alexa-tracking

Perempuan di Balik Hujan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55a195f0d89b09bf2c8b456b/perempuan-di-balik-hujan
Perempuan di Balik Hujan
Judul: Perempuan di Balik Hujan

Sambutan:

Sepenggal cerita ini didedikasikan untuk sahabat ane, karena terinspirasi dari kisahnya, setengah non fiktif dan sisanya fiktif. Sahabat ane juga sudah mengizinkan cerita ini buat diposting. Nama yang digunakan juga nama khayalan, tapi ada juga beberapa yang “mirip-mirip”. Kami bersahabat 7 orang sejak kelas 1 SMA, di dalam cerita ini gak hanya dikisahkan tentang perjalanan cinta salah seorang sahabat ane yang disini bernama “Vin”, tapi juga sedikit menceritakan masing-masing tokoh di dalam kelompok persahabatan ini. Namun tetap, tokoh utama adalah Vin.

Vin, perempuan di balik hujan, yang hanya mampu mencintai seseorang dalam diam.. entah sampai kapan ia bisa memendam perasaannya..


Index:
Catatan Hati Vin
1. Sepasang Bola Mata Mencurigakan
2. "Bas" dan Bunga Yang Bermekaran
3. The Devils
4. Titik Terang Tentangnya
5. Permainan Tiki-Taka
6. Puzzle 1
7. Sedingin Dia



Catatan Hati Vin:
Quote:


Sinopsis:

Dia selalu membangga-banggakannya. Dia selalu memamerkannya, memangnya kenapa? Kalau aku memilikinya, tak perlu berlebihan layaknya anak kecil yang dijanjikan balon oleh ibunya untuk sekedar “meredam” tangis sesaat.

Dia punya segalanya. Dia bisa memilikinya. Tapi aku? Aku punya orang-orang hebat di sekitarku…. Amih, Apih, Bang Leo, Mamang, Maryam, Lily, Hasan, Otong, Dilla, dan Rara.

Dia… ah sudahlah. Perempuan itu mencintai laki-laki yang sama. Dia tahu itu. Kita sama-sama tahu. Aku terluka, namun entah bagaimana dengan dia. Aku tak peduli lagi. Tapi sebagian diriku yang lain mengingkari untuk tak peduli dengan laki-laki itu. Aku mencintainya.

Hingga suat saat aku pergi menjauh, bukan karena tak sanggup melihat dia bersama dirinya. Tapi satu mimpi besarku menunggu disana, di daratan jauh ratusan kilometer darinya.

Saat aku kembali, apakah semuanya berbeda? Akankah berubah seperti dulu, sebelum “kamu” mengenal perempuan itu?

Karena aku percaya, waktu takkan tega menghianati….


Prolog: Aku Melihat Sketsa Wajahmu

Dia mengaduk-ngaduk kopi di hadapannya, setidaknya sejak beberapa menit lalu saat pandanganku tak sengaja tertuju ke arahnya. Namun tatapannya tak tertuju pada satu titik pun, ia membebaskannya. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, nampaknya secangkir kopi yang ia pesan pun sudah terlanjur dingin. Ia sendirian di meja itu, hanya ditemani beberapa buah buku semacam jurnal dan satu buku agak tebal, dengan laptop setengah tertutup.

“Vin…”

Aku tersadar dari lamunanku sendiri, maksudku terbangun dari pikiranku yang menebak-nebak apa yang terjadi pada pria yang duduk tak jauh di depan meja kami.

“Kok bengong?” Maryam melambaikan tangan kanannya tepat di depan wajahku.

“Liat deh pria itu, kasian ya, lagi galau berat kayaknya.. sampe segitunya.”

“Haha, kamu dari tadi ngeliatin dia?”

Aku cuma mengedikkan bahu sebagai balasan pertanyaan Maryam tadi.
---

Hari itu adalah pertemuan yang sangat spesial dengan sahabatku Maryam, setelah tiga tahun kami berpisah dan masuk Universitas yang berbeda, di kota yang berbeda pula. Namun entah mengapa aku selalu tertarik memandang ke arah pria dengan tatapan kosong itu. Aku baru menyadari suatu hal dalam diri pria itu yang juga mirip dengan…. Seseorang di masa lalu yang udah membiarkan sekeping hati ini terluka, amat dalam.

