alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
4.5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55822b2f642eb6885a8b456b/cerita-caca

Cerita Caca - Mahasiswi Tercantik di Kampusku

Bismillah...

Gan, sebelumnya aku mau bilang kalau ini kali pertama aku nulis di STFH. Biasanya aku cuma baca aja. Jadi agan-agan jangan berharap wah-wah amat ya.

Di thread ini aku pingin cerita tentang seorang gadis yang sangat-sangat cantik yang kuliah di Medan. Jadi agan boleh bayangin bahasanya agak kemedan-medanan (bedain sama kebatak-batakan ya gan)

Gadis ini namanya Caca. Kebetulan dia kuliah di tempat yang sama dengan tempat aku kuliah dulu. Makanya aku tahu ceritanya.

Caca bener-bener cantik. Siapapun yang ngeliat dia pasti bakal bilang begitu. Setiap bagian dirinya sempurna. Aku sendiri gak tahu bagian mana yang paling kusuka darinya.

Apakah tinggi badannya yang semampai atau wajahnya yang memancarkan cahaya? Apakah matanya yang hitam atau bibirnya yang merah delima? Apakah alisnya yang melengkung atau rambutnya yang lembut? Apakah parasnya yang mempesona atau perilakunya yang anggun?

Entahlah tapi semua dimulai tiga bulan yang lalu.
Diubah oleh: Habibsmath
Urutan Terlama

Part 1 - Yang Tercantik

Kantin kampus selalu ramai seperti biasa. Suara denting sendok dan garpu di atas piring terdengar bersamaan dengan puluhan obrolan mahasiswa dan dosen yang sedang duduk makan siang bersama teman mereka masing-masing di sana.


Hampir semua jenis obrolan bisa didengar di sana. Kekecewaan mahasiswa dan dosen pada kebijakan rektorat, analisis dampak buruk penggunaan gelar haji dan umroh dalam beberapa sinetron, gosip selebriti bertopeng ustad yang suka hidup mewah, hingga rencana besar mahasiswa untuk mengulangi apa yang terjadi pada tahun 1998.

Caca dan Febi tidak tertarik untuk mendengarkan atau bicara soal itu semua. Caca menyukai kantin itu karena smoothiesnya. Sedangkan Febi lebih tertarik karena perhatian yang ia dapatkan saat melangkah masuk ke dalamnya.

Febi tahu kalau dirinya sendirilah yang sebenarnya sedang diperhatikan oleh beberapa laki-laki di kantin itu tapi ia malah berseru, “Ca, coba lihat ke belakang deh! Tiga laki-laki di meja dekat jendela itu kayaknya lagi ngeliatin kamu deh!”

Walaupun tidak secantik sahabat yang sudah menjadi teman sekelasnya sejak masih di bangku SMK dulu, kecerdasan alami Febi dalam gaya dan penampilan membuatnya jadi satu dari perempuan yang paling banyak didekati laki-laki di kampus.

Berbeda dengan Caca lebih suka tampil sederhana, Febi adalah jenis perempuan yang hobi menghabiskan waktu di depan cermin hanya untuk memastikan penampilannya tetap sempurna setiap saat. Berbeda dengan Caca yang cenderung terkesan pemalu, Febi adalah jenis perempuan yang suka bercanda dan menggoda laki-laki manapun yang ia rasa cukup menarik. Perbedaan itulah kiranya yang menjadikan persahabatan mereka tetap awet hingga sekarang.

Caca mengenal sahabatnya dengan sangat baik. Itu sebabnya ia tahu kalau saat itu Febi hanya sedang menghindar. “Jangan mengalihkan pembicaraan deh Feb! Ayo jawab! Udah berapa lama kamu kenal sama si Aryo ini?” tanya Caca menginterogasi sahabatnya.

Febi yang tak bisa mengelak lagi akhirnya hanya bisa tertawa cengengesan, “Baru dua minggu sih.” Ia tahu Caca tidak akan senang mendengar jawabannya.

“Apa!?” pekik Caca cukup keras.

Seisi kantin kini memperhatikan tapi Caca tak peduli. Ia lebih suka begitu ketimbang harus membiarkan Febi berkenalan dengan seorang laki-laki lagi dan pada akhirnya sakit hati lagi.

“Tapi Aryo ini gak kayak mantan-mantanku sebelumnya lho Ca! Dia baik!”

