alexa-tracking

that's what friends are for

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55a23b4d98e31b785d8b456b/thats-what-friends-are-for
Poll: siapa yang punya tujuan paling jujur?
Nae 65.22% (15 votes)
Ara 34.78% (8 votes)
that's what friends are for [sekuel Hujan, Janji, dan Wanita yang Singgah]
Spoiler for pembuka:


Spoiler for sampul:




Pesan whatsapp itu datang begitu saja,

Quote:


Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.

"Sini aja, Nae,"

"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"

centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah emoticon-Malu (S) Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob emoticon-Takut (S)

"Assalamu'alaikum,"

suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~

"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok emoticon-Malu (S)

"mana Haruki?"

Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.

"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh emoticon-Frown

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"

dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (emoticon-Frown emoticon-Frown)

"Dia udah pulang, Nae"

"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"

Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini emoticon-Malu (S)

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:


...gitu, Nae.."

mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.

"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.

"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"

"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"

Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.

"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"

"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"

Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.

"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"

"Goblok! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"

Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.

"Har, kejar, Har!"

"Gue harus gimana?"

"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"

"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"

Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...

Quote:
image-url-apps
mantap cerita baru.
ijin bikin tenda dimari bang harsya emoticon-Cool
image-url-apps
Nah ada lanjutannya nih
Mejeng pejwan ah hahaha
KASKUS Ads
image-url-apps
jahhh udah ada lanjutannya
padahal yang S1 aja cuma baca part pertama dan terakhir
image-url-apps
season dua men emoticon-Metal
izin nimbrung bang emoticon-Malu
mumpung masih anget
image-url-apps
SR numpang ijin baca ya gan,cerita 1 pertama mantap,semoga cerita yg ke 2 ini happy ending ya Gan
image-url-apps
wuih mantap dilanjut lg cerita nya bang emoticon-Big Grin
wah Nae comeback lg nih..

dah sama dr Nae aja bang, biar klo sakit gk sah byr.. emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

dimana Haruki?

pertanyaan itu simpel tapi ngejawabnya ngga sesimpel itu. Dimana Haruki? Harus dari mana gue mulai nyari dia?

Gue ngga bisa nyari Haruki ke rumahnya, dia udah diusir sama emak-bapaknya karena kesalahannya itu.
Gue ngga bisa nyari ke kampusnya, Haruki udah lulus lumayan lama.
Gue ngga bisa nyari ke kantornya, Haruki udah sign-out gegara kesalahannya itu.
Gue ngga tau siapa orang terdekat Haruki, kecuali Novi. Ya, Novi.

Lucunya, gue kenal Novi jauh sebelum gue tau Novi deket sama Haruki. Kilasan dari cerita sebelumnya, gue kenal Novi waktu gue ada perjalanan terbang ke suatu pulau. Senyum pramugari yang biasanya senyum (atau ngga senyum) ke setiap penumpang menjadi lebih berkesan ketika mbak-mbak yang mirip vokalis wsatcc itu cekikikan liat gue yang pake topeng kuda

Spoiler for kek gini nih sob:


Lucunya lagi, beberapa kali gue punya perjalanan ke pulau itu, gue selalu naik pesawat yang beda tapi dengan salah satu kru udara yang sama, ya, Novi itu. Waktu itu, gue tau naman Novi dari papan nama di dadanya di seragam hijaunya itu. Waktu itu, gue ngga dikenal sama dia, lha, gue mah cuma penumpang kelas ekonomi emoticon-Malu (S) Kita ngga saling mengenal waktu itu, sebenernya, kecuali papan nama dan topeng kuda. Ya, gue dipanggil 'mas kuda' sama Novi.

Bahkan, ketika gue diajak nemenin Haruki mudik ke kampung halamannya, bukan Ciracas emoticon-Malu (S), ketika gue nurunin barang bawaan dari bagasi bus yang bawa kita ke bandara, ketika secara ngga sengaja gue sama Haruki amprokan sama Novi, ketika Novi dan Haruki saling heboh melepas rindu, Novi bilang, "Eh, mas kuda...," emoticon-Ngakak (S)

Ngomong-ngomong, Haruki yang ngga bisa sembarang deket sama sembarang orang itu punya alasan gimana dia bisa deket sama orang, bahkan orang yang baru kenal beberapa menit.
1. orang itu punya warna yang aneh, contohnya gue. Yah, entahlah penjelasan umumnya, kalo penjelasan Haruki sih, orang-orang dengan warna yang 'aneh', Haruki bisa deket dengan mereka. Gue salah satunya. Contoh orang yang lain adalah Aul, sahabat gue semasa SD yang udah meninggal gegara asma emoticon-Berduka (S)

2. orang yang mengakui saudara kembarnya Haruki, namanya Yuki. Dia udah lama meninggal, tapi karena suatu hal, Haruki yakin Yuki masih ada dan selalu disampingnya emoticon-No Hope. Gue bukan termasuk orang nomer 2 ini, gue ngga mengakui itu Haruki. Gue selalu bilang, itu sesuatu yang menyerupai Haruki. Masalahnya, Farhan si lelaki sial itu mengakui Yuki--entah dia bisa liat beneran atau itu cuma akal-akalannya aja untuk mendapat pengakuan Haruki. Cih.

Nah, gue ngga ngerti nih kalo Novi masuk ke kategori yang mana, mungkin, Novi masuk di kategori nomer 3 yang gue belum tau.

Medsos emang bahanya bener. Dari hasil kepo medsos Haruki--apdetan terakhirnya di perkimpoiannya Widya, gue dapet medsosnya Novi. Aih, Novi emang pantes keterima jadi kru kabin pesawat telep... eh, udara emoticon-Ngakak (S). Dia tinggi lagi ramping, itu belum termasuk mukanya yang imut-imut mirip mbak Sari waytsus emoticon-Malu (S)

Nah, gue ketemu masalah pertama sob. Novi gembok semua medsosnya. Gue harus punya waktu untuk nunggu Novi nerima semua permintaan pertemanan gue ke dia. Tapi, gue punya satu keuntungan, terakhir, Haruki ngapdet sambil ngetag gue dan Novi nge-frown apdetan itu. Barangkali, karena waktu itu gue pake topeng kuda emoticon-Ngakak (S) emoticon-Cendol (S) Yap, semoga dengan ini Novi sadar akan keberadaan gue dan semoga dia ngga sadar, gue punya suatu maksud tetiba ngedeketin medsosnya. Gue berharap Haruki ngga ngeblok duluan Novi untuk ngga berhubungan sama gue, ketika suatu saat gue akan melakukannya. Yah, pokoknya coba dulu aja, ribet amat lo, Har.

Gue menghela napas panjang, gue ngga punya alternatif solusi lain.

"gimana, Har? ketemu?"

"Ketemu, sih, ketemu, tapi ya gitu, Nae, gue mesti nunggu Novi accept friend request dari gue,"

"solusi lain?"

"beluman ada,"

"Gue ada,"

"Apaan?"

Nae ngambil beberapa koran di laci meja tamu,

"Har, lo ada kotak sepatu bekas?"

"Ada? kenapa?"

"Mana? siniin,"

Gue enggan bertanya dulu, gue langsung ke kamar belakang, singkat cerita, semua permintaan Nae sudah ada di depannya. Gue mulai paham ketika dia minta gunting, selotip, dan bungkus kado motif batik. Gue berharap jangan.. jangan, dong... jangan...

