alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/56a0e10b54c07a77678b4568/pemulangan-eks-pengikut-gafatar-tindakkan-konyol
Pemulangan Eks Pengikut Gafatar Tindakkan Konyol

Pemulangan Eks Pengikut Gafatar Tindakkan Konyol

mereka adalah korban dari penggiringan opini
Pemulangan Eks Pengikut Gafatar Tindakkan Konyol


Quote:

SURABAYA - Upaya pemerintah memulangkan sejumlah warga Eks Pengikut Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) adalah tindakkan konyol. Pasalnya, mereka sudah nyaman di perkampungan Gafatar di Kalimantan Barat.

Pengamat Sosiologi Agama Ahmad Zainul Hamdi mengatakan, selama ini pemerintah belum menjelaskan jika memang Gafatar dianggap sebagai aliran sesat.

Selain itu, dalam hal berkeyakinan pemerintah tidak bisa memberikan intervensi orang per orang.

"Opini yng terbentuk Gafatar adalah aliran sesat. Tapi nggak pernah ada penjelasan dari pemerintah. Sisi ajaran sesatnya harus dibuka," kata pria yang akrab disapa Inung, Kamis (21/1/2016).

Menurut pria yang baru saja meraih gelar doktor Sosiologi Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan bahkan negara sekalipun.

Ia juga menyayangkan dengan sikap negara yang cenderung memberikan pembiaran ketika terjadi pembakaran kampung Gafatar di Km 12 Moton Asam, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, Kalimantan Barat.

Selama ini, kata Inung, orang-orang eks Gafatar tidaak melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum. Justru upaya pemerintah dengan memulangkan paksa Eks Gafatar ke kampung halaman akan menambah masalah baru.

"Saya kira orang-orang yang dicap sebagai pengikut Gafatar sudah dewasa. Bisa dibuktikan tidak apakah orang-orang ini menculik orang, menyerobot tanah orang. Saya malah melihat mereka adalah korban dari penggiringan opini selama ini," kata Inung.

Inung mengatakan, negara seharusnya mengambil tindakkn ketika kasus pembakaran perkampungan itu bukan malah terkesan membiarkan.

Toh, para eks Gafatar ini merasa nyaman bisa hidup diperkampungan tersebut. Mereka bisa bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

"Misalnya, aku berpindah ke Sumatera. Di situ aku merasan nyaman. Tapi tiba-tiba dipaksa untuk kembali ke kampung halaman oleh negera. Apa ini tidak konyol. Orang berpindah tempat ke tempat lain boleh saja asal tidak melawan hukum," pungkas Inung.
(nag)

Sumber
mungkin mereja nyaman tapi warga aseli sana yg gag nyaman
TS ex Gafatar?
gegara melayu bangke yg sok2 punya kalimantan? kita sama2 indonesia. bgaimana dgn warga negara indonesia yg sudah bergabung dgn ISIS ? bagaimanapun pemerintah masih menerima mereka kembali padahal resikonya mengembangkan teror sangat besar dibanding gafatar. seharusnya mmg dibuka sesatnya dimana tapi dibina ke yg bener jd islam yg bkn abal2 ato salah satu agama selain islam di indonesia. gak dikit2 anarkhis. paling suci agaknya
Ini jelas merupakan tindakan diskriminatif...seharusnya pemerintah memberikan perlindungan dari tindak kekerasan ini bukannya melakukan pembiaran...
mesti sering2 dikasi penyuluhan
Quote:Original Posted By been.tank
gegara melayu bangke yg sok2 punya kalimantan? kita sama2 indonesia. bgaimana dgn warga negara indonesia yg sudah bergabung dgn ISIS ? bagaimanapun pemerintah masih menerima mereka kembali padahal resikonya mengembangkan teror sangat besar dibanding gafatar. seharusnya mmg dibuka sesatnya dimana tapi dibina ke yg bener jd islam yg bkn abal2 ato salah satu agama selain islam di indonesia. gak dikit2 anarkhis. paling suci agaknya

