alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Epilog : Antara Aku, Dia, Surga dan Tuhan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55c5d10b98e31b543e8b4568/epilog--antara-aku-dia-surga-dan-tuhan

Epilog : Antara Aku, Dia, Surga dan Tuhan

Epilog : Antara Aku, Dia, Surga dan Tuhan

“Aku tidak tahu kapan Tuhan akan memberikannya, bisa jadi tinggal satu, setengah, seperempat, bahkan sepermili langkah lagi. Ketidaktahuan yang membuat aku terus melangkah, karena yang aku ketahui aku tidak akan mendapatkannya jika aku berhenti disini”

Memutuskan untuk melakukan perjalanan adalah keputusan berani dalam hidup. Langkah dimulai pasti, tekat kuat adalah bekal utama menuju nirwana, iya nirwana. Berani, entah apa halangan dan rintangan yang ada di depannya. Dia menapaki jalan setapak demi setapak, mencoba menikmati segala yang dia lewati. Kesendirian tidak jarang membuatnya ragu dan takut, namun ini adalah pilihanya yaitu mencapai tujuannya, nirwana. Banyak dia melihat dan dilihatkan dalam perjalanan. Mereka yang dengan canda tawa berjalan bergandengan tangan dengan kendaraan mewah, mereka yang dengan canda tawa walau dengan sepeda, mereka yang dengan canda tawa walau berjalan kaki. Dia pun tersenyum melihat kebahagiaan sederhana itu. Senyum yang melayangkan pikiran dalam angan, melihat pada diri "iya, aku masih sendiri, kapan sekiranya canda tawa itu akan hadir?, ahh cukup bahagia aku melihat mereka".

Langkah demi langkah tak terasa, semakin jauh dia berjalan, ada seseorang yang menghampirinya. Iya, orang tersebut tak asing lagi baginya, teman semasa kecilnya. Teman kecilnya dan dia saling bertegur sapa, mereka saling bercerita tentang masa lalunya yang begitu konyol sampai dengan bercerita tentang pengalaman mereka setelah lama tidak berjumpa. Berlalu bersama setapak demi setapak mereka berjalan. Tujuan mereka sama yaitu nirwana. Teman kecilnya menawarkan diri untuk mengajaknya bersama dengan menggunakan kendaraan miliknya, namun dia menolak. Dia tidak dapat mengendarainya, dia memilih berjalan sendiri. Tak disangka, teman kecilnya pun memilih menemani dia berjalan dengan menuntun kendaraannya.

Perjalan dia kini menjadi perjalanan mereka. Canda tawa pun menyelimuti perjalanan mereka. Selayaknya memandang, mata mereka terbuka melihat sisi lain dari perjalanannya. Ada mereka yang berkendara dengan kendaraan mewah namun terdiam satu sama lain, mereka yang saling menuntun dengan berkendara sepeda, dan mereka yang saling tak mengenal walaupun berjalan berdekatan. Dia bertanya kepada teman kecilnya "sebelumnya aku melihat hal berlawanan dari itu semua, aku melihat canda tawa bahagia,sekarang sungguh bertoalk belaka, kenapa hal tersebut terjadi?" Teman kecilnya hanya tersenyum menjawab "berjalanlah terus, kau akan tau jawabannya, perjalanan di depan tak selamanya mudah".

Masih menikmati perjalanan, sesekali teman kecilnya menawarkan untuk mengendarai kendaraan tersebut agar cepat sampai, namun dia hanya tersenyum, dia hanya ingin melihat keindahan pandang perjalanannya lebih jelas, dia takut akan melewatkan keindahan itu jika dia mengendarai kendaraan itu, "biarlah seperti ini, jika Engkau lelah dan bosan pergilah dahulu" senyumnya kepada teman kecilnya. Iya, senyum yang menyejukkan, senyum yang meyakinkan teman kecilnya untuk selalu menemani perjalanannya. Tak jarang mereka saling membantu mendorong kendaraan itu, bergantian menuntunnya, meyakinkan bahwa kendaraan itu akan tetap ada. Perjalanan panjang mereka lalui dengan detail keindahan pandang.

