alexa-tracking

Cerita fiksi buatan saya.

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55b480a65c7798c5698b4569/cerita-fiksi-buatan-saya
Cerita fiksi buatan saya.
Salken, gan sis. Ane mau posting cerbung buatan saya, mohon maaf kalau gaya penulisannya kurang baik.

Title : 24 Hours.

Prolog

Sinar Matahari pagi mulai terlihat, sejumlah orang bersiap-siap berangkat kerja mencari nafkah dan ke sekolah untuk menuntut ilmu. Tapi, tidak untuk seorang wanita cantik berusia 23 tahun yang sedang merapikan tempat tidurnya.

Hari yang cerah ini wanita itu tidak pergi bekerja, melainkan akan pergi menjenguk adiknya yang berada di rumah sakit. Wanita itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia berpikir akan menemui adiknya tepat saat pukul 9.30.

Ayahnya bekerja sebagai anggota DPR, dan ibunya sudah lama meninggal saat adiknya masih kecil. Di rumah yang lumayan besar dia tinggal bersama seorang pembantu, ayahnya jarang pulang ke rumah karena banyak urusan kerja.

Setelah membereskan kamarnya, wanita itu berjalan keluar dan menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Terlihat di meja makan sebuah nasi goreng siap santap. Wanita itu tersenyum dan memakan secara perlahan nasi goreng tersebut.

Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya dari sudut ruangan.

"Bi, sampai kapan kamu mau berdiri di situ?" Tanya wanita itu ramah, ia memandang seorang wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. "Ayo, ikut makan bersamaku!"

"Terima kasih. Tapi, bibi sudah sarapan." Wanita paruh baya itu menolak dengan halus permintaan wanita tadi. "Maaf, mau jenguk Dede kapan? Biar kusiapkan bekal untuknya."

"Sekitar jam 9.30 lah, bi. Tolong, yah!" seru wanita itu ramah. Wanita paruh baya itu pergi mempersiapkan bekal untuk diberikan kepada Dede.

Sedangkan wanita itu beranjak dari posisinya, dan bersiap-siap untuk mandi. Tidak lupa ia memandang sekali lagi jam di dinding yang menunjukkan pukul 7.45.

Setelah ia mandi dan berpakaian, ia keluar dari rumahnya dan berdiri di teras. Sesekali ia memencet gedget di tangannya. Wanita itu lalu memandang langit yang begitu cerah, sehingga menyilaukan pandangannya. Matanya lalu beralih ke arah sebuah mobil Honda Jazz putih terparkir di sana.

"Bi, aku pergi dulu yah!" teriaknya dari luar, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tanpa banyak basa-basi lagi ia menancapkan gas mobilnya, dan membelah padatnya kendaraan di kota jakarta.

Tapi, sayangnya wanita itu terjebak macet. Sesekali ia menghembuskan nafasnya, ia lalu mengambil gedgetnya dan mencoba menghubungi adiknya.

"Halo?" Tanya wanita itu melalu sambungan telephone.

"Kakak agak sedikit terlambat jadi, kumohon bersabarlah sedikit," ujar wanita itu melalui telephone lagi.

"Baiklah." Telephone di tutup secara sepihak. Wanita itu meletakkan handphone-nya di tas dan memandang keluar melalui kaca mobil. Untuk menghilangkan kebosananya, ia memutar radio seketika juga jalanan kembali lancar. Suatu keberuntungan.

Tidak lama kemudian wanita itu telah sampai, ia memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Terlihat sejumlah kerumunan orang berada di lobby rumah sakit, tanpa membuang banyak waktu gadis itu berjalan di koridor dan berpapasan dengan beberapa pasien dan suster.

Wanita itu kemudian berjalan ke arah lift dan menekan angka 7, disetiap lantai beberapa suster yang masuk ke dalam lift yang sama dengan wanita itu. Tak terasa ia sudah sampai dan masuk ke dalam kamar, dengan perlahan ia membuka pintu itu dan mendapati adiknya sedang menonton tv.

"Maaf terlambat, kakak bawain makanan kesukaanmu!" seru wanita itu kemudian memberikan bekal yang berada dalam tasnya.