"Kita nyamar jadi tukang paket aja, nganter ini ke rumah Farhan, kita mulai cari info dari sana,"

Gue tepok jidat. Nah, bener, kan si gembel sok ide ini emoticon-Nohope

"atau lo pilih, gue yang nyamar jadi mantannya Farhan, bilang ke orang tuanya gue minta pertanggung jawabannya,"

wanjiiiiiir, ini bocah belajar apa deh semasa kuliah emoticon-Ngakak (S) gue ngakak-ngakak. anjir, dari matanya, sih, si Nae serius banget sama rencana A dan rencana B-nya ini.

"jadi, pilih, Har"

"Nanti sorelah, siang begini mah rumahnya masih kosong paling,"

****


"Har, Har, muka gue udah kuyu belum?"

gue ngeliatin muka bocah yang super niat ini. Emang, keknya, si Nae ini salah kaprah soal ambil jurusan, dia harusnya ngga ngambil kedokteran kemaren itu, harusnya dia ambil jurusan sandi negara gitu emoticon-Ngakak (S)

Kalo kondisinya gini, gue jadi inget ketika gue sama Nae, waktu jaman kelas 2 SMA, melakukan hal yang hampir sama. Diam-diam sembunyi di belokan rumah seseorang buat ngawasin rumah itu. Kalo dipikir, kebiasaan ini muncul ketika gue SD sih emoticon-Malu (S) waktu itu, gue ajak Aul untuk 'ngintai' rumah Fitri emoticon-Takut (S) kecengan semasa SD dulu emoticon-Malu (S) ketika SMA, gue sama Nae 'ngintai' rumah Nisa, kecengan gagal karena ketololan gue emoticon-Berduka (S) ketika bulan kemaren itu, gue sama Nae 'ngintai'.... rumah cowok emoticon-Ngakak (S) emoticon-Betty (S) Kali ini, di depan rumah Farhan. Bukan ngga mungkin, gue terlalu jauh mikirin kemungkinan yang ada sementara Haruki ngga jauh dari tempat gue, yaitu di rumah suami (maksa)-nya itu.

Info soal rumah Farhan gue dapet dari buku tahunan dan untuk sampe kesini ngga bisa sekali langkah aja. Cih. Alamat Farhan udah beda sama yang kecantum di buku tahunan SMP. Gue harus muter nyari temen di smansa dulu. Masalahnya lagi, temen gue dari smansa pada kerja di luar kota gue ini. Nae berperan disini, dia bisa tau aja temennya anak smansa--sekolahnya Farhan dulu--yang masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak.

Awkward moment terjadi disini. Kenapa begitu, ya, kenapa harus, kenapa harus Aci yang jadi temennya Nae, masih di kota gue, cewek, udah kimpoi, dan udah punya anak, sehingga dia bisa siap kapan aja ketika ditanya rumah Farhan dimana sesuai buku tahunan.

"Nae, ngga mungkin Aci,"

"Kenapa emang, Har?"

"Eh..."

Quote:


"...ya, kan aneh aja kalo tiba-tiba lo nelpon dia terus minta alamatnya Farhan,"

"siapa bilang gue mau nelpon dia? gue mau ke rumahnya langsung kok,"

WANJIR WANJIR WANJIR emoticon-Ngakak (S)

ngga mungkin banget gue ikut Nae, terus cecengiran waktu Nae-Aci ketemu setelah sekian lama dan cipika-cipiki. Aci bakal nanya sok ngga kenal gitu, "eh, siapa, nih, Nae?" Nae bakal jawab, "Ah, bukan apa-apa, gue nemu pas di perjalanan kesini". eh, ngga gitu juga sih. Tapi, intinya gue ngga punya muka bangetlah ketemu Aci dengan keturunannya itu emoticon-Malu (S)

Tapi, kalo gue terus nolak, Nae bakalan curiga kenapa gue menghindar. Akhirnya, cerita ini mundur sebentar, dari "har, muka gue udah kuyu belum?" jadi ke "har, lo kenapa gelisah gitu dah dari tadi? kebelet e*k ya?"

"iya," --anjir gue jawab asal aja. Yah, gue ngga mau keliatan gelisah gue di perjalanan yang hampir sampe rumah Aci sebentar lagi ini karena gue ngga punya muka ketemu Aci, setelah sekian lama.

"Ya, udah, nanti numpang e*k di rumah Aci aja,"

WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR emoticon-Ngakak (S)

dan Nae serius banget. Gue yang gelisahnya makin jadi, dalam 10 menit, kita udah di depan pager rumah Aci, Nae-Aci cipika-cipiki, Aci ngga mengindahkan atau memilih nyuekin gue pas itu, terus Nae sok-sokan manja sama anaknya Aci, dan muka gue makin pucet. Pucetnya muka itu malah makin kampret.

"Eh, Ci, kenalin, nih, temen gue, sebelum kenalan, dia boleh numpang ke kamar mandi dulu ngga? Dia mules banget, tuh"

Nae kayaknnya ngga tau gue kenal sama Aci. Aci ngeliatin gue dari atas ke bawah. Dengan tatapan yang "oh, elo? masih idup lo?" emoticon-Ngakak (S) terus bilang,

"Oh, ya, silakan, kayaknya udah kebelet banget, ya, Mas?"

Gue cuma mendehem kaku terus ngangguk dan tanpa ditunjukkin jalannya, tanpa bertanya, gue cari sendiri kamar mandinya. Anjir, makin keliatan gue kebelet boker--padahal ngga--karena gue nyari tempat pembuangan berdasarkan insting emoticon-Ngakak (S) emoticon-Traveller

di kamar mandi, gue nyebut berkali-kali: WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR WANJIR emoticon-Ngakak (S) berhubung di tempat najis kan ngga boleh dzikir sob emoticon-Malu (S)

selama di kamar mandi, ada beberapa suara ketawa dari ruangan depan. Keknya dua orang itu lagi ngomongin gue deh emoticon-Berduka (S) emoticon-Ngacir Tubrukan

10 menit, berasa cukup, gue ngga mau disangka, "keknya keluarnya gede banget, ya, Har? berapa kilo? lama bener, hahahahaha" Selama 10 menit itu, kalo gue pas keluar ini gue ketemu supervisor SDM perusahaan shampo, gue bakal lolos kualifikasi banget jadi orang lab yang nguji komposisi produk. 10 menit waktu yang cukuplah buat ngapalin ramuan sampo itu terbuat dari apa aja emoticon-Malu (S)

10 langkah menuju ruang tamu sungguh sangat berarti sob. Setiap langkah kanan adalah takbir, setiap langkah kiri adalah istigfar. emoticon-Cendol (S) tengsin abis njir. Dan, akhirnya gue sampe juga di ruang tamu itu. Hal yang gue benci adalah Nae duduk ngadep ke arah gue dateng dan Aci yang diseberangnya pasti ngebelakangin arah gue dateng. Muka Nae yang respon akan kedatangan gue dan badan Aci yang ngebalik untuk konfirmasi berubahnya air muka Nae itu yang luar bi(n)asa. Malesin banget.

"Eeh, ternyata lo kenal Aci, ya, Har?"

Di sepersekian detik itu, gue sempet ngeliat mukanya Aci yang anaknya lagi di pangkuan Nae. Mukanya bilang, "KENAL BANGET. GUE NGGA AKAN LUPA ORANG YANG NOLAK GUE"

Gue cuma ngangguk sambil senyum maksa dan cengegesan. "Gue juga ngga tau lo berdua saling kenal." -- gue mencoba basa-basi.

