alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Salahkah Aku Mencintai Lelaki Dewasa Itu?
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/557a7ef8c1cb17a07e8b456c/salahkah-aku-mencintai-lelaki-dewasa-itu

Salahkah Aku Mencintai Lelaki Dewasa Itu?

Sebelumnya aku permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
AKu akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan aku merasa sangat terinspirasi dari tulisan-tulisan sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu aku memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata aku, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup aku.
Mohon maaf kalo tulisan aku ini masih amburadul dan kaku, karena aku baru pertama kali join dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini aku samarkan emoticon-Smilie


"Kesedihan tak akan pernah berkata kapan ia akan datang. Seperti cinta yang tak pernah bertanya di hati mana ia akan jatuh."
Aku mendapatkan quote di atas dari sebuah novel yang berjudul Rindu Untuk Daisy. Segala kenangan itu kembali meminta dikunjungi.
Nama aku Rasya, dan ini kisahku.


Salahkah Aku Mencintai Lelaki Dewasa Itu?



Spoiler for index:
Diubah oleh schneee
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 4
Lanjutannya manaa nih ?? emoticon-Bingung (S)

Ditunggu yaa ..
Dari prolognya seruu sepertinya ..
Lanjut sista .. ijin bangun poskamling
ane tunggu ceritanya sis emoticon-Angkat Beer

Part 1

Juni 2015

Minggu ini libur kuliah. Beruntung ujian SBMPTN dan ujian masuk sejenisnya membuat minggu ini terbebas dari kuliah. Ayahku lagi nggak di rumah, biasalah kerja ke luar kota. Dan hal ini selalu ngebuat aku senang karena bisa ngebajak kamar depan (re:kamar orangtuaku). Sejak pagi, Ibu aku udah sibuk ngeberesin kamar belakang (re:kamarku). Bentar lagi ayah pulang, dan sesuai rencana, adek aku bakalan tidur samaku di kamar belakang. Jadi yah, semacam penambahan tempat tidur.

Aku yang emang cuek dan merasa nggak terlalu dibutuhkan dalam acara beres-beres dan merapikan kamar itu, memilih malas-malasan di kamar depan, online, mantengin gebetan bule-ku emoticon-Stick Out Tongue , dan browsing. Nggak lama sekitar jam sembilan, aku merasa jengah di kamar dan memutuskan untuk keluar. Iseng-iseng ngecek ke kamar belakang, mastiin aja sih kamarku jadi kayak apa emoticon-Bingung (S)

Dan...... saat itulah penyesalan terbesarku datang bersamaan dengan pertanyaan; KENAPA AKU NGGAK IKUT BERESIN KAMAR??

Tatapanku tertuju pada rak buku, di mana sebuah kotak dari kertas kado bermotif batik kini telah koyak di bagian atasnya, dan sempurna sudah itu tidak membentuk kotak lagi. Masih terlalu pagi untuk mengulang kenangan, masih terlalu dini untuk berziarah ke masa lalu. Pagi itu, mau tidak mau, aku harus pasrah ketika diriku ditarik kumparan waktu dengan paksa; kenangan itu kembali meminta dikunjungi.

Perasaan sesak dan sakit segera memadati hatiku. Dan dengan suara--yang mulai parau karena menahan sakit di hati--aku berkata lirih.

Quote:


Dan aku nggak bisa lagi menahan air mata. Novel bersampul biru yang kuletakkan dengan pasti di sebelah kotak dari kertas kado bermotif batik itu pun tak terhindarkan lagi dari tatapanku. Lanskap-lanskap kenangan itu membuatku memejamkan mata. Terlalu sakit, teramat sakit. Kotak dari kertas kado bermotif batik itu kudapatkan dari dia; malaikat yang tak seharusnya kucintai.

Aku terkenang kejadian dua tahun lalu, saat ulang tahunku, saat paketan kado itu datang menjadi kado paling indah untukku, saat kutemukan beberapa lembar surat di dalamnya yang sukses menarik sudut bibirku untuk tersenyum, dan saat aku kembali mengucapkan janji di dalam hatiku; janji untuk selalu menuruti kata-kata dia.

Tanganku meraih novel bersampul biru dengan motif bunga daisy itu. Aku menyeka air mata, meski akhirnya sia-sia karena tetap ada yang menetes lagi. Tak jauh dari situ, aku kembali menemukan novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Lengkap sudah. Lengkap segala hal yang menarikku kembali ke masa lalu, kembali kepada dosa terbesar yang teramat menyakitkan itu.

Dia yang memberikanku janji masa depan yang lebih indah. Dia pula yang menjadi kepulangan atas segala yang terjadi di hidupku. Dia yang menunjukkan padaku tentang kehidupan yang lebih baik. Dia yang memberikan harapan atas mimpi yang bahkan sebelumnya tak berani kuimpikan. Dia bagaikan malaikat yang dipinjamkan Tuhan untukku. Seharusnya aku menghormatinya, bukan? Ya Tuhan, tapi aku malah mencintainya. Aku mencintai malaikat yang telah dipinjamkan-Nya kepadaku. Aku dengan lancang mencintai lelaki dewasa yang seharusnya pantas kuhormati sebagai ayah atau sosok dewasa lainnya. Dan aku, aku seorang adik yang telah mencintai seorang kakak yang telah membuat kehidupanku jauh lebih baik.

