alexa-tracking

2X45, Story About Hooliganism, Love, and Friendship

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55c8956698e31bc4528b4570/2x45-story-about-hooliganism-love-and-friendship
2X45, Story About Hooliganism, Love, and Friendship
Quote:


Quote:
reserved
Prolog


Sleman, 28 Agustus 2013.

Petang ini jadi hari yang sangat panjang. Aku melangkahkan kaki menjauhi stadion Maguwoharjo, setengah berlari menuju jalan raya ring road utara Yogyakarta. Sekitar 300 meter dari stadion Maguwoharjo, aku berpapasan Lingga yang mengemudikan sepeda motornya. Tanpa banyak cakap aku sudah berada di bangku penumpang motor milik Lingga, kaki ini sungguh sudah sangat letih melangkah, sudah lebih dari 5 jam aku tidak duduk dan beristirahat. Motor milik Lingga melaju dengan kecepatan yang cukup untuk membuat kami mati –atau setidaknya masuk ruang ICU jika seandainya kami terjatuh. Yang ada didalam pikiranku sekarang hanya sampai ke rumah kontrakan Lingga dengan selamat dan setidaknya mengobati sedikit luka sobek di lenganku, lututku mengalami luka parut, dahiku memar dan membiru. Aku bahkan tidak sempat untuk berfikir bagaimana nasibku di Bandung nanti setelah aku pulang dari Yogyakarta. Apalagi untuk sekedar memikirkan apa yang harus aku katakan ketika aku bertemu dengan ibu dan ayah dengan wajah memar dan luka seperti ini. Masalah ini terlalu kompleks untuk sekedar aku pikirkan selintas pada keadaan kahar seperti ini. Andhika dan Tama belum sempat kukabari mengenai keberadaan dan kondisiku, yang kutahu mereka langsung bergabung dengan rombongan besar beberapa saat sebelum keadaan tidak dapat dikendalikan lagi. Ketika sampai di kontrakan Lingga, aku segera men-charge handphoneku yang telah kehabisan baterai semenjak sore tadi, 4 pesan line messenger dan 2 SMS masuk ke handphoneku, salah satunya dari Tasya yang tampaknya sudah cukup khawatir mengenai keadaanku hari ini setelah melihat berita sore di televisi. Petang ini Tasya bukan merupakan prioritas dalam pikiranku, terlalu banyak hal lain yang memenuhi pikiranku.
KASKUS Ads
Bab 1 : Keberuntungan Dalam Kesialan


Stasiun Tanah Abang, 16 juli 2010.

Aku melangkahkan kaki menaiki tangga menuju pintu masuk stasiun Tanah Abang, sore hari kota Jakarta membuat suasana stasiun ini tidak cukup nyaman bagi orang-orang yang telah seharian beraktifitas demi mengumpulkan rupiah demi rupiah dan segera menuju kediamannya masing-masing. Aku berjalan sendiri ditengah kerumunan orang banyak dengan menggendong daypack Deuter milikku. Hari ini aku pamit kepada ayah dan ibu untuk menuju solo menyaksikan pertandingan kandang Persija di stadion Manahan Solo. Ini pertama kalinya dalam hidupku berkunjung ke Kota Solo dan juga pertama kalinya dalam hidupku menyaksikan partai kandang ‘usiran’ Persija di luar kota. Pengumuman di stasiun Tanah Abang mengatakan bahwa kereta api ekonomi Senja Bengawan telah tersedia di peron 3, setelah mendapatkan tiket kereta api yang terkubur didalam saku jaket wind breakerku, segera aku turun dari ruang tunggu stasiun Tanah Abang menuju peron 3 stasiun tersebut. Aku menghubungi Andhika yang telah tiba di stasiun lebih awal dariku setelah aku gagal menemukannya di peron stasiun yang dipenuhi ribuan manusia kelas pekerja ini.

“siap?” Tama mengejutkanku dengan tepukan pada pundakku.

“woles.” Aku menjawab pertanyaan Tama, sekenanya saja.

