alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SLAMET DAN REVOLUSI JIWA...
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55b89d791a997525638b456d/slamet-dan-revolusi-jiwa

SLAMET DAN REVOLUSI JIWA...

Slamet adalah seorang muslim yg taat. Seusai sholat shubuh, dia meninggalkan rumahnya yang sederhana yang hanya berupa sepetak kamar berukuran 3m x 3m sambil menenteng sapu lidi, karung dan pengki. Sepanjang Jalan Rawakuning masih gelap dan masih jarang kendaraan yang lewat. Suara kosrek sapu lidi Slamet membersihkan jalanan terdengar khas bagi orang-orang sekitar.

Kebiasaan Slamet menyapu jalanan ini belumlah lama dilakukannya, kurang lebih baru 10 hari. Tidak ada yg menyuruh, tidak ada yang bayar, semua dilakukan Slamet dengan niatnya sendiri, dengan ikhlas... tidak peduli dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan tidak peduli terhadap orang-orang yang menatapnya dengan penuh keheranan. Banyak dari orang-orang sekitar yang bertanya, "disuruh siapa met? emangnya disuruh sama Pak RW? nggak cape, Met? ". Pertanyaan seperti itu sering terlontar kepadanya tapi Slamet tidak pernah menjawabnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, kecuali hanya sebuah senyuman. Wilayah yang disapu oleh Slamet cukup luas, mulai dari kantor RW 016 hingga perbatasan RW 07 Kelurahan Pulogebang. Niat Slamet cuma satu "karena Allah". Kebiasaan slamet menyapu jalanan ini yang kemudian mulai dibicarakan orang.

Slamet dulu bukanlah Slamet yg rajin, yang selalu hadir dan makmum di mesjid saat adzan terdengar bahkan tidak pernah terlambat. Slamet dulu pernah merasakan hidup dalam kesenangan karena orang tuanya adalah tergolong orang berada. Mereka sudah punya mobil saat tetangga sekitarnya tak ada satupun yang punya. Uang saku sekolah Slamet sudah Rp 5000 sementara teman-temannya hanya diberi Rp 50 (tahun 80-an). Slamet sekolah bersepatu bagus, sementara teman-temannyanya masih nyeker alias tidak bersepatu. Pendek kata, Slamet punya ijasah SMA. Tapi, kebiasaan orang tuanya yang buruk dan tidak pernah memperkenalkan apalagi mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, suka berjudi, suka main perempuan, tidak kenal halal dan haram, semua disikat hingga akhirnya mengalami kebangkrutan karena kelakuannya sendiri. Keluarga Slamet berantakan, orang tuanya bercerai, jadilah Slamet korban perilaku orang tuanya.

Slamet pernah berkeluarga, punya anak satu. Sifat Slamet yang amburadul mewarisi sifat bapaknya. Bekerja tidak pernah tahan lama, suka pula berjudi, dari koprok, kyu kyu, kartu gede, kartu kecil sampai togel. Inilah yg membuat Slamet bernasib kemudian sama dengan nasib bapaknya. Tidak bertahan lama dengan istrinya kemudian Slamet bercerai! Manalah tahan seorang istri berdampingan dengan seorang suami yang demikian. Istri Slamet kemudian pulang ke kampungnya dengan membawa serta anaknya yang saat ini baru bersekolah di kelas 1 SMP. Sepeninggal istrinya, hidup Slamet tambah berantakan. Mau kerja umur sudah bertambah tua, perut tentu tidak bisa diajak nganggur, sementara anaknya sudah mulai masuk SD.

Akhirnya, kerja apa saja Slamet lakukan, mulai dari menjadi tukang aduk semen, membersihkan got, membantu Pak RT sebagai Seksi Sibuk, dan menjadi apa saja yang penting halal. Slamet sering mengeluh dan curhat dengan pak RT tentang kesulitan hidupnya. Dan suatu ketika Pak RT menasehati Slamet. Kesadaran Slamet mulai muncul, mengental dan menjadi semangat yang luar biasa, ketika pak RT yang menjadi sobat dekatnya menasehatinya.

Pak RT : “Udah, Met... kamu harus berubah! kapan lagi kalau nggak sekarang?” “kamu bisa sholat?”.
Slamet : “Bisa Pak... dikit-dikit”.
Pak RT : “bisa baca Al fatihah?”.
Slamet : “kalau bacaan pendek bisa pak, dikit-dikit...” dengan perasaan heran Slamet kembali bertanya kepada Pak RT, “tapi apa hubungannya sholat dengan hidup saya pak?”.
Pak RT : “penting, met... jika kamu mau hidup lebih baik, lebih terarah maka kamu harus sholat. Sholat itu pondasi hidup kita, kamu harus punya tekad kuat, merubah sikap buruk, berubah total! bahasa kerennya "REVOLUSI JIWA"
Slamet : “biarpun sholat, kalau kita gak punya duit dan gak punya modal gimana saya mau usaha Pak RT?”.
Slamet kembali mengajukan pertanyaan.
Pak RT : “Nah... dengerin kata-kata saya. Kalau kamu mau mengubah sikap buruk kamu, mau melaksanakan sholat 5 waktu selama 3 bulan saja tanpa bolong, insya Allah... kamu pasti akan diberikan jalan. Hidupmu akan berubah dari orang yang direndahkan dan dilecehkan menjadi orang yang diperhitungkan masyarakat.
Slamet : “bener nih Pak RT?"
Pak RT : “beneeerr...! Saya jaminannya..!
Slamet : “terus... kalau saya sanggup, Pak RT mau ngasih modal?
Pak RT : “modal nomor 16, met... sanggup apa nggak kamu melaksanakan sholat tepat waktu dan mengikuti semua saran saya?”
Slamet : “sangguuuup Pak RT..!”.
Pak RT : “kamu punya uang berapa sekarang?”.
Slamet : “wah Pak RT, bagaimana saya punya duit, lha ngerokok aja minta sama Bapak.
Pak RT : “sapu lidi punya gak ?”.
Slamet : “gak punya pak... gak pernah nyapu halaman”.
Pak RT : "baiiik.. kalau begitu, nanti kamu pulang bawa tuh sapu lidi, karung sama pengki yang ada di Pos RT. Mulai besok, seusai sholat shubuh kamu sapuin jalanan mulai dari Kantor RW 016 sampai ke perbatasan RW 007 sampai bersih. Itu tugas kamu setiap pagi. jangan mengeluh dan laksanakan saja "KARENA ALLAH". Jangan hiraukan omongan orang, cemooh atau pujian, tanggapi semua dengan ikhlas, senyum ramah dan anggukan kepala. Sanggup...!!?”
Slamet bengong agak kaget juga, tapi dia melihat Pak RT berbicara serius dan tidak bercanda.
Slamet : “baik Pak! saya siap!”. Pak RT dan Slamet kemudian bersalaman sebagai pertanda kesepakatan.