Mungkin kalian akan bertanya; apa salahnya mencintai seseorang?

Tak ada. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja posisinya kurang tepat. Hanya saja..... lelaki dewasa itu telah mengikat janji dengan wanita lain.
izin nimbrung disini deh.
judulnya menarikku kesini
Pembukaan yg menarik.. lanjut sist emoticon-Angkat Beer
Lanjut sis ceritanya emoticon-Smilie
Merindumu tak pernah menjadi perkara sulit. Ia teramat sederhana, sungguh! Dan semua tahu. Semua tahu, orang-orang tahu, daun-daun yang berguguran tahu, hujan yang berirama tahu, ombak yang bersenandung tahu. Segala elemen kehidupan ini tahu, hanya kau saja yang mampu mengurai kerinduan ini. Ya, hanya kau saja...

Masa-masa sulit di hidupku datang lagi. Pertengkaran-pertengkaran yang dulu selalu kukeluhkan ke dia datang lagi, silih berganti. Entah aku yang memang salah, entah orang-orang di rumah ini yang tak pernah mau mengerti aku, entah pula segala hal dalam kondisi ini memang salah. Entahlah, aku tak tahu pastinya.

Merindukannya tak pernah menjadi hal yang sulit bagiku, tak pernah! Seperti sekarang, saat aku merindukannya, aku tahu semua itu terjadi begitu saja, terjadi apa adanya laksana mekar perasaanku padanya dulu yang tumbuh begitu saja. Kerinduan ini seperti hujan, yang turun begitu saja, tanpa memandang siapa yang akan terkena tetesnya, siapa yang akan basah akannya, atau kemana tetes itu nantinya akan bermuara.

Kalian pasti bertanya-tanya seperti apa dia? Mengapa aku seperti begitu mengaguminya?

Ah ya, aku lupa mendefenisikan seperti apa sosoknya. Bayangkan saja, cara berbicaranya mampu mengendalikan. Gelak tawanya begitu khas, mampu membuat orang sekitarnya ikut tertawa bersamanya. Tatapannya teduh, siapapun yang melihatnya pasti ingin terus menatapnya. Garis-garis kedewasaan di wajahnya, juga tutur katanya yang menenangkan. dia sempurna? Nyaris! Tetapi ada satu hal yang sejak dulu selalu membuatku menggembungkan pipi; dia selalu menuntutku terlalu banyak, memerintahku sesukanya—yang pada akhirnya aku tak bisa membantah. Tapi ada hal yang baru kusadari tahun-tahun ke depannya, segala hal yang ia tuntut dariku, segala perintahnya yang teramat menyebalkan, segalanya demi diriku, demi kebaikanku, demi janji masa depan yang lebih baik.

Aku ingat, aku ingat saat pertama kalinya dia datang dengan gaya sok-keren-dan-sok-menjadi-pusat-perhatian. Awal mulanya via twitter. Hahahaha bagaimana mungkin aku melupakan hari itu, hari di mana segala cerita akan dimulai. Hari di mana aku yang asing merasa dibutuhkan.
****
Penghujung Mei, 2013.

Quote:


Aku yang baru ngecek mention di twitter, langsung mengernyitkan dahi. Siapa pula manusia ini?. Akhirnya aku ngebuka profilnya, dan memastikan siapa sih dia? Setelah ngelihat followers yang sama, dan ngelihat siapa-siapa aja yang mention-an sama dia, aku baru menyadari kebodohanku yang teramat. SUNGGUUHH!! Dia itu manajernya bos aku!! OH TUHAN DEMI APA??!!

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung nge-follow akunnya, dan langsung ngebalas mention-nya.

Quote:


Jantungku masih dag-dig-dug nggak menentu, takut-takut dia bakalan marah atau ngaduin ke bos. Bisa-bisa jadi bahan bully-an sekantor aku. Oh ya, aku mahasiswi di salah satu perguruan tinggi ternama di pulau Sumatera. Aku juga seorang penulis di salah satu penerbit mayor di Jogja. Jadi, yang kumaksud bos di sini tentu pemilik penerbitan itu, dan dia adalah manajer di penerbitan itu.

Nggak lama kemudian, sekitar sejam setelah aku nge-follow dan ngebalas mention dia, ada DM masuk. Kupikir dari salah satu teman penulis yang kebetulan lagi mention-an samaku. Tapi, ternyata DM itu dari dia. DM yang mengawali segalanya.

Quote:


dia di Jogja, dia lagi tinggal di sana dan kerja di sana. Saat itu, hanya inilah yang kutahu mengenai dirinya.

