alexa-tracking

Memoar 13

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55c9932f14088d58028b456b/memoar-13
Memoar 13
Perkenalkan agan-agan semua, sudah sekian tahun punya akun kaskus baru kali ini pengen posting cerita di thread ini, sebuah catatan sejarah, kumpulan cerita menarik para pekerja Ibukota, tentang pergolakan hati dan persahabatan, ada aktivis LSM, PNS, bankir, agency dan lain-lainemoticon-Blue Guy Peace mereka terikat dalam satu persahabatan dan konflik kepentingan, akan ada beberapa seri

Langsung aja gan disimak
********************
Scizofrenia dan Hujan

Hujan deras mengguyur kota solo siang ini, Langit pun dihiasi dengan kilatan petir yang menyambar. Suasana Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan protokol di Kota Solo,masih tetap ramai dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang nekat menerobos derasnya hujan. Mau gimana lagi? Hujan tetaplah hujan, urusan kerjaan tetaplah mesti diselesaikan, mungkin itulah yang ada dalam pikiran orang-orang itu, terlebih jasa delivery order makanan cepat saji, laris sekali mereka di kala hujan seperti ini, beberapa bahkan berani mengusung semboyan tiga puluh menit sampai atau kami gratiskan, wuihh. Entahlah sudah berapa banyak lalu lalang kendaraan delivery order berlalu didepanku, aku tak memeperdulikannya, aku lebih memilih duduk santai menikmati hujan dari balik kaca resto jepang di salah satu sudut Jalan Slamet Riyadi ini. Karena urusan hujan ini pulalah rencana perjalananku di kota solo siang ini agak tertunda. Untung saja klienku mau memahami kondisi ini dan mau menjadwal ulang pertemuan yang seharusnya siang ini. Bagiku kota ini memiliki sebuah kesan tersendiri, ini bukan perjalanan pertamaku ke kota ini. Namun sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu ketika aku terakhir berkunjung ke kota ini. Cukup banyak perubahan yang aku temukan di kota terbesar kedua di jawa tengah ini.
Sambil menunggu pesenan makananku tiba, aku kembali fokus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di depan laptopku. Sejumlah file-file laporan keuangan beberapa perusahaan swasta dan BUMN menumpuk untuk diaudit segera. Pekerajaan sebagai auditor salah satu lembaga audit asing kenamaan memang menjadi prestige tersendiri buatku, walaupun kadang terasa memebosankan namun akau sadar disinilah jiwaku. Berkutat dengan berbagai macam angka, statistik, neraca keuangan sudah menjadi makananku sejak lama.
Sejenak aku mengalihkan perhatianku pada suasana restoran ini, cukup cozy dan menyenangkan menghabiskan waktu disini. Ornamen khas jepang berada disetiap penjuru ruangan, belum lagi ditambah arsitektur interior gaya asia timur menjadikan suasana benar-benar hidup. Meskipun begitu pengunjung disini bisa dibilang sepi siang ini. Cuma ada aku dan satu pengunjung lagi terpaut lima meja denganku, seorang pria paruh baya dengan kemeja hijau tengah asyik menikmati hidangan teriyaki yang ada didepannya. Aku kembali fokus pada laptop didepanku.
“Permisi Pak..ini pesenan bapak” Seorang pelayan muda mengagetkanku
“Oh iya makasih mbak..” kataku
“Ada yang mau dipesan lagi Pak?” pelayan itu berkata dengan senyum manis
“Oh cukup mbak makasih...”

“Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada tambahan bisa mengubungi kami disebelah sana pak..” katanya sambil menunjukkan salah satu bagian restoran itu, bagian pemesanan sekaligus kasir.
“Okey..”kataku pelan sambil melempar senyum pada pelayan itu.
Hidangan Sushi didepanku itu sudah menggodaku, ah.. ku tinggalkan sejenak pekerjaan dilaptopku. Baru berniat menyantap sushi itu, sebuah Pesan SMS masuk ke Smartphoneku, terpaksa kutunda keinginanku, kubuka dulu SMS itu, siapa tahu SMS Penting, tuh bener kan SMS dari Manajerku,

From: Bos Rio
Adi buka emailmu segera ada job kamu yang mesti direvisi,dah kukirim barusan catetan perbaikannya,deadline malam ini, besok pagi mau dibawa ke klien kita.nggak pake terlambat ya !!!

