alexa-tracking

[Share] Too Good to be Bad, too Bad to be Good. (Parental Advisory advised)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55cc807260e24b98458b456e/share-too-good-to-be-bad-too-bad-to-be-good-parental-advisory-advised
Thumbs down 
[Share] Too Good to be Bad, too Bad to be Good. (Parental Advisory advised)
Selamat Sore/Pagi/Malam untuk warga Kaskus, serta warga SFTH khusus-nya.

Salam sejahtera.

Sebelumnya, mohon perkenalkan, nama gue Mako.

Kenapa gue buat thread ini?
Belakangan ini gue sering main-main ke Sub-Forum ini, dan gue lihat banyak banget cerita yang disajikan disini.
True Story, mulai dari yang bergenre Misteri sampai bergenre Percintaan.
Gue tergerak menulis disini selain mau menyalurkan keinginan gue untuk menulis, juga untuk membagi pengalaman hidup gue, mungkin bisa bermanfaat untuk orang yang membaca-nya. Entah itu akan ada yang terbawa masuk ke lingkaran yang gue alami, atau malah menjauhi segala perbuatan seperti perbuatan yang gue lakukan.

Kenapa berjudul seperti judul yang gue cantumkan?
Gue adalah seorang pria, umur gue 31 Tahun, bukan mau menyombong gue orang yang taat beragama (gue Muslim btw, tapi nantinya tolong jangan bawa atmosfer cerita-cerita gue kearah SARA), gue juga sering bersedekah dan beramal, segala kewajiban dan sunnah yang dianjurkan oleh agama gue, sebagian besar gue laksanakan. Gue sudah beristri dan mempunyai 2 orang putri.
Saat ini, gue bekerja disalah satu PMA di sekitaran Cikarang, dan gue memegang jabatan cukup penting di perusahaan tempat gue bekerja, dan kompensasi dari pekerjaan gue ini memang besar.
Dibalik kehidupan yang menurut gue ideal, gue adalah cowok bajingan yang doyan main cewek.
Dari Gadis, Janda, sampai bini orang, jablay, angel karaoke gue garap, beberapa berakhir bahagia, beberapa berakhir sengsara.
Dari kenalan di media sosial hingga kenalan di McDona*d, dari Forum bokep hingga BO di Twitter, dari tempat Karaoke hingga Massage++ kalau ada waktu dan kesempatan pasti gue garap.

Hingga saat ini, sisi lain dari gue belum (dan gue harap tidak) ketahuan sama bini gue serta keluarga besar gue.
Hanya beberapa teman dekat gue dan partner in-crime gue yang tahu kalau gue itu adalah bajingan.

Cerita seperti ini adalah cerita klise, cerita kehidupan sehari-hari yang lekat ditelinga, tapi sebelum anda bosan dan sebelum gue menjemukan, mohon baca cerita dari dalam hati gue, lalu judge sesuka hati ente semua.

Segala cerita yang akan gue sajikan memuat cerita kehidupan nyata gue. Silahkan tentukan sendiri tingkat kebenaran dari cerita gue, dan gue gak memaksa ente semua menelan bulat-bulat informasi yang gue sajikan dalam cerita-cerita gue.

Segala cerita yang akan gue sajikan menyimpan karakter yang gue samarkan identitas-nya demi menjaga privasi ybs, tetapi gue tidak akan menyamarkan tempat dan waktu-nya. Dan segala cerita yang gue sajikan pada bagian intim gw tekan ke-21++-an-nya seminimal mungkin, karena yang gue sajikan bukan cerita detil gw ML ke cewek selain bini gue, tetapi Cerita Pra- dan Pasca- penggarapan.

Mohon untuk tidak SARA, dan keep silent if anyone of You recognized me.

Salam Damai,

Mako.

Spoiler for Index:
image-url-apps
ijin nenda dulu gan emoticon-Big Grin kaya nya ada adegan yang berbau bb++ nih emoticon-Genit
image-url-apps
oke agan mako silahkan di lanjut ya emoticon-shakehand
KASKUS Ads

Isha, garapan ter-update.

Mari kita mulai dari 'garapan' ter-update.
(Mohon kaskuser wanita yang membaca kata "garap" untuk menahan segala emosi-nya, ini adalah istilah yang gue gunakan untuk mempermudah gue menjelaskan kepada kalian)

Sekarang, 13 Agustus 2015, udah malam, gue masih berada dikantor gue disekitaran Cikarang. Gue punya ruangan sendiri di perusahaan tempat gw bekerja, cubical kaca berukuran 3x2 m, cukup luas untuk menaruh perlengkapan kerja gue dan menunaikan ibadah di ruangan gue.
Disela gue menulis, gue barusan menelpon bini gue kalo gue mau pulang malem, nunggu macet agak terurai di Tol Cikampek-Jakarta.
Disela gue menulis juga, gue sedang menunggu balasan chat gue di BBM.

Dengan siapa yang gue BBM-an?
Bukan bini gue, bukan keluarga gue, dan bukan juga teman kerja gue.
Gue lagi BBM-an sama seorang wanita yang berumur 33 Tahun, seorang istri dari PNS Jakarta Timur, yang baru mempunyai 1 orang putra berumur 4 tahun.
Wanita ini bernama 'Isha' (disamarkan), gue sudah kenal dia dari 4 bulan yang lalu, Isha adalah seorang karyawati PMA disekitaran Cikarang juga. Dari sejak 4 bulan yang lalu, gue sudah melakukan hubungan intim dengan Isha sebanyak 3x, ketiga2-nya saat gue dan Isha 'lembur' diperusahaan masing-masing di hari Sabtu.

