alexa-tracking

Menunggu Cinta yang Tak Pernah Menyadari [part 1]

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55ccb65dc3cb17b6458b4571/menunggu-cinta-yang-tak-pernah-menyadari-part-1
Penantian Panjang untuk Cinta yang Semu [part 1] BASED ON REAL STORY
Halo Selamat Malam.
Entahlah malam ini saya sedang gundah, memikirkan sesuatu yang tidak bisa saya katakan pada orang lain bahkan orang terdekat saya seperti sahabat dan orang tua. Rasanya terlalu sakit untuk diucapkan. Tapi saya lebih nyaman untuk menulisnya. Dan di sini saya akan berbagi cerita saya.

Ini adalah kisah cinta nyata yang sedang saya alami. Kisah seorang perempuan yang menunggu dan terus menunggu seseorang yang tak kunjung memberinya kepastian. Bagi yang tertarik membaca, monggo dilanjut. Bagi yang bosen, silahkan di skip.

Saya seorang mahasiswa di salah satu universitas di Pulau Jawa. Saya seorang pengurus organisasi dan suatu hari saya diminta untuk menjadi delegasi dalam acara LKMM mahasiswa sejurusan dengan saya di kota X di Pulau Jawa. Ini adalah pengalaman pertama saya bertemu dengan teman dari berbagai suku. Dan di sini jugalah saya bertemu dengan dia. Namanya aku samarkan jadi Fariz, seorang mahasiswa di salah satu universitas di Pulau Sulawesi. Selama acara berlangsung kami tak banyak terlibat komunikasi. Hanya sekedar berkenalan dan say hello saja di hari berikutnya ketika kami berpapasan.

Awal dari semua ini bermula ketika acara LKMM tersebut telah usai. Awalnya dia dulu yang menghubungiku lewat line. Kemudian kami mulai terlibat banyak komunikasi. Awalnya saya merasa biasa saja. Namun sepertinya orang jawa benar. Witing tresna jalaran saka kulina. Saya pun perlahan mulai nyaman dengan keberadaannya. Namun ternyata kenyamanan itu tidak bertahan lama. Fariz mulai berubah akhir-akhir ini. Dia selalu lama membalas chat saya bahkan pernah seharian kami tidak komunikasi. Yah namanya juga orang LDR. Hanya bisa mengandalkan komunikasi.

Sekali duakali dia seperti itu saya bisa memaklumi. Namun semakin lama dia tidak berubah. Dan saya mulai (agak) menjauhinya. Kebetulan saya juga punya teman sekelas yang berasal dari kota yang sama dengan Fariz. Dari dialah saya meminta bantuan untuk mencari-cari informasi sebanyak-banyaknya pada Fariz. Saya beranggapan bahwa jangan sampai rasa nyaman ini berubah menjadi sayang. Dan saat sudah berubah itu saya baru tahu ternyata Fariz orang yang ngga bener. Jangan sampe seperti itu.

Namun ternyata saya gagal. Justru saya malah semakin sayang ketika dia tiba-tiba sikapnya berubah menjadi menyenangkan lagi. Dia yang beberapa hari terakhir ilang-ilanhan menjadi dia yang saya kenal. Semakin hari kami semakin dekat dan kalau ngga salah waktu itu kami sempat menyatakan perasaan kami masing-masing, namun belum sempat jadian karena kami merasa masih terlalu dini.

Ketika saya melakukan pendekatan (lagi) dengan Fariz. Ternyata di waktu yang sama teman sekelas saya juga sedang melakukan pencarian informasi mengenai Fariz. Sejauh ini belum ada informasi yang bisa membuat saya untuk mundur. Semua berjalan begitu menyenangkannya dan begitu romantisnya (menurut saya). Saya merasa ternyata LDR tak se ribet dan se menyiksa yang saya pikirkan dan saya alami dulu. Fyi, saya dulu ketika masuk kuliah memutuskan untuk LDR dengan pacar saya sejak SMP. Dan jujur saya akui saya tidak kuat,begitupun dengannya. Kami yang sudah terbiasa kemana2 bersama kemudian terpisah oleh jarak dan waktu jika ingin bertemu. Tak ada kenyamanan lagi, yang ada hanya kecurigaan pada waktu itu.

