alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55bcbccc582b2ed71c8b456b/flo

Flo..

Flo..

Prolog

Quote:


Bagian-Bagian

Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga
Bagian Keempat
Bagian Kelima
Bagian Keenam | Serangan Pembuka
Bagian Ketujuh | Komandan Budi
Bagian Kedelapan | Dia
Bagian Kesembilan | Dia 2
Bagian Kesepuluh | Jarum dan Jerami
Diubah oleh kukuhpribadi
Thread sudah digembok
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 3
Bagian Pertama

Jujur ide membaca novel di balkon merupakan sesuatu yang tak layak dicoba, sudah beberapa kali aku berusaha berkonsentrasi, mengikuti imajinasi penulisnya namun selalu berakhir dengan mataku yang semakin berat. Akhirnya aku putuskan untuk menaruh kembali novel tersebut di atas meja kayu di depanku, sekilas aku melirik smartphoneku namun tak ada satu notifikasi yg muncul, namun ahh seperti orang kebanyakan aku tak percaya begitu saja, ku coba telusuri recent update di seluruh medsos, namun semua isinya sama, kalau tidak tentang bbm yang naik pasti tentang kondisi negara yang berantakan. Aku menghela napas.. fiuuhh sambil mendongakkan kepala ke atas berusaha melihat bintang yang selalu terselimuti kabut tebal, ku alihkan perhatianku ke bawah, nampak jajaran mobil dan motor berada jauh dibawahku. Dingin dan diam..

Oke, mungkin salah satu indikator negara maju adalah warga negaranya yang semakin individual dan egois, tinggal dalam kotak-kotak menjulang tinggi yang kami sebut rumah. Ahh sudahlah, ku angkat malas tubuhku, berdiri kemudian sedikit memutar ke kiri dan kanan, namun tunggu.. ku cium harum khas kopi, bukan kopi instant eceran murahan namun kopi asli yang diseduh sempurna. Ku temukan sumber harum kopi itu ternyata berasal dari balkon sebelah, tampak seorang wanita duduk santai memandang jauh ke depan, ia memakai setelan kerja khas wanita karir yaitu kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga lengan, rok selutut berwarna abu-abu serta kacamata tipis yang terpasang sempurna di hidungnya yang mancung. Entahlah sudah beberapa lama aku memperhatikannya, tiba-tiba ia bergerak, mengikat rambut panjangnya ke belakang, membentuk ekor kuda yang tinggi di kepalanya, aku tersenyum simpul. Ia sungguh cantik, tak sengaja mata kami beradu, dia tersenyum kepadaku, aku membalas ragu kemudian masuk ke kamarku.

Pagi hari bagi kami yang tinggal di kota besar ini adalah hari penuh kesibukan, suara klakson, lalu lalang kendaraan menjadi satu, begitu juga aku yang tak luput dari semua kesibukan pagi hari ini. tas ransel berisi lembar jawaban UTS, beberapa modul dan laptop sudah tersandang di punggungku, aku menuju lantai bawah dengan menggunakan lift yang berada di setiap sudut tempat kami tinggal, ketika hendak ku tutup pintu lift tampak wanita tetanggaku sedikit tergesa berjalan cepat ke arah lift. Ia tersenyum ke arahku, senyum isyarat untuk menunggu sebentar. Ketika kami berdua dalam satu lift yang sama, aku tak mampu menghindar dari harum parfumnya yang menawan, kali ini memakai jeans longgar dengan atasan flanel dan sepatu boots, kontras dengan penampilannya semalam.

“jadi, kopi murni atau instant?” ku coba buka obrolan
“tergantung situasi, kopi murni tepat ketika santai namun ketika butuh kafein segera tentu saja kopi instant lebih masuk akal” jawabnya sambil mengulurkan tangan
“Adi”
“Flo”
“ternyata kita tetangga ya?”
“iya sepertinya, entahlah aku juga baru saja tinggal disini”
“sebulan, dua bulan?”
“baru sebulan, ayolah jangan buat perkenalan ini membosankan hahaha”

“hahaha” aku tertawa garing, tak siap dengan jawabannya
“jam 10 malam, kita bisa mulai lagi basa basi perkenalan ini, bagaimana?”
“di taman depan?”
“boleh.. bawa juga novelmu yang sepertinya membosankan itu”
“dan aku pikir secangkir atau dua cangkir kopi bisa membuat semuanya menjadi lebih nyaman”
Tingg suara lift terbuka, menandakan kami telah sampai di basement tempat kami memarkir kendaraan, kami bergegas menuju kendaraan masing-masing. Bersiap menjalani kehidupan yang menggila sehari lagi.
ijin nenda dolo gan emoticon-Cendol (S) emoticon-Cendol (S)
Izin nenda kuh.....jangan males update yaaaa
kayanya keren nih cerita.
penulisannya enak dibaca
emoticon-linux2
nyimak cerita nya dulu ah siapa tau menarik
wih masih perawan nih :3 seru kayaknya, keep update bro emoticon-Smilie
wih masih fresh ni trit
salam kenal mas gan
masih fresh nih....