Tapi aku buru-buru menghilangkan ingatan itu, karena aku sadar hari ini jarang banget bisa ditemukan. Waktu untuk bertemu sahabat akan sangat berharga dibanding memikirkan hal yang “kurang” jelas. Tapi sebagian dari sel neuron ini menolak, tiba-tiba saja ingatanku melayang ke masa-masa itu, dua tahun yang benar-benar udah menguras banyak waktu, pikiran dan nyaris menghabiskan “sisa” perasaan di hidupku.

image-url-apps
wohuy masih anget cerita baru nih .
izin gabung dimari ya kaka emoticon-Embarrassment
Quote:


masi baru diangkat dari panci ni gan emoticon-I Love Indonesia (S)

asik makasi udah nyempetin singgah di cerita nyubi gan emoticon-Blue Guy Peace
ditunggu kritik dan saran ntar nya emoticon-Malu (S)
KASKUS Ads

Part 1. Sepasang Bola Mata Mencurigakan

Oktober, 2010.

“Ayo Vin, giliran kamu.” Teriak salah seorang anak X-8 saat giliranku tes nge-dribble bola basket sebagai ujian praktek olahraga tiba.

Aku nggak terlalu bisa basket dan emang jarang main juga. Jadi ya nilaiku di mata pelajaran olahraga ini nggak bagus-bagus banget. Tapi kalau di bidang voli, futsal, senam lantai, beuh jangan ditanya… sama-sama nggak jago juga. Hehe.

Lalu tibalah saatku, aku melancarkan aksi yang diajarkan Maryam kemaren, walaupun tuh anak sama nggak jago juga.. tapi setidaknya dia udah membuat percaya diri. Lemparan pertama ke keranjang bercat biru itu meleset sedikit, awalnya si bola emang udah muter-muter hampir masuk, tapi ya begitu cuma muterin ujung-ujung ringnya aja, dramatis banget emang. Dan di belakang terdengar anak-anak kelas X-8 bahkan anak kelas lain pun ber “Yahh” kecewa. Oke gapapa, masih ada dua kesempatan, Vin. Semangat.

“Vinnnn!!!! Cemungut!!” Kali ini si Otong dengan wajah lugunya teriak menyemangati, keras banget, khas dengan suara agak “melenting”.

Entah mengapa wajah itu selalu berhasil menghibur siapapun yang emang lagi bete atau galau.

Aku cuma membalasnya dengan kedipan mata, dan seperti biasa ia mengibaskan jambulnya, merasa kegantengan.

Lemparan kedua berhasil, mulus banget. Begitupun dengan lemparan ketiga. Dan yang lain pun heboh ber “yeay” nyampe tepuk tangan segala. Tapi aku seperti menangkap sesosok bola mata yang juga menatap ke arahku dan tersenyum, tapi aku gak mau terlalu geer. Aku memilih menghabiskan istirahat ke kantin bersama kawan “se-geng”.

“Vin, ayok.” Lily meraih tanganku dan menyeretku ke kantin, mengikuti langkah Otong dan Maryam di depan.

Kami berempat bisa dibilang se-geng di X-8. Kemana-mana pasti bareng, pulang sekolah pasti duduk-duduk dulu di depan mamang cilor di depan sekolah, sekedar untuk ngobrol atau ngeliatin orang lewat. Kurang kerjaan memang, tapi ini udah semacam rutinitas bagi kami. Setidaknya dengan begini, akan ada banyak waktu buat kami bersama.

Ohya, Cilor ini jajanan khas sunda. Bentuknya sedikit mirip cilok, namun Cilor ini terbuat dari aci yang digulung pakai telor, tapi telornya nggak menutupi semua aci nya. Gitu deh pokoknya. Diantara kami yang hobi banget makan cilor ini ya Maryam, makanya bentuk wajahnya emang bulet gitu tapi lucu.

Kalau Otong hobinya ngejailin orang, entah ke cewek maupun cowok. Gayanya juga khas, baju seragamnya sengaja disetel setengah masuk dan setengah keluar sabuk celana itu, tingkah konyolnya yang selalu bikin semua orang ketawa, banyolan khas nya kalau bertemu guru BP atau saat ada razia kerapihan seragam di kelas. Orang ini jarang banget serius. Kalau sekalinya serius pun pasti ujung-ujungnya dia ngebodor lagi.

Beruntung aku punya mereka. Oh ya, Otong ini nama aslinya Ali Muhammad F. Sangat disayangkan nama sebagus itu jauh-jauh menjadi “Otong”. Tapi karena nama itu sudah melekat pada dirinya sejak SD, jadinya teman-teman di SMA yang mengenalinya memanggil Ali dengan sebutan Otong, maka pupus sudah kemungkinan nama “Ali” kembali pada dirinya. Ngomong-ngomong, huruf “F” pada nama belakang Ali itu bukan singkatan. Namun memang begitu namanya.