“Kamu gak ingat gimana cara kamu menjelaskan betapa baiknya Raka sebelum ini?”

“Itu kan beda Ca!” ujar Febi hampir kehabisan kata untuk membela diri. “Emangnya salah kalau aku mau cari pengganti Raka?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Caca tidak pernah tahan jika sahabatnya sudah menatapnya seperti itu. Nada bicaranya pun melembut, “Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa Feb.”

Besarnya perhatian inilah yang sering kali membuat Febi yang manja merasa Caca seperti kakaknya sendiri. Walaupun semua perhatian itu terkadang membuatnya kesal, Febi tahu tidak ada orang lain di dunia ini yang akan memperhatikannya lebih dari Caca.

“Aku gak akan kenapa-kenapa kok Ca! Kan ada kamu.”

Caca menyerah. “Esnya udah mau mencair, kita minum aja dulu yuk!” katanya, meraih smoothies dinginnya yang masih penuh.

Caca tak bisa berhenti tertawa saat melihat pelayan yang digoda Febi salah tingkah dan menabrak tiang. Tingkah lucu Febi dan segelas smoothies segar memang selalu berhasil membuat suasana hati kembali membaik.

“Eh Feb, aku baru nyadar. Sepatu kamu baru ya?” tanya Caca.

“Iya bagus kan? Ini dibeliin gebetan baruku semalam.”

“Bagus sih tapi gak kayak gaya kamu biasanya.”

“Aku lagi mau coba gaya baru aja. It’s okay to be different!”

“Kalau gitu besok aku pinjam ya,” pinta Caca tak segan.

“Kenapa kamu gak minta beliin juga aja sama bang Hadi?”

“Aku baru putus Feb,” jawab Caca dengan nada datar.

“What? Again?” seru Febi kaget.

Sekarang Caca mengerti betapa malunya Febi saat tadi ia Cumiik dengan suara yang sama kerasnya. Ia pun coba menenangkan tapi Febi keburu bertanya, “sebenarnya kamu cari cowok yang kayak gimana sih Ca?”

Jika tadi giliran Caca menghakimi Febi maka sekarang giliran Febi menghakimi Caca. “Bang Hadi kurang menantang Feb,” jawab Caca membela diri.

“Kurang menantang gimana maksud kamu?”

“Kamu kan tahu aku selalu cari tantangan. Aku mau laki-laki yang gak mempan digoda Feb.”

“Hmm... Kamu mau menggoda yang gak bisa digoda?”

“Ada?” tanya Caca semangat.

“Ikut aku.”
Diubah oleh Habibsmath

Part 2 - Yang Bikin Penasaran

Di tengah ruang perpustakaan yang luas dan besar, seorang laki-laki tampak sedang tenggelam dalam buku bacaannya. Ia benar-benar tidak bergerak kecuali untuk sedikit mengangguk dan membalik halaman bukunya. Siapapun yang melihatnya pasti mengira buku itu sangat seru.


Laki-laki itu adalah sepupuku, namanya Farhan. Jika dilihat dari jauh Farhan akan tampak mirip seorang aktor India. Perawakannya yang tinggi dan besar membuatnya sangat mudah untuk dikenali.

Farhan adalah satu-satunya mahasiswa semester sembilan yang saat itu bisa kalian temui di jurusan Pendidikan Fisika. Sebenarnya ia tidak memiliki mata kuliah apapun yang harus diulang semester itu. Jika mau, ia bisa saja wisuda dengan teman-temannya empat bulan sebelumnya tapi Farhan memilih untuk bertahan satu semester lagi.

Sebagai ketua Lembaga Dakwah Kampus, Farhan merasa bertanggung jawab untuk memastikan semua program yang ia rencanakan di awal berjalan dengan baik. Itu sebabnya ia menolak tawaran adik-adik organisasi untuk melanjutkan kepemimpinan dan menunda wisudanya satu tahun lagi.

Karena pernah tinggal bersama, aku mengenal Farhan sebaik aku mengenal diriku sendiri. Aku tahu di masjid mana ia biasa mengaji. Aku tahu tidak ada yang lebih mengesalkan bagi Farhan selain televisi. Aku pun tahu ayat apa yang setiap hari ia bawa dalam shalatnya. Itu sebabnya aku tahu kalau laki-laki seperti ini tidak akan mudah tergoda.


