alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Hutan Hujan Di Kemarau Panjang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55771737c2cb17c9268b4569/hutan-hujan-di-kemarau-panjang

Hutan Hujan Di Kemarau Panjang

"BOOOOM!!!!!" Terdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan. Beruntung kejadian jauh dari keramaian kota. Tidak ada satupun orang yang tertarik datang menuju sumber suara. Bahkan para penjaga hutan pun aneh tidak mendengar suara tersebut. Hanya saja mereka terheran melihat tingkah laku binatang menjadi aneh. Kambing-kambing, sapi-sapi, ayam-ayam dan binatang peliharaan mereka terlihat gusar. Mereka menyangka akan terjadi bencana besar datang melihat tingkah laku para binatang yang aneh. Ditambah dari dalam hutan burung-burung berterbangan kesana kemari tak tentu arah. Terdengar suara auman macan dari dalam hutan. Langkah cepat para babi hutan pun sangat keras sehingga mereka mampu mendengarnya dari kejauhan. Ada apa gerangan yang terjadi. Para penjaga hutan pun mengingatkan para warga kampung dekat hutan supaya berjaga-jaga apabila terjadi bencana besar datang.

Di sisi lain, dari sumber suara muncul dua sosok misterius berwujud manusia keluar dari kepulan asap. Lama-kelamaan asap tersebut menghilang memperlihatkan apakah sesungguhnya sosok tersebut benar manusia nyata atau alien yang saat ini sedang santer beritanya di kota. Tak jauh dari dua sosok yang terdiam mematung itu jelas seonggok besi berbentuk bola besar terbakar pada sisi bagian atasnya. Aneh kedua sosok tersebut hanya diam mematung dan tambah aneh api tersebut tiba-tiba padam dengan sendirinya. Lebih aneh lagi pesawat tersebut seperti menghilang lenyap dari pandangan manusia. Setelah benar-benar lenyap dari pandangan, kedua sosok itu terlihat berbincang serius.

Tidak jauh dari tempat tersebut ada dua bola mata yang diam-diam menatap tajam menyaksikan apa yang terjadi. Bak sniper yang membidik targetnya, tanpa melepas sedikit pun pandangan kedua bola mata itu terus menonton kejadian demi kejadian. Tak terlewatkan sedikit pun dari pandangannya. Namun sayangnya dia hanya manusia biasa, tetap saja sekuat tenaga apapun dia menahan kedipan matanya, dia justru banyak melakukan kedipan mata yang tidak perlu. Sehingga ternyata salah satu dari sosok tersebut mengetahui kehadiran yang tidak diundang dari kedua bola mata tersebut. Seperti hafal kedipan matanya, sosok yang ternyata tinggi besar itu dengan cepat mendatangi sosok mata itu.

"SIAPA KAMU?!" bentak sosok yang ternyata manusia berkelamin laki-laki itu.
"A.... Ak.... Akuu cu... cuma... le.... lewat... aja.." jawab si empunya bola mata tergagap ketakutan.
"Hmmm... dasar manusia kuno masih saja berbohong, sudahlah kenalkan namaku Bersih" ucap laki-laki itu bijak mengenalkan namanya.
"Aku Kartono" balas si empunya bola mata mulai tenang.

Akhirnya kedua manusia yang ternyata berbeda zaman ini mulai berbincang lancar membicarakan zaman mereka masing-masing. Tidak lupa Bersih mengenalkan sosok satu lagi yang ternyata manusia berkelamin perempuan ini. "Rapi" kata sosok perempuan tersebut kepada Kartono. Ternyata Bersih dan Rapi adalah manusia yang datang dari masa depan 1000 tahun jauh ke depan dari zaman Kartono. Di zaman Bersih dan Rapi teknologi sangat luar biasa berkembang pesat. Bersih mencontohkan, jika zaman Kartono smartphone adalah teknologi tercanggih untuk kategori komunikasi maka di zaman Bersih komunikasi menggunakan teknologi yang disebut EM. Tinggal menggerakkan mulut dan berfikir saja maka lawan bicara kita yang jauh disana sudah mengerti, Kalau ingin berbisnis pun di zaman Kartono paling canggih menggunakan Video Conference, maka cukup memejamkan mata dan materi yang ada dalam angannya akan tergambarkan langsung di dalam project mereka di depan para kolega bisnis mereka.

