alexa-tracking

And The Best Part Is

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55cb6cda5c7798bb598b4572/and-the-best-part-is
And The Best Part Is
And The Best Part Is
And The Best Part Is...


An AbsurdDiary Book about His Life


Fiction - Life - Drama - Romance - Action


Quote:


Index
Spoiler for Index:


Cerita Karya Saya yang Lain:
Quote:


And The Best Part Is

Chapter 1 - Far Away

3 Oktober, 2018.

22:50

Uhm. Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya mulai menulis hal-hal seperti ini. Menulis mengenai hal-hal berbau pribadi seperti ini. Kalian mengerti kan? Masih belum mengerti? Belum menangkap maksudku?

Itu loh, menuliskan segala sesuatu yang bahkan bibir ini tak mampu untuk mengucapkannya. Menuliskan perasaanku yang sesungguhnya. Kalau kata orang, bahasa sederhanya sih, Diary. Ya. Seperti itu.

Kata orang, diary itu sangat membantu untuk melukiskan perasaan yang terpendam, yang tidak bisa kita ungkapkan lebih jauh. Yang hanya dapat dimengerti oleh segelintir orang melalui kalimat-kalimat sederhana, namun sangat menyentuh.

Ah. Apa sih yang aku katakan. Oke. Kita lanjutkan.

Seperti yang sudah kukatakan, aku tidak tahu kapan tepatnya aku menulis diary. Sejak Kuliah? Mungkin. Tapi aku rasa, aku sudah memulainya semenjak SMA.

Oh ya. Aku hampir lupa. Aku yakin beberapa dari kalian pasti akan salah mengerti tentang diriku. Aku bisa pastikan, beberapa dari kalian akan membuat banyak kesalahan dalam memperkirakan siapa aku sebenarnya. Tidak percaya? Yakin? Mau coba?

Kesalahan pertama kalian ketika membaca tulisan ini adalah, kalian akan berpikir bahwa aku seorang wanita.

Lalu kesalahan kedua adalah kalian mulai berpikir bahwa aku ini pria tidak jelas.

Kesalahan ketiga adalah kalian berpikir aku ini pria kaya nan hebat layaknya Karl Miller, Dave Hendriks, atau seseorang yang cerita hidupnya tidak pernah dilanjutkan kembali, Edgar Levi France alias Elf.

Heh. Untuk Elf, aku rasa dia sudah mulai mendapatkan ingatannya kembali. Padahal aku suka ketika dia masih normal. Kepintarannya dan mulutnya yang tak dapat ditahan membuatku ingin memukulnya dengan keras, tepat di muka.

Berlanjut ke kesalahan berikutnya. Kesalahan keempat adalah, kalian mulai berpikir bahwa aku, sang penulis ini, bernama Karel yang akan menceritakan kisah hidupnya.

Tidak-tidak. Aku bukan dia. Aku hanyalah karakter buatannya yang sudah lama terpendam di dalam folder laptop dan disiksa habis-habisan oleh si brengsek, Karel.

Hey Karel! Aku tahu kau pasti senang ketika membaca ini! Terima kasih, penulis bajingan!

Dan kesalahan terkahir yang kalian buat adalah, kalian mulai mempertanyakan siapa aku.

Siapa aku?

Pertanyaan bagus.

Biar ku berikan petunjuk siapa aku.

Aku bertubuh kurus, tinggi 178 cm, berkulit sawo matang, berkacamata, dan berambut sedikit bagus.

Namaku, Riki.
Orang-orang lebih sering memanggilku Liki. Agak sedikit membingungkan? Memang. Itu semua karena aku ini cadel. Kalian tahu kan bagaimana derita orang cadel?

Jangan tanya mengapa aku cadel. Itu semua karena si bajingan Karel. Dia memang mahasiswa terkutuk. Seharusnya aku tidak cadel, tapi karena dia sangat… ah sudahlah. Kita urus dia nanti.

Ah ya. Aku lupa. Tadi aku ingin menuliskan apa yang terjadi hari ini.

Hari ini berjalan seperti biasanya. Sebagai seorang tentara dari Indonesia yang bekerja untuk PBB, merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Walau aku di tempatkan di Timur Tengah untuk memberantas pasukan RRA, tapi aku cukup bahagia disini. Warga disini sangat baik. Padahal aku baru saja tiba empat hari yang lalu dan sejujurnya, aku tidak tahu ini di daerah mana. Aku buta sama sekali. Tapi warga disini mencoba membantuku.

Aku dapat melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana rukunnya warga walaupun mereka berbeda agama. Bagaimana mereka saling membantu orang-orang yang terluka akibat perang. Bangunan-bangunan ibadah disini, dijadikan tempat tinggal darurat baik itu gereja, ataupun masjid. Mereka sangat akrab satu sama lain. Suatu pemandangan yang sangat jarang kulihat di Indonesia. Dengan ini, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mereka tidak akan pernah bisa hidup tanpa bantuan yang lain.

Selama empat hari ini juga, kami belum menemukan tanda-tanda pasukan RRA akan datang ke tempat ini lagi. Mereka sempat menyerang kota ini sebelum aku datang namun, dapat dipukul mundur oleh pasukan PBB. Aku dengar, RRA cukup sadis dalam membunuh, menyiksa warga, bahkan jika itu reporter sekalipun. Terkahir yang aku dengar, mereka baru saja membantai reporter dari Inggris dengan mengirimkan kepalanya ke Raja William. Membuat inggris marah besar.

Saat ini aku sedang memandang langit malam. Cukup terang dan dihiasi bintang-bintang yang sangat banyak. Aku bahkan dapat melihat bintang jatuh. Beberapa garis tipis berwarna ungu seakan membagi langit menjadi dua bagian. Suasana sejuk dan angina yang berhembus lembut membuat orang akan menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Sungguh menakjubkan. Tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku tertegun melihat pemandangan ini. Membuatku teringat akan beberapa tahun lalu.

