alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55c0537f582b2e7e618b4570/tales-of-the-earth

Tales of the Earth

Selamat datang di ..

Tales of the Earth

Century World, dunia di dalam pikiran seorang Rivaldo Mersis Brilianto a.k.a Bro Centuriant.
Salam Kenal emoticon-Malu (S) (menundukkan kepala)....ehem (ketuk mic)... uhm meskipun selama ini ane adalah silent reader emoticon-Blue Guy Peace , tapi ane sering ngaskus kog. hehehehe

Begini gan, ane mau share hasil pertapaan ane selama setahun ini yang akhirnya membuahkan hasil. hehehe
Taraa....

Novel karya ane sendiri yang diberi Judul Tales of the Earth. Novel ini masih dalam proses dipoles, dan didempul, jadi nanti tiap beberapa hari atau perminggu ane update. Kalau agan-agan pada menikmati ceritanya bahkan sampe bisa sakaw, ehm tolong support akikah ya supaya makin semangat nih kerjain novelnya Kalau ada ide atau saran atau cacian atau makian silahkan aja gan, ane terbuka kog. namanya juga masih belajar, jadi butuh bimbingan dari para Suhu disini.

Okey Gan... kagak usah ane kebanyakan cing cong. ane berikan sinopsisnya dahulu ya...

SINOPSIS
Tales of the Earth


Akhir abad 24, manusia di bumi mulai jauh dari Tuhan. Manusia mulai Sibuk dengan urusan membangun negara yang lebih maju dan mensejahterakan manusia. Mereka mencari hikmat dengan usaha mereka sendiri dan kesenangan-kesenangan duniawi.

Pada waktu itu keadaan Bumi memang semakin hijau, namun dibalik semua itu manusia semakin jauh dari Tuhan. Mereka memuja Bumi sebagai tempat yang memberikan mereka perlindungan. Mereka menjadi Tuhan bagi diri mereka sendiri. Mereka telah mengecewakan Tuhan. Mereka lupa siapakah yang telah menjaga dan menciptakan Bumi dan segala isinya.

Suatu hari… Tuhan membuka gerbang kegelapan di Bumi. Gerbang dimana makhluk astral mampu menjadi nyata, hidup, dan mati sama seperti manusia. Alam antara manusia dan makhluk astral yang tadinya terpisah, bersatu menjadikan era yang baru bernama … Era Destino.

Era Destino adalah era manusia berperang dan saling merebut kekuasaan dengan makhluk astral. Bahkan presiden negara terkuat saat itupun tidak mampu mempertahankan kekuasaan dan kedigdayaan negaranya. Bencana alam terjadi dimana-mana mulai dari gempa bumi,gunung meletus,tsunami meskipun dengan skala yang beragam. Kota di seluruh dunia menjadi porak-poranda dan banyak manusia menjadi korban kekejaman para makhluk astral.

Dibalik keterpurukan umat manusia, ternyata masih terdapat segelintir orang-orang yang mencintai dan mengingat siapa Tuhan. Dari mereka, terdapat kisah pertumbuhan pohon persahabatan antara 3 orang yaitu Klein, Valentine, dan Ieger yang masing-masing memiliki karakter dan kemampuan serta latar belakang yang berbeda. Persahabatan mereka diwarnai dengan pengenalan dan penggunaan iman mereka kepada Sang Pencipta untuk berperang melawan makhluk astral.

Pertemuan yang sudah ditakdirkan, Pertempuran yang tidak diduga, Perselisihan, kasih, dan keluarga menjadikan persahabatan mereka semakin kuat meskipun berada di dalam Dunia yang baru mengalami kehancuran.

Mampukah mereka menjaga persahabatan hingga Era Destino berakhir? Mampukah manusia menang dari ujian akhir ini?


By : Rivaldo Mersis Brilianto

Daftar Update:

BAB 1-Prolog
BAB 2 - Hari itu (a)
BAB 2 - Hari itu (b)
BAB 2 - Hari itu (c)
BAB 2 - Hari itu (d)
BAB 2 - Hari itu (e)
BAB 2 - Hari itu (f)
BAB 2 - Hari itu (g)
BAB 2 - Hari itu (h)
BAB 2 - Hari itu (i)
BAB 2 - Hari itu (j)
Part 3-Sebuah Pemberian
Part 3 (a)
Diubah oleh centuriant
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
BAB I -Prolog-

Semester baru bagi Universitas Victoria Aiden. Semua mahasiswa beraktifitas seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Beberapa mahasiswa menuju kantin, bersenda gurau, pergi ke kelas berikutnya, mengerjakan tugas, mengadakan acara, rapat kegiatan dan sebagainya. Universitas Victoria Aiden mengambil tema arsitektur dari abad ke-18 dimana bangunannya merupakan kompleks kastil tua yang besar.

Disetiap ruangan maupun pintu-pintu utama ruangan dan bangunan kuliah dilengkapi dengan pakaian zirah kesatria lengkap beserta dengan senjata dan pernak-perniknya. Taman-taman bunga tertata rapi dan semakin indah dengan beberapa bagian tembok bangunan yang terbuat dari batu-batu besar ditumbuhi tanaman menjalar. Tampak lumut-lumut hijau menggerayangi beberapa pangkal dan sudut tembok yang lembab. Kolam-kolam buatan yang disertai air mancur meramaikan keindahan pemandangan taman utama universitas. Beberapa gazebo ditempatkan di beberapa daerah di taman untuk digunakan sebagai student center yaitu tempat bersosialisasi antara mahasiswa dengan dosen, maupun tempat alternatif untuk belajar mahasiswa.

Aneka pepohonan berkanopi besar seperti pohon oak, trembesi, sesawi, bringin dan lainnya mengapit setiap akses jalanan universitas sehingga memberikan kesan rimbun dan memberikan udara segar. Bagian utara Universitas, dikelilingi hutan lebat sebagai rumah aneka satwa liar. Satu setengah abad yang lalu, berbagai jenis burung maupun fauna yang dahulu masuk kategori langka sudah dinyatakan kembali dan berkembang biak di dalam hutan maupun tebing gunung Elys. Dengan sebuah kenyataan yang baru tersebut ditambah dengan kesadaran yang tinggi akan kelestarian alam diantara para penduduk, maka dari itu sekarang mudah ditemui fauna dan flora di alam liar. Bahkan, terkadang masyarakat bertemu dengan rusa di dekat mulut hutan ataupun saat mereka mendaki gunung Elys. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa ekosistem gunung terjaga dengan baik.

Terdapat sebuah festival tahunan berburu di desa-desa sekitar gunung Elys yaitu festival berburu rusa tahunan. Latar belakang festival ini adalah karena meskipun singa gunung, serigala, dan rubah berada di posisi tertinggi rantai makanan, namun jumlah mereka masih kurang efektif untuk mengurangi populasi rusa maupun kelinci gunung. Maka dari itu, setiap tahun diadakan perlombaan berburu rusa dan kelinci untuk mencegah populasi mereka meledak dikarenakan kurangnya predator alami mereka.

