alexa-tracking

Bayangan Sahabat

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55be38c7dc06bd12738b4569/bayangan-sahabat
Cool 
Bayangan Sahabat

Bayangan Sahabat



Sahabat
Bayangan Sahabat




Bayangan Sahabat






emoticon-I Love Kaskus (S)Semoga Kelar Membaca, Please Enjoy.. emoticon-I Love Kaskus (S)


"Entar malem jadi kan kita?" sapa seno sahabatku,
kebetulan kami teman dari kecil yang rumah kami pun berhadap-hadapan,
"jadi dong, motor udah gw cuci nih" jawabku,
yang menandakan kami akan pergi malam nanti menghadiri acara ulang tahun teman sekolah kami rio yang ke-17.
"oke, nanti gw kerumah lu jam 8 malem yak?", seno mencoba berjanji,
dimana yang kukenal dia selalu ngaret datang setelah berjanji, bahkan tak jarang ia lupa.
"oke" jawabku asal.

"Ibu... jono nya ada kan?" sapa seno pada ibuku di lantai bawah,
"naik aja ke kamarnya dia baru selesai mandi no" ibuku memang lebih mengenal seno,
seno lahir pun ibuku orang pertama yang menggendongnya, karena ibuku bidan yang membantu saat seno dilahirkan, bahkan orang tua kami pun sudah seperti kakak adik, entah siapa yang kakak dan siapa yang adik di antara ibuku dan mamah nya seno, karena umur mereka sama, bahkan tanggal lahir pun sama, hanya saja masing-masing dari mereka lupa lahir pada pukul berapa.

"gw masuk ya jo?". didepan pintu kamarku seno seperti meminta ijin padaku,
"iyeh, tumben lu kagak ngaret, lu lagi gak enak badan?" tanyaku karena heran dia bisa datang lebih awal.
"yaah kadang hidup harus lebih teratur" tak tahu dapat dari mana ucapannya seno itu,
dan setelah ku pamitan dengan orang tuaku sepeda motor pun siap di bawa, aku dan seno hanya berboncengan dengan motorku, lebih praktis katanya dibanding dia membawa motornya juga, aku pun merasa tak keberatan.

jam menunjukkan pukul 22:00,
"ayo pulang sekarang no", ku ajak seno untuk pulang agar lebih aman dari begal motor diperjalanan,
akhir-akhir ini kasus begal motor meningkat di beberapa daerah di jabodetabek, orang tua ku pun sudah mengingatkan agar tidak pulang terlalu larut malam,
"iyaudah, mau lu yang bawa motor apa gantian gw jo?" seno menawarkan diri memboncengku,
"iyadeh, lu aja yang bawa, gw lagi males bawa motor" pintaku ke seno.

diperjalanan kami tidak terlalu memikirkan para pelaku begal, kami hanya membicarakan wanita mana yang paling menarik perhatian di acara ulang tahun rio tadi, setelah beberapa saat.., muncullah pengendara motor yang tiba-tiba sudah berada disebalah kanan kami dan mengeluarkan benda tajam berbentuk golok, iya itu jelas sebuah parang.

"Awwass!!!" teriak pengendara motor di belakang kami yang mencoba mengingatkan untuk menghindar,
tapi terlambat, seno yang menjadi target utama si pelaku, aku sudah berusaha menendang dari bangku belakang tapi hanya menggoyangkan sedikit keseimbangan mereka, parang yang di ayunkan si pelaku berhasil lebih dulu mengenai tangan kanan seno yang sedang berada di posisi tidak siap.
"Aaahhhh!!!!" seno berteriak histeris,
dan kami berdua pun kehilangan keseimbangan, dan jatuh, pengendara motor yang berada dibelakang kami berboncengan juga hanya mengejar si pelaku yang sudah berhasil pergi.
"Senooo!!! senoo!!!" teriakku panik,
"tangan gw jo!! tangan gw jo!!! sakit!!! sakit banget!!".. seno menjerit-jerit,
aku mencoba untuk tetap tenang dan melihat kondisi tangan seno yang nyaris putus,
"Tenang no!! ini masih utuh no!!" aku tetap gelagapan,
"iya tapi sakit banget, kenapa gak lu aja sih yang kena?!". seno mengeluarkan kalimat itu.
aku tersentak, seperti sebuah parang dari si pelaku yang memantul langsung ke jantungku, aku terdegup hebat, tapi aku mencoba mengerti ucapannya yang mungkin hanya shock saja dari mulut seno.
"gw bawa lu ke rumah sakit dulu no, ayo tahan no!!" pintaku dengan menahan tangis.