Beberapa tahun lalu, aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti ini. Melihat pemandagan langit yang sungguh menakjubkan dari sebuah bukit di daerah Bandung barat. Tentunya, saat itu sedikit berbeda karena ditemani oleh seorang wanita cantik yang sangat aku cintai.

“Kamu liat gak bintang jatuh itu?” Tanya dia sambal mengarahkan jarinya, menunjuk ke arah setitik cahaya yang bergerak cepat.

“Liat kok. Make a wish gih! Cepet!” Balasku.

Dia lalu menutup matanya dan berdoa. Entah apa yang dia doakan, tapi aku rasa itu sangat-sangat berarti untuknya. Air mata mulai menetes ketika dia membuka kedua matanya. Tanpa ada rasa ragu, aku langsung memeluknya.

“Aku sayang kamu.” Katanya.

“Aku juga. Aku sayang kamu.”

“Jangan pernah tinggalin aku ya.”

“Iya.” Balasku.

“Janji?”

“Janji.” Jawabku.

Dia memelukku lebih erat lagi seakan aku akan pergi meninggalkannya. Seakan aku tidak akan pernah memeluknya lagi.

Kinan. Itulah namanya. Perempuan berambut panjang dan bergelombang yang sangat baik hati. Cantik dan luar biasa. Itulah kesan pertama kepada setiap orang yang melihatnya.

Saat kuliah, teman-temanku berkata bahwa aku sangat beruntung memiliki Kinan. Mereka bilang, aku adalah pria pemalas yang lebih suka tidur di kelas saat dosen mengajar ketimbang belajar. Berbanding terbalik dengan Kinan yang rajin dan aktif. Memang sih, itu benar. Tapi setidaknya aku memiliki prestasi yang cukup baik walau ya… aku lebih sering tidur.

Ah. Aku sangat rindu dengan masa-masa itu. Masa-masa indah saat berkuliah. Entah setan apa yang membuat aku diterima dan masuk kedalam pasukan gabungan PBB dan memberantas RRA. Tapi kita sampingkan RRA. Malam ini indah dan aku tidak ingin menghancurkannya dengan membahas para sialan itu.

Sekali lagi, aku tertegun saat kembali menatap langit malam ini. Ah. Indahnya. Garis ungu itu, cahaya dari bintang yang sangat banyak, membuat aku sadar bahwa aku ini hanyalah debu diantara alam semesta. Tapi ini sepertinya kurang lengkap. Apa? Apa yang membuat malam indah seperti ini kurang lengkap?

Kinan. Ya. Kinan jawabannya. Aku sangat merindukannya. Sangat merindukannya.

Aku harap, kamu ada disini, Kinan.

Ah! Sial! Mayor memanggilku. Nanti aku akan menulis kembali diary ini.

Dan untuk si bajingan, Karel. Baca baik-baik ini.

Selesaikan cerita ku atau akan kubuatkan sebuah lubang besar di kepalamu. Jangan buat aku berakhir seperti Elf yang tidak jelas. Ingat itu!
KASKUS Ads
image-url-apps
Dem dem dem that breaking fourth wall moment, tho. emoticon-Matabelo Baru introduction tapi udah berhasil bikin ane nge-subscribe ke thread agan. Alur penulisan katanya bikin asik dan plot ceritanya juga menjanjikan.

Jarang-jarang ada yang menulis karakter yang juga berinteraksi dengan penulisnya itu sendiri. Keep it up ya, gan. emoticon-Big Grin
image-url-apps
cerita perang di timur tengah yak,rra sama isis sangar mana gan ?
nganu gan satu lagi,ini fiksi apa nyata gan emoticon-rose
Quote:


Thanks sist. Hehehehe.

Iya, disini kan jarang tuh yang buat karakter sejenis Deadpool, yang mau merobohkan the fourth wall.

nah, jadi gue buat deh yang sejenis ini. mehehe..

thanks sist! Dont forget to share, like, and rate. Tunggu lanjutannya ya emoticon-Big Grin
Quote:


Well, gak selalu di timur tengah sih. RRA itu menyeluruh. Dimana aja ada.

RRA vs ISIS? Ya basic RRA dari ISIS sih, but i dont wanna spoil too much. You must read it to know. Muehehehe emoticon-Stick Out Tongue

Fiksi apa nyata?

Nope. Fiksi. Gue udah tulis kok di lembar awal kalau ini Fiksi (Fiction). Tapi penulisannya seperti nyata. Gitu...

Chapter 2 - Home

4 Oktober 2018.

11:00

WIH! Beruntung Mayor tidak melihatku menggunakan laptop dari tadi. hehehe.

Pagi ini kami baru selesai rapat koordinasi. Menurut laporan para intel, mereka sudah menemukan tempat dimana pasukan serta orang penting RRA berada. Sudah saatnya kami menyerang mereka sebelum mereka memborbardir kota ini terlebih dahulu.

RRA? Mungkin kalian akan sedikit bingung dengan singkatan itu. Apa RRA? Sejenis makanan kaleng? Bukan! Mereka adalah sekelompok teroris yang berasal dari segala penjuru dunia dan memulai operasi awal mereka di timur tengah untuk merebut kilang minyak dan membuat nuklir.

RRA kepanjangan dari Raven Rabel Army. Raven sendiri merupakan sang pemimpin. Orang pintar yang mampu menghasut siapa saja terlebih anak muda. Ya, seperti Hitler kurang lebih. Hanya saja dia terlihat lebih muda dan keren.

Kenapa ada orang seperti dia?

Jangan tanyakan hal konyol itu padaku. Tanyakan saja pada si Karel. Dia yang menciptakan karakter itu. Kalau sudah aneh otaknya, memang dia sangat sadis. Ah! Seandainya aku bebas memukul kepalanya! Itu akan mencegah kematian banyak orang. Tapi apa daya, jika tidak seperti itu, maka cerita ini tidak layak untuk dibaca.