Balada cuaca yang tak pasti turut menemani mereka. Panas terik dingin menyayat mereka jalani bersama. Berkali - kali panas membuat mereka letih, mereka memutuskan untuk beristirahat, iya istirahat yang membuat mereka sejenak melepas lelah yang menyelimuti. Lelah terganti kebahagiaan penuh syukur, mereka siap melanjutkan perjalanan. Tidak begitu jauh mereka berjalan, rintik hujan menyapa. Dia sangat senang hujan, butir air yang membasahi bumi membuatnya merasa damai. Teman kecilnya menariknya untuk berteduh, teman kecil khawatir dengan kesehatannya. Namun dia menolak, dia beranggapan ini sangat menyenangkan. Teman kecilnya tetap menarik dan memaksanya untuk berteduh, ajakan yang tidak dia hiraukan. Teman kecil hanya dapat berdoa melihatnya menari dengan hujan, doa tulus untuk memohon perlindungan untuknya. Kejadian yang tidak hanya terjadi satu dua kali, setiap kali air langit membasahi bumi, dia sangat antusias untuk menyapa. Namun tidak dengan teman kecil, yang tidak henti mengkhawatirkan dia. Tak jarang teman kecil marah agar dia mengerti kekhawatiran yang dirasa. Dia hanya terdiam dan meng-iya-kan teman kecilnya untuk meredam amarah keadaan. Sepertinya dia masih belum mengerti, ketika hujan menyapa kembali, memang benar dia dan teman kecil berteduh, namun ketika teman kecil terlena dia sudah asyiknya bersenandung dengan hujan. Basah kuyup tidak bisa dia sembunyikan, dia kembali dengan wajah menunduk dan seutas kata maaf. Teman kecil merasa kecewa, hela nafas panjang dan wajah kesal yang tidak dapat disembunyikan mengiringi pemberian maaf kesekian kali untuk dia. Tiga, empat, dia ulangi, terakhir teman kecil begitu marah melihatnya kembali basah kuyup, tanpa mendengarkan maaf darinya, dia justru mendengar maaf dari teman kecil. Teman kecil telah berusaha menjaganya, namun tak pernah dia pahami perhatian tulus itu. "Maaf, tak bisa menjagamu, semua upaya aku lakukan, namun sepertinya kamu tak pernah menghiraukannya, sekarang terserah kepadamu, maaf" kekecewaan yang tak dapat disembunyikan teman kecil. Sontak kejadian tersebut membuat dia tertegun bodoh melakukan kesalahan yang sama, meremehkan kebaikannya sendiri yang coba teman kecil jaga. Sekarang dia hanya bisa merasakan hangat air mata yang menghujani kesenduannya melihat teman kecilnya pergi perlahan menjauh darinya.

Jauh.. Jauh.. Batas langkah mereka. Dia hanya dapat melihat punggung teman kecil dengan tatapan nanar penuh air mata, mencoba tetap berjalan mengikuti tanpa ada keberanian mendekat. Menunduk kaki berjalan dia coba renungkan, betapa bodohnya dia tak menghiraukan ucapan teman kecilnya, teman kecil hanya tak ingin terjadi apa – apa dengan kesehatannya, kenapa dia begitu bodoh tidak melihat dan merasakan ketulusan itu. Dia masih berjalan mengikuti teman kecil dari belakang, dia melihatnya terhenti dan berjalan berbalik arah menuju dia. Iya, takut yang dia rasa sangat kuat, apa yang akan dia terima kali ini, hanya bisa terdiam tertunduk dan perlahan berjalan mundur menghindar pucat pasi. Sekarang tepat orang yang selama ini dia ikuti berdiri, tertunduk diam cemas. "Kenapa kamu jalan lambat sekali?!" teman kecilnya meraih tangannya penuh senyum, "Seharusnya aku lebih meluangkan waktu untuk menjagamu, Tuan Putri". Dia tak percaya apa yang dia dengar dihadapannya, "Tuhan, rasa apa ini, haru bahagia tak terbendung air bah mata ini. Tuhan, perlihatkan selalu senyum ketulusan dan pandangan mata menyejukkan ini terus untukku, bantu aku menjaganya abadi", sungguh kebahagiaan batin dalam perjalanannya. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kebahagiaan baru, iya batu sandungan mendekatkan mereka untuk saling menjaga dalam luka perih apapun.

