alexa-tracking

Lucifer.

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/557435609a0951113c8b4575/lucifer
Lucifer.
prologue

Aku berada disebuah ruangan dengan wajah-wajah familiar orang yang telah kukenal sepanjang hidupku.

Aku mencoba memanggil mereka.. Tapi mereka seperti tidak mendengarku.

Aku berteriak, tapi mereka hanya memandang kosong kearahku seakan-akan aku tidak berdiri disitu.

Semua yang ada disekelilingku mulai menjadi blur.

Ujung jari tanganku mulai mengkerut.

Bibirku mulai membiru.

Aku mendekap tubuhku sendiri erat-erat. Tapi aku tidak merasakan apapun.

Sampai akhirnya wajah-wajah itu satu persatu mulai memudar.

Sahabatku.


Tunanganku.


Kakakku.


Ayahku.


Aku mulai berlari.. Berlari memanggil-manggil nama mamaku.

Tapi sejauh apapun aku berlari, mama seperti tidak tergapai.

Dan sejauh apapun aku berlari, tidak sedikitpun aku merasa lelah atau kehabisan nafas.

Dan saat itu, ada dua tangan kuat yang membelengguku dari belakang.

Tangan itu terlalu kuat untuk dilepaskan.

Dan dengan sisa keberanian, aku coba mengeluarkan suaraku.

"Siapa... kamu?"

Aku bisa merasakan hangat nafas mahluk itu dibelakang leherku saat dia maju untuk membisikkan sesuatu ditelingaku.

Dengan suara yang dingin dan seperti penuh racun dia berkata


"......Death."


*****


notes ; hallo agan/sista yg udah nyempetin waktunya buat baca cerita ane^^ sebelumnya ane mau bilang kalau cerita ini fiksi dan gak ada kaitannya dengan agama/keyakinan tertentu. Tapi kalau ada agan/sist yg merasa cerita ane ini offensive, ane mohon maaf dari sekarang karena ane bikin cerita ini buat ngelatih cara nulis ane aja jadi jangan dianggep serius. Peace^^
image-url-apps
Index ;

1. Lifeless

2. Accepting

3.

Lifeless

image-url-apps
Tentang Lex

❝aku punya banyak nama panggilan- beberapa diantaranya mungkin anda pernah dengar sebelumnya. Setan, Beelzebub, Lucifer? Atau lebih umum, The Devil.

Tapi sekarang saya menggunakan singkatan dari awalan nama Lucifer : L= Lex.

Ya... Anda tau, supaya saya lebih terdengar.... manusiawi.

Dan itu lebih meringankan pekerjaan saya.❞


Tentang Sarah

Sarah terjebak diantara dua dunia. Dunia Kehidupan dan Dunia Kematian. Dia meninggal dalam kecelakaan mengerikan tetapi memiliki urusan yang belum selesai, dan hal itu mencegah akses nya ke sisi yang lain.

Kemudian dia bertemu Lex, laki-laki berpakaian hitam, dan tampaknya menjadi satu-satunya orang lain terjebak dengannya.


****

1.

Sarah membuka matanya disambut dengan sinar terang lampu, tapi.. itu bukan lampu sama sekali; itu langit. cahaya langit. Dia mengerutkan kening. Jelas-jelas seingatnya langit sudah gelap- hari sudah malam, lewat tengah malam. Dengan gelengan kepala, Sarah duduk dari tempat ia berbaring - di tengah jalan, di samping pohon beringin. "Apa apaan?" sarah berbisik pada dirinya sendiri, melihat sekeliling.

Pemandangan yang akrab, tapi begitu kosong dan sunyi. Sarah melihat sekeliling untuk menemukan barisan pohon ke kiri dan dia segera tau dimana dia - duduk didaerah kelahirannya. Dia menoleh dan melihat jejeran rumah-rumah di kejauhan.


Tapi ada sesuatu yang salah.


Semuanya terlihat... tidak berwarna. Lingkungan ini membuat sarah membayangkan film hitam dan putih zaman dulu, di mana segala sesuatunya terlihat membosankan dan tak bernyawa. Tapi kenapa seperti itu? Apakah ia mungkin bermimpi? Sarah menatap dirinya untuk menemukan bahwa dia adalah satu-satunya hal yang masih dalam warna. Perlahan-lahan, Sarah berdiri dan melihat sekeliling. Di kejauhan, awan kabut bisa dilihat merangkak menuju kearahnya dan dia bergidik. Rasanya seperti hidup dalam mimpi buruk- semuanya tenang dan menakutkan tepat sebelum psiko melompat keluar dari kegelapan dan membunuh Anda. Dia memeluk dirinya dan mulai berjalan kearah pemukimannya.