Next, balik lagi ke Fariz. Lagi-lagi memang kebahagiaan itu hanya sementara adanya.
Siang itu usai jam pelajaran berakhir, temanku yang aku mintai tolong itu mengajakku ngobrol secara privat.
Awalnya dia hanya berbasa basi mengenai bagaimana perkembangan hubunganku dan Fariz. Namun akhirnya sampailah dia pada inti pembicaraan.
Dia mengatakan bahwa Fariz di sana telah memiliki gebetan. Dan gebetannya adalah sekretarisnya sendiri (fyi: Fariz ketuanya). Saya tidak begitu saja percaya namun ketika ditunjukkan dengan foto-foto dan beberapa chit chat Fariz dengan cewek itu, akhirnya saya percaya. Bagaikan disambar petir di siang bolong, saya tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya sakit dan sesak sekali di dada.

Saat itu juga saya segera menghubungi Fariz. Saya langsung memaki-maki dia sejadi-jadinya. Tanpa mendengarkan apapun alasannya. Saya tidak mempercayai apapun yang dia katakan. Yang saya tahu hanya...
"Sayang" yang dia katakan selama ini hanya pemanis bibir saja..
Sakit. Patah hati. Ya, salah saya juga sih kenapa begitu cepat percaya, merasa nyaman, bahkan bisa sayang dengan orang yang baru dikenal. Orang jauh pula. Berbeda pulau. Hari itu juga saya memutuskan untuk pergi dari dia. Saya memblokir akunnya sehingga dia tidak ada akses lagi untuk menghubungi saya kecuali lewat grupp..

[part 2]
Cuplikan:
Saya rasa semuanya sudah berakhir saat itu juga. Namun ternyata Fariz masih menghubungi saya. Memohon-mohon di grup agar saya membalas chatnya. Namun diwaktu yang bersamaan dengan patah hati saya, datang seseorang baru yang perlahan menyejukkan hati saya. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah saya bisa memafkan Fariz atau malah berpalong pada seorang penyejuk hati itu? Simak terus part berikutnya 😊
pasang tenda emoticon-Traveller
Ijin ngekost emoticon-Salaman
kayanya seru nih dibanding ftv
huaa bingung banget ini gimana caranya nglanjutin cerita ya ._.

part 2

saya lanjut ceritanya aja ya agan aganwati semua.

jadi setelah saya blokir semua akun Fariz, otomatis dia ngga bisa sama sekali hubunhi saya kecuali lewat grup. Fyi aja, Fariz orangnya emang sweet kalo di personal chat, malah pernah ngirimin voicenote pas dia lagi nyanyiin lagunya ungu yang Laguku kalo gak salah. Tapi si Fariz tiap di cie-in sama temen2 di grup seolah nutupin dan gak terjadi apa apa diantara kita. Nah saya juga sadarnya sama sikap Fariz yang begituan juga pas abis ngeblokir dia ini. Sebagai seorang cewe yang barusan kenal sama dia dan posisi jauhan pasti ya makin curiga aja sih. Yauda saya makin mantep buat jauhin Fariz.

Fariz berlalu dan entah apa rencana Tuhan, Dia mengirimkan seseorang kepada saya. Seseorang yang mengisi sepinya hari-hari saya setelah lost contact sama Fariz, seseorang yang membuat saya berbunga bunga dengan gombalannya setelah Fariz pergi, pokoknya seseorang yang membuat saya (merasa) begitu nyaman dan damai pada dirinya. Setelah sekian lama kami makin dekat dan dekat saja. Sedangkan saya dan Fariz makin jauh dan jauh saya. Oh ya pernah waktu itu sekali saya nyeloteh gak jelas di grup nah si Fariz masih bisa kan baca chat saya kalo lewat grup. Hari itu (tumben) dia berani banget bilang "kok chat aku gadibales sih. plis dong bales chat aku" di grup. Awalnya saya mikir dia serius tp karena kedongkolan saya padanya begitu dalam ya saya mikir kalo palingan itu chat cuma dibajak temennya.

Ops balik lagi ke seseorang baru itu ya. Maaf kalo pusing bacanya soalnya alurmya loncat loncat. Jadi saya belum perkenalkan ya nama seseorang baru itu. Namanya Arief, dia juga sejurusan dengan saya namun dari salah satu universitas di luar jawa. Saya pertama kali bertemu orang ini saat kampusnya studi banding ke kampus saya. Dulu pertemuan kami terasa begitu biasa saja. Bahkan bisa dibilang agak kaku sih. Makanya saya kaget saat tiba-tiba dia menghubungi saya kembali. Nah usut punya usut ternyata Arief ini juga temenan sama Fariz soalnya pernah sama sama jadi delegasi di suatu acara yang waktu itu tidak ada saya di acara tersebut. Darimana saya tahu? Jangan salaaah. Mata mata saya tersebar dimana mana. Wehehe. Awalnya saya mengira kalau Arief ini mendekati saya karena disuruh Fariz. Tapi ternyata tidak, mereka berdua tdk cukup akrab bahkan tidak saling tahu bahwa mereka mendekati perempuan yang sama. Hufftt.