Ya udah gan. Mungkin daerah agan siap nampung. Coba ajukan ke pemda agan.
Sebenarnya miris juga sih,tapi disisi lain kalau dibiarkan di sono takutnya malah jatuh korban.
Lagian ini gafatar ngumpul di kalimantan tujuan utamanya apa sih?kalau buat bercocok tanam semata kayanya ga masuk akal deh.Apalagi ada sebagian yang profesinya terbilang mapan.Jangan jangan beneran mau bikin negara sendiri.
Disisi lain kemungkinan merupakan akumulasi bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang tak kunjung mampu meninfkatkan taraf hidup rakyat nya
Bekas Anggota Gafatar yang Bercocok Tanam Diduga Hanya Kedok

Quote:SAMARINDA – Sangkalan dari kelompok yang pernah terlibat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) makin diragukan. Selama ini, mereka yang membangun permukiman di Kaltim mengaku hanya ingin bercocok tanam untuk meningkatkan taraf hidup. Pernyataan yang penuh kejanggalan.

Kaltim Post mendatangi sejumlah permukiman Gafatar. Ditemukan bahwa kesamaan pola adalah hal paling mencolok. Para pendatang sebagian besar hasil eksodus pada kurun nyaris sama, yakni mulai 2013. Mereka membangun permukiman dengan konsep yang serupa. Sebelum datang, mereka seperti sudah memiliki template mengenai hal yang harus diperbuat ketika tiba di tempat tujuan.

Sebagai contoh, bangunan para warga eksodus itu seragam. Mereka tinggal di rumah panjang terbuat dari kayu, berkolong, dan diisi beberapa kepala keluarga. Penghuni juga berusaha membangun jalan dan fasilitas air bersih.

Belum lagi, semua permukiman menerapkan konsep sekolah rumah atau homeschooling bagi anak-anak. Mereka hidup eksklusif karena memisahkan diri dari warga sekitar. Cara eksodus yang demikian menguatkan dugaan bahwa gerakan itu terorganisasi.

Penelusuran media ini juga membuktikan bahwa pemimpin komunitas pernah menjadi petinggi Gafatar. Dari semua tempat yang didatangi, yakni Samboja, Kota Bangun, Tenggarong, dan Sebulu di Kukar, para pemimpin bukan orang sembarangan. Ada yang berlatar belakang pengusaha, pegawai negeri, bahkan sarjana dari universitas terpandang. Mereka rata-rata menjabat sebagai ketua DPD Gafatar di tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

Pola lain yang serupa adalah seluruh komunitas membuka lahan pertanian. Di Kota Bangun, mereka bahkan membeli dua traktor untuk membangun sawah. Namun, dugaan bahwa kegiatan itu hanya kedok agar mereka bisa bermukim di Kalimantan sangat terasa.

Munir Ansori adalah tokoh pemuda di Samboja yang begitu curiga dengan kedok tersebut. Menurut dia, tanah di Desa Karya Jaya, Samboja, yang dikelola bekas kelompok Gafatar adalah lahan tandus. Masyarakat setempat sudah membuktikan. Sebelum didatangi warga yang eksodus, mereka mengolah lahan itu. Pemerintah bahkan menyiram dana kepada masyarakat untuk membangun lahan pertanian. Hasilnya nihil.

Kecurigaan lain adalah sebagian dari para anggota komunitas bukan berlatar belakang petani. Ilmu bercocok tanam mereka diragukan. Sebagai contoh, beberapa dari mereka yang ditemui Kaltim Post mengaku sebagai guru, pengusaha, tukang las, hingga insinyur. Hanya segelintir yang benar-benar pernah bercocok tanam di tempat asal.

Sosiolog dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Ivan Lutfianur, sudah mencium gelagat itu. “Ada yang lulusan SMA, dosen, dan dokter. Sangat jelas bahwa mereka diakomodasi,” ulasnya.

Ivan sepakat bahwa bercocok tanam kemungkinan besar hanya alasan untuk menyebar paham menyimpang. Kelompok itu bukan sedang menanam padi lalu memanen bulir yang diolah menjadi nasi. Mereka menabur benih padi sebagai kedok untuk menuai indoktrinasi.

