alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Laki-Laki Mah Kudu Finish
4.78 stars - based on 23 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/558eea7494786884668b456a/laki-laki-mah-kudu-finish

Laki-Laki Mah Kudu Finish

Halooo semuanya emoticon-Blue Guy Peace
Setelah thread ane sebelumnya sempet terbengkalai karena ketauan sama temen di RL
ane putusin buat ga ngelanjutin aja
Maapin Aim ya emoticon-Frown
Sekarang mau cerita lagi, Insya Allah tamat lah ini mah
Lanjutan atau bukan ya di simpulkan sendiri saja


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Laki-Laki Mah Kudu Finish


Ini bukan cerita mengharu biru, bukan pula kisah cinta romantis nan puitis.
Apalagi komedi yang bisa membuat anda sekalian tertawa.
Ini cuma cerita perjalanan anak laki-laki biasa sebut saja Darso biar kayak penyanyi paporit saya.


Tapi da bukan itu nama aslinya mah anjir, ciyus :'(
Pokonya kalo berkenan mah di baca ajalah ya gaeeees.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prolo-gue

Saya anak laki-laki yang telat 2 tahun masuk kuliah. Bukan telat yang lainnya. Suka sekali dengan hal-hal yang berbau mistis, suka juga bawa misting sebagai wadah sangu (tempat nasi) biar ngirit, biar ga jajan di luar. Kata ibu jajan di luar itu bahaya. Apalagi kalo ga pake pengaman. Ah ngomong opoooo toh leeee.

Sangking sukanya sama acara mistis, saya pernah nge-tweet ke acara di tipi yang ada uji nyalinya, pake #TanyaMDL. Wajib. Pertanyaan saya mah gampang sih sebenrnya, tapi gatau kenapa admin akun itu ga pernah bales sampe sekarang. Padahal cuma nanya, "Kang Arif (nama ustadznya) kenapa suka keluar malem ga pake jaket? Kasian ih sampe kedinganan gitu, jadi aja suka kayang embeeem embeeem man :'( "

Dan sampe detik ini juga masih ga di bales sama adminnya. Siyalan.
.
.
.
Menurut MAW Brouwer (Tahunnya saya gatau) "Tuhan menciptakan tanah Priangan tatkala sedang tersenyum". Sedangkan menurut PidiBaiq (sama, gatau tahunnya) "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi". Dan menurut saya, Bandung selalu punya cerita. Selalu menyajikan tempat yang hangat untuk kembali pulang. Setiap orang yang pernah tinggal disini selalu merindukan Bandung tatkala telah kembali ke kampung halamannya. Tapi saya mah engga, da rumah saya disini, di Bandung.
Itu mah kalian we para perantau.
Oke maap canda atuh ah.
Atulaaaaaaaahhh.
Halah Apa ini.

Tumbuh dan besar disini menjadikan saya pemuda pribumi sejati. Atau singkat aja P2S, atau PS2, atau PS3, serah kalian aja. Asal jangan PS4, masih mahal. Nge-rental di Dipatiukur aja masih ceban sejam. Seperti mahasiswa lainnya, saya di wajibkan melewati tahap ospek. Tapi tenang aja, cerita ga dimulai disitu, soalnya saya kabur ga ikutan ospek. Sekilas info aja, kampus saya itu kampus kedinasan. Jadi harus pake seragam kalo kuliah. Harus rapih. Pake asrama segala. Rambut ga boleh gondrong. Cepak abri lah harusnya mah. Makanya saya ga ikutan ospek, males potong rambut. Sayang udah mirip Oliver sykes jaman gondrong dulu emoticon-Malu (S)

Sebagai pribumi sejati, saya ga tinggal di asrama. Masih bulak-balik Metro-Dago setiap hari. Jaraknya sekitar 45 menit kalo pake motor. Itu juga kalo ga macet. Kalo macet ya saya markirin, lumayan buat tambahan uang jajan. Iya iya bohong yang itu mah. Waktu pertama baru masuk kelas, semua mata tertuju pada saya. Mungkin mereka ngira saya orang nyasar yang masuk kampus itu.

"Bro.. lo ko gondrong?"
"Kakak tingkat ya bang?"
"Mas...salah masuk kelas apa gimana?"
"Ini anak kamu! Tanggung jawab!!" yang ini mah boong.

