alexa-tracking

[HAMS] HARUSKAH AKU MENGGANTI SANDAL

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5562c2a5108b46db068b456a/hams-haruskah-aku-mengganti-sandal
[HAMS] HARUSKAH AKU MENGGANTI SANDAL
Membacalah dengan tenang dan bersikap dewasa..!!!
Salah satu dari kisah tiga sahabat ini nyata..!
Dua kisah lainnya fiktif begitu juga dengan beberapa karakter juga fiktif
Sudah itu saja..





Spoiler for Index Disini:

SATU


“Bercerai!” satu kata, hanya satu kata akan tetapi mampu memenuhi seluruh isi kepala Imam. Sungguh sakti kata itu, ia memiliki kekuatan penghancur maha dahsyat yang mampu merobohkan ketenangan dalam sekali ucap. Gundah betul hati Imam ketika mengucap pelan kata itu meski dalam hati. Tak tentu rasa yang ditimbulkannya, marah, sedih, sesal menjadi satu. Sedang rasa senang menjadi tidak jelas, karena ia kadang tersenyum sendiri. Meskipun senyum kecil yang menggurat terasa sngat pahit dihatinya. Kenapa, kenapa dan kenapa menjadi bagian yang lebih rumit untuk dijelaskan karena ia sama tidak tahu.

Tak pelak, wajah-wajah itu bergentayangan mengetuk pintu kepalanya bergantian. Sungguh aneh namun nyata, kesedihan membuat kita ingat semua orang sedang kesenangan membuat kita mengingat diri sendiri. Wajah putri kecilnya, ibunya, bapaknya, dua sahabatnya dan terakhir wajah istrinya yang langsung membuat ia menggertakkan gigi-giginya menahan geram.

Sakit sekali hatinya membayangkan pelipur lelah dan penyemangat paginya tak akan bersamanya lagi. Sungguh tak bisa ia bayangkan bagaimana jadinya nanti. Bagaimana ia akan melalui harinya yang membosankan. Ia terpekur dalam sunyinya, mengumpati dirinya sendiri.
Tangannya mengepal keras, segera ingin terayun menghajar sesuatu. Akan tetapi di depannya hanya ada angin yang berhembus sepoi, seperti berupaya menenangkan amarah yang menggelegar di dadanya. Suara lantang istrinya kembali bertalu-talu menghentak-hentakkan gendang telinganya, padahal suara itu di dengarnya tadi malam. Masih segar di matanya, bagaimana bibir kecil yang dulu dengan hati-hati ia kecup di malam pertama, kini seperti di penuhi duri, memakinya tanpa ragu dan meminta CERAI!.

# # #

Waktu cepat berlalu, bukan hanya menorehkan jumlah usia yang terus bertambah, namun juga merubah segala hal. Merubah banyak kebiasaan, merubah pola pikir dan cara hidup. Waktu membimbing kita pada gerbang dunia baru, dunia yang dahulunya hanya ada dalam imajinasi. Kita tidak berubah sendiri, tubuh yang dulu kecil mungil, menjadi besar dan tinggi. Kulit wajah yang dahulunya kencang, seiring waktu menjadi kendor dan berkerut. Kuda atau unta menjadi sepeda motor, kereta kuda menjadi mobil, merpati menjadi email. Banyak contoh, banyak perumpamaan, tapi faktanya jelas, perubahan itu terjadi. Memang, masing-masing dari kita harus mampu bergerak searah waktu melangkah, jika tak ingin tertinggal dan dilupakan.

Entah sejak kapan, suara gagak di siang hari lenyap. Kata orang dahulu, membawa kabar buruk, semisal ada anggota keluarga meninggal. Sekarang, suara gagak itu hanya muncul dalam film-film horor, penghuni rumah tua, penghuni hutan angker, atau jelmaan nenek sihir. Masih untung ada di film, kalau tidak, betapa susah kita menjelaskannya pada anak-anak atau adik-adik kita sekarang, gagak itu seperti apa.

Namun suara gagak itu tahu-tahu muncul, tepat diatas dahan pohon kelapa di belakang rumah Jamal. Dengan tergopoh-gopoh, Jamal bergegas, ingin melihat, apakah hitam gagak itu masih sama dengan yang tergambar dalam ingatannya bertahun-tahun silam.
Belakang rumah Jamal ditumbuhi kelapa, pisang, mangga, sawo dan banyak lagi. Rumah dan tanah peninggalan orang tuanya tersebut bisa dibilang luas. Halaman depannya saja, berderat pohon mangga yang besar-besar namun tidak membuat halaman itu menjadi sempit. Belum lagi kembang-kembangan yang memenuhi bagian lain. Rumah bercat biru muda itu sendiri cukup besar, malah terlalu besar untuk Jamal dan Nailah istrinya yang hanya tinggal berdua saja.

"kwaaak kwaaaak kwaaaak" dengan suaranya yang parau, sang gagak mencoba membelah dunia yang sudah bising. Dahulu, suaranya mampu membuat yang ramai menjadi sunyi dan yang sunyi menjadi hening. Membuat hati menjadi gelisah, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sekarang, ehm...jangan harap. Dunia sudah terlalu rasional untuk segala hal berbau irrasional.

Jamal mendongakkan kepalanya, mencari sosok tubuh hitam sempurna diatas sana. Akan tetapi, silau mentari diatas ubun-ubun mencegahnya mendongak lebih lama. Matanya sakit, perih. Untuk saat ini, Jamal menyerah, kembali masuk ke dalam rumah, mencari HP, mengecek kalau-kalau ada telepon penting atau pesan singkat. Namun kosong. Jamal meletakkan kembali HP-nya dimeja makan. Ketika “kwak” gagak terdengar lagi, meskipun samar ditelinganya, ia kembali keluar mendongak, kemudian menyerah lagi. Begitu hingga tiga kali.
Gelagat itu terbaca istrinya, yang sedari tadi seolah seperti bayangan. Ada namun tak dianggap. Jamal keluar masuk rumah, sibuk sendiri.
"Hey, ayah ini ngapain sih? Mondar-mandir, keluar masuk. Ayah lihat apa se diluar?". Jamal menemukan istrinya sudah berkacak pinggang di depan pintu belakang, ia terpaksa menghentikan langkahnya.

"Eh, bunda...ada suara gagak diluar bun. Bunda dengar tidak?" laki-laki hitam besar itu agak terkejut melihat istrinya yang tahu-tahu sudah berdiri menantang di jalur haluan langkahnya.

"Trus apa hubungannya dengan mondar-mondir lihat hape?" tangan istrinya belum juga turun dari pinggang, seolah tak gentar dengan badan besar dan rambut cepak suaminya yang mirip seperti salah satu anggota TNI.

"..." Tercekat. Jamal bingung menjelaskan. Istrinya tak akan paham. Tak akan percaya tahayul-tahayul yang akan diceritakannya. Jamal percaya jika gagak selalu membawa kabar buruk. Ia takut, ada sms atau telepon yang akan mengabarinya kabar buruk. Jamal ini manusia langka, laki-laki modern namun percaya tahayul itu jarang.

"Ah, engga apa-apa bun" Jamal berkelit, pikirannya masih buntu. Mencari kalimat pintar untuk mengaburkan kelakuannya tadi bukan perkara mudah.

"Engga pa-pa apanya? Jangan-jangan ayah mulai ikut-ikut pasang togel ya?", kali ini bukan hanya tangan yang berkacak lebih tinggi namun, mata istrinya juga ikut-ikutan melotot kesal. Sayangnya, siapapun tak akan pernah ketakutan melihat wanita itu melotot, mata itu bundar besar dengan bulu mata yang terlalu lentik untuk diajak berekspresi marah. Belum lagi bentuk muka yang oval, hidung yang kecil namun tidak pesek. Yah, hanya suara keras yang membuat sikap itu disimpulkan kesal, wajah itu tak bisa menunjukkan bentuk kekesalan yang sempurna. Karena terlalu indah.

"Alah-alah si bunda, malah ngomong yang engga-engga. Nauzubillahminzalik. Masa iya ayah main togel?" Jamal menghela nafasnya sedikit lebih panjang, disertai dengan sebuah gelengan kepala yang khas. Istrinya langsung sadar tuduhanya kelewatan, ciri-ciri kalau suaminya siap dengan ceramhanya sudah mulai terlihat. Angin kini sudah berbalik. Tangan Nailah tak lagi berkacak. Ia siap dengan khutbah suaminya yang pasti akan segera terlontar keluar.