Isha, Hijabers, tinggi badan sekitar 160 cm, dengat berat badan 50-55 Kg, chubby bukan BBW, wajahnya khas wanita Sunda, putih, wajah nya beberapa bagian terdapat bekas jerawat yang tidak tertutup dengan make-up nya, ketika membuka hijab, terlihat rambut yang lurus tetapi disemir kemerahan dibagian ujungnya, kadang kemeja yang digunakan tidak dapat menahan payudaranya sudah agak turun tapi tetap ranum dan besar, ada sedikit lipatan lemak di perutnya tetapi tidak terlalu mengganggu, ada bekas luka Caesar mengiris bagian perutnya, Isha juga mempunyai tahi lalat dibawah lipatan Payudara kanan-nya

Bagaimana gue bisa kenal Isha?
Mudah, perusahaan Isha adalah supplier salah satu material yang digunakan digunakan di perusahaan tempat gue bekerja.
Segala komunikasi mengenai spesifikasi teknis dan distribusi material merupakan tanggung jawab gue dan Isha diperusahaan masing-masing.
Dari komunikasi aktif ini lah sejak 4 bulan lalu, gw memulai perkenalan gue hingga bisa membawa Isha Check-in di Hotel Sriwijaya Cikarang.

Isha, dia adalah wanita yang menurut gue terlambat menikah, pada umur 28 tahun baru menikah dengan Suami-nya yang merupakan teman saat mereka berkuliah. Isha memang bukan tipikal wanita rumahan atau ibu rumah tangga yang hanya bekerja dirumah saja, Isha terlambat menikah juga kerena dia meniti jengjang karir yang disediakan di perusahaannya. Gue gak pernah menanyakan secara detil tentang suami Isha. Tetapi dari segala komunikasi yang terjalin dari Isha dan Suaminya, mereka tampak baik-baik saja.

Buat gue Isha memang bukan wanita garapan "sekali garap, selesai". Saat ini Isha adalah wanita yang gue larikan segala yang gak gue dapet dari bini gue. Isha merupakan wanita yang berpenampilan sehari-hari menggunakan Hijab, gak terlihat sama sekali bahwa Isha adalah wanita yang bisa digarap. Malah terlihat merupakan wanita baik-baik dengan kehidupan normal.
Sebaliknya, saat gue dan Isha ada didalam ruangan tertutup, mungkin hanya Allah yang ngelihat, sisi liar dari Isha keluar.

Sebelum percakapan ini, sudah banyak komunikasi via BBM, 80% mengenai pekerjaaan, waktu itu gue iseng,

"Sha, Kamu tuh suka cowok ngerokok atau gak sih?", tanya gue suatu Rabu siang di bulan May kemarin. Bulan May adalah saat-saat dimana gue mulai menunjukan gelagat mesum gue ke Isha, dan dapet sinyal positif dari Isha.
Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.

"Aku malahan perokok Pak, tapi kadang-kadang aja sih kalo lagi mau, Kamu emang perokok pak?.", Isha memang selalu manggil gue dengan sebutan "Pak" kalau di BBM, WA, email, dan apapun yang berbau surel elektronik, karena mungkin memang menghormati gue sebagai Costumer produk-nya dia.

"Ya Aku kan ngerokok, waktu kita makan bareng Bos-bos di Mang Kabayan kamu kan ngeliat."

"Oh iya ya Pak, Aku lupa eh... hahaha",

"Kamu malah yang gak keliatan ngerokok waktu itu", tulis gue.

"Rokok-ku lagi habis eh Pak, mau minta ke kamu, malu Pak... hahaha", gue waktu itu emang gak nyangka kalo Isha ngerokok, secara gue masih mandang Jilbab rapih-nya doi.

"Emang rokok mu sama kayak Aku?", rokok gue Marlboro Ice Blast, banyak sih wanita garapan yang rokok-nya ternyata sama kayak gue.

"Loh iya Pak, Aku kan Ice Blast doyan-nya",

"Wah, kapan bisa ngopi & ngerokok bareng nih Sha, sekalian lah kamu roko'in Aku... emoticon-Stick Out Tongue ", nah, gue selalu menaruh emoticon ini --> emoticon-Stick Out Tongue dibalik modus mesum gue buat ngeliat respons dari calon garapan gue, lagi-lagi hal dasar yang klise.

"Oalah, kalo ngeroko'in kamu takut dimarahin suamiku lah Pak... hehehe", wah, masih 'bisa' nih. Insting gue bekerja.
"Tapi, kalo ngopi & ngerokok bareng mah boleh pak, kapan juga bisa kalo lagi di Cikarang Pak", wah lagi, ini ada kesempatan. Insting gue bekerja makin hebat.

"Hayuk, besok ya!! after work, di Cifest Cikarang, Aku yang traktir. Sekalian, bawa proposal material Kamu juga". Oiya, gue lupa tulis, Isha profesi-nya Sales-Marketing. Gue mencoba menyelipkan 'alasan' pekerjaan supaya Isha sungkan untuk menolak, dan gue selalu coba jadi 'the Gentleman' dengan kata-kata 'aku yang traktir', walaupun secara etika ilmu pendekatan Sales, sang Sales lah yang harus-nya traktir.

"Yah, jangan besok deh Pak. Aku lagi ke Tg. Priok Pak, ke Bogasari. Gimana kalau Jumat after-work Pak? Biar lebih panjang waktu ngopi-ngopinya.", Nah, disini gue mulai Pede kalo Isha bisa untuk digarap, pelan tapi pasti.

"Bener juga ya Sha, Jumat malem di Starbucks Cikarang Baru aja deh, gak usah ke Cifest segala, gimana?"

"Okay Pak, siap ajalah kalo Saya, berdua aja nih?", pertanyaan ini sering gue dapet dari calon garapan gue, buat gue pertanyaan ini sulit banget untuk dijawab, disatu sisi gue takut kalau calon garapan gue emang gak minat yang aneh-aneh, dan kalau gue jawabnya "iya berdua aja" ketahuan modus mesum gue. Tapi disisi lainnya juga gue berani, dengan insting dan modal PD, gue selalu jawab "Iya berdua aja"

"iya lah, berdua aja deh, biar Aku enak ngedeketin kamu-nya... emoticon-Stick Out Tongue ".