Kalau Lily, anaknya feminin dan berjilbab. Lily ini bisa dibilang idola cowok-cowok di kelas, karena memang cantik dan cerdas. Tapi Lily terlalu jutek dengan cowok-cowok itu, walaupun begitu cowok yang naksir Lily di kelas tetap gak berkurang, malah nambah banyak. Dan Lily memang tidak mau melepas status jomblo nya, dan belakangan setelah kami dekat, aku tahu kalau Lily memang sengaja menunggu seseorang yang tepat, dalam waktu yang tepat. Selain itu Lily juga memang mempunyai seseorang yang di harapkannya.

Satu lagi sahabatku, Maryam. Anaknya nggak feminin, suka dikuncir kuda rambutnya. Jika kita membujuk dia untuk membuka ikat rambutnya itu, pasti dia bilang, “Males ah gerah. Hehehe.” Diantara kami berempat yang paling jutek ya Maryam. Anaknya juga cuek sama cowok, kecuali yang udah dekat banget sama dia, Otong misalnya. Ngomongnya juga ceplas ceplos dan terkadang nyakitin, apalagi sama cowok yang dia nggak suka. Kalau kita lagi ngerumpi soal gebetan, Maryam cuma bisa merhatiin dan sedikit menanggapi. Ia belum tertarik nampaknya, entah mungkin akan berbeda satu atau dua tahun ke depan.

Aku sendiri, K-Pop Lovers, Motogp Lovers dan Chocolate addicted. Walaupun diantara kami berempat tidak ada yang suka K-Pop selain aku, aku tetap merasa nyaman dan nyambung sama mereka. Kami ini sudah tidak bisa dipisahkan, istilahnya yah sudah sejiwa, sepemikiran, sepemahaman. Aku juga bahagia dengan persahabatan kami yang memang tidak dibuat-buat, menghabiskan masa SMA dengan banyak cerita, cerita konyol, cerita cinta. Nah kalau cerita cinta ini macem-macem, ada cerita cinta tak terbalas, ada yang terbalas namun tidak bisa memaksakan, ada yang memang sengaja menyimpan perasaan.

Hmm… menyimpan perasaan itu indah, kawan.

--- back to sehabis olahraga ---

Saat itu, seusai pelajaran olahraga dan kami berempat ke kantin, sepasang bola mata yang sejak tadi terlihat mencurigakan namun senyumnya manis dan “cowok banget” itu tahu-tahu udah ada di pinggirku, saat aku baru saja akan menyuapkan batagor ke mulutku. Lalu si pria watados itu angkat bicara,

“Punten, teh. Boleh geser sedikit?”.

wah masih anget nih, numpang gelar tiker disini gan ditunggu apdetnyaaemoticon-Shakehand2 emoticon-2 Jempol
Quote:


monggo disimak gan,
ini baru mau apdet emoticon-Malu (S)

Part 2. “Bas” dan Bunga Yang Bermekaran

Sepagi ini, gerimis memenuhi langit Antapani. Aku enggan bangkit dari depan komputer. Secara fisik memang udah siap tuk sekolah hari ini, tapi rasanya game Asphalt 3D Street Rules Racing milik Bang Leo punya gravitasi lebih besar dibanding wajah ngeri Mr. Thasid yang selalu membayangi “Matematika” setiap Rabu pagi.

Tapi, demi teringat senyum jahil Otong saat akan melakukan sesuatu yang “nekat” ngerjain temen di kelas, atau omongan pedas Maryam saat berhadapan dengan rival abadinya, Sam dalam memperdebatkan Klub Sepakbolanya, atau wajah salting Lily saat bertemu gebetannya sejak 3 SMP yang juga salah satu anggota tim beladiri Silat yang katanya keren badai itu. Badaii~ , otomatis batin ini tergerak untuk tetap semangat ke sekolah walau kurva kemalasan di bulan Oktober ini sedang berada di angka tertinggi.

Ah, sesuatu berkelebat dalam bayanganku, dan dengan begitu saja aku mendapati diriku yang senyum-senyum sendiri. Laki-laki itu? Siapa ya namanya?

Tiba-tiba aku merasa ganjil, dan loh, malah teringat laki-laki yang kemarin ‘sedikit’ menggangu makan siang di kantin. Kemarin dia dan seorang temannya ngobrolin seputar motogp,

Quote:


Saat itu Maryam heboh menyikut lenganku, dan dia terbatuk-batuk. Hah, palingan maksud ni anak: “Vin, tuh anak sama kayak kamu, motogp lovers dah.”

