alexa-tracking

My Tears My Stories

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/559e790cde2cf2016b8b4569/my-tears-my-stories
My Tears My Stories

Setelah lumayan banyak baca cerita dari para kaskuser jadi pengen juga nyoba nulis cerita. Maaf kalau cara penulisannya berantakan (Bukan kalau lagi tapi memang berantakan). Harap dimaklumi, dan lagi-lagi.. maaf kalau ceritanya nggak menarik dan ngebosenin. emoticon-Sorry

It’s my true story!


Agak heran juga sama diri sendiri, entah kenapa pengen nulis cerita tentang kehidupanku. Padahal nyadar sendiri kalau kehidupan yang dialamin ya gitu-gitu aja tanpa ada yang spesial. emoticon-No Hope

“Satu hal yang selalu ku ingat saat menganggap kehidupan orang lain lebih mengasikkan, menyenangkan, bahagia. Saat orang lain jauh lebih hebat di banding aku, atau apalah itu yang ujung-ujungnya malah buat aku nyalahin keadaanku.“Setiap orang menjadi tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing” Mau bagaimana pun, tokoh utama tetaplah tokoh utama, dan tokoh utama tak harus selamanya hebat kan?” emoticon-Smilie

Happy Reading emoticon-Angel


**INDEX**

--Satu-- #--Dua--
image-url-apps
Asik mash anget, ijin bangun landmark ah sambil nunggu ceritanya keluar
image-url-apps
masih anget nih kayaknya emoticon-Big Grin
tendain dulu yak emoticon-Paw
"Mau bagaimana pun, tokoh utama tetaplah tokoh utama, dan tokoh utama tak harus selamanya hebat kan?"
KASKUS Ads

Satu

Nggak banyak hal yang bisa gua ingat waktu gua masih kecil dulu (padahal sekarang juga masih kecil) emoticon-Stick Out Tongue Yang pasti kehidupan gua dulu nggak kyak sekarang. Yang gua maksud masih kecil ini ya waktu gua belum sekolah --Dari gua baru lahir sampai berakhir saat gua mulai sekolah SD. Bangku sekolah pertama yang gua makan ya di SD --Ehh.. Cuma kiasan doank! Biar kyak gimana gitu emoticon-Ngakak (S)

Kadang gua sedikit bersyukur untung dulu gua kagak sekolah TK, seenggaknya waktu masa kecil (masa sebelum sekolah) gua kagak berkurang satu tahun. –Walau kadang tiap denger teman cerita masa-masa mereka di TK dulu atau kalau denger mereka becadaan bareng yang lainnya. Contohnya aja kalau ada yang bacanya nggak lancar, kadang mereka sering nyeletuk “Memang nggak pernah TK lu?” Pertanyaan yang emang nggak di tujukan ke gua. Tapi tetap aja ujung-ujungnya bikin gua ngerengek dirumah. --Ada yang mikir gua cowok atau cewek? Mungkin sifat gua yang satu ini bisa ngasih jawaban.

Hahaa.. ya begitu lah gua, sesuatu yang spele aja bisa buat mood gua hancur tanpa alasan yang jelas. Mungkin mananya “Kesedihan buta” kali ya? (Lah koq kesedihan buta? Emang punya mata ya?) emoticon-Big Grin Kan kalau cemburu namanya cemburu buta, jadi ini namanya kesedihan buta emoticon-Stick Out Tongue

Masa-masa gua belum sekolah itu yang menurut gua paling nyenengin. Saat gua nggak harus --(makan bangku sekolah) ini ngawur ah emoticon-Ngakak (S) mikirin ini itu yang sering bikin nangis. Saat gua nemuin hal-hal baru, saat gua dapat banyak perhatian dari orangtua gua.

Diantara banyaknya hal yang terjadi saat gua masih kecil, ada satu kenangan yang masih gua ingat dengan jelas. Entah dapat gua sebut apa namanya. Kenangan manis, pahit, asin, pedas, konyol, menyebalkan atau apalah namanya.

Gua memang ingat banget kejadian itu, tapi seingat apapun gua tetap aja gua lupa berapa tepatnya umur gua waktu itu atau jangan-jangan gua sudah mulai masuk sekolah? Berarti nggak masuk masa kecil donk? Entahlah, lagi-lagi gua kembali mulai lupa. Padahal ngakunya “ingat dengan jelas” emoticon-Stick Out Tongue

Paman dan Bibi gua baru aja pulang dari rumah gua. Mungkin waktu yang di butuhin sekitar dua jam untuk sampai kerumahnya. --Tanpa macet. Karena jaraknya yang lumayan. Gua nggak tau pasti gimana kejadian. Kapan, dimana, bagaimana, kenapa dan pertanyaan-pertanyaan lainnya itu. Bibi dan Paman gua beserta anaknya ngalamin kecelakaan, mereka dilariin kerumah sakit terdekat.

Besoknya gua yang masih kecil dan keluarga gua (Ibu, Bapak, Kakak –waktu itu gua belum punya adek, jadi anak terakhir deh) pergi ke rumah sakit dimana Bibi gua dirawat. Disana udah ngumpul keluarga-keluarga lainnya. --Atau waktu itu berangkatnya bareng-bareng ya? Lagi lagi gua lupa emoticon-Nohope

Jadi disana hampir semua keluarga pada ngumpul, termasuk dua sepupu gua. Satunya cewek satunya lagi cowok. Yang cewek namanya Anti –semua nama tokoh disamarkan. Dia seumuran sama gua, lebih tua dia beberapa bulan, tapi dia malah manggil gua pake’ panggilan “Kak”. --Tapi gua nggak manggil dia adek, malas. Alasannya karena bapak gua lebih tua dari orang tuanya lebih tepatnya sih bapak gua ini anak pertama. Bahkan gua manggil kakak sepupu gua yang umurnya jelas lebih tua bahkan juga lebih tua di banding kakak kandung gua, gua panggil dengan panggilan “Dek”. Abisnya mau manggil mba atau kakak, peraturannya jelas nggak gitu. Mau manggil nama aja rasanya nggak sopan. Gua dulu nggak sengaja atau tepatnya lupa, gua manggil dia “Adek”, eh.. malah di ketawain sama bibi gua. Rasanya tuh aneh banget emoticon-No Hope

Kalau sepupu gua yang cowok itu namanya Radit. Umur gua beda satu tahun sama dia, dia yang lebih tua. Sama kyak sebelumnya, berarti dia manggil gua “kakak” kan? dan gua manggil dia “adek” kan? Tapi hal itu nggak berlaku buat gua sama dia. Jadi kalau manggil ya pake’ nama doank.