***


Dari balik sebuah rak buku Caca menatap laki-laki yang kata Febi tidak tertaklukkan itu. Sulit bagi Caca yang selalu dikejar laki-laki untuk membayangkan ada beberapa laki-laki di dunia ini yang tidak bisa digoda sama sekali. Ia tidak begitu yakin laki-laki yang satu ini akan berbeda dan ia akan membuktikannya.

Caca mencari sebuah siasat untuk mendapatkan perhatian si laki-laki dan segera saja ia teringat pada hukum persamaan.

Orang akan cenderung lebih mudah menyukai orang yang lebih banyak memiliki kesamaan dengannya.

Caca memperhatikan cara si laki-laki membaca kemudian menyimpulkan kalau ia adalah seorang kutu buku. “Kalaudia benar seorang kutu buku berarti aku harus kelihatan seperti kutu buku juga,” gumamnya. Caca memang bukan kutu buku tapi jika harus bergaya seperti itu ia tidak akan kalah dengan kutu buku manapun. Sambil mengatur posisi poni rambutnya agar terkesan culun dan tidak gaul sama sekali, Caca mengambil sebuah buku dari rak terdekat kemudian berjalan mendekati meja tempat laki-laki itu membaca.

Dari sisi lain perpustakaan, Febi memperhatikan tingkah laku temannya yang kini terlihat seperti kutu buku yang benar-benar manis. Ia senyum-senyum sendiri melihat Caca benar-benar total dalam aksinya.

“Permisi, kursi ini kosong nggak?” tanya Caca sambil menunjuk sebuah kursi. “Aku duduk di sini ya.”

Tidak ada jawaban. Caca berharap laki-laki itu mengangkat kepalanya sebentar, menoleh lalu melihat senyum manisnya, tapi tidak. Ia hanya mengangguk sedikit sedangkan matanya tidak beralih dari buku sama sekali. Sepertinya buku itu terlalu seru untuk dilewatkan.

Wajah Caca sedikit cemberut mendapat tanggapan seperti itu. Kehadirannya tidak menganggu konsentrasi membaca laki-laki itu sama sekali, setidaknya belum.

Caca segera punya cara lain. Ia menyeret kursinya mundur hingga terdengar deritan besi yang cukup panjang. Deritan itu cukup keras untuk mengganggu beberapa pengunjung di sekitar. Beberapa orang menoleh karena bunyi berisik yang ia timbulkan. Usaha Caca tak sia-sia karena laki-laki itu juga menoleh segera saja ia melemparkan jurus keduanya.

Senyum manis yang tulus.

Sambil melemparkan senyum yang seolah berkata maaf pada laki-laki yang kini agak kesal itu, Caca memperhatikan wajah tantangan barunya. Ternyata laki-laki itu cukup tampan, sama sekali jauh dari kesan kutu buku seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kulitnya yang kecoklatan bersih dan mulus. Hidung yang mancung terlihat mantap di wajahnya yang memanjang. Sorot matanya dalam sedangkan alisnya hitam dan sedikit tebal. Jika bukan karena jenggot tipis yang membuatnya kelihatan alim, laki-laki ini pasti dikejar-kejar perempuan.

Laki-laki itu masih menatap Caca, tepat di matanya, tapi tidak bicara apa-apa. Ia menatap Caca dengan ekspresi kosong yang tidak bisa ditebak sama sekali. Caca yang tidak tahu harus bagaimana tiba-tiba merasa wajahnya menjadi kaku.

Berpura-pura tidak salah tingkah, Caca memalingkan wajahnya ke arah lain dan segera duduk membaca buku yang diambilnya tadi. Laki-laki itu pun kembali pada bacaannya.

Sesaat kemudian barulah Caca menyadari kegugupannya barusan dan terheran-heran dengan tingkahnya sendiri. Aneh! Kenapa aku yang malah deg-degan. Harusnya serangan yang tadi itu cukup ampuh. Tak pernah ada laki-laki yang tahan untuk tidak membalas senyumannya.

Senyuman serupa pernah Caca lempar pada mantannya dua bulan sebelumnya dan itu berhasil dengan sangat sempurna tapi sepertinya yang satu ini tidak terpengaruh. Laki-laki itu hanya kembali pada bukunya dan melanjutkan membaca.