"Itu mah kebiasaan, kakak, datang terlambat!" Dede mengambil bekal yang diberika wanita itu.

"Hehe, yaudah makan! katanya lapar?" Tanya wanita itu. Ia kemudian duduk di tepi ranjang adiknya lalu menonton tv.

"Biarpun, kakak, gak bilang aku tetap makan!" seru Dede sambil membuka bekal yang diberikan kakaknya. Dede berumur 16 tahun dan harus masuk ke dalam rumah sakit karena mengalami patah tulang akibat kecelakaan motor.

Merasa bosan, wanita itu beranjak dari posisinya dan pergi meninggalkan adiknya yang sedang melahap makanannya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Dede dengan penasaran.

Wanita itu tidak menjawab pertanyaan adiknya, hingga tanpa di sadari ia berpapasan dengan seorang pria dengan kemeja berwarna merah maroon di koridor rumah sakit.

"Rika?" Tanya pria itu, kepada wanita tadi yang benama Rika.

Rika mengangkat kepalanya dan memandang pria di hadapannya, "Bobby? Kamu lagi ngapain di sini?"

"Kudengar adikmu habis kecelakaan, jadi aku berinisiatif untuk menjenguknya," ujar Bobby sambil memandang wanita cantik di hadapannya, "kamu tidak banyak berubah, yah?"

"Maksud, kamu?" Rika penasaran dengan maksud yang dikatakan Bobby.

"Maksud aku, kamu yang dulu dan sekarang tidak berubah," ucap Bobby sambil tersenyum, "tetap terlihat cantik! ngomong-ngomong kamu mau kemana?"

"Mau ke supermarket," ujar Rika lemas.

"Mau aku temani?" Tanya Bobby.

"Bukannya kamu mau bertemu dengan Dede?" Tanya Rika sambil melipat kedua tangannya di dadanya.

"Aku tidak dapat membiarkan seorang wanita cantik berjalan sendirian di jalanan," ujar Bobby menggoda.

"Yah ampun, supermarket berada di seberang jalan." Rika bersikeras agar ia pergi sendiri, "baiklah, kalau kamu memaksa."

Rika dan Bobby berjalan menuju ke supermarket, mereka berdua duduk di kursi yang telah disediakan. Tidak ada pembicaraan yang serius di antara mereka. Hingga tanpa sadar waktu sudah masuk jam makan siang.

"Aku ada urusan di tempat kerja sekarang jadi, aku harus kembali ke dalam rumah sakit untuk mengambil tas dan kendaraanku," Rika beranjak dari posisinya, "dan satu lagi, terima kasih."

Entah apa yang membuat Rika lemas, ia merasa sesuatu ada yang janggal.

"Hmm, baiklah sekalian juga aku ingin mengambil kendaraanku." Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit, tapi ada yang aneh! orang-orang berhamburan keluar rumah sakit, mungkinkah terjadi kebakaran?

Rika yang melihat hal tersebut merasa terkejut, jika terjadi kebakaran di dalam sana. Bagaimana nasib adiknya? Tanpa pikir panjang Rika menerobos masuk ke dalam rumah sakit tapi, Bobby menahannya.

"Apa yang kau lakukan?"
"Adikku berada di dalam sana! aku harus menolongnya!"
"Mungkin dia sudah turun dan menuju ke luar rumah sakit!"
"Dia mengalami patah tulang di kaki, jadi agak sulit baginya untuk keluar dari sini."
"Kau tunggu di sini, biar aku yang menolongnya!"
"Biarkan aku ikut!"
"Tapi, berbahaya di dalam sana!"
"Dia adikku, dan aku sebagai kakak harus menolongnya!"
"Baiklah jika kau memaksa, tapi tetap di belakangku."

Setelah melalui perbincang yang serius, mereka masuk ke dalam rumah sakit. Terlihat banyak orang yang berlari ke luar rumah sakit, di sepanjang koridor di lalui begitu banyak pasien berlawanan arah dengan mereka.

Lift-nya penuh dengan sangat terpaksa mereka harus lewat melalui tangga darurat dan sesekali bertubrukkan dengan beberapa orang yang mencoba menyelamat dirinya. Dengan tergesa-gesa mereka berdua berlari menaiki anak tangga itu satu persatu hingga sampai di lantai tujuh.