emoticon-Kiss (S) nyambung lagi besok aah.... ane mo balik kantor dulu, Gan! emoticon-Kiss (S)
Urutan Terlama
wahh ijin nenda ya kk emoticon-Cendol (S) emoticon-Cendol (S)
kaya nya cerita fiksi ya gan ?
Slamet melaksanakan janjinya menyapu jalanan. Di kamarnya yang hanya berukuran 3 x 3 meter yang hanya terdapat sebuah tikar lusuh, sekarang sudah tergelar sajadah dan lipatan sarung. Di dinding kamar yang bercat pudar ditempel selembar kertas pemberian Pak RT yang bertuliskan "REVOLUSI JIWA". Baris-baris kalimat yang semua hampir dihafal memacu semangat Slamet.

Hari ini adalah hari ke-15 Slamet melaksanakan pekerjaan menyapu jalanan. Orang-orang di masjid tempat Slamet menjadi makmum sholat, tetangga sekitar hingga anak-anak kecil, maupun orang-orang yang awalnya mencemooh, kini semakin mengenal Slamet. Ada yang kasihan, ada yang simpati tetapi ada juga yang masih ragu dengan kesungguhan Slamet. Ada yang kemudian menyelipkan uang seribuan, dua ribuan, lima ribuan terutama penjual lontong, nasi uduk dan warung yang merasa terbantu. Slamet tidak pernah meminta imbalan dan tidak pernah mengeluh. Tujuan Slamet hanyalah KARENA ALLAH seperti yang dipesan oleh Pak RT.

Hingga masuk hari ke-20, Slamet mulai mengerti maksud dan tujuan Pak RT. Bahwa sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh karena Allah, meskipun tanpa mengharapkan pamrih atau imbalan dari manusia maka AKIBAT akan didapatkan karena SEBAB. Inilah sesungguhnya rahasia dari MAHA RAHMAN MAHA RAHIM. Setiap gosrekan sapu lidi Slamet akan dihitung sebagai ibadah. Tetapi dari segi kesungguhan dan keiklasan Slamet otomatis akan mendapat imbalan dari manusia. Bukti ini semakin jelas setelah lebih dari satu bulan menyapu tiba-tiba Slamet dipanggil oleh Pak RW. Ternyata, hasil rapat Para RT telah sepakat memberikan honor bulanan kepada Slamet. Meskipun jumlahnya tidaklah banyak, Slamet merasa bersyukur.

Slamet menangis tersedu-sedu seusai melaksanakan sholat tahajud semalam. Dengan membiasakan sholat lima waktu, memaksa diri untuk melaksanakannya tepat waktu, terus berusaha membunuh kemalasan, membunuh keburukan yang selama ini dia lakukan, semakin Slamet merasakan semua dosa-dosa yang pernah dia lakukan kepada anaknya, kepada istrinya bahkan dulu Slamet pernah pula memukul ayahnya sendiri. Semakin tersedu-sedulah Slamet sambil bersujud diatas sajadah lusuhnya.
"ASTAGHFIRULLAAHAL’ADZIIM.. AMPUN YA ALLAH..!"
"maafkan saya.... ibuuu... ayah..."
dan semakin yakinlah Slamet dengan apa yang dikatakan Pak RT. Dalam hati, Slamet pun berjanji akan terus melakukan kebiasaan menyapu, tidak hanya selama 3 bulan bahkan kalau perlu sampai dia sudah tidak mampu lagi melakukannya.

Dari semua sifat-sifat buruk Slamet di masa lalu, ada beberapa sifat baik Slamet yang masih disukai oleh Pak RT. Orangnya jujur, tidak mau mengambil milik orang lain (mencuri), tidak gengsian, tidak malu-malu untuk membersihkan got, mau membersihkan sampah, membantu tukang mengaduk semen, dan apa saja mau dilakukan oleh Slamet yang penting menghasilkan uang.

Usai sholat shubuh, Slamet biasa menyapu jalanan sampai terang tanah, jam 07.00 WIB. Selesai tugas, Slamet pulang dengan membawa bungkusan sarapan pagi. Kadang dia bawa nasi uduk, kadang ketupat, ada juga rokok, uang lumayan yang semuanya itu adalah pemberian ikhlas dari orang-orang tanpa diminta. Dan semua pemberian itu disikapi Slamet dengan sopan, senyum dan anggukan kepala. Selesai mandi dan sarapan dan dilanjutkan dengan sholat dhuha, Slamet disuruh bantu-bantu kerja apa saja. Rasanya, hidup ini terasa padat dan tidak ada waktu yang tersia-sia. Slamet pekerja keras tapi terarah dan selalu segar karena sholat tepat waktu. Ada jarak yang sehat antara kerja dan istirahat karena selalu segar terbasuh tetesan air wudhu.

"Ya Allah... kenapa tidak dari dulu saya melakukan hal ini? saya jaga dan pelihara hubungan dengan sesama manusia, Saya jaga pula hubungan dengan Engkau ya Allah... betapa semua menjadi nikmat, lelah, panas, dingin, keringat, semua menjadi nikmat, semua menjadi ibadah" bathin Slamet.

Kadang ada rasa bosan, rasa malas, rasa penat, tapi saat Slamet berbaring menjelang tidur dan matanya menatap lembaran "REVOLUSI JIWA" dan semangatnya pun bangkit kembali, seperti prajurit yang luka dan berdarah-darah yang menemukan pedangnya kembali kemudian bangkit dengan sisa tenaganya. KUBUNUH SEMUA KEBURUKAN, KUTIKAM SEMUA DOSA, KUKUBUR DALAM-DALAM.

