alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Di mana Ayahku yang dulu
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55ba28c412e25760738b456d/di-mana-ayahku-yang-dulu

Di mana Ayahku yang dulu


Aku berjalan menelusuri jalan yang tak kutahu akan kemana tujuanku. Sore yang mendung, menjadikan tempat ini begitu muram. Semak-semak yang tak terawat membuat buluku bergedik. Jalan setapak. Yah ini adalah jalanan setapak yang jauh terpencil di daerahku. Tanpa kusadari aku berjalan disebuah pemakaman yang tampak usang tak terurus. Mungkinkah hidup mereka di alam sana juga seperti ini? Semoga tidak. Langkahku terhenti di sebuah kuburan yang sudah lama tak terawat. Aku membaca batu nisannya. Perlahan air mataku jatuh. Siti Aminah Binti Ahmad, 12 Mei 2001. Makam Ibuku. Air mataku berlinang saat menatap batu nisan Ibuku. Kupeluk batu nisan Ibuku, seakan aku merasa memeluk ibuku yang masih hidup.

“Nina! Kemana saja kamu ? hari sudah malam. Hampir setiap malam kamu baru kembali dari rumah. Keluyuran darimana saja kamu? Dasar anak tak berguna!” bentak ibu tiriku.

Aku hanya tertunduk lesu. Tak berani menatap mata Ibuku yang penuh kebencian terhadapku. Sejak pernikahannya dengan Ayahku, ia sama sekali tak pernah menganggapku sebagai anaknya. Entah kenapa Ayah memilihnya sebagai isteri dan sekaligus Ibu baruku.
“Kamu selalu saja mengabaikan perintahku. Kesabaranku sudah habis Nina. Kamu…”
Plakkk….

Tamparan Ibu tiriku melayang di pipiku untuk kesekian kalinya. Rasanya sakit. Tapi aku tak mau menangis terlebih lagi melawannya. Padahal, jika aku mau, aku bisa saja. Aku bukan lagi anak kecil yang harus dipermainkan semaunya. Aku sudah SMA dan sebentar lagi aku akan kuliah. Tapi, ini semua demi Ayaku. Aku mencintai Ayahku. Tak akan kusakiti wanita yang begitu dicintai Ayahku.

“Apa yang terjadi dengan Nina, Ros? Mengapa kamu kelihatan marah pada Nina?” Tanya Ayahku yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
“Mas, Nina sudah keterlaluan. Dia tak lagi menghargaiku sebagai Ibunya. Dia selalu mengabaikan perintahku!” jawab Ibu tiriku merasa tak bersalah sedikit pun.

“Nina, kamu sudah keterlaluan sama Ibumu. Apa kamu mau jadi anak durhaka? Kalau kamu menyakiti Ibumu sama saja kamu menyakiti Ayahmu Nina! Ayah harus memberi kamu pelajaran. Selama satu bulan ayah tak akan memberi kamu uang jajan. Kamu harus belajar mandiri.” Bentak ayahku yang tampak menahan amarah.

Aku memasuki kamar. Tanpa merespon Ayah dan Ibu tiriku. Aku duduk lesu di balik pintu kamarku. Aku menangis meratapi nasibku. Dengan perahan aku meraih sebuah buku dalam lemari. Album kenangan bersama Ayah dan Ibuku dulu. Kubuka foto dalam album itu satu per satu. Air mataku menetesi Album yang telah menjadi kenangan indah dalam hidupku. Aku berhenti sejenak, menatap foto itu dalam-dalam. Ayah dan ibuku memelukku dalam foto itu, kulihat ayah mendekapku sangat erat. Kemana Ayahku yang dulu? Tanpa kusadari aku tertidur lelap dalam buaian kesedihan memeluk album kenanganku.

“Hey Nina,, ikutlah denganku. Sekolah masih jauh.” Pinta Arai.
“Terima kasih Arai, tapi… hmm… maaf aku bias jalan sendiri. Aku kuat kok?” jawabku.
“Ah.. dasar cewek selalu saja mengedepankan keegoisannya. Sudahlah jangan berpura-pura padaku. Aku ini sahabatmu sejak SD. Ayo cepat naik di motorku. Aku tak punya waktu tawar menawar nih. Hehehe…”
“Baiklah Tuan Arai kalau kamu memaksa.”

