alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55695eb1d44f9f34688b45a0/destiny

Destiny

Destiny

Capture 2




I often close my eyes

And I can see you smile

You reach out for my hand

And I'm woken from my dream

Although your heart is mine

It's hollow inside

I never had your love

and never will ...

And every night

I lie awake

Thinking maybe you love me

Like I've always loved you

But how can you love me like I loved you

When you can't even look me straight in my eyes ...

I've never felt this way

To be so in love

To have someone there

Yet feel so alone

Aren't you supposed to be

The one to wipe my tears

The one to say that you would never leave

The water calm and still my reflection is there

I see you holding me but then you disappear all

that is felt of you

Is a memory on that only exist in my dream

I don't know what hurts you

But I can feel it too

And it just hurt so much

To know that I can't do a thing.

And deep down in my heart

Somehow I just know ...

That no matter what

I'll always love you

So why am I still here in the rain ...

""Hal tersulit yang aku rasa adalah di mana aku sakit terus bertahan denganmu, namun aku juga tak mampu hidup tanpamu""

Anna POV

Setelah membantu Lussy membereskan bekas makan malam, dia adalah assisten dapur di keluarga kami.
Aku menaiki anak tangga mencari suamiku, William wilson. Setiap pijakan aku terus memikirkan kata-kata yang pas agar dia bisa memahami keputusan Irene.

Tokk ... tokkk... tokkk

"Dad, can you let me go in?"

Aku mengelah nafas sekali lagi.
Sebelum akhirnya mendapat jawaban dari dalam ruangan.

"Masuklah My Beloved" jawabnya.

Aku menghampiri William yang sedang memeriksa file-file di meja kerjanya.
Ruangan yang sangat luas dengan dekorasi bergaya Italy klasik.

Aku tersenyum padanya, "Apa ada masalah yang terjadi pada perusahaan kita. My Love?" Tanyaku nyaring sembari memijit pundaknya.

William merapikan semua dokumen dan memasukan mereka kembali kedalam Laci meja. "Semua baik-baik saja. Mom"  raut lelah terlihat jelas di wajah tampan nya.

"Dad, kamu terlihat sangat lelah, lebih baik lain kali aku membicarakan hal ini"

"Katakanlah. Mom"

"Aku akan mengatakanya, tetapi tidak sekarang. Mungkin besok aku akan membicarakan itu denganmu. Dad"

"Baiklah"

William mengelus punggung tangan ku lalu menciumnya, senyuman nya yang sexy slalu berhasil membuatku terpesona. Meskipun kami sudah hidup bersama selama 26 tahun lamanya, aku mengakui keromantisanya sama seperti saat dia mengatakan cinta untuk yang pertama kali pada ku. 

Kami saling berpandangan tanpa suara, mengisyaratkan hati kami yang berbicara. Jarak kami hanya beberapa centi sebelum akhirnya kami menyatuh dalam gelora cinta.
Menyentuh wajahku dengan kedua tanganya yang kokoh ,senyuman nakal yang slalu dia tunjukan setiap kali menggodaku.
Kupu-kupu dalam perutku mulai berterbangan, wajahku pun mulai memanas karena sentuhan nya.

"Aku menginginkanmu, sayang" bisiknya dengan suara menggoda.

Tanpa rambu-rambu, William menggendong tubuhku yang ramping.

"Turunkan aku, sayang. Bagaimana kalau ada yang melihat kita" kataku cemas.

"Biarkan saja" jawabnya santai.

Aku merebahkan kepala ku di dada bidangnya, degup jantungnya terdengar di telingaku.
Nyaman dan tentram setiap kali dalam pelukan hangatnya, aku mencintaimu william, sekarang dan selamanya, aku adalah wanita beruntung memilikimu, Kataku membatin.

"Heiii. sayang kenapa kamu menangis?, apakah aku melukaimu?"tanya nya panik sambil mengecup air mataku.