Aku terbatuk kecil, sebagai balasan “setuju” pada Maryam. Lalu kedua laki-laki itu bergantian menatap kami. Tapi kami acuh.
---

Rabu pagi ini, ada ujian matematika dadakan. Kami panik karena enggak kepikiran sama sekali kalau hari ini akan ada ujian. Berbagai respon atas bentuk protes siswa pada Mr.Thasid bermunculan. Jelass, kebanyakan murid gak akan suka dengan sifat guru yang selalu secara sepihak memutuskan suatu hal. Tapi kertas-kertas itu terlanjur dibagikan ke setiap bangku. Ah, melihat angka-angka ini, entah mengapa menjadi begitu menyebalkan. Padahal biasanya aku terima-terima saja kalau ada hal seperti ini, karena aku cukup menyukai pelajaran ini.

Saat wajah suram anak-anak kelas mulai kelihatan, begitupun diriku, tiba-tiba semilir angin yang berembus dari arah kelas X-4 samar-samar tercium ke arah kelasku. Secara tak sadar ujung-ujung bibirku tertarik perlahan, ada aura positif yang membuatku semangat melanjutkan persoalan “unik” di kertas di hadapanku.

Seseorang yang dipanggil “Bas” itu melewati pintu kelasku yang dibiarkan terbuka.
---

Jadwal hari rabu memang selalu padat. Jam tiga sore semua kelas X baru selesai berkutat dengan buku dan papan tulis putih yang nampaknya tidak seutuhnya putih lagi~ karena berulangkali tulisan dihapus disana, meninggalkan bekas hitam dan anehnya masih dipaksakan untuk ditulisi, ah aku benci saat-saat seperti ini. Maka di sela-sela pelajaran siang hari, saat sisa energi bahkan tidak mencapai tiga puluh persen itu~ kami selalu melakukan hal ini; cari alasan izin ke luar kelas.

Aku selalu suka idenya Otong kalau begini caranya,

Quote:

Aku dan Maryam saling bertatapan, seakan kami sepemikiran. Saat itu memang jam 13.40. ngapain tuh si Otong?

“Hee.. Iya Bu. Shalat sunnah.”
Bisik Otong genit pada Bu guru cantik itu.

Dan Ibu cantik itu membiarkan Otong “Shalat Sunnah”. Namun entah apa yang dilakukannya, kami ragu akan tampang Otong yang memang tidak pernah serius. Tapi, siapa tahu dia memang benar-benar ke mesjid.

Tiba-tiba Maryam menarik-narik ujung lengan bajuku. Ia memaksa ingin keluar juga disaat tugas masih belum beres. Masalahnya ia kemana-mana selalu ingin ditemani. Aku memutar bola mata kesal.

Quote:
---

Di mesjid pasti si Otong nungguin kami. Tanpa basa-basi, selepas soal bahasa inggris selesai, Aku dan Maryam minta izin ke luar kelas, diikuti dengan Lily dan teman sebangkunya Dilla, ya alasan klasik: Ke Toilet. Karena sudah biasa kalau perempuan ke toilet pasti rombongan dan itu gak terlalu dipermasalahkan.

Kami keluar dengan wajah hepi, dan untuk ke mesjid memang agak jauh, melewati kelas X-7, X-6, X-5 dan X-4. Hey, X-4 ya. Pikiranku melayang pada si “bas” itu. Hmm dia ada di kelas gak yaah. Aku segaja berjinjit melewati kelas itu, karena kaca jendelanya setengah tertutupi, dan agak sulit untuk melihat siapa yang ada di dalam. Namun sia-sia, tetap kurang jelas terlihat.

Tapi di ujung sana ada suatu peluang. Ya, pintunya terbuka. Dan di bangku paling ujung, baris kedua dekat jendela, dia yang namanya “Bas” itu dalam posisi berbalik ke belakang, entah sedang apa. Namun kutebak, kalau tidak main poker ya pasti main catur, atau paling tidak gapleh. Aku berkesimpulan begitu karena memang suasana kelas lagi ribut-ributnya dan tidak ada guru.

Sebuah senyuman mengambang di bibirku. Mendadak kuncir rambut Maryam dari belakang terlihat seperti setangkai bunga yang belum lama lagi akan mekar, dan saat ia bergoyang ke kanan - ke kiri seiring Maryam yang berjalan riang juga nampaknya~ setangkai bunga itu berubah menjadi tarian kecil di sebuah padang rumput hijau dan luas. Lalu aku ikut menari disana, merasakan aroma rerumputan yang juga bergoyang anggun. Syalalalala~

Aku bebas, dan belum pernah mengalami perasaan sebebas ini, setenang ini, se-menggelitik ini. Aku berputar dalam tarian yang diiringi simfoni tawa yang dipenuhi bunga. Ah, aku tertawa kecil, mengingat diriku yang tiba-tiba merasa menjadi “bunga” itu. Dan saat aku melakukan putaran dalam tarianku yang terakhir, sesuatu mengenai kepalaku, sakit sekali. Aku melihat sekelilingku, tak ada orang lain disana. Namun samar-samar aku melihat si “Bas” itu. Aku kembali tersenyum dan kali ini pipiku terasa sakit, seperti ada serangga yang menggigit.