"iya, temen se-SD kita mah," Aci coba respon dengan lembut. Rupanya, yang dari tadi itu cuma khayalan gue aja. Mungkin, karena sudah beranak, Aci jadi kebalikan apa yang barusan gue imajinasikan. Dia begitu keibuan dan seakan lupa sama kejadian pas pelajaran matematik waktu itu. Baginya, nembak itu ngga ada upil-upilnya. Guenya aja yang dari tadi ke-GR-an. Obrolan pun mengalir dengan enak. Gue udah bisa ketawa sekarang. Ah, paling di pikiran mereka berdua lagi seliweran, "kayaknya si Harsya sembelit 5 hari dan lega disini, alhamdulillah"

emoticon-Ngakak emoticon-Malu

"Iya, Ci, jadi pinjem buku tahunan smansa dong,"

"boleh aja, gue ambil sebentar, ya,"

dan Aci pun dateng sambil ngedekap di dada buku tahunan sekolahnya,

"lo berdua mau kepo siapa sih?"

bangkek! si Aci tau aja nih emoticon-Malu (S) gue nyenggol Nae, kali ini tugasnya.

"Farhan, Ci. Dia ganteng banget, deh"

Aci ngakak, dari identifikasi singkat gue, gue tau kalo Aci tau (mampus lo bingung sob hahah) kita berdua ngeboong. Ngga mungkin banget hari gini ngecengin orang terus nyari datanya di buku tahunan. Emangnya, kita anak SMP? hahahahahaha

Tapi, Aci milih ngga terlalu musingin. Dia ngasih waktu kita untuk kepo. Dia ambil lagi anaknya dari pangkuan Nae dan pura-pura ngebobokin bayinya di kamar. Aci beneran dewasa banget--dalam arti ngga nanyain urusan kita lebih jauh. Dia dewasa banget, kalo kita sampe niat ngepoin seseorang di buku tahunan, di usia segini, pasti ada sesuatu yang penting. Aci super dewasa, kalo dia tanya untuk urusan apa kita berdua nyariin Farhan dan Nae jawabnya ngaco begitu, Aci semacam ngerti kalo kita sebenernya pengen bilang, "ehm, maaf, ini urusan yang bisa lo campurin gitu aja,"

sejujurnya gue terkesan dengan ke-dewasa-an Aci

Lima belas menit waktu yang dikasih Aci, sungguh cukup. Kita berdua udah dapet datanya Farhan. Gue sih berpikiran, kemungkinan Farhan masih pake nomer HP yang sama dari SMA kecil banget sob. Yah, yang penting dapet foto alamatnya dah. Lima belas menit cukup banget, sampe gue sempet ngecengin cewek-cewek smansa yang potensial banget emoticon-Malu (S) Aci datang dengan senyum di bibir. Ugh, coba aja dia belum bersuami dan beranak, pastilah.....

ngga gue apa-apain sih emoticon-Malu (S)

dan setelah basa-basi di beberapa segi, gue sama Nae mohon diri. Sindiran Aci begitu terasa,

"nanti kalo udah ngga sibuk, main-main lagilah kesini,"

gue cuma nyengir aja, Nae juga begitu. Sindirannya begitu terasa...

dan cerita ini balik lagi,

"muka gue udah kuyu belum, Har?"

Ceritanya, gue dan Nae sudah di depan rumah Farhan versi buku tahunan SMA, semoga penghuninya belum ganti alamat...

Mata Ara

inilah kondisi ideal yang kesusun di kepala gue:
1. Haruki dan Farhan ada di rumah Farhan. Gue sama Nae akan mergokin dia ketika dia pulang atau berangkat. Ketika itu, gue sudah siap dengan tonjokan lagi. Cuma kali ini, gue pengen nonjok Farhan sampe dia beneran ngga sadarkan diri, abis itu culik Haruki deh. Tapi... pertanyaan besar selanjutnya setelah itu adalah: kalo udah begitu mau apa? yaa, bagaimanapun anak akan mencari bapaknya, kan..

2. Farhan punya adek atau keponakan atau sepupu yang tinggal di sana dan bisa ditanya posisi Farhan lagi ada dimana. Kalo begitu, akan lebih enak. Kita akan samperin dan setelah ketemu, Haruki akan kita culik dan Farhan akan kita pasung dengan mulut yang gue suruh Nae jahit sampe dia ngga bisa ngomong. Muahahahaha

dan kondisi ngga idealnya adalah:
1. udah pindah rumah. Yaa, pindah rumah ngga segampang itu sih, tapi gampang deng kalo ngontrak. Oke, semisal variabel ngontrak kita tiadakan, kita tanya aja sama penghuni baru, kemana kira-kira yang punya rumah (keluarga Farhan) pindah. Penghuni baru itu pasti ngontrak.

2. Farhan ngontrak disana atau orang rumahnya ngga tau Farhan kemana atau rumahnya kosong (ngga ada yang ngontrak atau emang ngga ada isinya) nah, kalo gitu, kita harus cari alternatfi solusi yang lain sementara nunggu kabar Novi udah accept friend request dari gue.

"Udah kuyu belum muka gue, Har?"

"Udah dari dulu, Nae,"

"Sial lo,"

kita berdua diem.

"Eh, Nae"

"Paan,"

"Gue jadi inget pas ngecengin Nisa dulu deh, kayak gini juga kan,"

"Oh, iya juga, ya, hahahaha. Terus apa kabar Nisa sekarang?"

"Udah nikah, udah punya anak juga,"

Nae nengok ke arah gue. Lagi-lagi, pandangannya pandangan semacam ngenes gitu ngeliatnya emoticon-Ngakak (S) Terus dia nge-pukpuk pundak gue. Gue ngga apa kok, gue ngga apa kok emoticon-Berduka (S)

"Hahah, lo kapan Nae?"

"Kapan apanya?"

"Kimpoi"

"Lo dululah, Har,"

"Yakin lo mau habis gue?"

Nae nengok lagi ke arah gue.

"Eeh... iya.. taun depan.. insya Allah,"

Gue ngakak-ngakak. Kampreeet emang nih anak. Gue jadi termotivasi nyari pegangan hidup nih, eh, pendamping... emoticon-Malu (S)

Dua jam nunggu, rumahnya masih sepi sementara gelap udah turun dari tadi, malah ini sudah mulai masuk jam tidur malam. Gue udah ngga betah aja, nih.

"Sabar, Har. Emang jarang yang sekali tembak langsung berhasil. Sabar dulu, sabar,"

Gue mau bilang, "tapi, kaan.." ngga jadi. Iyalah, gue mencoba bersabar aja. Gue kurang sabar apa lagi coba. Aci nikah, punya anak. Widya barusan nikah, segera punya anak. Nisa udah nikah, punya anak. Gadis ngga ketauan kabarnya. Haruki belum nikah, tapi akan segera punya anak. Yah.. emang gue kurang sabar kali, ya.

Ngomong-ngomong soal fisika, gue lagi berada di posisi energi potensial sedang bekerja. Gue siap jatoh. Mungkin, ketinggian (h) gue cukup tinggi. Tetapan gravitasi gue juga lebih tinggi daripada 9.8 meter per sekon kuadrat (cmiiw). Nah, lihat deh, ada seseorang yang mendekati rumah yang kita maksud. Dari bayangannya, sih, cewek. Haruki? tetapan gravitasi gue semakin meninggi dari 9.8 meter per sekon kuadrat. Ngga pake mikir, gue samperin pager rumah yang baru ditutup sama cewek itu. Gue mengucapkan salam dan mungkin si cewek itu agak gemes, ada aja tamu jam segini dan pas banget pas dia baru pulang.