Di bagian barat, terdapat juga hutan lebat yang masih menjadi bagian dari kaki gunung Elys. Namun terdapat perbedaan antara hutan di daerah barat dengan hutan di bagian utara. Hutan di bagian barat lebih gelap dan lebih berkesan misterius karena jika pagi dan sore hingga malam, seluruh hutan tertutup oleh kabut tipis hingga tebal. Masih jarang sekali penduduk maupun para mahasiswa yang mau memasuki hutan itu karena memang dibutuhkan nyali yang cukup besar juga untuk melakukan ekspedisi atau bahkan hanya untuk mencari kayu bakar ke hutan.

Gunung Elys memiliki ketinggian 3.681 meter dari permukaan air laut. Demi terus menjaga ekosistem di hutan maupun gunung Elys maka daerah tersebut menjadi taman nasional yang dilindungi negara. Sedangkan bagian selatan dan timur terhampar padang rumput luas dihiasi beberapa semak dan pohon rindang tempat dimana peternak dan petani desa sekitar bersandar hidup menggembalakan kawanan ternaknya dan juga membuka perkebunan. Dengan memperhatikan keuntungan dari geografis areanya itu, maka lingkungan hidup di dalam universitas sangat baik dan memiliki udara yang sejuk dan bersih.

Universitas Victoria Aiden hanya memiliki sebuah fakultas saja yaitu fakultas Sains. Namun di dalam fakultas tersebut terdiri dari beragam jurusan yaitu Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, dan yang paling sulit dimasuki calon mahasiswa baru serta merupakan gabungan dari semua ilmu sains adalah Teknik Elektronika Terapan. Setiap jurusan tersebut dipimpin dan dididik oleh para Profesor dan dosen-dosen terbaik dari seluruh dunia yang akan menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki beragam fokus keahlian yang berbeda namun mampu saling bersinergi sebagai sebuah tim peneliti.

Laboratorium dan perpustakaan universitas juga turut memegang peranan yang penting dalam mendorong mahasiswa untuk menciptakan dan mendorong maju teknologi energi alternatif. Suasana di dalam Laboratorium serba otomatis dan dipenuhi beragam robot mulai dari yang berukuran makro hingga nano sebagai asisten penolong mahasiswa ketika praktek ataupun mengadakan penelitian dan penciptaan. Dari lingkungan yang hijau dan baik itulah banyak teknologi energi alternatif terbarukan yang dihasilkan dari kreatifitas civitas-civitas akademika Universitas Victoria Aiden. Dengan demikian pantas saja jika Universitas Victoria Aiden termasuk dalam universitas terbaik di dunia di bidang sains dan teknologi energi terbarukan.

L’Aiden adalah sebuah nama provinsi dimana universitas itu berada. Provinsi L’Aiden termasuk di dalam zona pegunungan hijau yang sebagian besar melingkupi seluruh area pegunungan Elysiadore. Meskipun provinsi ini sangat luas, namun hanya terdapat sebuah kota yaitu kota Aiden. Kebijakan satu kota ini dilaksanakan sebagai upaya mencegah manusia memperluas daerah hidupnya yang hanya akan ‘memakan’ dan merusak alam Aiden.

Dari segi teknologi, kota Aiden sangat modern dan arsitektur bangunan-bangunan kota di desain secara khusus untuk mengoptimalkan penggunaan energi dari sinar matahari, gas metana, angin, dan air untuk diubah menjadi energi listrik sehingga mampu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan mereka sudah mampu mengoptimalkan penggunaan frekuensi cahaya tampak dari matahari dan juga lampu-lampu penerang kota sebagai media komunikasi lokal mereka. Tidak ada kertas, hanya ada papan-papan LED generasi masa depan yang digunakan semua orang untuk menulis, mengiklankan suatu produk, bahkan untuk kebiasaan membaca koran. Kertas sudah ketinggalan jaman, lagipula di zaman ini kertas hanya digunakan oleh para Petinggi negara untuk mengamankan dokumen rahasia negara karena sifatnya yang sulit untuk dibajak. Jadi harga kertas sangatlah mahal dan langka.

Demi menjaga kesehatan lingkungan hidup di kota, maka ada hukum yang paling dasar sekaligus yang paling besar dendanya yaitu jangan membuang sampah sembarangan. Selain itu, masyarakat di seluruh daerah juga memiliki norma untuk menggunakan energi seperlu nya karena memang uang adalah milik perorangan namun sumber daya adalah milik bersama. Jadi masyarakat-masyarakat ini sangat menjaga diri untuk tidak menyisakan makanan sedikitpun di atas piring dan menggunakan energi disaat yang tepat dan seberapa yang diperlukan. Dengan demikian kota Aiden menjadi kota yang maju di bidang pengelolaan energi dan sumber daya manusia nya.

Kota Aiden dikenal dunia karena visi dan komitmennya untuk hidup dan menjaga alam supaya tetap hijau dan indah. Alex San Miguel adalah mayor di kota Aiden, kini kepemimpinannya sudah memasuki pertengahan periode ke-2. Beliau dikenal sangat baik dan tegas dalam mengajarkan pentingnya untuk menjaga lingkungan desa. Beliau rajin berkomunikasi kepada pemimpin dan tua-tua desa untuk meningkatkan rasa kepercayaan serta saling menopangnya antara kota dan desa. Dari komunikasi yang sering dan baik itulah maka banyak komunitas dan kelompok kecil yang lahir dari pikiran beliau. Dengan adanya komunitas dan kelompok kecil, masyarakat secara bergotong-royong membangun sektor pertanian, perkebunan, peternakan, menjaga hutan, dan menopang perekonomian kota Aiden. Atas prestasi kepemimpinannya itulah yang menyebabkan masyarakat kota dan desa sekitar sangat menghormati dan menghargai beliau. Bahkan pihak universitas Victoria Aiden pun beberapa kali mengundang beliau untuk menjadi pembicara seminar.

Dengan besar dan canggihnya Kota Aiden, tidak mungkin jika kota ini mampu untuk berdiri sendiri diatas gunung. Maka untuk memenuhi berbagai pasokan kebutuhan energi maupun makanan, kota ini dikelilingi beberapa desa pendukung. Bukan desa sembarangan, namun desa-desa ini penyuplai lebih dari 80% gas metana yang digunakan oleh penduduk kota Aiden. Budaya dan kebiasaan warga desa tidak berbeda jauh dengan kebiasaan warga kota Aiden, tingkat kebersihan tempat tinggal maupun kemajuan infrastruktur di dalam desa tergolong tinggi. Yang membedakan hanyalah daerah, jenis pekerjaan, dan kekuatan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah mereka. Warga desa sangat unggul dalam koordinasi pekerjaan yang menyangkut masalah satu orang. Mereka sangat perhatian dan cenderung menerima orang untuk tinggal bersama dengan mereka meskipun mereka tidak mengenal orang tersebut. “Kita akan lebih mengenal pribadi seseorang jika kita tinggal bersama mereka sehingga kita akan lebih baik dalam hal berkomunikasi untuk merubah sebuah perbedaan menjadi hal yang saling menguntungkan.” Kata seorang petua desa. Mungkin filosofi tersebutlah yang membuat warga desa selalu tersenyum dan ramah kepada para pendatang.