Kembali ke topik awal.

Mereka sempat meyerang Indonesia namun berakhir dengan kegagalan. Indonesia lebih sigap dari yang mereka bayangkan. Maka dari itu, aku yang dulu paling anti dengan militer terpaksa bergabung untuk mengikut wajib militer. Dikarenakan kriteriaku mencukupi, maka Indonesia mengirimkan aku dan beberapa orang lain untuk bergabung dengan tentara gabungan di PBB. Keren? Jelas. Seru? Tidak.

Siapa yang tahan melihat mayat tentara dari pihak PBB bergeletakan di tanah? Siapa yang tidak tahan melihat tanah kering ini menjadi lumpur darah? Siapa yang tidak takut mendengar suara tembakan beruntun sepanjang malam dan menjadi sasaran empuk dari penembak runduk?

Jika kalian mengatakan ini suatu keseruan, maka kalian sudah lebih gila dariku. Kalian gila! Bahkan lebih dari si mahasiswa terkutuk, Karel! Kalian mau disamakan dengan dia? Tidak kan?

Ada satu hal yang aku lupakan pada pagi hari ini. Sarapan. Ya. Aku benar-benar lupa untuk hal kecil itu.

Dulu, kata mama, sarapan itu penting untuk kesehatan. Membuat badan menjadi lebih siap menghadapi hari. Jadi, sarapan itu wajib hukumnya.

Namun beberapa pagi belakangan ini, aku lupa untuk hal kecil itu. Aku terlalu sibuk dan fokus menghadapi para tentara-tentara sialan dari RRA. Mereka membuatku lupa akan banyak hal.

Jauh dari mama memang susah. Sangat susah. Aku jadi ingat. Dulu, ketika aku masih SD, mama selalu memberikan sarapan yang sehat dan bergizi. Selalu ada sayur, nasi, lauk, dan tidak lupa buah.

Prinsip mama dan papa adalah, makan pagi seperti raja, makan siang seperti karyawan, dan makan malam layaknya pengemis.

Apa maksudnya? Dulu aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti. Namun, Karel manusia terkutuk memberitahukannya padaku.

Maksudnya adalah, makan pagi yang banyak dan harus komplit dengan sayuran, lauk, dan buah untuk siap menghadapi satu hari, makan siang yang sedikit dikurangi, dan makan malam hanya buah agar perut ini tidak bekerja begitu keras.

Menurut mereka, prinsip itulah yang membuat hidup menjadi lebih sehat.

Namun aku rasa, pinsip seperti itu mulai aku tinggalkan semenjak dikirim ke tempat ini.

Kadang di pagi hari, aku hanya makan roti dengan keju dan sawi didalamnya lalu dilapisi dengan mayonnaise. Siang hari, aku baru bisa mengisi perut dengan makanan yang berat, lalu di malam hari aku makan lagi makanan yang cukup berat. Hasilnya? Ya. Aku sering sakit-sakitan.

Terkadang, aku rindu. Merindukan masakan buatan mama yang selalu enak walau mungkin sederhana, rindu akan sayur lodeh dan lauk gluten goreng crispy buatannya. Aku juga rindu kue cup rasa oreo buatan kakak, dan hari-hari bermain game bersama papa. Aku rindu.

Rindu saat-saat berada di rumah. Suasana tenang, nyaman, aman dan damai selalu terasa. Aku rindu bertemu dengan mama dan papa. Aku merindukan kakaku yang cerewetnya minta ampun. Aku benar-benar… merindukan…

Rumah.

Sayang seribu sayang, kenyatannya ini adalah rumahku sekarang. Aku memiliki unit dan mereka adalah keluargaku sekarang. Dua wanita, Citra dan Ayu, dan lima pria lainnya.

Mbak Citra sudah kuanggap sebagai ibuku karena sifatnya yang memang ke ibuan. Padahal seumuran denganku. Sekitar 25.

Sementara Ayu sudah kuanggap sebagai adikku. Kelakuan lucu dan tomboynya sungguh sangat mengingatkanku akan kakak dirumah.

Bagaimana degan lima orang lainnya? Ah. Lima pria itu nanti saja kuceritakan. Mereka terlalu absurd kalau aku bertahukan sekarang.

Well, Aku harus pergi. Kami akan memulai operasi penangkapan salah satu orang penting RRA. Mobil-mobil berlapis baja sudah disiapkan dan Mayor akan memarahiku jika pantatku tidak duduk disana.

Duh, tapi suasana hati ini. Aku malah benar-benar merindukan rumah. Duh.
4 Oktober 2018
19:00.

Hari ini begitu melelahkan. Sangat!

Aku bahkan baru bisa bernapas lega malam ini. Fiuh!

Operasi kami berjalan dengan baik. Hanya saja, satu dari dua orang target utama kami berhasil lolos. Bagian lucunya? Dari sekian banyak peluru yang aku tembakan, hanya dua yang mengenai musuh. Beruntung aku tidak membunuh mereka. Hanya mengenai bagian lengan saja. Tapi, aku merasa berasalah tadi siang. Sangat bersalah.

Sekitar pukul 13:00, ketika kami masuk kedalam salah satu rumah warga, aku mendapati seorang anak kecil yang sedang ketakutan dan memeluk ibunya. Ayah mereka memasang badan di depan kami dan merentangkan kedua tangannya seakan menjaga agar anaknya serta istrinya tidak terkena peluru. Pria itu berbicara dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Pada akhirnya, kami hanya berteriak.

“Merunduk! Merunduk! Cepat!” Teriak Kevin.

“Hey Kevin. Dia tidak bisa bahasa Indonesia.” Selaku.

“Aku tidak peduli, Liki. Kalian cepat merunduk! Citra, Agus! Cepat tundukan mereka! Tahan mereka!” Perintah Kevin.

Aku yang mendengar perintah itu, segera melayangkan protes keras. “Apa-apaan ini?! Kau gila?”

