alexa-tracking

Aku Cinta Kamu dalam Dirinya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55c6ce4e5a516344558b456d/aku-cinta-kamu-dalam-dirinya
Aku Cinta Kamu dalam Dirinya
Aku Cinta Kamu dalam Dirinya



"Memang, kamu bukanlah perempuan yang sempurna.
Akan tetapi, berdua bersamamu selalu membuat hari-hariku terasa sempurna"

-Rian-
image-url-apps
Spoiler for Index:
image-url-apps
Part 1

Sudah lebih dari setengah jam gue berada di tempat ini.

"Ah, kamu di mana sih?" batin gue.

Keringat mulai bercucuran dari tubuh gue. Panasnya siang ini membuat baju gue harus basah karena keringat yang keluar lebih banyak dari biasanya.

Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
Gue mencoba menghubunginya, tetapi hasilnya nihil. Nomornya tidak bisa dihubungi.

Argh!
Gue mengacak-acak rambut gue.
Mendadak jantung gue berdetak semakin kencang, bahkan lebih kencang dari langkah kaki para pengunjung yang terdengar di sekitar sini.

Gue takut kejadian itu terulang.
Gue takut melihatnya lagi.

"Riaaaaaan!"

Gue langsung mencari darimana arah suara tersebut berasal. Gue mencari ke kiri dan ke kanan, terus begitu, sampai gue menemukan seorang perempuan sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Gue berdiri, kemudian berlari menghampirinya.

"Maaf ya, tadi aku ad..."

Gue memeluknya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Ian, kamu kenapa?"

Gue masih tetap memeluknya meski agak memalukan memeluknya di tempat umum seperti ini. Karena gue tahu dan yakin, apa yang gue lakukan pasti akan membuat kami menjadi pusat perhatian pengunjung yang ada di sini.

Detak jantung gue mulai kembali normal.
Gue benar-benar merasa lega.

"Ian?" dia bertanya lagi.

Gue melepaskan pelukan gue.
Dan memang benar, ada banyak orang yang menatap kami di tempat ini. Beberapa di antaranya terlihat bisik-bisik dengan temannya. Tapi gue tidak peduli, yang terpenting kejadian itu tidak terulang lagi.

"Lho, kamu kenapa nangis?" dia menatap gue keheranan.

"Hah? siapa yang nangis? ini tadi cuma..."

HUP...

Dia memeluk gue.
Erat.
Sangat erat.

"Aku ngga ke mana-mana kok." katanya lembut sambil menepuk bahu gue.
"Maaf ya Ian, bikin kamu inget lagi." lanjutnya. Kali ini wajahnya tertunduk, enggan melihat gue.

Gue mengangkat pelan dagunya, lalu memegangi bahunya.

"Kamu engga salah kok." Gue tersenyum simpul, yang kemudian disusul senyum manis darinya.

"Duduk di situ yuk," gue menunjuk bangku kecil yang berada di bawah pohon.

Dia mengangguk.

"Udah lama ya nunggunya?"

"Engga kok, 2 jam lah kira-kira," canda gue.

"Hah?! 2 jam?!" jawabnya berteriak, sehingga membuat para pengunjung memperhatikan kami, lagi. Tidak lama, hanya sekejap, dan mereka kembali mengalihkan perhatian mereka lalu melanjutkan aktivitas mereka lagi.

"Hahaha engga kok, kamu kan tau sendiri aku ngga bisa bangun pagi"

"Oiyaaa, aku lupa kalo kamu kebo." jawabnya sambil menepuk jidat.

"Sialaaaan," jawab gue lalu kami tertawa.

Kemudian...
Kami berdua larut dalam keheningan. Pandangan gue tertuju pada seorang anak kecil yang tengah bermain dengan ibunya. Anak kecil itu berlari di sekeliling ibunya, sedangkan ibunya seakan-akan berusaha menangkapnya. Ya, mereka sedang bermain kejar-kejaran. Hal yang sangat sering gue lakukan bersama nyokap gue dulu.

"Riaaaaan, orangnya ada engga sih ini?" suara perempuan menggema di telinga gue.

"Eh, iyaaaa, ada apa?"

"Ish...jangan mikirin aku terus napa." jawab perempuan itu dengan pedenya.

"Hahaha kamu pede banget ini mah." gue tertawa lepas.
"Eh, kok tumben banget sih kamu ngajak aku ke sini?" tanya gue.

"Ada sesuatu yang mau aku omongin." katanya tanpa memandang gue.

Duh, gue paling anti deh sama yang beginian. Kalimat ini bikin siapa pun yang mendengarnya bakalan deg-degan hahaha

"Oh, ya ngomong aja atuh." jawab gue santai. Lebih tepatnya pura-pura santai.