Titik perjalanan ini belum sepenuhnya memberikan keinginan dia untuk mengendarai kendaraan yang selama ini mereka tuntun bersama, teman kecilnya pun tak pernah sekalipun memaksa bahkan menanyakannya kembali. Dia begitu bersemangat menapak langkah bersama teman kecil yang dia tahu begitu memperdulikan melindungi dia. Selalu mereka bertukar lelucon konyol yang membuat mereka tertawa lepas tak peduli sekeliling, dia begitu bahagia terlihat dari senyum dan tawanya yang lama tak terdengar. Semakin teman kecil membuatnya tertawa, semakin degup jantung keras menatap mata melihat dunia, tak ingin terpisah. Dia semangat mencapai nirwana dengan caranya. Jalan ayo dan terus, makin kuat tekat itu memacu. "Apa kamu lelah dengan perjalanan seperti ini?" dia mencoba bertukar pendapat dengan teman kecilnya, karena dia begitu lebih bersemangat dari sebelumnya. "Bersamamu adalah pilihanku, ayo lebih semangat" kepastian yang diberikan teman kecilnya. Sesekali dia melihat teman kecilnya terdiam tak bersuara mendengar ceritanya. Dia memutuskan untuk beristirahat karena melihat wajah teman kecilnya lelah, namun teman kecil menolak dan meyakinkan bahwa keadaannya baik untuk terus berjalan. Masih tak mau mendengarkan apa yang dia bilang, teman kecilnya berusaha berjalan dan sekali lagi meyakinkan bahwa keadaannya baik. Ajakan sampai paksaan dia tak pernah dihiraukan teman kecilnya, hanya berdalih "Iya, di depan tak jauh lagi ada peristirahatan, nanti kita singgah” senyum yang dia rasakan begitu letih dari teman kecilnya mencoba meyakinkannya kembali berjalan. Entah apa yang ada dalam benak teman kecilnya itu. Tak cukup waktu terlalu lama dipanas yang sangat terik, persinggahan itu terlihat, dia senang sekali melihatnya, dia berlari untuk sampai dipersinggahan lebih dahulu. Teman kecilnya tersenyum gembira melihat dia begitu antusias, namun pandangan putih menyelimuti, teman kecilnya sudah lemah jatuh tergeletak tak berdaya.
Dia tersadar teman kecilnya tidak mengikuti dari belakang, berhenti berbalik arah begitu mengejutkan yang dia liat. Lari menghampiri teman kecilnya yang sudah tak berdaya, dia coba menyadarkan teman yang selama ini setia menemaninya. "Apa yang terjadi, kenapa dengan dirimu, bangunlah persinggahan itu ada di depanmu?" kekhawatiran bersimpuh ketidaksanggupan menghentikan air mata. "Maaf Tuan Putri, harus dengan cara seperti ini kamu tahu, kamu begitu bersemangat mana mungkin aku tega menghentikanmu, pergilah, aku lelah!" ketidakberdayaan teman kecilnya membuat hatinya kelu, "Tuhan, begitu bodohnya aku hingga tak menyadari ini, bantu aku, aku tak tahu harus berbuat apa?". Dia berusaha membopong teman kecilnya jalan perlahan menuju persinggahan. Kejadian ini membuatnya kaku tak berdaya, dia sangat ketakutan jika Tuhan akan mengambil teman kecilnya. Siang malam dia menemani teman kecil dengan balutan doa yang terus dia panjatkan kepada Tuhan. Dia hanya bisa melihat wajah itu, wajah terpejam tak bergerak. Apa yang dalam benaknya telah bercampur aduk tak karuan, kenapa dia begitu bodoh menuruti kepentingan egonya tanpa sadar teman kecilnya sedang menahan lelah pesakitan. Kejadian itu seperti petir baginya, untuk pertama kalinya dia menceritakan semua yang dia rasa, berharap belas kasih, "Tuhan, ini semua salahku aku lalai menjaganya, Tuhan jangan ambil teman kecilku, apapun yang terjadi aku ingin tetap bersamanya, buka matanya lagi kumohon" doa yang tak pernah henti dia ucap. Dengan ketekunan dan kesetian dia terus merawat teman kecilnya, dia percaya semua akan baik – baik saja seperti perjalanan sebelumnya mereka lalui.

Dia terus menanti keajaiban teman kecilnya untuk menemani perjalanannya kembali. Menanti harapan yang selalu tanpa lelah dipanjatkan kepada Tuhan. Bersimpu dalam kelelahan bermunajad, dia mendengar lirih suara teman kecil memanggilnya, apa hanya halusinasi, terdiam iya benar suara itu nyata. Dia mendekati teman kecilnya, memastikan apa yang dia dengar, dia melihat teman kecilnya telah siuman dari tidur panjangnya. Syukurlah, Terimakasih Tuhan, begitu haru dia rasa. "Maafkan aku" dengan linangan air mata penuh syukur dia meminta maaf karena memaksanya terus berjalan. Hari berganti hari, minggu serta bulan dia terus menemani dan menjaganya. Keadaannya semakin membaik, tidak jarang teman kecilnya menyuruh dia melanjutkan perjalanan meninggalkannya, namun selalu tak dia anggap, dia percaya teman kecilnya akan baik-baik saja dan dapat melanjutkan perjalanan bersama kembali, bagaimanapun keadaan nantinya dia akan tetap setia menanti kesembuhannya. Kali ini dia tidak mau lalai lagi, dia akan menunggu teman kecilnya benar baik baru memutuskan berjalan kembali. Semakin menjaganya, semakin rasa itu kuat, iya rasa yang tak bisa diungkapkan, yang dia tahu hanya tak ingin meninggalkannya, rasa takut akan dipisahkan untuk kesekian kalinya. Syukurlah teman kecilnya pulih lebih cepat dari dugaan, mereka rasa telah mampu untuk melanjutkan kembali perjalanannya. Ada yang berbeda dari perjalanannya kali ini, dia memutuskan untuk mengendarai kendaraan yang selama ini hanya setia menemani. Keyakinan atas semua kejadian yang telah terjadi, rasa takut kehilangan, keyakinan atas kepercayaan terhadap adanya keajaiban dalam kebersamaan.

Pagi yang cerah menemani memulai perjalanan panjang mereka. Semua telah siap, keceriaan kebahagiaan berbalut kasih. Pertama kalinya dia melakukan perjalanan dengan berkendara, awalnya dia takut, sadar dengan ketakutannya, teman kecil mengisyaratkan tidak akan terjadi apapun. Dia pejamkan mata sejenak memohon memanjatkan doa penuh harap, "Tuhan, lindungi perjalanan kami, sesungguhnya kami tak berdaya tanpa perlindungan dariMu". Perjalanan yang lebih cepat menuju nirwana mereka nikmati. Obrolan ringan mereka lantunkan mengusir kebosanan. Tidak jarang, kerikil kecil tak berarti menghambat perjalanan mereka. Ketika kelelahan menghampiri, mereka sejenak singgah menikmati keindahan alam lebih dekat. Berlempar canda yang membuat perjalanan semakin berarti tidak ingin terpisah. Begitu berartinya kebersamaan perjalanan menikam membunuh kebosanan. Di titik ini, dia semakin merasakan degup jantung kebahagiaan setiap menangkap senyum teman kecilnya, "Tuhan, begitu sempurna atas segala kebahagiaan yang telah Engkau anugerahkan, ada dia, iya teman kecilku yang selalu menemaniku memahami kebesaranmu, rasanya aku tak menginginkan apapun lagi, pemberianmu sempurna ku rasa. Tuhan, jaga kebahagiaan ini, hanya membayangkan Kau jauhkan darinya saja aku tak mampu, terimakasih telah mengirimkan dia untukku, aku takut dia akan Kau ambil lagi dariku".