"Idih kamu Paaaakkk, inget Istri paaaakkk... hahaha...", udah mulai bisa digoda-menggoda,

"Btw, jangan lupa ya Sha",

"Apa tuh Pak?",

"1. Bawa proposal material baru kamu, sama 2. Minta izin ke suami kamu buat ngeroko'in aku...hahaha"

"Iya, aku bawa pak proposalnya. Sama nanti juga aku tanya ke Suami... hahahaha, si Pak Mako vulgar melulu nihhhh... hahaha".


Dari petikan chat gue dan Isha, gw dapet 2 hal krusial, Isha ngerokok, dan Isha gue anggap garap-able.

Jumat dibulan May pun tiba, gue agak harap-harap cemas Isha gak ada komunikasi duluan nanyain acara ngopi bareng malam-nya. Seharusnya kalau memang Isha menanggapi sinyal mesum gue secara postif, pasti dia yang nanyain duluan.
Habis Jumatan, gue duluan nanya ke Isha via BBM,

"Shaaa, jadi gaaaaakk?, gak ada kabarnya.... hiks..."

"Jadiiiii Paaaakkkk... hahaha... Aku keluar jam 5 dari kantor pak, sama-sama tunggu aja ya kalau datang duluan."

"jangan lupaaaaa Shaaaaa, proposaaaaaaallllll"

"iyaaaaaaaaa"


Jumat malam pun tiba, Isha ternyata sudah sampe duluan di Starbucks Cikarang Baru, setengah jam lebih dulu daripada gue.
Kami ngobrol panjang x lebar seluas-luasnya sambil menghabiskan Kopi dan rokok, dari jam 6 sore hingga 10 malam, tidak berhenti kami mengobrol.
1 hal yang membuat gue sadar kalo Isha kemungkinan garap-able: Tidak satupun topik pembicaran Isha melenceng kearah Suami-nya. Hanya ada 1 momen Isha di telpon suami-nya, sekitar Jam 8 malam. Itu pun Isha menerima sambil berdiri, dan agak menjauh dari tempat duduk kami.

"Dicariin suaminya yaaaa....", canda gue.

"ohh, Iya Pak, nanyain aja lagi dimana",

"udahan aja nih? mau pulang?", sergah gue.

"gak kok pak, yang penting udah tau aja Aku lagi dimana"

"Terus bilang apa sama papih?"
gue kepo sambil bercanda lagi,

"Ya bilang lagi nongkrong aja di Starbucks Cikarang", kelihatan air muka Isha agak terganggu sama pertanyaan gue (persepsi gua aja ya). Gue putuskan untuk belokin ke hal lain-nya.

Sekitar jam 09.50 malam, rokok gue sebungkus baru beli sudah habis.

"Nih pak, rokok aku aja nih pakai", sebenernya gue udah agak mual ngabisin 20 batang rokok Marlboro Ice Blast dalam waktu 3-4 jam, gak makan nasi dan cuma ngemil cake-cake di Starbuck saja. Gue liat di kotak rokok Isha masih sisa sekitar 10, dia emang gak terlalu banyak ngerokok. Sama gue jadi agak pesimis sama potensi garapan gue ke dia, karena dari tadi ngobrolin-nya masalah kerjaan sambil sedikit-sedikit bercanda masalah Politik dalam negeri (trust me, umur kepala 3, udah pasti ngomongin Politik).

"Udah gak usah, kayaknya udah kemaleman juga ya Sha. Pulang aja yuk?", ajak gue.

"Iya pak, udah mau jam 10 nih, untung besok Sabtu ya, bisa tidur sampe siang..",

Kami pun beres-beres meja kami, dari Powerbank sampai kabel charger Laptop berantakan diatas meja sambil basa-basi tentang kemacetan.

"Eh ini pak, Proposal Aku eh, udah diketikin masa gak dibawa sih pak.."

"oh iyaaaa.." Muka gue manis-manisin, padahal gue gak terlalu perlu itu propsosal, toh lewat email juga bisa. Dalam hati gue: "siaaaaallll, susah niiiihhh".

Gue berpikir, kenapa Isha mau diajak nongkrong sampai malam sama gue cuma gegara gue nanyain tentang rokok, apakah karena prospek suplay material, apakah ini, apakah itu.

Lalu Insting dan PD gue berjalan lagi. Masih ada 1 jurus yang lupa gue keluarkan.

Gue dan Isha sama-sama jalan ke Mobil masing-masing.

"Daaaahhh Pakkk, ditunggu kabar baik-nya Pakkkkk", Mobil Datsun Go+ Panca Isha terparkir berbeda 2 mobil dari Mobil gue, dia melambai sehabis masukin tas laptop-nya ke kursi belakang. "Kabar baik-nya" me-refer ke proposal material perusahaannya Isha.

"Iya Shaaa, Senin aku bicarakan dulu sama Boss Botak yaaa...", atasan langsung gue berkepala plontos, dan Isha juga sudah pernah ketemu.

"hahaha, dosa loh pak sama atasan kurang ajar gitu...", sambil berdiri di samping pintu mobil-nya Isha tertawa. Setelah gue masukin printilan barang bawaan gue ke kursi belakang, gue langsung menghampiri Isha yang masih memanaskan sejenak mesin mobilnya.

"Shaaaa, lupa nanya nih Aku.", gue melambai-lambai didepan mobil Isha.

"Apa yah pak?", kaca mobil yang tadinya tertutup sebagian diturunkan oleh Isha. Gue mendekat, agak membungkuk supaya lebih dekat ke muka Isha, dengan berusaha berbicara tegas tapi tidak terdengar orang lain selain Isha.

