alexa-tracking

Radio Galau FM, sebuah kisah tentang dunia radio

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5583939454c07ac9158b456d/radio-galau-fm-sebuah-kisah-tentang-dunia-radio
Radio Galau FM, sebuah kisah tentang dunia radio


Quote:


Radio Galau FM, sebuah kisah tentang dunia radio

Radio mendekatkan yang dekat - seorang Kaskuser

Radio bukan hanya tentang penyiar.


Quote:


Quote:


Kisah ini adalah kepanjangan dari cerita akun @RadioGalauFM di Twitter. Gue sama sekali ga ada afiliasi sama Radio Galau FM. Gue hanya menceritakan Radio Galau FM itu dari sudut pandang yang berbeda. Ini juga jawaban atas ketidakpuasan gue sebagai pendengar radio atas film Radio Galau FM yang sama sekali ga nyinggung dunia radio.

Sudah gue cek sinopsis film Radio Galau FM ternyata ga menyinggung sama sekali dunia radio. Mungkin menyinggung tapi gue rasa radio ga bermain peran penting di sini. Nah, gue menggarap cerita di mana dunia radio – yang menjadi mainan gue sehari-hari juga – dan apapun yang terjadi di balik ruang siaran berperan utama. Kisah cinta pula ada di sini.

Kisah ini didasarkan atas pengalaman pribadi juga walaupun fiksi semata. Selamat menikmati.

Quote:


Nanti ane rapikan threadnya. Ditunggu juga kehadiran Bara alias Bernard Batubara di cerita ini.

Radio itu lebih kuat dari televisi karena kamu hanya bisa mendengar siaran radio. Mendengarkan radio membutuhkan imajinasi sampai perasaan.

Gunakan Line untuk komunikasi dengan TS kalo TS lagi ga ada di sini.
Line TS: msael. Ingat tulis nama dan jelasin tujuan lo ngechat. Yang ga jelas akan gue tolak+block demi keamanan emoticon-Hammer (S)
Quiz closed emoticon-Cool

Index sudah dibuatkan agan el.fuego
image-url-apps
Seru nih ...
Dunia radio ... emoticon-Kiss (S)

Lanjuut duluu kisahnya ..
Ngedeprok dulu lah ... emoticon-Big Grin
KASKUS Ads

Part I: Nostalgia dan Sebuah Sentakan


Aku dulu hanyalah anak dari keluarga Kristen biasa yang tinggal tak jauh dari gereja. Jadi ke gereja tinggal jalan kaki. Aku tidak terlalu aktif di lingkungan alias jarang keluar, tetapi ya begitulah, aku tetap dikenal di lingkunganku. Setiap orang di lingkunganku cepat dekat denganku dan juga ramah denganku. Sering main bola bareng sampai kumpul-kumpul, juga main dengan teman segereja sekolahan meski tak intens.

Langsung ke hubungannya dengan radio. Semua perjalanan mendengarkan radio kuawali dari saat aku TK umur 5 tahun. Papa pulang kantor dengan mini compo keluaran terbaru pada saat itu, sering dijadikan hadiah kuis di majalah konon katanya. Saat itu 14 Mei 1998. AH, PEMBACA TAHU LAH TANGGAL INI. Kerusuhan 1998. Di saat yang mengkhawatirkan itu, Mama terus terusan menonton TV sedang aku hanya tiduran di kamar sebagai anak TK yang tidak tahu apa-apa.

Nah, kudengar dari Papa, ia berkata, "Ini radio baru buat papa mama sama Sael. Hasil ngejarah di Mega Mall Tangerang tuh. Kebetulan Papa baru pulang kerja, mampir, eh tiba-tiba ada orang ngejarah ke toko elektronik. Papa ikutan ngambil Compo di situ,"

Lalu aku sela, "Ma, ngejarah itu apa ma?"

Mama kehilangan kata-kata saat kutanya begitu. Mama geleng-geleng kepala sekaligus bernafas lega, karena Papa nyaris saja terperangkap di mall itu saat mau dibakar. Katanya, ia langsung kabur saat masih ada massa yang masuk ke mall, dan tak lama kemudian setelah ia lolos menjebol pagar dan menyeberangi jalan tol, terdengar suara tembakan dan dentuman, sampai... insiden mengerikan dalam sejarah Tangerang itu terjadi.