Cahaya menyilaukan menyelinap celah pandangan, kejadian itu begitu cepat. Dia merasakan hangat dipelipisnya, merah darah, tak berdaya sempoyongan dia menghampiri teman kecilnya. Berserakan berantakan disekitarnya, kacau tak karuan, mereka mengalami benturan yang sangat keras. Benar, benturan tak terhindarkan, menyebabkan mereka terluka sangat parah. Kendaraan yang mereka gunakan sejauh ini hancur berkeping. Mereka tertegun melihat hamparan harapan mereka berdua tercecer berserakan tak karuan. Berusaha tenang, tapi payah justru semakin kalut. Teman kecil berusaha mengumpulkan kepingan dan berusaha memperbaiki kendaraan itu. Pertama kalinya, dia melihat kekecewaan teman kecil begitu mendalam, darah menyelimuti tubuh tidak dihiraukan. Dia coba membantu mengumpulkan kepingan apa yang teman kecil lakukan, "Pergilah, semua yang kita lakukan hanya sia-sia, semua berakhir, aku tak bisa menemanimu, kamu lihat semua telah hancur" kalimat yang kekecewaan sangat keras memanah relung hatinya, "Aku akan membantumu, percayalah semua akan baik-baik saja" dengan berusaha meraih teman kecilnya. "Pergilah, aku sudah lelah!" untuk pertama kalinya, dia melihat kesungguhan ucapan teman kecilnya, kekecewaan yang begitu mendalam tidak dapat disembunyikan. Air mata memaksa tak terbendung keduanya, "Aku tak akan pergi tanpamu, bukankah begitu dalam perjalanan, seberapapun kita berhati-hati melaju namun orang lain ceroboh, kita akan merasakan pula akibat kecerobohannya, kumohon jangan menyuruhku pergi, aku akan pergi tapi denganmu" dia mencoba membesarkan hati teman kecilnya. "Tolong pergilah, tolong...aku tak bisa, lihatlah hancur semua, aku hanya akan menjadi penghambatmu" teman kecilnya masih tak percaya dengan apa yang terjadi. "Kita masih bisa berjalan, kita pernah melakukan dan kita bisa sampai disini, bangkit dan ayo pergi, aku akan menarikmu, aku akan membopongmu, aku akan mengobatimu, tolong… aku tak bisa sendiri mengembalikan kendaraanmu utuh seperti dulu tanpa bantuanmu, bantu aku, percayalah bersama kita akan lalui ini" dia masih bersikeras meyakinkan teman kecilnya. "Sudah berakhir, PERGI" teman kecilnya bicara dengan nada keras mendorongnya meyakinkannya keras untuk pergi. Sangat terpukul dia mendengar dan mendapati perlakuan teman kecilnya yang memaksanya untuk pergi, pergi, pergi dan berlalu. Dia mundur perlahan menjauh pergi dengan penuh kekecewaan segala bujuknya tak dihiraukan. Dia tak benar-benar pergi menjauh, dia berhenti di belakang tembok besar, dari balik tembok tersebut dia masih dapat memperhatikan teman kecilnya. Mereka berdua masih tak percaya dengan kejadian yang begitu cepat tak terelakkan. Air mata yang dapat bicara meluapkan hancur perasaannya, dari kejauhan kekecewaan itu juga dia lihat di relung hatiteman kecilnya. "Tuhan, apa yang telah terjadi, kenapa Kau ambil satu persatu kebahagiaan ini, apa lagi yang akan Kau ambil?" kesempurnaan kebahagiaan yang pernah dia panjatkan kepadaNya sirna tak berbekas harap. Dia masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi, semua begitu cepat. Masih tetap dari kejauhan, dia perhatikan merasakan kesedihan yang sama terlihat dari wajah teman kecilnya. Sering dia ingin menghampirinya, namun dia takut, karenanya mereka begini, tak ada lagi senyum dan keceriaan. Kalimat tajam begitu lelahkah teman kecilnya selama ini menemani dia, sehingga tak mampu lagi menemaninya.