Fiuhh..!! kerjaan lagi.. nafsu makanku sejenak hilang.
“Nggak tahu apa di Sini guwe juga banyak kerjaan... yang ngirim guwe ke solo siapa..yang nambahin kerjaan siapa” aku ngedumel sendiri.
Aku meminum jus sirsak yang ada didepanku, lumayanlah meredakan emosiku
Aku mengalihakn perhatianku pada pelayan yang mengantarkan pesananku tadi, ia mengobrol didepan meja kasir bersama salah seorang rekannya. Sesaat kemudian Ia menoleh padaku dan melempar senyum. Ah..bodoh kenapa malah melakukan tindakan nggak jelas kayak gini,
Aku menarik nafas pelan, bukan pelayan itu yang menarik perhatianku melainkan seseorang yang lain,wajah pelayan itu mengingatkanku pada sesosok perempuan yang kutemui di bandara tadi pagi. Sama-sama memiliki gurat wajah oriental, mereka agak mirip, walaupun kubilang masih lebih cantik perempuan yang kutemui di bandara tadi. Sayang tadi aku tidak sempat berkenalan, hanya sesaat berjumpa ketika sama-sama mengambil koper, namun senyum itu bener-benar kuingat, ah andai saja bisa bertemu lagi dengan perempuan itu.
Aku tertawa sendiri, “Ngarep dan ngayal tingkat tinggi nih”
Aku pun menikmati sushi didepanku. Tak perduli dengan segudang beban pekerjaan yang mesti kuselesaikan, sekarang adalah saatnya bersantai.
Terdengar bunyi gemericing tanda pintu masuk dibuka, menandakan ada pengunjung datang, entah karyawan ataupun beneran pengunjung aku tak peduli. Namun aku benar-benar terkejut,
“Oh My God..” aku tersentak kaget
Wajah itu..mantel hitam yang dikenakannya.. tidak salah lagi itu Perempuan yang kulihat dibandara tadi. Aku mengamati Perempuan itu, ia berjalan menuju meja pelayan dan tampak memesan makanan. Kulihat ia masih terdiam didepan sana. Pelayan yang mempersilahkan duduk duluan tidak digubrisnya, mungkin dia menunggu pesenannnya langsung. Tak lama kemudian setelah pesenannya jadi Ia pun berjalan menuju salah satu meja. Perempuan itu berjalan mendekat ke arahku, akhirnya ia mengambil tempat duduk tak jauh dari tempatku. Hanya terpaut satu meja. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat, dia beneran perempuan yang tadi, aku tak mungkin salah. Aku mengamati serius tajam ke arahnya. Dia berbalik menatapku dan tersenyum padaku,
“Monyiii...senyumnya bikin lupa urusan disini.”
Aku beralih lagi pada hidangan didepanku. Grogi, Nervous apapaun istilahnya, sekarang inilah yang kurasakan. Aku hanya mencuri-curi pandang.
Kulihat perempuan itu menghentikan aktivitas makannya dan beralih menuliskan sesuatu di buku agendanya. Tak lama, ia pun meneruskan aktivitas makannya kembali.
‘Ayo di sampai kapan kau mau diam gini terus...sapa terus ajak ngobrol..jangan bengong aja kayak dibandara tadi” aku memotivasi diri sendiri.
Sebuah dering telpon terdengar, kulihat perempuan itu tergesa-gesa mengambil hp yang ada ditasnya, Kakinya menendang meja makannya, ia meringis kesakitan, Pulpen hitam yang ada dimejanya jatuh ke lantai, menggelinding tepat dibawah kakiku.
“Ah..awalan yang bagus untuk memulai obrolan” pikirku
Aku memungut pulpen itu, kuamati merknya, Montblank, sebuah pulpen mahal dan eksklusif, dari situ aku mengerti kelas sosialnya, “Okey...it’s fine..” kataku.
Aku berjalan mendekat ketika dia sudah selesai dengan obrolan di telpon.
“Maaf Mbak.. ini pulpennya jatuh tadi..”
“Oh iya mas makasih... tadi buru-buru sih ngangkat telpon sampai nendang meja ini segala”
“Ehhmm.. boleh saya duduk disini?” ucapku basa basi
“Silahkan..”
Ahaa... awalan yang bagus.
“Sendirian aja kesini..?”
“Kelihatannya..”
“Oh... Betul juga pertanyaan bodoh ya... hehee”
Aku terdiam sejenak, jangan sampai salah bicara lagi
“Adi..” Aku mengenalkan diri sambil mengajaknya bersalaman
Lagi-lagi dia melemparkan senyum manisnya,
“Viska..”dia membalas
“Nama yang bagus..”Komentarku singkat
Dia hanya tersenyum saja.
“Perasaan kita pernah bertemu tapi dimana ya mas..” Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu
“Saya juga berfikir begitu mbak.. Bandara Adi Sumarmo tadi pagi..?” Aku berusaha memancing, nggak enak jika harus to the point
Kulihat dia melongo kaget,
“Ah...iya..ya, saat ngambil koper kan... pantes”
Aku tertawa kecil,
“Kok ketawa mas..? ada yang lucu..” tanyannya
“Enggak.. Cuma kurasa ini bukan kebetulan, tapi..”
“Tapi apa mas..?”