Namun seakan angin lalu, perkataanku lewat begitu saja. Pada akhirnya, Citra dan Agus tetap membuat pria arab itu menunduk dan menahan kedua tangannya. Setelah itu barulah kami amankan seisi rumah itu agar tidak terjadi hal yang kami sangat tidak inginkan.

“Tison. Cepat kesini. Satu-satunya orang yang bisa berbahasa arab, hanyalah dirimu.” Kevin memerintahkan Tison setelah membuat pria arab itu duduk di hadapannya. “Tanyakan pada dia. Sedang apa dia disini? Kita sudah meminta agar area ini dikosongkan.”

Tison mencoba mengalih bahasakan apa yang diucapkan Kevin kepada si pria arab itu. Setelah memahami, pria itu kemudian memberitahukan sesuatu kepada Tison.

“Katanya dia tidak bisa pergi. Ada anak kecil disini.”

Wajah Kevin berubah. Mukanya memerah. Matanya menajam bagaikan pisau. “OMONG KOSONG! Minta dia untuk jawab yang sesungguhnya! Apakah dia berhubungan dengan RRA?”

Tison mengalih bahasakannya kembali. Dan, seperti yang kebanyakan kita duga, si pria arab itu menjawab tidak.

“Tidak. Itu katanya pak.”

Seakan seperti mobil yang hilang kendali, Kevin mengambil pistolnya, mengangkat baju pria arab itu, lalu menodongkan pistol tepat di kepala. “KAU MAU MATI?! IYA?! JAWAB!! JAWAB YANG SEBENARNYA!”

Aku segera menahan Kevin sementara yang lain mencoba melerainya. Aku minta dibawakan segelas air agar Kevin meminumnya. Butuh sekitar dua puluh menit agar keadaan menjadi lebih tenang.

“Kevin. Kau sadar bahwa masalah emosimu itu sangat parah?”

“Kau gila Ki? LIKI! Sadar! Dia pasti ada sangkut pautnya dengan para bajingan RRA! Dia pasti akan membocorkan rahasia operasi kita!”

“Ya tapi, gak segitunya juga kali. Itu sih kelewatan. Tenang aja.” Kataku mencoba menenangkannya.

“Bagaimana aku bisa tenang?! Kalau operasi ini bocor, nyawa tentara lain taruhannya.”

“Ya iya sih. Tapikan kita bisa ngomong baik-baik. Coba ulang lagi. Cari informasi tapi dengan cara yang lebih halus.” Pintaku.

“Terserah.” Kevin mengalihkan perhatiannya pada orang arab itu. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.

Lagi, kevin mencoba bertanya kepada pria itu mengenai siapa dirinya dan sedang apa dia. Tapi kali ini, caranya lebih halus.

“Katanya.” Tison mencoba menerangkan. “Dia ada disini karena tidak bisa pergi dari rumah ini. Rumah ini sangat berharga. Hanya ini harta milik dia satu-satunya. Dia akan kesulitan jika anak dan istrinya pergi dari sini.”

“Ah! Sudah kuduga.” Kata Ayu.

“Tetapi…” Lanjut Tison. “Dia bisa menunjukan tempat dimana para anggota RRA berada.”

Kevin tersenyum. “Bagus.”

“Kalau begitu minta saja dia tunjukan jalannya. Nanti kita menyusul.” Usulku.

Ya. Usulku terlihat bagus. Semua anggota unit menyetujuinya. Tetapi… itu adalah kesalahan fatal yang pernah aku buat.

Baru beberapa meter pria arab itu berjalan dari depan rumah, sebuah peluru terbang entah dari mana menembus kepala pria malang itu. Dia mati seketika.

Anaknya berteriak. Istrinya menangis histeris. Aku diam terpaku. Aku tidak percaya. Badanku tidak dapat bergerak saat itu. Aku ingin tahu dari mana peluru itu berasal.

Aku segera meminta Julio menerbangkan ‘drone’ nya untuk mencari tahu apakah ada penembak runduk di sekitar kami. Dan benar saja. Dia ada disana.

Dengan sedikit keberanian dan bisikan jahanam dari Karel, kami berhasil mengepung dan membunuh penembak sialan itu yang ditemani lima orang. Aku berhasil melumpuhkan satu diantaranya. Saat itu juga, kami telah membuka jalan bagi pasukan utama untuk mengepung tempat RRA. Apa yang terjadi selanjutnya? Seperti yang telah kalian baca sebelumnya. Berhasil menangkap satu dari dua orang target.

Sepanjang perjalanan, aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Hatiku gelisah. Akhirnya aku sadar. Sadar bahwa tindakan fatalku meminta pria arab itu keluar yang membuat anak kecil itu kehilangan ayahnya. Itu fatal. Sangat fatal.

Bisa aku bayangkan bagaimana rasanya rumah tanpa seorang ayah. Sepi. Akan terasa aneh. Seperti tidak lengkap. Seperti… benar-benar… kehilangan.

Seperti tinggal dirumah… tanpa suasana rumah.



NB: Terima kasih, manusia terkutuk, Karel. Kau memang malaikat sekaligus perusak keluarga nomor satu!

Chapter 3 - Rain

5 Oktober 2018
20:00

Hari ini berbeda dari biasanya. Apa yang membuatnya berbeda? Apa karena aku mendapat tugas baru? Mendapat pacar baru? Bukan. Bukan itu. Badanku terlalu lemas untuk digerakan.

Dari kemarin malam, aku tidak dapat tidur dengan tenang. Tidak percaya? Jika saja aku nyata dan berada di depan kalian, maka kalian akan melihat wajah frustasiku. Entah apa yang membuatku seperti ini. Apa karena pria arab itu? Entahlah.

Tadi siang, aku dengar dari Kevin bahwa unit kami akan dipindah tugaskan ke kota lain. Lebih tepatnya, negara lain. Kata mereka, tentara PBB disana butuh bantuan. Jadi divisi kamilah yang akhirnya dipilih untuk dipindahkan sementara.