Masih dari kejauhan dia memperhatikan, keadaan mereka belum berubah, lelah dan rapuh tak dapat disembunyikan. Niat untuk mendatangi teman kecilnya selalu dia urungkan, dia takut akan membuatnya lebih parah merasakan sakit, lebih baik memperhatikan dari kejauhan, itu yang ada dibenaknya. Malam hari menyelimuti lelap tidurnya, berharap ada keajaiban esok hari. Benar, ajaib dia melihat sekeliling dimana biasa dia perhatikan ada yang berbeda. Iya, dia tidak melihat teman kecilnya, dari kejauhan dia melihat teman kecilnya telah pergi bersama seseorang dan semakin menjauh dari pandangannya. Dia mencoba mengejar, namun sayang luka yang dia rasa terlalu sakit. Suaranya tak dapat memalingkan teman kecilnya. Sedih sekali dia rasa, bisikan buruk menghampiri, namun dia berpikir mungkin teman kecilnya pergi mencari pertolongan dan akan kembali untuk menjemputnya.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Dia hanya berusaha terus berjalan walau sekarang tanpa siapapun menemani dan dalam keadaan terluka. Dia hanya berpikir, iya benar agar teman kecilnya tidak susah payah berjalan jauh untuk kembali menjemputnya. Dalam hati kecilnya, mungkinkah teman kecilnya kembali, dia pun sebenarnya hanya mampu tersenyum menyembunyikan keraguan kesedihan kenapa dia ditinggalkan. Perlahan dengan pasti dia terus berjalan, semakin jauh meninggalkan tragedi petaka itu. Mata dan pandangan masih melekat mengingat merekam semua kepahitan itu. Tak jarang dia tak mampu menyembunyikan membendung air matanya teringat masa kebahagiaan bersama teman kecilnya, merasakan perihnya, iya luka tragedi itu belum mengering sembuh.

Memandang ke depan seperti tak asing baginya, benar teman kecil yang selama ini dia rindukan berada tak jauh darinya. Dia berusaha menghampiri, memastikan pandangan. Tepat dibelakangnya dia menepuk pundak teman kecilnya, kehadiran yang membuat hati tak percaya. Teman kecilnya mengisyaratkan keterkejutan karena kehadirannya. Syukurlah keadaan teman kecilnya jauh lebih baik dari terakhir dia liat, namun dia tidak melihat teman yang pergi bersama teman kecilnya kala itu, iya teman kecilnya hanya sendiri. Pertemuan yang lama dia harap, mereka berjalan beriringan perlahan. Dalam perjalanan teman kecilnya menceritakan semua yang telah dia alami, teman kecilnya mengetahui bahwa dia sering memperhatikan dirinya dari kejauhan dan teman kecilnya pun mengutarakan kepergiannya itu sengaja dilakukan untuk meninggalkannya. Sakit, tiba-tiba luka yang belum mengering sempurna itu meronta lagi mengetahui bahwa pikirannya sangat meleset. Dia hanya terdiam berusaha menyembunyikan genangan air mata, setidaknya dia sekarang telah berjumpa kembali dengan teman kecilnya, itu yang membuatnya tersenyum Tuhan.

Perlahan mereka terus berjalan, dia merasakan sesuatu entah yang membuatnya cemas. Teman kecilnya tak seperti yang dia kenal lagi, dia sangat merindukan teman kecilnya yang dulu. Berkali-kali dia berusaha meyakinkan pandangan yang ada dihadapannya, benarkah itu teman kecilnya yang selama ini dia cari. Sikap teman kecilnya membuat dia ragu, tapi dia tetap percaya, yang dihadapannya sekarang memang benar teman kecilnya. Dia ingin mengutarakan kecemasannya, namun tak kunjung berani. Sesekali dia melihat teman kecilnya pergi mendahuluinya untuk berbincang dengan orang lain. Kadang teman kecilnya pergi tanpa pamit dan kembali lagi entah apa yang sedang dilakukan. Tahu, iya dia mengetahuinya, tapi dia tak bisa berbuat apapun, teman kecilnya sibuk dengan dirinya sendiri. Akhirnya dia memberanikan diri bertanya, apa yang telah terjadi dan adakah yang tidak dia ketahui, dia merasa teman kecilnya berbeda. Teman kecilnya hanya mengutarakan kalimat singkat bahwa teman kecilnya hanya ingin menikmati perjalanannya dengan caranya. Dia hanya terdiam dan masih merasa ragu, benarkah yang teman kecilnya katakan. Masih sering dia lihat teman kecilnya berbicara bersenda gurau dengan orang lain, tanpa mengajaknya dan bahkan terkesan menyembunyikannya. Suatu hari teman kecilnya berjanji mengajaknya singgah sejenak menikmati bulan purnama esok. Dia sangat senang mendengarnya, tak sabar dia ingin esok hari cepat menghampiri agar dapat menikmati indahnya bulan bersamanya. Tak berani mengingatkan, dia memilih diam, esok hari yang ditunggupun tiba, namun seperti tidak ada janji apapun kemarin. Dia melihat teman kecilnya sibuk dengan dirinya sendiri. Mendekati petang, teman kecilnya masih sibuk tak menghiraukan keberadaannya. Merasa tak dihiraukan, dia beranggapan ajakan itu hanya halusinanya. Dia memutuskan untuk pergi dengan orang asing yang baru dia kenal tanpa sepengetahuan teman kecilnya. Teman kecil mencari dia, teman kecilnya ternyata tidak melupakan janji mereka. Ada perasaan kecewa dihati teman kecilnya setelah dia kembali dan menceritakan kepergiannya, bukan kepergiannya yang teman kecilnya kecewakan namun begitu teganya dia melupakan janji dengannya dan lebih memilih pergi dengan orang asing itu. Iya, orang asing yang diam – diam teman kecilnya tahu dan kenal sering mengobrol dengannya. Tuhan, bodoh sekali mereka hanya saling menyakiti hati dan perasaannya.