Kendaraan pun di zaman Bersih menggunakan Egg. Ya seperti telur bulat yang mampu terbang dan menyelam hingga kedalaman 1 km dibawah permukaan laut. Transportasi umum untuk jarak jauh menggunakan teleportasi yang sudah disediakan pemerintah dunia saat itu. Tapi dengan kemudahan yang begitu nikmatnya di dalam benak Kartono, Bersih menjelaskan mereka semua tidak mengetahui bentuk hewan dan tumbuhan itu seperti apa. Data-data yang ada entah kenapa tiba-tiba terhapus. Akhirnya perusahaan bernama Hijau Kemarau didirikan untuk meneliti kembali hewan dan binatang yang sudah punah untuk dibuatkan kloningan mereka agar manusia bisa merasakan lagi betapa nikmatnya oksigen murni dari tumbuhan, daging lezat asli dari hewan ternak dan menyaksikan keindahan flora fauna yang ada.

bersambung......

Ceritita Selanjutnya ada di blog ane gan, ane harap agan juga berkunjung ke blog ane ini rusakutubuku blog, Terima kasih gan
Urutan Terlama
Part II


Lama berbincang tanpa mereka sadari malam sudah hamper tiba. Kartono pun mengajak mereka untuk tidur di rumahnya. Kartono menceritakan rumahnya tidak seindah rumah-rumah mereka. Rumahnya sangat sederhana karena hanya beralaskan tanah, beratapkan daun-daun kering, dan tembok yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Bersih dan Rapi pun menyetujui usulan Kartono, ya kalaupun menolak mereka akan tidur dimana itu akan menjadi masalah esar bagi mereka. Setidaknya dengan Kartono mereka berdua bisa mencari tahu kebudayaan manusia pada zaman itu jadinya mereka tidak terlihat mencolok.
Dalam perjalanan Kartono terus bercerita tentang kehidupan manusia di zamannya. Kehidupan manusia yang sangat rakus, begitu kata Kartono dengan nada keras dan jengkel. Bersih dan Rapi dalam pikiran mereka mulai menyadari alasan manusia di masa depannya sangat sulit berkomunikasi satu sama lain. Kehidupan manusia juga saling tipu menipu, lanjut Kartono dengan wajah sedih. Bersih dan Rapi menatap Kartono dengan rasa ingin tahu. Mereka baru pertama kali melihat mimik wajah seperti itu. Mimik wajah tidak ada dalam pengajaran tata bertingkah laku. Mimik wajah akan membuat kalian terlihat bodoh dan sangat tidak berguna, begitu kata guru mereka setiap menjelaskan masalah mimik wajah. Ternyata apa yang diajarkan adalah kesalahan besar. Setiap menjelaskan sesuatu wajah Kartono selalu berubah-ubah mimiknya. Dan Bersih dan Rapi pun menjadi tertarik dengan apa yang diobrolkan, padahal selama ini mereka hanya membocarakan hal yang penting saja.
“Kalian lihat hutan-hutan disini masih hijau, burung masih bisa bernyanyi, macan masih terlihat mengejar babi, tapi entah sampai kapan bisa bertahan hutan ini” kata-kata ini diucapkan Kartono dengan wajah yang sangat sedih seakan akan ingin menangis saja. Bersih dan Rapi terdiam membisu tak tahu harus berbuat apa, jangankan untuk berbuat sesuatu, mereka pun bingung harus berkata apa menghadapi situasi seperti ini. Akibatnya mereka melanjutkan perjalanan dalam keadaan diam seribu bahasa dengan hati yang berbeda-beda diantara mereka. Hati Bersih semakin penasaran dengan kehidupan manusia di era tersebut, jika dia mampu menyerap semua ilmu kehidupan yang ada