Sampai detik ini, aku belum tahu akan dipindahkan kemana. Kepalaku masih menampilkan serpihan detik-detik meninggalnya pria Arab itu. Sial. Aku tidak dapat tenang. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa tenang?

Aku pikir akan memakan cukup waktu yang lama untuk menghilangkan trauma ini. Sangat lama. Sama. Sama seperti ketika aku kehilangan… ah. Lebih baik kita tidak membahasnya.

Malam ini hujan menemaniku sementara yang lain sudah tertidur lelap. Agak aneh rasanya di tempat seperti ini ada hujan. Ya, cukup aneh. Namun titik-titik air itu seakan membawaku kembali ke masa lampau. Masa yang sangat jauh.

Saat itu aku duduk di sebuah restoran cepat saji. Aku ingat, saat itu memakai sweater putih lengan panjang, celana jeans, dan sepatu kets hitam. Aku tidak sendiri saat itu. Aku duduk bersama Lily dan Argon. Mereka menemaniku saat itu.

Restoran ini memang menjadi tempat favorit bagi kami. Karena jaraknya hanya beberapa meter dari kampus, membuat tempat ini banyak di kunjungi mahasiswa. Saat itu, Argon yang merupakan penggemar berat DC comic sedang membaca komik Batman. Sementara Lily? Dia sedang sibuk dengan laptopnya.

“WIHH!!” Teriak Argon. “Keren neh issue yang ini! Gue suka banget!”

Lily yang sedari tadi fokus dengan kerjaannya, terkejut bukan main. Dengan entengnya, dia memukul kepala Argon. “Berisik lu! Bikin kaget gue aja ah!”

“Ish! Sakit Li!” Protes Argon.

“Lu tuh ya, kalau baca komik kudu tenang kek. Gak usah buat orang kaget. Ngeselin tau gak?”

“Ya maap Li. Gue kan gak-“

“- Gak sengaja” Ledek Lily. “Kebiasaan.”

“Heeh. Udah udah.” Kataku yang lalu memperhatikan cuaca saat itu. Mendung. Aku ingat betul. Saat itu mendung. “Awannya gak enak nih. Balik ke kampus yo.”

“Eh iya ya. Mendung.” Kata Lily.

“Balik deh. Ayo.” Ajak Argon.

Saat itu, Argon hanya mempunyai sebuah mobil honda civic tua. Entah itu keluaran tahun berapa. Dua ribu dua mungkin? Entahlah. Tapi yang pasti dan yang aku ingat, mobil itu menyebalkan. Dan merepotkan.

Ketika kami hendak menyebrang memasuki parkiran kampus, mobil itu tiba-tiba berhenti. Argon panik setengah mati karena mobil dibelakang kami mulai membunyikan klaksonnya. Sementara Lily sibuk menggerutu.

“Nih. Mobil lu ketuaan nih! Ganti kek. Orang kaya juga lu!”

“Sembarangan aja kalau ngomong lo Li! Ini pemberian opa gue.” Balas Argon.

“Eh, Argon. Lu itukan orang kaya. Ya ganti kek. Memang mesti banget ya lu pake ini mobil? Kasian juga lu nya. Ini mah di rawat aja dirumah.”

“Udah udah ah.” Aku mencoba melerai. “Udahlah. Mending gue dorong ini mobil. Oke? Nanti jangan lupa di starter ya, Argon.”

“NAH tuh! Gue setuju sama Liki! Bertindak. Bukan cuman nge-bacot aja.” Argon menatap sinis pada Lily.

“Yee. Gendut. Berisik.” Balas Lily.

Aku keluar mobil dan mencoba untuk mendorongnya. Tapi anak-anak di belakang kami sungguh berisik. Memang sih mobil mereka lebih bagus dan sporty, tapi klakson mereka, cemoohan mereka, seakan tiada henti. Membuat aku benar-benar muak dan terpaksa menghampiri mereka.

Di dalam mobil itu, seperti yang telah kalian duga, terdapat tiga orang pria dan satu perempuan. Mereka dari klub basket. Si perempuan sendiri sepertinya dari cheerleader. Ah. Tipikal anak-anak kaya yang manja.

“Hei. Kalian bisa tenang?”

“Ops. Sorry bro.” Ucap salah seorang.

“Lagian mobil tua aja masih dipellihara. Ups!” Ledek yang lain.

“Kalian mau berhenti memainkan klakson dan turun membantu atau terus membuyikannya?”

“Eh. Maaf bang. Maaf.” Kata mereka serempak.

Aku berjalan kembali menuju mobil Argon. Tetapi baru beberapa langkah, anak-anak itu kembali mencemooh dan membuat keributan dengan klakson mereka. Malah, semakin menjadi.

Saat itu aku ingin sekali memukul mereka dengan keras tepat dimukanya. Tapi langit berkata lain. Hujan mulai turun dan aku harus cepat-cepat mendorong mobil itu.

“Sini, gue bantu.” Suara seorang perempuan.

Dia adalah perempuan yang tadi bersama anak-anak kaya itu. Aku cukup terkejut dengan tindakan dia yang berani keluar dari zona nyamannya dan membantuku mendorong mobil tua Argon. Kami mendorongnya dan berhasil membuatnya menyala.

“Terima kasih ya… uhmm…”

“Kinan. Panggil gue Kinan. Lo Liki kan? Anak Manajemen?”

“Ya ya. Gue anak mana-“ Belum sempat aku menyelesaikannya, hujan turun makin lebat. Membuat kami harus mencari tempat berteduh bersama-sama.

Kami berlari-lari kecil menuju pos satpam sementara Argon dan Lily terjebak di mobil tanpa ada payung.

“Wah. Jadi basah banget nih. Maaf ya, ngerepotin, Kinan.” Ucapku.

“Iya gak apa-apa kok. Udah lama juga sih gue gak main hujan.” Ucapnya sambil tersenyum. “Jadi kita gak bisa ngapa-ngapain deh.”

