alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/564bd82854c07ae4468b456c/lempar-handuk-namanya-dicatut-jokowi-justru-lembek
(Lempar Handuk) Namanya Dicatut, Jokowi Justru Lembek
Publik dihebohkan oleh pencatutan nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam perpanjangan kontrak PT Freeport. Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Universitas Paramadina, Heldi Sahrazad menilai sebagai kepala negara, Jokowi seharusnya bertindak tegas. Namun, pada kenyataannya, presiden justru terkesan lembek menanggapi hal tersebut.

"Kepercayaan masyarakat luntur kalau presiden bersikap lemah," ujar Heldi kepada Okezone, Rabu (18/11/2015).

Heldi menambahkan, pernyataan Jokowi tidak sudi menerima duit dari Freeport juga harus dibuktikan. Terlebih, sebagai kepala pemerintahan, pencatutan nama yang melibatkan presiden dan wakil presiden merupakan preseden moral yang buruk dan memerlukan ketegasan.

"Dia (Jokowi) perlu menunjukkan visi yang jelas, siapapun yang melanggar kode etik harus dihentikan. Pencatutan nama presiden dan wakil presiden itu moral yang buruk. Presiden itu simbol negara, mestinya dia tegas, tapi ini malah lembek sekali," imbuhnya.

Khusus Menteri Energi dna Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Heldi menambahkan, sebagai seorang akuntan, ia dianggap tidak tepat menjabat sebagai Menteri ESDM yang mengurusi bidang pertambangan. Tidak heran, ia saat ini tengah mendapat sorotan publik atas kinerjanya yang tidak baik.

"Disitu ada persoalan, karena kinerja (Sudirman) juga tidak bagus dan dalam sorotan. Publik melihat dia mencari kesempatan. Jadi sementara dia punya problem legitimasi dan perlu diganti," sambungnya.

Meski demikian, laporan Sudirman kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkait adanya anggota parlemen yang terlibat juga perlu dibuktikan. Namun, jika laporan itu tidak terbukti, Heldi menyebut hal tersebut hanya akan menjadi bumerang bagi Menteri ESDM itu sendiri.

"Buat saya Sudirman Said melaporkan ke MKD juga perlu. Tapi dalam pokok masalah ini, orang butuh transparansi dan akuntabilitas karena implikasi politiknya terkait publik," pungkasnya.