Dan seperti tidak terasa tugas rutin Slamet sudah berjalan selama 60 hari. Kebiasaan yang dilakukan atas anjuran Pak RT yang awalnya merasa dipaksakan seperti lepas tidak ada beban... ploooong... menjadi sebuah kebiasaan. Slamet menganggapnya seperti melakukan olahraga pagi saja.

Usai sholat isya, Slamet mampir ke rumah Pak RT. Berbincang panjang lebar tentang keluhan, masukan dan nasihat yang selalu disampaikan sambil guyon (bercanda) dan menghirup segelas kopi. Jam 21.00 WIB Slamet mulai merasa ngantuk dan pamit untuk pulang. Tiba dirumah, Slamet langsung masuk kekamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tikar lusuhnya dengan menekuk kedua tangannya dibawah kepalanya sebagai bantal. Matanya menatap selembar kertas yang ditempelkannya pada dinding tembok kamarnya.

"REVOLUSI JIWA"

Tuhanku penguasa siang.
Bebaskanlah kaki dan tanganku dari ikatan IBLIS yang menjadikanku malas.
Tuhanku penguasa waktu tajamkanlah inderaku supaya rajin menepati panggilan adzanMU.
Tuhanku penguasa fikiranku, jauhkan sifat bohong dan munafik.
Tuhanku penguasa malam, bersihkanlah hatiku dari godaan iblis yang menguasai jiwaku.
Kokoh dan kuatkan imanku sebagai pedang tajam...
Pembunuh kemalasan...
Pembunuh kebimbangan...
Pembunuh kesombongan...
Pembunuh keburukan...
Dari IBLIS yang selama bertahun-tahun menguasai darah, nadi, syaraf dan mengalir lewat darah, mencengkeram qolbuku.
Jadikanlah aku insan yang SADAR, INSAF, yang TAUBATAN NASUHA... TAUBATAN NASUHA...

aamiiin.. yaa robbal ‘aalamiín..

Malam semakin larut, Rawakuning di sisi timur Jakarta, wilayah pinggir yang berbatasan dengan wilayah Kota Bekasi. Lalu lalang kesibukan warga mulai sepi dan anak-anak sudah tertidur lelap. Sepanjang jalan Rawakuning kemudian berganti dengan suara keras Cumiakkan telinga dari suara gerungan deru mesin motor anak-anak muda saling balapan, tancap gas layaknya sirkuit. Tukang dagang bakso, siomay gerobak dan orang-orang yang berdiri bergerombol dipinggir jalan berteriak menyumpah-nyumpah, memaki pengendara motor yang ugal-ugalan.

Anak-anak muda memang suka bersikap ngawur, berpikir pendek dan tidak terlintas dalam pikiran mereka andaikata sekali saja mereka lengah maka semuanya bisa berantakan termasuk tubuhnya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa orangtua mereka akan menangisi anaknya yang celaka atau sedih menyesali motornya yang hancur dan belum lunas kredit.

Rumah Slamet lumayan besar berukuran 7 x 10 meter peninggalan dari orangtuanya. Di dalam rumah terdapat 4 kamar yang masing-masing berukuran 3 x 3 meter dan ditempati oleh 4 keluarga. 2 kamar ditempati masing-masing oleh 2 kakaknya, 1 kamar ditempati 1 adiknya dan 1 ruangan lagi ditempati oleh Slamet. Meski lumayan besar, tapi tidak terawat. Catnya telah pudar dan masing-masing kamar berbeda warna yang mengesankan ketidak kompakkan dan berkesan kumuh. Adik Slamet yang perempuan, Si Bontot sudah bersuami. Suami istri kerja, tapi tidak kelihatan cukup. Sudah lama menikah dan belum punya keturunan. Mungkin karena sepi, hingga waktu sepulang kerja dipakai buat ngecak kode buntut. Dua kakak Slamet, yang satu berprofesi sebagai sopir taksi dan satu lagi menjadi pedagang burung merpati aduan. Anak mereka masing-masing dua. Bisa kita bayangkan, 4 keluarga tinggal dalam 1 rumah. Padahal, dari 4 anak itu lahir dari 2 orang ibu (istri muda dan istri tua).

Anda sebagai pembaca tentu bingung... lha wong saya yang nulis juga puyeeeng.. he...he... kondisi berantakan, super amburadul ditambah dulu orangtua mereka tidak mengenalkan unggah-ungguh dan agama. Jadilah 4 orang kakak beradik itu tidak mengenal sapaan seperti Assalamualaikum. Mereka memanggil sesama saudaranya dengan sapaan “lu” “gua” saja. Bahkan mereka saling melakukan perang dingin dan tak pernah saling menegur. Astaghfirullaahal’adziim. Rupanya, inilah akibat kesalahan orang tua.

Tiap menjelang tidur, Slamet selalu berdo’a sebisanya seperti yang diajarkan oleh Pak RT. Surat-surat pendek seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas kemudian ditutup Surat Al-Fatihah. Diakhir bacaannya, Slamet memohon kepada Allah agar dibangunkan jam 03.00 WIB untuk beribadah. Subhaanallah, ternyata kurang lebih di jam itu juga Slamet terbangun. Malam yang hening, saat yang sepi, sungguh saat yang tenang dan khusyuk untuk melaksanakan sholat tahajud. Dengan khusyuk, dibacanya surat demi surat, dua rokaat salam, sampai 12 rokaat Sholat. Saat salam terakhir, Slamet bersujud kembali sambil berdo’a dan memohon, kemudian seperti tergambar semua dosa dan kesalahan yang pernah dia lakukan. Ada rasa hangat seakan mengalir dari ujung kaki hingga kepala. Perasaan sedih dan haru muncul yang membuat Slamet menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil. Slamet mengadu, Slamet memohon. Ampuni aku, ya Allah... bimbinglah aku, tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang sholeh, jalan yang Engkau ridhoi.