Lumayan lama juga di rumah sakit, kakak gua ngajakin gua sama Radit main kejar-kejaran --sembunyi-sembunyian.

“Dit main sembunyi-sembunyian yok!” Ajak kakak gua --Kakak gua ini namanya Ray. Dia kakak kandung gua. Umurnya beda lima tahun sama gua.

“Iya, ayok”

Karena semuanya dah setuju, yaudah kita mainan deh. Kakak gua sama Radit yang sembunyi, nah gua apa kabar? Ya gua yang nyariin mereka.

Bisa di bilang sih main sembunyi-sembunyian, bisa juga main kejar-kejaran. Kalau main petak umpet kan yang “nyariin” Tutup mata dulu, terus ngitung sampe’ angka yang di tentuin, setelah selesai ngitung, baru buka mata, terus nyariin yang “sembunyi”. Kalau ini nggak gitu, mereka lari nah gua yang ngejar. Walau mereka larinya gak cepat-cepat banget, tetap aja gua sering ketinggalan jauh. Mereka juga sering belok sana-belok sini. --Kan di rumah sakit lumayan banyak lorong-lorongnya.

Kadang kalau gua udah ketinggalan lumayan jauh, mereka bakal berhenti, entah belok dulu atau di tempat yang sedikit nggak kelihatan, atau di tempat yang jelas-jelas bisa gua lihat. Setelah gua hampir dekat sama mereka, lagi-lagi mereka kembali lari. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Mereka lari, berhenti atau sembunyi, saat gua udah dekat, mereka lari lagi.

Perbedaan jarak gua sama mereka nggak jauh beda. Disana ada belokan, tapi gua lihat mereka terus lurus aja, dan berhenti di sebelah benda bentuknya kotak lumayan besar, entah apa namanya. Gua jelas lihat mereka ada disana, dan gua benar-benar yakin mereka ada disana.
Tapi setelah gua sampai dan lihat ke tempat itu, mereka berdua nggak ada disana. Padahal gua lihat jelas mereka sembunyi di sana dan gua belum ada lihat mereka pergi dari tempat itu.

Setelah tau mereka nggak ada di sana, gua mulai ngerasa takut. Bukan, bukan takut karena hal-hal ghaib, mistis, atau sebagainya itu. Gua takut karena gua nggak ketemu mereka, gua nggak tau mereka pergi kemana.

Gua terus kembali berjalan, dengan berharap bisa ketemu mereka. Tapi setelah gua lumayan lama berjalan sendirian, gua semakin takut karena tetap nggak ketemu mereka. Mata gua mulai perih, dan akhirnya gua nangis --Nangis ala anak kecil, dengan suara.
Gua terus jalan entah kemana gua juga nggak tau --dengan tetap nangis. Gua benar-benar nggak kepikiran sama sekali buat baca tulisan-tulisan yang ada di dinding-dinding rumah sakit itu. Padahal kan biasanya kalau ada belokan-belokan gitu ada tulisan nya menuju kemana. --Berarti gua belum sekolah emoticon-Big Grin

Selama gua jalan, gua nggak ada ketemu orang, bahkan semenjak gua masih main kejar-kejaran sama mereka. Orang yang dengan jelas gua lewatin saat gua nangis itu ialah petugas kebersihan -- laki-laki-- yang saat itu lagi nyapu.

Gua terus ngelewatin orang itu dengan tetap nangis dan lagi-lagi berbelok. Lorong yang gua lewatin lebih gelap dari lorong-lorong sebelumnya. Gua juga lagi-lagi nggak tau kemana arahnya.

Belum sempat gua berjalan jauh, gua denger suara kakak gua dan Radit manggil gua. Saat gua lihat kebelakang, jarak mereka nggak jauh dari gua. Tangis gua pun segera berhenti setelah ketemu mereka. Tapi tetap aja pasti ketahuan kalau habis nangis.

Kakak, Radit, dan gua pun kembali ke ruangan bibi gua di rawat. Saat di jalan, kakak gua bilang kalau tadi mereka udah balik ke ruangan bibi gua dirawat, tapi gua tetap nggak muncul-muncul. Jadi mereka kembali nyariin gua. Mereka udah jalan kesana kesini nyariin gua, sampai akhirnya mereka ketemu sama petugas kebersihan yang gua lewatin tadi.

“Maaf pak, bapak lihat ada anak kecil perempuan lewat sini nggak?” Tanya kakak gua

“Oh, tadi ada anak kecil lewat sini sambil nangis, kearah sana --Nunjuk lorong yang gua masukin-- Dekat kamar ******* --Ngeri nyebutinnya, jadi nggak di sebutin--

Kurang lebih begitu percakapan mereka.