http://news.okezone.com/read/2015/11...-justru-lembek
Sebagai Pengamat Politik dari gunung, sudah lama gw menyimpulkan kabinet Jokowi-JK itu terkotak-kotak dalam beberapa Faksi. Ada Faksi PDIP, ada Faksi Nasdem, ada Faksi Rizal Ramli dan ada Faksi Jusuf Kalla. Di luar dari itu menteri-menteri lainnya cukup patuh pada Presiden dan tidak perlu disebut faksi Jokowi. Yang sudah lama menarik perhatian gw adalah Faksi Jusuf Kalla. Faksi ini terdiri dari Sofyan Jalil, Rini Soemarno, Sudirman Said dan Amran Sulaiman. Faksi ini juga didukung beberapa Direksi BUMN dimana yang paling menonjol adalah Direksi Pelindo II. Tentu saja diantara faksi-faksi tersebut telah terjadi persaingan ketat maupun sodok menyodok. Yang paling terlihat kemudian telah terjadi gesekan antara faksi Rizal Ramli dengan faksi Jusuf Kalla. Sebut saja kisruh Pembangkit Listrik 35 ribu megawatt, pembelian pesawat baru Garuda, kasus Pelindo II dan sejumlah penanganan masalah kebijaksanaan di Pertamina dan PLN. Salah satu penyebab tidak berhentinya ketegangan antara barisan RR dengan barisan JK adalah Kementerian ESDM. Berdasarkan nomenklatur yang baru memang Menteri ESDM dibawah koordinasi Menko Maritim dan ESDM. Tetapi dalam kesehari-hariannya Menteri ESDM sering tidak manut kalau dipanggil Menko nya. Peyebabnya yaitu, tuan besar dari Menteri ESDM aslinya adalah Presiden JK. Ups salah Wapres JK. emoticon-Big Grin Nah Wapres JK ini, berdasarkan pengamatan seorang Pengamat Politik dari Gunung (yaitu Gw..wkwkwk), JK ini memiliki suatu mimpi yang indah di masa depan.. Hmmm.. Di sisi lain JK mempunyai hutang moral kepada Megawati dimana sebelum Pilpres 2014, JK berjanji pada Megawati bahwa bila Jokowi menang maka Golkar akan bergabung pada KIH. Sayangnya janji itu jauh meleset. JK punya ganjelan besar untuk menarik gerbong Golkar ke Pemerintahan Jokowi. Ganjelan segede gajah itu bernama Aburizal Bakrie yang sangat-sangat kuat posisinya di Golkar. Dan semua orang sudah tahu bahwa kekuatan besar ARB itu sebenarnya bertumpu pada mantan Bendaharanya yang kini menjadi Ketua DPR. Siapa lagi bukan Setya Novanto. Dan selama Setnov masih menguasai DPR maka posisi ARB di Golkar tetap aman terkendali. Begitulah gambaran awal tarik ulur kekuatan di kabinet Jokowi-JK. Dan selanjutnya kita masuk ke masalah PT. Freeport. Duit gede nih masbro. Urusan Trilyun-trilyunan rupiah loh. BISAKAH SUDIRMAN SAID DIANGGAP PAHLAWAN KARENA MEMBONGKAR UPAYA SUAP DI PERPANJANGAN KONTRAK FREEPORT? Seminggu terakhir ini sepertinya memang sudah menjadi Panggungnya Menteri ESDM. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Menteri ESDM Sudirman Said bernyanyi bahwa ada Politisi yang berpengaruh mencoba mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden untuk mendapatkan Fee dari perpanjangan Kontrak Karya PT. Freeport Indonesia. Masyarakatpun langsung terkejut dengan hal tersebut. Dari awal minggu hingga sekitar 4 hari lamanya Sudirman Said bernyanyi lantang. Sudirman menyebut oknum Politisi tersebut mencatut nama Presiden Jokowi dan Wapres JK dan menyampaikannya kepada petinggi PT.Freeport bahwa Presiden meminta saham Freeport sebesar 11% sementara Wapres JK meminta saham 9 % agar proses perpanjangan kontrak PT. Freeport disetujui pemerintah. Sudirman juga menyebut Politisi itu meminta bagian untuk dirinya sendiri berupa kepemilikan saham PLTA Urukuma sebesar 49%. Karena begitu lantangnya nyanyian Sudirman akhirnya berbagai pihakpun mendesaknya untuk melaporkan masalah ini Mahkamah Kehormatan