"Yang halal masih banyak bun. Gaji ayah kan juga masih lebih dari cukup buat kita. Masa iya ayah kasi kamu uang dari jalan yang haram. Kalaupun Allah menguji kita dengan kekurangan rizki, Insyaallah, jangankan yang dari jalan haram. Ayahpun tak akan memberikan nafkah dari jalan meminta". Jamal mendekat kearah istrinya, meraih pinggang kecil itu. Nailah mendongak menatap wajah suaminya yang jauh lebih tinggi darinya. Hembusan nafas Jamal terasa di keningnya kemudian sebuah kecupan kecil mendarat mesra di kening putih itu.
“Ayah sudah berjanji pada Allah dan pada diri ayah sendiri, bahwa tak akan ada jalan lain, selain jalan yang diridhoi oleh Allah untuk menafkahimu dan membahagiakanmu” Jamal mengucapkannya dengan khidmat, kata-kata itu melangkah satu demi satu hingga sangat terdengar dengan jelas. Kata demi kata itu keluar dari kejujuran dan kominmen dari hati yang paling dalam.

Sejenak, mata Nailah langsung berbinar, karena kebahagiaan yang membuncah tercampur dengan haru yang menggugah. Wanita yang berbahagia itu langsung mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dada suaminya
Lama ia membiarkan dirinya merasakan degub jantung suaminya yang seoalah sedang bertasbih memumuji sang Kahliq penguasa mereka berdua. Nailah menarik wajahnya, menatap wajah suaminya yang tersenyum kearahnya. "Maaf bunda Yah... Ayah sih, kirain lagi ngitung suara burung gagak".

"Yeeee..emang si Udin hansip" Seru Jamal sambil memencet hidung istrinya yang langsung membuat warnanya menjadi merah. Begitulah Nailah, cepat sekali kulitnya berubah warna menjadi merah. Ia tak pernah bisa menyembunyikan kalau ia sedang malu, karena wajahnya akan langsung bersemu merah. Harusnya Jamal memanggilnya Humairah juga, seperti Rasulullah memanggil istrinya.

Kemesraan di siang hari itu tak berlangsung lama, suara deru motor yang meraung singkat, berasal dari arah gerbang rumah mereka. Suara khas mesin keluaran jepang, menghentikan obrolan suami istri tanpa anak itu. Jamal sudah hafal benar, siapa gerangan sang pemilik motor. Ia memperbaiki sarungnya, dan sebelum melangkah keluar ia meminta istrinya menyiapkan sambutan untuk sang tamu. "Tolong buatin kopi dua ya bunda, itu Imam datang. Nanti langsung taruh di berugak ya?"

"Sekalian sama cemilannya?" Tanya Nailah. Jamal tersenyum lalu mengangguk, ia segera beranjak ke gerbang depan, menyambut tamunya. Sedang istrinya langsung ke dapur menyiapkan kopi yang diminta suaminya.

"Masuk mam!" Teriak jamal saat melihat Imam masih bengong di depan gerbang rumahnya. Imam menganggukan kepala, kemudian segera turun dari motor bebek bututnya, lalu mendorong gerbang besi besar di depannya. Ia kemudian menuntun motornya ke dalam, melewati beberapa pohon mangga. Halaman rumah Jamal memang cukup besar, lebih besar lagi halaman belakangnya.

"Lain kali langsung masuk saja. Kayak Beni gitu loh. Jangan celingak-celinguk di luar, nanti kamu digebukin orang, gara-gara dikira maling" Seru Jamal saat kawannya itu baru saja meletakkan pantatnya di lantai berugak, balai-balai khas orang Sasak, Lombok. Sudah menjadi kebiasaan Imam seperti itu, dia takkan masuk sebelum Jamal berteriak memanggilnya. Jamal sudah berulang kali mengingatkan, berharap jika Imam menganggap rumahnya selayaknya rumah sendiri. Hal itu sudah berlangsung selama mereka bersahabat.

"Tunggu ya, kopinya masih dibuatin” Jamal memberikan informasi kalau istrinya sudah tahu ia datang, “Tumben libur-libur ke sini?" Tanya Jamal.
"Suntuk saja di rumah, jadi jalan-jalan bentar"
"Bukannya kalau sudah punya anak malah bikin tambah betah di rumah," Jamal sedang menyindir Imam, karena slogan itu memang milik Imam sendiri. Sering kali Imam menolak ajakan Jamal untuk keluar di hari libur dengan alasan, ia sedang bermain dengan anaknya di rumah.
Imam mengeluarkan sebungkus rokok dari balik jaketnya. "Wah kayakanya benar-benar suntuk. Pakai sok merokok segala" Jamal masih berusaha bercanda, mencoba mengalihkan kesuntukan kawannya yang siang ini seperti tidak terlihat tertarik untuk bangun dan menghadapi dunia.

Imam kemudian menyalakan sebatang rokok. Menghisapnya perlahan namun dalam. Menghembuskan asapnya seperti sedang melepas beban di hatinya. "Dari dulu aku merokok., cuma pernah berhenti. Sekarang merokok lagi". Jamal tak membantah, ia tahu Imam pasti sedang tak ingin berdebat.

"Kak Imam, silahkan kopinya" Sela Nailah, istri Jamal yang tiba-tiba muncul membawa tepak berisi kopi dan roti gabin sebagai pelengkap obrolan. Imam mengangguk seraya tersenyum samar.
"Kak Risma kabarnya gimana? Udah lama engga kesini" Lanjut Nailah mengintrogasi. Imam memang sudah biasa datang ke rumah Jamal sendiri tanpa istrinya.
"Lagi sibuk kakakmu itu Nay. Kapan-kapan aku ajak kesini lagi" jawab lmam pendek.
"Sejak kapan kak Imam merokok?" pertanyaan yang sama keluar dari mulut Nailah. Tak ada satupun dari suami istri itu yang memang pernah melihat Imam merokok. Imam kali ini memilih untuk tak menjawab. Ia hanya tersenyum saja.
"Lagi suntuk katanya bun," Jamal merasa perlu mewakili Imam untuk menjawab pertanyaan istrinya. Nailah hanya mengangguk, sungkan menanggapi kembali. Bagi Nailah, wajah Imam memang terlihat gelisah, tak biasanya seperti itu.
"Sepertinya ini obrolan bapak-bapak. Bunda masuk ke dalam kalau gitu" ujar Nailah pada suaminya. Nailah kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.

Waktu merubah kebiasaan orang-orang, meskipun sebagian lagi masih tetap bertahan. Sama seperti berugak itu. Balai-balai khas suku sasak. Sebagian orang merasa perlu membuat berugak di depan atau samping rumah mereka, sebagian lain menganggap sudah tak perlu.
Lagi-lagi, dahulu, mendirikan berugak menjadi kebiasaan orang sasak. Meskipun di dalam rumah juga ada ruang tamu, namun biasanya tamu dan tuan rumah lebih senang berbincang di berugak. Berugak yang paling ideal adalah seperti di rumah Jamal ini. Dengan atap alang-alang dan sekeliling berugak banyak pohon berjejer, maka meskipun hari tengah terik, akan tetap nyaman berada di berugak. Malah, jauh lebih nyaman ketimbang di dalam rumah. Dahulu upacara adat bahkan dilakukan di berugak. Berugak-berugak zaman dahulu bukan hanya bertiang empat, bisa enam, delapan bahkan lebih. Panjang dan besar.

Imam menyeruput kopinya perlahan, kemudian bergantian, menghisap rokoknya dalam-dalam. Jamal juga merokok. Akan tetapi, ia tetap tak senang kalau sahabatnya itu merokok. Jamal bahkan berulang kali jamal memproklamirkan diri untuk berhenti menghisap gulungan tembakau itu. Tapi berulang kali ia kalah dan menyerah. Jamal pernah berkata "Betapa beruntungnya imam karena tidak merokok". Tapi sepertinya, saat ini ia harus menarik kembali kata-katanya.