Keseriusan Slamet dalam melakukan sholat malam akhir-akhir ini, tanpa disadari membuat adik Slamet si Bontot terbangun. Beberapa hari ini Bontot pun heran mendengar suara orang terisak di sebelah kamarnya. Karena rasa penasarannya, Si Bontot mengintip hampir tiap malam. Bontot memang jarang bisa tidur malam karena suaminya jarang pula berada dirumah pada malam hari. Suami Bontot adalah seorang satpam yang memiliki perangai buruk, suka mabuk dan ringan tangan suka memukul. Sebenarnya, Bontot ingin sekali menegur kakaknya itu dan bertanya tentang apa yang dilakukan kakaknya itu setiap malam. Tapi, ego dan perang dingin keluargalah yang membuat dia hanya berani mengintip dari balik dinding pembatas kamar yang hanya terbuat dari triplek. Perubahan sikap kakaknya yang drastis berbeda 180 derajat sebenarnya juga menarik perhatiannya.

Selesai tahajud, biasanya sudah terdengar bacaan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara masjid At-Taqwa. Suaranya yang mengalun merdu bercampur gemerisiknya angin menggoyang pohon-pohon bambu rasanya menyegarkan perasaan Slamet yang sedang menuju masjid.
Selesai sholat tahajud, Slamet membersihkan kamarnya yang hanya sekotak. Slamet kemudian mengambil air mineral yang ada dibotol plastik di atas kotak kardus yg dijadikan sebagai meja sekaligus tempat penyimpanan pakaiannya yang hanya beberapa potong. Meski hanya air bening yang diminum diawali dengan basmalah, membasahi mulut, melalui leher mengalir ke perut bersama darah dan denyut nadi ditubuhnya, mendatangkan kesejukan, kesegaran dan kenikmatan.

"Jangan lupa bersyukur ya, Met walau sekecil apapun? kata Pak RT suatu ketika, meskipun hanya buang air kecil maupun buang angin. Andaikan kamu tidak bisa melakukan hal itu setengah hari saja, maka akibatnya dapat kamu bayangkan. Sebab itu, bersyukurlah... jangan lupa! Pandai-pandailah bersyukur maka akan dilipatgandakan nikmatmu di bumi maupun di langit".

Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara alunan ayat suci Al-qur'an dari pengeras suara masjid At-Taqwa. Suaranya yang merdu bercampur gemerisik daun-daun bambu tertiup angin ditambah gerimis rintik-rintik dari langit. Setiap kali mendengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, telah membangkitkan suasana khusus di hati Slamet. Kaki Slamet melangkah menuju mesjid, tapi hati Slamet campur aduk antara rasa haru, sedih dan bersalah. Dosa-dosa masa lalu seperti mengejar-ngejar Slamet. Dosa kepada kedua orangtua, kepada istri dan anak, juga orang-orang yang pernah dikecewakan dan disakitinya. ASTAGHFIRULLAAHAL’ADZIIM... ampuni saya ya Allah.. ya Rahman.. ya Rahim... hanya kepada Engkaulah semua berawal dan hanya kepada Engkau jua semua akan berakhir.

Hari ini hari Jum’at, dan Slamet sudah mulai bisa mengatur kalau hari ini sengaja libur dari kegiatan sehari-hari, baik menyapu jalanan maupun jika ada yg menyuruh mengerjakan apa saja. Hari ini, kalau pun ada kegiatan adalah untuk ibadah. Pak RT sudah berjanji kepada Slamet untuk mengajarkan baca Al-Qur’an seusai sholat shubuh. Kalau perlu, waktunya ditambah setiap malam ba'da sholat maghrib. Slamet merasa senang karena ternyata masih ada orang yang memperhatikannya, sebagai sahabat dan orangtua.

Slamet dilahirkan tahun 1969. Usianya sekarang sudah 46 tahun. Hari jum'at ba'da shubuh ini dia mulai belajar membaca Al-Qur'an dengan metode iqro. Slamet tidak merasa malu, toh di masjid tidak ada yang menonton, apalagi Pak RT sendiri sudah bilang, menuntut ilmu itu tidak terikat umur, usia berapa saja sampai mati. Yang malu itu yang sudah tua tapi gak bisa, gak mau bisa dan gak mau belajar. Sampai jam 06.00 WIB Slamet menyudahi belajarnya, didepan masjid sudah terlihat terang tanah. Jalan Rawakuning sudah ramai, bising suara mobil, kendaraan bermotor, sepeda dan ramai anak-anak yang berangkat sekolah.

Slamet berjalan pulang ke arah utara, berbelok ke gang kecil menuju rumahnya. Sampai di belokan gang, Emak Oneng penjual nasi uduk memanggil Slamet, menawarkan sekantong nasi uduk. "Makasih mak... saya kan hari ini libur, gak nyapu" sahut Slamet. "gak apa-apa met dagangan Emak udah abis, ini sengaja Emak pisahin buat kamu" kata Mak Oneng. "Makasih ya Mak, ikhlas ya Maaak.." jawab slamet “Iya.. iya.., Tong" jawab Emak. Akhirnya Slamet menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Dengan menenteng nasi uduk Slamet berjalan pulang.

Sesampainya dirumah, Slamet kaget karena di depan halaman rumahnya ramai orang-orang bergerombol, bapak-bapak, ibu-ibu bahkan penuh juga dengan anak-anak kecil. Lebih kaget lagi Slamet melihat adik iparnya, suami Si Bontot yg sepertinya baru pulang kerja dan masih mengenakan seragam security sambil bertolak pinggang dan berteriak-teriak. Kata-katanya keras dan kasar sambil mengacungkan telunjuknya ke arah pintu rumah. Salah seorang ibu-ibu yang bergerombol itu mendekati Slamet.

"Met, tolongin met! tadi adik kamu berantem sama suaminya, dipukul sampai berdarah mulutnya...!!!" kata si ibu sambil tergopoh-gopoh menghampiri Slamet.

emoticon-Kiss (S) masih nyambung, Gan... emoticon-Kiss (S)
Diubah oleh aymaniez
Dari dalam rumah Slamet yang terkunci terdengar suara Si Bontot menangis keras seperti anak kecil. Diluar rumah, Japra suami Bontot masih terus berteriak-teriak dan menggedor-gedor pintu dengan tangan kekarnya yang mengenakan gelang bahar. Wajahnya menegang dan matanya memerah. Orang-orang yang melihat mundur, mengkeret, anak-anak kecil pun bersembunyi dibelakang orang tuanya. Japra memang biang ribut, nggak sama tetangga juga sama istrinya. Semua orang takut.