“Padahal tadi aku lihat kakak di dekat kotak besar itu --sebut aja gitu” Ucapku sambil tetap jalan di dekat kakak gua. --Takut ketinggalan lagi emoticon-Ngakak (S)

“Aku sama Radit nggak ada kesitu koq. Kan sebelumnya ada tuh belokan, ya aku belok kesitu. Aku juga berhenti koq nungguin kamu, terus waktu kamu udah deket kita jalan lagi, tempat bibi nggak jauh koq dari situ. Tapi pas udah sampai di tungguin kamu nggak muncul-muncul. Jadi aku cariin terus tadi ketemu sama petugas kebersihan disana. Terus di kasih tau deh kalau kamu nangis sambil jalan ke arah kamar ******* --Lagi-lagi ngeri nyebutinnya.” Jawab kakak gua panjang lebar ngejelasin.

Perasaan gua antara senang, takut, dan juga malu kalau diceritain ke yang lainnya kalau gua nangis tadi. Tapi gapapa lah, yang penting gua udah ketemu sama mereka. Sorenya kita semua pada pulang (Termasuk keluarga-keluarga gua yang lainnya) Bibi, paman, dan anaknya (sepupu gua juga sih) juga udah bisa pulang hari itu.

Ya.. Gua pulang dari rumah sakit itu membawa kenangan masa kecil yang tak terlupakan emoticon-Big Grin

Bahkan tiap kali gua pergi sama kakak gua kerumah keluarga gua yang ngelewatin rumah sakit itu, gua pasti bilang ke kakak gua

“Aku inget banget kak, waktu nyasar di rumah sakit ini”
image-url-apps
Quote:


Quote:


Silahkan.. Silahkan.. Ceritanya baru aja keluar dari pemanggang emoticon-Big Grin
image-url-apps
Ini True story yak? napa kgak ditulis di judulnya ya? Ini cewek?

Keep update yo emoticon-Ngakak (S)
numpang baca gan.................emoticon-Malu (S)
image-url-apps
Quote:


Gapapa gan, emang sengaja kagak di tulis true story di judulnya emoticon-Smilie

Quote:


Iya gan.. Silahkan.. Silahkan.. emoticon-Big Grin

Dua

Masa-masa waktu di SD dulu juga asik mungkin malah lebih asik di banding waktu kecil dulu (Kyak masih ingat aja). Tapi di masa-masa SD ini gua mulai jadi sering nangis. Sebenarnya sih sampai sekarang juga masih sering nangis --Kan masih anak kecil, beneran deh.. gua masih anak kecil. Percaya deh! --pliss.. abaikan! emoticon-Ngakak (S)

Entah ditanggal berapa gua mulai masuk SD –Nggak kyak sekarang yang hampir tiap tanggal diingetin. Satu hari sebelum gua masuk sekolah, atau lebih tepatnya malam sebelum gua masuk sekolah, gua bangun dari tidur gua. Mungkin sekitar jam tiga dini hari. Gua takut, iya. Takut. Gua takut buat masuk sekolah besok, rasanya gua nggak pengen pergi sekolah besok. Padahal hari-hari sebelumnya gua benar-benar antusias.

Gua takut, gua pengen nangis, tapi waktu itu ada paman gua dirumah. Gara-gara itu gua nggak jadi nangis emoticon-Nohope Namanya juga nangisnya anak kecil,kebanyakan kan pada pake’ suara --huuhuhuu..emoticon-Big Grin Ntar kan kalau kedengaran paman gua, pasti gua bakal ditanyain “Gua kenapa?” Oke, gua batalin nangis, dan berusaha kembali tidur. Untung gua bisa langsung tidur.

Pagi harinya mungkin sekitar jam enam atau setengah enam pagi, gua udah siap-siap buat berangkat sekolah. --Masih tetap takut. Sekitar jam setengah tujuh gua udah pergi ke sekolah, dengan di temanin ibu gua. Jarak sekolah juga dekat dari rumah, jadi perginya jalan kaki. Mungkin sekitar lima menit udah sampai ke sekolah.

Di SD ini gua punya teman yang emang udah gua kenal sejak kecil. Karena rumah mereka yang nggak jauh dari rumah gua. Selain itu, orang tua gua sama mereka juga saling kenal.

Tia, teman gua yang rumahnya paling dekat dengan rumah gua. Lili, Teman gua yang orang tuanya berasal dari daerah yang sama dengan ibu gua, walau tempatnya beda. Zafi, teman cowok yang udah gua kenal sejak kecil, tapi kalau sama Zafi ini gua nggak dekat banget.

Waktu gua kelas satu ini, bangku di sekolah itu bangku yang panjang buat dua orang, begitu juga mejanya. Gua duduk sebangku sama Lili --Ini bisa disebut sebangku, karena bangkunya emang nyatu.

Jam 07.15 atau 07.30, guru pun masuk ke kelas. Pertama thu guru yang ngenalin diri. Nah setelah itu, murid-muridnya yang ngenalin diri dengan maju ke depan. Termasuk gua. Urutan maju nya itu pakai absen, jadi pastinya gua nggak maju pertama, karena huruf depan nama gua bukan “A”.

Mungkin sekitar sepuluh orang --nggak tau pastinya-- akhirnya giliran gua yang maju. Gua pun ngenalin diri gua dengan perkenalan yang cukup singkat. Cukup dengan nyebutin nama lengkap dan nama panggilan, karena memang di suruhnya begitu.

Entah seberapa dingin tangan gua saat itu, karena tiap gua takut atau grogi pasti tangan gua jadi dingin. Semakin gua takut, semakin dingin juga tangan gua. Walau gua takut, tetap aja semuanya berjalan lancar. Setelah semua murid dari nama “A-Y” --Di kelas gua waktu itu nggak ada yang huruf depan namanya “Z”-- Waktunya nyanyi-nyanyi emoticon-Big Grin Setelah selesai nyanyi-nyanyinya, waktunya istirahat.