Pertanyaan pertama setelah masuk kelas ya kira-kira begitu. Tapi saya selalu inget sama kata-kata Ahmad Dhani, "hadapai dengan senyuman". Jadi semua yang nanya saya jawab dengan senyum. Itung-itung ibadah. Kata bapak saya, ibadah itu wajib. Biar masuk sorga, biar ga nyimpang dulu ke neraka buat di siksa. Yakali pak saya mau nyimpang cuman buat di siksa.


Dan dari sinilah cerita berkelanjutan saya dimulai....



Spoiler for Index:


Diubah oleh guemahselow
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 13
Emang cerita lu yang gak kelar2 tu yang mane gan?
Jadi penasaran emoticon-Hammer
Wahh keknya derita si om ini keyen emoticon-Belo
Om om kok om bisa telat 2 taun om? sering bangun kesingan yak om emoticon-Hammer
Dan sayapun mulai bertanya "apakah cerita ente cuman sampe sini" emoticon-Ngakak

Sok dilanjut kang....

HOM-PIM-PA

Setelah perkuliahan dimulai gue mulai kenal sama anak-anak satu kelas. Walaupun kebanyakan kenal sekilas doang sih. Jadi satu kelas ini dihuni oleh berbagai mahluk dari segala penjuru Indonesia. Ada yang dari Bangka Belitung, Makassar, NTB, pokonya semacem nusantara mini. Justru pribumi macem saya ini yang menjadi minoritas.

Waktu itu pikiran saya kuliah ya menyenangkan, tapi sekarang setiap berdoa saya cuma minta pengen lulus aja ga minta yang lain-lainnya. Semoga Tuhan mengabulkan secepatnya. AMIN.
Di kelas, saya juga dapet 2 temen yang lumayan enak di ajak ngobrol.

Pertama, sebut saja Agung. Anak serambi mekah yang telat nakal setelah mengenal pergaulan di Bandung. Dia cees saya banget, soalnya kosan dia sering dijadiin tempat persinggahan selama menunggu kuliah selanjutnya. Terimakasih nak, jasamu takkan pernah terlupa.

Kedua, namanya Ipeng. Masih orang parahyangan, tapi kepinggir sedikit. Yang paling muda dari kita bertiga tapi otaknya paling kacau. Entah apa motivasi dia yang nge-fans banget sama Onci Ungu. Kalo dia udah maenin gitar, pasti cuma hafal lagu Ungu. Di kasih lagu barat cuma bisa bengong doang saking ga pahamnya.

Jadilah kita bertiga selalu duduk dibarisan paling belakang setiap perkuliahan. Tujuan utamanya adalah ngebidik sasaran mahluk ciptaan Tuhan yang paling seksi.


"Peng, yang itu saha sih namanya?" saya menunjuk seorang wanita yang duduk dua baris didepan kita
"Yang mana coy? yang rambut nya panjang badan nya semok bibir merah?"
"Si aduh sampe hatam gitu deskripna anjir, sakti maneh hahaha"
"Aing tea atuh! itu Weni, sebelahnya Halida, nah yg pinggir nya Gina"
"Eh eh apaan sih ikutan ngobrol dong gue" si agung gamau kalah kalo bahas cewek
"Nah cakep tuh peng, ajak maen lah" saya mendadak semangat
"Gampang bisa di atur. Mau kemana biar aing enak ngajak nya?"
"Atuh gue ikut sih" dengan logat sumatera-sunda yang di paksakan
"Karaoke aja peng, asik kayaknya"
"Oke coy tunggu bentar"
"Anjeeeng waro kali" si agung ngambek, bodo amat haha.


Saya gatau si Ipeng gimana ngajak nya, yang pasti sepulang kuliah kita sudah di satu room karaoke ber-6. Cewek-cewel mulai milih lagu yang mau dinyanyiin. Saya malah hom-pim-pa alaihum gambreng sama kedua temen aneh ini. Intinya adalah, siapa yang deketin siapa. Maksunya dua cewek itu aja sih. Gina ga kita itung. Jahat emang temen saya mah. Untuk skala ukur 1-10, Weni nilainya 8. Halida 7,5 dan si Gina berapa ya, serah ajalah pokonya di bawah mereka berdua. Karena saya kalah hom-pim-pa jadi saya disuruh nunggu mereka beraksi duluan.