fiksi or not??
Baru baca dkit doan nih..
Update lagi gan..
Ane bantu emoticon-Rate 5 Star
Mana nih updateannya Kuh.....penasaran ama lanjutannyaemoticon-I Love Indonesia (S)
Jadi ini bukan masalah kelanjutan dari can tah gan.. Kalo iya malas ah bacanya...emoticon-Ngakak
Agaknya lebih rumit nih oke gan lanjoooot
Ijin nyimak gan. Bakal keren nih emoticon-Smilie
Bagian Kedua

Sesekali aku melihat jam tanganku, jam tanganku menunjukkan pukul 21.58, kurang 2 menit lagi sebelum aku bertemu Flo. Lampu temaram taman tak membuat taman tempat janji kami bertemu sepi, banyak penghuni tempat ini yang sekedar meluangkan waktu ngobrol ataupun istirahat sebentar di sini, sesekali pedagang kaki lima juga hilir mudik menawarkan dagangannya. Aku sendiri memilih duduk di bangku taman yang terbuat entah dari batu asli atau ada campuran semen dan beton di rangkanya, namun hawa dingin dari bangku taman itu sukses membuatku tak betah duduk lama-lama, kalau bukan karena menunggu flo pastilah aku sudah bergeser tempat duduk di balik gerobak abang bakso di seberang taman.

“hai hai adi” seru seseorang yang tampaknya sibuk membawa dua gelas besar di kedua tangannya yang tampak mengepulkan uap panas
“hai flo” seruku sambil melambai, meskipun mataku cenderung rabun di malam hari gara-gara minus yang terus bertambah, setidaknya aku bertaruh tidak salah duga. Flo dengan segera menaruh 2 gelas besar tersebut di atas bangku taman, kemudian menggosok-gosok tangannya yang seperti kepanasan.
“jadi aku tidak terlambat kan? Fuhhh sungguh berusaha membawa 2 cangkir kopi dari lantai 5 ke taman ini sungguh perjuangan berat” gerutu flo sambil membetulkan letak kacamatanya sambil sesekali menarik napas panjang-panjang
“bwahahahaha” aku tertawa lepas
“apanya yang lucu?” dengus flo
“ya seharusnya tak usahlah membawa kopi dengan air panasnya sekalian dari lantai 5, cukup bawa bubuk kopinya kemudian diseduh air panas dari penjual kopi diseberang sana” kataku sambil menunjuk warung kopi yang nyempil di sela parkiran luas depan taman kami duduk sekarang
“oh tidak bisa, kopi itu harus perfect 76derajat, tak bisalah pake air panas sembarangan”
“okeh okeh, jadi kopi apa yang kamu bawa ini? instant atau murni?”
“instant..” jawabnya pendek
“ah ku kira murni”
“terlalu awal untuk mensajikan kopi murni untukmu, hehehe” tawa flo menggoda
“wahh sepertinya butuh waktu yang lama untuk sampai ke kopi murni” jawabku sambil menyeruput kopi instant yang dibawanya, kopi yang lebih mirip susu coklat dibanding kopi yang hitam pekat.

“jadii??” seru flo ketika beberapa menit berselang setelah seruputan pertamaku
“iya?” aku tersenyum semanis mungkin, menatap matanya lekat-lekat.. wajarnya seorang wanita akan tersipu dan segera menundukkan kepala ketika posisi seperti itu namun ia malah bengong dengan wajah seperti terkejut.
“Are you okay adi? Apakah kopiku itu membuatmu hilang kesadaran?” tanyanya menggoda sambil menempelkan tangannya ke jidatku, seolah memastikan tak ada panas berlebih yang akan membakar isi dalam kepalaku disana.
“hahaha tentu saja” jawabku ragu
“butuh lebih dari sekedar tatapan manis untuk buatku luluh adi, lagipula kita baru bertemu..” jawabnya sambil tersenyum, aku tersipu, berusaha menyembunyikan rasa malu dan grogi yang jadi satu.