Pada suatu sore. Ketika langit jingga begitu indahnya menghiasi angkasa. Ditambah dengan suara burung-burung yang sudah mulai pulang ke rumahnya. Hari itu secara tiba tiba saja ( menurut saya), Arief nembak saya.
"Gue mau ngomong sama lo" ucapnya lewat telepon.
"Iya ngomong aja gih."
"Lo tau gak gue hari ini menang lomba. Yang waktu itu gue ceritain. Gue seneng banget karena ini pertama kalinya gue menang setelah sekian kali nyoba tapi gagal terus"
"Wah sumpah lo??? Ihhhh gue ikut seneng yaa!!! Lo utang traktir gue berarti yaa. Hahaha."
"Tapi bukan itu inti yang sebenernya pengen gue omongin."
"Oh ya. Terus apaa?" tanya gue.
"Gue mau hari ini jadi hari yang super super spesial buat gue. Pertama karena gue berhasil menang lomba yang selama ini gue impikan. Kedua gue pengen jadian sama cewe yang gue sayang mulai hari ini."
Degggg.... Sumpah saya kaget banget. Kaget campur takut. Ya bukannya saya kePDan ya. Tapi kata-katanya udah menjurus kalo dia mau nembak saya. Kenapa saya kayak gak seneng? Ya karena sebenernya saya emang masih ragu apakah saya beneran naksir sama Arief ataukah di lubuk hati saya yang paling dalam masih ada cinta untuk Fariz.
"Haloo. kok diem sih." ucapnya lagi.
"Oh ya. Bagus dong. Coba dulu aja nembak cewe yang lo sayangi itu. Siapa tau bener2 bisa kewujud hari ini jadi hari spesial lo." jawabku. Entahlah saya merasa bodoh dengan menjawab seperti itu. Itu tandanya saya ngasih jalan ijo dong buat dia.
"Iya. Jadi sebenernya cewe yang gue sayang itu lo. Lo mau gak jadi cewe gue?"
Tuhkaannn dugaan saya gak meleset. Saya sempat terdiam lama. Hingga akhirnya suara Arief di seberang telpon saya menyadarkan lamunan saya. Saya mempertimbangkan banyak hal. Apa yang akan terjadi jika saya menerimanya dan juga sebaliknya.
"Gue musti jawab sekarang?" tanyaku
"Ya iya sih. Gue sih berharap banget biar hari ini bener2 jadi hari spesial gue karena gue dapet dua keberuntungan sekaligus. Dan semoga setelah ini keberuntungan keberuntungan lainnya bakal ngikut dibelakang"

Sebenarnya saya masih ragu untuk menerima cintanya, ya jelas karena kami pdkt itu gak lebih lama dari masa pdkt saya dengan Fariz. Dan entah apakah gerangan yang membujuk otak saya untuk bilang "iya" dengan mudahnya atas pertanyaan Arief tersebut. Namun sejatinya saya tidak gampangnya menyesali perbuatan saya. Saya mencoba enjoy dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Toh witing tresna kan jalaran saka kulina. Dan ternyata saya pun mulai bisa menikmati masa-masa pacaran LDR kami. Yang hampir tiap malam dihabiskan dengan telfonan, saling kirim foto. (maklum awal-awal pacaran, masih anget-angetnya).

Lalu bagaimana dengan Fariz? Entahlah saya juga tidak pernah berkomunikasi lagi dan mendengar kabar apa-apa lagi darinya. Pernah sih waktu itu ada kabar kalo emang kampusnya Fariz lagi disibukkan dengan berbagai macam ujian. Saya sedikit lega juga sih. Mungkin dengan seperti itu, Fariz bisa mengalihkan perhatiannya dari saya ke kesibukkannya tersebut. Kasian juga kalau terus-terusan galau karena saya memutuskan hubungan ini tiba-tiba. Loh kenapa saya masih mengkhawatirkan Fariz? Harusnya saya tidak perlu memikirkannya lagi. Toh dia di sana pasti juga udah seneng-seneng sama sekretarisnya itu.