"Apapun masalahmu, rokok sama sekali tak akan membantumu Mam," sergah Jamal. Sekali lagi, Imam hanya tersenyum kecil "kamu cuma sedang menanam masalah baru" lanjut Jamal.
"Berarti harus pakai barang yang lebih berat lagi?" tanya Imam retoris. Giliran Jamal tertawa namun tawanya pahit.
"Apapun masalahnya, kita cari solusinya lewat kopi sajalah, engga usah pake macam-macam" Jamal meraih kopinya lalu menyesapnya pelan. Diraihnya rokok Imam, ia ikut menyalakan sebatang "Oke, katakan, emang ada apa?"
"Pohon manggamu kapan berbuah?" Tanya Imam. Perhatiannya kembali tertuju pada putik mangga yang tumbuh kecil-kecil.
"Sebentar lagi, mudah-mudahan aja nanti lebat, soalnya putiknya banyak yang rontok" Jawab Jamal.
"Susah-susah ditanam, susah-susah dirawat, saat berbunga terlihat lebat, pas berbuah malah tak jadi. Adil engga buat kamu?" Kata Imam.
Jamal menangkap metafora dalam kalimat itu, namun ia tak tahu kemana Imam mengaitkannya. "Adil jika itu kehendak Allah".
"Jika kehendak manusia? Susah payah kita menanam dengan sabar. Lalu ada yang memilih merontokkannya. Adilkah itu?" Imam masih bermain dengan kata-katanya.
"Sifat manusia itu terbatas, ia tak tahu rahasia waktu. Akal manusia itu terbatas dan Allah lebih tahu. Tak ada satupun yang terlewat dari izinNya." Mata Jamal memicing serius. Ia tahu diskusi ini mulai pelik, meskipun obyek sebenarnya dari materi mereka masih ia raba.
"Aku tahu...Aku tahu ".
“Kamu aneh sekali hari ini? Ada apa sebenarnya. Matamu kayak orang belum tidur berhari-hari” Jamal berterus terang tentang penilaiannya. Imam kembali menghisap dalam rokoknya. Kali ini sedikit sekali asap yang keluar.

“Sepertinya kamu sedang bingung dengan hasil. Dengan sebuah akhir. Aku punya sebuah cerita buatmu” Jamal menatap Imam dengan lekat meski Imam malah membuang pandangannya ke tanah. “Mam, kamu tahu sendiri bahwa rumah ini dan segala isinya adalah warisan dari orang tuaku. Pohon-pohon mangga itu semua warisan orang tuanku. Coba kau lihat pohon mangga yang itu?” Jamal menunjukkan sebuah pohon mangga dengan batang yang paling kecil dari yang lainnya “Itu mangga manalagi, mamaku menanamnya tepat sebulan sebelum beliau meninggal. Mangga itu beliau tanam dari bibit kecil. Kalau mamaku berharap buahnya, dugaanku, ia tak mungkin menanamnya kawan”.
“Seharusnya mamamu tak menanamya, kalau ia menduga tak bisa menuai buahnya”
“Disitulah letak perbedaannya”
“Perbedaan apa?” Imam menatap Jamal dengan lekat. Lebih lekat dari sebelumnya.
“Antara kau dan mamaku”.
Imam memalingkan wajahnya kembali ke arah pohon mangga manalagi tersebut. Ia melihat kalau pohon mangga manalagi itu paling kecil dari semua pohon mangga yang berada di sana. Tidak seperti pohon mangga yang lain, ia belum mengeluarka putik yang berarti ia tak akan berbuah seperti yang lain.
“Pohon itu bahkan tak akan berbuah tahun ini, semuanya sia-sia belaka” Kata Imam pelan.
Matahari yang bersinar diatas ubun-ubun, sekarang sudah miring sedikit ke barat. Tak pelak, marbot-marbot masjid dan langgar berlomba mengingatkan kembali anak-anak Adam, siapa diri mereka sebenarnya.

Lagi-lagi, waktu telah banyak mengikis kebiasaan, ahlak dan iman. Zaman dahulu, ketika ajaran kebenaran ini baru masuk dan diterima, suara azan itu seperti tamparan bagi mereka yang sedang tidur. Mirip peluru kompeni yang melesat, menakuti jiwa-jiwa yang takut lalai. Melepas dagangan dan apapun yang dikerjakan. Berbondong mendatangi masjid dan surau, dimana muazin berteriak tanpa toa.

Sekarang, dengan toa sebesar anak sapi. Melengking di tiap-tiap kampung, memanggil dengan nyaring. Rumah orang yang berada di dekat masjidpun tak merasa sesak, malah kadang ada yang memaki karena tidurnya yang asyik terusik. Paling hebat, sekelompok orang yang cukup sadar, diam mendengarkan azan. Lalu ramai kembali setelah azan selesai tanpa berniat beranjak menyusul ajakan muazin. Lihatlah sekeliling kita, atau yang paling dekat yaitu diri kita sendiri. Bila azan memanggil saat ini, maka berhenti sejenak, ambillah wudhu dan mari kita bergegas.

Nailah keluar dengan mukena yang telah terpasang. Ia tahu suaminya akan shalat di rumah karena ada tamu yang sedang galau. Jamal mengerti kemudian berdiri.

"Ayo jamaah" Ajak Jamal.
"Kau duluan saja, aku belakangan". Jawaban itu membuat bibir Jamal merengut. Ia bergumam dalam hati, membaca ayat kursi. Takut jika yang di depannya adalah jin ifrit yang sedang berpura-pura menjadi sahabatnya. Karena tingkahnya betul-betul jauh dari kebiasaan Imam. Imam tak akan enak duduknya ketika azan memanggilnya.

"Apapun masalah yang belum kamu ceritakan itu, asalnya dari Allah. Kalau kamu belum menemukan solusinya, ya kembalikan sama yang ngasi. Udahlah, jangan dipikir ribet". Jamal mencoba mengingatkan Imam.

"Gimana engga ribet, aku ini mau cerai!". Sontak jawaban itu membuat Jamal kaget. Begipula Nailah yang masih berdiri di teras rumah, suara imam yang tinggi, terdengar jelas dari tempat ia berdiri. Ia bahkan menutup mulutnya ynag menganga dengan kedua tangannya.
Imam menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskannya kuat. Ia menundukkan kepalanya. Enggan menatap wajah Jamal yang tengah terpaku. Untung saja Jamal cepat menguasai diri. "Oke, kamu mau cerai atau tidak, tidak akan merubah fitrahmu sebagai manusia yang wajib untuk menyembah tepat waktu pada Tuhannya. Meninggalkan shalat bahkan akan membuat keadaanmu lebih buruk".
"Aku shalat di rumah saja". Sahut Imam ketus.

Imam berdiri kemudian melangkah menuju motornya yang terparkir di samping berugak.
“Mam!” panggil Jamal, Imam menoleh.
“Menanam itu urusan mamaku dan buah adalah urusan Allah. Campurilah yang merupakan hak-mu dan jangan campuri yang merupakan hak-Nya”.
Kemudian Jamal hanya bisa melihat kawannya itu berlalu tanpa berkata apa-apa. Laki-laki itu telah mengambil keputusannya.

# # #

DUA (1)

FEBRUARI 1998...


Dengan mesin waktu kita mundur jauh. Kita sampai di suatu masa, saat banyak hati takut setengah mati mencari kebebasan yang pasti. Tertutup rupa-rupa slogan, pemimpin yang membanggakan dirinya sendiri. Masa itu adalah masa puncak akan kenistaan yang terjadi tiga puluh tahun lebih. Masa yang tidak singkat untuk dipaksa selalu diam dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Orang-orang sudah jengah dengan ketimpangan yang terus menerus melanda. Gejolak mulai terjadi, orang-orang mulai mengeluh, riak yang dahulu berada di dasar palung kini sudah naik ke atas. Tinggal menunggu gelombang yang lebih besar untuk memulai sebuah tsunami. Nina bobo anak buah para jendral tentang mengecangkan ikat pinggang sudah mulai tak mempan, karena sesungguhnya, sabuk-sabuk yang mereka pakai sudah tak mampu mengeratkan pinggang lagi, tetapi sudah menjerat pangkal leher. Meski para pemanggku jabatan, masih berupaya mengipas-ngipas dapur rakyat yang mulai terbakar karena hanya membakar kayu dan arang tanpa isi.

Nun jauh dari pusat negara, yang jarang diliput media, kecuali untuk melirik pantai dan songketnya, gejolak yang lebih kentara mulai menyeruak. Tak pernah disangka, orang-orang udik ini lebih berani terang-terangan menantang pemerintahnya. Empat bulan sebelum reformasi besar-besaran di Jakarta. Orang Lombok sudah demonstrasi lebih dahulu. Sebelum para mahasiswa di Jakarta itu berteriak-teriak tentang keadilan, orang-orang suku Sasak itu sudah berani lantang menyerukan keadilan. Keadilan tidak mengenal terdidik atau tidak, keadilan itu fitrah yang harus dipenuhi.