"Buka pintunya, Kampret...!!! Bukaaa..!!! Kalau nggak gua dobrak nih..!!!" suara Japra keras.
Orang-orang yang menyaksikan minggir.
Slamet mendekati Japra perlahan, "Astaghfirullah..."
Slamet mencium bau alkohol dari mulut Japra, kalau hal ini terjadi sebelum sifat Slamet berubah seperti sekarang pasti tanpa banyak bicara sudah dilabraknya Si Japra. Slamet mencoba bersabar, menarik nafas panjang lalu ditepuknya punggung Japra.
"Ada apa Pra? sabar... sabar... Jangan begini... malu sama tetangga..." suara Slamet pelan.
"Apaan malu...!!? diam luh!!! jangan ikut campur!!! ini urusan rumah tangga gua!!!” jawab Japra dengan suara kencang.
Slamet tidak mau perang mulut dengan orang mabuk. Tidak ada gunanya melayani Iblis, pikirnya, lalu diketuknya pintu rumahnya yang tertutup.
"Bontot buka Tot... jangan takut ini saya... jangan ribut seperti ini"
Slamet berusaha bicara dengan bijak seperti sikap orangtua, lebih mirip sikap Pak RT. Agak lama pintu mulai dibuka dari dalam, begitu terbuka agak lebar tiba-tiba Japra merangsek masuk kedalam seperti harimau yang lapar bahkan Slamet pun ditabraknya. Refleks Slamet menghindar kesamping, tangan kanannya menangkap lengan kiri japra, dihentaknya tubuh Japra dengan keras
"Laa haula walaa quwwata illaa billah hil’aliyyil ‘adziim...!"
hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Slamet. Tapi akibatnya tubuh Japra yang gempal kekar terlempar keluar melayang diatas kepala orang-orang dan membentur pagar bambu dan mengeluarkan suara keras
“Guuubruuaaaak....!!!” dan pot-pot bunga pun pecah berantakan berserakan.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu pun melongo keheranan. Tubuh Japra Si Biang Ribut yang besar, lebih besar, kekar dan gempal dari tubuh Slamet bisa sampai terpental lebih dari 7 meter dan melayang diatas kepala mereka seperti selembar daun pisang dan jatuh menimpa pagar bambu. Beberapa pot bunga yang ada disitu pun tak pelak lagi pecah berantakan. Slamet sendiri heran, dia hanya ingat refleks menghindari gerakan Japra, memegang lengannya, menambah dorongannya dan menghentakkan tenaga keluar halaman. Apakah ini karena campur tangan Allah? Wallahu a'lam.

Tubuh Japra masih terlentang diatas tanah, menyandar pagar bambu, tidak bergerak tapi tidak pingsan, karena masih terdengar erangan dan matanya terbuka redup. Mulutnya mengeluarkan muntahan yang berbau alkohol menyengat. Kepala Japra juga tidak bisa bergerak, leher dan bajunya basah oleh muntahan. Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut semakin ramai berdatangan termasuk anak-anak yang tadi ketakutan, kini semakin maju seperti menyaksikan sapi yang sedang dipotong saat lebaran haji. Ramai riuh orang-orang mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Melihat ini dan melihat adiknya yang masih menangis entah karena melihat keadaan suaminya atau karena bengkak bekas pukulan. Slamet tidak ingin keluarganya menjadi tontonan, maka kemudian Slamet meminta bantuan para tetangganya untuk segera menggotong tubuh Japra masuk kedalam kamarnya.

"Sudah... sudah... saudara-saudara dan teman-teman semuanya harap bubar yaa... biarkan keributan keluarga ini menjadi urusan keluarga kami sendiri. Terima kasih atas perhatian kalian semuaaa.." ucap Slamet.

Orang-orang yang berkerumun itupun perlahan mulai meninggalkan rumah Slamet. Ada yang menyalahkan Japra, ada yang kagum dengan slamet, dan ada juga yang mengkhawatirkan keadaan Japra.

Tubuh Japra kemudian dibaringkan dikamarnya dan hanya matanya yang bergerak-gerak. Setelah sepi dan orang-orang telah meninggalkan rumahnya, Slamet kemudian menutup pintu rumahnya. Disuruhnya Si Bontot membuka baju suaminya yang basah dan menggantinya dengan yang bersih. Slamet mengambil air didalam botol plastik yang ada dikamarnya, dibuka tutupnya kemudian diangkatnya botol sampai bagian mulut botol yang terbuka sejajar dengan mulutnya. Slamet membaca basmallah dengan hikmat dan diteruskannya dengan do’a permohonan kepada Allah... hanya Allah demi kebaikan semuanya. Selesai berdo’a, Slamet lalu membawa air itu ke kamar Japra. Ditegakkannya kepala Japra dan diminumkannya air itu sedikit demi sedikit. Dengan susah payah Japra meminum air dan sisa air dibasuhkan Slamet ke muka Japra, dan diusapnya kedua lengan dan kakinya.

"Apa dia nggak apa-apa, Met?" tanya Bontot dengan perasaan sedikit khawatir juga.
"Insya Allah gak apa-apa. Kalau nanti ada keluhan, panggil saja Mang Oleh biar diurut".

Setelah suasana tenang, Slamet kemudian berbicara kepada adiknya.