“Iya nih. Gak bisa ke kelas juga.”

“Yaudah. Kita disini aja dulu sambil menikmati hujan. Uh, Ki, gapapa kan kalau gue rada nyender?”

“EH! Tapikan baju gue agak basah nih. Gapapa?” Tanyaku. Padahal saat itu aku benar-benar panik.

“Iya gapapa. Gue agak…”

“Kedinginan?” Kataku sambil memperhatikan gerakan tubuhnya yang memang sudah mulai menggigil. Saat itu, dia memang hanya memakai kaos layaknya wanita pada umumnya.

Aku membuka sweater dan memberikannya kepada Kinan dengan harapan dia tidak akan masuk angin saat itu. “Ini. Pake aja dulu.”

“Eh?”

“Iya. Gapapa kok pake aja. Daripada lo kedinginan kan?”

“Makasih ya.” Jawabnya sambil memakai sweater milikku.

Disanalah kami. Di depan pos satpam sambil menikmati hujan pada hari itu. Kadang kami bercanda, kadang kami malah berkhayal yang tidak-tidak. Dari situlah aku tahu bahwa tidak semua perempuan yang populer di kampus itu menyebalkan. Hahahah. Sungguh kenangan yang sulit dilupakan.

Ketika hujannya reda, barulah kami kembali ke kelas masing-masing. Dan setelah hari itu, aku merasakan bahwa Kinan semakin terus memperhatikanku dengan cara yang sama aku memperhatikannya. Namun ada satu hal yang menurutku sangat lucu. Karena hingga kini, sweater putih itu tidak pernah kembali kepadaku.

Ah. Hujannya belum reda disini. Lebih baik aku tidur sekarang karena besok, akan menjadi hari yang berat.
image-url-apps
BroKar, 'if my heart can stay' ngga dilanjutin?
Quote:



Sementara ini gak dulu bro. Ceritanya lagi di pending.

Sehabis ini baru dilanjutin yang itu. Muehehe

Chapter 4 - Wrong Decision

8 Oktober 2018
15:00

Kepalaku pusing. Sangat pusing. Seakan dunia ini berputar lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa bisa terjadi seperti ini. Kata mereka sih, ini karena efek terbang. Ah, maksudku, berpindah negara. Aku pikir itu hal sepele. Tapi ternyata… duh.

Benar-benar di luar perkiraanku. Aku berpikir akan ditempatkan di negara eropa. Ya, kalian mengertilah ya. Aku berharap berada di negara-negara eropa timur sana. Selain suasanya sejuk, aku juga ingin mencari pengalaman baru serta… melirik beberapa wanita disana, mungkin? Aku dengar mereka manis-manis.

Coba kalian tebak. Aku dipindahkan kemana sekarang?

Yang pasti ini bukan timur tengah.

Bukan juga di daerah Jepang. Karena jika ini Jepang, sudah pasti aku akan memamerkan fotoku dengan para personil AKB48. Hehehe

Bukan-bukan. Aku tau kalian pasti berpikir Indonesia. Tidak. Aku tidak kembali kesana.

Coba pikir lagi.

Aku ada di negara…

Dimana…

Penduduknya…

Mayoritas…

Berkulit…

Hitam…

Ha? Dimana? Afrika?! Ya! Jawaban kalian tepat!

Bukannya mau rasis sih, tapi memang mayoritas penduduk disini berwarna hitam namun sebuah pengecualian buat daerah Cape Town. Banyak juga penduduk berkulit putih disana.

Ya ya. Aku sudah menduga. Kalian pasti akan bertanya “Mengapa Afrika?”

RRA sudah lama mengincar negara ini terlebih, Afrika Selatan. Bagi mereka, tempat ini sasaran yang empuk. Warganya sangat mudah di pengaruhi. Tidak percaya?

Bahas saja mengenai perbedaan warna kulit dan aku jamin, kalian bisa mendapatkan sebuah bogem mentah di muka kalian.
Sederhana bukan? Sangat mudah memang membuat warga disini mengikuti mu dengan mudah.

Nah, sekarang. Apa yang membuat kami harus kesini?

RRA dikabarkan memulai perekturan masal dan membangun sebuah fasilitas berteknologi tinggi. Jujur, ketika dikatakan berteknologi tinggi, aku kaget bukan main.

Kenapa?

Karena yang jadi pertanyaanku adalah. Darimana asal uang mereka? Berapa banyak dana mereka? Dan yang lebih penting, siapa yang membantu finansial mereka? Adakah seseorang yang memang mau membantu para teroris ini?

Oh ayolah! Mereka ini para bajingan! Mereka memenggal siapa saja yang menghalangi jalannya. Mereka bahkan tidak takut mati dan menganggap kematian setelah membantai adalah suatu kehormatan.

Jika saja, jika aku tau dimana Raven berada, akan kubuat dia menyesali semua perbuatannya! Aku bersumpah!

Oh, Karel. Aku tau kau sedang membaca hal ini. Kau tau keinginanku, bukan? Jadi, segera kabulkan. Pertemukan aku dengan si sialan Raven itu. Dan akan ku akhiri perang konyol ini.
image-url-apps
punya lu rel.
cerita baru mulu.
sekali" kepenerbit lah bro
image-url-apps
Quote:


hehehe. iya broo. baru lagi.

udah coba sih. tpi lagi nunggu kabar dari pihak sananya. hehehe
10 Oktober 2018
22:00

Aku tidak tahu apa yang terjadi pastinya. Yang aku ingat, tadi pagi aku sudah berada di atas kasur rumah sakit di daerah Cape Town. Entah apa yang membuatku ada disini.

Berada disini saja sudah sangat aneh. Karena yang aku ingat, aku dan beberapa unit lain sedang dalam tugas rahasia untuk menangkap Raven, hidup atau mati.