DPR. Sudirman menyanggupinya dan mengatakan kepada public bahwa laporannya itu berdasarkan bukti kuat yaitu rekaman percakapan antara si Politisi dengan petinggi PT. Freeport. Selanjutnya pada Senin pagi kemarin (16/11), Sudirman Said mendatangi MKD untuk melaporkan kasus yang diketahuinya. Sudirman membawa Surat Pengaduan disertai bukti Transkrip Percakapan antara Politisi, seorang pengusaha dan Petinggi PT. Freeport. Sayangnya Sudirman tidak membawa rekaman suara asli percakapan tersebut. Langkah Sudirman Said membeberkan Kasus tersebut dengan melaporkannya pada Mahkamah Kehormatan DPR langsung menuai banyak simpati seketika. Apalagi setelah bocor surat pengaduan Sudirman tersebut sehingga seluruh masyarakat tahu bahwa yang dimaksud politisi itu adalah Setya Novanto sang Ketua DPR. Geger sudah seluruh tanah air. Sejak senin sore hingga tadi malam tak henti-hentinya Setya Novanto dibully public. Bukan saja masyarakat yang membully Setya Novanto, tetapi para politisi dari berbagai partai sudah angkat suara dan mendesak Setya Novanto agar segera mengundurkan diri dari Ketua DPR. Setya Novanto langsung jadi Pecundang Terhina sementara di sisi lain munculah seorang Pahlawan bernama Sudirman Said. Begitu hebatnya skandal ini dan begitu cepatnya orang-orang percaya pada suatu peristiwa yang sebenarnya belum diselidiki kebenarannya. TERNYATA WAPRES JK MENYIKAPI KASUS INI SECARA ANEH DAN SANGAT BERLEBIHAN. Enam hari sebelum Sudirman Said melaporkan kasus ini ke MKD, terlebih dahulu Sudirman melaporkannya pada Wapres JK. Dan begitu menerima laporan tersebut JK langsung marah dan berkata : 'Ini orang kurang ajar dan saya tahu orang itu siapa,' kata Wapres. Tetapi pada tanggal 10 November tersebut JK tidak mendesak Sudirman Said untuk melaporkan langsung ke MKD. Ketika tanggal 16 November setelah Sudirman Said melapor ke MKD, Setya Novanto menemui JK untuk mengklarifikasikan posisi dirinya. Dalam hal ini sudah pasti MKD memberi tahu Setya Novanto bahwa laporan Sudirman berkaitan dengan dirinya. JK menerima SN di kantornya tetapi setelah SN pergi JK menyampaikan kepada wartawan bahwa SN pernah bertemu petinggi Freeport tetapi bukan dalam kapasitas sebagai Ketua DPR. Entah apa maksudnya JK mengatakan hal tersebut. Besoknya tanggal 17 November di hotel Ritz Carlton Kuningan, JK mengatakan kepada media bahwa untuk kasus pencatutan ini dia marah dan tidak akan tinggal diam. JK bahkan hendak membawa masalah ini ke ranah hukum. "Setelah langkah politik, kita selesaikan secara hukum," tegas JK di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (17/11/2015). JK juga menambahkan bahwa dirinya akan membawa Kasus Setya Novanto ke pertemuan Golkar. Satu lagi statement JK adalah "Presiden terkejut dan marah, serta akan menelusuri dan meminta penjelasan. Presiden juga tidak tahu apa yang terjadi (dengan) informasi permintaan saham. Tentu, Presiden akan menindaklanjutinya," katanya. (seolah-olah makin menekan posisi SN). Dari berbagai statement JK dalam 2 hari terakhir terkesan JK sangat bernafsu untuk mengubur karier Setya Novanto dalam-dalam. LAPORAN SUDIRMAN SAID BANYAK BERISI KEJANGGALAN-KEJANGGALAN. Kalau diamati baik-baik soal proses terjadinya Laporan Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan ternyata terlihat banyak juga kejanggalan-kejanggalannya. Mungkin biSa dirinci sebagai berikut : Pertama) Sudirman Said sudah menyerahkan Transkrip Percakapan tetapi tidak menyertakan Rekaman Suara Asli dari Percakapan yang disebutnya sebagai bukti