"Bontot, kejadian ini adalah akibat dari sikap kalian, tingkah laku kalian yang sering mengumbar nafsu, jadi tidak perlu mencari siapa yang benar karena kalian berdua salah", kata Slamet menasehati adiknya.
Bontot masih terisak dan raut wajahnya masih menunjukan rasa kesal.
"Udaaah... gak usah diperpanjang, kejadian ini kita alami dan kita rasakan bersama, tapi sebagai istri kamulah yg punya kewajiban mengurusnya, membersihkan badannya, mengganti pakaiannya dan tidak ada yang bisa melakukan itu kecuali kamu. Mudah-mudahan ini menjadi hikmah buat kalian. Kalau kalian masih saling suka, teruskan tetapi jaga bicara kalian... kalau kalian tidak bisa merubah sikap, lebih baik berpisah. Kalau mau lanjut... perbaiki diri kalian. Ingaaat... kamu mengaku beragama Islam! sadarlah selagi ada kesempatan, jangan menyesal jika suatu saat nanti terjadi hal-hal yang lebih parah dari ini.


masih ada lanjutannya.... ikutin terus yah! emoticon-Kiss (S)
Sejak kejadian itu, nama Slamet mulai dibicarakan orang. Mulai dari Slamet yang dulu suka berjudi mirit kartu kecil dan kartu gede, tidak mengenal waktu bedug maghrib sampai bedug shubuh, bahkan sampai terang tanah, kini Slamet adalah orang yang rajin ke masjid sebelum bedug tiba, Slamet yang dulu mabok sampai menyusruk ke dalam got, kini menjadi Slamet yang bening tersentuh air wudhu. Tidak hanya para orang tua, bahkan anak-anak pun tahu Slamet yg masa bodoh dan cuek dengan lingkungan sekitarnya, kini menjadi orang yang paling rajin. Sampai terakhir kejadian Slamet dan Japra.
"wah... gak sangka ya? Bang Japra yang serem begitu bisa dibikin kaya layangan" kata anak yang kepalanya botak.
"Iya, kayak di film Naruto" jawab yang lain.
"Bukan Naruto, Supermen! Bang Japra mah keciiil! ha..ha..ha!" tukas anak yang lainnya lagi.
Kejadian tadi pagi, membuat kesan tersendiri bagi keluarga Slamet.

Ketika dini hari seperti biasa Slamet melaksanakan sholat tahajud, seusai sholat pintu kamar Slamet diketuk dan terdengar suara orang memanggil
"Baaang...!" Slamet mendongak dan mengarahkan telinganya kearah datangnya suara.
"Kayak suara bontot...” tapi Slamet kurang yakin, biasanya Bontot memanggilnya dengan sebutan lu gua aja, pikirnya.
"Baaang... buka pintunya Bang!" Slamet yakin itu suara adiknya.
"Ada apa, tot?" Slamet bergerak bangun membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, suara bontot lebih jelas terdengar menangis tersendat dan tiba-tiba memeluk Slamet erat-erat.
"Baa..a..aang... Maafin saya Baang.." kata Si Bontot.
Alhamdulillah... Maha Besar Allah... pikir Slamet. Belum pernah seumur hidupnya adiknya memanggilnya dengan sebutan Abang. Terima kasih ya Allah, barangkali ini hikmah yang Engkau berikan kepada keluarga kami. Slamet terharu melihat sikap adiknya yang bersimpuh dihadapannya, layaknya seperti dirinya yang tidak pernah bersikap seperti ini pada almarhum orangtuanya. Bagaimanapun buruknya sikap orang tua, anak tetap wajib menghargai dan menghormati orangtua. Tidak tahan melihat adiknya itu, airmatanya pun menumpuk dikelopak mata Slamet. Seperti sikap orangtua kemudian tangannya menepuk punggung dan membelai rambut sang adik.
"Maafkan saya, Bang..." ucap adiknya diantara sedunya.
"Iya dek... sama-sama...." sahut Slamet.
"Tapi sayalah yang paling bersalah Bang, banyak dosa!" Bontot memegang erat tangan kakaknya, diciuminya seperti anak kecil.
"Udah dek, jadikan ini pelajaran buat kita, buat kamu dan suami kamu, tobatlah dek, minta ampun sama Allah..."
wajah Bontot menatap Slamet.
"Apa Allah masih mengampuni saya dan suami Bang?" Slamet mengangguk
"Masih dek, Allah maha pengampun, taubat dek... taubatan nasuha”.
"Apa itu taubatan nasuha, Bang?”. Slamet tersenyum,
"Itu adalah tobat yang kamu tak akan mengulanginya lagi. Bagaimana keadaan suamimu?".
“Bang Japra sudah membaik, tapi masih lemas dan belum bisa berdiri, dia mau minta maaf sama Abang dan menyuruh saya kesini” jawab Bontot.
"Bang... ajari saya ngaji bang", Kata Bontot.
"Yaa.. Nanti kita sama-sama belajar. Abang belajar sama Pak RT habis magrib, Nah habis sholat isya abang ajari kamu yaa? kalau sholat kamu bisa kan?”, tanya Slamet.
"Bisa Bang, dikit-dikit", sahut Bontot.

Nama asli Bontot sebenarnya bagus "Leni Marlina" persis nama bintang film. Memang ayah Slamet penggemar berat sang aktris, saat ngetop-ngetopnya si bintang pada masanya. Saat Bontot lahir, jadilah si bungsu anak perempuan kesayangan satu-satunya diberi nama "Leni Marlina". Teman-teman kecilnya memanggilnya Leni. Bontot hanya bersekolah sampai kelas 1 SMA, karena saat itu keadaan ekonomi keluarganya mulai berantakan. Sewaktu SMP, Bontot sudah bergaya seperti teman-temannya yang gemar sekali mejeng dan bersikap royal. Uang jajan bontot kala itu sebesar Rp 10 ribu ketika uang jajan teman-temanya hanya Rp. 500. Kebiasaan orangtuanya yang jor-joran memberikan materi berlebih inilah sesungguhnya sikap yang keliru, tidak pernah mengenalkan pada situasi prihatin seperti orang tua zaman dulu, menjadikan sifat boros dan mau enaknya saja sehingga mengikuti gaya artis-artis pujaannya di bioskop-bioskop dan tv. Maka jadilah nama Leni Marlina diubahnya sendiri menjadi “Lheny Marline" yaa deket-deket Monru laah gituu... dari Amrik he..he.. Seperti juga Slamet punya nama bagus "Banjar Sasongko".

