alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55cb43b0902cfe11458b4568/menanti-pelangi

Menanti Pelangi

Salam kenal semua. Saya kepikiran buat bikin trit sendiri lagi setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH. Ini nih, efek pengen jadi novelis yang nggak kesampaian.

Cerita ini nyata. Cerita tentang cinta monyet zaman SMP yang ternyata masih aja kebawa sampe saya lulus kuliah ini. Niat pengen move on, eh ada aja kejadian yang bikin saya keingetan lagi sama sang tokoh utama haha emoticon-Betty (S) Kecuali nama tempat, semua nama tokoh dalam cerita ini saya samarkan. Jadi jika terdapat kesamaan nama tokoh dengan readers yang mungkin kebetulan ada di kota atau di tempat dan waktu yang sama, tolong jangan geer dulu emoticon-I Love Indonesia (S) Dan sebagai manusia biasa yang memorinya terbatas, ada beberapa bagian yang nggak secara detail saya ingat dan mungkin berbeda dengan kejadian asli namun cerita secara garis besar tetap sama kok. Kalau ada waktu pulang ke kampung halaman, insyaAllah bakal saya fotoin tempat kejadian perkara.
Cerita ini sebenarnya biasa aja ya. Nggak ada yang istimewa dan nggak ada peristiwa yang wow banget gitu. Untuk pertanyaan yang sekiranya privasi, bisa PM ke saya langsung. Dan sebisa mungkin saya sangat menghindari yang namanya menyinggung SARA. So, buat pada readers, silahkan nenda sambil ngopi-ngopi cantik dan ganteng di sini. Welcome to my story, enjoy it! emoticon-Kiss (S)
Btw, ada yang mau bantu ngindex ga nanti? maklum, nubi emoticon-Betty (S)

1 – Pertama Bertemu
8 tahun lalu, kelas 2 SMP.
Waktu tempo kontrakan rumah yang jatuh membuat kami sekeluarga harus pindah. Ayah sudah membeli sebidang tanah di tepi jalan. Tidak jauh dari kontrakan, hanya berjarak 15 menit kalau naik kendaraan bermotor.

Rumah baru kami baru jadi setelah tiga tahun pindah. Tentu saja, pembangunan rumah dimulai secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada. Maklum, kami hanya keluarga sederhana.
Lokasi rumah yang strategis membuat aku dan adik-adik suka bermain di alun-alun. Tepatnya alun-alun Kajen, kabupaten Pekalongan. Setiap subuh biasanya kami sering bersepeda atau sekedar jalan kaki menyusuri jalan menuju alun-alun. Entah, suasananya memang tenteram. Dingin dan hening. Saat itu, aku juga memiliki teman baru. Imah. Cantik, pintar, baik hati pula. Bersekolah di SMP 1 Kajen. Jadilah kami selalu bermain bersama. Meski pun seringnya cuma bersepeda ke alun-alun.

Hobi membaca mengantarkan kami berdua sering menyambangi kantor perpustakaan dan arsip daerah yang terletak di samping masjid Muhtarom Kajen di alun-alun. Kami membaca apa saja. Komik, sejarah, keagamaan, apa saja. Ke depannya, aku sangat berterimakasih kepada perpustakaan daerah. Karena di sinilah, semua cerita akan bermula…
**
Senin sepulang sekolah, aku dan Imah berjanji akan mengunjungi perpustakaan seperti biasa. Selain itu, kebetulan juga ada tugas dari guru bahasa Indonesia yang meminta murid meresensi sebuah novel. Tentu saja, daripada harus membeli baru, lebih baik membaca gratis di perpustakaan. Siang itu perpus lumayan ramai. Banyak kakak-kakak berseragam SMA yang tekun membaca sambil menulis di perpus. Entah, mungkin guru mereka juga sedang gencar memberi PR.