Aku, Andhika dan Tama berteman sejak masuk sekolah menengah atas, mereka adalah ring satu pertemananku selama mengisi waktu-waktuku di Sekolah Menengah Atas, awal pertemuan kami terjadi karena sebuah kisah konyol. Kami sama-sama terpilih –atau terjebak di tim pasukan pengibar bendera, Pak Atib yang merupakan guru mata pelajaran ekonomi sekaligus pembimbing ekstra kurikuler paskibra di sekolahku entah kenapa menunjukku untuk mewakili kelas di tim paskibra pada upacara bendera 17 Agustus, dengan latar belakang anak tongkrongan sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Aku bukanlah pilihan tepat untuk menjadi anggota pengibar bendera, aku tidak terdidik dan tidak terlatih untuk baris berbaris, tapi jika untuk lari berlari ditengah tawuran, aku adalah pilihan yang tepat. Hari pertama latihan kulalui sekenanya dan hanya dengan formalitas agar tidak mendapatkan masalah. Ditengah istirahat latihan paskibra, sudut mataku yang telah lelah dan membutuhkan asupan nikotin memperhatikan gelagat dua orang anak kelas sebelah yang merupakan tim paskibra juga telah melangkahkan kakinya ke toilet sepi disamping kantin. Aku membuntuti mereka berdua beberapa saat setelah mereka masuk lorong menuju toilet. Voila, tercium aroma kretek dibakar didalam toilet tersebut, muka kedua orang itu kaget melihatku memasuki toilet, setan memang selalu dekat dengan keburukan, aku menemukan orang yang memiliki rokok disaat yang membosankan seperti ini.

“Join ya bos.” aku membuka pembicaraan dan berusaha mencairkan suasana yang sangat kaku akibat muka bengong dengan dekorasi butiran keringat sebesar jagung mereka yang seperti maling ayam kepergok warga.

“baik, Kirain pak Atib.” Jawab Andhika –aku melihat badge nama yang terpasang di seragamnya, sambil menyodorkanku sebungkus sampoerna mild yang dia pegang dari tadi.

Aku membakar sebatang rokok milik Andhika tersebut, mulai jongkok di sebelah Tama, anak yang sedikit lebih besar dari Andhika. “kelas satu berapa lo?” tanyaku kepada mereka.

“1-6” Jawab Andhika ketus. “Rokok beli lah brur, jangan dateng diem-diem terus bikin panik orang.”

“Iya, iya.” Jawabku sekenanya, sebatang rokok dari Andhika membuatku cukup segan untuk mendebati mereka lebih jauh.
Dari hasi cigarrete talk antara kami, aku mengetahui bahwa Andhika kenal dengan Tama semenjak masa orientasi, oleh karena itu mereka sudah saling tahu mengenai kebiasaan illegal merokok dibawah umur mereka satu sama lain, selanjutnya mereka sama-sama terjebak dipilih oleh guru untuk mengikuti kegiatan ini. Sial bagiku yang tidak mengikuti masa orientasi, selain tidak kenal banyak orang selain temanku dari SMP, aku pun tidak mengetahui siapa orang yang bisa menjadi teman nakalku di masa SMA ini sampai aku menemukan Andhika dan Tama. Namun tidak kusangka, sebuah pertemuan canggung di lorong toilet sekolah justru menjadi awal kisah panjang pertemanan kami bertiga.
image-url-apps
seru nih kaya nya cerita tentang sepak bola emoticon-Bola
image-url-apps
saya viking bray #aingpersib
image-url-apps
jadi cerita fiksi ya gan,tapi gak papa deh,yang penting ada baca'an emoticon-rose
Quote:


tentang dunia supporter puh, insya allah emoticon-Smilie

Quote:


aing the jak kang, didinya mah kalem weh nya kang

Quote:


plintiran real life puh emoticon-Embarrassment kalo utuh real life mah hidup saya ga seru-seru amat kayak chairul tanjung buat diceritain emoticon-Big Grin
Bab 1 Part 2

Andhika as known as Ucok adalah seorang pemberontak sejati, anak Jendral yang paling pembangkang sepanjang deretan orang-orang yang kutemui sepanjang hidupku. Lahir dari keluarga blasteran pria Balige yang menikah dengan wanita Kebumen, ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah Andhika sangat dominan didalam keluarga, dibesarkan dengan disiplin ala akademi militer justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang berbeda dengan dua orang kakaknya. Bondan, kakak pertamanya adalah seorang perwira polisi yang baru satu tahun lulus dari akademi kepolisian. Mengikuti jejak ayahnya, kakak pertamanya ini merupakan anak kebanggaan ayah Andhika yang seorang perwira tinggi kepolisian bintang dua yang saat ini aktif memimpin salah satu polda di pulau jawa. Ayu yang merupakan kakak keduanya tidak jauh berbeda, ia adalah mahasiswa tingkat akhir fakultas hukum pada salah satu universitas negeri di Jakarta. Dengan IPK yang lumayan bagus, kakaknya merupakan salah satu kandidat cum laude dalam beberapa bulan kedepan. Sedangkan Andhika sendiri baru saja diterima menjadi mahasiswa sastra di universitas yang sama dengan Ayu.

