yang dihasilkan dalam pemanfaatan sumber daya alam itu harus benar-benar untuk seluruh rakyat Indonesia.

“Bukan untuk segelintir atau sekelompok orang. Tekanan itu yang ingin saya sampaikan,” tegasnya.

Karena Blok Masela merupakan sebuah proyek pengembangan yang sangat besar, maka Jokowi tak ingin pemerintah memutuskan secara tergesa-gesa agar dapat menghasilkan keputusan yang benar.

"Jangan tergesa-gesa, tetapi keputusannya harus benar. Karena ini menyangkut sebuah waktu yang sangat panjang. Dan kita harus menyadari kekayaan sumber daya alam kita baik minyak bumi, gas bumi yang terkandung di bumi pertiwi ini suatu saat akan habis," katanya.

Oleh karena itu, dalam ratas kali ini Jokowi ingin para menteri dan pimpinan lembaga terkait untuk memberinya kalkulasi dan paparan yang detail, sehingga ia dapat mengambil keputusan yang paling benar.

"Saya ingin agar proyek besar ini memberikan manfaat kepada ekonomi langsung, dan juga menciptakan sebuah nilai tambah yang memberikan efek berantai (multiplier effect) bagi perekonomian nasional kita," ujarnya.

Dalam proposalnya, perusahaan migas asal Jepang Inpex Corporation menyodorkan konsep FLNG berkapasitas 7,5 metrik ton per tahun (MTPA) untuk mengeksploitasi Lapangan Abadi, di Blok Masela.

Dalam proyek yang ditaksir menelan investasi mencapai US$ 14,8 miliar itu manajemen Inpex bakal menyadur teknologi yang dikembangkan mitranya di Blok Masela yakni Shell Corporation dalam proyek FLN Prelude, Australia
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/...elintir-orang/


Jokowi Gantung Keputusan Blok Masela Hingga 2016
Selasa, 29/12/2015 15:50 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat kabinet terbatas guna membahas nasib Blok Masela di Maluku tidak menghasilkan keputusan apapun. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunda pengambilan keputusan apakah fasilitas pengolahan Liquefied Natural Gas (LNG) dari Lapangan Abadi akan dibangun di darat atau terapung di laut hingga Januari 2016.

“Presiden ingin mendengar langsung dari kontraktornya, bagaimana aspek pembangunan regional bisa berjalan bersama investasi. Kontraktor akan diundang dalam waktu dekat sekembalinya presiden dari Papua, setelah itu akan diputuskan,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said usai mengikuti rapat di Istana Kepresidenan, Selasa (29/12).

Seperti diketahui, perusahaan migas asal Jepang Inpex Corporation selaku operator Blok Masela telah menyodorkan konsep fasilitas pengolahan LNG terapung berkapasitas 7,5 metrik ton per tahun (MTPA) untuk mengeksploitasi Lapangan Abadi, di Blok Masela.

Dalam proyek yang ditaksir menelan investasi mencapai US$ 14,8 miliar itu manajemen Inpex bakal menyadur teknologi yang dikembangkan mitranya di Blok Masela yakni Shell Corporation dalam proyek FLN Prelude, Australia.

Sudirman menambahkan dalam rapat yang digelar sekitar dua jam di kantor Presiden tadi, Jokowi meminta agar keputusan pembangunan fasilitas pengolahan LNG Blok Masela dibuat dengan benar dan hati-hati.

“Pendekatan offshore atau onshore memiliki plus minus. Dari konsultan mengatakan offshore dari sisi pendapatan negara dan segala macam. Tapi ada aspek lain yang diperhatikan pemerintah yakni soal pembangunan daerah, lalu bagaimana caranya kontraktor tidak dirugikan secara finansial, tetapi pembangunan kewilayahan bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Pembangunan daerah yang dimaksud Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam rapat tersebut menurut Sudirman terkait dengan pembangunan kawasan industri di sekitar lokasi fasilitas pengolahan.

“Pembangkit listrik, pupuk juga bisa dibangun di sana. Sehingga Indonesia Timur bisa memiliki basis industri baru,” katanya.

Sudirman berpendapat setelah memperoleh penjelasan menyeluruh dari Inpex nanti, Jokowi akan mengambil keputusan yang terbaik.

“Kalaupun hari ini diputuskan, itu konstruksinya baru dimulai 2020. Jadi keputusan untuk sesuatu yang panjang, tidak buru-buru. Namun kami paham bahwa sebagai mitra, kontraktor punya target waktu,” kata Sudirman.

Jika persetujuan resmi sudah diberikan pemerintah, Inpex menurut Sudirman akan segera melakukan studi engineering sampai 2018. Dilanjutkan dengan pengadaan seluruh barang dan jasa yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas pengolahan LNG tersebut, hingga bisa memulai konstruksi pada 2020.

“Untuk pemerintah daerah mereka sudah kami kirimi surat untuk bersiap mendapatkan participating interest sebesar 10 persen pada waktunya nanti, setelah Plan of Development disetujui,” jelasnya.
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/...a-hingga-2016/
rebutan karena sekali dikepret turunlah hujan uang emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By andropod
rebutan karena sekali dikepret turunlah hujan uang emoticon-Matabelo


persiapan pundi-pundi duit untuk 2019, gan!

jadi dimaklumi aja!


emoticon-Big Grin
edannnn bre emoticon-Takut