“tipe cewek yang tak bisa diluluhkan dengan satu tatapan rupanya..” kataku tersenyum
“tentu saja, untuk seumuran kita jatuh cinta pada pandangan pertama hanyalah sebuah lelucon masa lalu bukan? Hahaha” tawanya terkembang, tawa yang tak tulus seperti ada sedikit rasa getir tersimpan
“hemm jatuh cinta... arghh” aku menghela napas
“kenapa? Punya pengalaman pahit?” tanya flo penasaran
“tentu saja.. siapa sih yang tak punya pengalaman tentang cinta..”
“sedih, senang, sakit, bahagia?”
“well semuanya.. hahaha kamu sendiri? Punya banyak pengalaman?”
“ohh tentu saja dong” jawabnya sambil menyeringai
“jadi.. malam ini kita akan saling bercerita kisah-kisah masa lalu?” tanyaku memastikan topik pembicaraan kami
“jangan... terlalu membosankan, bagaimana kalau tentang pekerjaan?”
“apalagi itu hahaha bukannya lebih membosankan??” aku tertawa lepas kemudian menghabiskan tegukan terakhir kopi di gelasku
“ahh tentang itu saja..” serunya sambil menjentikan jari
“hee apa?” tanyaku penasaran

“setiap orang punya cara menikmati kopi yang bermacam-macam, bahkan tak terhitung jumlahnya.. nah kamu baru saja menunjukkan cara menikmati kopi yang unik.. aku penasaran tentang itu.. kenapa kita tak bicarakan saja alasan kau habiskan kopimu begitu cepat?” ujarnya penuh semangat
“eh.. apa bedanya? Menghabiskan kopi dengan cepat atau lambat?”
“tentu saja berbeda dong.. menikmati kopi itu ada seninya...” flo bersungut – sungut
“oke oke tuan putri kopi hahaha, aku menikmati kopi begitu cepat karena menurutku menikmati kopi itu seperti menikmati kebahagiaan, kita harus secepat mungkin menikmati kebahagiaan ketika masih hangat agar rasanya tetap sama tak berubah dari tegukan pertama sampai terakhir..”
“terus kalau segelas kopi itu sudah habis? Atau dalam analogimu segelas kebahagiaan itu telah habis, apa yang akan kau lakukan?
“refill donggg” aku tersenyum
“hee semudah itu? Bagaimana kalau rasanya berbeda?”
“apakah kebahagiaan itu harus sama dari waktu ke waktu?”
“tapi... ah iya sih..”
“hahahah, kalau kamu, kenapa harus menikmatinya sedikit demi sedikit?”
“tentu saja agar aku bisa menikmati kopi itu selama mungkin, merasakan getir pahitnya selama mungkin.. ya kalau pakai analogimu tadi berarti aku ingin bahagia selama mungkin.. hehehe”
“Dengan gelas kopi yang sama?”
“kenapa tidak?”
Belum sempat aku menanggapinya, rintik hujan tiba-tiba turun, memaksa kami untuk meninggalkan bangku taman itu dan menyudahi pembicaraan..
“nice chat adi, sayang hujan turun” seru flo sambil berlari menyelamatkan kopinya
“next time kita lanjutkan” jawabku sambil berlalu enggan, jujur aku lebih suka menikmati bau tanah ketika rintik hujan, baunya khas. Akupun melangkah santai menuju pintu apartment kami yang beberapa saat lalu dibuka buru-buru oleh flo.. kopi dan hujan.. sebuah awal kisah baru? Tanyaku dalam hati..

Aku melangkah santai menuju kamarku namun aku merasa seseorang mengawasiku, entah firasat itu datang dari mana, apakah flo diam-diam mengikutiku? Mencoba membuat lelucon di larut malam ini? ahh tapi bukankah dia sudah lebih dulu menuju kamarnya, aku menoleh sebentar ke belakang, memastikan sesuatu yang menganggu pikiranku, namun semua sepi dan kosong.. tidak tampak apapun, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja, kataku dalam hati.
Weeeh kisah baru nih ganemoticon-Big Grin
Ijin jejak dulu hohohoemoticon-Big Grin
Ane suka gaya penulisannya, enak dibacaemoticon-Big Grin,keep update ganemoticon-Cendol (S)..jangan putus ditengah jalanemoticon-Big Grin
izin absen om kuh ^^
update teruss yahh ^^ biar bisa dibaca setiap hari hahhha
Ijin numpang baca ya Gan,gaya penulisannya bagus enak dibaca,lanjut update gan..
Bagian Ketiga