Aku tersenyum haru, "Tidak sama sekali, aku mencintaimu william ... " Aku memeluk tubuh Atletis suamiku, aroma yang slalu menengkan saraf.

"I Love You too, My beloved wife. Sekarang, besok, dan seterusnya." Lalu mendaratkan ciuman di keningku.

"There are things that we don't want to happen, but have to accept. Thing we don't want to know, but have to learn. And people we don't live without but have to let go."




#Sebenarnya tadi thu dha update lah ternyata aku salah kamar hahahaaa tapi thanks banget yang sudah ngingetin tadi .. emoticon-Smilie
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

No more than it (D2)

Kelanjutan Destiny/Drenched.


Destiny


Capture 4







You're the light. you're the night

you're the color of my blood

you're the cure. you're the pain

you're the only thing I wanna touch

never knew that it could mean so much....so much.....

you're the fear. I don't care

'cause I've never been so high

follow me to the dark

let me take you past our satellite

you can see the world you brought to life .... to life ...

so love me like you do ... lo...lo..love me like you do

love me like you do ... lo...lo..love me like you do

touch me like you do ... to..to..touch me like you do

what are you waiting for

fading in ... fading out

on the edge of paradise

every inch of your skin is holy grail I've got to find

only you can set my heart on fire ... on fire
yeah.. I'll let you set the pace

'cause I'm not thinking straight

my head spining around I can't see clear no more....

what are waiting for ...

          ♡♡  ♥♥♥  ♡♡

Setelah 2 tahun berlalu, kini irene sudah bisa berdiri kembali menatap langit cerah dan hembusan angin yang menyejukan paru-parunya.
Dia tidak bisa lagi menjadi seorang model karena satu peristiwa yang membuatnya memutuskan untuk mengubur impian terbesarnya.
peristiwa kelam yang menghancurkan hidupnya, entah siapa yang telah sengaja mencebaknya malam itu.
Yang dia ingat saat perayaan keberhasilan LAUREN ENTERTAINMENT yang di selenggarakan di sebuah Hotel berkelas.
Namun malangnya itu adalah akhir dari kesuksesanya di dunia Entertainment.
Kasus skandal yang menjeratnya berhembus kencang, sampai ke telinga kedua orang tuanya yang berada di Jerman.

Flashback



Plakkkkk ....

William marah besar dengan putri sulungnya, kecewa, dan merasa malu.
Nama baik keluarga Wilson kini tercoreng karena skandal yang menyeret putri kesayanganya.

"Kamu sudah mempermalukan kami, irene, Daddy sungguh kecewa dengan mu ... lihat apa yang sudah kamu lakukan... inikah yang kamu maksud kejutan??." Ucapnya lantang tanpa memperdulikan putrinya yang bersimpu memohon ampun.

Irene menyentuh bekas tamparan ayahnya, dia tau rasa sakit ini belum seberapa sakitnya, dari rasa sakit yang ia goreskan pada hati kedua orang tuanya.
dia tidak perduli dengan sudut bibirnya yang menitikan darah segar.

"Daddy .... Maafkan aku, tapi aku mohon percayalah padaku dad, sungguh aku tidak tau apa yang terjadi malam itu ... aku tidak tau dad... seseorang mencebakku ... aku mohon dad, mom, percayalah padaku ... aku mohon."

"Dad ... sabar, kita bisa bicarakan baik-baik, yah ... kasihan anak kita dad." anna mengelus punggung suaminya, lalu menghampiri irene, "bangun sayang ..."

Aku menggeleng. "A...ak...kuu... tidak akan bangun mom, se..belum ka..li...an percaya padaku" jawabnya sesegukan.

Anna menarik irene dalam pelukanya, "Mommy. percaya padamu sayang, irene bangun. yah, sudah ... sudah ...jangan nangis lagi. Darl"

"Gak mau ... aku gak akan bangun sebelum daddy, memaafkan aku. Mom"

William berjongkok menarik tubuh putri sulungnya, "Bangun, darl. daddy sudah memaafkanmu sayang" ucapnya sembari tersenyum lembut.

Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ayahku, "Maafkan rene. Dad, maafin aku ... maafin aku ... dad ... maafin rene yang gak nurut sama daddy .... maafin aku dad."

William mengelus punggung putri kesayanganya,  "Sudahlah sayang ... semua sudah terjadi, daddy yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa menjagamu, maafkan kami berdua." ucapnya lembut lalu mendaratkan ciuman di kening irene.

"Mommy, juga minta maaf sayang"

Setelah kejadian itu, perusahaan ayahku mengalami masalah yang cukup parah, semua perusahaan yang sebelumnya bekerja sama malah membatalkan semua kontrak perjanjian. BANK menolak memberikan pinjaman, dan hampir saja mengalami kebangkrutan.

"Aku bisa saja memberikan bantuan pada perusahaanmu, Mr.William," ucapnya dingin, "dengan satu syarat."

"Apa itu??"

lelaki itu mengelus dagu seolah memikirkan sesuatu.

"Anakmu, Irene" sembari tersenyum licik, menatap William yang menegang seketika.

"Tidak ada syarat lainkah, selain putriku?"

"Tidak ada, semua tergantung padamu Mr.William, pertimbangkanlah kembali tawaranku itu, permisi." lelaki itu pergi meninggalkan ruangan, bersama ke empat bodyguards nya.

"Aku tidak mungkin mengorbankan putriku ... tidak akan pernah ... aku harus bagaimana ...?" Aku mengacak rambutku frustasi.

"Dad. bila hanya dengan cara ini, bisa mengembalikan perusahaan kita ... aku siap menanggung semua resikonya.  Dad" kataku tanpa keraguan sedikitpun.

"Tidak sayang. kamu tidak boleh mengorbankan dirimu demi kepentingan perusahaan. Sayang" sahutnya tegas.

"Aku mohon Dad, biarkan kali ini aku melakukan nya demi kalian semua" lalu aku memeluk ayahku.

                       ****

Kembali ke masa sekarang ...



Dan di sinilah aku sekarang.
tinggal bersama lelaki yang tidak pernah mencintaiku, sesuai perjanjian bahwa setelah keadaan perusahaan kembali normal, di saat itulah status ku menjadi seorang istri dari lelaki yang bernama Austin smith.

kalian masih ingat dengannya ???
dia lelaki yang aku lihat di Pacific Bistro, ketika aku bersama sepupuku, daniel.
lelaki yang membuat nafasku berhenti sesaat. Sebuah kejutan,entah aku harus bahagia atau bersedih menikah dengannya.
Pernikahan kami baru berjalan 1 minggu. selama itu pula hidupku seperti di dalam sangkar emas, panas tanpa air hujan menyirami.
Sikap Austin yang kasar dan dingin, dia tidak segan-segan menyakitiku bila ada sedikit saja kesalahan.
Entah apa yang membuatnya begitu membenciku.

Seperti tadi pagi, aku tidak sengaja mengotori kemeja kantornya yang berwarna putih, itu bukan kesengajaan tapi sungguh aku tidak sengaja menumpakanya. Dia membentak ku hanya karena masalah sepeleh, aku tau itu salah ku tapi dia tidak harus melakukan itu pada istrinya sendiri.

Istri??? pernahkah dia menganggapku sebagai istri nya??, dia hanya menganggap ku sebagai pembantu di rumahnya, seperti yang dia katakan padaku.

Sangat menyakitkan.
kepada siapa aku mengadu??, orang tua? oh tidak mungkin. Aku tidak ingin membuat mereka sedih dengan nasibku ini. Dan biarkan hidupku cukup aku yang tau.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah Austin yang besar ini, tanpa bantuan siapapun, sebenarnya kami tinggal di sebuah apartment yang terletak di munchen.