Quote:


Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku mengikuti Maryam, Lily dan Dilla mengambil wudhu.

Part 3. The Devils?

Kami shalat sunnah di mesjid yang terletak beberapa meter dari kelas X-4. Saat itu memang kebetulan ada siswi dari kelas lain yang shalat dzuhur. Dan stock mukena di lantai atas mesjid hanya tersisa tiga pasang. Dilla merelakan mukena itu untuk Aku, Lily dan Maryam. Baiklah, Dilla hanya perlu meminjam setelah kami selesai. Tapi rasanya hal itu salah… salah besar.

Pada rakaat pertama saja Maryam sudah tak tahan, nyaris tertawa mendengar celetukan Dilla dengan suara cempreng nya itu. Maryam berusaha mati-matian menahan tawa supaya tidak batal shalat. Aku dapat merasakannya karena bahu Maryam berguncang lumayan hebat di sampingku. Aku mencoba untuk Khusyuk. Begitupun Lily.

Hingga mendekati sujud di rakaat terakhir, Dilla kembali nyeletuk.

Quote:


Sontak Aku, Lily dan Maryam batal shalat saat itu juga. Sedangkan Dilla tertawa puas dan tetap mempertahankan posisinya duduk di depan pagar lantai atas yang jika kita diam disana akan terlihat aktivitas yang sedang terjadi di lantai bawah mesjid. Jadi dari tadi dia mengamati anak laki-laki yang sedang shalat jamaah.

Tiba-tiba aku melihat wajah murka Maryam. Tidak pernah aku melihat dia dengan ekspresi seperti ini, biasanya dia gampang tertawa meskipun ada suatu hal yang tidak terlalu lucu. Tapi ini? Aku dan Lily menatap dia heran.

Dia berjalan ke arah Dilla, dan Dilla yang seolah merasakan ada aura aneh di belakangnya kaget dan perlahan beringsut mundur ke belakang, menempelkan punggungnya ke rak mukena, dengan ekspresi cengengesan. Tapi demi melihat tampang kesal Maryam, ia tidak lagi cengengesan dan seakan berubah menjadi rasa bersalah.
Quote:


Dan kami berusaha untuk khusyuk kali ini. Harus banyak beristighfar kalau setiap hari semacam ini.
---

Dilla dan Maryam nampaknya baikan kembali setelah kejadian konyol di mesjid tadi. Lily mampir di kantin sebentar, beli permen cap kaki yang sudah jadi kebiasaannya. Sedangkan Aku berusaha menanggapi curhatan Otong tentang cewek yang sedang ditaksirnya. Hmm dalam hati aku berpikir, kapan aku bisa berani cerita pada mereka soal cowok X-4 itu. emoticon-Malu (S)

Otong cerita panjang lebar soal gebetannya yang juga satu sekolah dengan kami, tapi dia masih merahasiakan identitas gadis pujaannya itu. Dia hanya menggambarkan kalau perempuan itu udah mulai dia sukai sejak pandangan pertama. Wiiih, jadi keingetan siapa gitu kalau cerita soal kayak gini. Pandangan pertama pula. Hehe.

Dari belakang, Aku dan Otong melihat Dilla yang merangkul Maryam, dan Maryam seperti biasa nampak risih karena geli. Ia paling tidak suka jika ada orang yang memegang sedikit saja bagian bahu dan lehernya, karena menurutnya itu sangat geli. Dan itulah kelemahan Maryam yang kita ketahui. Hehe jadi kalau mau jahil ke dia mah mudah saja. emoticon-Hammer (S)

Tapi Aku merasakan hal yang ganjil saat itu, Dilla seperti ingin membalas dendam atas perlakuan Maryam tadi. Dan benar saja, saat Maryam mendekatkan telinganya ke arah Dilla yang seolah akan berbisik sesuatu, ternyata Dilla dengan mudahnya berteriak tepat di pinggir telinga Maryam.

Haduh, The Devils memang tiada hentinya “perang” kecil. emoticon-Cape d... (S)

Part 4. Titik Terang Tentangnya

Aku bahkan tidak pernah mengira di masa SMA ini akan menemukan “persahabatan” yang begitu luar biasa. Apalagi sejak bergabungnya Dilla dengan kami, anak itu kocak abis, sebanding lah dengan Otong. Wajah Dilla yang memang cantik-cantik arab, dengan jilbab sederhana, tapi kelakuan konyolnya sudah tidak bisa dihindarkan. Dan itu memberikan nuansa baru bagi “geng” kami.