"Udah tanya belum ke Suami-nya? Udah izinin belum kamu ngerokoin Aku?", disini, dimomen ini, gak ada canda dimuka gue, dimomen ini juga, gue mempertaruhkan segala potensi dan kredibilitas gue. Garap, garap sekalian. Hancur, hancur sekalian. Deg...deg...deg.. ada sekitar 3 detik mata gue dan Isha saling tatap, gak tahu apa yang ada dipikiran Isha saat itu. Lalu, Isha mulai menjawab.

"Pak Mako, Aku ya masa minta izin ke Suami ku, malah ribut nantinya." Gue sebenarnya terkesima sama keluguan Isha (atau memang Isha juga ada sinyal ke gue, ada jawabnya di Cerita yang akan datang).

"Serius lah Sha. Itu juga kalau kamunya gak apa-apa", sergah gue sambil sedikit senyum.

"Kenapa nanyanya baru sekarang sih pak? Udah mau pulang juga niiihhh", Waduh, ini gue juga baru ngeh, bajingan kok ya begok, dalam hati gue.

"Yaaa, jawab aja lah, mau atau gak? Serius nih", Kembali gak ada lagi canda dimuka gue. Ada sekitar 5 detik kesunyian diantara bibir dan telinga kami, tetapi beberapa cercah cahaya berpendar bolak balik diantara mata kami.

"mau gak yaaaa?" Pecah sudah momen melankolis saat Isha berkata itu sambil menaruh telunjuk tangan kanan didagunya. Gue langsung menggerenyitkan dahi gue sambil agak menjauhkan muka gue dari sisi jendela mobilnya, tanda kalau gue agak kesel. Melihat itu, Isha mengisyaratkan gue untuk mendekat lagi dengan memainkan telunjuknya dengan tanda memanggil.

Gue dekatkan lagi kepala gue ke jendela mobil Isha.

"Nanti ya, next time aja, tapi ngopi sama ngerokoknya jangan di Starbucks", Isha lalu mencium bagian dalam jemari di tangan kanannya sambil bilang "mmmuuuaach", lalu sedetik kemudian jemarinya ditempelkan ke pipi kiri gue. Gue mundur selangkah, lalu tersenyum ke Isha, dia pun balik senyum ke gue.

"Dahhh paaaakkk", sambil memasukan perseneling mobil ke gigi pertama.

"Daaaahhh Shaaaa, Aku tunggu ya kabar baiknya".

Gue senang, Isha Garap-able.








Inget ini:

Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.

Bukannya menyombong lagi, gue lelaki yang cukup menarik dilihat.
Kakek gue keturunan Arab asli, Nenek gue keturunan Belanda asli. Jadi lah bokap gue anak tunggal mereka, dan gue menurunkan sifat fisik dari bokap gue.
Mata gue teduh, hidung gue mancung, kulit gue sawo matang, tinggi gue 178 cm dengan berat 75 Kg, ideal menurut gue, facial hair gue juga tumbuh bagus didagu & bawah hidung gue.
Gue juga punya kepribadian supel, dan gambang deket sama orang lain.
Salah satu bakat yang gue banggain adalah, gue mampu membuat orang berubah pikiran sesuai yang gue mau.

Jadi, gue rasa Isha tertarik sama gue karena beberapa parameter itu.
Fix, gwa masang velbed disini.
Ayo om, jangan sungkan2 nge-update ceritanya yaaaa emoticon-thumbsup
image-url-apps
Bookmark di rekomen sm abang di atas gw..

Salken yah gaN...

@luckyismine : coba duduknya geser dikit.. emoticon-Stick Out Tongue
image-url-apps
ijin tebar pesona dimari gan emoticon-Betty
lancroot kan kisahmu gan emoticon-Malu (S)
image-url-apps
Fix gw juga disini soalnya ada bb+ nya emoticon-Cool
image-url-apps
wow garapable emoticon-Belo

ijin baca om, ceritanya kayanya bakal seru
image-url-apps
huanjir cerita keren
mendadak mood ngaskus gue balik lagi
Nice story,, Ero detected. .
Tpi satu hal,, saran aq ajh yah,, ksih shift time frame sma sedikit penyamaran tempat,, klo qm kasih informasi sedetail itu,, apalagi ciri fisik qm,, pasti ketahuan,, ujung2-nya nnti ad PK alias Pahlawan Kesiangan. .
emoticon-Malu

Saran aq ajh loooh. .
emoticon-Malu

Terus,, masalah Ero,, jgn terlalu Ero yah,, nnti bisa disunat sma Momod loh. .
emoticon-Matabelo

Nice share,, and keep trying yah. .
image-url-apps
anjir SSI tingkat dewa nih emoticon-Ngakak
image-url-apps
ijin nginep ye gan. suka nich cerita yg memacu adrenalin...emoticon-Genit, btw salken gan and keep adpet.
image-url-apps
Siang agan semua.

Thx atas atensinya, gue jadi semangat buat update kedepannya.
Mohon maaf kalau weekend ini gue gak bisa update, karena satu dan lain hal.

Salam Damai,

Mako
Quote:


Siap Ka,, yg pnting jngan terlalu kentara tempat sma timeframe-nya,, nnti berabe klo ketahuan. .
emoticon-Malu

Sekedar saran ajh sih. .

gelar tiker dlu dehh emoticon-Malu (S)
ditunggu next updatenyoo emoticon-Blue Guy Peace
Quote:


Ya ampun neng, perasaan nga dempet2 banget dah posisi gwa emoticon-Cape d... (S)


Quote:


Om kapan updatean terbarunya nih?
Akuh udah nga sabar sama FRnya nih emoticon-Genits

Friends with Benefit

Selamat Malam semua.
Sebelumnya, gue mohon maaf atas keterlambatan gue meng-update thread ini.
Gue beberapa minggu ini sedang sibuk pindah tempat kerja.
Gue mungkin sedang dicoba lagi sama Allah, tapi gw dicoba dengan jabatan, wanita serta harta.
Selama ini, gue selalu gagal melewati cobaan ini.
Alhamdulillah, kerjaan gue yang baru ini memberi kompensasi lebih baik lagi daripada kerjaan gue sebelumnya.