Setelah itu, aku mulai memainkan radio itu seperti anak kecil layaknya. Mama sering kesal juga dengan kelakuanku. Ketika Mama sedang mendengarkan berita terkait Peristiwa 1998, aku pernah iseng mengganti salurannya dan zonk, aku kena marah deh!

Begitulah aku tumbuh bersama televisi dan radio. Secara bergilir. Televisi menemaniku saat jam prime time, radio menemani saat pagi dan siang hari sepulang sekolah. Ya maklum lah, televisi isinya FTV dan mama bukan orang yang suka drama.


Ketika nostalgia ini kutulis dan aku sudah menyatu dengan nostalgiaku, tiba-tiba ada panggilan kerjaan di malam itu.

"Halo, Bang Fajar yah?" Ngomong-ngomong Bang Fajar adalah program director di radio itu, mengatur rundown acara sampai mengatur para penyiar akan berbuat apa.

"Sael bisa gak lu gantiin si Dian? Dia terpaksa ga bisa siaran karena emaknya jatuh dari toilet." Aku kaget dan terperanjat. Bisa-bisanya kabar itu datang seperti suara adzan di tengah malam. Haduh, mana Dian dapetnya siaran ngabuburit yang akan jatuh jam 2. Sementara aku masih belum siap untuk siaran.

"Hah bang Fajar, elu beneran?"
"Kalo ga beneran ngapain gue yang telepon elu."
"Gue belum siap apa apa bang. Sekrip gue belum ada."
"Udah lu bisa siaran ga pake script bray. Gue tau lu jago, bisa siaran kayak ngobrol aja."
"Lu ga bisa cari pengganti lain emang?"
"Ini gawat banget, cuma elu yang bisa gue contact buat ganti si Dian. Anak-anak lain pada bukber sama temen-temennya sendiri. Si Ridwan pulang kampung. Lu doang bray yang bisa gue contact apalagi lu ga puasa jadi lu ga terikat sama bukber dan segala macemnya."
"Ya udah deh Bang, apa bisa gue buat. Gue sanggupin lah permintaan lu."

Aku kaget. Sudah dibuat tercekat dengan si Dian yang mamanya mendadak sakit, mana gue disuruh siaran sampe jam buka puasa, ya jelas kepingan nostalgia yang sudah kususun sedemikian rupa berantakan. Sulit buatku melanjutkan cerita yang terbayang di pikiran, terketik di Notepad, kalau keadaannya genting begini.

Sekarang jam 12 lewat. Aku harus buru-buru cari rumah sakit tempat mama Dian dirawat. Aku juga harus buru-buru ke markas Radio Galau FM di Gedung Indonesia-1 lantai 57. Dengan hati-hati kuketik chat Line ke Dian.

"Di, mamamu dirawat di mana?" Tak lama ada jawaban.
"RSPAD Gatot Subroto"

Nah langsung saja aku meninggalkan rumah menuju stasiun kereta layang Tangerang. Kereta ini termasuk proyek LRT yang dicanangkan Ahok pada tahun 2015. Benar-benar terkagum karena pembangunan pada tahun 2020 sudah sepesat ini. Tidak seperti saat aku masih remaja, aku lewat jalur ini harus gontok-gontokan dengan macet luar biasa. Awal aku kerja di radio lain di wilayah Thamrin juga - tepatnya Sarinah, macetnya benar-benar dahsyat. Siang-siang juga masih macet di situ, sampai aku sering terlambat siaran saat awal di radio itu. Kepindahanku ke Radio Galau FM seiring dengan pembukaan jalur MRT dan LRT. Aku bisa naik kereta layang dari Tangerang (atas Jalan Raya Serpong) hingga langsung turun di Harmoni. Tinggal naik busway ke kantor. Udah gitu semuanya on-time. Ah, dulu mimpi bisa begitu.

Jam 1 ketika aku tiba di lobby kantor. Berhubung naik lift di skyscraper butuh waktu lama artinya aku udah ngepas jam segitu. Tidak keburu lagi menjenguk si Dian. Aku buru-buru mencari makan ke kantin ekspatriat di halaman belakang. Kantin ini yang tetap buka pas bulan puasa. Setelah merogoh kocek yang sama saja dengan kantin biasa walau konon kantin ini lebih mahal (kenalanku memberikan diskon emoticon-Big Grin) aku makan dan tak lama kemudian sudah di lift. Waktu menunjukkan setengah 2.