Hening.
Dia belum memberikan tanggapan.
Tatapannya kosong ke depan.

Gue menggeser posisi duduk menjadi lebih dekat dengannya.

"Hei, ada apa sih?" gue menepuk pelan bahunya.

"Aku...aku takut Ian." jawabnya lirih.

Gw hanya mengernyitkan dahi.

"Jujur aku takut bilangnya, tapi mau ngga mau kamu harus tau ini." dia masih enggan melihat gue.

"Maksudnya?" gue masih kurang paham.

Ah, sepertinya ini masalah yang serius.

"Semakin lama kamu tau, semakin besar rasa sakit yang akan kamu terima." lanjutnya. Kali ini dia menoleh ke gue. Matanya mulai berair.

Ada apa gerangan?
Apa hubungan kami tidak direstui?
Apa dia mengidap penyakit langka?
Apa gue akan kehilangan orang yang gue sayang, lagi?
Ah, ini benar-benar menyeramkan.

Gue masih menatapnya tanpa menjawab.

"Ian, aku mau cerita, tapi jangan disela sebelum aku selesai cerita yaa." katanya. Sesekali dia menyeka air mata yang mengalir sedari tadi.

Gue mengangguk.

"Jadi gini..."
KASKUS Ads
image-url-apps
Part 2

Kembali ke masa lalu...

"Duh, telat lagi nih gue!" Gue melihat jarum panjang menunjuk angka 9. Itu artinya, gue harus tiba di sekolah kurang dari 15 menit lagi.

Tanpa pikir panjang, gue langsung lari menuju kamar mandi. Lima menit kemudian gue sudah berada di perjalanan menuju sekolah. Padatnya lalu lintas membuat gue bersyukur karena tadi tidak memilih menggunakan sepeda motor. Jarak antara kos - sekolah yang relatif cukup dekat membuat gue lebih sering jalan kaki daripada naik motor. Selain karena lebih sehat, lebih hemat juga. Maklum anak kos emoticon-Malu (S)

Begitu sampai pintu gerbang, gue terbengong ria. Ya, gerbang sekolah sudah ditutup. Tidak mungkin gue manjat dinding sekolah, bisa dikira maling ntar hahaha

"Oiya, ini kan hari senin!" Batin gue

Di sekolah gue, shift jaga satpam berganti setiap hari. Nah, gue sendiri sudah hafal di luar kepala jadwal satpam yang akan bertugas di hari itu. Kebetulan yang bertugas hari ini adalah Pak Soni. Dari sembilan satpam yang ada di sekolah, dia lah yang paling dekat dengan gue. Kok bisa sih gue hafal semua jadwalnya? Ya iyalah, gue sering telat soalnya hehe

Kemudian, gue mendekatkan kepala ke gerbang berwarna biru itu.

"Pak....Pak Soni," panggil gue.

Tidak ada jawaban.

"Pak Soniiii," panggil gue sekali lagi. Kali ini sambil mengetuk pelan gerbang sekolah.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara decitan pintu gerbang yang terbuka. Pak Soni menengok keluar lalu mempersilakan gue masuk.

"Makasih pak," gue tersenyum

"Langsung minta surat izin masuk aja mas." ujarnya.

Gue mengangguk.

Beberapa satpam di sekolah gue bisa dikatakan anti sama murid yang suka terlambat. Murid-murid yang sering terlambat seperti gue terkadang tidak diperbolehkan masuk. Alasannya supaya gue lebih bisa menghargai waktu. Tapi beruntunglah gue mengenal dekat Pak Soni, jadi masalah seperti itu bisa teratasi.

Selanjutnya, gue berjalan ke ruang piket di mana gue harus meminta surat izin masuk sebelum diperbolehkan masuk kelas.

"Lho, bukannya jam pertama ini lo pelajaran fisika ya?" tanya gue kepada salah satu teman yang berjalan menuju laboratorium komputer.

"Ada perubahan jadwal Ian khusus hari ini. Fisika di kelas gue jadi jam ke-empat." jelasnya ke gue.

"Bukannya jam ke-empat itu dia ngajar di kelas gue ya?"

"Kan jadwalnya diganti. Sekarang Pak Agus di kelas 11 IPA 4 deh seinget gue"

"Oke thanks ya infonya!"

Selesai berkata, gue langsung berlari menuju ruang piket. Hari ini gue ulangan fisika dan gue murid 11 IPA 4. Jadi, kalau jadwal pelajaran fisika gue dipindah jadi jam pertama, itu tandanya ulangan akan dimulai beberapa menit lagi. Mampus gue!