Pada akhir abad 24, teknologi yang digunakan jauh lebih efisien dan menargetkan emisi karbon yang sangat rendah yaitu dibawah 2% dari yang diijinkan saat itu. Masyarakat bumi begitu memahami pentingnya menjaga alam dan “menyembah” alam seperti layaknya tuhan bagi mereka. Ya! Kenyataannya tidak hanya di pegunungan Elysiadore saja yang menjaga alam mereka, namun bahkan seluruh masyarakat bumi.Di abad ini sulit mengkategorikan manusia berdasarkan ras tempat asal mereka. Hal tersebut dikarenakan pada akhir abad 21 banyak negara-negara bersatu untuk mengadakan kebebasan menjadi warga di suatu negara dan pada akhirnya kebijakan tersebut justru menjadikan bumi menjadi 1 negara besar yaitu negara Bumi dimana semua orang berhak untuk tinggal dan bekerja di bagian negara manapun yang mereka inginkan.

Latar belakang penggabungan negara-negara didasarkan akan kenyataan bahwa pada waktu itu, situasi lingkungan bumi semakin menyedihkan dan ‘gelap’ akibat tingkah laku manusia dan juga kebijakan-kebijakan yang salah dari para presiden-presiden sebelumnya. Alasan lainnya adalah terjadi adanya kesenjangan teknologi yang tinggi antara negara-negara. Hal tersebut menyebabkan negara yang maju akan terus maju sedangkan negara yang tertinggal akan terus tertinggal. Diantara kedua hubungan itu membuat semacam “jurang” pemisah yang terbentang lebar sehingga para pemimpin dunia termasuk PBB berfikir bahwa perlu dilakukan langkah cepat untuk memperbaiki kehidupan dan generasi manusia mendatang bumi ini. Dari hasil diskusi mereka maka dibentuknya suatu “Uni-“ atau penggabungan negara-negara. Dengan penggabungan itu, maka negara-negara akan saling membantu dalam hal kebebasan menggunakan serta meningkatkan teknologi-teknologi dan lebih fokus untuk membenahi bagian-bagian di bumi yang mengalami kerusakan paling parah.

Disisi lain, kebebasan bernegara tersebut juga menimbulkan perkimpoian campuran berbagai ras manusia yang menyebabkan sulitnya membedakan orang berdasarkan ras dan asal-usul aslinya. Dari beragam pencampuran ras tersebut maka hasilnya juga timbulnya suatu kebudayaan baru. Kebudayaan berekspresi yang lebih bebas bahkan bisa dibilang sangat bebas. Dari situlah maka masyarakat dunia menjadi masyarakat yang sangat bebas. Namun... kebebasan ini ternyata membuat manusia lupa tujuan dasar dari sebuah kebebasan.

Kebebasan berasal dari Tuhan, bahkan Tuhan menghormati kebebasan manusia untuk memilih mengikut-Nya atau memilih untuk tidak percaya pada-Nya. Namun dengan kebebasan yang dimiliki manusia, justru membuat mereka lari dari Tuhan dan melupakan Tuhan sebagai Sang Penciptanya. Buktinya adalah meskipun mereka berhasil memperbaiki keadaan bumi dengan membuatnya kembali hijau dan “mengembalikan” siklus iklim, namun pada dasarnya mereka telah melupakan Tuhan. Manusia memperbaiki bumi dengan motivasi yang salah. Mereka hanya memperbaiki bumi untuk kebaikan mereka sendiri, bukan karena ucapan syukur mereka akan kasih Tuhan yang telah menitipkan bumi pada mereka.

Jika saja manusia memposisikan diri sebagai Tuhan, maka mereka akan mengerti bagaimana hati Tuhan ketika melihat ciptaan-Nya melupakan diri-Nya dan berpaling kepada ciptaan-Nya yang fana. Ya.... Hati Tuhan bersedih...mungkin Ia kecewa dengan sikap manusia. Manusia yang egois dan selalu berjalan dengan pemikiran sendiri. Manusia yang selalu memutuskan jalan hidupnya tanpa meminta pendapat dari Tuhan.

Selama beribu-ribu tahun, kebanyakan manusia hidup tanpa mencari dan bersekutu dengan Tuhan. Di abad-24… Kitab suci-Nya telah dilupakan. Kitab sebagai petunjuk bagaimana hidup dengan Tuhan dan sesama telah menjadi barang yang sangat-sangat langka, tempat-tempat ibadah sudah beralih fungsi menjadi tempat lain bahkan ada yang dijadikan suatu tempat hiburan. Maka secara otomatis yayasan-yayasan agama dan semua organisasi dibawahnya runtuh karena tidak ada manusia yang mau bekerja untuk Tuhan. Pendidikan Agama berangsur-angsur mulai hilang dan lenyap, sehingga hanya menyisakan sebuah tulisan dari pemuka Agama terakhir pada masa itu, Inilah puisi itu :

Dunia di masa itu
Bumi menangis ....
Manusia berusaha menghiburnya...
Bumi sesak...
Nafasnya terhimpit udara kotor...
Manusia bahagia...
Manusia melupakan Tuhan...
Tuhan murka...
Manusia tak peka...
Tuhan kecewa...
Manusia tertawa...
Hukuman dijatuhkan...
Manusia tertekan...
Tuhan bersedih...
Manusia merintih...
Kembalilah padaNya...
Keselamatan hanya ada pada-Nya...
Wahai manusia...
Nikmatilah era Destino...
Sir Robert



Diubah oleh centuriant
BAB II
Hari itu…


14 Februari 2378, Cuaca di langit Universitas Aiden tiba-tiba berubah. Dari langit biru menjadi langit diselimuti awan hitam gelap disertai tiupan angin kencang. Banyak orang mengira hal ini wajar saja mengingat bulan februari adalah musim penghujan. Apa yang terjadi saat itu sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Jadi tidak ada mahasiswa yang merasa aneh dengan kejadian tersebut dan sama sekali tidak mengganggu mahasiswa-mahasiswa untuk beraktifitas. Bahkan sebuah kejadian yang terjadi di lapangan universitas pun tidak begitu menarik perhatian mereka, hingga pada akhirnya sedikit demi sedikit mahasiswa yang berada di tempat duduk dan gazebo sekitar lapangan mulai mendekati lapangan.

