alexa-tracking

Membakar Pelangi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/556ab8a1e05227c17d8b4579/membakar-pelangi
Membakar Pelangi
Membakar Pelangi

Indeks

Quote:

1: Pak Guru yang Takut

“Aku mengatakan yang sebenarnya,” kataku tenang.

Guru BP-ku tersenyum penuh pengertian. Penuh pengertian seperti yang dihadapinya adalah orang bodoh.
***

Semuanya dimulai ketika guru PKN ku memuntahkan opininya pada kami. Aku kurang tahu juga detilnya. Yang jelas dia tidak sedang membahas materi yang seharusnya kami pelajari.

Pada saat itu aku sedang tertawa pada lelucon yang dilontarkan teman sebangkuku. Lalu ini terjadi. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Aku ingin bertanya pada teman di depanku tetapi rupanya tidak perlu. Pak Guru tersebut melanjutkan ceritanya.

“Tahu dia waria, kami lalu lari pontang-panting,” ucapnya.

Rupanya dia bercerita tentang dia dan kawan-kawannya yang melihat sosok sangat cantik dari belakang. Namun ketika si cantik menoleh ketika mereka memanggilnya cantik, mereka malah lari tunggang langgang. Alasannya sangat sepele. Karena dia waria. Pak Guru PKN yang gagah itu takut pada waria.

Sampai disini aku hanya tidak tertawa. Tetapi Pak Guru tersebut kemudian memberikan pernyataan yang menurutku tidak pantas untuk dikatakan.

“Kalau saya jadi presiden, saya akan bikin kebijakan agar para waria itu disadarkan. Kalau mereka menolak, lebih baik dibumi hanguskan sekalian!”

Kata-katanya mendapat banyak persetujuan.

“Ini kan namanya degradasi moral. Lihat saja, di TV-TV itu, pemerintah membiarkan waria tampil jadi pelawak. Padahal budaya mana yang membolehkan hal itu?”

Amin. Itu yang diucapkan teman-teman sekelasku.

“Coba lihat, waria itu bisa jadi apa? Kalau tidak ngamen, melacur, paling-paling cuma buka salon plus-plus.”
Sampai disini aku berusaha tidak mendengarkan lagi apa yang ia katakan. Aku mengambil handphone-ku di laci dan bermaksud memainkan permainan disana. Ketika aku membukanya, musik dari permainan tersebut membahana di kelas. Aku tentu saja tidak sengaja. Tetapi ketika Pak Guru marah dan dia menyuruhku menghadap BP, aku merasa terselamatkan karena tidak perlu mendengarkan kebenciannya yang tidak masuk akal.
×