"Misi mbak, saya mau nganter titipannya Farhan,"

begitulah, cewek yang keluar mirip sketsa cewek yang jadi sampul cerita ini.

"Titipan apa, mbak?"

"Ini, dia beli barang dari saya, online, ini saya mau nganter?"

Nae sudah nyusul dan posisinya di belakang gue. Muka si mbak itu agak terkesima.

"Bener pesenannya Farhan?'

"Iya, mbak,"

"Disuruh anter kesini?"

"Iya, mbak,"

Muka si mbak itu makin terkesima, mengarah ke pucat, sih.

"Dia pesen online? pake email atau sms?"

"SMS, mbak,"

Muka si mbak itu makin pucat, makin sedih. Gue melirik ke Nae, wah, wah, bau-baunya ngga enak, nih....

"masuk dulu, mas, mbak!"

Wah, waduh.. ngga enak beneran ini mah. Firasat gue beneran ngga asik banget ini. Pasti ada apa-apanya tukang anter paket yang dibeli online disambut seperti keluarga yang ngga ketemu udah 332.985 tahun Gue pandangi Nae. Gimana, nih? Nae ngangguk. Make up muka kuyu dia ngga laku deh. Strategi tukang paket berhasil, pada tembakan pertama. Tapi... firasaat ngga enak apaan, nih?

***


"Kenalin, gue Ara,"

tiga cangkir teh sudah terhidang. Gue dan Nae duduk dengan ngga enak. Gue malah ngga ngangkang sama sekali. Lutut gue rapet emoticon-Malu (S)
"Jadi, paketnya apa?"

Firasat gue makin ngga enak. Firasat gue bilang, gue ngga bisa nutupin kebohongan pertama dengan kebohongan selanjutnya.

"Em, maaf, Ra. Paket ini cuma alasan untuk kita bisa nanyain Farhan,"

Ara menghela napas panjang.

"Lo berdua bukan yang pertama, seengganya di bulan ini. Oh, ya, kenalin, gue adeknya Farhan,"

Gue dan Nae pun balas memperkenalkan diri. Gue kenalkan aja gue dan Nae adalah temennya Farhan. Habis itu, Gue dan Nae diam. Gue ngga ada topik yang bisa diajuin untuk dibahas. Paragraf pertama perkenalan dari Ara sangat ngga biasa untuk memulai perkenalan. Firasat gue makin ngga enak.

"Cara lo berdua masih lebih halus. Kemaren, untung gue lagi bareng sama temen-temen gue, jadi ramean. Didatengin tukang kredit motor. Mau narik motor, yang udah nunggak dari akhir tahun kemarin. Gue ngeri banget, kasar begitu mereka. Kali ini, utang kakak gue ke lo berapa?"

Gue bingung mau jawabnya. Haruki begitu berharga, masa iya gue jawab, "satu manusia" emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S) Akhirnya, gue menyebut angka yang asal. Ara menghela napas panjang.

"Mungkin, gue ngga pantes bilang gini, tapi, gue udah ngga punya apa-apa lagi untuk talangin utang kakak gue dulu. Gue cuma bisa memohon ke lo berdua supaya lo bisa lebih sabar sebentar lagi. Gue bakal berusaha balikin sisanya. Lo catet, nih, nomor gue...,"

Gue pun nyatet nomernya, dengan perasaan yang campur aduk sangat. Antara bingung, kasian sama Ara, dan mikir, masalah ini jauh lebih parah ketimbang Haruki yang ngakuin Farhan adalah (calon) suami (maksa). Haruki harus segera gue temukan dan gue selamatkan. Tsahh.
Ara berkeluh kesah kalo Farhan ngga tau ada di mana dan ngga bisa dihubungi sama sekali. Udah banyak juga tukang tagih utang, baik dari temen-temennya atau leasing yang nyariin Farhan. Gue sangat campur aduk. Gue semakin takut dengan keselamatan Haruki (dan calon bayinya), dan pamungkasnya, cerita Ara bikin sangat ngenes--untuk cewek secantik dia emoticon-Wowcantik

"Oh, ya, kalo ada apa-apa, gue ada di alamat ini. Kosan temen kuliah gue. Gue ngga tinggal di sini lagi. Gue takut..."

Ara masih kuliah dan gue ngga berani nanya di mana kedua orang tua mereka. Gue jadi semakin ngga enak setelah nyebutin angka yang asal tadi, cukup gede soalnya. Yah, soalnya gue harus punya cukup alasan untuk nyamar jadi tukang paket. Gue dan Nae berniat pamit karena Ara cuma ngambil sedikit dari barang-barang yang ditinggal di rumah itu. Dan, ketika akan berpisah, gue ngerasa ngga enak ngebebanin dia dengan jumlah yang asal tadi, gue spontan ngomong.

"Ra,"

"Ya, bang?"

"gue punya toko di pojokan sana. Kalo lo mau, lo bisa part time disana. Soal utang tadi, anggap aja lo bayar utang lunas kakak lo dengan kerja di tempat gue..."

Pada malam itu, pada saat itu, itulah satu-satunya mata Ara jadi kembali berbinar. Ya... bayangan kebaikan Haruki masuk banget ke kepala gue. Semasa sekolah, Haruki ngga banget kerjaannya dicontek sama gue. Siapa bilang?

Makasih, Haruki, untuk bagian ini gue nyontek lo, ya emoticon-Smilie
Quote:


yezmz, hari senin harga naik emoticon-Ngakak (S)
eh, ini udah hari senin ya emoticon-EEK!

Quote:


adaa emoticon-Blue Guy Cendol (L) selamat menikmati sob emoticon-Malu (S)

Quote:


baca dulu yang sebelumnya gaan biar makin nyambung hhehe

Quote:


ooit gan lushen emoticon-shakehand
selamat menyimak emoticon-Big Grin

Quote:


hepi ending ngga ya emoticon-Embarrassment

Quote:


hahahaha ya kan.. plot twist: Nae dokter hewan.
eh, ngga deng emoticon-Stick Out Tongue emoticon-Blue Guy Peace
image-url-apps
iyessss...harsya bikin sekuel cerita sebelumnya...serasa ikut jadi detektif saja ya har hahahaa...
satu pertanyaan : apakah lu ma Ara berlanjut?kalo sampai ada hubungan,tambah lagi momen dan hubungan yang absurd...emoticon-Ngakak
image-url-apps
beneran dokter hewan ya bang, dah sama dr Nae aja kan kali2 bisa bahan percobaan.. emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

jgn2 cinlok ya bang sama neng Ara, cie ciee emoticon-Big Grin
Kirain lagunya Dionne Warwick emoticon-Stick Out Tongue.
image-url-apps
Wih ternyata ada sekuelnya juga.. emoticon-Big Grin keep writing agan harsya, ceritanya agan harsya yang hujan,janji sama yang ini kok bikin baper ya emoticon-Mewek emoticon-Hammer2
image-url-apps
Numpang nenda gan, asli baper ane gan ikutan kesal sama tu farhan

dramatis!

"Lo parah juga, ya, Har, kasian Ara,dong,"

"Yah, gue harus gimana lagi?" -- gue mengangkat bahu.