Segera mereka memasuki kamar adiknya.

"Kosong!?" Geram Bobby kemudian berlari menuju ke arah jendela, terlihat jalanan macet akan kendaraan.

"Mungkin dia sudah pergi, Bob!" Bobby memandang kesal Rika, tapi segera ia meredam kemarahannya.

"Ayo!" Bobby dan Rika berpaling hingga seorang suster berdiri di ujung pintu dengan mata merah dan mulut di penuhi darah yang masih segar.

Suster itu menggeram ke arah mereka berdua, terlihat bajunya di penuhi bercak darah. Suster itu perlahan mendeka ke arah mereka berdua sambil mengangkat kedua tangannya.

Heran, itulah yang ada dipikiran mereka berdua.

"Ayolah, jangan bercanda!" Bobby mencoba mendekati suster itu. Tapi, Rika merasa ketakutan dengan sekilas melihat wajah menyeramkan suster itu.

Suster itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan cairan kental berwarna hitam yang berjatuhan di lantai putih ini. Rika hampir muntah di buatnya.

To Be Continued.



Buat taruh updatetan.
Chapter 1.


Geraman yang dikeluarkan oleh suster itu terasa berbeda, seperti seorang yang kelaparan. Jalannya pun terseok-seok mendekati Bobby yang sedang menampakkan wajah yang kebingungan.

"Sebenarnya, ada apa denganmu?" Bobby mencoba memegang pundak suster itu, mungkin dia butuh pertolongan.

Tapi, naas. Suster itu mencengkram lengan Bobby dan melemparkan tubuh kekarnya ketembok. Sungguh kekuatan yang menakjubkan. Suster itu menindih tubuh Bobby hingga ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Rika yang saat itu sangat ketakutan hanya dapat menyaksikan kejadian tersebut.

Suster itu memuntahkan sesuatu ke wajah Bobby, suatu cairan berwarna hitam yang sama persis ia muntahkan di lantai. Bobby meronta untuk di lepaskan hingga suster itu terpaksa melepasnya. Dengan sangat brutal, Bobby melayangkan tinjunya kearah wajah suster itu hingga membuatnya tertubruk ke tembok. Tidak sampai disitu tanpa berprikemanusiaan Bobby mengambil kursi dan menghantamkan ke wajah suster itu berulang kali hingga wajah suster itu tidak berbentuk, seketika ia mati di tempat.

"Cuih! Cairan aneh itu masuk ke dalam mulutku!" seru Bobby sambil meludah, ia kemudian mengambil selimut di kasur dan membersihkan wajahnya dari cairan aneh tadi.

"A-apa yang kau lakukan, Bob? Ka-kau membunuhnya!" Rika terlihat histeris dengan apa yang telah dilakukan Bobby terhadap suster itu.
"Suster itu gila, dia melemparku ketembok dan memuntahkan sesuatu ke wajahku!" Bobby mencoba membela dirinya.

"Kau pembunuh, KAU PEMBUNUH, BOB!" Rika tidak bergeming dari posisinya dan terlihat wajahnya sedikit pucat.

"Ayo kita cari adikmu!" Bobby menarik dengan paksa tangan Rika dan mencoba berjalan di koridor rumah sakit.

Selama perjalanan Rika tidak banyak bicara, Bobby yang melihat hal itu merasa bersalah. Bobby menghentikan langkahnya dan memandang wajah lesu Rika.

"Ada apa denganmu?" Bobby mencoba mencairkan situasi.

"Kau pembunuh, Bob," ujar Rika pelan, ia enggan melihat wajah Bobby.

"Kau dapat melihatnya, 'kan? Suster itu mencoba membunuhku," Rika tetap diam, "baiklah, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi,"

Rika tetap tidak ingin berbicara, "ayo kita cari adikmu,"

"Tapi, dimana?" Tanya Rika kebingungan, Bobby baru sadar tidak mudah mencari orang hilang di dalam rumah sakit bertingkat sepuluh.

