alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[True Story] Semua Sudah Terlambat Saat Aku Tahu Kau Mencintaiku
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55ca362014088deb0a8b4569/true-story-semua-sudah-terlambat-saat-aku-tahu-kau-mencintaiku

[True Story] Semua Sudah Terlambat Saat Aku Tahu Kau Mencintaiku

Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding menyimpan perasaan mendalam pada seseorang, pengakuan itu belum sempat terucap, tetapi dia yang aku cintai sudah pergi selamanya, dia pergi tanpa tahu bahwa aku mencintainya.

Sebut saja namaku Tama, aku berusia 22 tahun saat kisah ini terjadi. Kisahku mungkin klise, aku jatuh cinta pada seorang wanita bernama Dinda
Dia adalah adik kelasku saat kami masih sekolah di SMA yang sama, saat kelas dua, dia pindah ke kota lain, tetapi takdir mempertemukan kami kembali di kampus yang sama, saat kami menempuh kuliah S1

Ada satu hal yang selalu aku simpan dalam hatiku, aku jatuh cinta padanya, sejak masih duduk di bangku SMA, aku selalu curi-curi pandang ketika jam istirahat, kadang aku sengaja pamit ke toilet hanya untuk melihatnya latihan Drum Band, walaupun hanya menatapnya selama 5 menit, rasanya kebahagiaanku penuh sepanjang hari.

Remaja selalu malu-malu mengungkapkan isi hatinya, apalagi aku yang memang punya sifat pemalu, hampir tidak ada sinyal cinta yang aku kirim padanya, aku tidak seberani teman-temanku yang bisa titip salam atau terang-terangan mengatakan suka pada cewek yang mereka suka, jadilah aku memendam perasaanku

Mungkin ini masih cinta monyet, yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Dan suatu saat kelak, aku akan benar-benar jatuh cinta di tingkat yang lebih serius dengan wanita lain.
Nyatanya perkiraanku salah, walaupun saat baru masuk kuliah aku sempat berpacaran dengan wanita lain (namanya Yani), aku tetap meletakkan kenangan akan Dinda dalam hatiku

Singkat cerita, saat aku mengambil S1, aku bertemu lagi dengan Dinda, takdir tersebut membawaku pada rahasia yang terpendam. Hatiku kembali berdetak, kembali merasakan indahnya jatuh cinta hanya dengan menatap kedua matanya, perasaan yang tidak pernah aku rasakan dengan Yani.

Beberapa kali kami berada di kelas yang sama. Dia masih Dinda yang ramah dan suka bercanda, hubungan kami tetap dekat, tapi tetap saja, tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku padanya. Bagaimana aku bisa menyatakan perasaanku, jika ada Yani yang masih menjadi pacarku.
Egois memang, aku bahkan sering merasa bersalah pada Yani, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, jika saja Dinda mengajakku untuk jadi kekasihnya (seperti yang di lakukan Yani) aku pasti tidak akan menolak.

Sayangnya, takdir yang mempertemukan kami harus berakhir, suatu hari, pada bulan Ramadhan di akhir bulan Agustus, Dinda mengalami kecelakaan, motor matic yang dia tunggangi di serempet oleh bus ugal-ugalan jurusan Semarang-Jepara dari arah berlawanan, Dinda oleng dan jatuh ke kiri, naasnya dia langsung di lindas oleh Kijang Inova di belakangnya
Dua hari dia dirawat di UGD, tetapi nyawanya tidak tertolong, dia pergi selama-lamanya.

Duniaku hancur, hidupku berantakan
Setiap inci tubuhku menjerit akan kepergiannya,
aku bahkan tidak bisa lagi merasakan sakitnya hatiku
Seolah-olah ada bagian tubuhku yang hilang, jika diibaratkan, aku bagai guci yang pecah berkeping-keping.
Aku hadir dalam pemakamannya, dan sesekali hadir dalam acara doa yang dilakukan keluarganya setiap malam

Di duka yang teramat sangat, ibu Dinda memintaku untuk menemaninya, setelah para tamu pulang.
"Mas.. Mas.. sampean temannya Dinda yang namanya Tama kan?" ujar wanita setengah baya itu, aku bisa melihat ada duka mendalam di balik senyumnya.
Aku mengangguk, lalu wanita itu mengajakku ke sebuah ruangan, yang menurutku adalah kamar Dinda

Wanita itu menceritakan sebuah rahasia yang tidak aku ketahui. "Anak ibu...... Dinda, dia pernah bilang bahwa dia suka sama Tama, cinta gitu," lanjutnya.

Detik demi detik berlalu, aku mendengarkan pengakuan ibu Dinda bahwa putrinya ternyata memendam rahasia.
Ternyata selama ini Dinda melakukan hal yang sama denganku, diam-diam merahasiakan perasaannya, bahkan sejak masih di bangku SMA.

"Waktu itu Dinda pernah bilang, sekarang Dinda sudah punya pacar, mungkin harus menunggu nak Dinda putus dulu, baru dia berani jujur," lanjut ibu Dinda dengan mata berkaca-kaca

Mendengar penuturan ibu Dinda, aku tidak bisa menahan air mataku, aku menangis di hadapan ibu Dinda, aku menangis hingga dadaku terasa sesak, semakin sesak hingga ingin meledak.
Persetan dengan semboyan "laki-laki harus kuat dan gak boleh cengeng"
Aku tak sanggup lagi menahan tetesan air mata yang terbendung di kelopak mata

Aku menyesal,
Sungguh menyesal,
Teramat sangat menyesal.

Aku tidak sempat mengatakan bagaimana perasaanku padanya.
Hingga detik ini, penyesalan itu masih ada Masih mengganjal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, rasanya bahkan jauh lebih berat dibandingkan saat Dinda masih hidup.

Kau bisa mendengar doa-doaku tiap malam, Dinda......?
Aku merindukanmu
Bagaimana kabarmu disana? pasti sekarang kau jadi gemuk, karena di surga kan banyak makanan

============================

Ada satu lagu dari band indie Semarang yang aku ingin Dinda mendengarnya, kira-kira seperti ini liriknya :

indah sinar matamu
seakan pancarkan seribu kata cinta
di balik senyum manismu
terbias keindahan hati yang sempurna

baru aku sadari rasa cinta ini
tumbuh di hatiku
namun aku tak mengerti
mengapa semua ini harus terjadi

karenamu
semua terasa indah
bagaikan sinar mentari

tanpamu
seakan mimpi-mimpi tak berarti

kasih..... dirimu....
mengapa begitu cepat kau tinggalkan aku
coba dan..... rasakan.....
betapa aku sungguh sangat mengharapkan dirimu
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
tapi dinda belum menikah kan gan,masih ada harapan emoticon-rose
Turut berbela sungkawa gan emoticon-Matabelo
Quote:



pasti ente blum slesai bacanya ya gan?
baca lagi lebih teliti
ternyata dinda sudah di surga emoticon-Berduka (S)


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di