Cuplikan:
[Part 3]
Apakah keputusan saya menerima cinta Arief adalah keputusan yang tepat? Bagaimana kelanjutan kisah cinta LDR kami? Apakah bisa bertahan?
Lalu bagaimana kabar Fariz? Apakah dia masih ngotot menghubungi saya lagi setelah ujian atau sudah tidak peduli lagi?
Stay tune. Part 3 will come so soon
Whoahahaha... lucu juga, demen bener LDRan. Di lanjut sist, cemungut updatenya....

part 3

Seperti orang pacaran pada umumnya. Awalnya terasa manis dan begitu menyenangkan. Arief pernah waktu itu rela dateng ke kotaku diam-diam. Ceritanya surprise gitu, dan aku (lumayan) kaget kok dengan kedatangannya haha. Dan semenjak kedatangannya itu hari2 selanjutnya kami jadi makin manis (menurutku). Di part 3 ini akan banyak kata menurutku di dalan kurung. Kenapa? Cari tahu jawabannya di part selanjutnya ya :3

Dengan datangnya dia ke kotaku, kami memanfaatkan momen yang ada sebaik-baiknya (menurutku). Seperti menghabiskan setiap waktu bersama dan tak lupa berfoto ria untuk kenang-kenangan. hehe. Dia juga sempat aku kenalkan dengan teman-temanku di sini, dan mereka ternyata cepat akrab. Emang sih Arief ini orangnya humble abis. Dulu pas dia studi banding ke kampusku juga gampang banget akrab sama tuan rumah kecuali aku sih, ya karena aku dulu gak tertarik sama dia gitu ceritanya.

Saat Arief datang, saat itu juga sedang ada temanku dari kampung halaman yang datang mengunjungiku juga (ceritanya saya ini anak rantau gan). Bukan hanya teman, saya sudah menganggapnya saudara sendiri. Namanya Mila, pertemanan kami sering diwarnai cekcok tapi justru itulah yang membuat pertemanan kami langgeng dari sd sampe sekarang. Kok bisa? Ya karena kami mencekcokkan hal-hal atau pilihan yamg terbaik untuk maisng2 dari kita. Mila orangnya cantik, yah walaupun gak lebih cantik dari aku hehe. Dan seperti yang aku duga, Arief juga cepet akrab sama Mila. Yah kan emang Arief orangnya humble (menurutku).

Selain menghabiskan waktu berdua aja sama Arief, terkadang aku juga mengajak Mila untuk jalan bareng. Yah walaupun ntat ujung2nya dia jadi tukang fotonya aku sama arief wkwk. Toh Mila juga enjoy aja gak protes sedikitpun.

Hari itu Arief minta tolong aku untuk dianterin beli tiket pesawat buat pulang. Liburannya cuma sampe besok aja dan mau gakmau ya hari ini harus beli tiket. Tapi hari itu juga aku harus menghadap dosen tentang suatu kesalahpahaman yang aku lakukan bersama teman sekelasku. Sebenrnya aku sudah bisa memperkirakan palingan nanti abis dhuhur aku sudah bisa menemani Arief beli tiket. Namun sampe pukul 13.00 dosen ku belum ada tanda2 bisa ditemui. Mau gak mau akupun meminta bantuan Mila untuk mengantarkan Arief. Aku percaya Mila tidak akan menghianatiku dan Arief (menurutku) tidak akan tertarik pada Mila karena memang Mila bukan tipe cewe idamannya. Mereka pun pergi mencari tiket bersama dan akupun juga bisa lega menemui dosenku.

Hari kepulangan Arief pun datang. Aku dan Mila mengantarkan Arief ke bandara. Saat itu aku sangat kebelet pipis sehingga aku memutuskan pergi ke kamar mandi dulu. Aku minta Mila untuk menemani Arief saja ya memang karena tempat ini kan masih asing bagi Arief. Setelah selesai dari toilet, akupun segera balik ke tempat awal tadi. Namun betapa kagetnya aku, dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas Arief dan Mila sedang saling bertatapan dan berpegangan tangan. Ketika aku sudah dekat dengan mereka, mereka pun seperti agak kaget dan spontan melepaskan genggaman mereka.

Namun aku tidak mau terlalu memikirkannya. Aku tidak mau buruk sangka apalagi dengan sahabatku sendiri dan pacarku yang (menurutku) baik dan sayang banget sama aku. Terrbukti kaaaan. Dia jauh-jauh dan mahal-mahal ke sini cuma buat aku. Sepulang dari bandara aku tetap mencoba asyik seperti biasanya dengan Mila. Namun (menurutku) Mila sedang gelisah dan menyembunyikan sesuatu. Tiap aku tanya kenapa dia selalu bilang gakpapa dan cuma butuh refreshing karena terlalu penat. Akhirnya akupun mengarahkan stirku ke suatu cafe di puncak yang pemandangannya gak pernah gagal buat bikin orang tersenyum lega. Daaan. Yappss berhasil. Mila kembali jadi rame kayak biasanya.

Cuplikan
[part 4]
apakah jawaban - jawaban yang sebenarnya dibalik kata "menurutku?"
temukan jawabannya di part selanjutnya.
stay tune!!
Judul nya ngeri :3