kemudian dia bawa di eranya itu akan membuatnya menjadi ilmuwan terhebat. Hati Rapi semakin tertarik dengan Kartono. Pemuda yang baru ditemuinya tersebut entah mengapa membuat hatinya aneh berdetak tidak beraturan. Selama ini bertemu dengan laki-laki dia selalu biasa saja, orang tuanya, gurunya, temannya, apalagi kakaknya tidak pernah mengajari dirinya itu menghadapi seseorang yang belainan jenis. Tidak ada pelajaran tentang isi hati, yang ada ajaran kalau sudah tepat umur untuk berkeluarga tinggal datang ke toko kemudian memilih foto dan tinggal tunggu tanggal untuk berkeluarga.
Sedangkan Hati Kartono berkecamuk tidak tentu arah. Genderang perang yang tidak berirama seprti itulah detak jantung Kartono. Risau, resah dan ragu seperti apa akan nasib alam ini. Dari kecil hingga tumbuh menjadi seorang pemuda kekar walau wajah pas-pasan selalu berada di hutan ini. Kedua orangtuanya sudah lama pergi ke alam lain karena melindungi hutan ini dari para pemburu. Di depan mata Kartono kedua orang tuanya tewas ditembak di kepala. Kartono pun berjanji akan berusaha melindungi hutan ini dari siapapun sampai tetes darah terakhir yang tumpah utnuk melindungi hutan ini.
Di dalam rumah sederhananya, segera Kartono menyiapkan makanan untuk Bersih dan Rapi. Ketika memasak Bersih dan Rapi dengan rasa ingin tahu yang kuat mendatangi tempat memasak Kartono. Aneh, kata yang terlontar dari dalam mulut Bersih. Rapi hanya diam memandang dalam wajah Kartono yang sedang memasak. Kartono yang menyadari keberadaan mereka berdua hanya tersenyum dan bercerita dia ini termasuk orang yang masih sangat kuno memasak dengan menggunakan kayu bakar dan tungku dari tanah liat. Kalau orang-orang di zamannya yang sesungguhnya memasak menggunakan kompor gas dan wajan. Sudah dijelaskan masih saja Bersih dan Rapi tidak mengerti, maklum mereka makan hanya menggunakan pil yang berisi zat-zat ekstrak yang diciptakan untuk mengenyangkan perut manusia. Tidak ada rasa tidak ada bentuk makanan. Ketika sudah matang mereka heran dengan bentuk makanannya. Ketika memakan, Bersih dan Rapi merasakan kenikmatan yang luar biasa pada lidah mereka.
Di sela acara makan, Kartono bercerita, manusia rakus karena menginginkan segalany untuk dicapai tanpa peduli orang lain. Bagi manusia seperti teknologi adalah jalan-jalan satunya untuk selamat dari kepunahan. Manusia semakin menciptakan alat untuk mempermudah hidup mereka. Tapi bagi Kartono, itu adalah hal yang justru membuat diri manusia itu sendiri menuju kepunahan. Bagaimana tidak, demi mempermudah transportasi, manusia merelakan ribuan hektar hutan dibabat habis. Demi mempermudah teknologi komunikasi, manusia merelakan bumi ini digali sedalam-dalamnya dan rela lautnya tercemar kotoran hasil galian. Demi kebutuhan kepuasan lidah, manusia rela membunuh habis binatang-binatang yang harusnya tidak dimakan, padahal porsinya jelas tidak mampu mencukupi isi perut mereka, tapi mereka tidak peduli.