Lalu, mata Bobby tertuju ke arah denah rumah sakit, "aku tahu harus mencari kemana,"

Mereka berdua berjalan mencari lift, suasana rumah sakit tidak seperti biasa. Banyak bercak darah dimana-mana dan begitu sepi, lampu yang redup mengganggu penglihatan. Hingga mereka berdua sampai di pertigaan dan melihat seorang pria membenturkan wajahnya ke-tembok berulang kali.

Rika mencoba mendekati pria itu, tapi Bobby menghalanginya.

"Apa yang kamu lakukan? Aku mencoba bertanya sesuatu kepadanya!" seru Rika sambil menepis tangan Bobby.

Bobby membiarkan Rika mendekati pria itu, dan tetap waspada jika pria itu melakukan perlawanan seperti telah apa yang terjadi barusan.

"Maaf, tuan, apakah Anda melihat seorang pemuda dari kamar 206?" Tanya Rika, tapi sayang pria itu masih membenturkan kepalanya di tembok.

"Hey Bodoh! Apakah kau mendengarnya!" Bobby terlihat emosi dengan kelakuan aneh pria itu.

"Bob!" Rika mencoba membuat Bobby diam, "maaf kan teman saya, apakah Anda mengetahui pasien di kamar 206?"

Tapi, tetap pria itu masih membenturkan kepalanya di tembok. Rika memandang ke bawah kaki pria itu, terlihat cairan hitam tergenang di kakinya. Sekali lagi, Rika hampir memuntahkan isi perutnya setelah melihat cairan itu. Rika mencoba menjauhi pria itu. Seketika pria itu menghentikan aktifitasnya dan memalingkan wajahnya.

"Hoeekk ...." Rika dengan sangat terpaksa harus muntah di lantai itu, dengan cepat Bobby mendekap tubuh Rika.

Bobby memandang pria itu, ia berjalan dengan sangat lamban menuju ke arah mereka. Rahang bawah pria itu tidak ada, sehingga cairan hitam itu terus mengalir melalui mulutnya. Matanya menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Kamu tahu, Rik? Orang-orang ini sudah gila!" Bobby berjalan ke arah pria itu dan melayangkan tendangan yang sangat keras di bagian wajahnya, sehingga leher pria itu patah.

"Makhluk apa kau?" Bobby bertanya-tanya akan manusia super ini. Pria tadi mencoba berdiri kembali, dan seketika Bobby menendang wajah pria itu hingga mati di tempat dengan darah merah pekat keluar dari mulutnya.

"Hosh-hosh, kau pembunuh, Bob!" Rika berteriak dengan wajah yang lesu.

"Dia bukan manusia, Rik, dia mencoba membunuh kita!" seru Bobby.

"Dia hanya berjalan mendekat ke arah kita, belum tentu dia akan membunuh kita, Bob!" Rika meluapkan emosinya.

"Baiklah, kita ke sini untuk mencari adikmu," Bobby menarik nafasnya, "jadi, jangan buang-buang waktu."

"Kau pembunuh!" Rika memandang sinis Bobby yang mencoba mendekat ke arahnya.

"Bisakah kita melupakan hal itu?" Tanya Bobby.

"Kau sudah mengulangi kesalahanmu untuk kedua kalinya," ujar Rika, "mungkin suatu saat nanti kau akan mencelakakanku!"

Mereka berdua saling berdiam diri, tatapan Rika kepada Bobby begitu tajam. Lalu, Rika melangkah pergi meninggalkan Bobby.

"Aku akan mencari adikku sendiri!" Rika meninggalkan Bobby yang berdiri mematung.

"Dimana kau akan mencarinya?!" Teriak Bobby.

"Itu urusanku, bukan urusanmu!" Bobby menghela nafasnya, dan memandang Rika yang mulai menjauh.

Rika berjalan tidak tentu arah, sendirian di rumah sakit yang sangat sepi. Suhu udara seketika berubah menjadi dingin dan Rika hanya mengenakan kaos, jeans, dan sebuah sepatu.

Ia sekarang berada di lantai tujuh mencari adiknya, mungkin adiknya sekarang berada di lantai ini. Rika mengeluarkan handphone-nya.