Aku tergesa berjalan ke arah shelter bus di dekat jalan raya, sesekali melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 06.54, ahh telat gumamku dalam hati.. seharusnya aku sudah berada di kelas untuk menyiapkan kuliah pagi ini, berceramah tentang berbagai hal, membawa imajinasi mahasiswaku jauh ke depan.. namun sekarang malah terjebak di dalam bus yang entah mengapa jumlah pegangan untuk berdirinya lebih banyak dibanding tempat duduknya, aku menggerutu dalam hati, seharusnya aku melakukan cek rutin sepedaku seperti biasanya, jadi tak perlu naik bus gara-gara ban bocor, ahh bodohnya.. badanku terhuyung begitu bus yang kutumpangi berhenti mendadak di sebuah halte, berusaha menaikkan dan menurunkan penumpang secepat dan sebanyak mungkin, sesekali petugas penjaga pintu otomatisnya yang berseragam batik meneriakkan nama-nama pemberhentian selanjutnya dengan cepat dan seolah menggumam tak jelas, dan sepertinya pemberhentianku sebentar lagi, ku lirik jam tangan menunjukkan pukul 07.14, tak terlalu buruk juga.

Langkahku tergesa, menembus lobi gedung fakultas yang berlapis marmer mengkilat, aku langsung menuju lift yang tepat berada di tengah lobi, ku pencet angka 4, dan dengan cepat lift kembali terbuka di lantai yang kutuju, kelasku masih sepi tampak hanya satu dua orang mahasiswa yang telah datang, sejuk pendingin ruangan cukup membuat kering peluhku, kuletakkan tasku dibawah meja setelah ku keluarkan beberapa buku, bolpoin, flashdisk dan pointer. Yup aku ready untuk memulai kuliah meski agak terlambat dari biasanya, tinggal menanti mahasiswaku bermunculan.

“pagi pak,” sapa karyawan fakultas yang bertugas memastikan perlengkapan kelas siap untuk dipakai
“pagi..” jawabku sambil tersenyum, ini yang kutunggu-tunggu ujarku dalam hati, 2 botol air mineral yang selalu disediakan setiap mata kuliah dimulai, cukup untuk menyegarkan dahaga sehabis berjuang di dalam bus untuk sampai ke kampus tepat waktu.

10 menit aku menunggu, mahasiswaku mulai berdatangan memenuhi kelas, siap untuk menerima kuliah, aku berdiri di depan kelas, menyandarkan badanku ke meja, sambil menyilangkan kaki, berusaha memulai hari ini dengan sesantai mungkin.

“apa kabar? Bagaimana kabarnya sehabis UTS?” tanyaku membuka kelas
“baik pak..” jawaban paling lantang seperti koor paduan suara meski juga terdengar helaan napas tak puas di antaranya, aku tersenyum ke arah mereka
“jadi.. apa society itu? Apa masyarakat itu?”
“masyarakat? Kumpulan manusia yang berkumpul dalam satu kesatuan?” jawab mahasiswaku
“penduduk yang tinggal di suatu tempat pak..”
“warga negara?” banyak jawaban bersahutan di antara keriuhan yang muncul
“yapp.. ada yang lain?” tanyaku sambil tersenyum mengedarkan pandang ke seluruh kelas,
“sepertinya hanya itu pak” jawab salah seorang mahasiswaku
“lalu apa yang menyatukan kumpulan manusia ini dalam suatu kesatuan?” tanyaku sekali lagi, berusaha membreak down pikiran mereka
“cita-cita bersama, kesamaan nasib dan latar belakang sejarah?” jawab rina, salah seorang mahasiswa terbaik di kelasku, aku hanya tersenyum dan mengedarkan pandang ke seluruh kelas, jawaban mereka tidak ada yang salah, tidak sama sekali, tapi pengertian yg disebutkan merupakan pengertian lawas yang diajarkan di sekolah menengah atas,
“jadi begini, memang masyarakat adalah sekumpulan manusia yang terkumpul karena suatu hal, bisa berupa kesamaan nasib dan dan latar belakang sejarah, namun sadar tidak? Bahwa kelompok masyarakat sekarang tidak terbatas wilayah teritorial tertentu atau tidak terbatas ras suku agama tertentu, misalnya dalam sebuah forum internet ternyata ada masyarakat, dalam sebuah grup facebook ternyata juga ada masyarakat, lalu apa dong yang disebut dengan masyarakat itu? Apa yang membuat mereka terikat dalam sebuah society? Kira2 faktor apa yang paling kuat?”
“informasi? Komunikasi?”
“yap betul.. masyarakat sekarang terbentuk dari pola komunikasi mereka, dari interaksi berbagi informasi mereka.. dari obrolan, percakapan dan berita yang mereka tonton. Informasi atau komunikasi inilah yang membentuk masyarakat saat ini, dan mereka dikendalikan atau mudah terpengaruh dengan informasi yang mereke terima itu. Dewasa ini kita tak lagi bicara tentang opinion leader, tentang tokoh masyarakat atau pemimpin yang akan mengarahkan masyarakatnya, namun kita sudah bicara tentang informasi atau berita apa yang akan mempengaruhi masyarakat.. inilah yang disebut masyarakat new media.. menarik bukan?” seruku antusias, sewajarnya sebagai mahasiswa komunikasi, maka mereka akan tertarik dengan topik yang baru saja ku bahas.
“jadi untuk mempengaruhi pendapat masyarakat, maka kita harus mengendalikan arus informasi yang masuk ke masyarakat?” celetuk seorang mahasiswa yang tampak asing bagiku,
“iya benar.. bukan mengendalikan lebih tepatnya mengawasi arus informasi yang beredar agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan disampaikan dengan benar, kita telah memiliki banyak lembaga negara yang melakukan fungsi tersebut, mengawasi arus informasi yang beredar di tengah masyarakat dan memberikan teguran apabila diperlukan kepada sumber informasi apabila melakukan kesalahan”
“lalu kenapa masih banyak beredar informasi bohong yang membuat masyarakat terpecah belah? Membuat situasi menjadi tak kondusif? Apakah peran lembaga negara sebagai pengawas arus informasi atau berita yang beredar masih lemah?” seru mahasiswa tadi yang sepertinya aku benar-benar tidak mengenalnya, rambutnya dipotong cepak rapi tampak bukan seperti mahasiswa pada umumnya yang lebih memilih berambut warna warni atau gondrong daripada cepak, siapa dia? Tanyaku dalam hati.