Ipeng dan Agung mulai berbaur dan nyanyi bareng sama cewek-cewek. Saya lebih milih ngabisin rokok di pojokan. Bukan galau, cuma takut asep nya kena para wanita. Aaaah mulia sekali kau nak. Disaat keliatannya sudah mulai capek nyanyi, Weni mendekati saya di pojokan dengan HP yang sedaritadi tergenggam erat di tanggannya.

"Kamu ko diem aja daritadi? ga nyanyi?" Weni membuka obrolan
"Eh... engga ah kagok rokok ini. Lagian takut terkesima kalo aku nyanyi mah haha" saya ketawa krenyes, garing.
"Kamu asli mana sih?"
"Aku mah asli Bandung ko, kamu?"
"Waaah sama dong kita"
"Serius? haha kirain orang luar"


Mulailah obrolan seputar, kamu kenal si ini ga, si anu ga, dan seterusnya. Ternyata kita cepat akrab juga, Weni asik diajak ngobrol. Ga lama Halida ikut gabung sama saya dan Weni. Berbarengan dengan tatapan sinis dua mahluk aneh yang curi pandang sambil nyanyi. Saya kasih tanda penghormatan ke mereka, simbol pakyu. Mereka juga bales. Jadi kita pakyu-pakyuan tanpa melihat. Weni sama Halida cuma ketawa aja ngeliat kelakuan kita bertiga.

"Ini punya kamu kan? aku minta ya satu" tangan Weni meraih bungkus rokok saya yang tergeletak di meja


Tanpa kesulitan dia menyalakan korek dan mulai membakar sebatang rokok di mulutnya.

Waduh. Saya kaget, dalam hati. Muka mah tetep sok cool.
beuh ieu caritana gereget kieu prolog na ge

dilanjut kang eh mang eh wa eh bah dongengna

*siap memantau dan bikin kemah* emoticon-Ngakak (S)
Quote:

Ada ko gan di profil saya liat aja, tapi thread nya sedikit di acak-acak saking panik dulu ketauan :')

Quote:

Daripada telat dapet om kan bahaya wkwkwk sebelumnnya sempet kuliah sih cuma kena DO gegara keseringan nangkring di rental PS haha :'(

Quote:

Hahaha Insya Allah moal lah, siap nuhun komandan. Lafyu emoticon-Kiss (S) wkwk
Sok atuhlah di lanjutkeun bray caritana . .
Wah nenda ane gan emoticon-Shakehand2

Dilanjut gan apdetannya .. Njirrr Weni keyeeeeen badassssss
nyamperin teh mau minta rokok wkkwkw..emg rokok lo apaan?
Anjjaaayyyy aya carita anyar euy
Gelar tiker nya kang sami urang bandung emoticon-Big Grin salam sadudulur emoticon-Big Grin
wah urang bandung euy emoticon-Big Grin

bisa nih sekali2 jalan kita emoticon-Ngacir

Aku Mah Apa Atulah

Perlahan tapi pasti Weni menghisap kepulan asap lalu mengeluarkannya lagi sembari sesekali mengetik sesuatu di HP nya. Yaiya masa di telen. Pokonya dia udah hatam banget cara ngerokok. Kesimpulan saya mah dia udah lama cantiknya. Eh ngerokok nya. Jangan salah pokus, nanti sakit. Kayak percakapan saya selanjutnya.

"Sibuk banget neng ngetik nya, ga aus? nih minum" saya menyodorkan botol soft drink buat Weni
"Hahahaha makasih. Ini cowok ribet banget kalo ga dikabarin tuh" manyun-manyun minta di cium
"Pacarnya?"
"Iyaa. Pusing ah aku mah" sekarang HP nya di lempar. Ke korsi yang empuk sih. Ga dramatisir juga.
"Udah lama pacarannya?"
"Ya lumayan lah udah mau 5 tahun, dia jg yang bantu aku masuk kuliah disitu"


Jadi di kampus saya mah kalo ga punya koneksi di dalem susah banget masuknya. Karena sebagian besar mahasiswa disana itu anak-anak dengan status yang terikat dengan dinas daerah nya masing-masing. Banyak juga orang tua yang di sekolahin lagi di kampus saya sama kantornya.