Bersih dan Rapi sudah menyelesaikan makannya. Kartono pun menawarkan mereka berdua untuk mandi. Bersih dan Rapi menganggukkan kepala tanda menyetujui usul Kartono. Mereka lupa cara madni Kartono dan mereka itu berbeda. Mereka kaget ternyata Kartono mengajak ke tempat air yang mengalir dengan tenangnya dan terlihat menyejukkan melihatnya. Inikah namanya sungai, pertanyaan itu keluar dalam hati mereka berdau takjub melihat di depan mata mereka sungai yang sesungguhnya. Dalam kekaguman Bersih dan Rapi, mereka dikejutkan bunyi seperti ledakan yang ternyata itu bunyi benturan Kartono dengan air sungai. “Ayo buruan nyemplung!” ajak Kartono.
Bersih dan Rapi awalnya ragu akhirnya memberanikan diri ikut menceburkan diri. Seperti anak kecil ketemu air, itulah tingkah Bersih dan Rapi. Kartono hanya memperhatikan tingkah Bersih dan Rapi dari pinggir sungai. Rasanya seperti ingin mempunyai adik dan kakak. Tidak pernah dirinya merasakan kehangatan mempunyai keluarga lagi setelah sekian tahun hidup dalam kesendirian. Masih teringat bagaimana ayah dan ibuya pertama kali mengajak dirinya tinggal dalam hutan. Kartono kecil kala itu sangat membenci kehidupan alam liar dan terbiasa hidup di dalam perkotaaan yang serba modern. Di kesenangannya sebagai anak kecil dalam era kala itu ternyata kedua orangtuanya sangat menginginkan kehidupan alami, pusing dengan kehidupan kota yang saling bunuh membunuh, tipu menipu. Memang semuanya serba mudah tapi hati sulit untuk menjadi damai. Akhirnya kedua orang tuanya memtuskan untuk melarikan diri dari semuanya. Harta mereka dijual semua dan uangnya disumbangkan dengan menyisakan sebagian uang untuk membeli persediaan bagi mereka. Kartono dalam hatinya kala itu tidak tahu apa yan sdang dilakukan kedua orang tuanya. Hanya mereka ingin mengajaknya pergi jalan-jalan ke dalam hutan.
Ketika kehidupan di alam liar dimulai Kartono kecil lebih sering protes tidak ini, tidak itu, tidak semua peralatan anggih yang biasa idpakai. Makan pun harus menunggu lama, baju yang dipakai seminggu sekali baru ganti, mandi ahrus di sungai menggunakan batu sebagai sabun, dan banyak hal lainnya. Tapi lama kelamaan hal tersebut menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Kartono. Sayangnya di kala Kartono mulai menikmati kehidupan tersebut orang tuanya harus pergi jauh meninggalkannya akibat ulah para pemburu biadab dari kota. Lamunannya tiba-tiba buyar kala Rapi mengajaknya ikut ebrmain dengannya.
Bersambung…
PART III
Sore sudah mulai berganti senja, Kartono mengajak Bersih dan Rapi utnuk segera pulang. Setelah membersihkan diri mereka bergegas pulang sebelum malam benar-benar datang menghampiri. Kartono bukannya takut dengan binatang buas yang akan tiba-tiba menyerang, tapi kedatangan para pemburu liar pengecut yang akan tiba-tiba menyerang. Bagi Kartono binatang liar lebih manusiawi dibandingkan para pemburu. Para pemburu itu tidak hanya berburu hewan liar tidak bersalah untuk diambil keuntungannya. Ketika ternyata tidak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya pemburu itu memburu manusia untuk dijual dagingnya, karena Kartono sempat mendengar kabar burung dari para penjelajah hutan yang melewati gubuknya berbincang mengenai penjualan daging manusia yang mulai marak di era ini. Gila, pikirnya ketika itu. Akhirnya semenjak mendengar berita itu Kartono mulai berhati-hati ketika malam datang.

