alexa-tracking

ASA DI RUMAH BERSAMA PARA BORO

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5566d9fe31e2e6af778b456a/asa-di-rumah-bersama-para-boro
ASA DI RUMAH BERSAMA PARA BORO
ASA DI RUMAH BERSAMA PARA BORO



semoga ga emoticon-Blue Repost, saya disini hanya ingin berbagi dengan agan2 sekalian emoticon-Blue Guy Peace
klo ada yang mau kasih emoticon-Cendol (S) silahkan gan emoticon-Malu (S), tapi jangan emoticon-Bata (S)



Spoiler for Pengertian Boro:


ASA DI RUMAH BERSAMA PARA BORO

Berdiri di pinggir Kali Semarang atau salah satu sudut permukiman padat Pecinan Semarang, sebuah gedung bekas gudang menjadi rumah bagi seratusan pekerja informal atau kaum boro.
Tak hanya sebagai rumah, bangunan yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Pondok Boro tersebut juga menjadi tumpuan hidup mereka.
Dengan tarif Rp 2.000 tiap malam, Pondok Boro menjadi pilihan buruh dan pedagang kecil untuk melakukan penghematan uang hasil keringat mereka di tanah rantau.
“Penghasilan saya tidak pernah lebih dari Rp 50.000 sehari. Dengan hanya mengeluarkan Rp 2.000 tiap malam saya bisa menabung dan mengirim uang lebih banyak untuk keluarga di kampung,” kata pedagang keliling alat dapur asal Sragen, Joyo Suwarno (50).
Joyo yang sudah 25 tahun menempati Pondok Boro tersebut, mengaku Pondok Boro merupakan termurah dibandingkan tempat-tempat serupa di Semarang.
Seperti Joyo, Azwan (74) asal Kebumen, merasa cocok menempati Pondok Boro selama 35 tahun mencari nafkah di tanah perantauan Semarang. “Tak perlu kasur, yang penting terlindung dari panas dan hujan,” kata Azwan.
Pada masa “kejayaannya”, Pondok Boro biasa menampung lebih dari 200 orang. Akan tetapi, minat para perantau yang semakin banyak yang beralih ke Jakarta menyebabkan jumlah penghuninya menyusut hingga saat ini.
Pengelola Pondok Boro, Sugito (62) bercerita Pondok Boro sudah mulai ditempati para buruh dan pekerja informal di Semarang sejak zaman kolonial Belanda.
“Awalnya berdiri sekitar awal 1900-an Pondok Boro adalah gudang penyimpanan barang. Akan tetapi akhir 1920-an beralih fungsi dan menjadi barak sewa bagi para buruh dan pedagang,” kata Sugito.
Para perantau asal Kebumen menjadi penghuni pertama di lokasi ini. “Lambat laun tempat ini semakin terkenal di kalangan buruh dan pedagang kecil dan sekarang ditempati para perantau dari berbagai daerah di Jawa Tengah,” kata Sugito.
Dari buruh panggul pasar, buruh pelabuhan, pedagang kopi, pedagang perkakas dapur, tukang pijat, hingga tukang sapu jalanan tercatat sebagai profesi-profesi penghuni Pondok Boro di buku catatan daftar penghuni milik Sugito.
Matahari tenggelam, hari beranjak malam. Satu persatu penghuni Pondok Boro berdatangan usai memeras keringat bekerja dengan profesi mereka masing-masing. Beberapa langsung beranjak merebahkan badan, sebagian bercengkerama mengobrol, sebagian menonton televisi sambil menghabiskan makan malamnya.
Pukul 22.00 terlihat di jam dinding, listrik gedung itu dimatikan dan sebagian besar dari penghuninya telah berbaring tidur agar di hari esok mereka dapat kembali dengan rutinitas kerja mereka.

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:

Spoiler for rutinitas:



image-url-apps
boro apaan gan ? emoticon-fuck emoticon-fuck3
Quote:

Boro IDENTIK dengan migrasi sirkuler. Boro berasal dari bahasa jawa, dari kata “ngemboro” atau “mboro” yang berartikan meninggalkan desa tempat tinggalnya pindah ke daerah lain (waktunya sementara) dengan tujuan mencari penghasilan, meningkatkan status sosial ekonomi, dan pada saat-saat tertentu ia kembali ke desanya dengan membawa uang (remitan) dan kemudian kembali lagi ke tempat tujuan. Dengan kata lain, boro merupakan usaha seseorang untuk meningkatkan status sosial ekonomi di desanya dengan cara meninggalkan tempat tinggal (sementara) untuk bekerja ditempat tujuan, pada saat-saat tertentu ia kembali ke desanya dengan membawa hasil (remitan) dan kembali lagi ke daerah yang di tuju itu. Adapun lamanya waktu boro yang dilakukan oleh masyarakat desa, beragam dengan rentan waktu minimal 3 (tiga) minggu sampai dengan 3 (tiga) bulan di tempat tujuan, setelah beberapa hari di rumah (kira-kira 1-2 minggu) ia kembali lagi ke tempat tujuan.
makasih atas pertanyaanyya gan emoticon-Shakehand2 di trit juga sudah saya update
KASKUS Ads
pic pic jadul itu ta mas
keren keren ane suka yang jadul jadulemoticon-I Love Indonesia (S)
nyimak dl gan
jd sedih liat poto2nya
sepi amat yak emoticon-Bingung (S)
×