alexa-tracking

[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/562773b6c2cb17ea668b456a/apa-kabar-glodok-jokowi-beda-1998-ekonomi-saat-ini-diacungi-jempol
[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol
[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali meyakinkan kepala daerah bahwa situasi ekonomi saat ini jauh berbeda dibandingkan krisis yang terjadi pada tahun 1998 dulu. Jokowi bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2015 bisa mencapai 4,85 persen dan inflasinya hingga akhir tahun bisa ditekan sampai di bawah 4 persen.

"Sekarang kita lihat, keadaan ekonomi kita banyak yang khawatir, banyak yang ngomong kita krisis ekonomi. Bapak, Ibu, harus lihat angka. Kita ini kalau terima tamu, mereka acung jempol ke Indonesia. Saya ingin tunjukkan posisi angka karena orang sering ditakuti dengan membandingkan 1998," ujar Jokowi saat memberikan pemaparan kepada ratusan kepala daerah di Istana Negara, Rabu (21/10/2015).

[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol
Jokowi mengatakan, berdasarkan prediksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga akan meningkat menjadi 4,85 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni 4,67 persen. Sementara itu, pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai minus 13 persen.

Sementara itu, dilihat dari inflasi, pada tahun 1998, inflasi pada saat itu mencapai 82 persen, sedangkan saat ini inflasi masih di bawah 5 persen.

Berdasarkan perkiraan BI, sebut Jokowi, hingga akhir tahun 2015, inflasi terjaga di bawah 4 persen.

"Padahal, tahun sebelumnya saja 8,5 persen. Hal ini bisa dicapai kalau harga bisa dikendalikan. Ada barang naik langsung diintervensi. Oleh sebab itu, saya saran minta agar setiap daerah itu ada anggaran intervensi kalau ada barang-barang yang ada kenaikan, suplai demand diatur oleh pemda," kata dia.

Untuk nilai tukar, lanjut Jokowi, pada tahun 1998, nilai kurs rupiah mencapai Rp 16.600, melonjak jauh dari yang sebelumnya berada di level Rp 2.000. Sementara itu, saat ini, nilai tukar ada di level Rp 13.600.

"Tapi, pas saya masuk ada di level Rp 12.500, kenaikannya kurang lebih 8 persen. Beda. Ini 8 persen, dulu 800 persen," ujar dia.

Selain itu, dilihat dari faktor kredit macet juga disebutkan Jokowi sangat berbeda. Jika pada tahun 1998 non performing loan (NPL) atau kredit macet mencapai 30 persen, saat ini hanya berkisar 2,6 persen-2,8 persen.

"Jadi, Bapak, Ibu, jangan nanti di medsos isu-isu ditanggapi dan Bapak, Ibu, pidato kita dalam keadaan krisis, krisis bagaimana? Sebanyak 4,6 persen kok krisis. Jangan ikut-ikut seperti itu. Kita ini harus menatap ke depan, optimistis," ucap Jokowi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...iacungi.Jempol

BERITA SEPTEMBER
Pembeli Sepi, Pemilik Toko di Pasar Glodok Terancam Menutup Usahanya
[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol
Lukman hanya duduk di kursi meja kerjanya, tak ada aktivitas jual beli di tokonya. Kondisi ini sudah dialami sejak dua bulan terakhir, kini Lukman berencana menutup tokonya bulan depan.

Sejak tokonya buka pukul 09.00 WIB belum ada orang yang datang bahkan untuk sekedar melihat. Situasi ini telah
ia alami sejak tiga bulan terakhi ini.

"Dulu perhari bisa dapat Rp 400 juta, sekarang sangat kecil," kata Lukman pemilik Toko Cahaya Abadi Elektronik di Pasar Glodok Plaza, Jakarta.

Karena kondisi tokonya yang sepi pembeli, dia berencana untuk menutup tokonya.

"Jadi kalau bulan depan masih sepi seperti ini, saya mau tutup saja," imbuhnya.

Ia memprediksi daya beli masyarakat yang turun akibat terus naiknya harga dolar yang tidak diimbangi dengan perputaran uang di pasar.

"Sejak 15 tahun lalu berjualan baru tahun ini omzetnya turun drastis hingga 50 persen," paparnya.

Toko yang luasnya sekitar 30 meter persegi akan ia sewakan, bahkan bisa saja katanya akan dijual jika dalam satu bulan ke depan sepi.

Selain Lukman, Sabtu (5/9/2015) pekan lalu ada seorang wanita dan pria yang hanya duduk di depan toko. Saat ada orang melintas, ia langsung mendekati orang tersebut.