Ternyata hal yang tidak diinginkan justru terjadi. Tiba-tiba di hadapan mereka terlihat dua orang sedang berlari diujung pandangan mereka. Dengan sigap Kartono mengajak bersembunyi Bersih dan Rapi. Mereka berdua awalnya sedang asyik berbincang membicarakan pengalaman pertama mereka bermain air di sungai. Mereka terkejut kala Kartono menarik diri mereka berdua sembunyi di semak-semak yang cukup lebat. Dalam kebingungan, Bersih hendak menanyakan apa yang sedang terjadi, tetapi Kartono seakan-akan mengerti pikiran Bersih dan Rapi segera menyuruh diam mereka berdua dengan isyarat telunjuk di mulut lalu menunjuk ke arah pohon besar yang ternyata saat itu seorang pemburu berbadan besar dalam keadaan bersandar di pohon dengan luka tembak di kaki dan perutnya. Sedang pemburu satunya berdiri di hadapan pemburu besar itu dan memegang sesuatu seperti pisau.

Dalam kengerian sekaligus ketegangan luar biasa melanda Bersih dan Rapi. Ini adalah kejadian seperti dalam film horror yang biasa mereka tonton, memang di zaman mereka itu menonton film seperti berada dalam kejadian yang difilmkan. Namun, tetap saja kali ini berbeda, muka para pelaku dengan wajah dan tingkah yang benar-benar alami dan serius tanpa ada sutradara dan pengarah gaya mengatur gerakan mereka, sedangkan dalam film para pemain tidak ada mimik wajah dan sama sekali tidak ada gerakan yang istimewa sehingga sangat terlihat sekali itu adalah kejadian yang sudah diatur. Bersih dan Rapi kala itu sangat berharap semoga ada sutradara di sekitar situ dan crew film yang merekam kejadian tersebut, sayangnya mereka sadar itu hanyalha harapan yang tidak akan terkabul. Waktu seperti berjalan sangat lambat mereka rasakan semakin membuat suasana semakin menegangkan.

Si Pemburu Besar itu sudah pasrah menerima kedatangan kematiannya yang lebih cepat. Di hadapannya sudah berdiri manusia bengis yang sudah terbiasa membunuh manusia dan menjual dagingnya. Baginya membunuh adalah hal biasa yang harus dilakukan untuk menyambung hidup. Si Pemburu Bengis itu berada di hutan tersebut bukan untuk memburu hewan. Haluan buruannya berubah semenjak dia membunuh untuk pertama kalinya. Sensasi membunuh pertama kalinya itu semakin membuatnya ingin membunuh manusia lagi. Bahkan terkadang salah satu korbannya, kepalanya dia buat jadi hiasan di rumahnya. Apalagi korban pertamanya adalah sepasang suami istri dengan seorang anak mereka yang sayangnya dia gagal untuk membunuhnya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari hewan buruan semakin sedikit dengan semakin bertambahnya pemburu yang berkeliaran dalam hutan. Pernah dia dalam sehari bertemu 20 orang pemburu. Melihat kondisi tersebut akhirnya membulatkan tekadnya untuk membunuh manusia-manusia itu.

Di sisi lain sang pemburu besar itu mengingat istrinya yang sedang hamil tua. Padahal itu adalah anak pertamanya. Si Pemburu Besar itu berharap anaknya itu bisa menjadi anak yang selalu membantu ibunya sebagai satu-satunya orang tua yang mengasuhnya, bisa menjadi anak yang kuat dan perkasa serta bisa membantu orang yang membutuhkan. Si Pemburu Besar itu menyesal tidak mengikuti saran teman-temannya untuk pulang sebelum senja. Padahal teman-temannya sudah menyarankan untuk segera pulang karena malam sudah mulai datang. Tapi dirinya punya prinsip untuk tidak pulang sebelum dia bisa mendapatkan hewan buruan yang diincarnya. Dirinya sempat melihat tanda-tanda kehidupan macan pohon ketika dia berburu bersama teman-temannya. Di saat konsentrasinya mengintai tiba-tiba terdengar suara bunyi tembakan, baru saja menengok perutnya terasa sakit. Ternyata perutnya terkena tembakan peluru timah, dia pun langsung mencari arah sumber tembakan dengan tangan memegangi perutnya menahan rasa sakit. Di ujung kejauhan dia lihat sosok manusia menodongkan senjata ke arah dirinya. Tanpa pikir panjang pun dia segera melarikan diri sambil menahan sakit.