"Ko bisa? emang pacar kamu jadi apaan di kampus?"
"Bukan dia sih, babeh nya. Rektor di kampus kita"


Wanjeeeeeng anak rektor. Udah lama pula pacarannya. Ah da aku mah apa atuh, tau saingan nya anak rektor juga sabodo teuing haha. Lama kelamaan saya merasa ngobrol sama Weni ini menguras rokok. Yang tadinya rokok saya msh penuh sudah berkurang setengahnya. Tapi ternyata Halida juga daritadi merhatiin kita ngobrol sambil nyomot rokok saya. Anak Dajaaal -___-

"Kalo kamu punya pacar ga?" Halida mendekatkan posisi duduknya pada saya
"Saya? Hahahahahahaha ga ada anjir :'( "
"Masa sih? tampang cabul gitu kamu mah haha"
"Hiiih makasih loh di katain cabul, terharu aing -_- . Nah kamu punya ga?"
"Ada dong, tapi bosen ah. Mau putus aja. Musingin dia mah."
"Maaaaak enak amat ngomong nya bosen mau di putusin"
"Hahaha maksutnya mah mau aku putusin. Bikin pusing aja."


Okeeeeh, okeeeeeh. Dua-duanya udah punya monyet. Keliatan juga Ipeng sama Agung merhatiin obrolan saya daritadi. Mereka ngangguk-ngangguk sok iyah gitu mukanya. Dari dulu saya punya prinsip, kalo mau deketin cewek harus sampe tuntas. Harus finish. Walaupun hasilnya mengecewakan yang penting udah usaha. Jangan pernah berenti di tengah jalan, itu mah ga konsisten. Ga laki banget. Kecuuaaaaali, kalo ceweknya udah punya pacar. Lain cerita itu mah.

Karaokean udah mau berakhir. Saya liat Ipeng udah janjian mau nganterin Weni. Gina mau pergi lagi sama temen nya yang lain. Tinggal saya, Agung sama Halida aja yang masih bingung mau kemana. Ipeng dadah-dadah dari motornya waktu boncengin Weni, mupeng banget mukanya. Nasib kalah hom-pim-pa jadi aja harus merelakan temen saya usaha duluan. Kalo tangan kebanyakan di pake ngocok ya gini, jadinya camal (bikin ga hoki). Agung inisiatif mau nganterin Halida pulang, tapi dianya gamau. Saya ketawa jahat. Enakeun sumpah ngetawain orang mah.

"Yaudaaah gue cabut duluan lah, lo kalo mau ke kosan gue dateng aja men" Agung ngeloyor pergi duluan


Sekarang tinggal gue berdua sama Halida. Gina udah di jemput temennya. Kita sama-sama bingung mau kemana. Mau pulang tapi masih sore, nanggung ntr macet dijalan.

"Eh.. kamu mau ikut ke kosan aku ga?"


Halaaaah... saya pun ngikut dia ke kosannya emoticon-Malu (S)
Diubah oleh guemahselow
Quote:


Hahaha caritana mah biasa wae da kang, sungguh :'(

Quote:


Siap bray kalem can ngopi mah can konek otak wkwk

Quote:


Silakan gan, awas tendanya kena angin puting beliung. Mending kalo cuma puting mah emoticon-Kiss (S)
Quote:

Anjir saya baru kepikiran lah, ternyata selama ini cuma mau minta rokok emoticon-breakheart rokok saya cl*ss mild gan wkwk
Quote:

Mangga kang, asal jangan gelar tikar di zona merah. Di tewak sama satpol PP ayeuna mah :'(
Quote:

Bisa kang, nanti saya ajak ke jalan yang lurus lah wkwk

Quote:


boleh da gampang, tapi lanjutin dulu ceritanya emoticon-Mad (S) emoticon-Ngakak (S)

Gingsul

Okeh untuh memudahkan sodara-sodara sekalian, saya akan mendeskripsikan neng Halida. Paras nya cantik dengan sedikit bekas jerawat yang bergerilya di sekitar pipi, body nya berisi, rambut panjang dan selalu tergerai begitu saja. Cara berpakaian nya pun enak di pandang. Khas anak muda Bandung di jamannya dengan baju nge-pas di badan dan juga celana skinny serta sepatu agak gemuk. Kebayang? Awas jangan bayangin yang lain, bagian saya ini mah.

"Da.. kamar kamu ko berantakan gini..?" banyak kardus yang tertimpa oleh boneka berukuran sangat besar dan belum tertata di kamarnya.

"Maklum atuh baru pindah seminggu, cape abisnya kalo bulak-balik ke rumah terus.."
"Sini bantuin aku angkat dus nya biar bisa tiduran.." dia melambaikan tangan pertanda menyerah. menyuruh lebih tepatnya mah.