Sama kyak yang lainnya, waktu istirahat gua juga keluar kelas nemuin ibu gua, yang disana juga ada orang tua dari murid-murid lainnya. Nggak lama, waktu istirahat udah selesai, waktunya kembali lagi ke kelas. Di kelas nyanyi-nyanyi lagi deh, dan nggak lama waktunya pulang.
Waktu gua udah keluar kelas, gua nggak lihat ibu gua. Nggak lama, gua di panggil sama ibunya Tia, terus dikasih tau kalau ibu gua pulang duluan,dan gua disuruh pulang bareng Tia. --Hadeh.. ibu.. emoticon-Nohope -- Yaudah, gua pulang bareng deh sama Tia juga sama ibunya. Karena rumah gua sama Tia itu deket banget, Malah lebih dekat dari pada jarak ke sekolah.

Itulah pengalaman hari pertama gua di sekolah. Yaa.. semuanya berjalan lancar. Nah terus kenapa gua takut? Mungkin namanya “Ketakutan buta kali ya?”

Besok harinya, gua kembali berangkat sekolah.

“Ta.. Hari ini berangkat sendiri aja ya” Kata ibu gua --Nama gua Fita, panggil aja gitu (Nama di samarkan, tapi nggak jauh beda dari nama asli)

“Nggak mau.. antarin aja..” Jawab gua.

Karena gua nggak mau berangkat sekolah sendiri, gua berangkat sekolahnya di temanin ibu gua lagi. Tapi baru aja gua berangkat, tepatnya waktu gua lewatin rumahnya Tia, gua di ajakin berangkat sekolah bareng Tia sama Kak Ifi. Kak Ifi ini rumahnya sebelahan sama Tia. Dia juga sekolah di sekolah yang sama kyak gua sama Tia, lebih tepatnya lagi, Kak Ifi ini kakak kelas gua disekolah.

Yang awalnya gua berangkat di temanin ibu gua, akhirnya gua berangkat sekolah bareng Tia sama Kak Ifi. Begitu juga untuk hari-hari seterusnya.

Hari demi hari telah gua lalu semenjak gua masuk sekolah. Dari mulai belajar ngenal huruf, ngenal angka, belajar nulis, ngeja bacaan, belajar ngitung, udah gua lalui. Walau sebelumnya gua nggak TK, seenggaknya gua udah lebih dulu kenal huruf, angka, nulis, dan juga ngeja. Ya di ajarin sama siapa lagi kalau bukan ibuku.

Mungki sekitar tiga bulan setelah masuk sekolah, bulan Ramadhan pun tiba. Hari pertama puasa sekolah libur, setelah itu sekitar dua atau tiga hari masuk sekolah dan akhirnya kembali libur.

Waktu liburan ini, sekolah di renovasi. Bukan renovasi lagi sih, tapi di bangun ulang semuanya. Soalnya sebelumnya itu sekolahnya masih dari kayu.

Waktu libur udah selesai, sekolah belum selesai. Jadi sekolahnya pindah deh. Cuma tempat sekolahnya doank, bisa di bilang sih numpang di sekolah lain. Jarak sekolah ini lumayan, sekitar satu km. Waktu itu keluarga gua belum punya motor --lagian kalau udah punya motor juga palingan bapak gua malas ngantar jemput gua sama kakak gua-- Jadinya gua sama kakak gua perginya naik bus sekolah. Bukan bus sekolah sih, tapi bus punya pesantren.

FYI, sekolah SD tempat gua sekolah itu tetanggaan sama Pesantrean yang terdiri dari SMP-SMA. Jadi, anak-anak SD yang tinggalnya di pesantren itu ya berangkat bareng ke sekolah naik bus. Di Pesantren --Gua agak aneh nyebut “Pesantren” Jadi sebut aja “Pondok” Karena orang-orang yang tinggalnya disana atau murid-muridnya lebih sering nyebut dengan sebutan “Pondok”-- itu memang nggak ada buat anak-anak SD. Jadi, anak-anak SD itu ya anak-anak dari guru-guru atau orang-orang yang kerja dan tinggalnya di pondok itu.

Kenapa gua sama kakak gua ke sekolah naik thu bus? Bukan.. bukan karena nggak ada kendaraan. Tapi karena gua sama kakak gua termasuk dalam bagian anak-anak pondok itu. Sejak kecil gua udah tinggal di lingkungan pondok, karena bapak gua jadi guru di pondok itu.

Hal ini yang bikin kehidupan gua rasanya beda sama kehidupan teman-teman gua yang lainnya. Bahkan saat masih SD, saat gua belum sekolah di podok, gua udah dapat predikat “Anak Pesantren” Tapi saat gua masih kelas satu ini, gua belum ngerasain perbedaan itu dengan jelas, atau itu cuma perasaan gua doank?

Entahlah..
image-url-apps
Setiap orang menjadi tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing.

Nih kata-kata bisa jadi obat buat berhenti ngerasa nggak pede emoticon-Big Grin

Tiga

image-url-apps
Bagian ini gua udah agak lupa-lupa. Btw, gua ini emang pelupa. So skip aja..
Entah berapa lama gua sekolah di sekolah lain itu, sekolah pun udah selesai dan gua kembali sekolah di tempat biasanya. Saat itu sudah memasuki semester dua. Semester pertama sudah gua lalui dengan hasil gua dapat peringkat enam. Ya itulah peringkat pertama gua.

Hari demi hari kembali terlewati, dengan gua yang tetap takut pergi ke sekolah. Padahal selama gua sekolah, nggak pernah terjadi hal-hal buruk. --ya jangan sampai lah .. Hal yang cukup sulit buat gua itu saat belajar huruf sambung. Waktu itu kata yang gua tulis "Ayam" dan "Bebek" dan "Ayam" lagi. Satu halaman penuh. Dulu, itu susah banget buat gua, tapi untungnya thu tugas dijadiin PR. Jadi.. Dengan nakalnya, gua minta tulisin kaka gua. Jadi thu tugas di kerjain deh sama kakak gua dengan tulisan yang disengaja di jelek-jelekin.