"Kenapa harus lowbat sih?" Rika menyandarkan tubuhnya di tembok dan sesekali menghela nafasnya. Tenggorokannya terasa kering. Rika sangat kelelahan, tapi ia tidak boleh berlama-lama di tempat ini.

"Ayo Rik, kamu pasti bisa!" Rika memandang seisi koridor hingga matanya menangkap sebuah ruangan dengan pintu terbuka sedikit.

Rika mencoba mendekat ke pintu tersebut dan mengintip melalui sela-sela kecil, seketika matanya terbelakak dengan apa yang ia lihat.
Dua orang pria dengan mengenakan baju pasien sedang menyantap seorang wanita paruh baya. Terlihat mereka dengan lahap memakan wanita itu. Rika mencoba menjauh dari pintu itu, tapi sayang ia tersandung oleh sesuatu dan membuatnya terjatuh.

"Aw!" Rika dapat melihat dari sini kedua pria itu melototinya dengan bersimbah darah, "oh, Tuhan!"

Rika dengan sangat ketakutan mencoba berdiri, dan berlari sejauh mungkin. Tetapi, kedua pria itu ikut berlari mengejarnya. Jika saja Bobby ada di sini mungkin ia sudah mematahkan leher kedua pria itu. Rika mencoba berpaling dan melihat kedua pria itu, tapi ia tidak melihat sebuah kursi roda di hadapannya sehingga ia terjatuh ke lantai.

"Bobby benar, orang-orang ini sedikit aneh!" Rika mulai terisak tangis. Air matanya mulai berjatuhan.

Kedua pria itu tetap mengejar Rika yang kesakitan, dengan mulut yang berbusa pria itu terus berlari hingga sebuah timah panas bersarang di kepala mereka masing-masing membuat mereka berhenti mengejar Rika.

Rika kebingungan dan melihat kebelakang, seorang pria dengan mengenakan masker dan memegang sebuah senjata sedang berdiri di sana. Air mata Rika tak hentinya keluar.

"Kau tidak apa-apa, nona?"

***

-Bobby PoV-

"Hmm, bagaimana dengan Rika, yah? Apakah dia baik-baik saja?" Sejumlah pertanyaan berada di benak Bobby, "aku hanya mencari kamar kecil dan setelah itu, aku akan menyusulnya."

Bobby berjalan masuk ke dalam kamar kecil yang berada di lantai tujuh, dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam wc tersebut. Tanpa ia sadari seorang pemuda sedang membelakanginya dan jongkok di lantai.

"Hei? Apa yang kau lakukan?" Bobby mendekat ke arah pemuda itu.

Hingga ia sadar pemuda itu sedang memakan isi perut seorang wanita, lalu pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah Bobby.

"Ka-kau?"

To Be Continued.

Chapter : 2.


Seorang pria mengenakan masker yang menutupi seluruh wajahnya mencoba mendekati Rika yang sedang terisak, Rika menutup kedua matanya ia takut melihat mayat kedua pria itu. Pria yang mengenakan masker memegang pundak Rika dan mencoba menenangkannya.

"Tenanglah," ujar pria itu. Ia lalu memandang kaki Rika yang kesakitan, "bagian mana yang sakit?"

Rika menunjuk bagian pangkal paha dan betisnya.

"Kita cari tempat yang aman, lalu mengobati lukamu. Apakah kau dapat berjalan?" Tanya pria itu, Rika memandang wajah yang terbalut masker hitam itu dan mencoba berdiri. Tapi, sayang ia terjatuh, pria itu dengan cepat menangkap tubuhnya.

"Kurasa jawabannya, tidak." Pria itu membopong tubuh Rika, dan mencari lokasi yang aman untuk mengobati lukanya.

Mereka berdua berjalan di koridor rumah sakit dengan lambat karena kaki Rika yang kesakitan. Tidak ada sepatah katapun yang dikeluarkan dari mereka berdua. Rika tetap memikirkan bagaimana nasib adiknya sekarang, dan juga dimana keberadaan Bobby. Derap langkah mereka menggema sepanjang koridor. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia gila itu, hanya hembusan angin yang terasa berbeda dan beberapa bercak darah di lantai dan tembok.