Sejujurnya, memang, dengan datangnya Haruki di rumah--dan kantor usaha keluarga--ada banyak ide inovasi produk dan pemasaran yang terlintas di meja rapat dua kali mingguan itu. Kondisi sumber daya Haruki yang kapabel, memang bikin ide itu tergelontor begitu saja, siap dilaksanakan besok lusa. Maka, ketika kemaren malam/pagi Haruki pamit ke seluruh anggota keluarga, bukan cuma gue aja yang bersedih.

"Kamu boleh masuk dan keluar rumah dan kantor ini kapan aja, Haruki. Kongkretnya, kalo besok kamu dapat kerjaan yang menurutmu lebih baik, saya ngga nahan kamu lebih lama di rumah dan kantor ini. Tapi, begitu ada kesulitan, silakan kapan saja datang. Ini memang saya desain menjadi rumah singgah bagi yang berkenan," --itu yang bapak gue bilang ketika Haruki datang ke rumah, sebelum liat kinerjanya.

Sebulan di rumah, cukup 3 hari aja, waktu yang dibutuhin Haruki buat nunjukin potensinya dan semua orang rumah langsung tambah suka sama dia.

Sehingga,ketika Haruki kemarin, selain sedih karena salah satu 'anggota keluarga' angkat kaki, ide dan inovasi itu mandek. Ngga ada yang garap itu lebih baik daripada Haruki. Sehingga, ketika Ara gue ajak kerja di toko pojokan itu, pantaslah Nae berespon seperti itu. Yah, tapi, gue harus gimana lagi baiknya. Pada kondisi yang pas nanti, gue akan cerita yang sesungguhnya ke Ara, gue berjanji diam-diam dalam hati.

Gue menghela napas melihat punggung Ara yang makin menjauh dari posisi gue sama Nae, kemudian hilang di pojokan. Gue jadi inget suatu cerita jaman dulu--entah boongan atau beneran--bahwa salah satu orang tua Farhan, yang berarti juga orang tua Ara, sudah ngga ada. Ngeliat kondisi rumah Ara kek gitu tadi, gue ngga berani lebih jauh nanya Ara. Tapi, seengganya, rumah yang gue datengin ini udah bener, inirumah tinggal Farhan, seenganya pernah. Ada foto keluarga besar-besar dipasang di pigura indah di ruang tamu.Kita bisa segera liat foto itu ketika masuk ke ruang tamunya.

dan akhirnya, pencarian pertama ini entahlah mau dibilang sukses atau gagal--dan ngga ada kejadian sesuai skenario yang dirancang sebelumnya. Hasilnya adalah kita ketemu sanak sodara Farhan, tapi kita ngga bisa dapet info dimana Farhan berada.Yang ada, malah kekhawatiran yang lebih besar merangkak dan menjalar. Bisa gawat, jika anak mereka (?) sudah dalam pelarian,bahkan sebelum dilahirkan emoticon-Berduka (S).

Maka, gue buka kunci HP gue sembari berharap, ada notif dari medsos datang sesuai harapan, Novi respon permintaan pertemanan gue. Tapi, ngga ada ternyata, seengganya di malam itu--kata gue membesarkan hati sendiri...

"Har, jangan nyerah, baru juga hari pertama. Kita cari kemungkinan lain,oke?" kata Nae sembari nepuk bahu gue, berusaha menegarkan gue.

***


"Nama kamu Ara? semester berapa?"

"empat, Mbak,"

"Jurusan?"

"(nyebut suatu jurusan, dan kampus di kota gue)"

gue terhenyak, gue tau dimana itu.

"Lhoo, ternyata adek kelasnya Harsya, toh,"

gue menoleh, gue malah baru tau pas ini banget, pas kakak gue ngewawancara Ara sebelum dia diterima kerja, ternyata Ara adek kelas gue banget, jurusan sama, cuma angkatan aja beda; pas gue lulus, dia masuk jurusan. Yah, begitulah.

Ara tersenyum. Mungkin, dia juga baru tau, sob. Gue berpikiran, ini harusnya lebih mudah, setelah Bapak gue ngga tertarik untuk wawancara sendiri setelah Haruki pergi. Keknya, Bapak gue beneran ngerasa kehilangan deh. Dari sekian pegawai tetap atau paruh waktu, keknya Haruki punya tempat tersendiri di hati keluarga gue emoticon-Malu (S) eh, dia malah mutusin pergi emoticon-Berduka (S)

Gue memerhatikan Ara, dia begitu mengikuti alurnya. Dia ngga kepingin menunjukkan dirinya agar segera diterima. Dia jawab pertanyaan dengan seadanya, pun ketika Kakak gue menjelaskan beberapa pekerjaan yang akan dia kerjakan. Tentu saja, bukan ide dan inovasi yang kemarin kita bicarakan ketika Haruki masih ada disini, sob. Pekerjaannya agak jauh dengan kompetensi jurusan. Tapi, gue melihat Ara yang berusaha nyaman dengan apa yang dia hadapi. Disitulah gue merasa tambah berdosa. Mata Ara begitu ikhlas dengan apa yang didepannya. Gue tambah ngerasa berdosa, keikhlasannya bilang bahwa Ara akan iya aja selama kehormatan keluarganya bisa dia pertahankan untuk ngga tersungkur lebih jauh ke bawah lagi.

Diam-diam,. gue berjanji pada diri sendiri, sembari bersyukur, bahwa suatu saat nanti, pada kondisi terjepit bagaimanapun, gue akan mencoba membicarakannya baik-baik dengan semua keluarga. Tentu saja, semakin kuat prinsip gue untuk ngga aneh-aneh emoticon-Smilie Ara akan bekerja mulai besok. Ara pulang ketika Nae kembali meng-wassap gue.

"Gimana, oi? ada info masuk?"

centang biru sementara waktu di sisi Nae. Gue heran aja kenapa dia begitu niat kali ini, untuk kasus Haruki ini.

"Belum. Lo ada?"

"Ada?"

centang biru, gue tukar centang biru itu dengan tombol warna hijau.

"Halo? Lo dimana, Nae?"

"10 meter lewat gerbang komplek lo. Lo udah mandi, kan?"

klik, telepon ditutup. Gue langsung menghambur dengan sepeda motor pergi ke rumah, tempat Nae akan menjemput gue setelah gue mandi kilat emoticon-Malu (S) Gue temui Nae dengan rambut setengah basah. Nae cekikikan sendiri ngeliat gue masih ada ilernya gitu.

"Buset, kalo gue ngga dateng, gue yakin lo pasti mandi pas gue dateng, mana tau bulan depan, ya, Har?"

"Yaa, mandi, kan, selama butuh emoticon-Big Grin. Jadi, info apa yang lo dapet?"

"Hmm, gue kepikiran alternatif solusi, sih, bukan info kontak dan lain sebagainya?"

Gue agak kecewa. Ah. Muka gue terlipat dan keknya Nae sadarin itu.

"Daripada lo, Bangke, udah ngga ada info, ngga ada solusi alternatif. Ah, jadi gini...." gue berdiam, nengok ke karahnya, nunggu-nunggu ide apakah yang keluar dari Bu dokter ini, "...lo kepikiran ngga, Har, buat datengin rumah Haruki?"

"Dia udah diusir dari rumahnya, Nae,"

"Kita bisa mulai cari info baru atau alternatif solusi lain dari sana, kalo lo ada ide lebih bagus lagi, gue mendengarkan,"

Gue diem. Nih anak bener juga. Sekarang bukan lagi berdebat soal mungkin-ngga mungkin. Gue mesti nempuh itu selama kemungkinan itu ngga nol sama sekali, kayak gue yang tanpa info di hari ketiga pencarian ini. Novi belum juga ngasih buka gembok medsosnya emoticon-Nohope

"harus sekarang banget kita berangkat?" --ragu gue cuma digantung mengingat perjalanan ke rumah ortunya Haruki itu dari ujung ke ujung Pulau Jawa emoticon-Ngakak (S). dan Nae ngangguk emoticon-Belo

"lo mertimbangin apa lagi, Har? akhir minggu besok. Ini udah sore?"