Aku jamin, hidup di sekolah yang awalnya biasa-biasa saja, datar, garing, berangkat-belajar-pulang-belajar di rumah-nonton tv, rutinitas yang terlalu mainstream itu akan berubah, saat kita dikelilingi orang-orang yang selalu membuat kita tersenyum. Entah bagaimana lagi aku akan mengatakan tentang sahabat ini. Terlalu banyak perasaan indah karena mereka, dan karena dia…

Ah ya, dia. Senyumnya, caranya memegang sendok saat makan di kantin tempo lalu, tubuh tegapnya, tingginya, cara dia tertawa saat teman-temannya bergurau, cara dia berjalan~yang kupikir seperti penguin, ah lucu jika aku membayangkan hal itu.

Tapi ya belum banyak yang kuketahui tentang dia, ini baru beberapa minggu setelah aku mendengar suaranya di kantin itu, padahal dulu aku memang pernah melihat dia, namun sejak di kantin itu, semua yang ada pada dirinya entah mengapa berubah menjadi deskripsi lagu-lagu yang sering kudengarkan.

Aku ingin mengenalnya, mencoba berbicara melalui sorot matanya yang kupikir ada sebuah dunia disana. Membayangkan betapa beruntungnya orang-orang yang bisa dekat degan dia, ah tapi nyaliku terlalu ciut. Aku hanya mampu menatapnya dari belakang, berdiri di balik punggunya yang tinggi itu. Eh, bahkan aku belum tahu nama si “Bas” itu. Astagaa..

Sebuah ide yang akan menjadi titik awal kisah ini, mungkin, terbersit di benakku…

“Semangat, Vin.” Aku berbisik pada diriku sendiri.
---

[
Quote:


Saat itu anak-anak di kelas sedang sibuk menyalin PR kimia. Hanya bebaerapa yang bisa “fokus” mendengar sapaanku. Tapi aku tak peduli, tetap tersenyum di pagi yang indah ini. Ah, indah sekalii emoticon-Kiss (S)

Quote:


Entah mengapa semua orang hari ini terlihat cantik dan tampan. Ingin rasanya aku nyubitin pipi Lily yang sedang fokus baca novel sambil senyam-senyum sendiri. Atau menyisir jambul kesayangan Otong., ah atau nyubit idungnya Dilla yang mirip perosotan itu~ sempurna.

Eh, tapi pagi ini aku tidak melihat Maryam. Apa dia terlambat? Ah tapi biasanya dia datang tepat waktu sih.

Akhirnya aku mengetikkan SMS pada Maryam,

“Marrr… dimana?”

Namun hingga bel masuk tiba tak ada balasan darinya. Ah, mungkin tuh anak bangun kesiangan, eh atau jangan-jangan lagi sakit?
---

Selama pelajaran terakhir berlangsung aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Belum ada balasan dari Maryam, aku takut sahabatku itu kenapa-napa. Sudah empat sms dan lima panggilan yang memang tidak dia angkat. Tidak biasanya dia seperti ini. Padahal tadinya aku mau cerita soal si “Bas” itu pada Maryam.

Namun untunglah hari ini jadwal pelajaran tidak terlalu padat dan kami bisa pulang cepat hari ini. Selepas pelajaran terakhir yang tidak benar-benar kami pahami itu, Aku, Otong dan Lily langsung menuju rumah Maryam di daerah Soekarno-Hatta. Dilla tidak ikut, karena ia ada acara keluarga.

Aku langsung mengambil motor di parkiran, sedangkan Lily ikut ke motornya Otong. Entah mengapa perasaanku kurang enak saat ini. Lily yang seolah bisa membaca pikiranku, dengan sikapnya yang biasanya rempong, kali ini terlihat tenang dan mencoba membuat pikiranku rileks kembali,

Quote:

Otong langsung menarik gas motornya, dan ia melirik ke arahku dengan menaikkan sebelah alisnya. Masih dalam posisi motor yang hendak seperti akan “Jumping.”, atau bahasa sundanya jemping.

Haduh, pasti ini anak beranggapan seolah ia menjadi Casey Stoner yang saat itu sedang panas-panasnya dan selalu berada di podium pertama di race Motogp. emoticon-Hammer (S)

Kami keluar parkiran sekolah dan siap membelah jalan Jakarta-Kiaracondong dan tembus Soekarno-Hatta. Dan saat hampir tiba di ruas jalan Soekarno-Hatta atau By-Pass, ada sesuatu dari jauh yang menyilaukan mata, berwarna hijau, berkepala bulat hitam, dengan sarung tangan kulit hitam untuk sebagian dari mereka, berkeliaran di pinggir jalan dan dengan tega menangkap orang yang “kurang meyakinkan” saat melewatinya.