Dari kejauhan, Febi tampak memberi isyarat kalau ia akan pergi. Ditinggal oleh temannya, membuat Caca ingin cepat-cepat mengakhiri ini tapi bukan Caca namanya jika ia menyerah begitu saja. Caca yang tidak pernah ditolak sebelumnya akan membuktikan tidak seorang pun akan sanggup bertahan jika ia yang menggoda. Sekali lagi Caca memutar otak mencari cara dan segera saja sebuah hukum lain berlabuh di kepalanya.

Antusiasme dan ketertarikan itu menular.

Seperti mendapat ilham, Caca langsung berhenti pura-pura membaca buku lalu mengalihkan perhatiannya pada beberapa buku yang dikumpulkan dan ditumpuk laki-laki itu di dekatnya. Setelah memasang wajah penasaran yang menggemaskan ia bertanya,

“Ini buku abang?” tanyanya sambil mengambil sebuah buku dari tumpukan itu. “Caca boleh pinjam sebentar ya bang!” lanjutnya sambil secara halus memberitahu laki-laki itu namanya.

Laki-laki itu menoleh dan melihat buku berjudul Kado Pernikahan yang sudah susah payah ia cari sekarang ada di tangan Caca. “Jangan! Abang mau pinjam buku itu nanti. Kamu cari aja lagi di rak!” kata laki-laki itu terpaksa bicara.

“Tapi Caca gak tahu dimana bang, yang ini aja ya! Sebentar aja kok. Ini untuk tugas Caca bang.”

Wajahnya tidak terlihat begitu senang tapi laki-laki ini tahu Caca akan terus mengganggunya jika tidak dipinjamkan jadi ia tidak berkata apa-apa dan hanya berusaha kembali fokus membaca.

Caca yang masih belum berhasil mendapatkan nama laki-laki itu membolak-balik halaman buku yang baru ia pinjam sebentar kemudian kembali mengganggunya, “Buat apa abang baca buku kayak gini? Emang abang mau nikah ya?”

Laki-laki itu berusaha cukup keras untuk tidak menghiraukan Caca tapi pertanyaan terakhir benar-benar membuatnya geram. “Kamu mau tahu aja sih,” katanya terusik.

“Abang harus kasih tahu dulu kenapa abang perlu pinjam buku ini. Kalau gak Caca yang pinjam.”

Laki-laki itu menyesal membiarkan Caca mengambil bukunya. Ia pun berhenti membaca dan memutar badannya. “Abang perlu karena abang mau baca. Sekarang balikin!”

“Berarti urusan Caca lebih penting! Caca perlu untuk bikin tugas,” tukas Caca sambil menarik buku itu lebih dekat ke sisinya.

“Eh gak bisa begitu dong!” sergah Farhan.

Beberapa petugas perpustakaan memperhatikan mereka tapi Caca yang sudah biasa diperhatikan seperti itu justru malah senang, “Ntar kalau Caca udah selesai, Caca bakal kasih ke abang,” kata Caca beranjak pergi.

Laki-laki itu ingin menahan Caca tapi ia sadar tak boleh memegang tangan perempuan itu. “Tunggu!”

Caca yang sudah berdiri berbalik menunggu Farhan bicara. Laki-laki itu ingin memarahi perempuan manis di depannya ini habis-habisan tapi ia sadar berada perpustakaan, “Abang udah susah payah cari buku itu tadi. Kamu cari buku lain aja kenapa sih!” nada kemarahannya masih terasa walau ia setengah berbisik.

Laki-laki itu menarik paksa buku yang memang ia temukan duluan dari tangan Caca. Caca yang tidak bisa menemukan cara lain yang lebih ampuh mulai menangis. “Hiks hiks...”

“Ehh.. kok malah nangis sih,” katanya kesal.

Melihat keributan mereka tak kunjung selesai, dua orang petugas perpustakaan datang mendekati. “Oh ternyata kamu Han!” kata salah seorang petugas. “Kamu apain adik ini?”

“Nggak tahu pak. Aku cuma minta bukuku, eh dia malah nangis.”

“Iya tapi jangan sampai ribut begini dong, ini kan perpustakaan.” kata petugas yang lebih muda, “Kamu gak apa-apa nak?” tanyanya pada Caca yang masih asyik dengan aktingnya.

“Ga, gak apa-apa kok pak,” jawab Caca dan mengangkat wajahnya.

“Oh dik Caca rupanya,” petugas yang lebih tua ternyata mengenalinya.

Petugas muda bertanya pada yang tua, “Ini Caca yang bapak ceritakan itu?”