"tiketnya?"

"gue udah tau lo bakal nanya itu, nih kode booking-nya, besok subuh terbang. tinggal transfer aja, sampe lo iya atau ngga,"

kayak kalo lagi nonton fluxcup di yutup, ada banyak warna yang keliyengan di kepala gue waktu itu. Hanjir, ini serius banget. Terakhir gue pergi dengan begok begini pas ke pantai sama inisial W di awal tahun kemaren. Tau ini gue berasa goblok, pergi sesukanya, tanpa rencana, masih untung ngga nebeng truk pertamina sih emoticon-Malu (S) Yah, gue ngga punya ikatan dengan siapapun sekarang, apalagi, kerjaan gue sekarang satu-dua dipegang Ara. Keluarga gue bakal iya aja selama gue ngabarin. Haruki perlu segera disiapkan. Ngga ada lagi yang perlu dipertimbangkan menuju berat ke ragu untuk ngga berangkat.

dan gue segera mandi dengan benar ketika selesai mengangguk. Gue setujulah. Ngga ada harganya tabungan gue itu, kalo bukan untuk dipake di kondisi darurat begini. Gue pun beralasan ada temen gue yang kimpoi dan sekalian liburan. Yes, ijin udah diterima. Gue ngga tidur di malam itu. Segera berangkat naik bus ke bandara. Sebelah gue, si Nae ini, malah tidur dengan nyenyaknya. Gue kepingin tidur juga, tapi rasanya ngga bisa. Gue menerawang ke luar jendela. Ah, pesawat yang dipilih Nae sungguh tepat, plat merah dengan seragam hijau, potongan dada V dan diataranya ada kain putih. Gue ngga bawa topeng kuda kali ini, tapi gue bisa sekaligus berharap ketemu Novi di perjalanan kali ini.

Sekip.

Ngga semudah itu harapan gue tertunai dengan kenyataan. Maskapai yang sama, tapi bukan Novi yang di sana di keesokan subuhnya itu. Gue malah mikir ngelantur, apa jangan-jangan gue harus ke pulau yang satu itu, dan bersama Gadis, kalo mau ketemu Novi? emoticon-Berduka (S)
Gue terakhir sadar bahkan ketika pesawat belum tinggal landas dan baru bangun ketika ada pemberitahuan kita sampe di bandara tujuan dengan ngga ada perbedaan waktu dengan bandara keberangkatan. Waktu sejam, tidur gue enak dan gue bersiap melakukan perjalanan ini.

Pertanyaan bodoh muncul begitu aja ketika gue bersiap nurunin tas dari bagasi atas: orang tuanya Haruki ada di rumah ngga, ya? kalo ngga ada gimana?

"Tenang, ada nenek gue,"--Nae cuma jawab dengan enteng. Cis, jadi orang tuanya Haruki itu neneknya Nae? emoticon-Hammer (S)

Sepuluh pagi, gue sampe di alamat yang dimaksud. Terakhir kali kesini, beberapa puluh bulan yang lalu, diantara semester 2 atau 4 begitu gue lupa. Sepi menggantung di sela beranda rumah yang besar dan jadul itu. Gue melihat jam tangan sekali lagi, terlalu siang untuk belum bangun, terlalu wajar untuk penghuni pergi untuk suatu urusan. Ketika gue sudah nuker semua ragu dengan keinginan nekat untuk ngetok pintu, ada rem berdecit dan suara setengah bersorak.

"Loh, Harsya, ya?"

cuma mirip, toh wajar, dia adalah ibu dari anak itu, anak yang kita cari-cari selama ini. Mirip, bahkan 'loh'-nya terdengar seperti 'roh' emoticon-Ngakak (S) gue jadi inget pertemuan pertama sama Haruki di awal semester 2 kelas 2 waktu itu. Tentang huruf R yang berlebihan untuk diucapkan....

senyum gue tambah lebar menemui sosok yang satu lagi turun dari mobil, bapaknya Haruki. Mereka tersenyum menyambut gue. Ini pertanda baik. Semoga saja.

"wah, tumben mampir, ayo masuk,"--Bapak Haruki dengan lembut mendorong punggung gue untuk masuk.

"oh, ya, kenalin, Pak, Bu, ini Nae. Temen yang nganter dari bandara sampe sini,"--gue sengaja ngebelokin kenyataan sedikit untuk bagian situ sob. Gue pengen ini jadi urusan pribadi gue seorang. Gue dan Nae udah bersepakat soal ini. Dan orang tua Nae berkenalan hangat dengan Nae. Untungnya, Nae dengan entah kekuatan apa bisa ngomong dan logat Jawa emoticon-Ngakak (S) --gue sebenernya khawatir untuk urusan sebelah situ emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Teh hangat dan kue putri ayu--yang warna hijau, bolong di tengah tapi ngga sampe nembus ke bawah, dengan taburan kelapa di kepalanya--sudah tersaji di atas meja, ketika gue balik ke ruang tamu setelah menyambut tawaran untuk mandi dulu. Yah, gue juga semacam akrab dengan keluarga Haruki. Gue disambit, eh, disambut emoticon-Big Grin bak sanak keluarga yang pulang dari jauh untuk sekian lama. Basa-basi sudah terjadi dan dari sana, gue tau, kedua orang tua Haruki ngga tau Haruki sempet mampir di tempat gue untuk beberapa waktu di kemarin itu.

"Harukinya lagi keluar, Har. Wah, padahal dia mesti seneng kalo tau kamu dateng. Kok mendadak banget, toh, Har?"

Gue tersenyum tipis, "ya, Pak.." sekarang ada 2 opsi kalimat lanjutan yang bisa gue keluarkan: (1) lagi liburan, sekalian silaturahmi. Kalo gue jawab ini, basa-basi akan berlanjut terus dan gue ngga dapat apa yang gue harapkan dengan dateng kesini. Penukarnya adalah gue ngga nambahin lara yang daritadi ditutupin sama beliau berdua. (2) lagi nyari Haruki, nih. Penukarnya adalah gue akan mengingat sesuatu duka bagi mereka. Bagi gue juga. Sasaran gue adalah nomer Novi. Barangkali, mereka sempet punya, atau seengganya, gue boleh selidikin sesuatu catatan yang ketinggalan di kamar Haruki. Semoga masih ada sisa. Di sepersekian detik itu, gue berpikir baik-buruk, enak-ngga enaknya. Ketimbang gue disenggol Nae untuk perjalanan yang percuma, gue milih opsi (2).

dan bener aja, muka mereka berdua langsung terlipat, sedih, kecewa, antara marah juga ada. Suasana diam memeluk kita beberapa saat.