Bodoh, mereka masih berjalan dalam perjalanan semu. Saling menyakiti tanpa tahu kapan berakhir. Menyakiti tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan. Kendaraan mereka telah hancur. Hati dia semakin tak menentu, berkali-kali dia bertanya namun kebingungan dan keraguan yang selalu dia terima. Semakin cemas dan semakin semu, terakhir dia bertanya masihkah teman kecilnya mau menemani dia menuju nirwana. "Berat memang tapi harus dikatakan, Tidak, aku tidak bisa menemanimu lagi", bagai petir menyambar suara yang dia dengar. Dia mendengarkan semua penjelasan teman kecilnya bahwa kendaraannya telah hancur, tak mampu lagi untuk berjalan. Dia mau menunggunya walaupun mereka mesti lebih lama menuju nirwana, dia akan melakukan semuanya asal teman kecilnya menemani perjalanannya. Semua pernyataan dia terbantahkan dengan tatapan hampa yang menyuruhnya pergi.

Dia pergi dan benar-benar pergi meninggalkannya. Dia belum percaya dengan segala tega yang dia dengar. Berlari menjauh, semua kenangan terlintas. Terjatuh, untuk sekian kalinya luka itu terbuka merah darah hangat dia rasakan. Dia mencoba bangkit dan berjalan tertatih. Kenangan itu menemani sepi. Murung berjalan, samar dia melihat seseorang yang pernah dia temui. Tanpa pikir panjang dan tanpa tau kemana tujuan pergi, dia memutuskan untuk ikut pergi orang asing itu. Pergi dengan orang yang baru dia kenal, dia mulai berpetualang tanpa kepastian arah tujuan. Perjalanan panjang dan jauh melewati segala macam lekuk bumi terekam rapi. Senyum, tawa dan canda tak bisa membohongi lukanya. Ada yang selalu dia pikir dalam angan. Gurauan dia dan orang asing dijeda dengan tawa tertahan. Beda, dia rasa beda, bukan seperti itu yang dia inginkan. Semua yang dia rasa asing, seasing orang yang dia jumpa. Entahlah, apa yang dia rasa. Dia dapat tersenyum, dia dapat tertawa, pun dia dapat menari riang, namun ada perasaan yang mengganjal memang, ada yang aneh, dia pun tidak mengerti itu apa. Sudahlah, dia coba acuh dengan itu. Saat ini dia senang, cukup itu yang dia ketahui. Jalan berliku, tebing, sungai, longsor yang mengerikan sempat mereka lalui. Lucu sekali perjalanan mengerikan melewati tebing berbatu menakutkan justru penuh kekonyolan dengan ulah jahil dia dan orang asing itu. Hujan, perjalanan terhenti sekedar berteduh mereka saling mengenal membicarakan kekonyolan yang tak penting, menertawakan kebodohan masa lalu, membiarkan semua larut dalam kegembiraan. Seperti mimpi dia rasa, sepanjang perjalanan dia sering tersenyum dengan sendirinya. Dia mengatakan senang dengan perjalanan tersebut, orang asing pun merasa sama namun orang asing harus segera pergi dengan maaf tak dapat mengajaknya untuk turut ikut kembali, orang asing itu pergi untuk menyelesaikan segala urusan yang dimilikinya. Tapi tunggu, sontak luka itu dia rasakan. Dia melihat sekeliling, dia berada di tempat yang sama. Semu perjalanan yang dia lakukan, dia tak beranjak kemanapun, dia sama sekali tak berpindah dari tempat dimana dia berpisah berlari meninggalkan tema kecilnya. Sakit sekali dia rasa luka itu belum juga sembuh. Dia belum percaya bahwa perjalanannya dengan orang asing tempo lalu hanya halusinasi. Ada sesuatu disakunya, dia mencoba mengingat semuanya, benarkah hanya ilusi. Dia tersenyum, benda disakunya adalah bukti rekam perjalanan mereka, orang asing itu nyata. Dia baru menyadari rasa apa yang selama ini dia rasa aneh dalam perjalanannya dengan orang asing itu. Senang, bukan bahagia. Orang asing yang baru dikenal memberi tanpa meminta hitungan yang tak berarti, benar orang asing yang mengajarkan ketulusan memberi. Senang dapat mengenal orang asing itu. Tersenyum Tuhan, terimakasih sejenak pertemuan berarti itu.