Sesampainya di sana, Pak Tri(guru yang bertugas piket di hari itu) tengah sibuk berbicara dengan seorang perempuan.

"Permisi," sapa gue ketika hendak meminta surat izin masuk.

Tapi, Pak Tri malah melotot dan menyuruh gue keluar. Perempuan itu melihat gue lalu berusaha menahan tawa.

"sialan!" Gumam gue.

15 menit berlalu, namun mereka masih belum selesai berbicara.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.15, itu artinya gue sudah tidak bisa mengikuti ulangan. Percuma gue memohon, tidak akan diizinkan. Lagipula kalau diizinkan ulangan, waktu yang tersisa tidak akan cukup untuk mengerjakan soal-soalnya.

Gue bangkit berdiri dan melihat mereka berdua dari jendela kecil di sudut ruangan. Gue memerhatikan perempuan itu dengan seksama.

"Kok gue ga pernah liat ni cewe ya?" batin gue

Akhirnya setelah "nguping" percakapan mereka, gue dapat menyimpulkan kalau dia adalah murid baru di sekolah ini, walaupun gue masih belum tau dia akan ditempatkan di mana.

Sekitar 15 menit kemudian, mereka berdua keluar dari ruang piket. Pak Tri meminta seorang guru untuk menemani perempuan tadi menuju ke kelasnya. Sementara itu, Pak Tri menyuruh gue masuk ke ruang piket, lalu meminta gue memberi alasan mengapa terlambat lagi.

Setelah beberapa lama bernegosiasi, akhirnya gue mendapat kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, gue diizinkan masuk ke dalam kelas. Kabar buruknya, gue disuruh berlari 10 kali lapangan bola. Pak Tri mengatakan kalau hukuman ini diakumulasi dari keterlambatan gue akhir-akhir ini.

"Argh! kalo aja bukan karena cewe itu, gue pasti bisa ikut ulangan!" geram gue ketika berlari di lapangan.
image-url-apps
wah cerita baru dari temen
izin nenda gan
image-url-apps
Part 3

"What?! dia sekelas sama kita?!" Gue tidak percaya perempuan tadi ternyata ditempatkan di kelas gue.

Gue menutup muka dengan kedua tangan.

"Iya Ian, cantik lho anaknya." Saut salah satu temen gue.

Sekarang gue berada di kantin. Berlari 10 kali lapangan bola membuat perut gue minta diisi "bahan bakar".

Gue masih tidak percaya dia sekelas dengan gue. Moodbreaker banget lah!

"Balik aja yuk, udah mau bel juga." Ajak gue.

Akhirnya setelah membayar makanan, gue bersama beberapa temen balik ke kelas. Sebenernya, tujuan utama gue balik ke kelas bukan karena hampir bel, tapi karena gue mau memastikan apa dia benar-benar ada di kelas gue.

"Mana orangnya Nes?" Gue bertanya kepada sahabat gue, Nesa.

Dia memajukan bibirnya ke arah perempuan di sudut kelas. Ah, ternyata dia memang sekelas dengan gue!

"Lah, ngga ada tempat duduk lagi nih?" Gue mencari tempat duduk untuk gue sendiri.

"Ada kok, tuh di pojok sana." Salah satu temen gue menjawabnya.

What?!
Duduk jejer bareng dia?
Nggak! Gue ga mau! Ga akan mau!


Setelah menjalani hukuman tadi, gue tidak langsung masuk ke kelas. Gue yakin bau badan gue bisa membunuh seisi kelas, maka dari itu gue mandi dulu di kamar mandi sekolah. Karena saat itu hampir bel istirahat dan gue lapar, maka gue urungkan niat untuk ke kelas, kemudian menuju ke kantin. Jadi, sampai istirahat pertama selesai gue belum balik ke kelas.

Akhirnya gue kemakan sama omongan sendiri. Mau tidak mau gue harus duduk dengannya. Gue tidak mau ada yang tau tentang masalah tadi.

"Hai, kenalin, nama gue..."

"Gak usah sok akrab deh." Potong gue sebelum perempuan itu sempat memperkenalkan diri.

"Ish...sombong amat deh." Gerutunya.

"Lo tau ga sih, gue tadi sulit minta surat izin masuk gara-gara lo tau ga!" Bentak gue.

"Lah, salah sendiri kan lo telat masuk?!" Balasnya.

Beberapa teman di sekitar gue langsung melihat kami berdua.

"Cie cieee udah kenal nih ternyata." Kata Jessica, perempuan paling cerewet di kelas ini.