Dia berusaha sekuat tenaga menghindari kejaran sosok tersebut. Nahas, satu tembakan dilepas dari sosok tersebut dan tepat mengenai kakinya. Seketika langsung Si Pemburu Besar terjatuh terjerembab kesakitan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit tapi tidak berhasil, dalam usaha kesekian kalinya tetap saja tidak berhasil, badannya terlalu besar untuk ditopang satu kaki saja. Akhirnya dia menyerah dan berusaha bersandar di pohon besar yang ada di dekatnya. Dari kejauhan terdengar suara tawa yang sepertinya dia kenal. Si pemburu besar itu memejamkan matanya untuk menutupi sakit yang dideritanya. Saat itu terdengar langkah kaki tepat berhenti di depannya. Si Pemburu Besar mulai membuka matanya. Dia pun memperhatikan sepatu yang dipakai sosok ini, sepertinya aku mengenalnya, katanya dalam hati, lalu celananya terdapat tambal di daerah lutut, sepertinya dia kenal apa yang terjadi pada celana itu, lalu bajunya dia juga jelas tahu betul, sejauh ini 85% dia mengenal siapa sosok seungguhnya yang mengejar dan berniat membunuhnya. Terakhir dia menengadahkan wajahnya utnuk melihat wajah sosok yang berdiri di depannya. “DEAN!!” teriak Si Pemburu Besar. “Teganya dirimu melakukan ini padaku, kamu tahu kan kakakmu akan melahirkan dan saat ini menungguku di sampingnya” jelas Si Pemburu Besar.

“Diam kamu! Hahaha” balas Dean nama si pemburu bengis itu yang ternyata adalah adik iparnya. “Aku tidak mengenalmu! Yang pasti kamu akan MATI!” teriak Dean di depan wajah si pemburu besar. Si Pemburu Besar itu akhirnya pasrah mendengar kata-kata itu. Dia sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan bersiap menghadapi kenyataan dia akan mati. Namun di saat Dean sudah siap mengayunkan pisau ke arah dadanya, BUUK!! Tepat kepala belakang Dean dipukul oleh seseorang dengan benda keras. Ternyata itu adalah Kartono yang tiba-tiba berlari kencang dari tempat persembunyiannya membawa kayu besar di sekita semak lalu memukul Dean. Seketika Dean jatuh terhuyung ke tanah. Tanpa membuang waktu segera Dean mengambl pistol yang ada di saku Dean. “Eh bajingan! Kamu ingat aku kan?!” kata Kartono berusaha mengingatkan kepada Dean. Sayang Dean hanya mampu terdiam membisu memegang kepalanya. Hampir saja Dean mati tertembak, saat itu terdengar bunyi beberapa orang teriak memanggil nama Dean. Khawatir akan keselamatannya dia pun memukul sekali lagi Dean dengan pistol itu hingga Dean pun pingsan. Kartono segera memanggil Bersih dengan isyarat agar tidak terdengar orang yang mencari Dean untuk membantunya menolong si Pemburu Besar. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil sampai di gubuk tua Kartono. Dan si Pemburu Besar mulai bercerita tentang siapa dia dan siapa orang yang memburunya.

bersambung..
my blog
Diubah oleh blackinsky
PART IV

Bersih dan Rapi hanya terdiam selama perjalanan menuju gubuk Kartono. Mereka berdau tak mampu berkata apa-apa. Dalam dunia mereka, dunia begitu amannya karena tidak ada namanya pistol ataupun pisau. Mereka diajarkan benda-benda itu adalah hal terlarang karena bisa membuat umat manusia menjadi punah. Sehingga tidak ada namanya manusia menyakiti manusia lainnya seperti yang mereka lihat. Ternyata masa lalu tidak semuanya indah, ada beberapa hal yang ternyata begitu menyedihkan dan sangat suram. Contohnya telah mereka lihat. Bersih pun mencoba melihat kembali apa yang terjadi pada orang yang dibantunya. Sebenarnya ada hal aneh yang dia lihat, bahwa di dunia manusia masa depan tidak ada manusia berbadan seperti yang sedang ditolongnya ini. Berat badan dan tinggi badan semua sudah disetting dengan program super canggih. Bersih terus memperhatikan Si Pemburu Besar. “Kenapa ada yang salah dengan saya?” kata Pemburu Besar itu dengan nada yang terputus-putus karena lelah menahan rasa sakit. Bersih salah tingkah dan diam saja.

