alexa-tracking

I'm Here

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/558646e1d675d458338b4569/im-here
I'm Here
Assalamu'alaikum agan/aganwati emoticon-Smilie Aku mau share fanfict nih yg sebelumnya udah aku posting di akun facebook aku yg unamenya Story Kece.

Happy reading :3 nggak panjang kok ^^

_________________________________________

Bagaimana perasaanmu ketika seseorang yang selalu ada di sampingmu, sangat berharga dan memiliki posisi khusus di hatimu tiba-tiba menghilang tanpa jejak, meninggalkanmu sendiri dalam hati yang penuh sesak lantaran perasaan yang tak sempat disuarakan lewat untaian kata-kata.

Kehilangan, menyesal, dan sederet perasaan tak mengenakkan. Itulah yang akan mendominasi isi hatimu kala kau mengalami hal yang serupa denganku. Hal menyakitkan yang murni terjadi akibat kebodohanku sendiri. Karenanya, hampir setiap malam aku menangisi sosoknya, lelaki yang kucinta.

Kerap kali diriku mendambakan senyumnya yang sehangat sinar matahari pagi, tatapan matanya yang menenangkan, dan segala yang ada pada dirinya. Bahkan tak jarang bagiku untuk merindukan sikapnya yang menyebalkan. Bersikap menyebalkan, sama sekali tak mengapa asalkan dirinya tetap berada di sisiku, di dekatku. Aku merindukanmu, Shinichi. Selanjutnya seperti sebuah kebiasaan yang tak mudah diubah, aku akan menangis semalaman setelah mengucapkan sebuah kalimat sederhana itu, kemudian tertidur karena keletihan menangis.
***

Dua tahun lamanya berpisah, tanpa kejelasan kabar yang pasti, sudah cukup membuat hati ini meradang. Dulu, saat ia masih sering muncul di hari-hariku, tentunya ia akan bersandar di tembok depan rumahku. Menungguku entah sejak kapan, aku tak tahu pasti akan hal itu. Lalu aku akan menghampirinya dan tanpa tedeng aling-aling dia menarik tanganku ke dalam tangannya yang hangat. Setelah itu kami akan berangkat ke sekolah bersama, membicarakan berbagai topik sesuka hati, biasanya Shinichi selalu memanfaatkan apapun yang tengah kami bicarakan dengan menyelipkan sisi konyolnya sehingga membuatku tertawa geli. Uhm... Dia tak pernah gagal membuat hariku cerah, semendung apapun langit di atas sana.

"Aku suka melihatmu tertawa."

Kalimat Shinichi yang tak pernah terlupakan hingga detik ini. Saat ia mengucapkannya aku ingat betul kala itu jantungku seolah melompat-lompat seperti kelinci nakal di dalam sini. Dunia seolah berhenti berputar seiring dengan bergemanya kata-kata Shinichi di dalam kepalaku. Tak ada kata yang mampu terucap, aku hanya menatap matanya seakan meminta penjelasan lebih lanjut dari apa yang telah dikatakannya.

Itu hanya sekilas kenangan manis yang terlanjur melekat di dalam memori ini. Dan selamanya akan menjadi kenangan yang mungkin... tidak akan pernah bisa bertambah dengan kenangan-kenangan manis lainnya.

Aku mencintaimu, Shinichi.

Hanya beberapa kata namun terasa sulit untuk diutarakan. Hanya memakan sedikit durasi namun nyatanya terlambat untuk menyatakannya. Terlambat... ya, sangat terlambat.

Dan sekarang kuteriakkan semua yang kupendam jauh di dasar hatiku. Berharap semuanya terbang seperti angin yang menerbangkan partikel-partikel debu.

"Shinichi! Aku merindukanmu!"

Belum cukup.

"Aku menyayangimu!"

Masih kurang.

"Aku mencintaimu!"

Masih sama seperti semula. Selamanya hati ini takkan lega sebelum menyatakannya langsung kepada orang yang bersangkutan. Sayangnya Shinichi takkan kembali, ia tak mau menemuiku, selamanya.

"Maafkan aku!"

Untuk kesekian kalinya kuteriakkan semua beban kerinduan yang tak sanggup kupikul lebih lama lagi. Di atas bukit nan sunyi ini, ditemani dengan bunyi-bunyian serangga khas musim panas. Selebihnya tak ada lagi.

"Aku mendengar semuanya, Ran."

Sebuah suara yang sangat kukenali tiba-tiba menjamah pendengaranku. Aku tak tergesa-gesa membalikkan diriku ke belakang, melainkan memantapkan hati terlebih dahulu. Sepenuhnya berdo'a dengan mata terpejam, berharap supaya suara itu benar-benar ada, bukan hanya halusinasi semata. Aku berdo'a dan berdo'a hingga kurasakan seseorang mendekapku ke dalam pelukan hangatnya. Perlahan kubuka kelopak mataku dan kudapati kedua bola mata berwarna gelap itu menatapku dengan lembut.

"Aku di sini." ucapnya diselingi dengan seulas senyum sehangat sinar matahari pagi.

Seolah terhipnotis oleh matanya, aku hanya bisa tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala pelan. Terlalu gembira sehingga takut bicaraku jadi tak jelas karena perasaan bahagia yang memenuhi ruang di hati. Oleh karena itu, aku memilih diam dan menyamankan diri dalam dekapannya. Debaran-debaran berirama kini menghiasi penantian akan kalimat-kalimat yang akan dikatakan selanjutnya. Teriakanku tadi, bukankah dia bilang bahwa ia mendengarkannya? Yang kupermasalahkan ialah bagaimana tanggapannya atas semua yang kuteriakkan. Apakah penolakan, atau Menerimaku. Entahlah... Tapi, Shinichi sepertinya... Oh tidak, tidak. Aku tidak boleh begitu percaya diri. Belum tentu dia menerima perasaanku. Buktinya dia menjauhiku selama dua tahun tanpa alasan yang jelas.

"Hm... Lama tak bertemu. Kuberitahu, dua tahun ini aku disibukkan dengan kasus-kasus yang tak berkesudahan." ucapnya.

Jadi...

"Ran, sepertinya akulah yang lebih dulu mencintaimu. Dasar kau saja yang bodoh dan tidak menyadarinya." lanjutnya manis diawal dan merusaknya di akhir. Dasar, Shinichi.

-Fin-
×