pelanggaran Setya Novanto. Bahkan setelah 24 Jam kemudian, Sudirman tidak juga menyerahkan rekaman suara tersebut. Mengapa harus ada penundaan? Semua orang juga tahu bahwa sebuah Transkrip percakapan tanpa disertai rekaman suara asli hanyalah sampah belaka. Kedua) Dalam transkrip yang diserahkan ke MKD dan kemudian sudah beredar luas di berbagai media nasional dan media social terlihat banyak percakapan-percakapan yang terpotong-potong kalimatnya. Dari 3 orang yang bercakap-cakap, seseorang dengan inisial R, 5 kali ucapannya pada awal transkrip tersebut sangat tidak jelas. Ucapan pertama hanya sepotong kalimat dan dilanjutkan “titik-titik”, ucapan kedua dan keempat hanya diberikan keterangan “suara tidak jelas” sehingga diberi “titik-titik”. Begitu juga dengan ucapan seseorang yang berinisial SN, dimana kalimat-kalimat panjangnya selalu terpotong. Bila dicoba dirangkai dalam suatu kesatuan maka terkesan seluruh transkrip itu tidak utuh. Mungkin hanya 65%-75% saja percakapan yang tertera dalam transkripnya. Ketiga) Dalam transkrip itu bila diteliti berkali-kali tidak ada satupun kalimat yang bisa dikonotasikan Presiden Jokowi meminta saham sebesar 11% dan Wapres JK meminta saham sebesar 9%. Yang ada hanyalah sebuah kalimat dari orang berinisial R dengan kalimat : R: “Gua udah ngomong dengan Pak Luhut, ambilah 11, kasihlah Pak JK 9, harus adil kalau enggak ribut”. Kalimat itu kalau diterjemahkan secara umum kemungkinan besar artinya : Pak Luhut silahkan ambil sebesar 11 dan tolong kasih ke pak JK 9, agar adil dan tidak ribut nantinya. Tidak ada kata “persen” , tidak ada kata “saham” dan tidak ada kata “Jokowi” dalam kalimat itu. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya Sudirman Said bisa menterjemahkannya sebagai Jokowi meminta 11% saham PT Freeport dan JK meminta 9 % saham Freeport? Keempat) Dalam transkrip itu kemudian ada angka 30% dan tertulis sebagai : Sn: “Jadi, kalau pembicaraan Pak Luhut dan Jim (bob) di Santiago, 4 tahun yang lampau itu, dari 30 persen itu 10 persen dibayar pakai dividen. Ini menjadi perdebatan sehingga mengganggu konstalasi. Ini begitu masalah cawe-cawe itu Presiden ngga suka, Pak Luhut dikerjain kan begitu kan..” Yang bisa dicatat artinya khusus pada bagian ini adalah : SN mengatakan ada pembicaraan antara Luhut Panjaitan dengan Jim Bob 4 tahun yang lalu dimana disebut angka 30 persen. 10 persen lewat Deviden dan seterusnya dan seterusnya. Substansinya adalah SN tidak bicara untuk dirinya tetapi mengulas pembicaraan Luhut 4 tahun yang lalu. Pada akhir transkrip memang benar, ada konotasi bahwa SN dan R merayu MS bahwa SN menjamin semua keputusan untuk urusan Freeport nantinya berada di tangan 3 orang yaitu: Presiden, Luhut Panjaitan dan dirinya selaku Ketua DPR. Tidak ada hal lain yang bisa secara pasti diterjemahkan dari transkrip itu kecuali bagian terakhir tersebut. Kelima) Ini yang paling penting, dan pertanyaannya adalah : Percakapan 3 orang tersebut berlangsung pada tanggal 8 Juni 2015. Tetapi kenapa baru sekarang dibuka ke public oleh Sudirman Said? Apakah ada alasan tertentu yang melatar-belakanginya? TERNYATA JAUH HARI SEBELUMNYA SUDAH BANYAK KONTROVERSI SOAL KONTRAK FREEPORT DI KEMENTRIAN ESDM Urusan PT. Freeport ini memang urusan yang menyangkut uang puluhan Trilyun rupiah. Tidak ada yang tidak tertarik dengan urusan Freeport ini. Dan faktanya memang banyak kontroversi di Kementrian ESDM berkaitan dengan kontrak/ perpanjangan kontrak PT. Freeport tahun 2021. Kontroversi-kontroversi itu