Seperti biasa, aku mengambil beberapa buku cerita dan sejarah yang kurasa menarik. Lalu mencari tempat membaca di lantai pojokan yang tertutup oleh rak-rak. Tempat ini selalu menjadi favoritku. Kemudian Imah datang dan mengambil posisi duduk di sampingku.
Sampai kemudian, seorang anak laki-laki datang menyapanya…

“Imah?”
Imah menoleh, “weh, kamu ngapain di sini Kim?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadaku. Aku membalas dengan senyum tipis.
“Lagi pengen baca aja.”
Imah lalu melihat ke arahku, “oh ya Fi, ini temanku satu sekolah. Hakim.”
Dia mengulurkan tangan. “Hakim.”
Aku membalas uluran tangannya, “Dafi.”
Detik itu juga, aku mengakui kalau aku langsung menyukainya. Tapi aku masih tidak tahu, bahwa ternyata rasa suka ini akan bertahan lama sekali.
“Yaudah, aku duluan sek ya. Selak teman-teman ngajak pulang,” Hakim beranjak dari posisi jongkoknya. Imah dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia berdiri dan berjalan menjauh dari kami berdua.
Aku menatap lamat-lamat punggungnya yang menjauh. Sedetik kemudian, “kamu akrab sama dia? Lumayan juga tu cowok,” aku menatap Imah sambil bercanda.
“Ciee, suka ya?” Imah tertawa.
Aku menggeleng kuat-kuat, sebenarnya malu sih. “Idih, enggak kok, orang cuman tanya aja.”
“Eh bentar deh, rumahnya ‘kan sampingan sama rumahmu dulu yang deket SMP 2 itu. Berarti dia tetanggaan sama kamu,” Imah mengernyitkan dahinya sambil mengingat-ingat.

‘Whaattt?’ aku melongo. Ini bukan sih yang disebut takdir? Kalau bukan, aku mau ini jadi takdirku!!!!
Urutan Terlama
eh ts e wong kajen yo,salam kenal bae wes ah,nek aku omahe dek kota sebelah emoticon-rose
tuh gan cek cp ane kasih yang seger seger emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Diubah oleh kalibaros
Quote:


Salkrn juga gan. Oh tonggo toh, hehe. Di mana gan? Karanganyar? Bojong? Makasih cendolnya emoticon-rose
Quote:

kalo ane kota pekalongan bukan di kabupaten
,gak di update nih gan cerita nya emoticon-Malu (S)
2 – Pengintaian

Cowok itu benar-benar menarik. Nggak ganteng, nggak putih, tapi menarik! Aku tidak tahu apa yang membuatnya menarik. Mungkin fitur wajahnya yang menurutku adalah kombinasi sempurna (?). Atau mata sendunya yang memancarkan keteduhan (?). Entahlah. Lagipula, abege sepertiku masih belum memahami definisi perasaan seperti yang orang dewasa pahami.

Begitu tahu kalau Hakim adalah tetangga semasa masih mengontrak dulu, aku dengan penasarannya sering diam-diam memandangi rumahnya. Berpura-pura duduk sambil menikmati segelas es teh di warung depan rumahnya sehabis pulang sekolah, aku bebas melihat ke arah rumahnya dan (bekas) rumah kontrakan kami dulu. Benar saja! Dia memang tinggal di sana.

Setelah pertemuan hari itu, aku kembali merasakan manisnya jatuh hati masa-masa abege. Rasanya dada yang berdebar saat bisa leluasa melihatnya sedang berada di halaman depan rumahnya – tanpa dia ketahui. Jatuh cinta sanggup membuat kita tanpa lelah menunggu dan mencari tahu apa saja tentang yang kita cinta. Dan itu aku buktikan sendiri.
**
Kepribadian tertutup membuatku jarang bersosialisasi. Introvert barangkali. Bukannya anti sosial, namun terkadang aku sulit untuk memulai sebuah pertemanan. Tapi, sekalinya cocok, aku akan sangat menghargai dan mempercayai temanku. Itu yang membuat selama setahun di kontrakan, aku tidak mengetahui kalau cowok itu adalah tetanggaku dulu.

Penasaran akut. Setelah membulatkan tekad untuk bertanya pada ibu, suatu hari aku memberanikan diri bertanya tentang dia.

“Bu, tetangga samping rumah kita dulu namanya siapa?” aku bertanya dengan nada sedatar mungkin supaya tidak ketahuan bahwa aku sedang penasaran. Sebenarnya badanku sudah panas dingin duluan, takut kalau ibu bisa membaca arah dan maksud tersembunyi dari pertanyaanku.
Ibu yang sedang menggoreng pisang menyahut, “pak Mardi to?”
Aku mengernyit. “Yang punya anak laki-laki itu bukan bu? Yang seumuran juga sama aku.”
Ibu berbalik menatapku. “Iya, itu si Hakim ‘kan? Sekolah di SMP 1. Pak Mardi itu temen sekantor ibu sama ayah,” ibu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aku melongo lagi. Shit man! Beneran deh, aku berharap ini adalah takdir! Dan konyolnya, detik itu juga aku juga berharap kedua orangtua kami akan menjodohkan kami! Tuhan, please jadikanlah kami berjodoh!
**

Pengintaian beberapa minggu ini membuatku hafal dengan kegiatannya. Dan yang paling penting, membuat otakku semakin hafal dengan wajahnya.