Saat ia berjalan, tidak ada cara untuk mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya, di dada dan kepala terutama. Sangat tidak nyaman dan begitu udara dingin merembes melalui pakaiannya, kabutpun memeluk disekelilingnya.

Sarah berlari secepat yang dia bisa ke rumahnya, meninggalkan kabut dibelakangnya. Saat ia melewati pagar perumahannya, matanya melesat dari jendela ke jendela untuk mencoba dan menangkap sekilas gerakan-kehidupan manusia.

Tapi dia tidak melihatnya, seluruh tempat itu kosong. Tidak ada orang, hewan, serangga - tidak ada apa-apa.Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, kecuali sarah sendiri. "Halo?" sarah berteriak, matanya mulai berair. Sarah jarang sekali menangis, tapi ini benar benar membuatnya takut. Dia tau bahwa ada sesuatu yang salah dan bahwa ini bukan kampung halaman tempat dia dibesarkan. Tempat itu adalah tempat yang nyaman dihuni, tempat yang hangat. Tidak dingin dan gelap seperti ini.

Sarah berjalan ke rumah terdekat dan mengetuk pintunya tiga kali. Dia menunggu sepuluh detik sebelum mencoba lagi. Tidak ada yang menjawab. Air mata mengalir di pipinya saat ia melihat sekelilingnya, seperti kota hantu.. panik meningkat dalam dirinya. Dia tidak pernah merasakan hal-hal aneh begitu saja. Hal terburuk yang dia rasakan adalah tidak ada orang lain di sekitarnya. Kemana mereka pergi?

"Halo? Apakah ada orang di sini ?!" teriaknya, suaranya dicampur dengan panik. Napasnya tidak menentu dan ia gemetar. "Halo? Tolong beritahu saya di mana saya!"

Diam terus mengikuti dan sarah mulai menangis lebih keras. Di mana semua orang? Apa teman-teman dan keluarganya ada di sekitar? Dia memikirkan hal itu sambil berlari kearah blok rumahnya. Cukup dekat, tapi rasa sakit di tubuhnya membuat sarah meringis terus-menerus.

Dia berlari masuk gerbang dan membiarkan dirinya masuk. Rumahnya tidak dikuci "Ma? Ayah?" ia berseru, menggosok air mata dari bawah matanya. "Fikar?" Kakaknya selalu ada untuknya, jadi jika ada orang di sekitar, dia tahu itu adalah Fikar.

Tapi setelah menyadari bahwa rumah itu benar-benar kosong, ia meninggalkan rumahnya.

"Di mana semua orang ?!" sarah menjerit."Di mana aku ?!" Dia bergidik tanpa sadar dan berbalik untuk melihat kabut yang sebelumnya hanya merayap di sekitar bangunan, mulai datang ke arahnya, seperti ular merayap menuju mangsanya. Menyelimuti dirinya dalam pelukan dingin, Sarah menjatuhkan diri ke tanah dan menangis. Apa yang terjadi? Seolah-olah semua orang meninggalkan muka bumi dan membawa semua kebahagiaan dengan mereka.

Sarah meringkuk, membiarkan awan berkabut di atasnya menjadi selimutnya. Bagaimana jika dia terjebak seperti itu selamanya? Bagaimana jika dia tidak pernah melihat orang yang dicintainya lagi? Bagaimana kalau-

"Sarah Ninditya." Isak tangisnya dibungkam oleh suara laki-laki di kejauhan. Dia perlahan-lahan duduk dan memandang kearah garasi, di mana siluet tinggi berdiri dalam bayang-bayang. Dia perlahan-lahan berdiri dan menyipitkan mata kearah laki-laki itu.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya sarah, suaranya gemetar. "Di mana semua orang?"

"Apakah Anda selalu seperti ini? gadis yang penasaran?" tanya orang yang tetap dalam kegelapan garasi. Sarah menggeleng. "Tidak, aku tidak mengerti ... Aku hanya-"

"Takut? Bingung? Bertanya-tanya mengapa Dunia ini tampak begitu akrab namun tidak cukup terasa seperti rumah?" laki-laki itu mempertanyakan, memiringkan kepalanya ke samping. Sarah mengangguk pelan, sambil menyeka air matanya dengan punggung tangannya.