antara lain : Satu) Sebulan yang lalu Menko Maritim Rizal Ramli pernah mengepret Menteri ESDM. Rizal Ramli mengatakan Sudirman Said sebagai Menteri Keblinger. Alasannya adalah Menteri ESDM ternyata sudah sibuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan perpanjangan Kontrak PT. Freeport. Menurut PP no.77 tahun 2014 pembicaraan ataupun Negoisasi dengan PT. Freeport seharusnya dilakukan 2 tahun sebelum kontak berakhir yaitu tahun 2019. Kontak berakhir tahun 2021. Tetapi ternyata Menteri ESDM kemarin-kemarin ini sudah mempersiapkan Revisi PP no.77 tersebut dengan target memperpendek jangka waktu Negoisasi. Dua) Sebulan yang lalu juga ada Perdebatan Keras antara Anggota DPR Komisi VII Kurtubi dengan Menteri ESDM Sudirman Said tentang Divestasi Saham PT. Freeport. Menurut perjanjian terakhir dengan Pemerintah, PT.Freeport diharuskan melepaskan sahamnya sebesar 10,64% dan disusul lagi 10% pada tahun 2019 sehingga totalnya menjadi 30%. (angka ini cocok dengan transkrip diatas seperti yang dikatakan SN). Divestasi saham milik Freeport diinginkan oleh Menteri ESDM dan juga didukung oleh Wapres JK adalah saham itu dijual lewat prosedur IPO (Inisial Public Offering) tetapi ditentang oleh Kurtubi karena menurut Kurtubi prosedur itu memiliki resiko di masa depan yaitu PT.Freeport berpeluang membeli kembali saham-saham tersebut kalau kepemilikannya berada di tangan swasta/ perorangan. Kurtubi meminta divestasi saham langsung diambil pemerintah lewat BUMN yang ada sehingga memperkecil peluang Buyback oleh Freeport. Tiga) Pada lawatan terakhir Jokowi ke Amerika dikabarkan Menteri ESDM sudah berangkat lebih dahulu mendahului Jokowi ke AS. Bahkan dikabarkan Sudirman Said sudah bertemu dengan Jim Bob Moffet CEO Freeport untuk membicarakan sesuatu sebelum Presiden Jokowi datang. Tetapi kabar ini dibantah keras oleh Sudirman Said. KESIMPULAN Bahwa jauh hari sebelumnya sudah terjadi kontroversi di Kementerian ESDM terkait perpanjangan kontrak karya PT. Freeport. Tetapi selanjutnya kasus ini menjadi meledak ke public ketika Ketua DPR diketahui bertemu dengan Presiden Direktur PT. Freeport. Agak lucu juga karena kehebohan bisa berbelok dari suatu tempat ke tempat lainnya. Setya Novanto jelas salah karena sudah bertemu dengan Presdir PT. Freeport. Bukan tupoksi DPR berkaitan dengan negoisasi dan urusan lain dengan Freeport. Tetapi di sisi lain, penjelasan Sudirman Said tentang pencatutan nama Jokowi dan nama JK disertai permintaan 20% Saham Freeport itu sungguh tidak masuk akal. Dalam Transkrip diatas juga tidak ada satupun kalimat yang mampu menjelaskan angka-angka itu. Disisi lain sebagai Pengamat Politik dari Gunung, gw mengendus ada bau-bau perseteruan Golkar di balik hebohnya kasus Setya Novanto ini. Transkrip tersebut diatas katanya direkam oleh Presdir Freeport dan oleh salah satu Direktur Freeport, Andi Mattalata (kawan baiknya JK dan sama-sama Golkar) mengatakan Menteri ESDM sengaja membongkar kasus ini agar tidak ada pihak yang mengganggu Jokowi dalam urusan negoisasi dan lainnya. Mungkin Andi Matalata benar. Tetapi gara-gara hal tersebut maka Setya Novanto sudah dihakimi public dan sejumlah politisi di Senayan. Masa depan Setya Novanto gelap dan mungkin akan dilengserkan dari Ketua DPR dan itu berarti juga kekuatan ARB di Golkar akan semakin melemah. Hehehehee.. kok pas banget yaa? Kesimpulan selanjutnya, silahkan pembaca yang menyimpulkan sendiri yaa. Hehehee.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fadlizonto...93735a048b457f