Semakin lama waktu berjalan maka terlihat semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mendekati bahkan ada yang sampai berlari kencang menuju lapangan universitas karena didorong rasa penasaran yang berlebihan. Mereka semua tertarik dan memperhatikan apa yang terjadi di tengah-tengah lapangan berumput hijau yang biasanya digunakan sebagai tempat upacara sakral universitas digelar ataupun hanya sebagai tempat mahasiswa berjalan-jalan untuk menghilangkan stres.

Tak terduga, seluruh tepi lapangan dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang diantaranya tersebar sampai ada yang memanjat di pohon-pohon sekitar dinding lapangan universitas seperti sedang menyaksikan sebuah pertandingan olah raga. Hampir seluruh area itu dipenuhi mahasiswa sehingga seperti sebuah samudera manusia mereka berdesak-desakkan menutupi area lapangan hijau. Mereka takjub, bahkan beberapa mahasiswa ada yang menyempatkan diri untuk merekam dan mencoba mengunggah rekamannya ke internet. Namun entah kenapa waktu itu tidak ada sinyal di Glassmonitor mereka sehingga mereka tidak dapat mengunggah video hasil rekaman mereka.

Munculnya sesuatu yang aneh dari permukaan tanah seperti kabut atau asap yang berwarna hitam bercampur merah kecoklatan inilah yang membuat mereka semua mengerumuni lapangan. Semakin lama volume kabut semakin bertambah banyak dan pekat hingga rumput hijau di seluruh lapangan tidak terlihat lagi tertutup oleh kabut. Selang beberapa menit tepatnya ketika semua mahasiswa sudah memadati lapangan, semua kabut itu pelan-pelan terbang melayang menuju tengah lapangan dan berkumpul ke satu titik. Dimana pada titik tersebut sang kabut terus melayang sambil berputar membentuk spiral elips vertikal di atas tanah. Kabut elips spiral itu kemudian terus-menerus melayang sambil mempercepat putarannya dan semakin membesar hingga mencapai ketinggian sekitar enam meter dengan lebar sekitar empat meter.

Apakah kabut itu sebuah fenomena alam biasa? jika biasa, mengapa kali ini mereka semua tertarik ke lapangan?

* Glassmonitor : Semacam alat komunikasi yang populer dan wajib dimiliki oleh semua orang pada era itu, alat komunikasi ini merupakan kaca bening bersudut tumpul sebagai penampil sistem operasi hologram yang dinavigasikan dengan metode sentuhan, mata dan juga suara pemiliknya. Alat ini dipakai sebagai ganti jam tangan di tangan orang-orang pada masa itu. Bentuk dan ukuran serta desainnya bermacam-macam tergantung vendor glassmonitor sendiri. Beragam virtualware yaitu semacam fitur tambahan ataupun hardware yang dapat dipasang atau disingkronkan dengan glassmonitor sehingga penggunaannya menjadi lebih luas dan dapat lebih dari sekedar alat komunikasi biasa


*sedikit ilustrasi tentang glassmonitor itu lebih canggih daripada smartwatch pada abad 21. Sebagai gambaran, berikut ini bentuk yang paling mendekati dari apa yang ada di otak ane.
Tales of the Earth
Diubah oleh centuriant
Tertarik dengan apa yang terjadi di dalam lapangan, beberapa mahasiswa yang diliputi rasa penasaran bercampur rasa takut mulai mendekati tengah lapangan. Awalnya hanya sekitar belasan yang menuju ke tengah, namun lama-kelamaan bertambah karena diberitahu bahwa gumpalan asap tersebut aman bagi mereka dan sama sekali tidak membunuh atau menyebabkan sesak nafas. Melihat apa yang dilakukan teman-teman mereka yang sudah berinteraksi lebih dekat dengan kabut itu, maka banyak mahasiswa yang masih penasaran turun dari pinggir lapangan dan bergabung dengan mahasiswa lainnya yang lebih dahulu berada dekat dengan pusat gumpalan kabut itu untuk memperhatikan kabut lebih dekat atau hanya sekedar berfoto diri dengan kabut itu. Mereka semua yang mengelilingi kabut itu saling berbisik-bisik, ada juga yang menerbangkan glassmonitor mereka untuk mengambil foto diri atau grup dan video kabut tersebut, ada juga yang berdiskusi dan bercanda seakan-akan mereka sedang mengikuti acara api unggun malam keakraban.

Namun… Setelah beberapa saat, kabut itu mulai melambat berotasi dan mulai terlihat adanya sebuah lubang kecil di tengah-tengah kabut spiral itu. Lubang itu terlihat jelas dari semua sisi. Lubang hitam yang menganga itu begitu dalam dan gelap hingga jika diperhatikan dengan detail, sama sekali tidak terdapat cahaya di dalam lubang itu. Dari dalam lubang terdengar suara-suara bising seperti teriakan orang-orang yang disiksa, auman, dentingan logam, kertak gigi, suara seperti pedang yang digesek di lantai batu, suara retakan tulang yang dihantam benda keras dan suara tangisan. Mendengar suara yang bahkan belum pernah mereka dengarkan itu, sontak saja mahasiswa yang tadinya berada dekat di sekitar kabut itu mulai heran dan sangat ketakutan, sedikit demi sedikit mereka mulai berjalan mundur untuk menjauhi kabut yang semakin disadari sudah menyerupai gerbang kegelapan. Ketakutan mereka semakin memuncak ketika mereka mendengar suara seperti auman singa yang disertai dengan munculnya kedua tangan raksasa dari dalam lubang.

Tangan itu berukuran tiga kali tangan pria dewasa dan dihiaskan seperti zirah pelindung tangan seperti terbuat dari batu kuarsa hitam. Kedua tangan itu kemudian membentuk posisi seperti layaknya tangan yang membuka gerbang. Tangan-tangan itu memaksa supaya lubang itu terbuka lebih lebar lagi. Melihat hal yang semakin sulit diterima otak ini membuat mahasiswa semakin bertambah syok,bingung, dan panik. Beberapa mahasiswa masih ada yang masih tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena sudah terlalu kaget dengan kejadian tersebut namun mereka langsung ikut lari ketika mahasiswa-mahasiswa disekitarnya mulai lari kocar-kacir menjauhi kabut itu untuk menyelamatkan diri mereka. Kejadian yang tidak mereka sangka ini langsung saja menjadikan seluruh kampus kacau balau.

Sementara mahasiswa berlarian dan berteriak, tangan misterius itu terus berusaha untuk membuka lubang sehingga makin jelas dan tampaklah si pemilik kedua tangan itu. Sosok raksasa berbadan sangat besar dan berotot. Raksasa ini memiliki kulit berwarna coklat kehijauan seperti daun kering, postur seperti manusia hanya saja berukuran sekitar tiga kali lebih besar dari pada manusia biasa. Dia memegang kapak besar dan perisai tebal, badan dan kepalanya dilindungi logam berwarna hitam, kakinya dilindungi zirah hitam, sorot dan raut matanya diliputi kegelapan layaknya pembawa maut bagi manusia, taring rahang bawahnya keluar dari mulut seakan-akan pertanda bahwa dialah sang teror dan semua manusia harus takut padanya.

