alexa-tracking

COCKY GIRL NABILA (CEWEK SOMBONG NABILA)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/559f8d87620881c36e8b456b/cocky-girl-nabila-cewek-sombong-nabila
Poll: siapa tokoh favorit kalian?

This poll is closed - 0 Voters

View Poll
Nabila 0% (0 votes)
Adam 0% (0 votes)
Jason 0% (0 votes)
Nadia 0% (0 votes)
Della 0% (0 votes)
Jessica 0% (0 votes)
Nicky 0% (0 votes)
COCKY GIRL NABILA (CEWEK SOMBONG NABILA)
PERMISI Agan n Sista.. ane Newbie mau bagi cerita…emoticon-Malu (S) cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, tapi overall 70% fiksi. Nama, tempat dan waktu kejadian ane samarkan emoticon-Peace .

Ohya sudut pandang ceritanya AKU dengan tokoh utama cewek. Cerita ini hanya cocok untuk pembaca 15+ emoticon-Embarrassment karena ada banyak adegan eksplisit. Bisa dibaca cowok dan cewek, semoga berkenan di hati kaskusers emoticon-Kiss (S)

Sedikit pengenalan tokoh utama dalam cerita

Spoiler for NABILA:


Spoiler for ADAM:


Spoiler for JASON:



TS sangat menghargai setiap kunjungan, komen, rate, nggak muluk2 minta cendol emoticon-Smilie
kritik, saran dan pertanyaan sangat ane harapkan. Enjoy!

Spoiler for INDEX CERITA :

PART 1

UPSIDE DOWN


Ding dong ding dong ding dong ding dong.

Bell sekolah berbunyi empat kali, tanda jam sekolah usai untuk hari ini. Ini tidak seperti aku menghabiskan delapan jam penuh hari ini untuk belajar. Ujian akhir semester sudah usai Sabtu kemarin tapi entah kenapa sekolah tetap memaksa murid berangkat sekolah walaupun tidak ada guru yang piket sepanjang hari. Tetapi masih lebih baik aku berangkat ke sekolah dibanding berada di rumah sepanjang hari.

Adam, cowokku nggak masuk sekolah hari ini. Pemalas seperti biasanya. Aku nggak begitu ingat mengapa aku menerimanya waktu ia menyatakan perasaannya kepadaku satu tahun lalu. Walaupun ia sudah menyatakannya setidaknya empat kali sejak kami duduk di bangku kelas 10.

“Bil, lo tahu kan gue udah lama suka sama elo?” ucapnya sewaktu kami menunggu pesanan di Starbuck setelah selesai menonton Candace.

Aku sudah tahu dan dia tahu, jadi? Ini sedikit membosankan.

Adam meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipiku. Dingin.

COCKY GIRL NABILA (CEWEK SOMBONG NABILA)

“Ini bakal jadi kelima kalinya gue nyatain perasaan gue ke elo. Gue nggak malu elo tolak terus. Gue enggak peduli orang-orang di sekolah lihat gue selalu ngekorin elo, gue nggak peduli apa kata orang. Yang gue peduliin cuma lo, Bil. Gue pengen bikin lo seneng terus tiap hari. Gue pengen pegang tangan lo tiap kita jalan,” tangannya sekarang pindah megang tangan gue yang lagi pegang Iphone.


“Gue pengen lo jadi cewek gue. Gue nggak pengen lo diambil cowok lain. Gue nggak bisa lihat lo jalan sama cowok lain,” tambahnya.

“Kalo masalah itu lo nggak usah khawatir. Nggak ada cowok yang berani deketin gue selain lo,” fakta.

“Gue tahu. Itu sebabnya, Bil. Nggak ada cowok lain yang bisa lo andelin selain gue. Lo tau, kan?”

“Gue bisa sendiri,” gue mulai tersinggung. Gue bukan cewek manja.

“Gue tahu lo cewek mandiri, itu salah satu yang bikin gue suka sama lo.”