"Tolong bantu aku?" katanya pelan. "Aku nggak yakin apa yang terjadi atau di mana keluarga aku-"

"Keluargamu baik-baik saja, Kamu yang tidak." Pria itu mengambil langkah kecil ke depan, yang kabut di sekitar sosoknya seperti ular piton.

"Apa yang kamu bicarakan?"

"Saya mencoba untuk memberitahu Anda sesuatu yang sangat tragis dengan cara terbaik dan paling sensitif..." katanya sebelum mengambil napas dalam-dalam. "Kamu sudah mati."
KASKUS Ads
image-url-apps
Judulny,,hahahahha
Jd teringat ttng seseorang yg pnya julukan ini,

Lanjut terus gan..
image-url-apps
Wah, ada cerita baru nih. emoticon-Big Grin Chapter pertama berhasil memancing rasa penasaran ane dan ane ga sabar pengen baca kelanjutannya. Selain itu, pengen juga tau latar belakangnya Sarah.

Lanjutkan terus ceritanya ya, gan. emoticon-Smilie
image-url-apps
Quote:


ciyeeee.. terkenang siapa gan emoticon-Big Grin sipgan

Quote:


siap gan, makasih jg udah baca^^
image-url-apps
Wah ada cerita baru ..
Numpang nenda kk emoticon-Embarrassment
peduli amat sob, mau offensif atau apa, yang jelas situ keren emoticon-Malu (S)


saran ane si, kasi link gambar, ato artikel, ato musik yang menjelaskan berhubungan dengan isi cerita, biar gak terlalu "fiksi"

Accepting

image-url-apps
Sarah tertawa. "gila kamu."

"Beberapa ada yang percaya begitu, tapi jika aku diposisi aku, aku bakal percaya. Setidaknya dalam situasi ini."

"Jadi... aku sudah mati? Bagaimana itu mungkin? Aku di sini!" Sarah berucap, kemarahan menggelegak dalam dirinya. Ini bukan waktu untuk bermain game dengan-nya, dan dia tidak akan membiarkan orang asing ini menyiksanya sedemikian rupa. Tidak ketika ia begitu rentan dan bingung.

"Kamu di sini." Pria itu mengangguk. "Tapi apakah kamu tahu di mana itu 'di sini'?" Sarah melihat sekeliling dan bergidik sekali lagi. "Aku di komplek rumahku."

"Yakin?" orang itu, mengambil langkah kecil lagi kearahnya. "Bagaimana kamu bisa yakin ketika semuanya tampak begitu tak bernyawa? Tanpa warna, itulah yang terlihat di kota ini ."

"Nggak semuanya!" sarah berpendapat. "Garasi sebelah kamu warnanya hijau, dan atap rumah yang di sana merah!"

"Itu semua bukan disini."

"Coba bisa kamu jelasin dimana itu 'di sini'?" tanya Sarah. Pria itu tertawa gelap sebelum melangkah keluar dari bayang-bayang, ke dalam cahaya. Sarah menyadari bahwa laki-laki itu juga, berwarna. Rambut hitam gelapnya acak-acakan tapi itu terlihat cocok untuknya, matanya cokelat hazel terang dipadu dengan hidung mancung dan bibir penuh kemerahan. Tubuhnya ramping mengenakan mantel panjang hitam dan senyum ditempatkan di atas bibirnya saat ia berbicara.

"Tempat ini memiliki banyak nama. Beyond adalah salah satunya ... seperti The Underworld , tapi aku akan menjelaskan dengan bahasa sederhana untuk Kamu, my dear sarah ."

Sarah bergidik dengan sikapnya yang terlalu formal dan fakta bahwa sarah bahkan tidak tau namanya. Sarah menarik nafas dalam dan berjalan kearahnya.

"Tempat ini," ucap lelaki itu, merentangkan kedua lengannya, "adalah tempat antara Dunia untuk yang Hidup dan Dunia untuk yang Mati. Kamu terjebak antara dua dunia, Sarah. Tampaknya Kamu memiliki alasan untuk tidak ingin mati dulu. "

"Saya punya banyak," bentak Sarah.