Pencatutan nama Kepala negara, kan bukan delik aduan. Itu sama dgn penipuan SMS itu lho, level nya lebih berat.Dan Jokowi lagi-lagi ngajarin hukum yg ga benar ke rakyatnya, ntar bisa2 kasus penipuan bs jd delik etik...
Ngak usah dilaporin juga bakalan otomatis di perkarain dan dilaporin sama MKD atau relawan nantinya....
hanya kegaduan politik yang selalu di pertontonkan
pemimpin yang tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, dia gak tau harus bermain seperti apa dan dia sendiri pun tidak tau dirinya itu siapa.

pernah denger kalau indonesia lagi krisis pemimpin saat ini emoticon-Malu (S)
emoticon-Cape d... (S) Terlalu banyak "ORANG PINTER" diluaran sana, ngomong (doang) apa aja pinter ekonomi, hukum, politik, alam/ lingkungan.

emoticon-Cape d... (S) Terlalu banyak "HAKIM" yang pinter menghakimi siapa saja yang tidak sependapat dengannya.

emoticon-Hammer (S) Terlalu sedikit yang ngomong jujur (satu kata dan tindakan) dari hati nuraninya.
Bukannya si Said udah didukung Joko lapor SN ke MKD?
Kalo dilaporin ntar bilang SN dipolitisasi n dizholimi terus rame2 tag #SaveSN. Kalo ngak dilapori dibilang lembek.

emoticon-Big Grin
kalo pihak istana kaga terlibat buktiin dong emoticon-2 Jempol
Nasbung2 jongos KMPret lagi coba2 mengalihkan isu dan giring opini nih, kita lihat aja alurnya, siapa nanti yg tertawa terakhir, ky yg udah2 nasbung jadi pecundang lagi emoticon-Ngakak
(Lempar Handuk) Namanya Dicatut, Jokowi Justru Lembek
lembek
(Lempar Handuk) Namanya Dicatut, Jokowi Justru Lembek
lembek kek taik panastak guobloghh.
setara penipuan mamak minta pulsa, hina banget

ndoro kowi emang sabarrremoticon-Malu (S)
Nonton di pojokkan dulu

Quote:Original Posted By bos.akik
hanya kegaduan politik yang selalu di pertontonkan
pemimpin yang tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, dia gak tau harus bermain seperti apa dan dia sendiri pun tidak tau dirinya itu siapa.

pernah denger kalau indonesia lagi krisis pemimpin saat ini emoticon-Malu (S)



yg bikin gaduh medianya nasbung sendiri yg sibuk kesana kemari nyari bahan coli buat nasbung setiap hari emoticon-Recommended Seller emoticon-Recommended Seller
karena sehari saja nasbung gak coliin berita jokowi atau ahok badannya meriang2 emoticon-Mewek


Quote:Original Posted By politicus
Heldi Sahrazad menilai sebagai kepala negara, Jokowi seharusnya bertindak tegas. Namun, pada kenyataannya, presiden justru terkesan lembek menanggapi hal tersebut.

"Kepercayaan masyarakat luntur kalau presiden bersikap lemah," ujar Heldi kepada Okezone, Rabu (18/11/2015).

Heldi menambahkan, pernyataan Jokowi tidak sudi menerima duit dari Freeport juga harus dibuktikan. Terlebih, sebagai kepala pemerintahan, pencatutan nama yang melibatkan presiden dan wakil presiden merupakan preseden moral yang buruk dan memerlukan ketegasan.

"Dia (Jokowi) perlu menunjukkan visi yang jelas, siapapun yang melanggar kode etik harus dihentikan. Pencatutan nama presiden dan wakil presiden itu moral yang buruk. Presiden itu simbol negara, mestinya dia tegas, tapi ini malah lembek sekali," imbuhnya.

http://news.okezone.com/read/2015/11...-justru-lembek
Banyak keanehan SS dlm "meramaikan" soal kasus ini. Pertama dia tdk sebut nama terang, tebak2an padahal katanya ada bukti. Kedua, katanya sdh hadap presiden dan wapres dan meyakinkan kebenaran telah terjadi pencatutan nama. Dan Pres/wapres marah. Lha, kalau Pres/Wapres sdh marah, berarti kan percaya dgn data dari SS, dan pencatutan itu kan sudah Pidana, koq tdk pidanakan saja?!?!!
Ketiga, katanya SS mendapatkan info dr pejabat FP, dan pertemuannya direkam. Berarti kan pihak FP tdk menerima cara2 SN, mereka "ditekan". Lha kenapa lapornya ke SS, dgn adanya rekaman dan alat bukti/saksi, pejabat FP kan bisa polisikan SN. Jauh lebih efektif