Penerbitan besar itu memiliki program sejenis pelatihan menulis. Masih baru-baru dibuka, dan aku memutuskan nggak mendaftar karena aku belum punya ongkos ke Jogja. Memang, semua biaya selama di Jogja ditanggung, tapi untuk ongkos dari kota asal menuju Jogja, tanggung sendiri. Tapi namanya juga event Nasional yang pakai seleksi ketat, semua orang yang bermimpi menjadi penulis berlomba-lomba mendaftar. Saat aku mengenal pertama kali, baru memasuki angkatan kedua, yang artinya aku belum terdaftar sebagai peserta di waiting list.

Dan…. Kenapa aku memanggil dia dengan sebutan Mas Dekan? Jelas sudah! Bosku itu sebagai rektor di kampus kepenulisan itu, dan dia wakil rektornya, dan aku yang ,memang iseng, mengeluarkan julukan itu untuknya, yang pada akhirnya dipakai oleh semua peserta dari angkatan pertama sampai angkatanku (karena setelah angkatanku, segala hal buruk itu terjadi. Segala mimpi dan janji itu musnah.)

Quote:


Begitu, hanya begitu saja dan caranya berbicara memang selalu mengendalikan. dia berhasil mengendalikanku di awal pesan pertama itu. Entah mengapa lelaki itu membuatku merasa akrab hanya dalam sekejab. Aku yang tak pernah bisa akrab dengan orang yang tak pernah kujumpain, saat itu dengan mudahnya tertawa bersama dia, dengan cepatnya pembicaraan di antara kami mencair.

Awalnya begitu menyebalkan. Sangat menyebalkan jika mengingat bagaimana rasa percaya diri dia yang terlalu tinggi, belum lagi dia yang terlalu ke-ge-er-an. Semua itu benar-benar menyebalkan. Dia selalu bisa membuatku kesal, namun dengan mudahnya kembali membuatku tertawa. Cara bicaranya itu, aku baru menyadari beberapa minggu setelah pesan pertama itu, aku bahkan meniru cara dia berbicara, juga meniru segala kebiasaannya. Aku selalu menyukai caranya melakukan banyak hal, dan aku selalu berusaha meniru itu.

Saat itu, aku tak tahu menahu tentang usianya (bahkan aku tak pernah mengambil pusing dengan memikirkan atau mencari tahu). Aku tak tahu bagaimana statusnya. Punya pacarkah dia, atau bahkan mungkin bertunangan? Atau malah bisa jadi dia sudah menikah? Entahlah, aku tak peduli hal itu. karena saat itu, bagiku, dia hanya orang asing yang mendadak terasa begitu akrab. Usiaku saat itu baru 18 tahun. Aku mempunyai kekasih, dan aku cukup bahagia sebelumnya (sebelum aku menyadari bahwa selama ini, selama bertahun-tahun ini, aku hanya berpura-pura bahagia dengan adanya kekasihku itu).

Usiaku baru 18 tahun. Bahkan saat aku mulai menyadari perasaan itu, saat aku mengenal cemburu yang tumbuh untuk dia, usiaku baru akan menginjak 19 tahun dan aku belum tahu pasti berapa usia lelaki dewasa itu. Apalah salahku dan perasaanku ini?

Saat aku membaca novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, aku tahu dengan jelas perbedaan usia tokoh Tania dan Danar 14 tahun, dan aku berpikir, “bagaimanalah mungkin seorang gadis berusia 11 tahun jatuh cinta dengan lelaki berusia 25 tahun?”

Dan tahun berikutnya aku menemukan jawaban itu. Aku menemukan apa retak perasaan yang dirasakan tokoh Tania dalam novel itu. Pula aku tak pernah meminta untuk merasakan apa yang dirasakan tokoh Tania dalam novel itu. Siapa pula yang menginginkan kisah menyakitkan seperti itu terjadi di kehidupannya? Tak ada! Dan sayangnya, Tuhan memberikan kisah itu padaku. Mengirimkan dia, yang akhirnya membuatku bernasib lebih buruk daripada Tania.

Usiaku baru akan menginjak 19 tahun, saat aku mulai memahami perasaan itu. Usiaku baru akan menginjak 19 tahun, ketika aku menyadari bahwa aku mencintai malaikat itu. Aku mencintainya sejak jauh-jauh hari. Aku mencintainya sejak dia membuatku tertawa untuk pertama kalinya, sejak dia memberikan janji kehidupan yang jauh lebih baik, sejak dia memberikan mimpi-mimpi itu padaku, sejak dia menjadi ‘rumah’ dalam setiap ‘kepulangan’ku. Aku sudah jauh-jauh hari mencintainya, ketika aku baru menyadari bahwa usianya jauh 16 tahun di atasku. Lalu, bagaimana pula harus kusalahkan perasaan ini? Aku tak boleh mencintainya, tak boleh!