Petugas tua mengangguk dan petugas muda itu kembali pada si laki-laki dan protes, “Harusnya kamu gak boleh kasar sama perempuan Han. Kamu kan ketua LDK. Harusnya kamu yang paling tahu dalil tentang itu.”

“Siapa yang kasar sama dia?” tanyanya balik membela diri.

Petugas muda itu tidak mempedulikan si laki-laki dan dengan lembut bertanya pada Caca. “Dik Caca mau pinjam buku yang mana?”

Pura-pura tak berdaya dengan lemah Caca berkata, “yang itu.” Sambil menunjuk sebuah buku yang sedang dipegang si laki-laki.

“Enak aja! Ini abang duluan yang pinjam.”

“Sudahlah Farhan, sesekali mengalah kenapa sih!” kata petugas muda itu sambil merebut bukunya sedangkan laki-laki bernama Farhan itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Petugas muda itu membaca judul bukunya. “Lagian buat apa sih kamu baca buku beginian. Sekarang ini kamu kerjain aja dulu skripsi kamu Han. Kapan kamu mau wisuda?”

“Astagfirullah.” Farhan tak menemukan kata lain yang lebih tepat untuk diucapkan.

Farhan hanya bisa bersabar waktu melihat bukunya dibawa pergi oleh seorang gadis cantik dan dua petugas yang bersimpati padanya. Dalam hati ia mencoba untuk berpikir positif, “Mungkin perempuan itu memang membutuhkan buku yang sama karena suatu alasan.”

Ia masih dalam pikiran positifnya ketika perempuan itu bermain mata dan menghilang di balik pintu. Tapi itu segera membuatnya sadar, Aku sudah dikerjai!
Diubah oleh Habibsmath
Ditunggu komentarnnya agan-agan!
Kalau boleh saya lanjut ya
Lanjutkan Masemoticon-Sundul Gan (S)
Iya mas. Segera!
Di thread lain ada indexnya. Cara bikinnya gimana ya?
Diubah oleh Habibsmath

Part 3 - Tunggu Saja

Wangi kemiri dan lidah buaya mengharumkan seluruh sudut kamar Caca. Sambil mengeringkan rambutnya yang baru dikeramas, Caca mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Farhan di kampus tadi. Dia tertawa sendiri mengingat bagaimana raut wajah Farhan saat ia mengedipkan mata.

Malam itu seperti biasa Caca duduk di teras. Di sana ia memandangi sebuah lampu taman yang tampak cantik menerangi halaman kos-kosan mereka. Menurut Caca, lampu taman itu tampak serasi sekali dengan pohon akasia kecil yang ada di dekatnya. Selain karena ketiadaan ibu kos yang tinggal di sana, mungkin lampu taman dan pohon kecil itulah alasan mengapa kelima kamar di kos-kosan itu hampir tak pernah kosong.

Caca masih memandangi lampu itu ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Caca menoleh ke belakang dan menyadari siapa yang telah membuyarkan lamunannya. “Eh, Kak Bila!”

Bila adalah mahasiswi semester tujuh jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sejak tiga bulan lalu bergabung dengan Sarah, Caca dan Febi tinggal di kos-kosan ini. Selain kacamata dan jilbab besar yang selalu ia kenakan, satu hal lain yang membuat Bila semakin mudah dikenali adalah wajahnya yang mirip dengan salah satu aktris Jepang ternama.

“Sendiri aja Ca?” tanya Bila sebelum ia duduk di samping Caca.

“Iya nih kak. Febi sama Kak Sarah belum pulang. Yang di tangan kakak itu apa kak?”

Aroma pisang goreng yang ditaburi keju masuk ke indera penciuman Caca dan menjawab pertanyaannya sebelum sang koki sempat berkata-kata. Bila meletakkan satu piring berisi penuh dengan pisang goreng keju buatannya di atas meja dekat bangku taman itu. “Kakak baru belajar bikin pisang goreng. Ayo cobain Ca!”

Caca yang memang sedang agak lapar langsung berseru, “Ayo!” Mereka pun mulai menyantap cemilan malam buatan Bila.

Sambil terus mengunyah, Caca memperhatikan Bila yang juga sedang asyik dengan gorengannya sendiri. Caca tidak tahu mengapa Sarah langsung tidak menyukai Bila saat ia pertama kali melihatnya. Di mata Caca, Bila terlihat seperti gadis baik yang sangat santun.