Munchen negara bagian Bayern. Kota ini terletak di sungai isar, bagian utara dari Bavarian Alps. Kota ini juga merupakan kota penyelenggara olimpiade musim panas 1972.

Aku tidak tau mengapa Austin lebih memilih Apartment yang terletak di kota Munchen, seperti yang kalian tau. Kota ini terkenal polusinya yang kurang baik, baiklah aku bisa memahami alasan Austin yang satu ini.
Mungkin karena pekerjaanya, Austin adalah CEO dari ALLIANZ SE.
Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, perusahaan yang memiliki anak cabang yang tersebar luas di antaranya ALLIANZ LIFE, ALLIANZ INSURANCE PLC, ALLIANZ FRANCE, GLOBAL INVESTORS, dll.
ALLIANZ SE, sendiri sebagai kantor pusat yang berada di Munchen.

Satu hal yang membuatku bangga dengannya ialah, di usia 31 tahun Austin sudah menjadi pengusaha sukses yang di segani banyak pembisnis lainya, tidak hanya prestasinya di dunia bisnis melainkan kecerdasanya yang tidak bisa di anggap remeh oleh lawan.



Capture 5



Close off from love

I didn't need the pain

Once or two was enough and it was

all in vain time starts to pass before

you know it you're frozen but something

happened for the very first time with you

My heart melts into the ground found

something true And everyone's looking

around thinking I'm going crazy

but I don't care what they say

I'm in love with you

they try to pull me away but they don't know the truth.

My heart's crippled by the vein

that I keep on closing

you cut open and I keep bleeding

keep.....keep bleeding love.....
you cut me open ....

Trying hard not to hear but they talk so loud

their piercing sounds fill my ears

try to fill me with doubt

yet I know that the goal is to keep me from falling

but nothing's greater than the rush that

comes with your embrace.

And in this world of loneliness

I see your face

yet everyone around me thinks

that I'm going crazy ..

maybe ... maybe

Austin POV

"Membuatmu hancur secara perlahan, dan kita lihat permainan apa yang akan kita jalani nanti." aku tersenyum sinis penuh kemenangan

Irene .. irene ...

satu nama yang dia incar selama ini.
bukan karena mencintainya, melainkan menjadikanya umpan untuk memuluskan langkahnya membalaskan dendam.

Sebenarnya mudah saja bagi Austin untuk menghancurkan lawan, apa lagi saat perusahaan keluarga Wilson mengalami kerugian besar dan hampir saja gulung tikar. Namun rasanya kurang menarik bukan? bila dengan sekali tembakan peperangan langsung selesai.
Seperti rencananya dengan memberikan pinjaman pada perusahaan mereka, Austin sudah menduga jika William pasti menerima penawaran yang sudah ia ajukan, dan malang sekali nasib mereka semua.

****

Aku resah, gelisah, bingung, dan khawatir
Irene bangkit dari sofa yang berada di ruang tamu, dan kembali mondar-mandir tak jelas. Entah apa yang membuatnya terlihatn begitu kalut.
Irene melirik kembali jam dinding yang sudah menunjukan pukul 00:50 AM. Namun Austin tak kunjung menampakan batang hidungnya, ia kembali menekan panggilan keluar, berharap austin menjawab panggilanya, tetapi hasilnya tetap sama seperti panggilan sebelumnya, tidak ada jawaban.

Akhirnya, Irene mengirimkan sebuah pesan.

Austin kamu dimana?? apa sesuatu sedang terjadi padamu?

-Send to Austin

Dreeeettt....dreeeetttt ....

Satu pesan masuk dari IRENE

Austin memasukan kembali handphone nya kedalam saku celana, dan mengacak rambutnya frustasi.
Gemerlap lampu diskotik, penuh bau alkohol yang menyengat. Menjadi tempat pelampiasan bagi austin belakangan ini. Tidak.. tepatnya sudah menjadi teman sejatinya.
Setelah membaca pesan dari irene, Austin berdiri dan menarik kasar jas nya yang tergeletak di sisi kursi .