Tales of the Earth
Gambar Sang Raksasa.
Diubah oleh centuriant
Ketika sang Raksasa itu keluar dari lubang hitamnya, ia mengamati sekeliling dengan mimik wajah marah dan garang. Lalu sambil mengangkat kapak raksasanya dia berteriak sangat kencang.

“ rrrrRRRRAAAAGGGGHHHHHHHHHHHH!!!!!!... “

Seperti seorang jendral memanggil bala bantuan dan memberikan semangat berperang. Tiba-tiba kabut dan lubang itu mulai berputar kembali dan satu-persatu muncul makhluk berpostur manusia, bungkuk, tinggi sekitar 1,2-1,35 m, besar tubuhnya bervariasi mulai dari yang kurus hingga gemuk, mereka semua membawa senjata dan dilindungi pakaian perang, hidung mereka mancung, sorot matanya dipenuhi dengan rasa haus akan darah serta amarah.

Tales of the Earth
Gambar 3. Makhluk Kerdil

Semakin lama jumlah makhluk itu semakin banyak hingga mencapai ratusan dan tidak ada makhluk lagi yang keluar dari lubang hitam yang ternyata adalah sebuah ‘gerbang’. Melihat lapangan yang sudah penuh dengan prajurit kecilnya, Sang Raksasa lalu mengeluarkan suara seperti sedang berkomunikasi dengan para makhluk kerdil dengan bahasa yang tidak dimengerti manusia. Sang raksasa menunjuk daerah sekeliling sambil menatap ke beberapa makhluk kerdil yang berukuran lebih besar dari lainnya, seakan-akan ia memberikan komando kepada makhluk kerdil itu dan anehnya dua diantara makhluk itu kembali ke dalam portal dengan membawa gulungan. Setelah itu sang raksasa itu berteriak, mulailah para makhluk kerdil itu berteriak dan lari menyebar ke seluruh universitas.

Mereka membantai manusia yang mereka temui di seluruh universitas. Gedung demi gedung mereka masuki. Seperti seorang pemburu yang memburu buruannya. Begitulah mereka menjadikan manusia sebagai hewan buruannya. Mereka membuat jerat kawat duri di jalan tempat mahasiswa berlarian. Menjerat mereka, serta mempermainkan mereka layaknya seekor kucing memainkan tikus kecil di telapak tangannya. Mereka menyiksa mahasiswa yang terjerat dan membuat mereka mati perlahan. Dengan brutal mereka membakar gedung yang masih berisi manusia. Asap hitam disertai bau anyir membumbung tinggi dari gedung-gedung yang terbakar. Menjadikan Suasana universitas sangat mencekam, dipenuhi dengan teriakan, tangisan, darah, dan potongan tubuh manusia.

Di lapangan terlihat sang raksasa hanya berjalan-jalan di depan ‘gerbang’ sambil mengawasi seperti sedang berjaga dengan puluhan makhluk kerdil bersenjata lengkap di sekelilingnya. Beberapa makhluk kerdil di belakangnya sedang menumpuk mayat-mayat manusia membentuk seperti gunung. Ada diantara mereka yang menguliti serta memotong-motong tubuh manusia. Beberapa dari mereka mengumpulkan tulang dan rambut manusia. Beberapa lagi sedang membuat semacam perkakas seperti obor, tali dari rambut manusia, pedang dan tombak dari tulang manusia. Tidak jauh dari situ para makhluk kerdil berbadan gempal terlihat sedang memasak potongan tubuh manusia di kuali yang sangat besar. Ada yang membakar manusia diatas api, bahkan ada yang memakan mentah-mentah potongan tubuh itu sambil memotong-motong anggota tubuh manusia. Terkadang sang Raksasa duduk di atas gunung mayat manusia sambil menyantap potongan tubuh manusia yang disajikan oleh para anak buahnya. Sambil menyantap, ia memperhatikan dan mengawasi pekerjaan makhluk kerdil.

Pembantaian secara kejam terjadi di Universitas tanpa henti hingga malam hari. Pembantaian itu memaksa mahasiswa-mahasiswa yang selamat lari melewati gerbang utama universitas. Namun ....
Diubah oleh centuriant
Namun naas bagi mereka... ternyata di depan pintu gerbang utama universitas sedang terjadi peperangan antara polisi dengan para makhluk kerdil. Suara tembakan dan desingan peluru terdengar sedemikian keras. Beberapa makhluk kerdil berhasil dilumpuhkan. Namun korban paling banyak justru di pihak polisi. Mereka kalah jumlah dan kalah pengalaman berperang di medan perang dengan menggunakan senjata api ataupun pisau.

Para polisi yang tersisa tetap berperang dengan sekuat tenaga untuk melindungi mahasiswa yang melarikan diri dari universitas mereka. Pada akhirnya, polisi terakhirpun gugur dalam peperangan. Kekalahan yang sudah dapat diprediksi dari awal, menyebabkan mahasiswa terjebak diantara kemenangan pihak makhluk kerdil. Mahasiswa-mahasiswa akhirnya memilih untuk melawan daripada mati tanpa melakukan apa-apa. Dengan tangan kosong mereka berusaha melawan mahkluk itu. Namun pada akhirnya mereka yang bertarung dengan gagah berani terpaksa meregang nyawa di tangan makhluk-makhluk kerdil yang brutal.

Disertai dengan tangisan kesedihan atas kematian teman-temannya, mereka yang berhasil menyelamatkan diri berusaha menjauh dari universitas dan berlari menyusuri jalan utama menuju ke arah kota Aiden. Mereka sangat berharap mendapat pertolongan dan tempat yang aman bagi mereka di kota. Tidak ada waktu bersedih dan menguburkan jasad teman-temannya. Lari…. Lari…. Lari… dan terus berusaha berlari meskipun perjalanan mereka hanya diterangi oleh cahaya bulan, namun mereka tetap berusaha berlari sampai kota Aiden. Dalam perjalanan, diantara mereka ada yang pingsan karena kelelahan dan tidak kuat melanjutkan perjalanan. Tetapi dalam kesempitan, jiwa asli manusia mereka muncul…mereka memilih untuk saling menolong dengan menggendong ataupun memanggul teman mereka yang lemah. Dengan cara itulah pada akhirnya mereka dapat sampai di kota Aiden.

Baru saja mereka menapakkan kaki di depan gapura kota, mereka dikejutkan dengan pemandangan yang mencengankan disertai bau anyir yang menusuk hidung. Mereka melihat hal yang sama seperti yang terjadi di universitas, dimana jalanan dipenuhi mayat manusia beserta para makhluk kerdil. Apa yang mereka lihat saat itu, tentunya sukses membuat mereka patah semangat dan kehilangan harapan keselamatan.