Jika saja Sarah tidak melarangnya, sebenarnya Caca ingin sekali berteman dengan Bila. Tapi lebih dari apapun, Caca tidak ingin ada perselisihan. Itulah mengapa sampai hari ini ia terus menjaga jarak dan memilih untuk membiarkan Bila sendiri.

Caca mengambil potongan pisang goreng ketiganya dan bertanya, “kenapa di dalam rumah kakak tetap pakai jilbab kak?”

Si kakak menjawab, “Ini kan halaman dek. Kamu bisa lihat celah di pagar itu kan?” Caca mengangguk dan Bila meneruskan. “Kalau ntar ada yang ngintip dari situ gimana?”

Bila adalah seorang gadis yang taat dengan aturan agama. Ia tidak peduli jika jilbab besarnya itu akan menutup dirinya dari dunia. Ia jauh lebih takut jika keterbukaannya memberi jalan masuk bagi keburukan.

Caca yang tak pernah memikirkan soal itu melempem. “Oh,” jawabnya. Mungkin ketaatan yang dianggap super itulah yang membuat Sarah dan Febi tidak merasa nyaman berada di dekatnya. Mereka yang lebih nyaman saat tampil cantik agak susah untuk nyambung dengan Bila yang berlaku sebaliknya.

Sebenarnya Caca juga merasa agak kurang nyaman dengan pendapat-pendapat Bila tapi ada yang membuatnya penasaran dengan perempuan itu. Itu sebabnya ia bertahan dan pura-pura setuju dengan semua yang Bila katakan..

“Besok temenin kakak ke Book Fair yuk Ca!” ajak Bila.

Jika ditanya sebenarnya Caca lebih suka kata bazar ketimbang Book Fair. Di Book Fair hanya ada buku sementara di bazar ada baju, tas dan mungkin sepatu. Walau tak terlalu bersemangat ia bertanya, “Dimana kak?”

“Di depan auditorium kampus. Acaranya tiga hari dari Rabu nanti.”

“Hmm. Caca pikir dulu deh,” jawab Caca diplomatis.

“Caca lagi mikirin apa sih?” Bila mencondongkan badannya. “Pasti tentang cowok ya?”

“Ih kakak sok tau... Orang lagi mikirin tugas kok kak,” jawab Caca ngeles.

“Biar begini-begini, kakak juga suka cerita cowok kali dek.”

“Serius kak? Aku kira kakak taunya ngaji aja.” Caca mencoba sebuah lawakan untuk mencairkan suasana. “Emang kakak punya cowok kak?”

“Cowok sih nggak, tapi yang kakak suka ya ada.”

“Ciieeee.... Cerita dong kak! Orangnya kayak gimana?”

“Dia baik, selalu shalat tepat waktu dan kayaknya belum pernah pacaran.” Bila melahap pisangnya sepotong lalu lanjut lagi. “Pokoknya bisalah jadi imam.”

“Semester berapa kak? Emang kakak ketemu dia dimana?”

“Kakak gak tahu semesternya. Ketemunya pas perayaan maulid kemarin,” jawab Bila santai. Ia tak memperhatikan perubahan wajah Caca saat mengatakannya.

“Dia tahu kakak suka sama dia?” tanya Caca lebih jauh.

“Nggak tahu. eh maksudnya, kakak gak tahu dia tahu apa nggak.”

Caca berhenti mengunyah dan bertanya lagi, “Terus kapan rencana kakak ngasi tahu perasaan kakak ke dia?”

“Nggak ada rencana buat ngasi tau dek. Kakak takut ntar menjurus kemana-mana."

“Terus ketemunya gimana dong?”

“Ya tunggu aja,” jawab Bila santai. “Tunggu aja sampai dia datang sendiri. Kalau jodoh gak akan lari kemana kan?”

Caca terheran-heran sendiri dengan kakak kosnya yang satu ini. Ia belum sempat mengutarakan pendapatnya waktu tiba-tiba suatu bau tercium dari arah dapur, “Kakak ngerasa ada bau gosong gak?”

“Oh iya!! Pisang goreng kakak!” Bila langsung menghambur ke dapur.

Bila baru masuk saat sebuah sedan putih berhenti di depan pagar. Caca yang sudah hapal mobil mana yang biasa mengantar teman-teman satu kosnya pulang tersenyum. Akhirnya kakak kesayanganku pulang.
Numpang nenda doloe di mari
Quote:


Silakan gan... Ramein aja!


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di