Saatnya kelas enam yang ujian, itu berarti gua libur sekolah. UAS libur seminggu, dan UAN nya gua libur tiga hari. Gua yang libur ya senang. Nah kakak gua yang ujian apa kabar? Gua sih nggak peduli emoticon-Stick Out Tongue gua ya taunya gua libur emoticon-Big Grin

Entah setelah beberapa hari atau beberapa minggu setelah selesai ujian, waktunya perpisahan sekolah. Gua ya ikut ibu gua ke thu acara. Kan itu perpisahan kakak gua emoticon-Big Grin

Setelah thu acara perpisahan, nggak lama waktunya gua lagi yang ulangan. Ulangan satu minggu .. Nunggu raport satu minggu... Satu hari sebelum pembagian raport makan bareng-bareng teman di kelas .. Keesokan harinya pembagian raport. Hasilnya? Gua naik kelas dan dapat peringkat enam. Lagi.

Setelah itu. Waktunya liburan selama dua minggu. Iya, dua minggu. Waktu yang sangat singkat.

image-url-apps
Numpang bikin kastil iblis gan emoticon-Rate 5 Star
Ditunggu ya updateannya emoticon-Kiss
emoticon-Traveller emoticon-Traveller
emoticon-Ngacir2 emoticon-Ngacir2

Empat

image-url-apps
Liburan telah berakhir, saatnya gua kembali masuk sekolah. Kelas duanya ini gua masuk sekolah siang, nggak siang banget sih, soalnya kelasnya gantian sama kelas satunya. Di kelas dua ini gua wajib nulis pake' huruf sambung. Iieee.. Padahal kan gua paling nggak bisa. Tapi terus-terusan nulis tiap hari akhirnya gua pun terbiasa, walau tetap aja tulisannya kgak bagus-bagus banget.

Hari-hari berjalan dengan biasa. Kecuali gua yang dari kelas satu memang sering dikerjain sama teman cowok gua. Namanya Zarka. Cowok yang pernah ngaku-ngaku jadi pacar gua di depan ibu gua.Padahal waktu itu masih kelas satu SD.

Di sekolah gua jarang banget sakit. Kalau pun sakit, kalau masih bisa pergi sekolah ya tetap sekolah. Tapi, saat gua kelas dua itu gua pernah sakit demam. Gua nggak masuk sekolah selama satu hari. Seperti biasanya, hampir setiap hari ada PR. Gua yang nggak masuk sekolah otomatis nggak tau ada tugas atau nggak. Dulu sih nggak kyak sekarang yang hampir tiap anak punya hp masing-masing. Bahkan anak-anak TK pun udah punya gadget canggih.
Gua nanya ke Zarka ada tugas atau nggak, Zarka juga nggak masuk sekolah. Gua nanya lagi tugas ke Lili, akhirnya gua ada tugas apaan.

Besok harinya, dengan tenang gua pergi sekolah. Saat jam pelajaran di mulai, ternyata masih ada tugas selain tugas yang gua tau itu. Saat yang lainnya ngumpulin tugas gua cuma diam dengan perasaan yang udah takut banget.

"Siapa belum ngumpulin tugasnya?" Tanya thu guru dengan nada suara yang menyeramkan buat gua emoticon-Big Grin

Teman-teman gua yang belum ngerjain thu tugas pun maju kedepan, begitu juga gua.

"Kenapa belum ngerjain?" Tanya thu guru ke gua

"Saya kemaren nggak masuk bu, jadi nggak tau tugas itu"

Tapi tetap aja thu guru nggak peduli, untungnya gua nggak di hukum apapun.
Beruntung karena nggak dihukum? Mungkin..

Hari demi hari kembali gua lalui Ulangan semester satu pun telah gua lalui, dan kali ini gua dapat peringkat empat. Perkembangan yang cukup bagi gua. Seperti sebelumnya, gua kembali libur. Dengan waktu selama satu minggu.

Waktu gua kelas dua ini, kakak gua kelas satu SMP di pesantren. Jumlah liburnya jauh lebih banyak dibanding gua. Dua minggu, itu sama aja kyak libur semester dua gua.

Tapi nantinya, gua juga ngalamin hal yang sama kyak kakak gua.

image-url-apps
Quote:


Silahkan gan.. Masih banyak lahannya koq.. Duuuh.. Tapi koq serem ya "Kastil Iblis" emoticon-Big Grin
image-url-apps
Ceritanya koq nggak pernah apdet ya sist?