Akhirnya mereka sampai di salah satu kamar pasien bertuliskan 211, pria itu menyandarkan tubuh Rika di tembok dan membuka secara perlahan pintu itu sambil menodongkan senjatanya. Matanya menulusuri setiap sudut ruangan, hingga dia merasa tempat ini aman. Lalu pria itu menoleh ke arah Rika yang terlihat kelelahan.

"Kurasa tempatnya aman untuk sementara waktu." Pria itu membopong tubuh Rika dan mendudukkannya di sofa yang empuk.

Tidak lupa pria itu menutup pintu kamar, ia kemudian berjalan ke arah jendela dan membuka gorden yang membalutnya. Terlihat langit berwarna orange tandanya hari sudah sore. Pria itu kemudian menyimpan senjata dan ranselnya di atas kasur dan memandang keluar jendela.

Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu, dari luar jendela pria itu dapat melihat sejumlah unit pemadam kebakaran berada di halaman depan rumah sakit.

Rika mencoba membuka pembicaraan.

"Apa yang dilakukan pria bersenjata di rumah sakit ini?" Pertanyaan Rika membuatnya terkejut, tapi dengan cepat ia mengendalikan situasi.

"Mencari sesuatu," jawab pria itu singkat, "boleh kulihat lukamu?"

Rika terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu dan membalasnya dengan santai, "tidak, hanya luka memar tidak terlalu serius."

"Siapa sebenarnya dirimu?" Sambung Rika seraya memandang pria yang sedang berdiri memunggunginya.

"Bukan siapa-siapa," ucap pria itu singkat.

"Bodoh!" Rika merasa dibodohi, lalu matanya memandang sebuah botol air minum yang berada di atas meja, "Maaf, bolehka kau menolongku?"

Pria itu memandang Rika, "tolong apa?"

Rika menunjuk ke arah botol air, pria itu kemudian mengambil air mineral tersebut dan memberikannya kepada Rika. Sesekali pria itu melirik arlojinya membuat Rika merasa curiga padanya.

"Siapa namamu, tuan yang misterius?" Tanya Rika seraya meneguk minuman di tangannya.

"Aku tidak memiliki nama, mereka menyebut kami S.T.A.L.K.E.R, dan mereka memanggilku dengan sebutan Six," ujarnya dari balik topeng itu.

"Kami?" Rika terlihat penasaran.

"Benar, kami berjumlah sepuluh orang termasuk diriku," jawab Six.

"Dan, dimana sisanya?" Rika masih penasaran di buatnya.

"Mereka sedang bertugas di beberapa kota di Indonesia, dan aku bertugas di Ibukota untuk mencari sesuatu yang berada di rumah sakit ini." Six tidak segan memberitahukan semuanya pada Rika. Rika masih merasa haus.

Rika tidak dapat banyak berkata-kata, hingga lemari di samping mereka bergoyang. Six dengan reflek mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkan ke arah lemari tersebut. Six memandang sekilas Rika yang terkejut dan secara perlahan ia mencoba membuka pintu lemari itu dan ....

-Sementara di luar rumah sakit-

Sejumlah pemadam kebakaran sedang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit, sang pemimpin terlihat gagah dengan sebuah kapak di tangannya.

"Pak, waktu kita tidak banyak. Jadi, ayo masuk ke dalam!" ujar seorang wanita.

"Baik, tugas kita mengevakuasi orang-orang yang berada di dalam sana," ucap sang pemimpin tegas.

Mereka berjumlah lima orang dengan masing-masing kapak di tangannya, dan hanya satu orang wanita saja dalam kelompok itu. Pihak polisi belum tiba di lokasi kejadian. Para warga banyak yang berdiri di hadapan bangunan rumah sakit itu. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di dalam sana, tapi para pasien yang selamat mengatakan terjadi ledakan di area dapur.

Kelima orang itu masuk ke dalam rumah sakit dan matanya memandang setiap sudut loby yang begitu sepi dan berserakah. Lampu rumah sakit mulai meredup, ledakan itu pasti merusak sistem rumah sakit.

Sang pemimpin mengisyaratkan agar kelompoknya berkumpul menjadi satu.