Astagaa…. POLISI!!! emoticon-Takut (S)
---
image-url-apps
wah ada cerita baruu.. numpang pasang tenda yak emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


iya ni gan, sebelum lebaran apdet dulu emoticon-Peluk

silakan gan, mungpung masih lapang emoticon-Shakehand2

biar sekalian ane sediakan api unggun juga emoticon-Rate 5 Star
image-url-apps
Gile catatan hatinya keren bener.. dalem bgt kyknya ini cerita.. hahaha
image-url-apps
Beneran penulis nih kyk ny ts. Kata katanya udah kayak novel aja. Hehehehe emoticon-Big Grin
image-url-apps
now playing : secret admirer by mocca emoticon-siul
image-url-apps
Quote:


dalem banget gan.. sampe air dalem sumur pun gak keliatan, gelap emoticon-Takut

doain aja ada penerangan ntar ya emoticon-Peluk
image-url-apps
Quote:


iya, ts emang penulis..
penulis buku diari yang suka iseng dibaca orang cobak gan emoticon-Mewek
image-url-apps
Quote:


hihi, jadi secret admirer tuh yaa.. kerasa gan emoticon-Frown

Part 5. Permainan Tiki-Taka

Layaknya permainan sepakbola atau kick-boxing yang selalu Apih dan Bang Leo lihat di TV, Polisi-polisi itu juga mempunyai taktik dalam “Menarik” lawan. Tidak perlu repot-repot melakukan penyerangan terhadap lawan, karena satu langkah kecil namun mematikan ini akan menjadi senjata ampuh dalam permainan ini. Aku bergidik ngeri jika membayangkannya. Dan setelah senjata ampuh itu mengenai sasaran, dengan mudah mereka melancarkan aksi selanjutnya; bertanya atau sering kita sebut “wawancara kecil.”

Dari yang aku pikirkan selama ini, permainan Tiki-Taka yang digosipkan milik FC Barcelona asuhan Pep Guardiola pada jaman itu, 2010-2011, diterapkan oleh “pihak” berbaju hijau itu. Mengingat gaya mereka yang juga melakukan “Umpan pendek” dengan pergerakan yang dinamis, kemudian menyerahkan sang “bola” pada saluran yang tepat akurat, lalu menguncinya dalam pertahanan penguasaan “bola” itu.

Dan “bola” itu kini menjelma menjadi seorang Vin. emoticon-Hammer (S)

Huft, mereka selalu punya berbagai cara dalam memainkan “bola” itu dengan lihai. Dan kini aku terjebak dalam permainan Tiki-Taka itu.
Aku yang kaget melihat segerombolan berbaju hijau itu, heboh mengklakson Otong yang berada beberapa meter di depanku. Namun nampaknya ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini, ia malah sengaja melewati kerumunan polisi itu, bahkan dengan Lily yang tidak menggunakan helm.

Aku panik, apakah harus melalui jalan memutar, jalan tikus atau kemana? Biarlah aku tersesat di jalan tikus atau jalan apapun asalkan jangan tertangkap seragam hijau itu. Akhirnya aku mengikuti langkah sesat Otong, membiarkan diri masuk ke dalam perangkap pemain tinju kelas dunia “Mayweather” yang dikabarkan “selektif” dalam memilih lawan.

Floyd Mayweather yang memiliki rekor fantastis 47 kali menang tanpa kekalahan, kali ini dengan mudahnya menangkap “anak baru” sepertiku yang memang jelas-jelas bukan lawan yang seimbang. Maka pendapatku pribadi, seragam hijau ini selalu menghindari “petinju berat.” Hih, barangkali dia ingin mempertahankan reputasinya yang sebanyak 47 kali itu. Aku menghembuskan napas kesal.

Berbeda dengan polisi yang dilewati Otong dan Lily. Mereka layaknya petinju sungguhan abad ini, Manny Pacquiao yang beranggapan bahwa kami bukanlah tandingan selevel. (hehe, maaf bukannya ane subjektif dan lebih memperlihatkan kecondongan pada suatu “Tim”, tapi memang agan-agan disini mendukung Pac-Man kita Tho?) emoticon-Big Grin

Aku kini tertangkap polisi itu. Ia memintaku mengeluarkan surat-surat STNK dan SIM. Aku mennyerahkan STNK, dan sisanya tanganku hampa. Polisi itu murka, dan aku ketakutan. Tolong, siapapun tolong aku…

Aku kehabisan akal disini, karena panik duluan. Padahal biasanya aku selalu tenang dalam menghadapi masalah. Tapi ini lain lagi, ini jalanan besar. Dan aku baru menyadari itu, kenapa tadi tidak lewat jalan memotong saja? Ah, sudahlah. Terlanjur.