Slamet punya kisah lain lagi, sejak mulai puput pusar sakit-sakitan terus dan perutnya membesar seperti balon. Diobati dokter membaik tapi kumat lagi sampai menginjak usia 3 tahun. Tubuh Slamet hanya bisa tergolek seperti bayi diatas tempat tidur. Kepalanya, kaki dan tangannya kecil tetapi perutnya besar, seperti bangkong, itu lho sejenis kodok yg gede perutnya, hingga tidak pernah memakai baju karena sulit. Selama tiga tahun pula, Slamet hanya dibungkus dengan kain bedongan. Suatu saat, Ibu Slamet bermimpi supaya Slamet diberikan air minum rebusan 7 jenis daun dan mengganti namanya menjadi "Slamet". Sejak itu, berubahlah Banjar Sasongko menjadi Slamet hingga sekarang. Mungkin karena kehendak Allah, melalui mimpi itu Slamet sembuh.

Sebenarnya ada satu lagi kakak Slamet sekandung paling tua yang lebih berhasil ekonominya dari adik-adiknya, Namanya Banjaran Sari. Slamet memanggil dia Bang Sari. Dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Dia pula yg sering membantu adik-adiknya, terutama kepada Slamet. Sebelum mengikuti saran Pak RT, Slamet sering mengeluh dan sering meminta pada kakak tertuanya ini. Dialah yang selalu jadi tumpuan keluhannya. Sungguh mujarab saran Pak RT dengan REVOLUSI JIWA. Sejak saat itu, Slamet yang biasanya sedikit-sedikit merengek kepada kakaknya itu hingga menyebabkan kakaknya itu sering ribut dengan istrinya karena kebiasaan Slamet yang suka merongrong. Revolusi Jiwa membuat Slamet masih tetap bertahan untuk tidak akan pernah meminta dan merengek.


bersambung.... emoticon-I Love Indonesia (S)
Adzan shubuh berkumandang bersahut-sahutan, dari masjid-masjid dan mushola-mushola sekitar seolah-olah irama biasa sehari-hari bersama-sama desir dan gemerisik angin dari daun-daun pisang dan bambu di pinggiran jalan dan rumah penduduk. Jjalan Rawakuning belum begitu sibuk, beberapa buah sepeda motor ojekdan angkot menunggu penumpang di mulut-mulut gang. Selesai berjamaah di tempat ibadah, orang-orang berbondong-bondong pulang dengan pakaian khas berpeci dan bersarung. Ini adalah pemandangan khas Rawakuning usai shubuh.

Slamet pun sudah memulai pekerjaan paginya. Hari ini hari ke-70, peralatan Slamet sudah bertambah dengan gerobak sampah pemberian Pak RW. Jatah PPMK supaya lebih ringan dan cepat kata Pak RW. Selama Slamet mengerjakan pekerjaannya itu, terkadang muncul perasaan gondok terhadap kesadaran warga. Sudah sering Slamet meminta supaya mereka menyediakan tong-tong sampah atau kantong-kantong plastik untuk penampung sampah agar tidak berantakan, masih saja tidak sadar juga.

Sudah sering Slamet katakan, "Tolong ya bu.. tolong ya pak.. Bang... Bantu saya biar lebih cepat... kalau kita sama-sama menyadari, pasti kampung kita akan lebih bersih. Iya kan?” begitu yg selalu disampaikan Slamet tidak bosan-bosannya.
Yaa Allah, sabarkan hati saya... kuatkan hati saya... jangan putuskan niat saya... jangan patahkan semangat saya... tolong saya Ya Allah... semua saya serahkan kepada engkau... Yaa Maha Rahman... Yaa Maha Rahiim...

Slamet sedih dengan kebanyakan sikap warga sekitar yang semaunya sendiri, buang sampah sembarangan, tidak memikirkan got mampet atau tidak, parkir sembarangan tidak memikirkan macet atau tidak. Sambil terus mengayunkan sapu lidinya, Slamet teringat pesan Pak RT. Orang boleh bilang seberapa rendahnya kamu, seberapa kotornya kamu, seberapa beratnya perjuanganmu, melawan pergolakan batinmu dari kebiasaan buruk menjadi baik. Kamu itu manusia langka, Met. Kamulah yang menentukan nilaimu di hadapan Allah, ridho Allah tentu bersamamu.

Suara gosrekan sapu lidi Slamet menyentuh jalanan, terus bergerak ke selatan sampai ke masjid At-taqwa Slamet asyik bekerja meski peluh mengaliri tubuhnya. Saking asyiknya, Slamet tidak sadar kalau sebuah mobil berhenti disampingnya.
“Met..!" terdengar suara memanggilnya dari balik jendela mobil agak keras.
Slamet kaget, sejenak menghentikan sapunya. “Eh, Bang Sari!”
Slamet menghentikan sapunya lalu menghampiri. “Ayo naik, Met! kita bicara!” wajah Sari kelihatan kaku dan tidak ramah.
“Maaf bang, sebentar lagi, pekerjaan saya hampir selesai.
“Sekaraaang ikut!”.
Jangan sekarang Bang, saya masih punya tanggung jawab. Tolong bang, dirumah saja kita bicaranya, lebih enak” jawab Slamet.
Bang sari agak heran mendengar jawaban Slamet yang biasanya penurut dan tak pernah membantah.
“Sekarang aja, Met... aku sibuk gak banyak waktu!”
Slamet agak gusar juga mendengar kata-kata kakaknya.
Ditatapnya sang kakak, Slamet sendiri heran dengan sikapnya sendiri.
Dulu dia seperti cecunguk yang tak pernah berani membantah ucapan Sang Kakak, karena takut permintaannya ditolak.
“Bang, kalau abang sibuk cari waktu lain saja sampai abang senggang, baru kita bicara”, tukas Slamet.
Lebih kaget lagi Bang Sari mendengar ucapan adiknya itu.
Sari tentu saja tidak mau ribut di jalan dengan adiknya, tapi ada ketertarikan dirinya terhadap sikap Slamet, ada apa pikirnya?
“Baik, met.. Aku tunggu dirumah, jangan lamaa!” kata Sari.
“Baik bang...” sahut Slamet datar.
Mobil Sari berlalu, orang-orang di pinggir jalan berkerumun memperhatikan mereka berdua. Slamet meneruskan pekerjaannya.