“Please, Dam. Gue nggak mau ngomongin masalah kayak begini lagi.”

“Sampai kapan lo mau nutup diri, Bil? Lo jujur, dalam hati lo butuh gue, kan?”

Well, Adam nggak sepenuhnya salah. Dia selalu ada buat gue. Dia selalu care. Tapi, pacaran?

“Kita bakal terus kayak gini, nggak akan ada yang berubah. Jalan tiap minggu, bahkan kalo bisa gue pengen tiap hari bisa antar jemput lo sekolah.”

“Not a good idea,” indeed.

“Please, Bil. Lo coba terima gue. Gue janji nggak akan pernah nyakitin atau ngecewain lo,” genggaman tangannya menguat, “Selama hampir tiga tahun ini perasaan gue nggak pernah berubah ke lo, lo tahu kan? Walaupun lo terus tolak gue, gue tetep aja muka badak, kan?”

Aku nggak bisa nahan ujung bibirku tertarik ke arah berlawanan.

“Lo kalo senyum cakep banget, Bil.”

“I know. I always am pretty.”

“Nggak ada cewek yang bisa nandingin kesombongan lo juga, Bil.”

“Dan lo masih suka gue?” aku meringis.

“Selalu.”

Aku menarik nafas panjang. Mungkin ini saatnya untukku membuka hati. Lagipula Adam bukan pilihan sembarangan. Perhatian dan kasih sayangnya, aku sudah tahu. Walaupun Adam populer dan aku tahu banyak cewek yang berharap jadi pacarnya, selama hampir tiga tahun aku mengenalnya, perasaannya padaku nggak pernah berubah. Love at first sight, begitu yang selalu dia katakan waktu aku tanya kenapa dia suka padaku.

***

Berdiri di depan pintu gerbang sekolah lebih dari lima menit sungguh nggak classy. Aku paling nggak suka telat. Berapa lama lagi Pak Wisman akan datang?

“Nunggu jemputan, Bil?” tanya salah seorang siswi perempuan, kalau nggak salah dia sekelas denganku tapi aku kesulitan buat mengingat namanya.

“Em, ya,” jawabku singkat.

“Kita duluan, yah,” katanya sambil berlalu bersama seorang siswi perempuan lainnya, bergandengan tangan, kurasa mereka sahabatan.

Aku sedikit melambaikan tangan.

Nggak kerasa aku sudah mematung di depan pintu gerbang sekolah lebih dari dua puluh menit, bahkan sudah jarang siswa-siswi berlalu lalang pulang sekolah. Kesabaranku sudah habis. Akhirnya aku jalan kaki ke jalan besar di ujung blok sekolah, disana banyak taksi lewat.

Sudah bertahun-tahun Pak Wisman jadi supir keluargaku tapi masih belum tahu juga tabiatku. Sepertinya aku kehilangan kontrolku sehingga aku sedikit lembut padanya dan itu bikin Pak Wisman jadi lupa kewajibannya.

Aku juga perlu memarahi Adam, bulan depan kita sudah memasuki semester dua kelas 12, dia nggak boleh terus-terusan malas sekolah seperti ini.

Taksi melaju pelan ke arah rumahku yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Dari kejauhan aku melihat banyak mobil terparkir di sepanjang pinggir jalan arah rumahku.

Hah? Kenapa ramai orang di depan rumahku. Banyak orang keluar masuk rumah. Apa Papa sedang mengadakan acara? Nggak mungkin. Seorang Papa mengadakan acara? Setidaknya Papa yang sekarang nggak mungkin melakukannya.

Orang-orang ini nggak aku kenal. Kebanyakan mereka semua orang dewasa seumuran papaku. Hei, ada Roy Kesuma, komposer terkenal itu, aku ingat ia beberapa kali datang ke rumahku sewaktu aku masih kecil. Titi Shafira? Diva pop itu ke rumahku? Kristina, Danung Guta, Selina Dian? Apa yang terjadi?