Sekeluarnya aku dari gerbang lift, tiba-tiba ada lagu yang sering kudengarkan pas kecil. Lagu Sephia dari Sheila On 7. Sewaktu SD kupantengi sinetron yang soundtracknya lagu ini. Ah jadi kangen. Lagu itu diputar di deck siaran si Audrey, penyiar baru yang sering baper saat siaran. Hihihi....

Ketika aku berdiri membelakangi Audrey, aku minum karena cuma ada aku, Audrey, dan Produser Fay. Kita bertiga sama-sama tidak puasa. Tetapi...

"Sael jangan minum dulu. Tuh ada Bang Fajar dateng,," kata Fay. Minum kumasukkan lagi ke tas. Dan Bang Fajar membuka pintu...

Part 2: Ingat Mira (Ganti Judul)

"Bang Fajar!" kataku, menjaga wajah jangan sampai kelihatan habis minum.
"El, lu tanggap juga ya. Gue panggil langsung dateng kemari," jawab Bang Fajar, lalu ia sambung, "Fay, lu play rerun drama radio Bara, Diandra, Vellin dan temen temen dah. Udah jam 2.40 nih. Trus si Audrey suruh sign off aja sekalian."

Wah makin tegang aku. Siaran dadakan segera dimulai. Tanpa script, tanpa bahan. Biasanya aku siaran cuma pakai bahan yang biasanya udah kusiapin di kereta. Tadi sial sekali aku ketiduran di kereta jadi tidak kepikiran buat contekan sekalipun. Tak lama Fay menyuruh kami diam. Audrey mau closing.

Suasana senyap. Audrey menutup siarannya yang telah berlangsung dari jam 6 tadi.

Quote:


Setidaknya aku lega karena antara Audrey dan aku ada drama radio. Jadi aku bisa sedikit bernafas lega. Aku juga bisa merancang materi siaran dulu. Ketika aku sedang asyik merancang materi siaran dalam selembar kertas, tiba-tiba dari drama radio itu terputar kata yang akan selalu terngiang-ngiang dalam telingaku.

"LDR meskipun sudah lintas pulau lintas benua, asalkan ada hati dan ada keseriusan, pasti bisa langgeng."

Haduh, aku tiba-tiba terbayang lagi akan bayangan Mira. Ya, cewek yang jadi pacarku karena bertemu di radio. Bertemunya juga tidak biasa, karena sebuah kesaksian, juga karena sebuah kejadian yang nyaris merenggut nyawanya. Kesaksian yang dimaksud di sini adalah cerita pengalaman iman seorang Kristen/Katolik.

Sedikit kuceritakan tentang Mira dan siapa dia. Wanita yang Tuhan pertemukan denganku dengan cara yang ajaib, dan belum tentu ada kejadian yang sama di kota ini dalam 20 tahun ke depan.


Dahulu, setiap malam aku ditugasi menerima telepon di sebuah radio rohani. Aku orang dalam dari radio tersebut, jadi akulah penerima telepon di setiap acara untuk nanti disambungkan ke pembawa acaranya - entah itu seorang pendeta sampai anak yang lebih muda dariku. Entah shownya dari gereja anu atau gereja ani yang menyewa slot di radio rohani itu, penerima teleponnya tetap antara aku dan satu orang lain yang aku lupa namanya.

Aku harus menerima telepon para pendengar siaran rohani dari sebuah komunitas Kristen di kotaku. Ada yang minta didoakan, ada yang ceritanya membuatku menangis dalam hati sehingga setelah aku meneruskan ke pendeta yang berjaga malam itu, langsung aku ngibrit ke wastafel untuk menangis dan menyeka air mata. Bahkan aku kerap menerima telepon dari keluarga yang salah satu anggotanya sedang sekarat.
Kerap kali pun, kalau mendengar ada yang sakit atau menderita atau berbeban berat siapa yang tidak nelangsa hati? Apalagi salah satu kasus ini.

Satu waktu ada keluarga yang menelepon ke acaraku. Aku tidak mengenal keluarga itu sebelumnya. Yang kuingat, mereka kecelakaan berat di tol Merak dan mereka semua survive. Di ujung telepon, yang berbicara adalah orang yang sedang luka berat dan menunggu pertolongan. Aduh, benar-benar hancur hati. Ya Tuhan Yesus, aku selama ini ditelepon anggota keluarga yang sehat walafiat yang mengabarkan saudaranya yang sedang sakit, kali ini aku benar-benar ditelepon survival yang sedang luka berat! Yah, sekalipun keluarganya yang badannya sehat juga ikut menelepon untuk menguatkan keaslian telepon itu. Aku benar-benar mau menangis mendengar itu. Tak kuat mendengarnya lagi, telepon segera kualihkan ke pendeta.