Sari masuk ke dalam kamar Slamet, diedarkan pandangannya berkeliling sudut kamar, "bersih..." fikirnya, dulu adiknya tidaklah serapih ini. Pakaian kotor selalu bergantungan dimana-mana menjadi sarang nyamuk. Sebuah kemajuan yang luar biasa. Semua bersih, rapih, pakaian yang tidak seberapa pun terlipat dengan baik, lantai bersih, kamar bersih dan sudah tidak terdapat sarang laba-laba seperti biasanya. Sari menatap tulisan REVOLUSI JIWA ditembok. Tulisan siapa ini? Lalu dibacanya kalimat demi kalimat, luar biasa pikirnya jika ini yang telah membuat Slamet berubah.
“Assalamualaikum..!” Terdengar suara Slamet dari luar.
“Wa’alaikum salam..!” Sahut Sari.
Slamet masuk membawa 2 botol air mineral dingin lalu meletakkannya dilantai di hadapan kakaknya.
Mereka kakak beradik duduk berdua dilantai, satu piring getuk gaplek diletakan Slamet di tengah-tengah bersama 2 buah garpu.
“Silakan bang! getuk gaplek kesukaanmu” Kata Slamet sambil mengulurkan tangannya bersalaman.
Sari tersenyum tidak keras kaku seperti pagi tadi.
“Kamu menyapu jalanan siapa yang suruh, Met?” tanya Sari.
“Sendiri” jawab Slamet singkat.
“Maksudmu?” Sari heran.
“Ya gak ada yang nyuruh bang” jawab Slamet lagi.
“Lha yang bayar siapa?” tanya Sari masih bertambah heran.
“Ya gak ada yang bayar bang”. Sari semakin bertambah bingung.
“Bagaimana bisa!? Terus kamu dapat makanan dan rokok dari mana?” kembali Sari melontarkan pertanyaan.
“Buktinya bisa kok bang... abang liat sendiri ‘kan saya masih sehat? lihat nih, Bang..!”
Kata Slamet sambil menunjuk ke arah meja kardus sambil tertawa.
Sari semakin didera perasaan bingung dan heran. Matanya menatap arah telunjuk Slamet, terlihat tumpukan rokok dengan bermacam-macam merk ada sekitar lebih dari 20 bungkus.
“He..he..he..! Abang jangan bingung... saya sudah punya Bos yang lebih hebat dari Big Bosnya Abang".
Kata Slamet sambil tertawa dan mencocol getuk kelapa yang diocar-acir dengan gula merah lalu memasukkannya kedalam mulutnya.
“Bos kamu itu siapa met?” tanya Sari dengan penuh rasa penasaran.
“Bos saya itu ALLAH SWT, Bang”.
“Haaah..!! Coba jelasin jangan bercanda, Met!”
“Iyaa, Bang... Bos saya adalah ALLAH, demi Allah saya bekerja karena Allah, ikhlas sudah 70 hari lebih, tentu saja gak pernah minta sama orang".
“Oooh... trusss???” Sari makin penasaran.
“Ya begitu Bang... mungkin karena orang-orang merasa kasihan atau simpati, tanpa diminta tiap hari ada aja yang kasih rokok, makanan dan duit. Apa Abang merasa malu aku menjadi tukang sapu?”.
“Malu sih gak, Met, tapi apa gak ada yang lebih baik?” kata Sari.
“Apa Abang punya pilihan yang lebih baik buat saya?” Sari diam sebentar kemudian menggeleng pelan, lanjutnya
“Sabar, Met, coba nanti saya carikan kamu pekerjaan.
“Sudah cukup, Bang. Umur saya sudah tua, 46 tahun, mau kerja apa untuk orang seumur saya? saya malu sama Abang, sama saudara, sama istri, sama semuanya. Saatnya saya berubah, Bang. Sisa umur saya ini akan saya abdikan hanya kepada Allah, hanya Allah, kalau saya punya harta segunung maka insya Allah pasti akan saya sumbangkan di jalan Allah, Bang”
Slamet berbicara penuh semangat seperti pelor yang lepas dari senapannya.
Lanjutnya, “karena saya cuma punya sapu, maka dengan sapu ini saya mulai bekerja. Kalau hanya capek gak ada artinya, kalau hanya keringat apa artinya, jika mungkin untuk menebus semua dosa, harus ditebus dengan darah, saya ikhlas... Bang” raut wajah Slamet memerah.
Sari tidak pernah melihat adiknya bicara seperti itu.
“Abang gak mau kan saya mabuk-mabukkan lagi?” lanjut Slamet.
“gak met!” jawab Sari.
“Abang gak mau juga ‘kan saya nyusahin semua orang? Slamet kembali bertanya.
“Ya gak, Met” kembali Sari menjawab.
“Kalo begitu, Abang do’akan saya untuk bisa menebus semua dosa-dosa saya di masa lalu dengan cara-cara saya... saya ingin menabung sedikit-sedikit buat sekolah anak saya... saya ingin sisa-sisa umur saya berguna... betapa besar dosa-dosa saya sama orang tua, Bang... masa lalu saya yang memalukan. Sekarang, adik abang Si Bontot dan si Japra sudah mau sholat bang, mau belajar bareng” kata Slamet panjang lebar.
“Oh yaa?? bagus banget... belajar apa, Met? Tanya Sari.
“Belajar baca Al-Qur'an” jawab Slamet.
“Gurunya siapa Met?” tanya Sari.
“Ba'da Maghrib, saya belajar sama Pak RT. Nah, habis isya Bontot belajar sama saya, lumayan sudah Iqro 2. He..he..!” jelas Slamet.
“Wah hebat banget kalian, rasanya belum 6 bulan kita gak ketemu, kamu udah kaya ustadz. Ha..ha..! Siapa itu Pak RT? Tanya Sari.
“Pak RT itu adalah orang yang saya anggap seperti orangtua saya sendiri, Bang. Saya begini karena beliau, Bang. Itu tulisannya”. Kata Slamet sambil menunjuk ke dinding.
“Maksudmu Revolusi jiwa?” tanya Sari.
“Iya, Bang..” jawab Slamet.
“Oooh... luar biasa, kapan-kapan kenalkan aku sama Pak RT ya, Met? Kata Sari.
“Iya, Bang... sekarang juga bisa”.
Slamet dan Sari mencocol getuk gaplek lalu memasukkannya kedalam mulut mereka.


nyambung.....


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di