"Hm," gumam pria itu. "Aku suka itu. Kau beruntung bahwa aku di sini untuk membantu kamu, seperti yang kamu lihat ... disini hanya ada kita berdua."

" Aku nggak suka akan gagasan kita cuma berdua disini," kata Sarah. "Aku bahkan nggak tau siapa kamu."

"Tidak ada yang tau siapa saya. Tidak ada yang kenal cukup baik dengan saya untuk memanggil saya teman mereka-... Tapi anda pasti sudah pernah dengar tentang saya, semua orang pasti pernah."

"Kamu.. bukan seleb yang sudah meninggal kan?" tanya sarah, mencoba menerka-nerka wajahnya. Laki-laki itu tertawa keras.

"Salah. Aku lebih ke tokoh religious, tapi lebih mudahnya, Aku sama sekali tidak religious, lagian siapa juga yang mau jadi tokoh religious?"

Sarah bergidik. "Kamu banci sombong," Emosi sarah mendidih sebelum dia berbalik dan mulai berjalan menjauh laki-laki itu.

"Mau pergi kemana, Sarah Ninditya? Nggak ada tempat buat kamu pergi! setelah kamu berjalan lima mil dari tempat kamumati, kamu tidak bisa pergi lebih jauh!" Dia memanggil-manggil sarah saat sarah pergi menjauh.

"Aku belum mati!" teriak sarah, berbalik arah untuk melihat laki-laki itu. Sarah kaget. Laki-laki itu tidak berdiri ditempat terakhir dia berdiri, tapi dia tepat berada didepan sarah sambil memiringkan kepalanya.

"Kamu mengalami kecelakaan yang mengerikan, Sar," katanya, menyelipkan rambut sarah ke belakang telinga. "Kamu hanya belum ingat hal itu."

Sarah menampar tangannya. "Nggak mungkin! aku pasti inget kalau ada hal buruk menimpa aku."

"Kamu berada dalam kecelakaan yang mengerikan, Sarah. Aku tidak berbohong."

"Coba buktiin. Buktiin ke aku bahwa aku udah mati, karena aku nggak percaya kamu."

"Pada waktunya, kenangan akan datang kembali ke Kamu. Kadang-kadang orang lupa sebab kematian mereka karena mereka langsung lanjut ke sisi yang lain, tapi karena kamu terjebak disini, cepat atau lambat kamu akan ingat."

"Ini bullshit," ucap sarah gusar, sambil menyisir rambutnya. "Aku terjebak di tempat ini sampai kapan? Kapan aku bangun dari mimpi buruk ini?"

"Jika ini adalah mimpi buruk, Kamu akan hidup di dalamnya, tidak mati. Dan kamu terjebak di sini sampai kenangan kamu muncul lagi dan-"

"Lalu apa?" sarah mendesak. "Apa aku bisa pulang?"

"Tidak, setelah kamu ingat, aku akan menawarkan pilihan: kamu bisa pergi dengan damai ke Surga - atau The Other Side, beberapa orang suka menyebutnya, Aku fikir kamu akan berada di perjalanan yang aman untuk ke Surga karena kamu tampak seperti seorang gadis yang baik, " katanya, tersenyum nakal ke arah sarah. "Atau, aku akan membangkitkan tubuh kamu untuk melanjutkan hidup sekali lagi... dengan syarat, aku akan mengambil jiwa kamu buat aku koleksi dineraka nanti, saat kamu mati untuk yang kedua kalinya, tentunya."
image-url-apps
Quote:


silahkan ganemoticon-Smilie

Quote:


wahaha makasih gan. sip nanti ane fikirin dulu
image-url-apps
Idih tawar menawar jiwa ama Lucifer ..
Soooo Scarrryyyyyy emoticon-Takut (S) emoticon-linux
image-url-apps
Nah keren ni jdulnya lou, mga tr yg 6 dosa lain kluar jg hahahaha
Wah, penasaran nih jadinya. Kira-kira Sarah bakal ngambil pilihan apa ya? emoticon-Big Grin
image-url-apps
Ntar 7 deadly sins keluar semua gk nih?penasaran euy

Ayo diupdate bang
image-url-apps
Keren gan dibikin novel ajah sekalian emoticon-Smilie
image-url-apps
Cerita menarik. Semoga ga mandet ditengah jalan emoticon-Smilie
×