"Harukinya lagi ngga ada, Har,"

"justru saya kesini dalam rangka nyariin dia, Pak, Bu,"

Muka mereka terangkat. Raut muka mereka susah gue jelaskan, antara kaget, harapan, merasa aneh, nyampur aduk jadi satu.Sekalian basah aja deh,

"Iya, Pak, Bu, kemarin Haruki mampir ke rumah saya..."

dan gue menjelaskan semuanya, tapi dengan meminalisir kebencian gue terhadap Farhan. Bisa gawat kali kalo abis itu Bapak Haruki ke belakang rumah terus ambil golok emoticon-Takut (S) emoticon-Ngakak (S) Perasaan gue dikuras lagi ketika ngeliat mereka menyeka pipi mereka yang basah--terutama ibunya yang cantik lagi singset itu. Setelah titik terakhir cerita gue terlepas, Bapak Haruki menunduk dalam. Nah, gue udah siapin diri untuk kondisi yang mengenaskan ini... Nae beberapa kali mendehem, aura prihatin yang terpencar dari Nae bikin suasana ruang tamu yang sebenernya bisa bikin tidur di detik ke-0.988 ketika menginjakkan kaki di sini jadi berat. Berat hingga mata melek dan mengeluarkan air mata.

"Saya lupa sama sekali, dia anak kami yang terakhir (tersisa--untuk bagian ini, imajinasi gue doang, tapi gue semacam bisa nangkep kata-kata ini hendak dikeluarkan), saya nyesel udah semarah itu kemarin. Kami udah cari Haruki kemana-mana, nihil. Semua info ngarah ke Farhan. Dan kami ngga bisa ngelacak ada dimana Farhan itu. Dia keluar dari kantornya dua minggu yang lalu, keluar dari kosannya tiga minggu yang lalu. Artinya, luka ini sudah siap busuk sejak lama. Dia menghilang. Kalau ngga karena ibunya, saya udah nyerah aja. Ibunya selalu keinget gimana kami kehilangan Yuki di kebakaran waktu itu..."

isak tangis mereka berdua--terutama ibunya--semakin dalam. Bapaknya merengkuh bahu ibunya. Nae rikuh sendiri--dalam konteksnya memang, ini sama sekali bukan urusannya. Nae sigap pergi ke sebelah ibunya Haruki dan menawarkan selembar tisu. Disitulah, ibunya bisa sedikit tersenyum--ah, ngenes sekali ngeliat orang yang senyum di tengah tenggelam kesedihan begini.

"Sebenernya, ada satu lagi kemungkinan sumber info, Pak...,"

mereka berdua mengangkat kepala, meraka semacam mencium harapan. Yah, gue ngerasain rasa-rasa itu. Harapan.

"...Novi, Pak. Barangkali, Novi punya info,"

Bapaknya tercenung sebentar. Lantas nepuk pahanya keras-keras.

"Ya, Allah, saya kok baru sadar. Novi itu sering juga kesini. Aduh, kenapa saya ngga kepikir sama sekali. Ya! Ya! Bener banget! Kamu tau dimana dia?"

Gue ngegeleng perlahan, "justru saya kesana untuk nyari info itu, Pak?"

"dengan cara?"

Gue pun nyeritain langkah kongkret ke tujuan itu, lewat medsos, tapi sayangnya, semuanya masih terkunci, yah, baru hari ketiga, eh, keempat sih. "...tapi, saya masih ada celah satu lagi, kalau bapak-ibu berkenan, dan kalau memang memungkinkan, saya pengen coba cari info soal Novi di kamarnya Haruki, Pak, Bu,"

Mereka mengangguk dengan cepat, seolah gue adalah anak mereka sendiri, gue sampe hampir nangis terharu nerima anggukan itu. Kemungkinannya cuma dua, antara mereka sangat memercayai gue seperti anak sendiri atau mereka bosan bertemu ujung buntu suatu alternatif jalan dan kini menemukan suatu titik terang yang harus dicoba sama-sama, oleh kita yang menyanyangi Haruki seperti bagian tubuh sendiri.

"..karena itu, Pak, Bu, saja ajak Nae yang perempuan kemari. Dia teman sekelas waktu SMA, dia temennya Haruki juga. Kita cukup deket waktu dulu, walaupun Haruki lebih deket ke saya ketimbang ke Nae. Makanya, dulu dia jarang main ke rumah,"

Sangat dramatis keliatannya, tapi gue ngeliat itu, definisi itu, ketika dengan lembut ibu Haruki mulai mengenggam telapak tangan Nae. Nae membalasnya dengan lembut. Dia juga udah ngga kuat ngebendung rongrongan air mata haru. Dan, setelah kita berempat melepaskan perasaan yang tertahan, berlembar-lembar tisu kita cabut, usap, dan buang, sampailah gue dan Nae.

Di balik pintu ini, entah ada apa di baliknya, kabar baik atau buruk,

mereka bernama harapan.

Spoiler for anjir sob:
image-url-apps
kang har, semangat cari mbak haruki-chan nya. eh iya, minal aidin walfaidzin kang har emoticon-Salaman , semoga mbak haruki-chan nya segera ketemu emoticon-Cool
image-url-apps
Ijin baca
image-url-apps
haruki san bukan chan...
chan buat pangilan anak perempuan yang kecil di jepang...

update lagi bang....
cerita cinta yang rumit, kalau menutut ane emoticon-Smilie

ijin nyimak ya gan dan keep update emoticon-army

history

Gagang pintu itu begitu dingin.

Quote:


Gue memegang gagang pintu yang dingin itu. Ngga terkunci. Di sepersekian detik itu, berkelebatan isi kamar Haruki. Gue dorong gagang pintu itu ke dalam, maka nampaklah kamar itu, kamar yang ngga terlalu jauh bentuknya sama kelebatan di sepersekian detik barusan. Anjir, gue 'kumat'?

****


"Kamar ini ngga diapa-apain, sejak Haruki terakhir disini," suara Ibu Haruki, baiklah, selanjuttnya mari di singkat jadi Buruki emoticon-Malu (S), terdengar bergetar.

Gue diem di tengah ruangan yang ngga terlalu besar itu. Emang terlihat bukan kamar yang disiapkan untuk ditinggalkan, atau ditinggalkan dengan buru-buru. Ngga diberesin, masih ada tumpukan berantakan di beberapa tempat. Gue fokus sama beberapa pigura foto, yang isinya fotonya, mereka bertiga; Haruki, Novi, dan... Farhan. Di foto itu, yang keliatannya udah agak 2-3 tahun yang lalu itu, Haruki begitu cerah ceria bersinar. Ada semacam letupan di hati gue, sedikit rasanya, tapi sakit. Gue menghela napas pelan, mungkin ini yang mereka sebut cemburu.

"Boleh, Bu?" gue bertanya sopan, hendak melaksanakan niat barusan, dengan perjanjian, gue yang cowok ngga nyentuh lemari baju Haruki--itu tugasnya Nae sama Buruki emoticon-Malu (S) Buruki mengangguk. Gue beranjak ke depan meja belajar yang ada disana. Masih ada laptop Haruki disana. Ah, itu bagian terakhir aja. Gue buka lacinya, rapi, lho--anjir gue ngga fokus. Gue nemu gelang itu, gelang dari gue waktu abisan mudik dan lewat kota Jogja. Gue ngeliatin gelang itu, masih dia simpen lho. Yang punya gue aja udah ngga tau kemana.

"Masih suka dia pake, lho, sampe putus berkali-kali, disambung lagi. Belakangan habis lulus aja, dia suka lupa pake itu," Burukli senyum di belakang gue yang bengong habis buka lacinya. Buruki bener, di beberapa foto di pigura itu, ada gelang itu terlilit di pergelangan Haruki yang ikut kefoto. Gue tersenyum.