"Okelah.."

Saya dan Halida mengangkut dus-dus yang lumayan berat itu agar terpinggirkan. Boneka yang di dominasi beruang juga saya pindahin. Takut tiba-tiba idup kayak di pilem-pilem.

"Kamu mau minum apa? Aku mau ke warung dulu ini.."

"Apa aja asal dingin dan berbentuk teh.."

"Oke boss.. Istirahat aja dulu sambil nonton tipi atau ngapain lah terserah.." pintu kamar pun dibiarkan terbuka olehnya.

"Terserah..?" dalam hati. Untungnya pikiran aneh saya buru-buru di tepis oleh sebuah kitab suci dari barat yang terletak di atas telepisi. Dikira anak buah sun-go-kong.

Saya mulai menatapi seluruh isi kamar. Banyak banget bonekanya numpuk di kasur. Ada juga poto-poto dia dan beberapa temannya dan juga.. poto dia dengan yang saya pikir adalah kekasihnya. Ga berapa lama Halida dateng.

"Ini pesenannya mas.." sebuah keresek putih diberikan pada saya

"Loh sejak kapan minuman teh jadi ada sodanya neng..?" cuma ada satu minuman soda di dalemnya

"Ga ada teh nya, mau ga? kalo engga buat aku aja mayan jadi 2 hahaha.." gigi gingsul nya mulai menampakkan diri

"Yaudah gpp lah daripada ga ada.." masih merhatiin gigi nya. tuhan.. saya ga kelainan kan? masa merhatiin gigi. bibir saya minta di asepin, asem rasanya daritadi ngobrol ga pake ngelepus. "Da boleh ngerokok ga di dalem..?" takutnya di kamar cewek ga mah boleh. biasanya kan gitu..

"Sok aja kalem.. tu asbaknya ambil di laci paling bawah ketiga dari kiri, ke empat dari tadi, kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat endonesah.."

".....kumaha kamu aja Da.."

"Hahahahahahaha.. iya sok aja atuh santei.." masih keliatan gingsulnya. sumpah saya ga kelainan.

"Aku enaknya manggil apa ya sama kamu.. Abang aja boleh ga? bagus tuh kayaknya.." belum apa-apa dia sudah menepatkan saya di abang-adek zone. Ngeri kali pemirzaaaaaahhh.

"Iya segimana enaknya aja.." senyum saya kecut, alis naik satu. jelmaan The Rock.

Waktu terasa berjalan begitu cepat disaat kita sedang asik menikmati suasana dan bersantai seperti ini. Ga kerasa udah jam 8 malem dan saya udah di teleponin sama anak-anak di rumah buat futsal. karena lawannya kali ini lumayan berat dengan taruhan yang kalah bayar lapang sama minuman. Dua galon.

"Da aku cabut ya, anak-anak udah neleponin terus.." saya berdiri mengenakan jaket dan mengambil helm. dia terlihat sibuk dengan sesuatu di dalam tasnya. "Bentar bentar bang.. minta nomor hp abang dong.." ini ga salah? dia yang minta nomor saya? hahahaha tingkat Pd meningkat drastis.

"Hati-hati di jalan ya, kalo udah sampe kabarin aku.." nada nya terdengar manja.

"Siap 86..!" saya pulang dengan gagah nya...
Quote:


Wah jgn puting kang emoticon-Embarrassment
Ane iman cetek bisa2 bablas puasanya emoticon-Ngakak

Komeng : Kode itu kode .. samber aja kang jgn pake lamaaaaaaaa emoticon-Ngakak (S)
2 kemungkinan knpa halida agresip .

1. TS-nya Good looking
2. Halidanya mabok soda emoticon-Hammer (S)
Gila euy , baru kenal udh ngajakin ke kosan emoticon-Genit

Tapi ternyata gak sampe... #ahsudahlah emoticon-Ngakak (S)
Ninggalin jejak, apdet terus gan
Cirian heula make pamisah buku
wah uda abang-adek zone aja nih emoticon-Belo untung kagak ojek-zone atau babu-zone emoticon-Big Grin emoticon-Peace

numpang disini gan emoticon-Big Grin ditunggu update an nya, semoga gak kayak cerita" laen yg terbengkalai ditinggal yg punya emoticon-Frown
Diubah oleh nonanyonyo
Halaman 1 dari 13


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di