Everything always great in my life. Perfect, I would say.

Malam ini gue sempatkan untuk update, semoga masih ada yang mau memberi atensi terhadap tulisan gue. Okay, here we go.

Cerita ini terjadi belum lama ini. Sekitar bulan February 2015.
Garapan gue? (Mungkin kita tinggalkan dulu Isha).
Garapan gue saat itu adalah Kakak kelas gue di kampus gue saat kami berkuliah di Bogor dahulu.

Dia, kita sebut saja Elle.
Gue dan Elle berbeda umur 2 tahun, tetapi berbeda 1 angkatan. Kami berkuliah di Bogor. Gue gak akan bilang apa kampus kami. Gue kenal Elle saat gue semester 3, dan Elle semester 5.

Saat itu, kami mengambil mata kuliah pilihan yang sama. Gue saat itu sudah telat masuk kuliah 10 menit, selama 20 menit gue mencatat isi dari mata kuliah yang disajikan oleh dosen. Tetiba, pintu kelas berdetak. Ada yang mengetuk pintu dari luar. Dosen kami yang dikenal fleksibel mempersilahkan masuk orang yang mengetuk.

"Maaf pak, Saya terlambat, boleh Saya masuk pak?". Terdengar suara wanita yang mengalihkan mahasiswa dari mencatat, termasuk gue. Wanita itu Elle. Sejak kuliah Elle sudah memakai hijab. Elle termasuk wanita berhijab dengan style yang keren di jaman gue kuliah dulu. Trust me, disaat itu sangat jarang mahasiswi menggunakan hijab.

"Ya, silahkan masuk, sekalian tolong kamu tutup pintunya". Dosen kami pun melanjutkan kuliah.

Gue memperhatikan Elle kebingungan mencari tempat duduk, terlihat teman seangkatan Elle tidak menyisakan tempat duduk untuk Elle.
Ketika Elle berselayang pandang, tatapan kami bertabrakan diudara. Gue langsung menaikan alis gue sambil menunjuk bangku kosong disebelah gue, baris kedua dari depan.

Elle mempunyai senyuman khas, sambil tersenyum Elle langsung menghampiri dan duduk disamping gue.

"Makasih yak. Lw semester 3 ya?" kata Elle sambil duduk.

"Iya kak, gue Mako", Kata gue sambil menjulurkan tangan.

"Gue Elle, gue liat ya catetan lw". Elle mengeluarkan buku catatannya, gak menggubris tangan gue. Gue agak malu saat itu, tapi emang kayaknya Elle gak melihat gue menjulurkan tangan. Buru-buru gue tarik tangan gue.

"Yaudah kak, gue sambil nyatet ya. Lw liat aja kalo emang bisa baca tulisan gue". Tulisan gue jelek.

"Waduh, masa sih? gak apa-apa lah, masih bisa gue baca kok". Kata Elle sambil melihat tulisan gue.

Perkenalan simple dikelas itu membawa gue dan Elle jadi teman hingga saat ini. Selama kami berkuliah, gue sering meminta bahan kuliah Elle tahun sebelumnya untuk gue fotokopi. Sering gue ajak Elle untuk jalan berdua. Muter Bogor pakai motor gue.

Elle, tipikal wanita rapuh yang mau terlihat tegar didepan semua orang, sejak gue mengenal dia hingga saat ini, Elle masih berstatus 'single' walau Elle punya pacar pilihan Orang tua-nya. Saat dulu gue kuliah pun gue juga sempet nembak Elle, tapi ditolak dengan alasan mau fokus kuliah. Elle cantik buat gue, body Elle kurus tapi seksi. Bahkan Elle pernah menjadi model Hijab di beberapa portal berita nasional.

Gue dan Elle masih sering berkomunikasi sejak dia lulus duluan. Kadang intens, kadang hilang. Saat intens, Elle sering berkomunikasi tentang pacarnya yang merupakan 'pilihan' orang tuanya. Dari situ gue tahu kalau hidup Elle masih diatur oleh orang tuanya, dari situ juga gue tahu kalo banyak kemauan Elle yang gak terwujud, makanya gue bisa bilang dia wanita yang sangat rapuh.

Komunikasi gue dan Elle sempat vakum saat gue mulai tunangan dan menikah sampai gue punya putri kedua gue, nomor telepon Elle yang gue simpan pun gak bisa dihubungi.

Bulan May tahun lalu. Gue sedang baca portal berita nasional yang membahas trend Hijab stylish. Disitu ada beberapa Hijabers yang sangat stylish menurut gue. Dan salah satunya adalah Elle. Beruntung portal berita itu memberikan akun Instagram para hijabers tsb. Setelah ketemu akun yang berkaitan dengan name Elle, gue langsung follow dan comment dibeberapa posting Elle. Gak lama, Elle follow balik akun gue.

Sejak saat itu, gue dan Elle mulai berkomunikasi lagi. Elle saat ini sedang sibuk dengan toko online serta mengurus rumah makan milik orang tuanya di bilangan Bogor. Gue dan bini gue pernah makan di rumah makan itu, tapi gak ngeliat Elle.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mungkin cukup tentang Elle, ayo kita beralih kembali ke cerita penggarapan.