Gue beranjak duduk di kursi pasangan meja itu, gue buka laptop Haruki. Gue bertindak tanpa mikir dulu, mau ngapain sebenernya gue sama laptop itu. Ah, sebodolah. Untung, laptop Haruki ngga dikunci, gue bisa langsung akses datanya. Mata gue langsung nangkep folder 'foto'. Aah, gue pengen ngecengin temen sejurusan Haruki emoticon-Hammer (S), ets, jurusan arsitektur mah banyak cowok ya emoticon-Betty (S)? ngga jadi kalo gitu tujuan ngecengnya bhahahha. Ah, pasti ada foto Haruki sama temen-temennya yang mana tau cantik kan, minimal Novi. Anjir, fokus, Har, fokuuus. emoticon-Ngakak (S) Sementara itu, Buruki ditemenin Nae udah mulai ngoprek lemari baju Haruki. Ada folder 'kerjaan', 'kuliah', 'foto', 'selainnya'. Gue beneran buka folder 'foto' dulu emoticon-Hammer (S). dan mata gue langsung lihat folder 'SMA'

folder SMA

gue terdiam dulu. ada semacam letupan lagi di dada gue. gue klik folder itu, taunya isinya kimochi.3gp emoticon-Hammer (S) emoticon-Ngakak (S) eh, ngga ding emoticon-Ngakak (S)

iyak, ternyata pas gue SMA, muka gue alay (sekarang juga) emoticon-Ngakak (S). Gue senyum geli ketahan. Anjir, anjir, ada juga masa ini ya? kata gue dalam hati. Anjir, anjir, foto ini masih di simpen aja. Begitulah, begitulah. Haruki simpen foto yang ngga gue sangka-sangka masih ada emoticon-Malu (S)

10 menit, gue keluar dari folder itu. Nostalgia mari kita tunda dulu, mari selidiki ada data apa yang bisa kita manfaatkan. Mata gue tertuju ke folder 'best friend'

gue terdiam dulu, ada semacam letupan lagi di dada gue. Gue klik dan masuk. Yaps, si Farhan dan Novi yang ada disana. Farhan emoticon-Berduka (S).
Dari foto yang gue temukan itu, semakin genap kesimpulan gue bahwa Farhan emang bermaksud deketin Novi tadinya. Ada foto yang fenomenal banget sob, menurut gue. Mereka bertiga main ke pantai, entah pantai mana. Farhan ngerangkul Novi, ah, standar, Har, ngerangkul doang. Yah, menurut gue agak fatal kalo ngerangkulnya pinggang. Dan foto dengan posisi itu lumayan ngejejer banyak ketika gue pencet keyboard arah kanan. Hmmmm. Kasian Haruki. SMA, gue tau Farhan selingkuhin Widya dengan Nurul yang sahabat Widya pas SMP. Hmmmm. ada letupan lagi di dada gue. Gue bertekad, ini anak mesti ketemu. Gue berpikir, ini aja foto yang dipunya Haruki. Kalo foto yang dipunya Farhan kek mana? foto ciuman sama Novi? Hmmmm...

Enek sama foto di folder ;best friend', gue ngga ngeliat ampe abis. Gue beranjak ke folder foto lain, dan ngga menemukan petunjuk disana. Gue buka folder 'kuliah',wih, Haruki masih nyimpen folder ini, gelagatnya ada sesuatu yang bisa gue temukan disini. Ngga rupanya, di folder itu, gue nemu folder 'semester 7', folder 'semester 6' ke bawah ngga ada. Dugaan gue, laptopnya baru lagi, atau udah dia apus. Gue coba buka folder yang ada. Gue temukan file dengan ekstensi yang ngga gue kenali. Pusing juga kerjaan si Haruki ini deh.

Gue keliling folder lainnya, dan gue ngga nemuin sesuatu tentang Novi, kecuali foto dan foto ngga bisa gue tanyain data diri tentang Novi. Ada sih data diri, tapi itu jurusan Haruki, sedangkan Haruki sama Novi beda jurusan. Gue menangkupkan muka gue ke meja. Gue berpikir, apa, ya, apa, ya. Aha!

"Bu, disini ada internet?"

"Ada wifi, Har,"

Gue lekas menekan browser. Gue liat historynya dulu. Untung aja Haruki yang lagi diselidiki, kalo gue yang diselidiki, pasti history gue udah ngga ada emoticon-Ngakak (S) emoticon-Malu

gue scroll ke bawah, cuma artikel dan artikel. Wah, gue udah deg-degan aja, jangan-jangan, Haruki buka medsosnya dari HP-nya, kalo begitu, percuma aja. Dan ets, gue menemukan salah satu history medsos Haruki. Sebodo, gue langsung nge-klik. Ketika halamannya nge-load, gue berdoa, semoga belum di logout, dan Alhamdulillah! Belum! Medsos dengan layanan chat itu belum Haruki logout! Gue ketik pencarian dengan nama Novi di history chat. Ada! dan belum dihapus! Alhamdulillah. Jalan ini mulai terang! Yes! Gue langsung scroll chat ke atas, tanpa perhatiin dulu apa isinya. Gue berpikir kali ini, ini langkah yang bisa ngebukain jalan menuju Novi. Yes! Chat pertama 2010. Oke. Sekarang gue menuju profile settings medsosnya Haruki. Gue ngeliat email apa yang dia pake. Gue klik jasa penyedia email itu. Dan, Yes! belum di logout juga. Gue segera ngubah password medsos Haruki itu. Gue juga jaga-jaga, gue ubah email buat akun di medsos jadi email gue, di browser lain. Dan, gue berhasil nyolong satu medsos Haruki emoticon-Malu (S). Ketika besok-besok pake chat di medsos ini, gue bisa tau. Ketika besok-besok, gue pengen dengan nikmat chat history sama Novi, gue bisa melakukannya di HP gue. Oke, ini kriminal ngga yah? emoticon-Malu (S)

Helaan nafas gue agak lebih enteng sekarang, seengganya, gue udah megang salah satu ekor. Meski gue agak khawatir juga, udah relatif jarang medsos yang ini dipake orang kekinian. Gue beranjak ke browser history. Oke, ngga ada lagi. Ah, gue kepikiran sesuatu. Kalo email di HP Haruki belum diganti, harusnya history di HP-nya punya koneksi ke komputer ini. Waw, jalan yang terang lagi! Alhamdulillah. Gue pengen bilang, ke Paruki (Bapak Haruki emoticon-Ngakak (S)) sama Buruki, boleh ngga kalo laptopnya buat gue emoticon-Malu (S) Tapi, dibanding nanti gue dipandang kepengin ngabisini harta beda Haruki, ngga jadi emoticon-Big Grin Gue pun cuma mengonfirmasi ke Buruki kalo sering-sering liat browser history laptop Haruki. Barangkali, ada sesuatu disana. Kalo tadi gue liat, terakhir kali Haruki terlacak pake browser di HP-nya sekitar seminggu setelah gue nonjok Farhan di pagi itu.

Sebelum gue konfirmasi ke Buruki, gue hapus history itu dari laptop ini. Gue ngga sanggup semisal Buruki atau Paruki ngeliat history yang itu. Gue ngga tau, barangkali Buruki bisa semaput, barangkali Paruki bisa ngasah golok lagi. Artikel, ada beberapa, bahkan jejak dia nyari kata kunci yang dia cari di google itu begitu tercatat dengan rapi.

"makanan penggugur kandungan"

gue ngga bisa ngebiarin letupan di dada gue ini, pindah juga ke orang tua Haruki. Kasian Haruki, pasti Farhan yang pinjem HP Haruki terus nyari kata kunci itu emoticon-Mad
×