Ya. Kalian tidak salah baca. Ini Raven, otak dari RRA. Pemimpin yang berkharisma dan berwibawa. Dia ada di sini, di Afrika. Entah bagaimana dia ada disini, tapi yang pasti ini merupakan campur tangan Tuhan dan Karel. Si penulis itu telah membuat Raven berada di tempat yang aku inginkan.

Hal terakhir yang aku ingat adalah… oh Tuhan… aku ingat sekarang. Aku benar-benar ingat apa yang telah terjadi.

Kami menemukan dimana Raven berada. Sekitar tiga unit khusus diturunkan untuk mengepung kediamannya yang berada di sebelah barat daya dari Afrika Selatan. Aku ingat saat itu subuh sekitar jam dua pagi dan kami masih tertawa di dalam heli sebelum akhirnya terjun.

“Akan kubuat Raven tidak punya anak.” Kata Tison.

“Kalau aku, kau ingin dia di adili di pengadilan internasional.” Tambah Ayu.

“Aku ingin menembak mati si bajingan tua itu! Dia yang telah membuat kita terjebak di medan perang ini. Dia yang membuat beberapa pasukan kehilangan anggota tubuhnya. Kau juga setujukan, Liki?” Kevin kelihatannya sedang bersemangat.

“Uhm… tidak…” Jawabku.

“BAHAHAHAHA” Suara tawa memenuhi helicopter.

“Loh? Kenapa?”

“Oh ayolah Kevin. Tidakkah cukup kita membunuh? Kurasa dengan menjadikan Raven sebagai pembantu saja, sudah cukup. Benar? Oh! Atau kau mau istrinya? Kudengar dia punya tiga istri yang cantik loh.” Godaku.

“Sial! Sungguh?”

“Aku bersungguh-sungguh. Jadi?”

“Kalau begitu…” Kevin berdiri. “Akan kurebut saja istrinya dan menjadikan mereka selir ku! Hahahaha” Kevin nampaknya puas dengan apa yang dia ucapkan.

Semua orang tertawa. Namun aku rasa, itulah tawa terakhir mereka. Karena misi kami berakhir dengan buruk walau aku yakin, unitku berhasil lolos.

Kami diterjunkan sekitar serratus meter dari kediaman target. Yang jadi masalahnya, pesawat kami terkena rudal, membuat kami mendarat di tempat yang seharusnya. Aku dan unitku, unit tiga, terpisah. Malah hal lucu terjadi. Aku bersama unit dua waktu itu.

Aku ingat saat itu, unit dua diperintahkan untuk masuk dari garasi belakang. Sedangkan unitku diminta masuk dari arah timur, yaitu daerah taman, dan unit satu dari depan gerbang.

Permasalahannya adalah, jika musuh sudah bisa menembak pesawat transportasi kami, berarti mereka sudah tahu akan kedatangan kami. Dengan asumsi musuh sudah siap sekarang, firasatku menjadi lebih buruk.

“Tenang saja.” Kata seseorang. Dia dari unit dua dan aku tidak tahu siapa namanya. “Kita pasti akan membunuh target.”
Aku hanya tersenyum karena aku yakin, misi ini tidak akan berjalan baik.

Dan benar saja. Firatasku terbukti benar.

Kami masuk dari garasi belakang menuju kedalam rumah. Setelah melumpuhkan dua penjaga, kami masuk, menaiki tangga, dan setibanya di ruang tamu, semua semakin memburuk. Para penjaga sudah berkumpul di lantai atas, lengkap dengan persenjataan mereka. Kami terkepung, kami tak dapat berbuat apa-apa.

“Unit tiga! Kalian dimana?” tanyaku melalui radio.

“Kami masih di taman. Sedang baku tembak.” Jawab Kevin.

Sial. Ini benar-benar gawat.

“Kalian seharusnya tidak kesini.” Suara seseorang. Suara itu berat namun ada rasa kewibawaannya disana. “Kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.” Seseorang keluar dari kegelapan dan menunjukan wajahnya.

Rambut panjang berwarna putih, berjanggut, menggunakan tongkat, dan memakai… piyama? Ah. Itu Raven! Wajahnya sama persis dengan yang ditujukan saat briefing. Dengan luka di pipinya dan dahi, sudah pasti itu dia. Aku pikir dia sedikit lebih muda, tapi dia lebih mirip dengan pria tua. Laporannya sih, dia berumur empat puluhan. Tapi, sekali lagi, jika dilihat dari wajahnya, dia sama sekali tidak cocok dengan umur empat puluh.

“Raven! Menyerahlah! Kau tidak dapat lagi mengelak! Tempat ini sudah dikepung!” Kapten unit dua berkata dengan lantang.
Bodoh. Sebenarnya yang terkepung siapa sih? Kita atau mereka?

“HAHAHAHA” Raven tertawa kuat. “Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak sadar? Tolong ambillah cermin dan liat siapa yang terkepung, tuan dan nyonya?”

“Cih! Menyerah saj-“

“Sudahlah. Jangan begitu. Begini. Dulu aku merupakan mantan pasukan khusus. Dan aku mengerti apa arti tugas dan keluarga untuk kalian. Jadi, dari pada kalian keluar tinggal nama, bagaimana jika kalian pergi sekarang. Aku sedang berbaik hati dan kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”

“Bodoh.” Jawabku.

Raven tersenyum. “Oh. Tuan. Itu jawabannya yang salah. Satu gerakan dari jariku akan membuat-“

“KRAAK!”

Belum sempat Raven menyelesaikan kalimatnya, seseorang tanpa sengaja telah menggeser sofa dan membuatnya berdenyit. Membuat pasukan musuh kaget dan segera melepaskan tembakan ke arah kami.
Lima belas lawan satu. Itulah perbandingannya. Sudah jelas kami kalah telak walaupun kami berusaha sekuat mungkin menembak kearah mereka dan berusaha menjatuhkan Raven. Tapi tetap saja itu sia-sia.