Terlepas dari demontrasi besar dalam sejarah Kota Praya itu, dan apa yang terjadi setelahnya, kejadian itu menyisakan sebuah cerita sendiri bagi kehidupan sebagaian orang. Bagi Jamal, Beni dan Imam, kejadian itu adalah sebuah titik awal dari persahabatan mereka yang akan terjalin sekian lama. Tiga bocah itu dahulu tak paham dengan apa yang orang-orang itu ributkan. Bagi bocah-bocah kecil seperti Jamal dan Beni, ide tentang persamaan hak dan kebebasan berpendapat adalah, lamanya membonceng Jamal harus sama dengan lamanya diboceng Jamal, dan keduanya boleh mengeluh kecapean. Ukurannya, sekolah sampai perempatan prayitna ganti joki. Kemudian sampai rumah Jamal giliran Jamal yang membonceng. Itu sudah!

Hari Sabtu, dengan sepeda BMX warna merah muda terang yang terlihat aneh, Beni melaju lebih pagi dari sebelumnya. Bukan karena sekolah di hari sabtu lebih pendek yang membuat dia bersemangat, tapi karena ada hutang janji Beni pada Jamal. Jamal dan Beni satu kelas saat naik ke kelas dua SMP. Mereka menjadi teman sebangku, kemudian menjadi sahabat.

Beni berbelok tajam masuk ke gerbang sekolah yang sudah terbuka. Sekolah favorit, begitu orang menyebutnya. Gerbangnya menjulang tinggi namun pagar besinya pendek setinggi dada Beni. Taman yang hijau dengan berbagai macam pohon dan bunga yang sudah ditandai dengan nama latin masing-masing berdiri bagai dayang penyambut tamu. Bangunan dua lantai menjadi ciri khas sekolah menengah pertama ini. Satu-satunya di kota Praya. Temboknya putih, dan dari luar gerbang, kesan eksklusif sudah menyeruak, menyiagakan siapapun yang hendak berkunjung.

Dengan tergopoh Beni berlari menuju kelas, setelah sebelumnya memarkir sepeda. Sepeda itu selalu terlihat lebih mencolok dari sepeda yang lain. Karena warnanya yang merah muda. Terlebih saat Beni dan Jamal berboncengan menaikinya. Terlihat lebih mencolok lagi. Entah apa pendapat orang, melihat dua laki-laki ABG naik BMX berwarna merah muda. Saat itu media sosial belum ada, orang masih cuek dengan persoalan yang remeh.

Tahun itu adalah puncak dari trend ABG bersepeda BMX. Seekor domba aneh yang bermain sepeda kemudian berteriak “Heeeboooh” menjadi iklan hit masa itu. Tapi Lombok, termasuk Kota Praya di dalamnya, bukan termasuk kota yang baik untuk bersepeda, kecuali memang berniat untuk menjadi atlit sepeda. Jalan kota yang naik turun, tanjakan dan turunan membuat sepeda bukan alternatif kendaraan yang populer di kota itu. Benar-benar bukan kota yang baik untuk bersepeda seperti Jombang atau Jogjakarta.

Dengan nafas terengah-engah Beni memasuki ruang kelas. Ia mengira Jamal telah berdiri dengan muka garang siap menyeprotnya karena terlambat dari perjanjian. Namun buktinya, ia hanya menemukan ruang kelas yang kosong. Beni kemudian meletakkan tasnya di meja seraya membuka risleting belakang. Ia mengeluarkan sebuah amplop warna merah muda senada sepedanya. Tambahan bunga-bunga di sisi kiri dan kanan amplop menegaskan tujuan isi lembaran di dalamnya. Tak lain tak bukan, semua orang pasti bisa menebak, betul, isinya sebuah surat cinta.

Teknologi infromasi saat ini hampir menghilangkan seni bercinta. Bahkan cenderung fulgar dan tidak menarik. Membuat laki-laki muda kurang belajar cara menjadi laki-laki yang sesungguhnya. Bagaimana cara elegan seekor merak jantan membentangkan ekornya yang cantik untuk memikat betina, para betina ini tidak serta merta akan terperdaya meskipun yang ada hanya seekor merak jantan. Sang jantan harus berusaha sebaik mungkin untuk memikat sang betina dan sang betina akan menilai dengan cara yang paling tendensius, menilai seluruh potensi sang penjantan bahwa ia adalah penjantan yang tangguh, yang memiliki benih yang baik. Teknologi informasi membuat kondisi hampir terbalik. Para betina ini sudah menyerah dari awal. Tak baik untuk mengatakan mereka seperti menjajakan dirinya, namun kita mungkin bisa memberikan kata yang lebih buruk setelah mengamati apa yang terjadi dalam media sosial.

Surat cinta adalah seni, dikirim lewat teman beserta salam. Yang akhir kalimatnya selalu mengajak berhitung, “Empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat tolong dibalas”. Laki-laki itu bukan menggunakan ototnya tangannya untuk mengalahkan pesaingnya, namun ia juga harus bisa menulis sajak seindah guratan pelangi untuk membuktikan bahwa ia pecinta sejati. Hari itu Beni membuat surat cinta pesanan Jamal. Akan dikirimkan pada cewek kelas sebelah bernama Ema yang sudah seminggu memberi kode tertarik. Cara seperti ini juga bisa, menggunakan jasa orang lain, yang penting memiliki niat menjadi romantis. Romantis itu penting!

Jamal tahu, Beni pandai merangkai kata. Karena itulah ia mempercayakan ungkapan isi hatinya dirangkai lewat pena oleh Beni. Sebuah amanah yang sangat besar bagi Beni yang ia sambut dengan sebuah kebanggaan dan tekad. Sepanjang sore, disambung malam, hampir lupa makan hanya untuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk dirangkai menjadi kalimat yang indah. Bukan sekedar indah namun harus mampu menggetarkan sang pembaca surat itu. Beni berkhayal bahwa Ema, akan menangis haru setelah membaca surat buatannya lalu mengatakan “aku juga suka sama kamu Jamal”. Ia sudah menyiapakan ekspresi paling pongah sekaligus melatihnya semalaman, cara menepuk dada yang paling berwibawa.

Wajah keras seperti batu, suara besar pantas jadi pemimpin upacara tiap senin. Tapi memiliki sisi romantis yang terpendam. Jamal benar-benar mengandalkan Beni untuk urusan yang satu ini. Sedang Jamal berencana bermodal sebatang mawar. Jamal ingat kalau tetangganya memiliki mawar yang baru berbunga. Sebenarnya ia berniat membeli coklat, tapi uangnya terpakai untuk menyewa komik sinchan di taman baca dekat sekolah.

Beni membuka amplop surat itu dengan perlahan. Takut sobek, tak ada gantinya. Kemudian membaca kembali kalimat yang ia susun tadi malam.

Gubuk derita, 24 feb 1998.
Untuk yang tersayang,
Dear Ema,

Maafkan jika aku hanya berani berkata lewat tulisan. Lidah kelu, tak mampu berucap jika di dekatmu. Sungguh!

Wahai bidadari malamku,
Hampir seminggu ini aku mengamatimu. Memandang sembunyi-sembunyi dari balik jendela kelas. Yang dalam tiap lirikan, selalu membuatku terpesona. Wajahmu menghanyutkan jiwaku. Bahkan hingga malam, membuat mata ini enggan terlelap. Ingin terus membayangkan senyummu. Aku tergila-gila padamu. Sumpah mati!

Oh, rembulanku,
Lewat surat ini, hatiku ingin menyampaikan rasa sukanya. Tak mampu lagi ia memendam lebih lama. Ia tersiksa. Hati ini ingin bersanding dengan hatimu disana. Aku harap ia rela. Memang aku ini laki-laki apa adanya. Tapi aku punya cinta. Sungguh!

Ku tunggu jawabanmu
Empat kali empat enam belas, sempat tak sempat tolong dibalas

With Love
Jamaludin Umbu.


Jam dinding besar di atas papan tulis depan kelas menunjukkan kalau sudah hampir pukul tujuh. Batang hidung Jamal belum juga nampak sama sekali. Anak-anak kelasnya sudah hampir datang semua. Beni takut, kalau-kalau anak itu malah memilih untuk bolos karena grogi. Untunglah sejurus kemudian laki-laki hitam itu muncul. Seperti biasa, tak punya malu, cuma bisa cengengesan saat melihat Beni sudah duduk manis di dalam kelas. Beni sendiri tak biasanya menghabiskan paginya di bangkunya, biasanya ia akan berkeliaran di kelas lain. Namun karena sedang menjaga tas-nya, takut ada teman iseng mencari contekan PR kemarin, malah menemukan surat cinta itu, ia memilih menjadi anjing penjaga yang patuh. Surat cinta terbaca teman itu aib. Apalagi ketahuan teman sekelas. Apalagi kalau kemudian mereka salah paham.