Malam itu di akhir bulan Januari, gue memang pulang telat sampai rumah. Gue lembur dikantor gue. Banyak yang gue urus saat itu. Malam sudah menunjukan pukul 23.45 malam, gue udah siap mau tidur. Tetiba ada notifikasi WA. Saat gue buka hape, terlihat pesan WA tsb dari Elle.

"Mako...". Elle hanya menulis nama gue dipesannya. Gue pun membalas sambil malas.

"Ya Elle?". Tidak ada balasan sama sekali dari Elle sampai beberapa hari. Sampai akhirnya Elle membalas chat gue, 3 hari dari chat terakhir gue.

"Gak apa-apa Ko... Iseng aja". Elle membalas di jam-jam manusia normal sedang tidur. Termasuk gue yang sedang beristirahat di pukul 01.00 pagi saat itu.

Siangnya, gue telepon Elle. Gue ngira ada hal galau terjadi ke Elle kalau Elle mulai aneh begitu, kebetulan juga kantor gue ada acara Team Building di daerah Bogor akhir pekan itu, gue sekalian mau ajak Elle ketemuan. Butuh 5x nelpon berulang-ulang sampai Elle mengangkat telepon dari gue.

"Kenapa Ko?"

"Lagi galau lw ya neng?"

"Gak juga ah, ada apa?"

"Itu kemaren WA gue aneh begitu kenapa?"

"Biasa lah Ko, gue kan emang error kalo jam segitu". Yups, gue tahu Elle emang sering Error di jam-jam tidur orang normal. Error dalam arti sering galau sendiri. Apalagi dengan kondisi wanita single di umur kepala 3, Elle mungkin sering berpikir aneh tentang ini-itu yang gue gak bisa bantu juga nerjemahin apa yang Elle rasa ke kalian yang baca.

"Oia ya. Btw, gue ada acara kantor nih di Bogor pas weekend. Ketemuan yuk". Gue langsung mengalihkan.

"Oya? Sampe jam berapa acara lw? Boleh lah lw ajak gue ngopi".

"Ampe jam 5, kencan aja yuk di ******, malmingan kita ya? Daripada lw galau terus". (Atas saran sis diatas, gue lebih sensor lagi waktu dan tempat)

"Beneran yaa? Nanti hubungin gue kalo udah selesai". Disini, gue tahu ada mood yang berganti di Elle. Terdengar dari intonasinya Elle lebih ceria.

Mungkin ada sekitar 60 menit gue ngobrol dengan Elle, ngelepas kangen juga, sambil sesekali ngobrol yang menyentuh mistar gawang.

"Neng, abis kencan besok ngapain neng? Masa cuma ngopi, makan, jalan-jalan di Mall aja?". Kata gue coba berkelok.

"Anterin gue pulang aja lah ke rumah" kata Elle.

"Ogah ah, gue takut diajak maen catur lagi sama bokap lw". Gue punya pengalaman diajak maen catur sama bokap Elle dulu waktu nganter Elle pulang pas jaman kuliah, dan gue kalah terus.

"Gue udah ada rumah sendiri Mako, udah gak bareng bokap nyokap".

"Ogah ah, malah lebih parah, nanti gue dipake asal-asalan lagj sama lw". Canda gue, tapi gue menyimpan asa juga.

"Udah gede yah lw mako... Hahaha... Lagian juga kalo lw dipake asal-asalan lw juga seneng". Mulai ikutan juga si Elle mancing.

"Dari dulu juga gede neng, lw aja gak pernah nyobain. Iya gue seneng, lw lebih seneng neng...hahaha". Kata gue makin mancing.

"Yaiyalah Koo... Sama-sama seneng... Hahaha". Belum sempet gue melancarkan serangan selanjutnya, Elle langsung motong lagi. Izin udahan teleponnya, doi lagi ada kostumer yg komplain di Rumah Makannya.

Sebenarnya gue agak merasa gak enak. Gue berpikir 'Gila, sahabat aje masih mau gue garap'.
Tetiba ada suara berbeda didalam pikiran gue: 'lah, kalau emang Elle mau digarap, apa yang salah?'

Weekend pun tiba. Gue berangkat ke Bogor. Gue pamit ke keluarga gue, gue bilang akan pulang di hari minggu. Padahal acara kantor gue hanya 1 hari di Sabtu. Dan itu pun hanya dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Sepanjang hari, gw chat di WA sama Elle. Bahas ini-itu. Nyerempet sana-sini. Gue gak tahu, apakah Elle emang garap-able, atau trying to be nice ke gue.

Segala sinyal mesum yang gue lancarkan direspons dengan positif. Hal ini yang bikin gue berharap.

Lalu, suara yang tadi datang lagi 'tuhkan, sama-sama mau kan'. Gue makin semangat ketemu Elle. Selain mau ketemu Elle, sahabat gue yang udah gak ketemu lama, sahabat gue juga yang (mungkin) garap-able.

Sambil mengkhayal ini itu serta diwarnai pergolakan bathin, ternyata acara kantor gue sudah sampai di penutupan. Gak gue sangka tim gue yang memenangkan tim terbaik hari itu. Setelah jibber-jabber dan pembagian hadiah untuk tim gue serta doorprize ini itu, acara pun benar-benar selesai. Gue sempet diajak nongkrong juga sama temen-temen kantor gue, tapu gue tolak karena gue bilang gue mau ketemu sahabat lama gue.

Gue kasih kabar ke Elle kalau gue udah on the way ke tempat kami janjian di Mall ******. Butuh sekitar 30 menit untuk kesana. Sampai disana, gue parkir mobil gue, lalu gue bergegas ke toilet, mau persiapan ketemuan. Gue selalu bawa baju ganti di dalam mobil gue. Gue juga selalu sedia parfum serta penyegar mulut. In-case kalau ada meeting diluar atau ketemu costumer. Gue selalu mau terlihat rapih dan wangi.