Tiba-tiba dari arah dalam gapura, mereka melihat banyak makhluk kerdil berkeliaran. Merekapun langsung menyampingkan rasa kekecewaan dan memilih berjuang untuk menyelamatkan hidup dengan mengendap-endap untuk bersembunyi dari para makhluk itu. Ketika mereka mengendap-endap untuk menghindari kontak dengan makhluk kerdil, mereka melihat beberapa kali manusia yang dibunuh di depan hewan seperti anjing atau kucing piaraan.

Mereka memperhatikan ada sesuatu yang aneh dan mengganjal terhadap tingkah laku para makhluk kerdil terhadap para hewan. Dalam perjalanan mereka berdiskusi sambil berbisik pelan “mengapa makhluk itu hanya membunuh manusia saja sedangkan anjing yang menggonggong dan jauh lebih ribut dari manusia dibiarkannya hidup?.“
Diubah oleh centuriant
Terus menerus mereka melihat hal yang sama dimana hewan sama sekali tidak disentuh atau dibunuh oleh para makhluk itu. Banyak pendapat dikumpulkan seperti; makhluk itu tidak mampu melihat para hewan, makhluk itu tidak menyukai daging hewan, makhluk itu tidak tertarik dengan hewan dan hanya tertarik manusia. Akhirnya mereka mendapat jawaban dari sebuah kejadian dimana ada seekor anjing yang berjuang menyelamatkan majikannya dari mahkluk kerdil dengan menggigit kaki makhluk itu. Namun makhluk itu tidak mengindahkan kakinya yang digigit sang anjing pemberani, malahan mahkluk itu terus menerus berusaha membunuh majikan dari sang anjing.

Setelah makhluk itu membunuh sang majikan, anjing itupun melepas gigitannya dan lari mendekati majikannya dan mejilati sambil sekali-kali menggaruk tubuh majikannya seperti berharap majikannya masih hidup. Namun majikkannya telah meninggal, yang tersisa hanya anjing itu duduk disampingnya dan sesekali berusaha membangunkan majikkannya. Hingga anjing itupun tidur di samping mayat majikannya berharap suatu saat nanti majikannya akan bangun dan bermain dengannya. Dari kejadian itulah mereka mengambil kesimpulan bahwa makhluk itu sama sekali tidak mengincar, membunuh ataupun memakan hewan. Para makhluk itu hanya berusaha membunuh dan memburu manusia.

“Srrrtttbbbbb…..” suara pedang yang ditikam di tubuh.

“Kekekekekek….. Kyaaaakk!!!!!” suara tertawa makhluk kerdil dan teriakannya.
Diubah oleh centuriant
Maaf baru update gan,emoticon-Blue Guy Peace

Tepat ketika mereka berhasil menyimpulkan sifat makhluk kerdil, salah satu teman mereka yang sedang membelakangi sebuah persimpangan jalan kecil terbunuh dengan pedang yang terhunus di dada. Sontak saja mereka syok dan kaget. Tidak ada jalan lain lagi selain mereka berpencar, sehingga salah satu dari mereka berteriak untuk lari dan berpencar. Saat itu… mahasiswa-mahasiswa mulai berpencar ke berbagai tempat tanpa tahu nasib dari mahasiswa yang lainnya. Ada beberapa yang karena kaget langsung lari menuju kota, ada lagi yang kembali ke arah universitas, ada lagi yang lari tanpa arah dan menuju gunung Elys.

Manusia dengan tangan kosong berperang dengan makhluk berpakaian perang lengkap. Sungguh sangat tidak adil dan tidak imbang. Meskipun makhluk itu berpakaian dan bersenjatakan layaknya teknologi abad 11, tetapi bahkan polisi dan tentara yang berada dalam kota Aiden yang terlatihpun kesulitan berperang melawan para makhluk raksasa dan kerdil. Peluru memang masih dapat melukai mereka, namun ketahanan tubuh mereka jauh diluar kemampuan manusia yang dihujani peluru. Makhluk kerdil itu lebih gesit dan cepat dibandingkan respon para tentara. Mereka bertarung seperti mahkluk dongeng yang berasal dari peradaban kuno dimana memiliki kelebihan dalam hal kekuatan, kebrutalan, kegesitan dan begitu gencar berusaha mencapai target mereka yaitu membunuh manusia.
Kota yang benar-benar indah kini menjadi kota yang benar-benar hancur dan berbau anyir bermahkotakan asap hitam dan berhiaskan darah serta mayat manusia.

Beberapa mahasiswa yang tersisa menyelamatkan diri ke arah gunung Elys. Mereka mencari tempat aman untuk mereka bernaung. Keadaan mental mereka kini sunggguh hancur, mereka tidak menyangka akan terjadi hari kelam seperti ini. Mereka adalah....

Klein, Valentine, dan Ieger.
Diubah oleh centuriant
coba untuk komentar ya gan.. cerita fantasi begini asyik dan seru.
tapi kayaknya kurang di terima hangat oleh penghuni di sfth ini..

tapi keep update aja gan.. semoga aja rame.. emoticon-Big Grin
Terimakasih dukungannya sist... hehehehe.
Tolong kasih rekomendasi ke penghuni yang lainnya dong sist. Trimakasih emoticon-Smilie
Klein adalah mahasiswa teknik fisika tingkat akhir berumur 20 tahun, memiliki wajah menarik, rambut lurus dan bergaya preppy, kulit kuning langsat, dan warna mata hitam. Dia ahli bela diri dengan menggunakan pedang dan pisau. Klein dapat selamat karena sewaktu terjadi kekacauan dia mengambil dan menggunakan pedang dan pisau yang terpajang pada baju zirah di kantor administrasi universitas.

Valentine seorang mahasiswi berumur 20 tahun, mengambil jurusan biologi dan memiliki kemampuan atletik yang baik tetapi tidak bisa mengontrol emosinya.

Ieger adalah pribadi berpostur besar, tegap, berumur 21 tahun yang memiliki kemampuan menggunakan senjata api, Sejak SMA dia sudah mengikuti kompetisi menembak dengan senapan api, Namun…dia memiliki sifat sombong serta egois tapi dia orang yang konyol juga.

Mereka bertiga termasuk kelompok kecil yang berhasil selamat dari kelompok mahasiswa yang diserang di gapura kota Aiden. Mereka memutuskan untuk berjalan bersama ke dalam hutan di kaki gunung Elys. Belum sampai mereka tiba di mulut hutan, tiba-tiba .....
Diubah oleh centuriant
Mini-Update-
Tiba-tiba dari kegelapan muncul 5 makhluk kerdil. Pertarungan pertama mereka pun tidak mampu dielak, makhluk itu mengepung mereka sehingga memaksa mereka menggunakan formasi saling membelakangi membentuk segitiga untuk mempertahankan diri mereka.

“Valentine, Awas!!!” Triak Klein…yang berhasil mematahkan serangan dengan memotong tangan makhluk itu menggunakan pedangnya.