Kucatat nomor yang tertera di log komputer radio saat itu, lalu sekelarnya acara kutelepon balik, kudoakan mereka secara pribadi. Tuhan berpihak pada mereka, lalu mujizat terjadi malam itu. Anggota yang didoakan – ternyata anak seumuranku – berterima kasih padaku secara personal. Satu hari, ia datang ke acaraku untuk memberikan kesaksian. Aku takjub benar bukan karena dia, tapi karena Yang Menolong dia.

“Tuhan memberkati kamu. Kamu operator siaran ini ya?” tanya perempuan itu.

Kusalami tangan perempuan itu malu-malu. Sungguh lama-lama timbul rasa yang beda. Bukan kehangatan tangannya, bukan kemolekan tubuh. Tubuhnya cantik secara fisik kah? Hmm, barangkali dulu. Sekarang ia berjalan dengan kaki palsu semi robotik yang diberikan pengelola jalan tol. Tapi kecantikan hatinya dan keanggunannya berbicara, seakan menampar diriku. Malu benar diriku.

“Iya Kak Mira. Aku terberkati loh dengan kesaksian kamu tadi, bagaimana Tuhan menolong kamu ketika kamu kecelakaan,” jawabku malu.

“Ga usah panggil Kak. Panggil Mira aja. Aku masih 21 tahun.” Nah loh, aku sadar aku juga 21 tahun saat itu. Tepatnya tahun 2014.

“Kenalkan, namaku Misael. Betul aku operator di radio ini, tugasku mengangkat telepon dan mengurus hal-hal kecil di studio, Senang berkenalan dengan orang seperti kamu. Ramah, penuh kasih, juga terlihat natural"

"Ah kamu bisa aja deh," jawab Mira. Malu malu juga. Nah lama-lama kulihat tatapan Mira juga semakin tajam padaku, seakan menginginkanku. Saat itu entah ia sudah ada pemiliknya ataupun tidak.

Nah aku ngobrol ngalor ngidul dengan Mira. Sampai lama-lama Pak Dicky asisten pendeta juga heran. Lalu si Pak Dicky nyeletuk, "Cieee Misael sama Mira, jangan bilang kalian lagi jatuh cinta ya."

Aku menepis omongan Pak Dicky. Aku juga malu. Tapi jujur aku jatuh cinta pada Mira dari pandangan pertama. Cewek seperti dia memang beriman, murah senyum, dan tentunya baik hati kurasa. Secara fisik juga, meskipun sudah sedikit cacat, tetap cantik dan cocok untuk wanita seumurannya. Aku mau mengatakannya, tapi kurasa terlalu buru-buru mengatakan cinta pada menit pertama kita bertemu.

"Pak Dicky saya pulang yah. Mama udah nunggu di bawah," kata Mira memecah keheningan. Mira turun. Siaran rohani itu sudah selesai dan aku harus bersiap ke siaran berikutnya. Tak lama aku menyusul dengan alibi ke toilet.

"Sael ke mana? Ngejar Mira yah?" celetuk pendeta yang sedang siap-siap pulang juga.
"Nggak Pak. Ke toilet pak," jawabku malu-malu.
"Ah bilang aja mau ketemu Mira dek."
"Nggak pak, saya kebelet kencing dari tadi pas doa."
"Yakin kebelet kencing?"
"Iya pak."

Tak lama kemudian aku langsung meninggalkan dua orang itu. Memang aku beneran ke toilet saat itu, tetapi setelahnya aku ke parkiran gedung radio mengejar Mira. Untungnya si Mira juga baru sampai di bawah gedung.

"Mira, minta nomor HP dong. Aku juga minta Line kamu. Lupa tadi."
"Boleh," kata Mira, seraya menyodorkan nomor HP dan kontak Line padaku.
"Terima kasih Mira. Senang bisa kenalan sama kamu. Nanti kita ketemuan kapan-kapan yah."

Mira melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum. Sementara itu satpam sudah menatapku penasaran. Lalu satpam menyamperiku penasaran.

"El, itu siapanya kamu?"
"Nganu Pak, itu tadi yang kesaksian di radio tadi."
"Ada apa pak?"
"Saya perlu kontak dia Pak."
"Mau ngapain kamu?"
"Saya mau kenalan sama dia."

Satpam itu cekikikan. Aku langsung ke lift, kembali ke ruang siaran. Untung saja siaran berikutnya recording.