Hal seperti ini sering kali terjadi, disaat kita antusias untuk menyelesaikan sebuah rencana yang malah kita anggap layaknya sebuah misi. Partner kita malah santai saja, seolah tak sedang berencana apa-apa. Hal ini kadang yang sering memicu kesalah pahaman. Tujuan sering dipandang dalam persepsi yang bermacam-macam, dan dari sinilah klasifikasi manusia itu diciptakan.

"Kok baru datang?!" Ucap Beni dengan nada tinggi, ia sama sekali tak senang dengan komitmen Jamal sebagai tokoh utama cerita yang mengabaikan kerangka karangan yang sebelumnya sudah mereka buat. Jamal dengan enteng menjawab bahwa ia kesiangan karena habis bermain sega hingga tengah malam di rumah Irwan. Kebetulan Bapak dan Ibunya sedang tak berada di rumah dan hanya ada kakak-kakaknya. Kesempatan dalam kesempitan memang selalu membuat lupa waktu. Beni sadar kalau sang tokoh utama telah lupa dengan ceritanya sama sekali. Jamal yang kemarin siang menggebu-gebu sangat antusias mengungkap rencananya kini seperti mengalami amnesia hati yang parah.

"Yaaah, kamu. Jadi engga suratnya? Kalau engga aku sobek aja ni”, Beni mengeluarakn amplop merah muda bergambar bunga disetiap pinggirnya itu dari tasnya. Suara Beni setengah berbisik takut didengar teman-teman ceweknya yang bergerombol dalam kelas. Bergosip cerita telenovela charita de angel.

Ruat wajah Jamal langsung terkejut, ia melempar tasnya dengan sembarangan, "Aduh lupa, sini suratnya!". Jamal menyambar amplop yang di tangan Beni, melipat dua tanpa takut lecek. Memasukan ke dalam kantong bajunya kemudian bergegas keluar kelas. Jamal berlomba dengan bel jam pertama.

Cinta monyet di awal masa pubertas sering kali menyimpan kenangan yang berharga. Moment Jamal berlomba dengan bel jam pertama ini bisa menjadi cerita menarik nantinya, setelah sedikit dibumbui dan tentu dengan menghilangkan terlambat karena main game dan penyakit amnesia tadi dan diganti dengan menolong seseorang yang kecelakaan di jalan. Seluruh cerita di dunia ini dibumbui kawan, sudahlah!.
Namun Beni melihat kejanggalan, Jamal berlari kearah yang berbeda dengan tujuan surat. Jamal berbelok ke kiri dan bukan ke kanan. Ema, anak kelas 2.1, ruang kelasnya di sebelah kanan kelas mereka dan Beni yakin kalau sekarang Ema harusnya sedang berada di bangkunya membuka buku pelajaran pertama. Tapi akhirnya Beni memilih untuk tak terlalu memikirkannya, tugasnya sebagai penulis surat sudah selesai, sisanya urusan Jamal sendiri.

Pada masa-masa itu, ada dua tipe guru yang paling populer. Yang pertama, guru tukang dongeng. Tipe guru tukang dongeng itu sering sekali muncul di SMP maupun SMA. Biasanya mereka menjelma dalam sosok guru Geografi, Sejarah, Muatan Lokal alias Bahasa Daerah, dan Bahasa Indonesia. Entah apa niat mereka ketika berangkat ke sekolah, apakah untuk mengajar atau berkisah. Para siswa yang memang masih muda seyogyanya membutuhkan cerita hikayah masa lalu penuh hikmah, memberikan rasa syukur dan motivasi. Akan tetapi, kalau hampir setiap mengajar melakukan hal yang sama itu artinya melupakan persiapan bagi siswanya bagaimana menulis jawaban untuk ujian mendatang. Pernah mendengar alasan dari siswa-siswi satu kelas seperti ini “gurunya engga pernah ngajar, cerita terus”, aku pernah.

Guru tipe lain adalah guru killer, sang pembunuh massal. Ucapannya bagai mortar, matanya seperti ranjau yang siap memangsa kalau kedapatan lengah. Guru Matematika, Kimia dan PPKn kadang menjadi tempat menjelma guru tipe ini. Penggaris yang dibawa bukan untuk menggaris papan tulis, namun untuk menggebuk tangan dan paha kalau ketahuan tak fokus belajar apalagi main-main. Entahlah, apakah guru jenis ini melakukan hal yang sama pada anaknya sendiri. Tapi kebanyakan sih tidak. Jadi bersyukurlah generasi sekarang karena para guru sudah tak berani menyentuh kulit kalian.

Berdasarkan cerita guru pendongeng, guru-gurunya di Sekolah Rakyat dulu, rata-rata guru tipe kedua. Mungkin kesimpulan yang bisa diambil adalah, semakin lampau semakin killer tipe gurunya.

Tipe guru yang sedang berada di depan kelas mereka saat ini adalah tipe kolaborasi. Ia seorang pendongeng yang sekaligus juga tukang jagal. Ini adalah tipe paling membingungkan dan sekaligus mematikan. Hal ini juga yang membuat Jamal yang sedari tadi gelisah karena memikirkan jawaban atas surat cintanya, makin saja gelisah.

"Sttt..Ben,” Jamal mencolek lengan Beni yang sibuk menggambar di bukunya “kira-kira aku diterima engga?", tanyanya melanjutkan. Mereka berdua duduk di bangku nomor dua dari belakang. Ini ide Jamal, tempat paling aman dari segala tipe guru, menurutnya begitu.
"Heemmm?" Beni tak menoleh.

"Ben,..ben. dengerin ini dulu" rengek Jamal dengan suara berbisik. Mengobrol dalam kelas dengan seorang guru tipe assault di depan kelas, harus dengan suara setenang semut.

"Apaan?" Beni masih tak menoleh, ia tak mau terpegok mengobrol. Ia tak takut malu karena kena strap, karena tak ada yang akan menertawainya. Ia hanya takut kaki, tangan, atau pipinya sakit kena gampar. Sangat tidak meyenangkan kalau pagi-pagi sudah kena bogem mentah, mood belajar sampai nanti siang bisa hilang.

"Menurutmu aku diterima engga?" Jamal malah mengambil resiko demi mendapat penilaian dari sahabatnya. Benar-benar tidak bisa menunggu nanti.

"Tanyakan pada rumput yang bergoyang" Jawab Beni asal, masih tanpa menoleh.
"Kamu pikir aku Ebit G Ade gitu?"

"Menurutmu bagaimana?" Beni malah balik bertanya. Jamal tidak langsung menimpali, matanya menatap kedepan, membaca gelagat laki-laki di depannya yang antusias bercerita tentang sabak, papan kecil yang digunakan siswa Sekolah Rakyat untuk menulis dan bagaimana perjuangannya untuk menghafal isi sabak sebelum dihapus. Ia malah tak berfikir kalau ia sama sekali belum mengisi otak muridnya dengan apapun kecuali cerita yang sama berulang-ulang. "Aku engga tahu, makanya aku nanya". Kata Jamal kembali setelah memperikirakan kalau situasi mereka masih aman.

"50 : 50" Jawab Beni kembali.

"Oh ya? Menurutmu begitu? Peluangnya lumayan besar dong" Jamal tersenyum sendiri.

"50% dia nolak kamu atau 50% kamu ditolak dia" Beni mengangkat buku di tangannya untuk menutup mulutnya yang mulai cekikikan.
"Sialan. Itu 100% ditolak". Jamal berseru dengan suara agak besar, dia sedikit keceplosan.

"Hemmm!" suara deheman membuat dua ABG itu kaget. Langsung menegakkan duduknya dan memandang ke depan. Namun, guru yang masih bercerita di depan, tak terlihat habis berdehem.

Budi yang duduk di belakang Beni dan Jamal cekikikan sendiri. Rupanya dia yang mengerjai dua temannya. Jamal kemudian menoleh, memperlihatkan raut muka marahnya. Budi masih cekikikan sambil membuat tanda peace dengan jari tangannya. Kalau bukan karena situasi yang pasti memburuk kalau ia menjitak kepala Budi, pasti sudah Jamal lakukan.

Akhirnya Jamal menghabiskan waktu menghayalkan jawaban surat cintanya dan Beni sibuk dengan gambar abstrak di bukunya.