Keluarga yang keras membuat Andhika justru menjadi sosok pembangkang, ia banyak berselisih paham dengan ayahnya ataupun Bondan. Tidak terhitung berapa kali Andhika minggat dari rumah, sampai ibu Andhika juga sudah bosan khawatir apabila Andhika tidak pulang berhari-hari, ”Ntar kalo laper juga pulang.” Komentar ibu Andhika setiap kali Ayu khawatir apabila Andhika lari dari rumah setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya. Lain dengan Bondan, dibalik sikap dingin dan cuek, Ayu menyimpan banyak perhatian kepada adiknya tersebut. Andhika menjadi sosok alter ego bagi Ayu yang pada dasarnya juga merasa tersiksa dengan segala pakem militer yang diterapkan ayahnya di rumah mereka. Akan tetapi Ayu lebih memilih jalan damai dan mengikuti segala kemauan ayahnya.

“Dek, kamu kapan mau bayar uang pangkal sekolah? Kemarin mas Indra udah kirimin uangnya ke ibu.”

“Ga usah bu, aku baru terima honor ngajar privat anaknya pak Handoko setahun.” Tama yang sedang mengoprek jeroan vespa kesayangannya menjawab pertanyaan ibunya. “Uangnya buat ibu aja.”

Berbanding terbalik dengan Andhika yang hidup serba berkecukupan, Tama hidup dengan perjuangan di setiap jengkal langkahnya. Ayahnya telah meninggal setelah mengalami serangan jantung ketika tama berumur delapan tahun. Ia memiliki tiga orang kakak laki-laki yang jauh lebih tua darinya, merekalah sosok pengganti ayah Tama yang terus menopang kehidupan keluarganya. Walaupun penghasilan kakaknya yang bekerja sebagai profesional di bidang IT management pada perusahaan minyak di Dubai telah lebih dari cukup untuk membuat keluarganya hidup layak, tapi Tama selalu diajarkan untuk hidup sederhana dan prihatin. Lagipula, harga dirinya terlalu tinggi untuk merengek meminta sesuatu kepada kakaknya bahkan sejak ia masih kecil. Ia memegang prinsip bukanlah kewajiban kakaknya untuk memenuhi segala kemauannya, sehingga ia lebih memilih untuk mencari penghasilan tambahan ataupun menyisihkan uang jajan dari kakaknya untuk membeli barang yang dia inginkan. Sejak SD Tama selalu mendapatkan nilai yang bagus di setiap mata pelajaran sekolahnya, setiap bulan beasiswa mengalir ke rekeningnya sehingga ia tidak perlu banyak menguras kantong ibu atau kakaknya untuk biaya sekolahnya. Pada saat ini pun dia telah diterima sebagai mahasiswa pada jalur prestasi yang mendapatkan beasiswa penuh pada salah satu sekolah bisnis swasta di Jakarta.

Tama memiliki hobby yang disukainya dari kecil, ia sangat senang menonton sepak bola langsung di stadion. Ia pernah bercerita bahwa ayahnya sering mengajak Tama ke stadion dan menonton pertandingan sepak bola. Baginya, berada di stadion membuat ia merasa selalu dekat dengan ayahnya. Posisi rumahnya yang cukup dekat dengan stadion lebak bulus menjadikan Pelita Jaya Jakarta dan persijatim menjadi tim yang paling sering ia tonton semasa kecil, semenjak menghilangnya pelita jaya dan persijatim dari ibukota, Tama rutin menonton pertandingan Persija Jakarta. Baginya, dengan menonton pertandingan langsung di stadion, ia merasa selalu dekat dengan ayahnya. Pada akhirnya, tama-lah yang menyebarkan virus oren kepada aku dan Andhika untuk menjadi part-time supporter persija Jakarta.