Apakah aku berhenti mencintainya setelah tahu tentang perbedaan itu? Tidak! Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya berhenti mencintai dia, berhenti mengagumi dia.
Quote:

Sudah diapdet yang baru sis emoticon-Smilie silakan baca... ditunggu komennya emoticon-Angkat Beer

Quote:

sudah diapdet gan.. silakan baca emoticon-Angkat Beer

Quote:

silakan gan.. bangun apartment juga bole... udah diapdet gan.. emoticon-Angkat Beer

Quote:

sudah apdet dua part gan.. baca sonoh emoticon-Angkat Beer

Quote:

sila gan... jejak ditinggal yaaa emoticon-Angkat Beer
Quote:

sudah apdet gan dua part... sila baca dan tinggal jejak emoticon-Angkat Beer

Part 3

Hal yang paling sulit dilupakan bukanlah kekasih yang menjalin hubungan bertahun-tahun denganmu, lalu putus karena sesuatu hal. Sungguh, bukan itu!! Sejatinya yang paling sulit dilupakan adalah seseorang yang tak pernah menjadi milikmu, tetapi dia menjadi yang istimewa di hidupmu. Dia tak pernah menempati masa lalumu, juga tak bisa kau tempatkan di masa depanmu. Lalu, di mana dia? Dia ada untuk ingatan-ingatanmu.

Juni 2015
Pernahkah kau berada di posisi seolah kau-lah penyebab dari segala masalah? Pernahkah kau merasa menjadi penyebab dari jatuhnya kehidupan seseorang? Aku pernah. Dan itu teramat menyakitkan. Sungguh!!

Aku teringat tentang kejadian tahun-tahun lalu. Kejadian yang mengundang malam-malam panjang dengan gelisah tak tertahankan, tidur yang tak pernah nyenyak, helaan napas panjang nan berat, dan bayangan-bayangan akan seluruh kenangan indah bersama dia. Mungkin kalian tak pernah menyangka sesuatu hal akan berubah menjadi buruk secepat kilat. Semua masa-masa indah itu seolah terenggutkan begitu saja oleh kehidupan. Semua tawa dan waktu yang biasa kubagi bersama dia, seketika terasa begitu asing, begitu sulit untuk dirasa kembali. Aku tak mengerti apa yang terjadi di antara kami. Bagaimanalah mungkin aku mengerti? Yang kuingat di akhir pertemuan kami, dia masih tersenyum tulus padaku. Yang terbayang di benakku saat terakhir aku menatapnya, tatapan itu masih teduh seperti biasa dan penuh kasih sayang. Yang terukir di pikiranku, segala hal baik-baik saja menjelang perpisahan itu—menjelang kepulanganku ke kota asal; dia menggenggam tanganku dengan erat dan berkata,

Quote:


Kalimat itu. aku selalu membenci kalimat itu untuk alasan apapun. Bagiku, kalimat itu berarti perpisahan yang sudah pasti akan datang. Menurutku, kalimat itu berarti tak ada keinginan yang kuat untuk bertemu. Untukku, kalimat itu hanya sebuah omong kosong. Aku selalu berpendapat bahwa segala sesuatunya tergantung niat dan usaha. Tergantung seberapa besar perjuangan untuk menginginkan hal itu. Aku selalu yakin tak ada hal yang tak bisa diubah. Tapi, dia selalu benar. Bulan-bulan berikutnya aku tersadarkan oleh kalimatnya itu; nggak ada yang tahu apa yang terjadi ke depan.

Bulan-bulan berikutnya, segala hal terampaskan begitu saja. Semua keadaan berubah total. Tak ada lagi tawa renyah seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada lagi kalimat-kalimat panjang pengantar tidur seperti dulu. Tak ada lagi telepon yang berdering setiap malam yang diikuti sapaan meneduhkan itu. Tak ada lagi dia. Tak ada.

Entah dengan alasan apa, dia menjauhiku. Begitu saja menghilang tanpa menjelaskan satu perihal pun padaku. dia meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyesakkan batin. Berulang kali aku berusaha mengirim pesan ke inbox facebooknya, jangankan dibalas, syukur-syukur dibaca. Berkali-kali aku mengirim sms, dibalas memang, tapi hanya dengan kalimat-kalimat singkat. Pernah sekali aku dengan bangga mengirim sms ke dia karena aku mengerti dengan mata kuliah yang membuat orang lain geleng-geleng kepala, dengan bangga pula aku mengabarkan nilai kuisku di mata kuliah itu, dan dia hanya membalas, “Selamat, Dek! Kamu membanggakan. Selalu membanggakan”. Hanya begitu. Tak ada ledekan seperti biasanya, atau sebuah senyuman, atau malamnya menelepon untuk membahas tentang kuliahku, tak ada. Semua itu lenyap. Dan dia tak pernah tahu seberapa besar aku bersusah payah dalam pelajaran itu, hanya agar aku menemukan alasan untuk mengirim sms padanya. Aku sangat berusaha, dan terlalu berusaha.

Hari-hari berikutnya semakin buruk. Aku tak pernah tahu lagi kabarnya. Tak pernah. dia hanya mengirim sms padaku saat Ingin pulang ke rumahnya, dan aku membalas dengan ucapan “hati-hati”, dan sudah, hanya sampai di situ. Selanjutnya aku kembali menunggu-nunggu pesan darinya. Hanya menunggu? Ya, hanya menunggu.