Lima- Kakak Kelas

image-url-apps
Oke, skip aja saat gua kelas 4 SD.
Kelas empat ini. Entahlah gimana perasaan gua.
Suatu hari ada percobaan untuk milih anggota yang ikutan cerdas cermat. Sebagian besar anggotanya kelas 5. Kakak kelas gua. Saat itu gua lagi ulangan harian bahasa inggris. Eh, taunya gua dipanggil teman sekelas gua yang juga ikutam cerdas cermat tadi. Katanya sih gua disuruh ikutan.
Yaudah, gua gabung aja disana. Ada tiga kelompok. Gua masuk kelompok ketiga. Dikelompok gua ini, satu orang kakak kelas cowo, satu orang kaka kelas cewe dan juga gua. Dikelompok lain juga begitu, ada yang cowonya dua, ataupun satu.
Tes ini dilakukan selama dua hari. Dan akhirnya yang terpilihpun Angga, Arif, dan juga ishaq.
Dari sinilah cerita lope lope masa SD gua bermula. Awalnya gua cuma ngagumin Arig secara diam diam doank. Tapi akhirnya tetap aja nih mulut pengen banget cerita keteman gua, bisa dibilang sih teman dekat. Namanya Rifa. Dan ternyata dia juga menyukai Angga. Saat itu dia sudah pacaran, tentu aja dia jadi bermasalah sama cowonya. So, hubungan dia dengan thu kaka kelas pun berakhir. Tetapi nggak dengan gua. Gua masih terus kagum dengan Arif, dan olok-olokan itu pun mulai terdengar di telinga gua.
"Arif.. Salamnya Fita" Begitulah kalimat yang nggak jarang gua dengar dari teman-teman gua.
Hal yang sama terus berlanjut sampai gua naik ke kelas 5, dan dia yang naik ke kelas 6. Gua yang kadang salah tingkah sendiri waktu dia ngelihat kearah gua, atau saat nggak sengaja mata gua bertatapan dengan dia, atau saat dia tersenyum kearah gua.
Entah gimana ceritanya, dia ngajakin gua pacaran. Gua yang saat itu ngehindar dari dia, saat dia mau nemuin gua. Tapi akhirnya, gua nerima dia. Gimana nggak? Gua yang dari beberapa bulan yang lalu benar benar kagum sama dia, dan pengen banget dekat sama dia. So.. Nggak kan gua nolak dia?
Dia pacar pertama gua. Tapi semuanya nggak berjalan mulus. Baru satu hari, udah ada masalah. Gua yang juga saat itu masih SD, dan masih sangat diatur ibu gua. Gua nggak bisa bebas smsan sama dia.
Baru satu hari, sudah ada masalah diantara kita. Karena teman gua. Si pengganggu. Namanya Clara. Dia memang lebih dulu kenal Arif dibanding gua.
"Fita.. Lu koq pacaran sih sama Arif?" Ucapnya dengan wajah kesal
"Loh emang napa?" Jawab gua balik bertanya.
"Gua tuh suka sama dia dari dulu" Ucapnya lagi.
"Kenapa lu nggak bilang tadi? Kan gua bisa nolak dia" Ucapku lagi.

Dan.. Apa yang terjadi?
Dia ngadu ke Arif dan bilang kalau gua nyesal nerima Arif. Arif yang tau, jelas ngerasa kesal ke gua.
Besok harinya, Arif nemuin gua di kelas dengan temannya.
"Kamu nyesal pacaran sama aku ta?" Tanyanya.
"Enggak koq. Aku nggak pernah bilang gitu."
"Tapi katanya Clara gitu?!" Ucapnya lagi.
"Beneran Rif.. Aku nggak bilang gitu" Ucapku lagi.
Dia nggak jawab apapun ke gua, dan pergi keluar kelas.

Nggak lama, dia kembali masuk ke kelasku dan duduk disampingku.
"Ta.. Aku pengen kamu bilang I love you ke aku" Ucapnya dengan menatap kearah gua.
"Nggak mau" Jawab gua.
"Umm.. I love you Fita" Ucapnya dengan tetap menatapku.
"I love you too Arif" Ucap gua membalasnya.
Setelah itu, dia pun kembali ke kelasnya.
Semuanya kembali berjalan dengan baik, tapi hanya beberapa hari.
Setelah satu minggu kemudian, Clara kembali ngehancurin hubungan gua.
Kenyataannya gua memang cukup banyak dengan teman cowo dikelas. Tapi Clara, lagi-lagi Clara bilang ke Arif dengan nyebutin nama nama cowo yang dekat sama gua, dengan bumbu bumbu pemanis, penyedap rasa dan juga rempah-rempah. Dan saat itu juga hubungan gua dan Arif berakhir.

Beberapa lama setelah itu, yang gua tau Arif dekat sama sahabat gua sendiri, Lita. Tapi.. Apalagi yang bisa gua lakuin. Nggak ada!
image-url-apps
Hai sis emoticon-Smilie Nggak ada lanjutannya yak?

Enam - Ala Ala Cinta Monyet

image-url-apps
Gua yang masih sakit hati karena putus sama Arif. Belum sembuh sakit hati gua, gua malah tau kalo Arif pacaran sama sahabat gua sendiri. Perasaan gua rasanya benar-benar campur aduk. Kesal, marah, dan kecewa.
"Aarrgggh.. Lita.. Kenapa sih kamu pacaran sama Arif?! Nggak ada cowo lain apa?! Aku masih sayang sama dia!" Omel gua dalam hati yang nggak pernah sekalipun gua ungkapin.

Ditengah kesedihan dan juga campur aduknya perasaan gua. Gua punya sahabat cowo namanya Fariz. Dia teman gua sejak gua kelas 3 SD. Teman semeja gua dikelas selama hampir satu tahun. Dan sahabat gua selama tiga tahun belakangan ini. Dia yang humoris, baik, dan kalo gua boleh bilang. Cukup untuk dikatakan keren.

Dengan dia yang sering nemanin gua di kelas. Gua ngerasa suka ke dia. Iya. Gua suka dia.

Lagi-lagi gua nggak tahan buat nggak cerita ke teman gua. Sama seperti sebelumnya lagi. Cerita itu malah tersebar. Dan juga olokan-olokan itu.
"Ciieee.. Cieeee.. Fita sama Fariz.." Ya begitulah ucapan teman sekelas gua.
Gua yang memang dekat dengan Fariz sudah biasa ngobrol berdua. Tapi sekarang beda. Dekat sedikit aja gua sama Fariz. Sekelasan sudah ribut ngolokin gua sama Fariz. Dan hal itu bikin Fariz nggak nyaman. Dia malah ngejauhin gua.

Gua sadar salah gua salah. Persahabatan gua sama Fariz malah jadi renggang. Akhirnya juga tau kalo Fariz nggak punya perasaan apapun ke gua. Tapi ke teman gua yang lain. Sinta. Gua beneran ngerasa bodoh. Karena sebelumnya gua malah cerita Sinta kalo gua suka Fariz. Ah.. Gua malah bikin masalah baru. Lagi.

Belum habis perhatian gua tertuju ke Fariz. Belum hilang perasaan suka gua. Tiba-tiba seorang kakak kelas cowo, ngajak gua kenalan. Gua tanggapin dengan seadanya. Yang gua tau namanya Yasa. Hanya itu. Setelah itu gua hanya tau dia sering melewati kelas gua dengan melirik kearah bangku gua duduk.