Selesai 'dandan'. Gue bawa balik baju yg gue ganti ke mobil sambil ngambil tas gue. Di parkiran gue telpon Elle.

"Elle, gue udah di parkiran nih. Lw dimana?". Gue buka omongan saat Elle angkat telpon gue.

"Bentar beb, gue dikit lagi selesai nih". Jawab Elle.

"Emang lagi ngapain lw Elle?". Gue sebenernya sedang proses jawaban dari Elle, dia manggil gue 'beb'. Seumur-umur gak pernah Elle manggil manja gitu ke gue. Ke siapapun.

"Nyalon dulu gue Ko, udah dari jam 3 gue sampe sini, sekalian aja nyalon dulu biar lw enak ngeliat gue".

Suara itu ngomong lagi 'garap, garap, garap. Elle garap-able'. Sial!!! Gue ngebathin, tapi disatu sisi, gw exited. Di titik ini gue masih galau.

"Yaudah neng, gue tunggu di (tempat ngopi yg terkenal) ya, kalo udah lw kesini aja".

"Okaayyy, tunggu ya beeeb, see yaaa". Lagi. Elle manggil gue beb dengan intonasi memanja. Lagi. Gw masih proses informasi ini.

Ada sekitar 15 menit gue tunggu Elle. Gue sengaja duduk menghadap ke arah eskalator turun, karena dari sana lah kemungkinan besar Elle muncul. Sambil menunggu, gue selayang pandang kesana-kemari. Beberapa wanita bertemu pandang dengan gue, beberapa pria yang gue yakin gay juga. Kemudian, ada wanita cantik dan putih yang bertemu pandang dengan gue, dia turun dari atas melalui eskalator. Gue dan wanita itu tidak melepas pandang hingga wanita itu menghampiri gue.

"MAKO!!!". Gue kaget. Wanita ini adalah Elle.
Waktu merubah penampakan Elle. Elle yang sekarang sangat ramping, kulit lebih putih, style hijabnya maksimal namun simple & elegan. Gue pangling.

"Elle?". Gue gak yakin.

"Iyaaaa, ini gueee". Hal pertama yang gue perhatikan adalah excitement Elle, intonasinya ceria, moodnya bagus banget. Air muka gue masih kelihatan bingung.

"Makooo, oiiii... Bengong aja... Kesambet lw". Sergah Elle mencairkan kebingungan gue. Sambil duduk di meja gue. Gue yang diterjang kebingungan gak sempet berdiri menyambut Elle. Gue tadinya gak kepikiran kalau itu Elle, gw cuma sedang mengantisipasi kalau aja wanita yang gak gue kenal ngedamprat gue gegara gue ngeliatin terus. Ternyata, wanita ini adalah Elle, gak ada antisipasi yang gue siapkan. Gue malahan pangling dan bingung.

"Udah lama Ko?" tanya Elle.

"Baru 15 menitan kok, kopi juga masih hangat nih. Gila ya, pangling banget gue ngeliat lw. Berubah juga ya lw. Ampe heran gak ada laki yang nyantol sama lw". Gue langsung menggoda.

"Sialan lw, baru aja ketemu. Udah ngeledek kejomblowati-an gue!!". Elle mencubit tangan gue.

Gue julurkan tangan gue. Elle bingung sesaat, lalu menjabat tangan gue.

"Nah, gini dong. Dateng-dateng maen duduk aja terus nyubit... Elle apa kabarnya sayang?". Gue sengaja lamain waktu jabat tangan, supaya gue bisa ngerasain lembutnya tangan Elle. Dan gue selipkan kata 'sayang'. Gue mau lihat reaksi Elle.

"Ihhh, iyaaa... Alhamdulillah baik mako. Lw gimana?". Jawab Elle canggung. Gue emang seneng ngetest respons wanita dengan cara menyelipkan kejutan kayak kata 'sayang' tadi. Di kondisi gue dan Elle, gak pernah gue manggil Elle dengan kata Sayang. Dan Elle juga gak pernah manggil gue 'beb' sambil memanja.

Setelah ice breaker tadi, gw dan Elle mengobrol kurang lebih 30 menit. Mungkin 20 menitnya gue gunakan untuk ngobrol menjurus mesum. Elle dengan elegannya ikutan menjurus mesum. Contohnya kayak gini.

"Elle, lw gak bosen single terus? Gak ada pelampiasan kan? Masa tiap minggu beli terong... Hahaha".

"Sorry yaaa, gue kalo mau pelampiasan mah tinggal tunjuk aja kaliii... Pada antri.... ". Jawab Elle.

"Tunjuk gue doooongg... Gunakan aku Elle... Gunakan... Hahaha". Lalu langsung gue alihkan ke status single Elle, jadinya ada roller coaster obrolan, kadang gue bawa serius. Seringnya gue bawa obrolan mesum.

Selama setengah jam itu, walau gue ngobrol enak menjurus mesum, gue mikirin persentase keberhasilan gue bisa ngajak Elle ke ranjang. Believe me, that time, I always thinking how to get inside her pants.

Suara tadi masih teriak 'garap lah... '. Makin keras juga teriakannya. Di titik ini gue makin galau.

"Elle, nonton yuk abis ini, masa ngopi doang, mau ya?". Gue buka omongan.

"Yuk, bosen juga gue disini, nonton apa?".

Waktu udah sekitar jam 7 malam. Gue langsung cek Film yang sedang diputar di bioskop yang ada di mall ini. Kami pun beranjak ke bioskop setelah sepakat mau menonton apa, di perjalanan dari tempat ngopi ke bioskop kami jalan sambil ngobrol dan tertawa layaknya ABG pacaran.