Aku baru sadar mereka semua menggunakan pakaian serba hitam.

Perasaanku nggak enak. Langkahku terhenti.

Seorang wanita menoleh kepadaku, wajahnya tidak asing tapi aku tak tahu ia siapa. Ia menghambur ke arahku dan memelukku, setengah histeris.

“Nabila… tante turut berduka!!” ia terisak. Mereka nggak sedang syuting film di rumahku, kan? Artis-artis ini.

Tapi tak ada kata yang keluar dari mulutku.

Orang-orang di depanku yang tadinya hendak masuk gerbang rumahku, berhenti dan menatapku iba. Aku benci tatapan mereka. Aku pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya… delapan tahun lalu… sewaktu Mama meninggal.

***

Aku nggak percaya Papa meninggalkanku. Tega sekali ia meninggalkanku. Setelah ia menelantarkanku, membiarkanku tumbuh dewasa tanpa perhatiannya, tanpa ada Mama. Kini ia pun meninggalkanku. Seorang diri.

Apa kau begitu merindukan Mama? Apa kau begitu ingin bersamanya? Kau benar-benar papa yang nggak bertanggung jawab!!!

Kenapa aku menangis? Ini tidak seperti Papa benar-benar mengasuhku sembilan tahun terakhir ini. Kami hidup berdua di bawah atap yang sama tetapi papa selalu mengurung diri di ruang kerjanya. Melukis, atau aku harus bilang: mencoret-coret kanvas. Ruang kerjanya yang dulu rapi dengan sebuah grand piano di depan jendelanya yang lebar dan rak penuh cd musik dan buku, kini sangat berantakan. Tuts pianonya berdebu. Raknya berantakan, beberapa cd dan buku teronggok di lantai, juga kanvas-kanvas dengan lukisan yang tak pernah ia selesaikan. Lantai kayunya kotor dengan tetesan cat minyak dan goresan easel. Papa tak pernah mengijinkan siapapun masuk ke ruang kerjanya sejak mama meninggal. Sejak itu pula ia berhenti bermain piano dan mengarang lagu.

Aku nggak bisa berlama-lama di ruangan ini, ruangan ini membuatku makin membenci Papa.

Adam sudah di depanku ketika aku keluar dari ruang kerja Papa.

“Maafin aku, aku baru tahu kabar duka pagi ini,” ia memelukku erat.

“I’m fine,” ucapku sambil melepas pelukannya.

“Aku belum pernah benar-benar bertemu papamu dan meminta ijinnya memacarimu dan sekarang…”

“It’s no big deal. He’s never been there, anyway,” aku berjalan menuju kamarku di lantai atas. Aku ingin membaringkan tubuhku walaupun aku sama sekali tidak mengantuk.

Adam menghentikan langkahku, ia memelukku dari belakang.

“Bil, kamu masih punya aku,” ucapnya lirih di belakang telingaku.

“Thank you.”

“Kalo kamu pengen nangis, nangis aja.”

Nangis? Air mataku sudah habis sejak semalam.

“I just want to be alone, Dam.”

“Enggak, aku nggak akan biarin kamu nglewatin semua ini sendiri,” ia membalikkan tubuhnya, kali ini tangannya memegang kedua lenganku, “Aku selalu bilang aku akan selalu ada buat kamu, kan? Itu gunanya aku sebagai cowokmu.”

“Aku—“

“Bila!” seru seseorang memanggilku.

Aku dan Adam menoleh.

Om Rendi. Mantan asisten Papa dulu.

Adam melepaskan genggamannya pada lenganku.

Om Rendi mendekat, ia mengulurkan tangannya, menyalamiku, “Om turut berduka atas kepergian papamu. Om nggak nyangka akan ke rumah ini lagi dalam keadaan seperti ini,” matanya berkaca-kaca, "Om benar-benar menyesal tidak pernah kesini lagi setelah sekian lama dan akhirnya ke rumah ini dalam suasana seperti ini. Aku benar-benar bersalah pada papamu.”

Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku tahu ketulusan om Rendi. Mungkin ia jauh lebih menyayangi Papa dibanding aku sendiri yang anaknya. Bagiku, papa yang menelantarkanku sejak sembilan tahun lalu dan meninggalkanku dengan cara seperti ini membuatku tidak terlalu kehilangan sosoknya. Mungkin berbeda dengan om Rendi.

“Kamu kelihatan lelah sekali, Bila, istirahatlah, Om akan bergabung dengan pelayat lainnya di ruang depan. Yang tabah ya, Nak,” om Rendi berlalu setelah menepuk pundakku pelan.

“Kamu memang kelihatan lelah, mau istirahat?” Aku baru ingat Adam dari tadi disampingku.

“Yah. Aku mau ke kamar…”

“Udah makan?”

“Bibi tadi bawa makanan ke kamarku, kok.”

“Ayo, aku temani kamu makan dan istirahat, ya,” Adam merangkul pundakku dan membimbingku ke kamar. Tapi...

Aku menyingkirkan lengan Adam dari pundakku dan berhenti melangkah.

“I wanna be alone.”

“Nggak, aku akan selalu ada buat kamu, Bil.”

“Please. Nggak ada ada yang bisa nenangin aku sekarang ini kecuali tidur. Aku mau tidur, Dam. Can you please leave?

“Apa nggak ada hal lain yang bisa aku lakukan buat menghiburmu?”

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa saat ini.

***

Aku pikir kembali ke sekolah akan membantuku membaik. Membaik dari apa? Bukannya aku bilang tidak terlalu merasa kehilangan papa? Aku tidak benar-benar tahu. Aku hanya tidak ingin tidak melakukan apa-apa, atau aku akan benar-benar terlihat sedang terpuruk. Meskipun ini hari terakhir sebelum liburan semester, setidaknya aku dapat membaur diantara orang-orang yang menjalani hidupnya tidak seperti caraku menjalani hidupku.

Pak Wisman dan bibi sudah keluar dari rumahku, aku tidak tahu dengan apa aku bisa menggaji mereka. Mereka berpamitan padaku sejak dua hari lalu.

Aku tahu aku seharusnya mengurus SIM A sejak aku mendapatkan KTP ku. Sekarang aku harus naik taksi ke sekolah. Mungkin nanti lebih baik aku pulang bersama Adam. Aku sudah lama mengacuhkannya dan tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Aku akan meminta maaf padanya nanti.

“Nabilaaa!” teriak Adam dari kejauhan. Ia sedang duduk-duduk dengan teman se-genknya di bawah pohon beringin taman sekolah waktu melihatku menapaki koridor menuju ruang guru. Adam berlari tergopoh-gopoh menyambutku. Ia tidak peduli ia selalu terlihat konyol setiap mengejarku.

“Kenapa nggak bilang mau berangkat sekolah hari ini?” tanyanya begitu ia sampai di depanku dengan senyum yang mengembang

“Aku baru mikir mau berangkat pagi ini. Lagian hari ini pembagian rapor. Aku harus ambil raporku.”

“Oh iya, rapornya Andrew diambilin abangnya, jadi aku sekalian minta abangnya ambilin raporku. Hahaha. Kamu mau sekalian nitip diambilin abangnya Andrew, Bil?” tawarnya.

It’s okay. Aku boleh ambil raporku sendiri karena aku nggak punya wali.”

Adam menatapku iba.

“Don’t give me that look. You know I hate it,” tegasku. Aku nggak mau dikasihani.

“Okay, sayang. Aku tahu Nabila gadis yang kuat! Kamu udah makan?”

“Udah,” jawabku bohong. “Aku ke ruang guru dulu ya, sebelum ramai orang tua murid, aku mau ambil raporku duluan.”

“Okay, bye. Aku tunggu di sini ya.”