Bulan berikutnya, kabar yang kuterima semakin memburuk. Tidak, kabar ini bukan darinya, melainkan dari orang lain yang kerja di kantor yang sama, juga dari sosial media miliknya. dia tak mengeluhkan apa pun di sosial medianya, tapi kata-katanya yang ganjil, membuatku cemas. Aku merasakan sesuatu. Lalu kecemasanku terjawab dengan kabar yang kuterima dari teman sekantornya; dia diturunkan jabatan menjadi Redaktur Pelaksana. Tidak, bukan diturunkan, karena sebelumnya dia juga merangkap sebagai manajer dan redpel(re:redaktur pelaksana), lebih tepatnya dia diberhentikan sebagai manajer. Ya Tuhan, ini semua membuatku depresi selama berminggu-minggu ke depan. Bagaimanalah mungkin dia bisa tersingkir dari posisi itu? Aku tahu benar dia seperti apa.

Hal yang semakin menyakitkan kembali datang. Aku bertanya padanya tentang kabarnya, dan dia menjadi baik-baik saja. dia benar-benar menyembunyikan semua itu dariku. dia sangat sempurna melakukannya. Tapi dia tak pernah tahu, aku telah belajar banyak darinya. Jadi dengan mudah aku mengetahui informasi itu.

Dan malam itu, aku memaksa untuk menelepon. dia mengelak dengan seribu alasan, dan berkata dia akan pulang sedikit larut dari rumah pak bos. Dan aku bersikeras menungguinya. Akhirnya dia mengalah, sekitar jam 10, dia mengirim pesan padaku kalau dirinya sudah kembali ke rumah (awalnya berkata pulang jam 12, lalu berkata dia sedikit tidak enak badan makanya diizinkan pulang lebih cepat oleh pak bos).
****
November 2013
Quote:


Senyap sejenak. Aku tak bisa tertawa lagi. Tawanya barusan terdengar amat ganjil. Teramat ganjil. Aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dan kupastikan ada banyak hal yang disembunyikan olehnya.

Quote:


Pengalihan topik lagi. Aku paham suasana ini. Aku paham ketegangan di antara kami ini.

Quote:


Iya, gossip itu. Sekantor pada sibuk memperbincangkan tentang kedekatanku dengan dia. Apalagi yang jadi bahan kalau bukan tentang perbedaan umur kami. Mereka nggak ngerti. Nggak akan pernah mengerti seperti apa posisi dia di hidupku. Saat kejadian ini aku belum menyadari perasaan ini—lebih tepatnya aku tak pernah mau mengakuinya sebagai cinta, aku selalu punya cara untuk menepisnya. Kabar itu pun sampai di telinga pak bos. Dan aku tak pernah tahu efeknya akan sebesar itu padanya. Aku tak pernah tahu, maka aku menyalahkan diriku untuk segala hal yang terjadi.

Quote:


Iya, seperti ini. Inilah hal yang paling kusuka setiap kali teleponan sama dia. Dia selalu tahu cara membujukku. Cara berbicaranya selalu mengendalikan. Hanya sekejab dan masalah itu selesai. Kata-katanya yang menenangkan, selalu membuatku nyaman. Aku yang awalnya ingin bertanya kenapa dia menjauhiku, akhirnya kuurungkan. Detik-detik kebersamaan ini terlalu berharga untuk membahas hal itu. Bisa lain waktu.

Telepon itu selesai pukul 00.30 WIB setelah aku membujuknya berkali-kali untuk memperpanjang waktu teleponan. Tapi yah, percuma saja. Dia selalu menang dalam hal ini. “Besok kamu kuliah, nanti telat.” “Demi kebaikan kamu juga.” “Kalo bandel, gue nggak mau nelepon kamu lagi”. Dan yah, semua yang dikatakannya benar. Tentang demi kebaikanku, tentang aku yang sering telat, tentang kalau aku bandel dia tak akan meneleponku. Satu hal yang kunikmati dari tawar-menawar ini adalah aku bisa manja kepada sosok seorang kakak yang tak pernah ada di hidupku. Aku merasa diperhatikan dengan tawar-menawar ini.
****
Juni 2015
Hal yang selalu menyakitkan bagiku adalah tentang gossip yang menyebar di kantor. Tentang cibiran-cibiran sok tahu beberapa oknum. Aku berusia 19 tahun saat aku menyadari tentang retak perasaan itu. aku baru berusia 19 tahun saat aku merasakan pedihnya ditinggalkan oleh seorang malaikat yang selama ini selalu menjadi sosok yang begitu kukagumi.

Yah, hal yang paling menyakitkan dari semua ini, yang harus kusadari dan kuterima, dia telah menikah dan memiliki dua ksatria mungil.
Up date lageeeee
Waktu baca judul nya ane kira cerita *sorry* sesama jenis emoticon-Hammer (S)
Well, ijin nenda emoticon-Big Grin
ini kejadian sekarang gan?

wowowowoww, lanjutt gan emoticon-thumbsup
bahasa n ceritanya kek daun yang jatuh tak pernah membenci angin emoticon-Big Grin

jadi sis ini yang menyebabkan dia diturunkan dari jabatannya?

i know dat feel.
ane juga pernah ngerasain yang sama.
membuat hidup orang lain berubah

gegara kesalahan saya

Part 4

Kau tahu sisi terbaik sebuah kenangan meski ia teramat menyakitkan? Ia selalu memenuhi janjinya. Menepati sebuah celah untuk berpulang, untuk belajar, untuk mengerti—yang siap kau kunjungi saban waktu kau menginginkannya. Laksana mentari yang menunaikan janjinya setiap pagi.