Tempat yang sama, sebelum dia pergi, namun dia tak melihat teman kecilnya tetap tinggal. Iya, teman kecilnya telah pergi dan dia tak tahu lagi harus kemana. Dia kehilangan jejak teman kecilnya. Dengan luka yang belum sempurna pulih, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendiri. Tuhan, memang jalan dia begitu berat, apa lagi ujian yang akan Engkau berikan. Jalannya sudah mulai normal kembali, sedikit pincang tak berarti menghalangi. Tak jarang seseorang menghampiri untuk menawarkan bantuan, namun dengan santun dia menolak. Dia beristirahat sejenak melepas lelah dengan memeriksa lukanya. Iya, sejauh ini dia berjalan ternyata tak kunjung sembuh pulih. Terheran menghampiri seseorang yang diam-diam memperhatikannya, seseorang yang belum lama berjalan dibelakangnya, "Kenapa kau menolak pertolongan orang lain, aku tak percaya, Kau tampak baik selama ini tapi lihatlah lukamu?". Dia hanya tersenyum dan mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Dia berdiri melanjutkan perjalanannya, namun dia kesakitan, darah menerobos luka yang belum sempurna mengering. Orang itu menariknya memaksa agar dia tetap singgah, "Payah sekali, dengan luka seperti ini mustahil Kau bisa terus berjalan, diamlah Aku bantu obati". Dia hanya tertunduk diam, tak berani menatap dalam orang bermata coklat itu. Perih, Dia menahan sakit ketika lukanya diobati, masih berkonsentrasi mengobati terdengar suara orang itu "Sakit ya, maaf tahan sejenak?, ternyata ini luka lama yang belum sempurna mengering terbuka lagi, apa yang telah terjadi sampai luka separah ini?". Dia tak menjawab justru dia menunduk menangis. Orang itu tidak memaksa dia bercerita, "Bersabarlah, Tuhan selalu bersamamu" senyum yang diutarakan orang itu membuat dia terbawa dalam lamunan perjalanan yang telah dia lalui. Masih dengan balutan luka, dia mulai membuka suaranya, dia mulai menceritakan semua yang telah dia lalui, luka itu seperti baru kemaren dia dapat. "Tuhan, tahan banting juga makhluk kecilmu ini", orang itu coba memahami yang dia ceritakan.

Dirasa semua selesai, dia mencoba bangkit melanjutkan perjalanan. Sakit itu masih menyelimuti, tapi dia tak bisa berdiam lebih lama. Mulailah dia berjalan pincang meninggalkan orang itu. Orang itu tersadar dan mendapati dia telah pergi meninggalkannya, heran sekali orang itu betapa keras kepalanya dia berjuang berjalan sendiri dengan lukanya. Bergegas orang itu menyusul dia, rasa cemas yang orang itu pikir dengan keadaan luka dia. Orang itu menemukannya, dia terduduk bersedih tertunduk memeluk lututnya, iya keadaan yang sangat mengiris, dengan luka yang semakin parah dirasa. "Lihat sekarang keadaanmu, nyaris rapuh" orang itu menghampiri dia yang terisak. "Tuhan, aku masih kuat, ayo uji aku terus" dia berteriak berontak dengan segala keterbatasannya. "Tuhan, berapa kali lagi Kau akan menjatuhkan makhluk kecilmu ini, sungguh aku tak tega melihat keadaannya, kuatkan dia dengan segala keterbatasannya" dalam hati orang itu haru menghampiri dia, berusaha mencoba menenangkan hatinya. "Apa yang Kau lalui lagi, bukankah kemarin lebih baik?" orang itu mencoba memahaminya. "Sakit, sakit sekali, kenapa perjalanan ini semakin meragukanku dengan segala harap dan keyakinanku?" dalam perih, air mata penuh membasahi.

Dia akan melanjutkan perjalanannya, mengetahui hal tersebut orang itu coba menahannya untuk singgah sejenak lagi. Keteguhan hatinya tak akan mudah dipengaruhi. Dia pergi dengan segala keterbatasannya. Orang itu ikut menemani perjalanannya, namun dia mencoba mengingatkan dan memperingatkan, tanpa bertanya dia tahu jalan yang mereka tempuh berbeda, iya benar mereka beda. Akan menyakitkan jika orang itu mengikuti perjalanan dia. Ternyata orang itu pun tahu bahwa jalan mereka berbeda, walaupun tujuan mereka sama yaitu nirwana. Orang itu mendekati dia, meraih tangannya dan mencoba membantu membopongnya untuk sedikit meringankan perjalanannya. Orang itu tahu dengan konsekuensi pesakitan yang akan dihadapi, mungkin sebagai sahabat, orang itu berharap kehadirannya dapat sedikit meringankan bebannya, orang itu hanya berharap yang terbaik buat dia, walau sakit untuknya merelakan. Perjalanan yang tak mudah mereka lalui, semakin jauh mereka berjalan, semakin kuat dia merasa berjalan sendiri tanpa bantuan orang itu. Dia tersenyum, dia senang, dia mulai menikmati kembali perjalanannya. Orang itu, mengajarkan banyak ketenangan dalam hati, betapa banyak kebaikan yang telah Tuhan beri untuk dia. Mengerti lebih mendasar dengan keramahan Tuhan.

"Kenapa sejauh ini masih mengikutiku?" kesempurnaan semu yang dia tanyakan. Orang itu pun tak tahu dengan pasti kenapa masih saja mengikutinya, sudah jelas bahwa jalan mereka berbeda. Tak mudah, memang benar, setiap kali mereka melangkah lamunan menyadarkan bahwa ternyata mereka beda, jalan mereka tak sama. Pernah dia berpikir untuk pergi mengikuti jalan orang itu menuju nirwana, namun sekali lagi dia tersadar itu tak akan mungkin, mereka memiliki jalan masing-masing, akan lebih berat perjalanannya jika dia mengikuti jalan orang itu. Orang itu hanya mengetahui satu hal bahwa senyum dia sangat dinantinya, senyum yang tak akan membuatnya khawatir meninggalkan dia ketika mereka telah sampai di persimpangan jalan.