"Oke, sekarang kita berada di lantai satu, dapur berada di lantai satu juga. Tapi, kita harus mengevakuasi para pasien yang terjebak dalam rumah sakit ini." Pemimpinnya terlihat serius.

"Poppy dan kau Dimas! Ku tugaskan ke lantai sembilan dan sepuluh," sambung sang kapten dengan suara lantangnya.

"Baik!" Jawab mereka serentak, Poppy dan Dimas.

Kemudian mereka berdua berlari di sepanjang koridor dan mencari sebuah tangga untuk naik ke atas, suara hentakan kaki mereka menggema di sepanjang koridor yang sangat sepi. Sehingga sebuah lift terlihat oleh mereka.

Mereka berdua melewatinya begitu saja, lift itu tidak ia gunakan dan memilih lewat tangga. Selangkah demi selangkah mereka menaiki anak tangga itu. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mereka berdua, tugas ini tidak main-main. Mereka harus segera menyelamatkan orang-orang yang berada dalam sini sebelum hari mulai gelap.

Poppy dan Dimas sudah melewati lantai dua, sekarang mereka menuju ke lantai berikutnya. Tapi, seketika mereka berdua menghentikan langkah kakinya, terlihat seorang wanita sedang berdiri membelakangi Poppy dan Dimas.

"Hei! kau! Keluar dari rumah sakit ini segera!" Seru Poppy, seketika wanita itu memalingkan wajahnya yang separuh hancur membuat Dimas dan Poppy terkejut setengah mati.

Wanita itu adalah calon ibu, terlihat dari perutnya yang lubang sehingga terlihat sedikit kepala calon bayinya. Wanita yang malang. Poppy merasa iba dengan wanita tersebut, mungkin dia sedang stress akibat bayi yang di kandungnya mati.

Poppy meletakkan kapaknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah wanita itu. Tapi, wanita itu malah melompati tubuhnya membuat mereka berguling-guling di tangga. Dimas kaget dan berlari mengejar Poppy dan wanita itu.

Tapi, ada yang menahan pergerakan Dimas. Ia mendengar suara geraman dari arah belakangnya. Ia mencoba menoleh dan melihat seorang wanita dengan baju pasien sedang memandangnya, mulutnya terlihat berbusa-busa.

"Hei? Apakah kau baik-baik saja?" Teriak Dimas, apa daya wanita itu malah berlari menghampirinya tapi, wanita itu kemudian terjatuh dari tangga akibat berlari terlalu cepat dan terguling-guling turun.

Heran, itu yang ada dipikiran Dimas sekarang. Ia kemudian turun tangga dan mencari Poppy.

"Poppy! Poppy!" teriak Dimas seraya berlari menuruni tangga.

Sementara Poppy terguling hingga mencapai lantai dua. Ia melihat wanita itu sedang tengkurap, perlahan wanita itu bangkit. Seluruh badan Poppy begitu sakit terutama di bagian kepala. Helm pelindungnya pun terjatuh dan hilang entah kemana. Ia dapat melihat wanita itu telah berdiri dan berjalan mendekatinya. Poppy mencoba berdiri sekuat tenaga dan mencoba berkomunikasi terhadap wanita itu.

"Hei? Kau baik-baik saja?" Dengan nafas tersengal-sengal Poppy bertanya kepada wanita itu. Tapi, ia hanya berjalan sangat lambat menuju ke arah Poppy dengan mulut mengeluarkan cairan berwarna hitam.

"Kurasa kau sedikit sakit,"

-Rika PoV-

Lemari itu terus bergoyang, seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari sana. Six memutar pengunci lemari itu perlahan sambil tangan satunya memegang sebuah pistol. Rika yang saat itu tidak dapat menahan rasa takutnya dan memilih untuk menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.

"Dengan hitungan ketiga, aku akan membuka pintu ini," Six bersiap untuk membukanya, "Tiga!"

Six membuka lebar pintu dan mendapati seorang pasien dengan mulut yang berbusa-busa melompat keluar dari lemari. Rika sangat terkejut dan berteriak sekeras mungkin, membuat Six melepaskan tembakan ke arah pasien tadi. Dua tembakan di kepala membuat pasien pria itu tidak melakukan pergerakan lagi, darah merah kental keluar dari lubang di kepalanya.