Janji masa depan itu tak pernah ingkar, meski yang berucap entah di mana rimbanya. Satu per satu segala hal yang dulu dia dia lakukan di hidupku mulai terbukti; sebuah janji akan masa depan yang lebih baik.

Kemarin, aku diundang dalam Omong-Omong Sastra di Taman Budaya. Novel terbaruku masuk kategori karya SASTRA, bukan SASTRA POP. Kau tahu hal yang paling mengharukan? Aku diberi jeda waktu untuk membacakan satu bagian dalam novel itu, dan sukses membuatku kembali menziarahi kenangan itu. Aku, jadi penulis muda yang berhasil menulis sebuah karya sastra. Siapa yang menyangka dan menduga? Aku yang selalu pesimis, aku yang selalu minderan, aku yang selalu membunuh mimpi-mimpiku, tak pernahlah terbayangkan atau terpikirkan olehku novel itu akan menjadi pembahasan para sastrawan senior dengan pola pikir yang berbeda-beda dan kapasitas ilmu yang tidak diragukan lagi. Hari ini, aku menunaikan janjiku di masa lalu pada dia; akan selalu membanggakannya.

Seharusnya hari ini aku senang, aku bahagia. Dan yah, aku tak bisa memungkiri perasaan bahagia itu. Harusnya dengan pencapaianku ini, aku mempunyai alasan kuat untuk mengirimkan sms padanya, atau sebuah pesan di inbox facebooknya. Seharusnya, sebelum aku harus menerima kenyataan bahwa segalanya telah selesai.

Delapan bulan. Delapan bulan tanpa kabar, tanpa komunikasi, tanpa kutahu di mana dia sekarang, aku masih saja mengharapkan dia. Aku masih mengingatnya, masih merindukannya. Bagaimanalah akan kujelaskan perihal ini? Bagaimana akan kuterangkan tentang hati yang masih penasaran dan menuntut sebuah penyelesaian? Karena sesungguhnya, kisah aku dan dia dipaksakan untuk selesai, bukan benar-benar selesai.

Hari ini, dan untuk kesekian kalinya, dia tak pernah lagi hadir menanyakan keadaanku atau sekedar menenangkanku dari semua masalah yang mendadak merusak janji masa depan itu. Kemarin aku menanam benih yang kuharap dua puluh tahun ke depan akan kupetik buahnya. Kemarin juga aku bertemu sastrawan senior, yang meski aku masih dipandang sebelah mata sama beberapa orang, tapi yang lain mulai menerimaku dan mulai mengenalku. Kemarin, janji masa depan itu terlihat cerah dan berkilau, teramat indah kilau sinarnya. Dan hari ini, semua itu hancur, bagaikan diserang hama tanpa bisa kuduga dan kucegah.

Segala kejadian di masa lalu membuatku tumbuh menjadi sosok yang sangat pintar menyembunyikan apa yang kurasakan—ini juga yang kutiru dari dia. Tak akan ada yang tahu dengan keadaanku yang sebenarnya, tak ada! Kecuali mereka bisa membaca cahaya di mataku yang meredup.

Pernikahan kedua orangtuaku berada di ujung tanduk. Bukan, bukan karena perselingkuhan atau sebagainya. Percayalah padaku, ini hanya masalah yang teramat sederhana—amat sangat sederhana. Hanya saja aku tak mengerti dengan pikiran Ayah, yang beranggapan seolah ini masalah fatal dan merupakan kesalahan Ibu dan Nenekku. Percayalah, persoalan ini teramat sederhana.

Akhir-akhir ini, segala masalah itu membuatku menjadi mayat hidup. Yang kupikirkan dalam hal ini hanya adekku—hanya dia. seketika bayangan-bayangan tentang dunia yang kelam itu datang menyerangku. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika adekku juga akan mencicipi dunia itu. Ya Tuhan!! Aku tak bisa membayangkan apapun, tak berani membayangkannya. Aku hanya saksi hidup yang kebetulan selamat dari dunia kelam itu. kebetulan, karena keberuntunganku. Tapi bagaimanalah jika adekku yang ada di posisi itu?

Malam ini, aku kembali menghela napas berat setelah kupandangi wajah ibu. Kualihkan tatapku ke cermin di hadapanku. Ya Tuhan… tatapanku, sorot mataku, segalanya benar-benar redup. Aku teringat tahun-tahun yang telah berlalu, tahun di mana untuk pertama kalinya tatap matanya yang teduh, terasa begitu redup.
****
November 2013
Depresi sisa minggu-minggu lalu masih membekas di pikiranku, di benakku. Aku bahkan belum bisa meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja saat aku kembali mendengar kabar itu; kabar yang kembali membuatku terpuruk.

dia kembali diturunkan posisi hanya menjadi editor biasa. EDITOR BIASA. Bagaimana aku membayangkan dari 3 posisi yang dijabatnya dulu karena prestasinya yang cemerlang di kantor, kini hanya tinggal 1 posisi? Bagaimanalah harus kuterangkan pada diriku sendiri dari jabatan Manajer kini hanya menjadi editor biasa?? Aku kembali mengutuki diriku sendiri, kembali menyalahkan hidupku.