Sampai di Bioskop, gue seperti biasa jadi gentleman yang menyediakan segala keperluan, dari mulai tiket sampai cemilan gue yang beli. Gak lama nunggu, pintu bioskop sudah mulai dibuka, gue langsung mengajak Elle masuk. Disini, gue bereksperimen, gue tuntun tangan Elle sampai masuk kedalam theatre-nya, sampai tempat duduk kami, Elle tidak terlihat menolak, malah terlihat menikmati.

Sekitar 10 menit, film baru mulai diputar, selama 10 menit itu pula kami ngobrol, ketawa-ketiwi, persis lagi seperti ABG baru pacaran.

Lampu mulai di gelapkan.
'garaaaappp... garapppp...' Pikiran gue mulai ngaco.
Gue coba tahan segala apa yang ada dibenak gue, gue masih memegang erat pemikiran kalo Elle adalah sahabat gue. Titik.
Tetapi, pemikiran bajingan gue sudah dibantu oleh Syaitan-syaitan. Pemikiran Elle sang sahabat terkikis, menjadi Elle sang garap-able.
Di momen ini, gue gak galau lagi. Gue akan lancarkan serangan.

10 menit film diputar, gue ambil resiko. Gue pegang tangan Elle, lalu gue dekatkan tangan kami ke mulut gue, gue kecup halus tangan Elle. Hasilnya? Elle lalu menyandarkan kepalanya di bahu gue, dibeberapa kesempatan juga gue mengecup kepala Elle. Selanjutnya adalah momen terberat malam itu, Elle bergelayut terus menerus di bahu gue, sampai Film selesai, bahu gue pegal bukan main. Tetapi pegal bahu gue terbayar lunas, gue berulang kali punya kesempatan untuk memgang dada Elle, beberapa kesempatan juga gue pegang paha Elle, hingga menyetuh bagian vital Elle. Elle terlihat tidak keberatan, gue malah berpikir kalau Elle juga menikmati. Komunikasi kami pun hanya saat Elle minta dijelaskan tentang alur cerita Film tsb.

Film pun selesai, lampu mulai dinyalakan, kredit Film mulai terlihat. Elle masih belum melepaskan pegangan tangan gue.

"Elle, yuk pulang? Lw naik apa?". Tanya gue.

"Gue tadi naik Taksi, gue dianter ya sampe rumah?". Intonasi bicara Elle melemah, kurang exited, mood juga berubah.

Gue gagal, Elle gak garap-able, persahabatan gue hancur. Pikir gue.
Tapi, kenapa Elle gak marah saat gue pegang tangannya?
Kenapa sepanjang Film, kepalanya berdandar mesra dibahu gue?
Kenapa sepanjang Film, Elle terlihat tidak keberatan gue sentuh?

Kami berjalan keparkiran, Elle jadi diam. Gue juga jadi diam, merasa bersalah. Selama diperjalanan pun dari Mall ke rumah, yang kurang lebih memakan waktu 1 jam, menerjang lautan angkot hijau di Bogor, Elle berkomunikasi seperlunya menunjukan jalan, seperti ada yang dipikirkan sangat keras oleh Elle.

Akhirnya kami tiba didepan rumah Elle, rumah pribadi Elle. Gue menghela nafas panjang, sepanjang perjalanan gue menyiapkan kata serta kalimat apologi ke Elle atas perbuatan gue di bioskop tadi. Gue juga menyiapkan antisipasi kalau saja Elle jadi emosi. Gue sudah menyiapkan diri gue atas segala kemungkinan. Kecuali satu hal.

Elle tetiba meraih kepala gue, "Jangan sampe ketauan bini lw ya!!"
Elle mendekatkan bibirnya ke gue, gue dengan sigap langsung membalas.
Kami bercumbu didalam mobil, didepan rumah, sehabis grepe-grepe di bisokop. Persis ABG yang baru pacaran.
Disitu gue gak merasakan persahabatan dengan Elle, di waktu itu yang gue rasakan adalah nafsu, dan gue rasa Elle juga merasakan hal yang sama.

Gak sampai 1 menit, cumbuan kami berhenti.

"Mako, tunggu dulu ya". Elle lalu turun dari mobil gue, membuka gembok serta kunci rumahnya, lalu masuk ke rumah, dalam waktu yang singkat. Disaat gue terbengong, gue lihat tas/dompet Elle masih ada di jok belakang mobil gue. Ketika gue memutar badan gue kebelakang untuk ambil tas/dompet-nya Elle, tetiba juga Elle terlihat keluar dari rumahnya membawa tas kecil lainnya, mengunci pintu, menggembok pagar, lalu naik lagi kemobil gue. Makin dihajar kebingungan lagi gue.

"lw ngapain Elle? itu tas buat apaan Elle?". Tanya gue dengan muka bingung dan cukup panik.

"Ngambil ini tas, isinya baju & make-up gue, gue gak enak sama tetangga cluster bawa masuk laki-laki kerumah, mending kita kemana gitu Ko". Gue sebenernya bingung, tapi insting bajingan gue bekerja.

"Mau check-in aja Elle?". Gue ambil lagi resiko, dititik ini sudah nothing to lose.

"Terserah lw, tapi jangan di Hotel-hotel murahan ya apalagi ke puncak". Elle ternyata garap-able.

Sisa malam itu, gue ajak Elle ke hotel bintang 4 dikawasan Sentul, gue dan Elle berhubungan layaknya Passionate Newly-Wed Couple. Kami berjanji diujung malam itu, tidak akan melibatkan hubungan hawa nafsu kami dengan emosi seperti rasa cinta, rasa sayang etc etc. Hubungan kami resmi sebagai Friends with Benefit.

Last update-nya ngeuri euy. .
emoticon-Takut

Terlebih di last paragraph,, but nice story then. .
emoticon-Shakehand2

Gak terlalu ero,, tpi aq suka. .
emoticon-Malu
image-url-apps
Whew ts punya dua istri emoticon-Genit

Nenda dulu emoticon-Traveller
×