"Mau cari apa, lihatlah dahulu," ujar wanita berbaju hijau itu menyapa.

Melihat orang yang ia sapa hanya melintas saja, ia kembali duduk. Hal itu ia lakukan berkali-kali untuk menarik perhatian calon pembeli.

"Satu bulan ini cuma AC yang bergerak (dibeli). Ini karena cuaca panas beberapa bulan ini. Selain barang itu tidak mau stok," jelasnya.

Meski masih ada barang yang dibeli, Lukman mengaku tidak bisa mendapatkan untung besar. Satu unit AC hanya mendapatkan untung Rp 25 ribu.

Dijelaskannya, saat ini dia hanya berusaha untuk bertahan dari ancaman kebangkrutan.

Biaya operasional terus keluar setiap hari. Keuntungan yang didapat hanya cukup membayar gaji pegawainya.
"Sekarang semua pedagang butuh duit. Untung berapa saja diambil dibanding dia (pembeli) belanja di tempat lain. Semakin ganas persaingan," ujar Lukman yang memiliki delapan karyawan ini.

Sepinya pembeli dan besarnya beban operasional yang harus dikeluarkan membuat pedagang mulai menutup toko dan
merumahkan karyawan sebagai langkah antisipasi kerugian yang kian besar.

http://m.tribunnews.com/metropolitan...nutup-usahanya

BERITA OKTOBER
Rupiah Menguat, Penjualan Elektronik di Glodok Sepi

[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol

Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir tak berpengaruh terhadap harga jual barang elektronik di Pasar Glodok, Jakarta Pusat.

Selain harga jual yang belum turun, penjualan barang elektronik pun masih sepi pembeli. Sementara para penjual mengaku harga jual elektronik saat ini masih sama dengan harga jual saat dolar meroket.

Hal ini karena produk yang dijual saat ini, dibeli mereka saat harga mata uang dolar AS tinggi. Penjual pun semakin pusing karena penjualan masih sepi sehingga membuat omzet turun hingga lebih dari 50 persen.

Barang elektronik yang harganya turut meroket adalah barang-barang impor atau yang memiliki komponen impor tinggi seperti laptop, handphone, televisi, dan lain-lain.

Pada saat dolar AS meroket hingga hampir mencapai Rp15 ribu, harga barang elektronik seperti laptop, televisi, dan kebutuhan rumah tangga naik 10-15 persen. Sedangkan harga handphone merek luar negeri naik mencapai 30 persen.

Namun demikian, saat rupiah menguat seperti saat ini, harga masih tetap tinggi. Salah satu penjual handphone, Agus, mengaku saat kondisi nilai tukar rupiah fluktuatif, dia lebih memilih menjual produk produk dalam negeri yang harganya stabil dan tetap diminati pembeli.

Sementara Iyan dan Nova, mengatakan, dampak positif menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga belum dirasakan bagi pembeli. Pembeli mengaku sengaja datang untuk membeli alat elektronik di saat rupiah menguat, namun ternyata harga elektronik masih dijual dengan harga tinggi.

"Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak mempengaruhi minat untuk membeli," ujar Aidi, saat ditemui di lokasi, Rabu (14/10/2015).

Para penjual dan pembeli pun berharap rupiah terus menguat dan stabil sehingga sehingga harga kembali normal sehingga tidak menyusahkan baik pembeli maupun penjual.

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/...di-glodok-sepi

FAKTA BERBANDING TERBALIK...I DONT READ A SIGN emoticon-Mad (S)
NASTAK BILANG: HIDUP ITU JGN NGELUH...AYO KERJA emoticon-Mad (S)
namanya juga harga, kalo sudah naik betah banget di atas, susah turun emoticon-Big Grin
Percaya aja emoticon-Big Grin
sambil minum kopi ane menunggu TIM AHLI TAFSIR jokowi cabang AHLI EKONOMI JOKOWI

emoticon-Recommended Seller
cuma nastak goblok yg tinggal di desa yg mengacungin jempol, soal nya mereka gak ngerti apa-apa tentang perekonomian.
Jempol kaki Jok emoticon-Paw
kali ini ane setuju ama pakdhe joke, 1998 diawali dengan angka 1, sekarang 2015 diawali dengan angka 2.. beda.
salah sangka ni orang, pdhl yg diacungi jempol kemampuan ngibulnya emoticon-Betty (S)
Sekarang orang gak mikirin barang barang elektronik. Yang penting bisa makan aja udah syukur.
Pedagang elektronik glodok musti ganti haluan atau boyong ke daerah.
kalau gak ada yang memuji,ya paling enggak dipuji diri sendiri lah...