Sehari sebelum aku mendengar kabar itu, aku melihat sebuah foto yang diupload olehnya di facebook. Bukan foto sendiri, tetapi foto bersama teman-teman kantornya.

Ya Tuhaann!! Begitu miris. Hatiku seperti teriris ketika melihat raut wajahnya. Bukan, bukan apa-apa. Senyumnya itu ada, selalu ada di sana. Wajahnya tetap menyenangkan seperti biasanya. Tapi sorot mata itu, tatapan matanya itu, kini menjadi redup. Guratan kedewasaan di wajahnya yang selalu terlihat menawan, di foto itu tergantikan oleh guratan suram—stress dan depresi. Apalagi yang perlu kucari tahu? Aku cukup pintar untuk mengetahui kalau dirinya tidak baik-baik saja.

Perihal ini, perihal pendar cahaya dari sorot matanya ini, bukan tak pernah kutanyakan padanya. Selalu, selalu kutanya. Tapi dia selalu bisa mengalihkan pembicaraan, tanpa pernah disadarinya, aku telah belajar banyak darinya. Dia lupa bahwa aku pembelajar yang cepat. Dia keliru tentang aku yang tak tahu apa-apa, padahal, selama ia mengalihkan pembicaraan, aku telah menangkap banyak hal, menyimpulkan banyak makna.

Apa salahku jika aku masih peduli pada malaikat itu? Salahku apa kalau sampai detik ini, terkadang rindu itu tetap nyata untuknya? Usiaku baru 19 tahun saat dia meninggalkanku dulu. Dan ketika dia memutuskan benar-benar akan pergi, usiaku baru menginjak 20 tahun.

Usiaku 20 tahun, dia 36 tahun, dan istrinya 33 tahun, saat aku harus menerima kenyataan bahwa perasaan ini lebih dari sekedar adek-kakak, lebih dari sekadar malaikat-pengagumnya. Dan kenangan itu selalu menepati janjinya; janji 'mengenang' milikku..

Part 5

Benarkah kau tak ingin berbagi orang yang kaucintai dengan yang lain? Nyatanya, ketika kau jatuh cinta, selalu ada orang lain yang mencintainya juga. Bukankah dengan begitu, kau harus siap berbagi atas perasaan itu?

Juni 2013
Baru sebulan setelah aku dan dia saling mengenal, namun dia telah mengajariku banyak hal. Cara bicaraku berubah, beberapa kebiasaanku berubah, dan beberapa hal di hidupku juga ikut berubah. Aku belajar menyebut ‘kamu’ dari dia. Aku belajar menularkan energi positif kepada orang-orang sekitarku dari dia. Dan tak bisa dipungkiri, senyumanku yang selalu bisa membuat orang lain ikut tersenyum juga kupelajari darinya; cara mempengaruhi orang lain.

dia akrab dengan seorang gadis yang setahun lebih tua dariku—dia mengenal gadis ini dari pelatihan menulis itu, begitu pun denganku. Mereka pernah akrab, meski aku tak paham bagaimana keakraban mereka saat itu. Yang kutahu, gadis itu lebih dulu akrab dengan dia.

Aku hanya mengenal cemburu dari seseorang—pacarku yang saat itu masih menjalin hubungan denganku. Aku tak tahu rupa cemburu yang lain, dan tak ada yang memperkenalkanku dengan cemburu jenis lainnya. Lalu, saat itulah aku menyadari ada cemburu yang jauh lebih indah sekaligus menyakitkan.

Quote:


Selesai. Telepon langsung terputus. Entahlah, saat itu aku belum bisa menyimpulkan perasaan apa pun. Yang kutahu, ada retak perasaan lain yang seketika menohok hatiku. Begitu sakit dan menyesakkan. Entah apa yang dibahas mereka, yang kutahu Mbak Vani bakalan cerita tentang cowo yang lagi dekat dengannya.

Beberapa jam kemudian, dia masih belum memberiku kabar. Aku berusaha fokus pada tugas kuliah, namun hasilnya nihil. Dengan perasaan tak keruan, sejam kemudian aku berhasil menyelesaikan tugasku, tepat ketika sms itu masuk.

Quote:


Aku menghela napas panjang. Entah ini perasaan lega atau perasaan kesal. Sesaat aku tak ingin membalas pesannya. Tapi sesaat kemudian, aku tak bisa menahan saat tanganku mengetikkan pesan balasan untuknya.

Quote:


Tak butuh waktu lama hpku memunculkan namanya di layar. Aku hanya bisa ber-puh pelan, lalu mengangkat teleponnya.