"Cieileeeee, lo udah berapa lama jadian sama Rian? hahaha," Arga, ketua kelas gue juga ikut serta meledek gue.

Berikutnya, ribuan ejekan menghujani gue. Reaksi gue? Tetap tenang, sok cool sih lebih tepatnya. Gue tidak mau harga diri gue turun di depan perempuan ini.

Kemudian, pelajaran berlangsung seperti biasa. Sesekali dia berusaha memperkenalkan diri di depan gue, tapi gue menolak. Gue sengaja terlihat berpura-pura tidak mendengar apa yang dia katakan.

"Duh, ngomong sama tembok nih gue!" Sindirnya.

"Udah tau tembok masih aja diajak omong." Balas gue.

"Lha ini temboknya ngomong hahaha," dia tertawa.

"Emang ada ya tembok seganteng ini?", Canda gue. Gue bingung juga sih, kok bisa ya gue bercanda sama orang yang gue benci?

"Pak maaf pak, ini si Rian berisik terus dari tadi, saya jadi ngga konsen belajarnya." Protesnya.

Hah?!
Bukannya yang mulai dia dulu ya tadi?!
Argh....ni anak bener-bener!


Belum sempat menjawab, gue dinasehati oleh Pak Heru, guru yang mengajar gue saat itu. Celotehannya benar-benar panjang, tidak penting, dan membuat gue ngantuk.

=====


Pulang sekolah, di depan pintu gerbang...

"Ian, maaf ya, tadi gue bercanda kok." Perempuan nyebelin tadi meminta maaf ke gue.

"Errr.....bercanda lo ga lucu tau ngga." Gue enggan memandang wajahnya.

"Hahaha ya maaf yaa. Btw, lo mau ke mana?" Tanyanya saat melihat gue berjalan meninggalkan sekolah.

"Lo ga perlu tau," jawab gue ketus.

"Ish....jahat bener sih lo"

"Baru tau lo?"

Dia memasang tampang cemberutnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah berhenti di depan gerbang.

"Kaniaaa," panggil seseorang dari dalam mobil.

Selanjutnya, perempuan nyebelin tadi melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil.

Oh, Kania ya namanya.
Kania, seorang perempuan yang gue yakin akan memikat para lelaki di sekolah gue. Tingginya sekitar 160 cm, lebih pendek dari gue beberapa sentimeter. Di rambutnya ada jepit rambut berbentuk bunga mawar berwarna putih. Cantik? Iya. Sosok perempuan idaman sebenarnya. Tapi, itu tidak berlaku bagi gue. Sikap dan kedatangannya pagi ini membuat wajah cantiknya sirna seketika.

Kania, tunggu pembalasan gue!
image-url-apps
wow cerita baru emoticon-Matabelo
image-url-apps
mampir di pejwan , baubaunya asik ne cerita
image-url-apps
Wikhh cerita true story.a tmn ya gan..
Okelah ane bantu emoticon-Rate 5 Star dlu..
image-url-apps
udah bikin baru aja emoticon-Thinking
pasang patok dulu deh..
emoticon-Peace
image-url-apps
Quote:


waduh, ada bang Adi emoticon-Matabelo
image-url-apps
wow, habis bikin thread tentang pacaran langsung bikin cerita baru emoticon-2 Jempol
image-url-apps
newbie ijin baca ya gan. .. kania,... hampir sama dengan mant*n ane... emoticon-Shutup,.ah sudahlah. btw salken emoticon-shakehand gan
image-url-apps
numpang nenda emoticon-linux2
mumpung masih anget emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


salken juga emoticon-Smilie
image-url-apps
Part 4 akan gue release besok.
Jamnya belum pasti tapi emoticon-Big Grin

Edited:
Langsung gue update sekarang aja deh.
image-url-apps
Part 4

Hari demi hari berlalu.
Seperti yang gue tebak, Kania banyak menyita perhatian temen-temen di angkatan gue, bahkan kakak kelas dan adik kelas pun banyak yang terpikat padanya.

Seminggu berlalu sejak gue mengenalnya, tapi gue belum juga berhasil balas dendam. Berbagai cara gue lakukan namun hasilnya nihil, Kania seperti mendapat perlakuan khusus dari guru di sekolah ini.

Apa karena dia murid baru di sekolah ini?
Apa karena kecantikannya?
Apa orangtuanya membayar dengan uang lebih?
Gue tidak peduli, yang jelas gue benar-benar membencinya!

Pukul 08.30
Saat pelajaran TIK


Gue menelan ludah. Hal yang sangat gue hindari malah terjadi.

Gue satu kelompok dengan Kania!