Hampir setahun aku suka sekali nongkrong di warung mbak Darmi. Melihatnya leluasa tanpa takut ketahuan. Kegiatan mengintai memang menyenangkan untuk seseorang yang sedang dijahili oleh aksi cupid. Namun rupanya dewi fortuna tidak pernah berpihak denganku. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu langsung atau pun mengobrol dengannya lagi. Mungkin aku yang terlalu pengecut untuk sekedar menghampiri dan menyapanya. Bagiku, menyukai diam-diam sangat menyenangkan.

Kenaikan kelas 3 SMP membuat waktu nongkrongku di warung mbak Darmi menjadi berkurang intensitasnya. Ujian nasional yang sudah terpampang di depan mata membuatku harus banyak belajar. Apalagi siswa dengan otak pas-pas-an sepertiku. Rasanya, UAN menjadi monster yang sangat menakutkan. Lagipula toh, dia juga pasti sibuk sendiri memikirkan UAN juga ‘kan. Jadilah, kuputuskan setahun ini aku akan hibernasi sejenak dari pengintaian
3 – Pertemuan Kedua
4 tahun lalu, kelas 3 SMA.
Kalau kita memutuskan hibernasi dari ngestalk seseorang, kita harus tegas sama diri sendiri. Berapa lama kita harus hibernasi? Setahunkah? Dua tahun? Atau selamanya? Tentukan pula waktu pasti kebangkitan kita dari tidur panjang tersebut. Jangan sepertiku yang bahkan lupa kalau sedang berhibernasi.

Kesibukan menghadapi UAN, mencari sekolah baru, dan kehidupan baru di SMA benar-benar membuatku lupa sejenak tentang dia. Apalagi dulu aplikasi chat mig33 sedang ramai di kalangan abege macam aku. Pertemanan maya jujur kuakui lebih menyenangkan daripada pertemanan nyata. Nggak dipungkiri pula jika aku sempat menyukai beberapa orang yang ada di dunia jingga.

Waktu dan hari-hari berlalu begitu cepat. Sampai tidak terasa aku sudah duduk di kelas 3 SMA. Seperti pengalaman di SMP, UAN masih tetap monster yang menakutkan. Apalagi untuk – sekali lagi kutekankan - siswa dengan kapasitas otak yang pas-pasan sepertiku.

Ayah memutuskan mendaftarkanku di sebuah bimbel ternama dekat rumah. Ayah sadar putrinya ini nggak pintar-pintar amat. Jadi dengan segala kerendahan hati, ayah meminta para pengajar di sana untuk mendidikku dengan baik.

Hari pertama di bimbel. Datang sejam sebelum jadwal, aku menyesal sekali. Seperti anak hilang, aku duduk di sofa ruang tunggu sendirian sambil pura-pura sms seseorang. Padahal, yang aku sms yaa nomorku sendiri. Di dekatku beberapa anak perempuan saling mengobrol. Dari seragam yang mereka kenakan, sepertinya mereka anak SMA 1 Kajen. Duh, lagi-lagi aku mengutuki kemampuan bersosialisasiku yang buruk. Aaahhhh, kenapa sih ayah memasukkanku ke bimbel ini?

Terkadang kita harus besabar. Nggak semua yang kita benci itu buruk untuk kita, pun sebaliknya. Itu kata kitab suci. Dan aku percaya itu! Sesederhana percaya dengan penglihatanku kalau dia datang dengan motornya ke bimbel ini!

Terimakasih ayah, terimakasih bimbel.