Lalu dengan cepat Klein menghunuskan pisau di tangan kirinya ke perut makhluk itu dan mencabut kembali pisau itu dengan cepat.

“Valentine! Ambil pedang makhluk itu dan gunakan untuk membela dirimu. Jangan harap aku akan melindungimu terus!” Kata Klein.

Mendengar kata-kata Klein, Valentine segera sadar menundukkan badan untuk meraih pedang di atas mayat makhluk kerdil tetapi jari jemarinya sangat gemetaran dan air matanya jatuh ke tanah. Ia berhenti untuk mengambil pedang itu, ia terlihat sangat takut.

JANGAN TAKUT!!! Kuatkan kakimu…raih pedang itu dan angkatlah! Anggaplah pedang itu seperti tanganmu Valentine. Jangan pernah takut untuk membunuh makhluk-makhluk ini. Cobalah untuk melawan!“ Klein sengaja berteriak untuk menguatkan hati Valentine.
Diubah oleh centuriant
Waktu seperti berjalan sangat lambat ketika valentine mendengarkan perkataan Klein. Valentine menatap Klein dan Ieger bertarung. Dalam waktu yang sebentar itu, pikirannya memutar ingatan teman-temannya yang mati tanpa melakukan perlawanan. Ingatan itu membawanya untuk berpikir kembali apakah mau mati tanpa perlawanan atau bangkit dan berjuang bersama teman-temannya sekarang?.

Akhirnya ia memutuskan untuk bertarung dengan teman-temannya dan secara tidak sadar, jari-jemari valentine sudah menggapai dan memegang erat gagang pedang itu. Kemudian air matanya berhenti menetes dan dengan sorot mata seperti seorang pembalas dendam, ia menegakkan badannya dan mengangkat pedang. Ia memejamkan mata dan menarik nafas serta menghembuskannya segera. . .

“aaaaaAAAAAGGGHHHH” Sambil berteriak kencang valentine maju untuk membantu Klein di medan perang.

Ia segera berlari dan menusukkan pedangnya ke arah leher makhluk yang sedang fokus menyerang Klein.

“ Crasssh....” pedang Valentine berhasil menusuk leher makluk itu.

Klein segera menggunakan kesempatan itu untuk melakukan serangan akhir dengan menusuk jantung serta perut makhluk itu menggunakan pedang dan pisaunya. Makhluk kerdil itupun rebah ke tanah ketika Klein mencabut pedang dan pisaunya.

“ hah...haaah... haaah... “Suara hembusan nafas Klein kelelahan.

“Terimakasih Val, kau hebat! Sekarang kita harus menolong Ieger.” Puji Klein kepada Valentine. Tidak jauh dari tempat mereka, ada 1 makhluk yang berlari ke arah mereka. Tetapi Valentine segera menghadapinya.

“Klein, beristirahatlah sebentar... biar aku yang mengecoh makhluk menjijikan ini.” Kata valentine.

“ Tidak, aku akan membantumu..akulah yang akan membunuh makhluk jelek ini.” Mereka saling menatap dan menganggukan kepala pertanda untuk segera menyerang makluk itu.

Sementara itu Iegersedang bertarung sendirian menghalau 2 makhluk kerdil. Meskipun ia tidak ahli bahkan tidak bisa menggunakan tongkat untuk membela diri, tetapi ia begitu berusaha menghalau makhluk-makhluk itu dari Klein dan Valentine. Meskipun ia hanya membuat jarak yang cukup lebar dengan menggunakan tongkatnya.

“Klein…apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menggunakan benda ini terus menerus!!! Apalagi membunuh mereka hanya dengan menggunakan sebuah tongkat!!! Aku butuh pistol atau semacamnya!” Keluh Ieger.

“Ieger....Tolong tetaplah halau makhkluk itu sampai aku berhasil membunuh yang satu ini. setelah pertarungan ini berakhir, kita akan beristirahat sejenak dan memikirkan rencana esok.” Sahut Klein sambil sibuk bertarung dengan makhluk kerdil bersenjatakan tombak.

“krack!!!...”

Tiba-tiba… tongkat Ieger berhasil dipatahkan oleh ayunan palu dari salah satu makhluk itu. Ieger yang saat itu terkejut lalu lari ke arah Klein yang berjarak 5 meter darinya. Namun satu diantara makhluk itu tidak tinggal diam namun ikut berlari untuk mengejar Ieger.

“Buggghkkk...” Makhluk yang mengejar Ieger berhasil menjatuhkan Ieger.
Diubah oleh centuriant
Quote:


biasanya cman bberpa orang yang suka kek gini
pengalaman pribadi tsnya yah emoticon-Big Grin
Wah... akhirnya ada cerita fantasi lagi. Ceitanya keren gan. Penggambaran agan tentang lokasi juga tokoh bisa keliatan jelas jadi bisa ngebayanginnya. Enak dibaca. Diksinya juga mantab. Keren lah pokoknya.

Sebelumnya waktu baca di prolog sempet mikir. Manusia lawan makhluk astral? Hantu gitu? Eh... ternyata... (imajinasi saya emang gak pernah bener gan. Maaf ya. Ahahaha...)

Sedikit saran nih. Mengingat agan updatenya di web, kalau bisa dikasih space antar paragraf ya... jujur saya agak pusing ngebacanya karena gak ada jarak. Beda kasus lagi kalau semisal dijadikan buku, itu gak masalah.
Ditunggu updatenya ya gan... semangat!
Diubah oleh makanpecel
padet banget kayak kue bantet emoticon-Hammer2

jangan males ngedit gan..

kasih jarak antar paragraf

pas dialog pake quote biar jelas

karena ini fantasi menurut ane imajinasi agan mainstream banget...

konflik terlalu cepat harusnya agan bisa membawa pembaca hanyut karena ini adalah sebuah tulisan.. saran ane

ganti cerita

kalo masih mau lanjut..

konflik diawal jangan terlalu panjang edit atau stop.. masukan cerita lain.. jangan terlalu lama di 1 tempat.. karena agan bukan memakai sudut pandang orang pertama.. explore

seting tempat tidak jelas.. harus lebih spesifik..

perbanyak dialog..

kalo punya ide jangan langsung tulis jadi sebuah cerita.. tulis aja 3 atau empat kata dalam sebuah note..