# # #
ijin bangun planet dulu gan jangan sampe di makan sama galaktus, kayanya keren ceritanya.. emoticon-Cool
izin nongkrong om emoticon-Cool

berat ini bahasanya emoticon-Hammer (S)

DUA (2)

Apa yang paling menyenangkan bagi siswa sekolah selain jam kosong. Betul, guru rapat. karena itu artinya pulang cepat. Hari itu, ada rapat guru. Siswa dipulangkan lebih cepat. Takut mengintip isi nasi kotak pesanan buat rapat. Kadang, sanksi rasannya kalau benar guru dan kepala sekolah sekarang hanya bisa korupsi kapur. Ada guru agama yang sekarang menjadi kepala sekolah, mengaku, mengambil dua juta rupiah tiap dana BOS turun, katanya sebagai imbalan kerja untuk pengelolaan dana BOS itu. Entahlah, dia menggunakan hukum apa untuk membenarkan apa yang ia lakukan. Menjadi guru itu panggilan hati, dengan niat membagi ilmu dan pekerti bagi penerus generasi. Kalau hanya semata-mata mencari sesuap nasi, maka tak akan ada budi pekerti yang bisa diwarisi, kecuali kefanaan yang bersifat materi.

Apakah guru masih menjadi pahlwan tanpa tanda jasa? Kalau melihat fenomena banyaknya guru yang malah menjadi serigala yang memangsa muridnya, memberikan contekan saat ujian karena takut nilai sekolah jadi jelek, siapa yang tidak akan bertanya. Pendidik harusnya membantu kedua orang tua siswa membentuk karakter terbaik. Bukan sekedar mengejar target ajar, tapi tak kalah penting, pembelajaran moral yang jujur, santun dan bertanggung jawab. Betapa kita kekurangnya tiga hal tersebut akhir-akhir ini.

Siswa-siswi itu berhamburan keluar kelas, seolah takut tak kebagian jatah jalan. Ramai bersorak seperti mendapatkan dorprise. Tentu, Beni dan Jamal tak mau kalah, ber "uo-uo" seperti tarzan.

"Jamaaaal" suara teriakan nyaring khas perempuan muda berasal dari arah punggung mereka, menghentikan lari dua laki-laki tanggung itu. Jamal dan Beni kompak, menoleh bersamaan ke belakang.

Gadis berbadan kecil dengan tas selempang merk powel, bersama rombongannya mendekat dengan raut wajah tak bersahabat. Perlahan. Selangkah demi selangkah.

"Ben, pegang tanganku" bisik Jamal.

Tentu saja Beni tak menggubris permintaan aneh itu, Beni bisa disangka Homo nanti. Beni malah memandang Jamal dengan wajah heran, mengamati ekpresi Jamal yang sulit dijelaskan. Matanya membuka lebar tanpa berkedip, ingin rasanya Beni menghitung sekuat apa Jamal tak berkedip. Senyumnya terlalu lebar dari seharusnya, alis matanya bergerak naik turun. Beni memilih untuk mengembalikan pandangannya kearah gank cewek yang sedang berjalan dengan dibuat-buat ke arah mereka daripada terus memperhatikan ekspresi Jamal yang entah ditujukan untuk maksud apa.

"Aku deg-degan Ben.."Wajah Jamal berubah cemas "ia akan menjawab surat cinta itu Ben".

Akhirnya teka-teki tadi pagi terjawab sudah. Jamal memberikan surat itu bukan kepada Ema tapi kepada Nuri. Yang dicemaskan Beni dan Jamal benar-benar berbeda. Jamal mencemaskan jawaban atas ungkapan hatinya. Sedang Beni mencemaskan raut wajah masam cewek kecil yang semakin mendekat. Beni tak habis pikir, kenapa Jamal seolah tidak bisa membaca ekspresi wajah yang sudah jelas maksudnya seperti itu. Laki-laki paling polospun akan mampu menebak dengan tepat, jawaban dari seorang wanita yang datang dengan wajah seganas yang dilihat Beni sekarang.

"Tapi Mal, itu Nuri bukan Ema", kata Beni pelan. Bukan hanya gadis manis dengan kuncir kuda itu saja yang berwajah masam. Empat kawan yang di belakangnya juga bertampang sama. Sayang, Jamal mengartikannya berbeda. Hasrat yang berlebihan membuat logika tumpul. Makin mendekat. Degub jantung muda Jamal, makin menderu. Terus mendekat dan makin membuat jantung Jamal bertalu-talu seperti bunyi beduk subuh.

"Emang kenapa Ben?" Jamal menyahut terlambat, matanya masih memandang lurus ke depan.
"Di surat itu ada nama Ema."

"Hah!"

"Plaaaaaak!", bersamaan saat Jamal menoleh ke arah Beni. Rasa pedas di pipinya menyengat hingga ubun-ubun.

"Aduh!" Jamal mengaduh seraya menoleh ke depan. Tak tanggung-tanggung, lima pasang mata melotot ke arah mereka berdua. Wajah-wajah geram gadis-gadis muda yang terpapar matahari lebih menakutkan dari raut wajah suzanna saat menjadi sundel bolong.

"Heeh, play boy cap kadal. Kalau mau jadi play boy yang pintar dikit. Kamu kira aku bakal suka sama cowok kayak kamu!", lantang suara Nuri menghentikan laju lari murid-murid yang lain. Mereka dengan penuh rasa penasaran mulai berkerumun di belakang Jamal dan Beni.

"Nih, surat cinta picisanmu!" Nuri menghentakkan tangannya ke dada Jamal. Dalam gengamannya surat cinta made in Beni telah rusak diremas. Jamal membatu, ia tidak berpengalaman untuk bergombal ria. Ia menerima saja perlakuan gadis mungil itu dengan pasrah.

Beni menundukkan kepalanya. Bukan karena takut, tapi ia sedang menyembunyikan bibirnya yang menahan tawa. Ia menggigit kuat-kuat bibir bawahnya agar tak terbahak. Sesaat kemudian, Nuri dan ganknya berlalu, meninggalkan Jamal. Suara sorak penonton langsung menggema, tentu tak ketinggalan tawa Beni yang langsung meledak. Beni tengah tertawa terbahak diatas penderitaan temannya dalam artian sebenarnya.

Jamal tak menghiraukan Beni yang sedang terpingkal di sampingnya, atau gelak tawa anak-anak lain di belakangnya. Ia fokus dengan kertas lecek yang sekarang ia genggam. Perlahan Jamal membuka surat yang belum sempat ia baca tadi pagi. Dengan hembusan panjang, ia melihat nama Ema ditulis besar sebagai pembuka. Saat itu juga Beni tahu, kalau jatah tertawanya sudah selesai. Ia diam menunggu reaksi sahabatnya itu selanjutnya. Tak ada yang bisa menebak reaksi seseorang yang ditolak mentah-mentah. Namun tak terjadi apa-apa. Dengan gerakan kepala Jamal malah mengajak Beni untuk segera meninggalkan sekolah.

Ketika dua sahabat itu berbalik, segerombolan anak masih berdiri memandang mereka. Siswa-siswi itu serempak bersorak, "Jamal di tolaaaaak..yeeeeeeee!". Mereka seolah sedang mendapati mainan baru. Dua orang itu yakin kalau nama Jamal akan mulai terkenal di sekolah besok pagi untunglah mereka telah lebih dahulu dikenal sebagai dua orang paling cuek bebek di sekolah itu. Sepeda BMX merah muda itu sudah menjadi bukti konkrit muka tebal dua bocah tersebut. Beni dan Jamal terus berjalan melewati para penonton yang terus menyoraki.

"Kok bisa Ben?" Tanya Jamal dengan polos.

"Yah, kamu bilang buat Ema, ya aku tulis dear Ema. Aku yang harusnya tanya, kok bisa tiba-tiba pindah ke Nuri?" Beni bertanya balik.
"Dia lebih montok dari Ema"

Dari balik pintu sebuah kelas, Ema sedang berdiri. Menahan tangis, melihat seluruh kejadian tadi. Sisi baik dari kejadian itu adalah, sejak saat itu tamat juga cerita cinta Jamal. Tak ada lagi cewek yang memberikan kode apapun padanya.

# # #
Quote:


Silahkan gan..

Quote:


Nanti coba ane timbang gan..

BTW mungkin agan-agan tahu, kaskus bilang konten ane ada isinya yang engga layak..apa ada kata-kata yang engga boleh dimasukkan?