"Kau membunuhnya?" Tanya Rika, wajahnya terlihat pucat mungkin dia histeris melihat salah seorang mati di hadapannya.

Six menghiraukan Rika dan mengambil sesuatu yang berada di dalam ranselnya. Sebuah alat suntik, Six mengambil sampel darah pasien tadi dan kemudian menyimpannya ke dalam kotak khusus berwarna hitam.

"Mau kau apakan itu? Apakah itu sesuatu yang kau cari?" Sederet pertanyaan yang terlontar di mulut Rika.

"Kau wanita yang menyebalkan," ujar Six singkat. Mendengar hal itu Rika sangat marah terhadap Six, Six kemudian mengambil ransel dan senjatanya yang berada di atas kasur dan melangkah meninggalkan Rika yang berada di atas sofa.

"Mau kemana kau?" Kembali sebuah pertanyaan dilontarkan Rika.

"Mencari sesuatu yang kucari selama ini," ujar Six dan siap membuka pintu kamar ini.

"Kau akan meninggalkanku sendirian di sini?" Rika menundukkan kepalanya dan memandang ke bawah lantai.

Six sekali lagi melirik arloji dan menoleh ke arah Rika.

"Belum ada tanda-tanda?" gumamnya pelan.

-Bobby PoV-

"Ka-kau?" Bobby memandang pemuda yang sedang melototinya, mulut pemuda itu bersimbah darah.

"Dede, 'kan? Ada apa denganmu?" Begitu banyak pertanyaan di benak Bobby.

Dede adik Rika sudah menjadi salah satu makhluk aneh itu, Dede berdiri tegak dan memandang tajam Bobby.
"Grkk ... groaar!" Dede meraung dan berlari menerjang Bobby. Bobby dengan mudah menghindar dari serangan Dede.

"Hei, kawan, ada apa denganmu?" Dede tidak mengubris pertanyaan Bobby dan bersikeras menyerangnya.

Bobby memegang pundak Dede dan memandang dalam-dalam matanya.

"Maukah kau jadi pacarku?" Lelucon ini biasa ia gunakan bersama dengan teman-temannya. Tapi, Dede tetap melototinya dan dengan cepat ia menarik tangan Bobby dan menggigitnya. Dede seperti hewan buas mengunyah lengan Bobby.

Bobby menarik kepala Dede dari lengannya, terlihat luka gigitan yang begitu parah. Darah segar tak hentinya mengalir dari tangan Bobby.

"baik!" Bobby dengan sangat brutal menhantamkan tinjunya ke arah wajah Dede hingga ia tersungkur di lantai. Tidak sampai di situ, Bobby menarik kerah baju Dede dan menghantamkan tubuh mungil Dede ke tembok.

"Kini kau sedang berurusan dengan banteng, sekarang rasakan tanduknya!" ujar Bobby menghantam-hantamkan wajah Dede ke tembok berulang kali dan terakhir ia mematahkan lehernya, membuat Dede mati di tempat.

Bobby kelelahan, ia kemudian menuju ke wastafel dan membasuh lengannya yang tergigit tadi. Saat lukanya menyentuh air, Bobby merasakan sakit yang luar biasa. Dia kemudian menuju ke arah closet lalu mengambil tissue toilet dan melilitkan di lukanya, darahnya terus mengalir.

Beberapa lama kemudian Bobby keluar dari wc dan berjalan mencari Rika, entah apa yang akan dia katakan kepada Rika setelah ia mengalami kejadian barusan menimpanya.

Bobby melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 04.15 tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasa sakit dilengan terasa berdenyut dan darah tetap mengalir.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi di tempat ini?" Gumam Bobby, tubuh kekarnya begitu lelah, ia kemudian melirik ke arah salah satu kamar. Sekilas ia memandang kiri dan kanan, tapi ia hanya melihat koridor rumah sakit yang kosong. Bobby memegang gagang pintu yang terasa dingin, begitu banyak pikiran yang berada di benaknya. Bobby menarik nafas dan menghilangkan pikiran itu.

Mungkin dengan istirahat, dia jadi lebih tenang.

To Be Continued.