Ah, flashback selesai. Ada satu poin kutambahkan ke siaran dadakanku: cinta pertama dan LDR.

Drama radio usai. Kisah Vellin di radio gantung dengan pacar barunya, seperti diduga. Aku duduk bersiap siaran, menunggu si Fay membacakan berita yang sudah dikirimkan Bang Fajar dari Divisi Berita Radio Galau FM. Ternyata itu tujuan si Bang Fajar datang ke ruang siaran, selain memastikan diriku hadir.

"Demikian Berita Galau FM jam 2 siang bersama Fay, lanjut siaran berikutnya bersama Misael."

Deg deg deg. Momen itu tiba. Siaran dadakan.

Dan tiba-tiba Bara alias Bernard Batubara alias pemilik Radio Galau FM datang. Mau supervisi. Semakin gugup aku. Dan ini momen siaran dadakan!

"106.6 Radio Galau FM..."
image-url-apps
penasaran Radio Galau FM versi ente kayak apa gan..
mungkin Bara harus ikut baca juga. emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


Bara dimasukin dalam cerita, tapi sebagai tokoh fiksi yg dunianya terpisah dengan dunia cerita ane.
Quote:


Bang ane perlu dibikinin index bang. Mau PM eh ternyata pm ente kepenuhan emoticon-Hammer2
image-url-apps
numpang mejeng gan
Familiar gw ama ini judul emoticon-linux2

velin mana velin emoticon-Malu

emoticon-Ngacir2
kek nya seru nih baca cerita yang galau galau

ane numpang ngejogrog di marih ye gan

emoticon-Angkat Beer
image-url-apps
Quote:


Dia di dimensi terpisah bray dengan cerita ini.

image-url-apps
Quote:


wokeh deh. ayo bang lanjut lanjut.

*duduk pojokan bareng mira emoticon-linux2

Part 3 - Sidak itu Siaran Dadakan

image-url-apps
Quote:


Tiba-tiba telepon berdering di tengah omongan dalam tanda quote tadi. Bang Fajar mengangkat telepon.

"Radio Galau FM, dengan siapa saya bicara?"
"Dian yang harusnya siaran sekarang. Boleh gak gue bicara on air?"
"Boleh lah. Sekalian konfirmasi. Pendengar setia lu nyariin Di."
"Waduh Bang Fajar makasih ya. Dian ga bisa hadir ya. Maaf banget bang."
"Dian, lu putus telepon ya nanti pulsa lu habis takutnya. Nanti kita telepon balik. Makasih."

Dian niat betul ya dalam dunia radio, tapi tetap peduli keluarganya. Kagum juga aku sama anak ini dari dulu. Dia yang kerja di Radio Galau FM dari pagi sampai sore, sekalipun siarannya sebentar. Kesukaannya adalah membantu orang sesukanya.

Dian sering membantu produser untuk memberikan materi acara, seringkali dari Lounge Kaskus juga. Dian membantu divisi berita dengan memberikan kabar terbaru. Belum divisi music director dan sampai... Administrasi! Hebat.

"Sael si Dian telepon. Nanti lu siap siap ya ngobrol sama Dian on air. Dia pengen banget nyapa penggemarnya via telepon." Bang Fajar langsung menyuruh Kenneth menelepon.

Aku langsung menghampiri Kenneth, operator dan tukang angkat telepon Radio Galau FM, untuk menerima telepon dari Dian. Di luar sana kulihat sekilas Om Bara si pemilik radio tersenyum lebar melihat solidaritas kami. Ah itu sekilas saja sampai Kenneth menyerahkan gagang telepon padaku. Kita berdua saling telepon via line telepon radio.

"Dian, gimana kabar mak lu?"
"Kritis Sael. Sampai sekarang masih koma."
"Ya Tuhan..." Aku mulai sedih.
"Kita berdoa aja yang terbaik buat mama."
"Mama lu sebenernya kenapa?"
"Hmmm, gue ceritain kronologinya di siaran aja."
"Tahan ya Di teleponnya."

Kenneth menepukku. "Sael habis ini lu ngomong sama Dian. Lagunya udah mau abis." Aku fokus ke komputer radio, lalu setelah suara ter-fade in, langsung aku bicara.

Quote:


Aku berdegup, sedih, tak enak, sampai malu saat mewawancarai Dian. Tiba-tiba Bang Fajar berbisik. "El, temen lu ini. Jangan tegang bray."