“Hentikan tembakan! Tahan tembakan kalian bodoh!” Teriak Raven berusaha menahan anak buahnya. Namun seakan tertutupi oleh nafsu, mereka tetap saja menembaki kami lebih brutal lagi.

Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat unit dua ini dibantai habis-habisan. Hujan peluru telah membuat para pahlawan ini berguguran satu persatu. Seseorang yang tadi memintaku untuk tetap tenang, berusaha membawaku pergi dari tempat terkutuk itu.

“Cepat pergi! Temui unitmu!” Teriaknya sebelum punggungnya dihujani peluru. Aku melihatnya mati. Tepat di depan mataku sendiri.

Aku berusaha lari secepat mungkin keluar dari tempat itu, tapi kakiku terkena tembakan. Aku terjatuh. Senjataku terlempar jauh. Aku mencoba meraih pistol dari kantongnya namun mereka kembali menembak dan kali ini, punggungku sasarannya.
Selesai. Itu pikirku. Selesai sudah semua.

Namun aku salah. Saat itu, unitku, unit tiga dan unit satu datang dan segera mengeluarkanku dari tempat itu. Aku diseret lalu aku merasa diletakan diatas punggung seseorang. Pemandangan terakhir yang aku lihat adalah sang kapten unit dua yang telah bersandar di tiang, masih terus menembak dengan pistolnya hingga akhirnya pintu rumah itu tertutup dan aku tidak mendengar suara tembakan lagi. Aku yakin, kapten itu telah mati.

Itu. itu sebabnya luka-luka ini ada. Itu sebabnya, aku berada di rumah sakit.

Oh Karel, kau telah memberikan kenangan terburuk bagi diriku. Apa lagi setelah ini?
image-url-apps
Tandain dulu deh... emoticon-Ngacir

Nanti dibacanya... emoticon-Ngacir
Quote:


Liki, aku pun menanyakan hal yang sama.


Yeaaas, akhirnya keburu juga buat ngebaca beberapa part terbaru. Makin seru dan menegangkan aja nih. Bener deh, ane penasaran sama sosok Raven ini serta latar belakangnya kenapa RRA diciptain. Ditunggu update-an lainnya ya, gan. emoticon-Big Grin

Chapter 5 - Brother

12 Oktober 2018
20:00

Aku berpikir bahwa pembantaian sadis yang sudah aku alami itu cukup membuatku stress berat. Aku pikir, dengan istirahat di rumah sakit akan membuat diriku menjadi lebih baik. Tapi itu hanyalah omong kosong. Benar-benar omong kosong.

Pagi ini, seperti biasanya surat berdatangan memenuhi meja di sebelah tempat tidurku. Aku belum dapat turun dari kasur karena kondisiku masih belum membaik. Dokter hanya mengijinkanku pergi jika tubuhku normal. Artinya? Aku akan berkencan dengan kasur ini selama dua minggu kedepan. Sungguh sial.

Namun ada yang berbeda pada pagi ini. Ketika aku membuka e-mail dari laptopku, ada sebuah nama yang tidak asing. Wahyudi. Ya nama itu sudah sangat familiar bagiku. Karena dia merupakan orang yang sudah aku anggap sebagai abangku sendiri.

Aku memang terlahir sebagai anak kedua, namun aku sangat menginginkan seorang abang. Ya. Abang. Seorang laki-laki yang dapat aku ajak bermain basket atau melakukan hal seru lainnya. Jika kalian pikir seorang papa saja sudah cukup, maka kalian kurang tepat.

Kalian mungkin berpikir “Kan sama saja, toh sama-sama laki-laki kok. Antara ayah dan abang gak beda jauhlah.” Maka pikiran kalian kurang tepat. Kurang tepat.

Seorang papa saja mungkin sudah seru. Iya. Aku akui itu. Papa memang orang yang perhatian. Tetapi abang akan jauh lebih beda. Kalian bisa bermain basket bersama, melakukan hal konyol, meminta saran mengenai banyak hal, dan yang terpenting, kalian bisa bermain pukul-pukulan. Seru? Ya. Sudah pasti.

Tapi ya, apa daya. Aku hanya punya seorang kakak yang cerewetnya luar biasa. Yang bisanya hanya mencubit jika aku berbuat salah. Yang barang belanjaannya lebih banyak ketika kami berbelanja di mal. Namun itu saja sudah cukup bagiku. Karena aku menyayangi dia.

Uh… mengenai Wahyudi. Aku bingung ada apa dia memberikan e-mail padaku. Aku sempat berpikir bahwa dia ingin memberikan bantuan padaku. Tapi ternyata aku salah. Salah total. Yang ada air mata mulai turun membasahi pipiku.

Dalam e-mail itu aku hanya memperhatikan dua kata. ‘Telah meninggal’.

Wahyudi telah meninggal.

Saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang telah mengoyak sebagian dari diriku. Ini bahkan lebih sakit dari melihat pembantaian masal atau luka-luka pada tubuhku ini.

Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Seseorang yang telah aku anggap sebagai seorang abang, seseorang yang dekat denganku meninggal dunia. Apa. Apa yang sebenarnya telah terjadi padanya?

Tidak lama setelah itu, aku menerima telepon yang katanya dari pengacara pribadi Wahyudi. Dia memintaku untuk datang ke Indonesia karena akan dibacakan beberapa hal penting mengenai warisan dan hal lainnya.

Setelah aku bernegosiasi dengan pihak rumah sakit dan juga Mayor, akhirnya aku mendapatkan ijin untuk pulang ke Indonesia tapi dengan satu kondisi. Tubuhku sudah harus pulih sembilan puluh persen.

Ah. Bang Wahyudi. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Mengapa harus secepat ini? Mengapa. Mengapa aku harus kehilangan lagi? Apa yang salah?
Quote:


Sok atuh. Gak mau diriin apartemen dimari sab? hahaha

Quote:


Oke gan. siap. Pantengin aja ya emoticon-Big Grin
×