"Siapa?" Tanyanya menyelidik.

"Bukan, siapa-siapa. tidak penting" jawabnya datar, "aku, pulang dulu" tanpa menepis jemari lentik yang sudah memeluk lengan tanganya yang kekar.

Katrin mempererat pelukan tanganya, "Aku ikut ..." pintanya manja.

Langka austin terhenti, "Sebaiknya, kita bertemu besok saja, sekarang sudah larut malam, pulanglah. Katrin" jawab austin tegas tanpa menoleh.

Austin berjalan gontai meninggalkan ruangan diskotik , menuju parkiran mobil yang berada di lantai bawah. Bukan Katrin namanya, kalau menyerah hanya karna sebuah penolakan.

"Honey ... kamu mabuk, berikan kunci mobilmu, biar aku saja yang membawanya, lagi pula kamu kan tau sendiri kalau aku gak bawa mobil ... " ucapnya manja

"Aku bilang, tidak perlu ... Satu lagi, aku tidak mabuk. Katrin, pulanglah dengan taxi." bentaknya keras

Katrin terpejat sesaat, tidak menyangka kalau Austin akan membentaknya. Austin masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan katrin, mobil hitam miliknya pun menembus jalan raya.

"Kurang ajar ... kau. AUSTIN," Geramnya. "lihat saja, nanti" Katrin tersenyum sinis memandangi mobil hitam itu, sebelum bayanganya hilang.

Austin memijat pelipisnya yang terasa pusing. Samar-samar matanya menangkap sosok irene yang sedang meringkuk di sofa ruang tamu.

"Apakah irene menunggu ku?" Austin membatin.

Austin menghampirinya, berjongkok menatap wajahnya yang tenang dan teduh. Dadanya berdesir, tiba-tiba jantungnya bergetar, ada gelombang perasaan yang dia sendiri tidak mengerti. Jemari tanganya menepis anak rambut yang menutupi kelopak mata istrinya. Sinar rembulan menerobos dari celah jendela yang terbuka, menambah aura kecantikan yang semakin terlihat jelas di wajah teduhnya. Pasti lebih indah bila mata hijaunya terbuka lebar, Austin mendekatkan wajah tampan nya lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya, bibirnya mengukir senyum begitu saja tanpa Austin sadari .

Apa yang aku lakukan ini??? tidak...tidak...aku tidak boleh jatuh cinta padanya, tapi bukan kah dia istriku?? aku berhak menyentuhnya.

Austin menggelengkan kepalanya cepat.
lalu menggendong Irene yang sedang tertidur pulas ke kamarnya.

ternyata tubuh istriku sangat ringan
gumamku membatin.

Istriku ??

sejak kapan aku menganggapnya seorang istri??

apakah aku mulai mencintainya??

Come on lah Austin....

jangan karena kepolosan seorang wanita, rencana yang kamu rancang hancur.

bangunlah Austin....

lihat luka yang sudah mereka lukis pada ayahmu.

Austin memalingkan cepat tatapan intens nya dari wajah sang istrinya.

mereka memang suami istri namun hanya di atas kertas.
tanpa cinta dan hanya rasa sakit.
seperti isi perjanjian mereka bahwa kamar mereka terpisah.

Austin menyelimuti tubuh irene sampai batas dada, dia memandangi kecantikan yang di miliki irene, sekali lagi. sebelum akhirnya dia bangkit dari sisi ranjang berukuran king itu, lalu menuju kamarnya yang berada di samping.

""Ask me why I keep loving you when it's clear that you don't feel the same way for me, the problem is that as much as I can't force you to love me, I can't force my self to stop loving you""



#Tunggu yah untuk kelanjutanya emoticon-Smilie
terima kasih reader and yang sudah comment tentunya...


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di