Hari ini hari Senin. Awal minggu. Tak ada yang berbeda ataupun spesial. Sama seperti hari biasanya. Yah walaupun kata orang sih hari ini hari Valentine. Gua jalanin hari ini sama seperti biasanya.
Pulang sekolah, dengan berjalan melewati pagar sekolah gua berjalan menuju penjual salome goreng (sebutan pentol, ditempat gua tinggal). Gua beli beberapa ribu, dan diam menunggu salome yang gua pesan.
"Ta.. Beliin es nah" Kata kaka kelas gua yang cukup gua kenal. Nopran. Karena kakaknya teman kakak gua.
"Iya deh.. Pakle' es nya satu ya" Jawab gua mengiyakan dan memesankannya.

Salome pesanan gua tadi udah ada ditangan gua. Begitupun es yang sudah dipegang kakak kelas gua tadi. Gua tengah sibuk numpahin sambel kacang kedalam bungkus salome tadi.

Datang temannya nopran yang juga membeli salome. Gua lihat sebentar dan ternyata itu Yasa.
Gua telah selesai menumpahkan sambel kacang tadi kedalam bungkusan salome gua dan gua ikat bungkusnya. Lalu berjalan pergi.

"Ta.." Panggil Nopran yang bikin gua berhenti jalan.
"Hmm.. Kenapa?"
"Katanya Yasa mau nggak jadi pacarnya?"
"Nggak mau" Jawab gua terus terang tanpa berpikir panjang.
"Kenapa? Masih sayang kah sama Arif?" Tanya nopran lagi.
"Nggak koq.. Nggak suka aja" Jawab gua lagi. Lagi lagi tanpa pikir panjang. Lalu gua kembali berjalan pulang.

Beberapa hari setelah itu, Yasa datang ke kelas gua saat jam istirahat.
"Lagi apa?" Tanyanya berbasa basi.
"Nggak ngapa ngapain" Jawab gua yang hanya duduk diam.
"Ta.. Boleh minta nomer telfon mu nggak?"
"Iya boleh.. Sebentar" Jawab gua dengan mengambil kertas dan menuliskan nomer telfon gua. Walau sebenarnya nomer gua itu satu hp dengan hp kaka gua.

Sepulang sekolah gua lihat terdapat sms dari nomer tak dikenal di hp gua
"Siapa?" Balas gua yang tak lama kembali masuk sebuah sms.
"Ini aku.. Yasa" Balasnya.
"Oh.. Iya. Nanti aja ya smsnya. Tunggu setengah dua siang aja" Balas gua lagi. Yang disetujuinya dan dia ikuti permintaan gua tadi.

Tepat jam setengah dua siang. Dia kembali mengirim sms. Segera gua balas. Sms yang berisikan basa basi juga perkenalan. Sekedar bertanya kegiatan masing masing.
Tepat jam tiga gua akhirin kegiatan saling sms itu. Karena sebentar lagi kakak gua pulang.

Kegiatan saling sms tiap siang itu pun terus belangsung berhari. Dan semakin lama dia semakin berhasil mengambil alih hati gua.

Tujuh - Ala Ala Cinta Monyet 2

image-url-apps
Gua makin dekat sama Yasa. Selain itu gua juga beneran berhasil move on dari Arif. Udah nggak bersisa lagi rasanya sakit saat dia mutusin gua. Udah nggak bersisa lagi rasanya saat tau sahabat terbaik gua malah pacaran dengan orang yang gua sayang. Gua udah nggak rasain rasa sakit itu. Gua juga udah baikan sama Lita. Semuanya kambali seperti biasa. Seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Tapi gua masih sedikit canggung kalo nggak sengaja ketemu Arif.

Perlahan gua mulai ngerasa suka ke Yasa. Mungkin terlihat jelas dengan cara gua ngebalas sms smsnya.
Tapi gua nggak tau kenapa, tiga hari terakhir ini Yasa nggak pernah sms gua sekalipun. Semenjak gua "cukup" sering smsan sama dia. Dia udah jarang lewat depan kelas gua. Jujur aja tiap pergi sekolah gua berharap bisa ketemu dia, bahkan walaupun cuma bisa lihat dia dari jauh. Mungkin gua udah mulai kejebak dalam perasaan gua lagi.

Sebuah sms menyadarkan gua dari lamunan.
"Ah.. Nomer tanpa nama" Ucap gua pelan sambil membuka smsnya.
'Hay.." Isi sms itu. Gua tau nomer itu. Dulu Yasa pernah sms gua dengan nomer itu. Tapi cuma sekali. Setelah itu dia selalu sms gua dengan nomernya yang biasanya.
"Siapa ya?" Balas gua memastikan. Karena gua nggak yakin itu nomernya Yasa.
"Boleh kenalan?" Balasnya
"Iya. Boleh" Jawabku dengan singkat
"Aku Elin.. Kamu Fita kan?"
"Iya. Tau dari mana?"
"Aku temannya Yasa" Balasnya yang membuatku sedikit curiga. "Beneran itu temannya Yasa?" Ucap gua hanya dalam hati.
"Oh.." Balas gua yang masih heran.
"Kamu dekat ya sama Yasa?"
"Kenapa?" Tanya gua yang ngerasa aneh ditanya begitu.
"Aku nggak tega lihat Yasa tiap hari diam mulu, sering ngelamun mikirin kamu."
"Umm.. Terus?"
"Yasa tuh pengen kamu jadi pacarnya"
"Umm.. Gitu ya.. Eh.. Besok lagi aja ya disambungnya". Balas gua mengakhiri sms itu.

Besok harinya dijam yang sama, dia kembali mengirim sms. Benar benar melajutkan pokok bahasan kemaren.