Aku merasa kecil disini, ingin rasanya aku menangis. Meminta bantuan Apih atau Bang Leo. Tapi apa daya, polisi itu hampir mengeluarkan surat tilang untukku. Mataku mulai terasa berat menahan air mata. Setetes air mengalir melewati hidung dan kemudian sesuatu terasa asin, eh?

Aku menangis tanpa suara saat itu. Entah kenapa aku mendadak menjadi cengeng seperti ini, padahal biasanya seberat apapun masalah di hidupku, aku selalu berusaha menutupinya. Jangan sampai ada air mata hanya untuk masalah kecil. Ah, mungkinkah karena disampingku tak ada Otong, Maryam, Lily yang biasanya membuatku tertawa dan merasa aman. Hey… toloong Aku.

Polisi itu sibuk “mewawancaraiku”. Dan aku segera mengusap air mataku.
Quote:


Di saat air mata udah terlanjur mengalir seperti ini, bahkan aku masih berusaha nyengir di depan Pak Polisi itu.

Quote:

Aku mencari ide untuk beralasan di depan polisi ini.

Quote:


Tapi aku salah, polisi itu tetap pada pendiriannya.

Namun, di saat lilin harapan terakhir nyaris padam, seseorang kembali menyalakannya dengan mentransfer cahaya dari lilin itu ke lilin yang lain. Ah, aku selalu suka saat-saat seperti ini, mirip dengan adegan film korea yang selalu kutonton.

Masya Allah… dia yang bernama “Bas” itu~yang sekarang sudah kuketahui nama aslinya, tiba-tiba muncul bagaikan “pangeran” yang akan menyelamatkan “putri” dari cengkraman raksasa. Hehehe. Sebagian otakku mulai merasa kegeeran lagi.

Dia berbicara dengan polisi itu, selang beberapa menit aku ingin menguping pembicaraan mereka, namun sia-sia. Aku tak terlalu mendengar dengan jelas apa yang mereka perdebatkan. Tapi, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia mengajakku pergi dari kepalan Tiki-Taka itu, dan saat aku hendak menyalakan motor dan pergi dari sana, polisi itu berteriak,

Quote:


Aku mengikuti “Bas” pergi, dan dia berhenti di pinggir toko baju dekat rumah Maryam. Lalu, dia berkata sesuatu,
Quote:

Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Suara itu, bagaikan melodi di pagi hari yang selalu ingin kudengarkan dan kupahami.
Aku mengerjap-ngerjap, seolah baru tersadar dengan apa yang terjadi,

Quote:


Ia berlalu, dan aku merasa kehilangan. Bukan, bukan karena dia tidak berada disini lagi, tapi sebagian hatiku telah dibawanya pergi. Aku kehilangan. emoticon-Malu (S)

Part 6. Puzzle 1

Aku akhirnya bertemu Otong dan Lily di depan rumah Maryam. Haduh, rasanya ingin aku mencak-mencak ke si Otong, tadi bukannya ngebantuin bebas dari tilang, eh malah ngilang gitu aja.

Tapi niatan itu urung begitu saja saat melihat wajah Otong yang bete, dan Lily yang duduk memangku lutut di depan pintu.

Quote:

---

15 menit berselang. Tetap tak ada tanda-tanda Maryam akan datang. Dan disaat yang bersamaan, dari kejauhan terlihat asap hitam mengepul, dan bukan asap biasa, tapi… hah, kebakaraannn???

Aku panik dan memaksa Otong dan Lily untuk mengecek kesana, karena aku tahu di daerah sana ada warnet punya abang sepupunya Maryam. Dan dia biasa main-main kesitu kalau lagi gak ada kerjaan, ya sekedar membuka facebook atau twitter. Siapa tau aja Maryam memang disana.

Quote:

Kami bertiga hanya melongo.
Tapi syukurlah Maryam baik-baik saja.
---

Quote:

Hmm saat itu aku rada ganjil aja dengan sikap Maryam. Biasanya ia rajin masuk sekolah, dan juga tadi seperti ada yang ditutupi, tapi apa ya?
Tapi aku segera kepikiran tentang si “Bas” itu, dan kupikir inilah saatnya aku cerita ke teman-teman soal dia. Hehehe.
Quote:

Hari itu ada dua keganjilan sekaligus. Maryam yang menyembunyikan sesuatu tentang dirinya, dan Otong yang juga seperti mengetahui sesuatu tentang Bastian. Tapi apa? emoticon-Bingung (S)
image-url-apps
Bikin index nya dong sis..
Keep update yaa
×