Keempat, kasus ini makin ketara "Pertarungan Politik" nya, hanya kepentingan pihak2 itu saja, manfaatkan media dgn SS bawa ke MKD.
Apa manfaat dibawa ke MKD, padahal kalau ini dilakukan SS demi Rakyat, untuk brantas mafia, kan jauh lebih bermanfaat dibawa ke Pidana










Quote:Original Posted By odesa
Ngak usah dilaporin juga bakalan otomatis di perkarain dan dilaporin sama MKD atau relawan nantinya....


Quote:Original Posted By bos.akik
hanya kegaduan politik yang selalu di pertontonkan
pemimpin yang tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, dia gak tau harus bermain seperti apa dan dia sendiri pun tidak tau dirinya itu siapa.

pernah denger kalau indonesia lagi krisis pemimpin saat ini emoticon-Malu (S)


Quote:Original Posted By bcasa
emoticon-Cape d... (S) Terlalu banyak "ORANG PINTER" diluaran sana, ngomong (doang) apa aja pinter ekonomi, hukum, politik, alam/ lingkungan.

emoticon-Cape d... (S) Terlalu banyak "HAKIM" yang pinter menghakimi siapa saja yang tidak sependapat dengannya.

emoticon-Hammer (S) Terlalu sedikit yang ngomong jujur (satu kata dan tindakan) dari hati nuraninya.


Quote:Original Posted By kongorikishi
Bukannya si Said udah didukung Joko lapor SN ke MKD?
Kalo dilaporin ntar bilang SN dipolitisasi n dizholimi terus rame2 tag #SaveSN. Kalo ngak dilapori dibilang lembek.

emoticon-Big Grin


Quote:Original Posted By congormaut
kalo pihak istana kaga terlibat buktiin dong emoticon-2 Jempol


Quote:Original Posted By NerakaDewa
Nasbung2 jongos KMPret lagi coba2 mengalihkan isu dan giring opini nih, kita lihat aja alurnya, siapa nanti yg tertawa terakhir, ky yg udah2 nasbung jadi pecundang lagi emoticon-Ngakak


Quote:Original Posted By jual...ketamine
(Lempar Handuk) Namanya Dicatut, Jokowi Justru Lembek
lembek


Quote:Original Posted By kafirr.liberal
(Lempar Handuk) Namanya Dicatut, Jokowi Justru Lembek


Quote:Original Posted By silitneonhuek
lembek kek taik panastak guobloghh.


Quote:Original Posted By baboedomba
setara penipuan mamak minta pulsa, hina banget

ndoro kowi emang sabarrremoticon-Malu (S)


Quote:Original Posted By neynoy
Nonton di pojokkan dulu


Quote:Original Posted By velten




yg bikin gaduh medianya nasbung sendiri yg sibuk kesana kemari nyari bahan coli buat nasbung setiap hari emoticon-Recommended Seller emoticon-Recommended Seller
karena sehari saja nasbung gak coliin berita jokowi atau ahok badannya meriang2 emoticon-Mewek




emang kapan si "nganu" keliatan garang emoticon-Big Grin
emoticon-Traveller
Kalau Jokowi yang penting perncitraan.
diam dibilang lembek

giliran ada yang laporin entar dibilang "represif", orba, dll

tipikal nasbung

Munafik emoticon-Malu (S)


yang nanya kenapa gak langsung ke pidana, simple aja
karna di pidana, dengan adanya putusan MKD, lebih mantap dan mudah jerat pidana nya


Quote:Original Posted By .soroga.
diam dibilang lembek

giliran ada yang laporin entar dibilang "represif", orba, dll

tipikal nasbung

Munafik emoticon-Malu (S)


yang nanya kenapa gak langsung ke pidana, simple aja
karna di pidana, dengan adanya putusan MKD, lebih mantap dan mudah jerat pidana nya



lu baca dulu komeng gw di atas