“Sepertinya kamu bukan orang asli Macara ya, asal kamu darimana?” tanya si Pemburu Besar kepada Bersih. “Dia bersama adiknya berasal dari luar negeri, hmm Toroca, ya Toroca asal negara mereka” kata Kartono menyela Bersih untuk berbicara. “Hmm aneh baru aku dengar nama negara itu, pasti bahasa kalian berbeda ya, pantas kalian diam saja, oh ya kenalkan Ramca, dari kota Merah Darah” kata si Pemburu Besar mengenalkan diri. Dan Kartono pun mengenalkan dirinya serta Bersih dan Rapi. Untuk Bersih dan Rapi sebenarnya mereka memang mempunyai bahasa yang berbeda, tapi dengan teknologi canggih yang telah diciptakan oleh ilmuwan di masa depan melalui database tidak terbatas menciptakan alat yang mampu menerjemahkan bahasa serta secara otomatis mereka juga akan mampu berbicara bahasa dan logat mereka. Kartono sudah mengetahui hal ini sesungguhnya. Tapi terlalu riskan memperkenalkan Bersih dan Rapi kepada Ramca. Bisa-bisa Bersih dan Rapi dibawa pergi untuk dijadikan penelitian manusia tidak mempunyai hati.

Sesampainya di gubuk Kartono, Si Pemburu Besar mengenalkan dirinya dan berterima kasih karena sudah menolongnya. “Derick” kata si Pemburu Besar mengenalkan dirinya. Dia pun bercerita panjang lebar mengenai dirinya. Mulai dari siapa dia sebenarnya, bagaimana dia bisa dikejar, mengapa dia dikejar, apa penyebabnya dia dikejar, dimana dia tinggal, dan berbagai cerita yang sama sekali Kartono tidak mendengarkan, hanya Bersih dan Rapi yang mendengarkan. Baru pertama mereka mendengarkan cerita yang panjang dari seseorang. Mereka tidak pernah bertemu seseorang bercerita panjang dan lebar. Bahkan dengan Kartono saja dengan mereka lebih banyak diam dan sesekali bercerita jika dirasa sudah terlalu lama suasana diam. Bersih dan Rapi semakin bingung dengan watak nenek moyang mereka sendiri. Padahal di dalam tayangan film-film mengenai watak nenek moyang mereka tidak seperti yang digambarkan. Dalam film selalu dijelaskan sudah dari dulu tidak ada itu dalam sebuah pertemuan bercerita panjang lebar seperti Derick ini. Mereka bahkan melihat aneh, baru saja Derick selamat dari sebuah kejadian besar yang hampir merenggut nyawanya tapi langsung merasa lega dan bisa tertawa ceria sekali sepertinya.

Derick terus bercerita dengan tetap menahan rasa sakitnya yang terkadang muncul. Kartono pun yang menyadarinya menyuruh Rapi untuk mengambil gunting dan mangkuk besar. Lalu Kartono keluar gubuk, dia terlihat seperti mencari sesuatu di sekitar gubuknya. Beberapa lama kemudian dengan wajah tersenyum dia justru ke belakang gubuknya. Sepertinya dia akan melakukan sesuatu dengan barang temuannya itu. Dan jadi pertanyaan besar bagi orang yang berada dalam gubuk untuk apa sesuatu itu. Cukup lama Derick menahan rasa sakit akhirnya Kartono muncul. Dengan segera Kartono merebahkan Derick di tempat tidurnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu yang dia temukan tadi. Ternyata itu adalah kayu yang dibuat sedemikian rupa menjadi seperti sumpit.