"Sedang apa sekarang teman kecilku ya?, bagaimana keadaannya?, berada dimana dia?, apakah sekarang dia sedang mencariku? mungkinkah dia suatu saat nanti akan menemukanku?" celetukan dia yang merasakan kerinduan dengan kehadiran teman kecilnya. "Bisa jadi sekarang teman kecilmu sedang berjalan mundur berlawanan arah untuk menyiapkan kebutuhan menjemputmu, habis waktu jika hanya kau gunakan untuk memikirkannya, sekarang pantaskan dirimu agar siap nanti ketika dia menjemputmu, sembuhkan lukamu, untuk meringankan bebannya menjemputmu!" orang itu coba memahami yang dia resahkan selama ini. Dia menoleh mendengarkan orang itu bercerita, "Ada ilustrasi singkat begini. Ada keluarga kecil sedang berlibur ke suatu pantai, sementara anaknya tengah asyik bermain pasir tiba-tiba penjual es cream lewat disitu. Anak itu menangis dan meminta dibelikan es cream Ayahnya. Sebenarnya tanpa memintapun Ayahnya mengetahui keinginan anaknya. Setelah Ayah itu membeli es cream, ayah itu memanggil anaknya. Ditanya.. maukah kau makan es ini? Anak itu mengangguk tanda mau, lalu ayahnya bilang bahwa ini memang ayah belikan buatmu tapi untuk sekarang belum boleh buatmu karena tanganmu masih berpasir, bersihkan dahulu agar ini terasa enak saat kamu menikmatinya, ayah tetap akan menyimpankannya untukmu, Nah apa artinya, saat Tuhan menunda memberikan apa yang menjadi doamu, sebenarnya Tuhan sedang ingin melihatmu mempersiapkan diri sebelum menerima hal baik yang Tuhan simpankan untukmu, percayalah hal itu", orang itu coba memberi pengertian kepada dia, tanpa terasa dia meneteskan air mata mendengar dan memahami cerita itu, betapa sayangnya Tuhan kepadanya. Dia ingin es itu, dia akan cuci tangan dengan menyembuhkan luka. Semakin berarti perjalanannya, Tuhan begitu menyayanginya.

Dia semakin membaik, lukanya tak sedikit berarti, dia berusaha memperbaiki dan mengumpulkan segala perlengkapan yang akan dia perlukan nanti. Membawa semua harapan kebahagiaan, senyum terimakasih terhadap Tuhan dia dapat berjalan sejauh ini. Deg, degup jantungnya terasa lebih cepat, dari samping dia merasakan melihat seseorang yang dia kenal melewatinya. Menyadari hal itu dia berusaha lari menyusul, lari sekuat tenaga tak menghiraukan semua barang bawaannya yang jatuh tak karuan berserakan.

Tunggu…

Tunggu…

Tunggu berhentilah…

Tunggu aku…

Aku ikut…

Tunggu..

Teman kecilku, jangan tinggalkan aku....

Tunggu aku, kumohon berhentilah…

Seberapa kuat dia berlari, hingga dia tak kuasa tersungkur terjatuh terisak tak percaya melihat teman kecilnya pergi meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Tertunduk tak berdaya, menangis memeluk lutut penuh darah luka kotor bercampur debu jalanan. Dia merasakan ada seseorang yang menghampirinya. "Kenapa semuanya memilih meninggalkanku?" sedih dan sangat sakit dia rasa, orang itu berdiri disampingnya dalam hati berbisik lirih "Tuhan berapa kali lagi Engkau akan menjatuhkannya, berapa kali lagi dia akan bangkit untuk menjemput secerca kebahagiaan dariMu, kuat sekali tak kenal lelah berjuang makhluk kecilmu yang tak berdaya ini!". Dia masih terisak menangis, muara air matanya tak kunjung kering "Kenapa semua meninggalkanku, meninggalkanku sendiri, kenapa aku tak pantas menemaninya?" haru sekali orang itu rasa, melihatnya terjatuh terluka lagi untuk kesekian kali, "Masih ingatkah kau dengan cerita anak yang menangis meminta es cream? Percayalah, tidak tau kapan Tuhan akan memberikannya, bisa jadi tinggal satu, setengah, seperempat, bahkan sepermili langkah lagi. Ketidaktahuan yang membuat diri terus bangkit mencoba tanpa putus asa, karena jika Kau berhenti, Kau tak akan mendapatkannya".

Dia berusaha bangkit berdiri dibantu orang itu, dia menunjuk jauh dari pandangan, "Bukankah dipersimpangan jalan perbedaan itu, Kau juga akan meninggalkanku?, semua tanda tanya kapan terjadi, hanya hitungan langkah waktu, Kau juga akan pergi berlalu", dan seketika gelap ambruk tak berdaya.

Diubah oleh fwatikli
bahasa nya puitis banget gan emoticon-Recommended Seller


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di