(Saya bukan robot)
mungkin ada beberapa kata gan, di reload aja gan emoticon-Cool

baca cerita ane juga ya gan kita tetanggaan (sci-fi) sang insinyut

DUA (3)

Spoiler for Jangan dibuka:


Hari sabtu itu hari pasar Kota Praya. Orang Sasak menyebut hari pasar sebagai “Pekenan”. Beni dan Jamal tak menyia-nyiakan kesempatan pulang cepat untuk menikmati suasana pasar yang selalu unik. Sepeda merah muda itu ditinggal disekolah, agak ribet kalau harus diajak ke pasar.

Masing-masing pasar di Lombok, memiliki pekenannya sendiri-sendiri. Praya di hari sabtu, Mantang di hari rabu, Sweta di hari kamis. Banyak penjual yang sering berpindah-pindah pasar menjual dagangannya mengikuti pekenan tadi. Pekenan ditandai dengan banyaknya tukang obat berjualan.

Ada lagi penjual barang elektronik, seperti jam tangan, jam dinding ataupun radio yang menjual dagangannya dengan cara lelang. Jamal dan Beni tahu kalau barang-barang itu adalah barang-barang rekondisi. Tapi seru sekali melihat mereka beraksi. Mereka memiliki tim. Lelangnya bukan dengan memberikan pada penawar tertinggi. Tapi dengan menyebutkan harga tertentu dan harus dibeli dengan uang pas.
"Jam tangan luar negeri, harga asli satu juta, di jual dengan harga dua puluh lima ribu dua ratus tujuh puluh lima rupiah" begitu biasanya sang penjual berteriak dengan pengeras suara. Pasti susah menemukan uang dua puluh lima rupiah. Itu pancingan. Karena tiba-tiba seorang akan mengangkat tangan menyerahkan uang pas, lalu berseru itu barang asli. Selanjutnya mangsapun berjatuhan.

Hiburan lain yang selalu ada adalah adu nasib boladil, atau bola adil. Sembilan gambar binatang di selembar kertas karton dan sebuah bola. Pemain akan memasang uang mereka pada gambar, bisa dua atau tiga gambar. Kemudian bola digelindingkan. Gambar tempat bola berhenti dibayar bandar dua kali lipat.

SMP Negeri tempat Beni dan Jamal bersekolah tak jauh dari pasar yang sekaligus berdampingan dengan terminal. Terminal disebut stamplat dalam bahasa Sasak, sama seperti orang Medan. Hanya di batasi jalan raya. Sekolah SMP favorit se Kota Praya bahkan se-Kabupaten Lombok Tengah. Hanya mereka yang memiliki Nilai Ebtanas Murni diatas 36 yang bisa masuk. Ironis memang, tak jauh dari kawah penempa moral generasi muda, terdapat lingkungan kotor penghacur moral generasi muda.
Jamal dan Beni berlari menuju sebuah tenda penjual obat. Para penonton sudah mulai banyak berdiri melingkari.

"Silahkan saudara-saudara. Ular terbesar di dunia. Saksikan dengan mata kepala anda sendiri", Suara penjual obat dari pengeras suara mulai mengundang pengunjung pasar. "Yang jauh silahkan mendekat, yang dekat silahkan merapat, yang rapat tolong mundur sedikit, biar yang lain bisa melihat. Silahkan-silahkan. Mohon untuk yang punya ilmu, diminta kerjasamanya. Kami disini cuma niat cari makan". Kalimat terakhir selalu saja tak pernah absen dari penjual obat, terutama yang menunjukkan atraksi binatang berbahaya dan kekebalan.
Beni dan Jamal merangsek maju. Duduk berjongkok paling depan, masih dengan seragam pramuka mereka. Diarah berlawanan, Beni melihat wajah yang ia kenal.

"Ngapain si Imam disini" gumam Beni.

"Siapa?" Gumam Beni terdengar Jamal.

"Tuh, anak kelas sebelah," Beni menunjukkan orang yang ia maksud dengan memonyongkan mulutnya ke depan.

"Emang kenapa?" Tanya Jamal.

"Engga papa, aneh aja anak itu nonton orang jualan obat. Sendiri, kayak anak hilang"

"Ah biarian ajalah, bukan urusan kamu juga" Ujar Jamal. Beni tak menanggapi, ia sependapat dengan Jamal.
Penjual obat masih terus berceloteh tentang ular besar dari Kalimantan yang ia tangkap. Ular terbesar yang pernah ada, ular raksasa. Dua buah peti di belakangnya ditepuk-tepuk. Tapi dua peti itu hanya seukuran kotak kardus televisi empat belas inchi. Tak mungkin menyimpan ular terbesar yang pernah ada.

Lama, terus mengoceh. Menunggu penonton makin berjubel. Tiba-tiba sang penjual obat mengeluarkan botol kecil. Obat kutil. Dia ternyata menjual obat kutil. Seorang anak yang juga duduk di depan dipanggil. Sebuah kutil di jempol kakinya seukuran biji kedelai. Penjual obat mengoleskan obatnya, lalu dicungkil kutil itu dengan tangannya. Darah keluar, diolesi lagi dengan obat. Kemudian diberi kapas. Beberapa penonton mulai membeli, percaya dengan keampuhan obat yang dijual. Hampir seluruh penonton lupa dengan ular terbesar yang pernah ada. Luar biasa. Penjual obat adalah publik speaking dan salesman terhebat yang pernah dikenal Beni dalam hidupnya.

"Mana ularnya!", seorang penonton berteriak. Penjual obat sudah tak punya alasan untuk tidak membuka petinya. Dan memang akhirnya dua peti itu terbuka. Diiringi efek dramatisasi dari sang penjual obat dengan meniup-niup mikropon. Dua buah ular sawah sebesar lengan, keluar dari dalam peti. Tentu bukan ular terbesar yang pernah ada. Namun, penjual obat tak pernah hilang akal.

"Untuk sementara, kami bawakan kepada anda, dua ANAK ular terbesar yang pernah ada"
Selanjutnya, ia meneruskan menjual obatnya. Penonton yang berkerumun, mulai pergi satu persatu karena merasa dikibuli. Bagi penjual obat, tak masalah. Yang penting obatnya sudah terjual.


salah alamat emoticon-Hammer (S)

DUA (4)

Orang Praya tak mungkin bisa terprovokasi meskipun oratornya seorang yang sangat lihai sekalipun jika tema yang dibawa adalah ketimpangan ekonomi. Banyak yang bilang, orang Jawa itu nrimo, padahal orang Praya lebih nrimo. Buktinya, penjual bakso sukses di Kota Praya adalah orang Jawa semua. Penjual gorengan, orang Jawa. Orang Praya sudah ikhlas dengan jadi PNS ataupun sekedar menjadi pegawai honorer.

Hanya isu agama yang bisa memprovokasi mereka, itupun jika oratornya adalah Kyai yang di sebut dengan Tuan Guru yang sudah dikenal luas. Jadi kalau kerusuhan di Kota Praya tahun 1998, dikarenakan provokasi seorang penjual obat. Itu bohong. Mana mungkin. Sama sekali tak logis.

Orde Baru itu era militer. Maling di kampung Beni taubat bukan gara-gara diceramahi ustad. Tapi, lima tentara menghajarnya dari rumah sampai kodim. Kemudian dipersilahkan bermalam satu malam saja di markas Angkatan Darat itu. Besoknya, sang maling langsung taubat nasuha. Luar biasa.

Kalau penjual obat berani berorasi memanasi massa, pasti tak akan lama. Dia pasti sudah dijemput mobil pick up, berisi setengah lusin laki-laki berpakaian loreng. Jadi tentu bukan itu yang terjadi. Terlebih lagi orang Kota Praya. Sifat mereka apatis. Buktinya juga yang terlibat adalah masyarkat daerah selatan. Karena akar masalahnya ada disana.

Percik-percik masalah memang mulai timbul. Tukar guling pasar lama antara pemerintah dan seorang pengusaha lokal banyak diprotes masyarakat. Meskipun pasar dan terminal baru sudah dibangun, tak ada satupun pedagang yang mau direlokasi. Para pelajar dan sopir angkutan umum satu suara. Jalur ke pasar jauh dari jalur pendidikan. Tak bisa dipungkiri, para siswa adalah salah satu konsumen potensial angkutan umum. Namun masalah itu hanyalah pelengkap, pokok masalahnya, ada di daerah selatan. Tempat pemerintah dan seorang pengusaha lokal kong kalikong, memainkan tanah rakyat.

Beni dan Jamal terbengong-bengong, melihat beberapa truk berhenti di jalan besar depan gedung bioskop. Tak biasanya. Harusnya truk itu berisi sapi yang akan dijual di pasar hewan karena ini hari sabtu. Tapi ternyata isinya laki-laki dan perempuan. Berteriak-teriak menyebut bupati dan nama seorang pengusaha lokal keturunan.