"Kamu penah nolak Yasa ya?" Tanyanya lagi
"Hah?! Nggak koq. Dia nembak aja nggak pernah" Jawab gua
"Kalau misalnya Yasa nembak kamu gimana Ta? Kamu terima nggak?"
"Yah tapi kan Yasa nggak nembak aku"

Cukup lama. Tak ada balasan lagi darinya.

Gua mulai ngantuk dan berniat tidur saat kembali terdengar dering sms.

Kali ini dari Yasa.

"Siang Ta.. Lagi apa?"
"Siang juga Yas.. Baring doank. Kenapa?"
"Gapapa.. Umm.. Ta.. Kamu mau nggak jadi pacarku?"
"Umm.. Apa ya.. Tebak donk!"
"Mau kan?"
"Umm.. Terserah kamu. Maunya aku terima atau nggak"
"Jadi kamu nerima aku kan?" Tanyanya memastikan.
"Hu'um" Hanya itu balasan gua.

Hari ini, awal Bulan April. Gua pacaran dengan cowo bernama Yasa. Dia yang kembali ngerebut hati gua, dan kembali buat hari hari gua kedepannya cerah. Berwarna.

Delapan -

image-url-apps
Hari sabtu diawal bulan April ini panas banget. Dengan panas panas itu gua dan teman gua lainnya latihan upacara. Gua kebagian tugas naikkan bendera (paskibra kali ya namanya). Jadilah gua latihan bareng Lita. Seharusnya ada satu orang lagi, Si Rifa. Tapi hari itu Rifa lagi sakit. Yaudah mau nggak mau cuma latihan berdua deh. Semua yang latihan pasti kebagian kakak kelas buat ngebimbing mereka. Begitu juga gua. Yasa yang memang sebelumnya jadi petugas bendera, dengan wajahnya yang niat banget waktu lihat ada gua, jalan kearah gua sama Lita.
"Iih.. Ngapain kesini?" Tanya gua dengan sewot.
"Ngapain lagi kalo bukan ngajarin kalian" Jawabnya nggak kalah sewot.
"Iih.. Ogah!!!"
Gini kali ya kalo pasangan yang saling suka dan sayang, kalo ketemu bukannya akur malah saling sewot. Tapi serius deh ini rasanya asik. Lagian kita juga sama-sama tau kalo cuma becandaan.

Dengan terpaksa, dengan senang juga sih. Gua dan Lita latihan diajarin Yasa. Karena satu teman gua sakit, posisi itu ditempatin Yasa. Yasa disebelah kiri, Lita ditengah, dan gua dikanan.

Gua sih masang muka keberatan gitu. Padahal dalam hati gua senang banget. Gimana nggak senang, orang yang gua suka ada didekat gua. Lagian kan gua jadi nggak kena omelan apapun. Nggak kebayang deh kalau gua salah-salah mulu dan yang ngajarin itu kakak kelas lainnya. Kan bisa-bisa gua kenyang makan omelan.

Sebenarnya sih kalaupun Yasa nggak gantiin posisinya Rifa sementara juga nggak masalah. Tapi dia bedalih "Masa' kurang satu orang gitu?"
Hadooh.. Modus banget beib

Saat udah sampai ditiang bendera, gua lagi nungguin Lita ngikat bendera. Saat gua lihat kedepan, pasti yang gua lihat wajahnya Yasa.

Dengan sekuat iman dan tenaga, gua nahan ketawa dan kembali menunduk.

"Kenapa sih nunduk mulu?" Tanya Yasa ke gua
"Iih.. Biarin lah. Suka-suka" Jawab gua sambil menjulurkan lidah.

Latihan hari ini berjalan lancar, walaupun gua sama Lita kadang-kadang masih salah gitu.

FYI Lita ini sabahat gua dari gua kelas 1 SD. Baru kenal waktu kelas 1 sih. Tapi sekarang kita tuh dekat banget. Malahan kata orang kita tuh mirip. Padahal mirip dari mananya coba? Gua sering banget perhatiin foto kita berdua. Tapi rasa-rasanya nggak ada mirip-miripnya. Lita juga lebih tinggi dibanding gua, dan selain itu menurut gua Lita ini juga jauh lebih cantik dibanding gua. Toh buktinya setelah putus sama gua, Arif malah pacaran sama Lita kan? Hahaa.. Nggak. Gua nggak maksud apaan ngomong gini. Gua juga udah ikhlas koq. Sekarang juga udah ada Yasa. :*

Selain dimiripin sama Lita, gua dan Lita juga dimiripin sama Tia. Lah? Lagi-lagi rasanya beneran nggak ada miripnya deh. Mungkin karena kita sering sama-sama. Jadi wajahnya agak mirip. Itu sih perkiraan gua.

Pernah suatu hari gua pergi ke dalan hutan bareng Lita dan Tia. Hahaa.. Ampun. Ini ngawur. Gua pergi ke perpustakaan bareng mereka berdua. Waktu itu lagi jam istirahat dan kita pengen cari-cari buku bacaan. Maklum lah lagi kurang kerjaan.

Terus penjaga perpusnya nyeletuk "Eh.. Kalian bertiga ini saudaraan ya?" Pertanyaan yang bikin kita bertiga diam dan bengong berusaha ngunyah dan nyerna pertanyaan itu.

"Eh.. Nggak koq bu. Kenapa bu?" Ucap gua lebih dulu.
"Gapapa. Habisnya kalian mirip. Ibu kira kalian kakak adek" Jawab ibu itu yang malah bikin kita bertiga nyengir.
"Nggak bu. Kita teman sekelas" Kali ini Lita yang jawab.

Ya begitulah moment dikatain mirip.

Selesai latihan upacara dan beristirahat sebentar. Gua pun pulang.
"Huuh.. Capeknya hari ini. Mana panas banget lagi" Omelku dalam hati sambil berjalan pulang.
×