Sedangkan aku Dimas Avicenna, teman-temanku memanggilku dengan panggilan Batak –untung saja Tama tidak memiliki darah dari tanah Sumatera Utara, jika tidak mungkin kami sudah seperti Trio Ambisi. Aku anak kedua dari dua orang bersaudara yang terlahir pada keluarga yang sangat hangat, ayahku seorang dokter bedah ortopedi dan ibuku seorang dosen psikologi. Kakaku Rian berumur dua tahun lebih tua dariku. Dua tahun yang lalu, Rian gagal diterima menjadi mahasiswa kedokteran sesuai dengan apa yang diharapkan ayahku. Namun blessing in disguise, ia justu diterima menjadi mahasiswa di sekolah kedinasan kementerian keuangan di Jakarta. Harapan terakhir ayahku agar memiliki penerus di bidang kedokteran kini jatuh kepadaku. Walaupun tidak menekanku untuk mengikuti keinginannya, tetapi ayahku ingin sekali aku mengikuti jejaknya menjadi dokter. Baginya, beliau ingin anaknya mengabdi bagi kehidupan orang banyak. Sebagai seorang dokter bedah, ia tidak sekaya kolega-koleganya yang praktek spesialis disana-sini. Setelah pulang dari prakteknya di rumah sakit, ayah justru memilih membuka praktek dokter umum di kampung belakang komplek perumahanku. Hari liburnya banyak dihabiskan untuk sekedar bersantai dirumah dengan segelas teh manis panas dan buku-buku fiqih agama, atau setidaknya memintaku menemaninya pergi berbelanja ke pasar terdekat dari rumahku di minggu pagi sambil berolahraga sebelumnya, waktu senggangnya digunakan untuk mengisi ceramah di masjid Al Jihad, sebuah mesjid yang berada di komplek perumahan tempatku tinggal. Dibandingkan mengajak keluarga kami untuk liburan keliling Asia atau Eropa seperti yang dilakukan koleganya dirumah sakit, ayah lebih senang mengajak kami liburan ke kampung halamannya di Mandailing Selatan untuk sekedar melepas lelah di rumah warisan kakek menjauhi hingar-bingar kehidupan Jakarta.

Sampai saat ini, aku masih menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru universitas negeri yang melalui jalur reguler, setelah sebelumnya aku telah gagal beberapa kali di jalur mandiri. Teracuni oleh film-film barat yang bertema pengacara, dan tentu saja melihat amang udaku yang sering muncul di televisi untuk memberikan keterangan mengenai kasus yang ditanganinya, aku ingin sekali berkuliah di Fakultas Hukum, pilihan pertamaku jatuh pada Fakultas Hukum di kampus yang sama dengan Andhika, pilihan keduanya adalah kampus di Bandung. Walaupun demikian, aku tetap berusaha memenuhi keinginan ayahku dengan mengambil pilihan ketiga pada fakultas kedokteran. Urutan yang aneh? Memang, namanya juga formalitas. Ibu tidak pernah mengarahkanku untuk memilih jurusan di universitas. Baginya cukup aku tertarik dan dapat bertanggung jawab dengan pilihanku sudah lebih dari cukup.

pekiwan braaay

image-url-apps
waduh pejwan nih. forza persija bang..
image-url-apps
Ijin nenda gan emoticon-Malu
image-url-apps
ya elah ibu nya andika waktu andika minggat kok cuma bilang ntar kalo laper juga balik,kocak nih ibu nya emoticon-Ngakak
image-url-apps
ijin bangun stadion gan emoticon-Ngakak (S) ane juga pecinta local football nih... salam kenal.. heuheu
image-url-apps
ijin bangun steger gan
ijin nyalain flare gan emoticon-Ngakak salam dari BONEK surabaya buat JAKmania emoticon-Shakehand2 bosen musuhan gan hahaha
image-url-apps
Ijin nenda gan ditunggu cerita away day nya hihi
Lanjut atuh gan...emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
wahahahahaha paham nih gw arah ceritanya dari prolognya, emang ada the jak di bandung? emoticon-Stick Out Tongue

anw, lanjutin dong
image-url-apps
baru ta ada cerita tentang supporter nih
aremania ikut tan ya emoticon-coffee

lanjut apa nggak nih ya??
×