Quote:


Detik-detik selanjutnya aku hanya jadi pendengar yang baik. Hingga dia sadar aku tak memberi respon apa pun atas ceritanya.

Quote:


Telepon terputus.

Aku tak bisa lagi menahan gejolak yang seolah meluap-luap di hatiku. Air mata itu tak bisa kutahan lagi. Lihatlah, betapa bodohnya aku? Hanya karena dia teleponan sama orang lain, dan aku jadi seperti ini? Apa hakku? Aku ini siapa? Aku Cuma remaja tanggung yang kebetulan diselamatkan olehnya. Jadi, masih pantaskah aku bersikap seperti ini?

Entahlah. Entah. Aku tak mengerti tentang perasaan yang saat ini menghunjamku. Cemburukah? Mungkin. Mungkin saja. Tapi, hanya satu hal yang bisa kutangkap dengan jelas; perasaan tak ingin tergantikan…

Usiaku 18 tahun, dia 34 tahun, istrinya 31 tahun, aku cemburu…
Quote:

Noohhh udah diapdet langsung dua part gan.. sorry lame ga updet, lagi sibuk Tugas Akhir neeh.
emoticon-Mewek

Quote:

bukan sesama jenis kok gan, cuma beda umur dan status. Sila bangun apartment juga gaaann emoticon-Shakehand2

Quote:

iyaaaa gan, kejadian sekarang. Sudah apdet dua part, sila baca gan emoticon-Betty


Quote:

well--gaya nulis saya seperti inilah gan, terpengaruh mungkin haha
menurut ane gitu gan, tapi kata dia bukan salah siapa2.
tos buat yg tau rasanya emoticon-Angkat Beer

Part 6

21 Juni 2015
Hari ulang tahun dia.

Perasaan itu kembali membuncah setelah kemarin sempat kuredam dalam kerinduan. Aku teringat dua tahun lalu ketika segalanya baik-baik saja. Ketika ulang tahunnya menjadi hal yang paling kutunggu-tunggu, ketika kado dariku menjadi pembahasan sepanjang minggu, dan ketika malam-malam berikutnya kedekatan kami semakin intens.

Hari ini, rasanya aku ingin mengulang segalanya. Mengulang segala tawa, seluruh cerita, setiap kerinduan, dan lainnya. Aku ingin mengulang semuanya. Tapi apalah yang bisa kuperbuat? Untuk memberi ucapan padanya pun aku tak berani.

Hari ini, resmi sudah aku hanya jadi pengamat sejauh ini. Aku hanya bisa membaca setiap ucapan yang terkirim ke wall facebooknya, aku hanya bisa membaca komen-komenan dia dan orang-orang itu. Aku tak bisa melakukan apa pun bahkan untuk diriku sendiri, sama seperti dulu, seperti pertemuan yang tak lagi bisa kusinggahi.

Apa mungkin dia masih mengingatku?? Apa… apa mungkin dia masih mengharapkan ucapan dariku seperti tahun –tahun yang lalu?

Quote:


Itu chat terakhir aku dan dia. Apalagi yang kuharapkan setelah itu? Aku bakalan ngucapin selamat ulang tahun ke dia? Berharap dia akan membacanya? Berdoa agar segalanya kembali baik-baik saja? Semua sudah jelas, dari kalimatnya sudah jelas; dia beranggapan segalanya telah berakhir..

Mungkin dia pun tak pernah menyangka bahwa aku masih mengingatnya, masih mencari-cari jejaknya setelah berbulan-bulan ia pergi tanpa kabar, benar-benar menguburku dalam kerinduan ini. Pun aku tak cukup berani untuk berharap bahwa dia pernah memikirkanku walau sedetik, walau sekejap, walau sementara semenjak bulan terakhir chat kami di facebook itu. Aku tak pernah berani berharap..

Masih tersisa beberapa jam lagi sebelum hari ini berakhir, namun aku tak tahu pasti apa yang akan kulakukan, apa yang harus kulakukan. Haruskah aku berdoa agar kesempatan itu ada? Kesempatan untuk menyelesaikan menyoal perasaan ini? Atau kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan melupakan segala rasa yang masih membekas dari masa lalu?

Aku tak pernah tahu….

Segala rasa dan kenangan itu menyeruak ke dada, membuatku sesak. Aku ingin sekali mengetikkan pesan untuknya. Sebenarnya, dari kemarin aku sudah mencari-cari pin bb dia dari teman-teman penulis yang lain, sayangnya tak ada yang tahu pasti. Sepertinya dia benar-benar menarik diri dari semuanya, dari segalanya, dari setiap hal yang berhubungan denganku. Sebenci itukah dia padaku??

Pertanyaan-pertanyaan itu mendesing di telingaku; masihkah dia menyimpan apa yang kuberi tahun-tahun yang lalu??

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengubunginya? Ataukah cukup aku menyakiti diriku sendiri dengan menahan keinginan seperti ini? Dan hari ini, hanya puisi darinya yang menemaniku, menemani segala kebimbangan ini.


Nb : Ntar malam aku pos semua puisi dari dia untukku. Mohon sarannya gan, untuk kebimbangan ane ini.
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di