Arai memboncengku ke sekolah untuk yang kesekian kalinya. Aku tak mau Arai melihatku sedih. Ia adalah temanku sejak SD. Kami selalu bersam-sama dan sekarang, Kami sudah SMA. Arai sudah bisa memahami keadaanku. Ia selalu menebak bagaimana keadaanku, mungkin saja dia tahu kalau aku dihukum Ayahku.Tak dapat kupungkiri, semenjak kepergian ibuku, Arai datang menghiburku. Ia seakan menjadi obat penawar racun dalam hidupku. Arai begitu baik denganku. Selain baik tentunya, ia cowok yang tampan. Tapi… ah Arai adalah sahabat yang sangat berharga bagiku.

Setibanya di sekolah aku dan Arai langsung ke perpustakaan. Bukannya membaca buku di sana. Tapi Arai pasti ingin mengintrogasiku lagi.

“Nina, jangan kamu pikir aku akan mengintrogasimu. Tidak! Aku di sini ingin memberimu kabar penting.”
“Kabar Apa Arai?”
“kamu kan siswa paling cerdas di sekolah ini. Sebentar lagi kita akan Ujian Nasional. Nah, pamanku di Singapura menawarkan beasiswa di sana. Beasiswa itu untuk siswa seperti kamu. Tak tanggung-tanggung Nina. Kamu akan dibiayai sampai sarjana bahkan sudah disediakan lapangan kerja.” Kata Arai sangat meyakinkan.

“hah.. benar katamu? Beasiswa…? Aa..aapa aku tak salah dengar?” Aku kanget dan mataku melototi Arai.
“kapan seorang Arai bohong Nina. Aku benar. Saatnya kamu membuktikan siapa dirimu di depan ibu tirimu.”

Aku seolah-olah berada di angkasa. Melayang-layang tak dapat mengendalikan diri. Arai seakan menjadi dewa penyelamat bagiku. Aku tahu, aku belum pasti mendapat beasiswa itu. Tapi aku yakin Tuhan telah memberiku jalan. Dan mulai hari itu, aku belajar keras. Aku tak lagi memikirkan maki-makian ibu tiriku di rumah. Aku mengikuti kemauannya. Aku biasa disuruh membersihkan seluruh isi rumah. Belum istrahat aku disuruh lagi menyiapkan makanan. Semuanya serba aku yang mengerjakannya. Tapi aku tak peduli. Aku bekerja tapi buku tak lepas dari tanganku. Walau Ibu tiriku sering jengkel melihatnya, tapi aku punya cara belajar sendiri. Aku harus mendapatkan besiswa!.

Tiga bulan telah berlalu…

“Ayah… aku lulus SMA Ayah. Kata kepala sekolah nilaiku paling tinggi di provinsi. Ayah bangga kan? Oh yah Ayah satu minggu lagi aku akan berangkat ke Singapura. Aku mendapat beasiswa Ayah…”

Dengan penuh semangat aku memeluk Ayahku. Sengaja aku memberinya kejutan di pagi ini. Tapi, ibu tiriku tak meresponku yang duduk di ruang tamu. Ia hanya melirikku. Tanpa berkata sepatah katapun. Hatiku ngilu.

“Jaga dirimu baik-baik di sana Nina.”

Ayahku mengusap-usap ubun-ubunku. Lalu pergi begitu saja tanpa penuh ekspresi sesuai harapanku. Tanpa senyum kebanggaan di wajahnya. Di sini, di rumah yang sebentar lagi aku akan pergi nun jauh di sana, aku melihat Ayahku duduk di samping ibu tiriku mengusap-usaps perut ibu tiriku. Ibu tiriku Hamil.

“Ayah, bahagiakah engkau dengannya? Apakah artinya diriku bagimu? Kini engkau akan menjadi Ayah yang baru.” Kataku dalam hati.

Empat tahun telah berlalu.

“Hey selamat yah Nina. Kini kamu telah bergelar dokter spesial jantung. Ayahmu pasti bangga. Kapan kamu berangkat ke Indonesia?” Tanya Dr. Aila.
“Insya Allah besok, aku akan berangkat ke Indonesia bersama Arai.” Jawabku sekenanya.

Aku memilih bekerja di Indonesia. Aku sudah sangat rindu dengan Ayahku. Aku tak mau pisah dengannya lama-lama. Arai pun begitu. Tapi entah alasan apa ia memilih kerja di Indonesia. Padahal pamannya menawarkan dia bekerja di Rumah Sakit ternama di Singapura.

Pukul 09.55 aku tiba di rumah Ayahku. Arai mengantarku ke rumah. Rasa lelah masih kami rasakan. Ingin cepat-cepat aku memeluk Ayahku dan mengatakan padanya kalau aku sangat sayang Ayahku. Tapi belum ada yang membukakan pintu. Arai mencari tahu keberadaan Ayahku di tetangga. Aku masih berdiri di depan pintu.