Doktrin paham menyimpang yang diduga menaungi kelompok itu ditengarai disebarkan lewat homeschooling. Di lingkungan yang terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kota, penyebaran ajaran diyakini lebih mudah.

Kaltim Post bahkan menemukan sebuah perpustakaan kecil di permukiman komunitas itu di Kota Bangun. Beragam koleksi buku tersedia. Bukan pustaka yang berisi ilmu pertanian, beberapa di antaranya malah bertema kepercayaan agama yang kontroversial.

Menurut Ivan, kelompok itu seperti sudah mahir mengajak dan menyebarkan program. Mereka merayu agar calon anggota meninggalkan keluarga serta pekerjaan.

“Jika sampai siap menjual harta benda, itu berarti ada sesuatu yang benar-benar mereka yakini dan inginkan," lanjut Ivan. Pemerintah melalui intelijen, sambung dia, bisa lebih jeli mengetahui visi-misi serta sumber dana. Dia khawatir, kucuran dana malah berasal dari luar negeri yang membawa misi negatif bagi Indonesia. Bukan tidak mungkin, sudah berhasil merekrut dan mendoktrin, anggota kelompok itu sulit disadarkan.

"Sepertinya, sekali mereka masuk, sulit untuk keluar,” terang Ivan.

Hal paling dikhawatirkan adalah penyebaran paham secara berkelompok yang ditutupi program bercocok tanam. Menengok rekam jejak Gafatar, ajaran yang dibawa disebut campur ngawur. Gafatar adalah metamorfosis berbagai nama dengan paham yang sama. Komunitas itu diinisiasi pada 2000 oleh Ahmad Mosadeq yang mengaku sebagai nabi. Dia mendirikan Al Qiyadah al Islamiyah yang menggabungkan ajaran Islam, Kristen, serta Yahudi.

Pada 2006, gerakan besar-besaran dari kelompok tersebut sampai dinyatakan menyimpang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain kalimat syahadat yang berbeda, komunitas itu tidak mewajibkan salat lima waktu, puasa Ramadan, serta salat. Mereka juga mengganti sebutan Tuhan dengan tuan.

Mosadeq, sang pendiri, sudah divonis empat tahun atas Pasal Penodaan Agama dan disebut bertobat. Namun, setelah bebas, dia mengusung nama baru, yakni Komunitas Milah Abraham (Komar). Komar lantas berubah menjadi Gafatar yang berlambangkan matahari saat fajar. Setelah dibubarkan, Gafatar berubah menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam.

PULANGKAN GAFATAR DI SAMBOJA

Instruksi Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak untuk memulangkan bekas kelompok Gafatar di Samboja, Kukar, segera ditindaklanjuti. Kelompok itu diduga sudah mendiami enam wilayah di Kaltim yakni Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara (Kukar), Bontang, Kutai Barat, dan Berau.

Sekkab Kukar Marli bersama Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (FKPD) Kukar mengadakan rapat koordinasi. Marli menyatakan, pertemuan itu menyepakati bahwa instruksi gubernur adalah dasar Kukar bertindak.

Pemkab akan mencabut segala produk administrasi yang telanjur diterbitkan. Dia mencontohkan, sebagian warga sudah memegang KTP dan KK di Kukar. Ada pula yang sudah membuat perjanjian kesepakatan dengan pemerintah desa mengelola persawahan, yakni di Desa Loleng, Kota Bangun.

“Mereka berencana mengelola ratusan hektare sawah selama lima tahun," tambahnya.

Pemkab membentuk tim untuk menindaklanjuti rencana pemulangan. Senin (26/1), pemkab memulangkan kelompok Gafatar menggunakan kapal laut. Pada Selasa (27/1), kapal dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan, menuju Sulawesi.

"Kami pakai dana darurat. Nanti dihitung kebutuhan serta pendataan. Kami harus tahu asal para bekas anggota Gafatar," tambahnya. Untuk gelombang pertama, kelompok dari pemukiman Samboja. Untuk kepastian waktu kepulangan kelompok yang lain akan dibahas kemudian. (qi/fel2/k8)


Code:
http://kaltim.prokal.co/read/news/256235-bekas-anggota-gafatar-yang-bercocok-tanam-diduga-hanya-kedok.html