1 kata buat cerita agan

berantakan

edit.. baca ulang.. kalo dirasa bingung mendeskripsikan suatu kejadian.. baca novel best seller

masukan pengalaman hidup agan jadi sebuah event di cerita..

edit baca ulang lalu edit lagi dan seterusnya
Terimakasih atas masukkan dan kritiknya para agan2. Ane sangat berterimakasih, karena dibantu review. Ane akan pertahankan cerita ini, karena ini original dari ide ane. Akan ane pertajam lagi cerita ini. lagi pula proses penulisan sudah sampai beberapa bab selanjutnya, jadi sia-sia kalau ane berhenti. hehehehe
Ane memang sengaja menitik beratkan bagian awal cerita pada bagian kampus dan desa sekitar tanpa banyak dialog. bagian di awala hanya menjelaskan saja. Ane akui memang ada beberapa titik yang tidak begitu detail didefinisikan. tapi ane akan terus mencoba menulis dengan lebih detail dan menata lagi alurnya.
Ane mohon teruslah beri kritik dan saran ya agan-agan. ane sangat terbuka dan terbantu dengan bantuan review dari agan-agan sekalian. emoticon-Smilie
Segera membalikkan badan dan menendang makluk yang memegang kaki kanannya. Ia berusaha melawan makhluk itu dan berusaha melepaskan diri dengan tangan kosong.

Selang beberapa detik, salah satu makhluk itu lari ke arahnya dan lompat hendak menikamkan tombak ke dada Ieger...

“Kiiiaaaaaakkkkkkkkkkkk…” teriak mahkluk kerdil itu.

“Slaaaaaaaaassssssh.....” Suara seperti tebasan pedang saat memotong disertai cahaya kuning keputihan memotong badan makhluk kerdil disekeliling Ieger. Cahaya itu kemudian meredup dan menghilang dengan cepat. Saat itulah mulai terlihat Klein dengan posisi berlutut berpegang pada pedang yang menancap di tanah.

“Klein...kau kah yang telah membunuh makhluk di sekitarku?” Tanya Ieger.

Dengan suara lirih dan nafas yang terengah-engah Klein menjawab “Akupun tidak yakin bahwa aku yang melakukan itu, Bagaimana keadaan kalian?”.

“Aku baik!” sahut Valentine. Tetapi saat Valentine menyahut, Klein sudah jatuh tersungkur ke tanah.

Sontak saja Valentine dan Ieger langsung menghampiri Klein, Valentine segera memeriksa denyut nadi Klein. “Bagaimana keadaannya?” tanya Ieger.

“hiks..hiks...Terimakasih Tuhan...syukurlah, dia masih hidup. Mungkin dia hanya kelelahan saja.” jawab Valentine sambil meneteskan air mata.

“Apa kamu melihat cahaya yang menebas para monster jelek itu?” tanya Ieger.

Valentine menjawabnya dengan nada terharu dan gemetar, “Ya aku melihatnya (matanya berlinang air mata), saat kau terjatuh tadi…sorot mata dan raut wajah Klein berubah sangat ketakutan seperti ingin menolongmu tapi dia sadar ia tidak bisa. Ia tahu jarak dia darimu cukup jauh sehingga jangkauan pedangnya tidak akan sampai untuk membunuh makhluk-makhluk disekelilingmu. Kemudian dia memejamkan mata dan menebaskan pedangnya ke arah para monster sehingga terjadilah hal itu. Sungguh sangat aneh… Aku baru pertama kali melihat kekuatan seperti itu selama aku hidup."

“ Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti itu? Apakah dia seorang penyihir atau semacam fenomena fisik?...” tanya Ieger.

Dengan menghela nafas panjang “ Entahlah… bukan waktunya membahas dan mencari tahu hal itu. Saat ini yang terpenting adalah kita mencarikan tempat untuk beristirahat dan makan sesuatu.” Jawab Valentine.

Pertarungan mereka malam itu berakhir dengan kemenangan. Kemenangan pertama sebuah kelompok kecil melawan kumpulan mahkluk kerdil.
Harus di lanjut ini bang krennn
BAB III
SEBUAH PEMBERIAN


“ Kleeeein…. Kleeeiiin…. “ Terdengar suara wanita.

“ Kleeeeinn…Kleiinnnn….Kemari… datanglah…” Suara wanita itu kembali terdengar…

Klein melihat padang berumput hijau yang berbukit-bukit berselimutkan mega sore hari. Saat tengah memandang, pandangannya tertarik menuju sebuah pondok kayu berwarna coklat beratap tumpukan rumput-rumput kering yang berada di salah satu bukit. Dari kejauhan terlihat pondok kayu sederhana dengan beberapa jendela kaca berbentuk bulat yang memantulkan cahaya jingga khas mega sore. Terlihat juga pintu yang kokoh berbentuk bundar. Disamping pondok itu tepatnya di halaman pondok, terdapat pohon Oak besar yang dibawahnya dikelilingi semak bunga berwarna ungu serta beberapa bunga marigold. Wanita itu berdiri dibawah salah satu sisi pohon; memanggil Klein dengan mengayunkan tangan kanannya. Dengan wajah heran dan penasaran, Klein memandang wajah wanita itu dari kejauhan. Karena tidak terlihat jelas seperti apa wajah wanita itu, Klein memutuskan untuk berjalan menuju pohon Oak itu. Namun baru seperempat perjalanan, ia tersandung dan jatuh dengan muka menghadap tanah.

“Ouch.... bodoh... kenapa aku terjatuh... “ sambil melihat ke arah kakinya Klein mencari benda yang menyebabkan ia terjatuh.

Tetapi tidak didapatinya benda itu, bahkan batu atau akar pohon pun tidak ia dapati. Klein bingung. Kemudian dengan kedua tangannya, ia berusaha bangkit berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menghadap tanah. Masih dalam posisi badan setengah bersujud dengan kedua telapak tangan serta lututnya menopang, ia menghadapkan wajahnya ke arah pondok itu. Ternyata... Pondok itu sudah terbakar, kaca-kaca jendela pecah tidak karuan, di pintu masuknya tertancap beberapa kapak yang ikut terbakar. Pohon Oak yang berada disamping pondok seperti sudah ditebang dengan kasar sehingga hanya menyisakan sedikit pangkal batang yang menjadi saksi bisu kejadian yang menimpa pondok dan dirinya. Asap hitam terus membumbung tinggi... wanita itu sudah tidak terlihat lagi di sekitar pondok. Klein penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga ia segera berdiri dan berlari ke ke arah pondok. Sesampainya di dekat batang pohon oak, ia memeriksa sekitar pondok itu dengan tangan menutupi wajahnya untuk menghindari panas api yang membakar pondok kayu.

“Hey... Hey.... Apa kamu di dalam? jawab aku !!!” Ia memanggil-manggil perempuan itu dari luar pondok.

Berkali-kali Klein memanggil perempuan itu, tetapi tidak ada suara balasan maupun tanda-tanda dari wanita misterius. Didorong dengan rasa penasaran dan kawatir, kemudian Klein mencoba untuk memeriksa di dalam pondok yang terbakar. Ketika ia baru menginjakkan kaki di teras pondok, ia merasakan ada yang menepuk bahunya dengan kencang. Sontak saja ia langsung menghadap ke belakang.

“arrrhhhHHHHHHHHHHHHH.....” Dengan wajah lebam dan berlumuran darah serta baju putih compang-camping, wanita itu berteriak ke arah wajah Klein.
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di