“Tapi Takdir..!”
Kami berdua pun kompak tertawa. Kulihat dia meminum Softdrink yang dipesannya, ia agak tersedak. Kami terdiam sejenak.
“Mbak Viska asli sini..?” aku melanjutkan obrolan
“Panggil aja Viska.. biar lebih akrab..sepertinya kita seusia.. iya aku asli sini, rumahku didaerah Laweyan.. sejak SD sampe SMA aku di Solo, lanjut kuliah di Nanyang dan sekarang kerja di Jakarta..”
“Nanyang Singapura? Wah keren..!”
Ia hanya mengangguk.
“Kamu Asli Solo juga ? “ Ia balas bertanya
“Enggak..aku dari kecil di Jakarta, ayahku dari padang, ibu dari Jogja, tapi aku punya paman di Solo, Cuma sudah lama aku nggak kesini...sudah banyak yang berubah..”
“Betul banget.. aku juga ngerasa begitu.. terlebih setelah punya walikota seperti pak Jokowi kota Solo banyak sekali perubahannya... sayang dia sekarang sudah pindah, milih ngurusin jakarta, yang aku tahu sendiri masalahnya sudah kompleks..belum yakin akan beres meski dipimpin sama Jokowi sekalipun... ah..! Sudahlah..nggak usah dipikirin urusan politik macam itu..” ia berkata panjang lebar
“Viska di Jakarta kerja dimana..?” aku masih berusaha menggali info lebih dalam lagi. Modus..
“Disebuah perusahaan Kurator..Kantorku di Sudirman..”
“Wah sama dong kantorku juga disekitaran sudirman..”
Kulihat dia sekali lagi terkejut
Aku tersenyum puas, sementara kulihat Viska hanya geleng-geleng kepala
“Kubilang juga apa..ini bukan kebetulan tapi takdir..sebentar aku ambil kartu namaku dulu..”
Aku mengambil kartu nama didompetku. Ah mana kartu namaku. Kok nggak ketemu..biasanya juga mudah dicari.. hampir setengah menit aku mencari..ah ini dia. Saat akan kuserahkan pada Viska, aku kaget ketika seorang pelayan menegurku,
“Maaf Pak, Bapak ngobrol dengan siapa..?”katanya
“Mbak gimana sih..nggak tahu apa saya lagi ngobrol ma perempuan didepan..?” jawabku dengan emosi.
Wajah pelayan itu keheranan,
“Mohon maaf Pak... dari tadi meja didepan bapak itu kosong.. karena dari kejauhan kulihat bapak ngobrol sendiri makanya saya datang kesini..mungkin ada masalah”
“Enak aja saya dibilang ngobrol sendiri..., nih makanan masih ada diatas meja, Viska yang saya ajak bicara juga masih ada kalau mbak mau ngobrol, kalau masih nggak percaya, coba tanya sama bapak itu.. Masak saya dibilang ngobrol sendirian sih..emangnya saya gila ”
Pelayan itu masih menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang ke arah pria paruh baya yang kumaksud.
Bapak itu mendekat pada kami,
“Dek..dari tadi saya juga merhatiin kamu itu sendirian..pengunjung resto ini dari tadi Cuma kita berdua..nggak ada yang lain, saya juga aneh ngelihat tingkahmu dari tadi..kayak orang linglung” kata Bapak itu
Brakk!!! Aku mengebrak meja didepanku
“Kalian jangan sembarangan kalau ngomong ya..lihat Viska masih ada didepan..!” kataku sambil menunjuk pada Viska.
Kulihat Viska tersenyum dan kemudian berdiri,dari wajahnya kulihat diat tidak suka dengan keributan ini. Ia pun berlalu pergi meninggalkan kami. Aku berusaha mengejar, tapi Pelayan itu menahanku
“Maaf bapak.. Resto ini dilengkapi CCTV kalau nggak percaya mari kita lihat rekamannya..” kata pelayan itu,” Kami juga tidak melayani pesanan setelah bapak tadi..”
“Adek sakit ya..?” tanya bapak itu
“Terserah kalian mau bilang apa...!!!”
Aku kalap mengeluarkan lima lembar seratus ribuan.
“Nih..aku bayar makanan pesananku tadi sekalian punya Viska..lihat dia sudah pergi duluan..kulihat dia belum bayar juga tadi.. ambil saja kembaliannya”kataku denganKetus.
Aku pun kembali kemejaku memberesi semua barang-barangku dan berniat mengejar perempuan bernama Viska tadi. Pundakku terasa Sakit ketika Bapak paruh baya itu menggengam erat pundakku. Pandangannya tajam padaku. Aku berusaha melawan, namun sebuah pukulan mendarat di ulu hatiku menyebabkanku lemas dan tertunduk dikursi.
Samar-samar kudengar suara bapak itu.
“Mbak tolong telpon dokter segera..”
Pandanganku kabur seketika...

****************************************
[bersambung]
Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan dan kondisi medis yag mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan tingkah laku. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif, sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang panca indera).
×