Aku terdiam kaku, dia tersenyum ke arahku. Langkah kakinya terayun menuju ke arahku, dan dia pun duduk di sampingku.
“Dafi les di sini juga?”
Aku tergagap. Jantung memompa darah semakin cepat. Sepertinya menyindir, tahu kalau sang empunya sedang jatuh cinta. “Eh, iya. Mau UAN sih, jadi harus lebih banyak belajar.” Aku memilih kata-kata dengan hati-hati. Nggak mau dia illfeel.
“Kamu juga les di sini?” segera aku mengutuki pertanyaan terakhirku. Bodoh! Masih saja bertanya padahal sudah tahu jawabannya.
Dia tersenyum. Manis! “Iya, udah dari kelas 1 aku les di sini.”
Aku hanya mengangguk. Oh, jadi dia sekolah di Smanka (SMA 1 Kajen) ya.
Aku terdiam, tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia lalu bangkit dan mulai bercakap-cakap dengan cewek-cewek satu sekolahannya itu. Yah, aku ditinggal lagi…
Waktu terus berlalu. Teman-teman bimbel ternyata sangat menyenangkan. Apalagi, ada satu teman SMP ku dulu yang les di tempat yang sama. Hakim juga orang yang menyenangkan. Lucu. Kadang suka menyapaku duluan saat kami berdua datang terlalu awal. Tapi, lagi-lagi kepribadianku yang cenderung tertutup membuatku tidak mampu mengimbangi obrolannya. Apa daya, hati ingin bercanda dan dekat, namun tidak diimbangi dengan sikap cerewet. Mungkin karena aku membosankan dan pendiam, perlahan dia menjauh dan jarang menyapaku lagi.
**

Ada satu primadona di tempat bimbel. Resa. Atlit sekolah Smanka, pintar, cantik, tinggi, putih, all you named it, perfect. Ditunjang kepribadiannya yang menyenangkan, Resa mampu mengambil hati semua anak laki-laki di tempat les. Aku sangat iri dengan semua kualitas yang dimiliki Resa. Sampai suatu hari…

Pelajaran fisika termasuk salah satu yang kubenci. Padahal, pak Arif sudah semampunya membuat banyolan lucu agar pelajaran fisika di bimbel terasa seru dan menyenangkan.
Saat itu sedang berlangsung mata pelajaran fisika, pada minggu keempat. Setelah menulis beberapa soal pertanyaan di papan tulis, beliau menyuruh beberapa orang dari kami untuk menjawabnya.
“Ya, Resa. Silakan maju jawab pertanyaan nomor dua,” pak Arif menunjuk batang hidungku sambil menyebut nama Resa.
Aku keheranan. “Saya atau Resa, pak? Saya Dafi.” Aku menunjuk diriku sendiri dan Resa.
Pak Arif memandangi kami berdua yang kebetulan duduk bersebelahan, memandangi kami bergantian. “Oh ya, maksud saya kamu Dafi. Saya salah orang rupanya. Kalian berdua sih, mukanya mirip,” ujarnya sambil tertawa lucu. Sontak, seluruh kelas tertawa sambil melihat heran ke arah kami berdua. Mungkin dalam batin mereka: ‘apa? Resa yang secantik itu dibilang mirip Dafi? Pasti mata pak Arif udah mulai rabun!’
Saat itu seseorang rupanya tersenyum tipis ke arahku dan sedetik kemudian berpura-pura kembali memerhatikan pelajaran. Kenapa bisa aku tahu? Isna, teman SMP ku dulu yang memberitahu.

Pulang bimbel, “Duh, pak Arif kok bisa-bisanya ngomong begitu ya tadi?”
Isna tertawa geli. “Kamu lumayan cantik, kok.”
Aku pura-pura meninjunya. Tapi di saat yang sama, senang juga ada yang mengatakan cantik meski sesama jenis.
Tapi kemudian Isna menghentikan langkahnya. “Tapi tadi, aku liat si Hakim senyum-senyum loh ke arah kamu. Kayaknya dia suka deh sama kamu.”
Aku melayang, harusnya Isna tidak memberitahuku hal seperti ini. Bisa-bisa aku jadi geer.
“Sok tau ah kamu. ‘Kan semuanya emang pada ketawa sambil ngeliatin kami tadi.” Aku mencoba mengusir jauh-jauh geer yang melanda hatiku.
Isna menggeleng yakin, “tapi tatapannya beda Fi. Gini-gini aku juga tau kali mana tatapan suka dan tatapan biasa aja. Kalo yang lain ketawa, nah dia cuman senyum tipis ke arahmu. Nggak lihat Resa loh.”
Sial nih Isna! Bikin tambah geer aja!


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di