Adam benar-benar cowok yang baik. Dia selalu menyambutku senang. Dia selalu menunjukkan senyum lebarnya setiap bertemu denganku. Aku harus memperlakukannya dengan lebih baik.

“Nilai kamu nggak ada masalah, Bila. Seperti biasa, nilai bahasamu excellent. Kamu sudah memikirkan tentang jurusan apa yang mau kamu ambil tahun depan di universitas?” tanya Bu Veronica, wali kelasku saat memberikan raporku.

“Saya belum memikirkannya..” aku menggelengkan kepala, “Bu,” tambahku.

Bu Veronica menggenggam tanganku, “Ibu tahu kamu masih bersedih tentang kepergian papamu. Seperti yang ibu bilang, jika kamu ada kesulitan, ibu akan selalu membantumu,” matanya menatap dalam-dalam ke dalam mataku, ia mengatakan kalimat sama yang ia ucapkan beberapa hari padaku lalu di pemakaman papa. Aku paling lemah dengan jenis orang seperti bu Veronica dan om Rendi. Tapi aku tidak akan menangis.

“Saya nggak papa, Bu. Makasih,” senyum kakuku pasti nampak aneh.

“Bu Vero,” panggil seseorang dari arah belakangku, “Para orang tua murid sudah datang, Bu.”

“Kalau begitu saya pamit dulu, Bu,” aku bergegas keluar ruang guru.

Adam masih duduk-duduk dengan teman genk nya di bawah pohon beringin. Aku menghampiri mereka.

Adam mengambil buku raport dari tanganku.

“Woaaaa. .pacar gue emang perfect!” ia memandang kagum daftar nilaiku.

“Bil, gue turut berduka atas meninggalnya bokap lo,” Rico menghentikan aktivitasnya menyusun rubik.

“Thanks,” gue ikut duduk membaur mereka, di samping Adam.

“Setahun lo pacaran sama Adam baru kali ini lo mau ngumpul bareng kita, Bil,” seru Andrew heran.

“Cewek gue itu nggak sombong. Kalian aja yang segan sama Bila karena dia terlalu cantik,” sahut Adam sambil merangkul pundakku.

“Ha-ha-ha. Mungkin juga,” Andrew tertawa, “Bil, lo punya temen yang kayak lo ga? Jomblo nih gue, hahahaha,” sambungnya.

“Emang kapan lo tahu gue pernah punya temen?” gue tanya balik dia.

“Hahaha. Bener juga. Cewek kayak lo langka.”

“Sembarangan lo, Ndrew. Emang cewek gue orang utan, langka?” Adam menjitak kepala Andrew.

“Sssst. Hei, Dela, bro,” bisik Rico kepada dua temannya.

Mau ga mau aku mencari sosok yang Rico bicarakan. Seorang cewek berambut pendek berdiri tidak jauh dari tempat kami dan memandang ke arah kami. Bukan, ke arahku. Tatapannya aneh. Seperti tatapan benci. Tetapi aku sudah biasa dengan tatapan seperti itu. Ia balik badan dan berjalan ke arah kantin.

“Siapa itu? Gebetannya Rico ya?” tanyaku mencari informasi meskipun aku tidak begitu ingin tahu.

“Fans beratnya cowok lo, tuh Bil,” sahut Andrew.

“Hush, bego lo!” Rico menjitak kepala Andrew.

“Aku nggak kenal, sayang,” timpal Adam tenang. “Nanti kuantar pulang ya?”

“Oke.”

- to be continued-
image-url-apps
wah cerita baru emoticon-Belo
ane numpang jadi pemabaca gan emoticon-linux2
udah bantu emoticon-Rate 5 Star juga emoticon-Embarrassment
KASKUS Ads
image-url-apps
Sama bre,ayah ane juga sudah meninggal waktu ane sekolah,hmm nganu bre,ente anak nya artis,kok yang ngelayat artis artis ?
image-url-apps
Et dah baru aja mantengin.. tenyata ga ada updetan lg dr bulan 7 uwwwow