Sekitar 5 menit yang lalu, Bu Rasti membagi murid di kelas gue menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok isinya 3 orang, dan gue satu kelompok dengan Kania. Sangat menyeramkan memang, tapi untungnya Nesa satu kelompok juga dengan gue.

"Duh ini soal apaan coba!" Katanya ketika melihat soal yang baru saja dibagikan Bu Rasti.

"Yes! Kesempatan nih!" Batin gue.

Beberapa kali gue berusaha membalaskan dendam gue lewat tinggi-tinggian nilai, tapi gue kalah total. Nilai akademisnya bisa dibilang di atas rata-rata. Tapi akhirnya, gue menemukan titik lemah perempuan ini, pelajaran TIK!

"Gue ngerjainnya merem aja bisa ini mah!" Lanjutnya.

Gue melongo.
Gue kira dia lemah di TIK, tapi ternyata kemampuannya luar biasa!
Soal yang harus gue baca beberapa kali agar mengerti maksudnya, dia kerjakan kurang dari 3 menit.
Gue saling pandang dengan Nesa.
Sepertinya yang ada di pikiran kami sama, dia manusia bukan sih?!

"Lo dapet contekan dari mana sih?!" Nesa membuka percakapan.

"Sori bosss, gue udah sering nulis beginian di rumah hehehe," dia tersenyum.

FYI aja, materi TIK saat itu adalah pascal (bahasa programmer), kaskuser yang anak programmer tau lah ya pasti emoticon-Malu (S)
Gue diminta menulis kode-kode yang sama sekali tidak gue mengerti. Bahkan, sebagian besar murid di sekolah gue paling males sama pelajaran ini. Tapi hukum ini sepertinya tidak berlaku untuk Kania. Materi pascal bagaikan makanan baginya hahaha

Gue menghela nafas.
Sepertinya gue tidak ditakdirkan balas dendam. Tapi entah kenapa pikiran dan hati sedang tidak sejalan. Pikiran gue mendorong gue untuk balas dendam, tapi hati gue meminta untuk memaafkan.

Argh!
Ni cewe bener-bener ngeselin lah pokoknya!


"Gue kumpulin sekarang yaa," katanya lalu berjalan menuju meja guru.

10 detik kemudian, suasana kelas berubah seperti pasar malam. Semuanya tercengang melihat kemampuan murid baru itu. Beberapa temen gue malah sampai tepuk tangan. Wajar sih sebenernya, soal yang seharusnya dikerjakan dua jam pelajaran, dia lahap dalam waktu sekitar 20 menit. Gimana temen gue ga kaget coba!

"Udah cantik, pinter lagi." Gue mendengar kelompok di belakang gue berkata seperti itu.

=====


Pukul 14.00
Saat pulang sekolah


"Riaaaaan," panggil Kania yang berada di depan pintu gerbang. Sepertinya ini tempat nongkrongnya deh.

Gue tetap berjalan, tanpa sekali pun menoleh ke arahnya.

"Lo pulang jalan kaki ya?" Tanyanya.

"Enggak! Terbang kok gue!" Gue setengah berteriak.

"Masa sih? Lah itu lo jalan, jawab Kania dengan polosnya.

"Nah itu tau, ngapain tanya coba!" Gue sedikit membentaknya.

"Ish elo mah jahat banget sama gue!"

Gue berhenti berjalan, lalu menoleh ke belakang. Reaksinya kali ini tampak beda. Kania marah! Ya, gue menyadari itu!

Berikutnya, mobil Jazz-nya pun datang lalu Kania dengan sigap langsung masuk ke dalam mobil, kemudian menutup pintunya dengan kasar. Samar-samar gue mendengar suara Kania, kamu kenapa? dari dalam mobil. Mungkin itu nyokapnya, atau adiknya, atau malah kakaknya? Gue tidak tau pastinya.

Tapi...
Kok gue jadi ngerasa bersalah gini ya?
Kasian juga sih ngeliatnya.
Aneh kan, sebelumnya gue sangat ingin membalasnya, tapi akhirnya gue malah kasian.
Ah, dia memang aneh!
image-url-apps
aduh kasian kania nya gan...
kaniaaa, sini sama ane aja....emoticon-Peluk
Quote:


jgn mau neng, dia ditabur wijen emoticon-linux
msih penasaran eike sm masa lalu yg ente takutkan akan terulang kembali..
kn jadinya de jamban eh de javuemoticon-Belo
image-url-apps
Quote:


Wah, mending sama ane aja deh gan emoticon-Ngakak (S)

Btw, gaya bahasanya udah enak belum ya?
×