Setelah itu aku menarik motor buru-buru dan membawa seno sampai di rumah sakit terdekat, seno sedang menjerit-jerit di ruang tindakan dengan beberapa dokter dan perawat yang sedang menangani, aku tidak diperbolehkan masuk dan hanya diminta menunggu keluarga diluar.
"Mana seno jo??!! Mana seno??!! dia gak apa-apa kan??!!" ibu seno menghampiri ku dengan menangis,
dia datang bersama keluarga ku juga.
"seno sedang di tangani dokter bu, kondisinya alhamdulillah masih utuh dia juga masih sadar, tapi kita hanya bisa berdoa saja semoga tidak makin parah bu" jawabku sambil menangis.
"kamu gak apa-apa kan nak??" ibuku menangis memelukku juga,
"iya gak apa-apa bu" aku masih berfikir dan mencoba meyakinkan diriku bahwa yang membuat ku nangis adalah kondisi seno, bukan dari apa yang dia ucapkan padaku di saat kejadian tadi.

Setelah keesokan harinya dokter mengabarkan tangan seno tidak harus di amputasi dan cukup kontrol beberapa minggu untuk benar-benar pulih, kami semua pun bersyukur pada yang maha kuasa seno masih diberikan kesempatan memiliki tangan kanannya.
"kamu gak mau masuk jo?" tanya ibuku saat bergantian menjenguk seno di ruangan dia di rawat,
"iya bu, nanti aku belakangan aja, mau beli minuman dulu di luar" jawabku,
yang sebenarnya aku takut, aku takut seno memang sengaja mengeluarkan omongan (kenapa gak lu aja sih yang kena?!) dari mulutnya itu pada saat kejadian. ucapannya itu seperti selalu terngiang dalam ingatanku, tidak bisa kuhiraukan bisikan-bisikan kata-katanya seno. akhirnya aku hanya menitipkan pesan pada ibuku untuk tidak masuk menjenguknya dengan alasan masih trauma dengan kejadian di malam itu. ibuku pun hanya mengangguk heran dan mengantarku pulang, sepertinya dia tahu ada yang salah denganku, beberapa kali ibu bertanya, mengalihkan pembicaraan agar aku lupa dengan kejadian itu, tapi aku hanya mengangguk lesu.

Setelah beberapa minggu kejadian itu aku dan seno hampir tidak pernah bertatap muka, sesekali hanya melirik dari pintu depan rumahku yang pada saat itu dia sedang berjalan masuk dengan seorang wanita yang sepertinya pacar baru seno, aku mencoba tersenyum, dia hanya melihatku, dan berpaling, entah apa yang sebenarnya ada di pikiran dia sekarang aku tidak terlalu perduli, yang aku yakini bahkan dia memang serius mengharapkan aku yang jadi sasaran parang begal motor waktu itu. sampai akhirnya keluarga kami pun harus pindah rumah, ibuku hanya menyebutkan alasan kami harus pindah karena ayahku di pindahkan dinas kerja di luar kota, aku tidak terlalu perduli dengan alasan itu, aku hanya merasa kegirangan, buatku ini kabar baik yang sudah lama tak ku dapatkan.

Sampai akhirnya hari terakhir aku harus meninggalkan tempat tinggalku, tempat dimana seno dilahirkan juga dengan dibantu ibuku yang berprofesi seorang bidan, dan tempat di mana aku tumbuh dan beranjak dewasa, hanya bisa kutinggalkan di belakang, seperti sebuah bayangan, bahkan seno pun ku anggap hanyalah sebuah bayangan, Bayangan Sahabat.