Berlagak seperti dokter Kartono berhati-hati membuka luka Derick. Sebelumnya Derick mengigit bajunya sekuat mungkin atas perintah Kartono untuk menghindari teriakan rasa sakit luar biasa selam pengobatan. Bisa jadi karena teriakannya itu terdengar oleh Dean dan kawanannya. Bersih diperintah bersiaga di jendela untuk berjaga kemungkinan akan datangnya kawanan Dean. Sedangkan Rapi diminta membantu Kartono mengobati Derick. Dalam waktu 5 jam akhirnya 2 peluru yang bersarang di tubuhnya sudah dikeluarkan. Luka terbukanya diberi dedauanan yang biasa dipakai Kartono ketika luka. Daun itu mampu menutup luka dengan cepat. Walaupun efek yang dirasakan pertama kali adalah rasa gatal pada luka. Namun bagi Derick itu tidak berarti apa-apa lagi dibanding rasa sakit yang dideritanya ketika Kartono berusaha mengeluarkan timah-timah tersebut.

Kartono mempersilahkan Derick untuk beristirahat sementara dia dan Bersih akan berjaga secara bergantian. Untuk Rapi karena dia adalah satu-satunya perempuan, Kartono memintanya untuk memasak makanan bagi mereka dan mempersiapkan diatas meja. Saat ini giliran Bersih untuk berjaga, maka Kartono punu membantu Rapi memasak. “Tidak pernah memasak ya di rumahmu?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Kartono membuat Rapi malu bukan kepalang. Wajahnya memerah menahan malu. Apalagi Kartono tersenyum melihat tingkah laku Rapi yang salah tingkah ditanyakan pertanyaan tersebut semakin membuat Rapi salah tingkah. Akibatnya ketika mencoba meniup perapian tungku tiupannya terlalu besar sehingga asap dalam perapian membalik keluar dan mengenai wajah Rapi. Kartono tertawa melihat tingkah Rapi seperti itu. Rapi pun memasang muka cemberut. Jauh di dalam hatinya dunia menjadi begitu indah dengan mimic wajah. Baru pertama dia memasang muka cemberut. Baru pertama dia memasang wajah malu. Baru pertama dia merasakan ternyata mimic wajah memang adalah sebuah bentuk kejujuran hati seorang manusia.

Masakan sudah matang, tiba-tiba Bersih datang menghampiri dengan nafas terengah-engah dan tegang, dia baru saja melihat seseorang dari arah kejauhan. Kartono seketika berubah wajahnya dari senyum manis menjadi wajah tegang luar biasa. Segera dia melihat dari celah jendela gubuknya. Benar! Terlihat ada dua sosok manusia mengendap-endap. Kartono segera berfikir cepat, di dalam gubuk ada 4 orang, 2 orang manusia tidak tahu cara bertahan hidup, satu orang sudah terkapar tak mampu bergerak lagi dan hanya dirinya yang harus mengatasi itu sendiri. Ketegangan semakin menjadi, kala Rapi tiba-tiba memasang wajah ketakutan dan akan menangis, Bersih yang berdiri di sampingnya justru memasang wajah bingung tak tahu harus berbuat apa. Kartono menyadari tingkah Rapi segera memeluknya. Rapi kaget baru pertama dipeluknya dan dia merasakan kehangatan yang luar biasa. Kehangatan yang jauh berbeda dengan peralatan paling canggih yang dia pernah coba untuk menghangatkan dirinya. Dalam suasana seperti itu terganggu dengan suara langkah kaki yang semakin dekat. Akhirnya Kartono menemukan cara untuk menghadapinya. Sebuah cara terakhir bertahan hidup dan menyelamatkan orang-orang disekitarnya. Tapi jauh dari tujuan itu Kartono menyimpan sebuah rencana besar.


Bersambung…..
my blog


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di