Sementara itu Om Bara mulai masuk ruangan. Sepertinya mulai merekamku siaran dengan HP keluaran terbarunya. Sudah layar supertipis setipis sweater (untuk smartphone ini sangat tipis), teknologi terbaru pula. Wajahnya senang. Ia memang senang siaran spontan sebetulnya, yang dari hati, bukan yang main script.

Quote:


HPku berdering. Teman lama. Ah, abaikan dulu. Lagi siaran kok teleponan yang tak ada korelasinya? Nah, dia juga sepertinya sudah sadar aku lagi siaran. Line masuk dan... Kejutan!

"Bro, #PrayForMamaDian trending topic di mana-mana."

Nah ini respons spontanku.

Quote:


Bang Fajar, Kenneth, dan Om Bara buru-buru mengecek komputer yang terhubung ke jejaring sosial. Bang Fajar terperanjat saat Kenneth menunjuk layar monitor.

"Bang, lihat bang, dahsyat bang," bisik Kenneth menunjuk hashtag itu, "150 tweet per detik!!!"

"Gue harap bukan BOT spammer yah. Semoga bener bener ngedoain. Tapi gue baca twitnya ya kebanyakan sih beneran berdoa buat si Dian. Gue suka ini. Ini baru Radio Galau FM. Bukan cuma radio yang bisa galau doang tapi juga saling support."

Bang Fajar kehabisan kata-kata juga. Sementara itu, aku masih berbicara dengan Dian.

Quote:


Lagu terputar. Tiba-tiba gerombolan laki-laki itu menyerbu aku. Terutama Om Bara.

"Sael, kamu hebat banget siaran tanpa script dan bisa membuat siaran biasa begini menjadi haru biru. Bahkan Om terharu dengernya. Om denger kamu ga pake script pas siaran ya?" Om Bara tiba-tiba menghampiriku.

"Iya Om. Aku ga persiapan kayak penyiar lain karena aku mendadak dipanggil Bang Fajar buat siaran," ujarku sambil menunjukkan contekan siaran. Kertasnya kuambil dari notes kalender di ruang siaran tepatnya di samping meja kerja produser, ya seukuran post-it mungkin.

"Hmm, LDR dan First Sight. Om harap kamu mengolah tema ini jadi ga mainstream jadi banyak yang denger dan dijamin mereka ga akan jenuh."

"Saya baru dapat inspirasi Om."
"Apa?"
"Pacar saya yang sekarang ke Bali."
"Siapa namanya?"
"Mira."
Quote:


V Radio FM Lovely Music Everyday | ig [at]vradiofm | BB pin 21C420DE | WA 08111-22-1066 | Indovision502

V Radio is positioned to be a radio station for modern women, and our listeners mostly

women. It exists because of the need for women to share and to confide. Imagine a place where you run to whenever you need a friend to talk to, to discuss relationships, and personal life. It is very often that women, now, play so many roles in life. They can be a career person, a housewive, a mother, a lover, and much more (multitasking role), and be the Victory of her life..

V Radio music is sweet, light, sounds that can make you feel at home, and at the same time, creates spirit to achieve women’s busy schedule today.

V Listeners are female or Women, within the age of 25-40 years old with a social economic status of A, B. They are usually the affluent and the achievers presume as urban-metropolitan life style, modern personalities which are: open minded, expressive, free to choose with responsibility, women with dreams, ambitions and aspirations. They seek the excitement, happiness, and inspiration that will enhance her lifestyle and the relationships she enjoys.

It is Woman from Venus, Virgin, Vacation, Victory…. and Tune into V radio The Voice of Inspiring Women


emoticon-Cendol (S)
image-url-apps
Quote:


Lengkap amat bray hahaha emoticon-Ngakak

Tunggu yg lain dulu yah. Mau panggil pasukan dari lonje.
image-url-apps
Nupang ngjebrok dlu lah....
image-url-apps
saya juga numpang ah, dapet undangan dari ts mampir ke sini, ijin baca dulu lah kalo begitu emoticon-linux2
image-url-apps
Ane kampir bntar om..
Numpang bikin tempat wisata disini ya om..
Memenuhi panggilan te es di lonje.. emoticon-Big Grin

Mo ikutan kuis tp sayang diatas dah ada yg jwb.a lengkap binggo emoticon-Hammer (S)
image-url-apps
Quote:


haha. seperti dalam film nya juga dong. cuma jadi mas mas yang numpang eksis beberapa detik
×