“di era new media hal tersebut wajar terjadi, kita menyebutnya era banjir informasi , dimana setiap anggota masyarakat memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi yang tak terbatas, hal inilah yang pada gilirannya memicu munculnya gesekan-gesekan di tengah masyarakat, hal ini sangat lumrah terjadi, dan saya yakin lembaga-lembaga pemerintah sudah berusaha dengan keras untuk mengatasi hal tersebut” jelasku dengan hati-hati,
“apakah ada sebuah solusi yang lebih aplikatif dalam situasi saat ini?” debatnya sekali lagi
“kalianlah solusinya, sebagai mahasiswa ilmu komunikasi yang kelak akan menjadi analis media, kalian mempunyai tanggung jawab besar untuk membuat arus informasi dan berita yang beredar di tengah masyarakat menjadi lebih terkendali dan terawasi di masa mendatang” jawabku, tepat setelah aku menjawab pertanyaannya, alarm jam tanganku berbunyi menandakan waktuku di kelas ini telah usai.
“oke kelas kita telah usai, minggu depan kumpulkan paper bertema masyarakat new media, nanti kita diskusikan bersama-sama” ujarku menutup kelas hari ini, satu persatu mereka meninggalkan kelas, aku masih termenung memikirkan pertanyaan mahasiswa tadi, jujur sebenarnya pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan terbesarku ketika mahasiswa, pointer mouse ku arahkan ke folder-folder lama di laptopku yang memuat file thesisku, kubuka sebuah file pdf yang menampilkan kalimat panjang yang diketik dengan huruf tebal.

PROJECT IRON CAST
PENERAPAN KONSEP PANOPTICON DALAM PROSES PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
ARUS INFORMASI DI MEDIA MASSA
(Solusi Pengendalian Fenomena Banjir Informasi di Tengah Masyarakat)


Aku menghela napas, kututup laptop dan segera membereskan mejaku bersiap meninggalkan ruangan kuliah dan segera pulang meskipun tampaknya awan mendung mulai menggelayut di ujung cakrawala...
Wooooooohooo,, fresh from oven emoticon-Hammer (S)
emoticon-Ngakak (S)

tulisannya terlalu rapet Kuh, rada pegel juga ni mata bacanya,, apa mata ane ya yg masalah emoticon-Hammer (S)
emoticon-Blue Guy Peace

Lanjut yu ahhh,, yg rajin yee updatenyeee,, yihaaaaaaa emoticon-Sundul Gan (S)
Wooww keren ceritanya pak dosen emoticon-Ngakak
saya juga suka bau petrichor, adalah bau yg menyebabkan hujan lebih membuat rileks
Wah anda melakukan kesalahan pak, anda berkata yang kelak akan menjadi analis media, tp apa bapak sadar bahwa cita2 orang berbeda?, mengawasi informasi lebih bisa dilakukan saat masih mahasiswa daripada setelah memasuki dunia kerja yang tidak smua anak komunikasi kerja di media informasi
ini hanya pendapat saya pak
Halaman 1 dari 3
×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di