*optimis*
komentarnya lucu" ya..emoticon-Ngakak (S)
Buset... tuh bule acungi jempol sambil ngomong dalem hati "ente emang jago ngibul Jok.. top daaah.."emoticon-Recommended Seller
Quote:Original Posted By havenlagoon
cuma nastak goblok yg tinggal di desa yg mengacungin jempol, soal nya mereka gak ngerti apa-apa tentang perekonomian.

nastak otak kopong emang goblok bin tolol emoticon-Recommended Seller
Quote:Original Posted By dudakerensex
kali ini ane setuju ama pakdhe joke, 1998 diawali dengan angka 1, sekarang 2015 diawali dengan angka 2.. beda.

mungkin cuma sampe situ aja nalarnya pak dhe emoticon-Big Grin
bener beda lho.

dulu 1998 harga bubur ayam aja 1500/mangkok.

sekarang tahun 2015, harganya sudah 9000/mangkok. emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)

mati aja lu Jok! emoticon-Bata (S) emoticon-Bata (S) emoticon-Bata (S)
Bandingin koq sama 1998 emoticon-Big Grin
Coba ama tahun 2014sebelon wiwi menjabat emoticon-Big Grin

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
masih syukur aja glodok ga sampe ada kejadian bakar-bakarin toko krn bangkrut.
emoticon-Traveller
Quote:Original Posted By cingeling
[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol



Itu yg pegang pala puyeng kali yah dengerin kibulan wiwi emoticon-Big Grin

emoticon-Ngakak
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
emang sekarang glodok gimanaemoticon-Bingung (S)
kok laporan di lapangan begini pak dhe?
ini mesti pelintiran media.. emoticon-Bata (S)

Quote:

250.000 Orang Berpotensi Menjadi Pengangguran

Selasa, 20 Oktober 2015 | 16:00 WIB

[APA KABAR GLODOK?] Jokowi: Beda 1998, Ekonomi Saat Ini Diacungi Jempol
www.shutterstock.com Ilustrasi.

BEKASI, KOMPAS.com - Sebanyak 250.000 orang yang terlibat dalam sektor properti, baik karyawan, maupun pekerja lapangan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, berpotensi kehilangan pekerjaan.

Hal tersebut dipicu oleh anjloknya omset pengembang hingga mencapai 60 persen per September 2015, dan ditundanya peluncuran proyek-proyek baru. Bahkan, sebanyak 60 persen dari total 930 pengembang yang beroperasi di ketiga wilayah ini sudah tidak mampu lagi mencetak penjualan.

Padahal, motor penggerak bisnis dan industri properti Indonesia ada di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Ketiga wilayah ini berkontribusi terhadap pembangunan perumahan sebesar 40 persen, baik untuk perumahan subsidi, maupun non-subsidi.

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Amran Nukman, mengatakan hal tersebut kepada Kompas.com, sesaat sebelum Temu Anggota Tiga DPD REI DKI Jakarta-Banten-Jawa Barat, di Bekasi, Selasa (20/19/2015).

"Saat ini menjual properti paling sulit akibat ekonomi melemah. Ada sekitar 60 persen pengembang dari gabungan tiga DPD REI yang sudah tidak mampu mencetak penjualan. Kalau tidak segera dilakukan aksi penyelamatan, maka para pengembang akan runtuh satu per satu," papar Amran.

Jika hal itu terjadi, kata Amran, bukan hanya pengembang properti yang jatuh, melainkan 174 industri lainnya terkait properti bakal ikut runtuh.

Oleh karena itu, tiga DPD REI ini menuntut pemerintah untuk segera menerbitkan petunjuk teknis berupa instruksi presiden guna merealisasikan paket-paket kebijakan ekonomi untuk mendorong percepatan pertumbuhan sektor properti.

Ada empat hal yang dituntut pengembang, yakni penundaan kewajiban membayar pajak yang tidak tertagih selama 2010-2014, penyederhanaan perizinan, ketersediaan lahan murah untuk pengembangan rumah bagi masyarakat berpenghasila rendah (MBR), dan relaksasi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 17/10/PBI/2015 tentang Rasio Loan to Value atau RasioFinancing to Value untuk Kredit Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit Pembiayaan Kendaraan Bermotor.

"Kami harapkan empat tuntutan ini diperhatikan oleh pemerintah untuk segera diterbitkan kebijakan teknisnya agar segera dieksekusi," pungkas Amran.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis : Hilda B Alexander
Editor : Hilda B Alexander

http://properti.kompas.com/read/2015...i.Pengangguran