“Nina… Ayah kamu…” kata Arai yang mengagetkanku dari belakang.
“Kenapa Arai? Ayahku di mana?” tanyaku penuh penasaran.
“Ayah kamu ada di rumah sakit Nina!”

Aku sangat syok. Tak menyangka Ayahku ada di Rumah sakit. Tanpa berfikir lama, aku dan Arai menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku terus menangis. Aku takut sesuatu yang sangat buruk menimpa Ayahku. Aku merasa bersalah. Aku hanya sibuk di negeri orang. Oh Ayahku…

“Ibumu kecelakaan Nina, ia banyak mengalami pendarahan. Tapi tak satupun orang yang bisa cocok dengan darahnya. Penyediaan darah di rumah sakit tinggal golongan darah B. Ibumu golongan darah AB positif Nina. Darah Ayah tidak cocok. Tolong kami Nina.”

Saat pertama tiba di rumah sakit, Ayah langsung memelukku. Ia kelihatan sangat sedih. Kupikir ia akan menanyakan bagaimana keadaanku. Tapi, aku mengesampingkan itu semua.

“Kalau Ayah mau, Nina bisa kok bantu Ayah. Golongan darah Nina AB positif. Walaupun darah Nina habis untuk Ibu, itu takkan jadi masalah buatku asal Ayahku bahagia.”njawabku myakinkan Ayaku.

Semuanya masih samar-samar. Perlahan aku membuka mataku. Ternyata aku berada di ruangan donor darah. Aku melihat Arai tertidur sambil menggenggam tanganku. Aku baru ingat, karena banyak mendonorkan darah aku banyak kehilangan energy. Tapi dokter telah menangani semuanya. Aku menatap Arai. Sahabat yang selalu setia bersamaku. Saat melihatnya, aku merasakan perasaan ganjil. Perasan yang selama ini kuabaikan semenjak kehadiran Ibu tiriku. Mungkinkah aku jatuh cinta pada Arai, sahabatku sendiri?.

Tiba-tiba seseorang datang dari balik pintu dengan seorang wanita yang sudah menampakkan wajahnya yang keriput. Wanita itu tampak kurus. Ia tak lagi secantik yang pernah aku lihat. Ia menggunakan kursi roda. Dan laki-laki itu mendorongnya. Perlahan mereka mendekatiku. Arai terbangun. Wanita itu tersenyum padaku tapi dia menangis seakan ia menanggung beban yang begitu berat.
“Maafkan ibu nak, ibu yang selama ini membuatmu menderita. Ibu selalu menghasut Ayahmu. Supaya Ayahmu membencimu. Ibu membiarkan Ayahmu tak peduli lagi denganmu. Semua ini salahku. Aku tak pantas jadi ibu tirimu. Kata-kata maafku tak cukup untuk menghapus dosa Ibu padamu, nak.”

Untuk pertama kalinya Ibu tiriku memelukku. Ia memegang tanganku. Menunduk seolah-olah meminta permohonan padaku. Ia berusaha bangkit dari kursi rodanya. Ia ingin bersujud dihadapanku.

“Jangan Bu… jangan lakukan itu. Aku ini anakmu. Ibu telah merawat Ayahku dengan baik. Aku sudah memaafkan ibu…”
Suasana menjadi haru. Ibu tiriku yang selama ini tak berlaku adil padaku, kini berubah total berkat hidayah dari Allah. Dan untuk pertama kalinya, Ayah dan Ibuku memelukku bersama-sama. Aku bagaikan anak emas mereka. Aku menangis. Menangis dalam keharuan. Arai melihatku. Tanpa disadarinya ia juga meneteskan air mata.
“Aku akan menikahimu Dokter Nina. Maukah kamu jadi isteriku?” kata Arai saat Ayah dan Ibu tiriku melepaskan pelukannya.
Arai dan Ayah saling bertatapan. Sepertinya mereka telah merencanakan sesuatu.
“Arai pantas untukmu Nina. Ayah akan sangat bahagia. Ayah ingin kamu tak kesepian dalam hidupmu. Bahagiamu juga bahagiaku anakku.” Bisik Ayah padaku.

Aku tak menyesali bila bunga mawar berduri. Tapi aku akan mensyukuri bila ada duri yang berbunga.


maaf yah gan kalau tulisannya terkesan lebay atau gimana, ane cuma newbie kaskuser yang pengen jadi penulis, hehehe jadi mohon masukan dan kritikannya yah gan
thanks emoticon-Smilie






Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di