Yah, nama pengusaha keturunan itu cukup melegenda hingga sekarang. Ia penghobi kuda. Kuda-kuda besar tinggi peranakan australi dan eropa sering hilir mudik di jalan kota. Hingga orang lombok menyebut kuda hitam tinggi besar dengan nama pengusaha tersebut.
Beni dan Jamal belum mengerti demonstasi. Orang-orang itu juga tak mengenal istilah itu waktu itu. Guru-gurupun pasti tak tahu. Beni dan Jamal hanya senang melihat keramaian. Seru. Berteriak-teriak kemudian tertawa mengikuti konvoi, mirip orang pawai. Dua ABG itu tak tahu jika sedang menyaksikan sebuah sejarah yang akan dikenang hingga nanti.

Massa semakin menyemut, banyak orang ikut masuk dalam konvoi. Beni dan Jamalpun makin senang. Anehnya tak ada satupun orang dewasa yang mencegah mereka.

"Ben, tuh temanmu juga ikutan" kata Jamal sambil menunjuk pada sosok Imam yang berjalan seorang diri.

"Ah, biarin aja" Ucap Beni tak peduli. Mereka kembali asyik berteriak-teriak nyaring kemudian tertawa.

Kedua anak itu tentu tak tahu bahwa di beberapa tempat juga terdapat mobil truk yang membawa massa bahkan sudah terjadi chaos. Massa menyerang gudang dan pabrik biskuit milik keluarga pengusaha lokal tersebut. Kemudian bergerak ke instal tempat puluhan kuda dirawat. Membakar semua yang ada. Menuju rumah pengusaha tersebut. Polisi langsung diturunkan. Saat itu belum ada satuan tugas anti huru-hara. Belum ada mobil baracuda, yang menyemprot air untuk menghalau masa dulu yang digunakan adalah mobil pemadam kebakaran. Masa menuju kantor bupati, pada saat itu sempat tersiar kabar bahwa mobil bupati di hadang dan dibakar masa. Namun sampai sekarang kebenarannya masih diragukan.

Masa yang turun di pasar adalah masa lapis kedua yang tak berhasil dihalau polisi di perbatasan Praya Kota dan Praya Barat. Toko-toko langsung tutup. Bunyi sirine mulai terdengar jelas di telinga dua bocah ingusan itu. Mereka mulai panik dan kuatir. Terlebih lagi ketika Beni dan Jamal yang berada di tengah-tengah konvoi mulai melihat orang-orang di depannya berlari berlawanan arah.

Mobil pemadam kebakaran diturunkan untuk menghalau masa. Menyemprot air dari selang ke arah kerumunan. Masa terdesak kemudian mundur. Masa itu bersenjata, parang panjang telah keluar dari sarungnya. Tentu polisi tak tinggal diam. Laras-laras panjang bedil mereka mulai berasap dan berbunyi nyaring. Tembakan peringatan. Masa kocar-kacir melarikan diri. Berlari ke arah sebaliknya. Bertubrukan dengan masa yang bergerak dibelakang. Beni dan Jamal siap-siap berlari ketika Beni melihat Imam berdiri menangis diantara kerumunan yang sedang panik.

"Ayo lari" teriak Jamal, kemudian menarik lengan Beni keras, Beni menepis tangan itu. Matanya masih tajam melihat ke arah Imam yang menangis namun tak bergerak. Segerombolan orang mengarah padanya. Jika ia jatuh, ia akan mati terinjak.

Beni berlari ke depan. Jamal kaget bukan kepalang. Jamal baru menyadari kalau Beni hendak menolong Imam. Suara desing peluru terdengar keras. Mirip bunyi petasan sebesar jempol namun lebih nyaring. Masa makin panik. Beni hampir mencapai posisi Imam. Seorang laki-laki besar menabrak Imam dengan kasar. Bocah itu tersungkur mencium aspal. Beberapa orang di belakang pria tadi berlari tanpa melihat ke bawah. Imam akan terinjak. Beni berlari lebih cepat. Tepat, ketika kaki seorang laki-laki kurus akan menghujam ketubuh ringkih imam, beni membenturkan badannya dengan laki-laki itu. Laki-laki itu terpental menyamping hampir jatuh, ia menoleh marah, namun cepat sadar ketika melihat Imam diantara kaki Beni. Tanpa pikr panjang, Beni meraih kedua ketiak Imam dengan kasar. Memaksanya berdiri. Imam berdiri, Beni kemudian menyeret lengan imam, mengajaknya berlari menjauhi medan tempur itu.

Beni dan Imam menemukan Jamal bersembunyi di belakang mobil jeep entah milik siapa. Setelah bertemu kembali, mereka bergegas pergi kearah sekolah. Menjauhi kerumunan masa yang kembali menyemut karena dua demonstran tewas tertembus timah panas. Disanalah mereka bertahan hingga sore.

Mulai saat itulah imam bergabung dengan Beni dan Jamal sebagai trio sahabat, dan sejak saat itu, mereka tak penah membahas kejadian itu sama sekali. Dengan mereka bertiga atau dengan orang lain.

Persahabatan mereka terus terjalin hingga dewasa. Meskipun mereka tak selalu bersama tapi mereka tetap kompak dan saling mendukung. Beni bahkan lebih mirip seperti baby sister buat Imam. Saat SMP dan SMA, orang tua Imam tak akan pernah memberikan izin anaknya untuk keluar ketempat jauh seperti Mataram atau Selong kecuali ada Beni disana. Begitulah.

Namun saat kuliah, mereka terpisah. Beni kuliah di Malang, Imam kuliah di Jogja setelah mengatakan pada ibunya kalau Beni juga akan kuliah disana dan Jamal memilih tetap di Lombok karena menemani ibunya yang sudah seorang diri.

Setelah lulus kuliah, Jamal berkerja disebuah Bank Swasta Syariah yang dua tahun kemudian menikah dengan sepupu Beni bernama Nailah. Gadis yang ia incar sejak SMA saat Beni mengajaknya panen mangga di kebun neneknya. Imampun sudah menikah dan tinggal Beni yang belum menikah. Di usia yang hampir kepala tiga, dua sahabatnya sudah sering memaksanya untuk segera menikah, namun Beni terlihat masih ragu.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada hubungan yang sempurna kecuali hubungan manusia dengan Tuhannya. Hubungan persahabatan Jamal dan Beni, meskipun sudah ditautkan menjadi saudara denga Jamal menikahi Nailah, tetap saja bisa merenggang. Kedekatan Jamal dan Beni sediki tercoreng akibat kejadian lima tahun yang lalu.


******


cerita tentang 98 nya keren.
seru ya kalau punya temen dari kecil selalu sama sama emoticon-Big Grin
ini yang cerita pasti beni emoticon-Stick Out Tongue
Quote:


kenapa bisa kepikiran Beni yang cerita?


(Saya bukan robot)
Quote:


nebak aja si
soalnya si beni tahu smua tentang kdua temennya emoticon-Big Grin
atau jamal emoticon-Hammer (S)
Kesemperet dulu
Quote:


Hemmm...

Quote:


Hati-hati gan nanti jatoh..

TIGA

Jamal duduk teremenung di berugak. Rokok di tangannya diputar disela-sela jarinya terus menerus lupa dibakar. Matanya menatap kosong. Pikirannya masih terpaut pada kalimat Imam siang tadi. "Aku ini mau cerai". Kalimat itu berulang-ulang terngiang dalam kepalanya. Ia terus bertanya-tanya, alasannya apa. Tak pernah ia melihat suami istri beda suku itu bertengkar, bahkan berbeda pendapat saja jarang. Ia sama sekali tak merasakan gelagat aneh dari diri keduanya. Ia mengumpat dirinya yang kurang peka. Ia memang bukan Beni yang dalam sekali lirik, langsung tahu kalau ada yang tidak beres. Padahal dirinyalah yang hampir setiap saat bersama sahabatnya itu.

Istrinya datang membawa kopi baru. Kopi sebelumnya sudah tandas. Jamal memang maniak kopi. Pola hidupnya sudah berulang kali menjadi santapan empuk ceramah Beni yang tajam.

"Ayah, mikir apa?" Tanya Nailah.

"Mikirin Imam Bun". Desahan nafas yang keluar dari dadanya, sudah hampir sama beratnya dengan yang keluar dari dada Imam tadi siang.
"Emang ada masalah apa yah? Kok tiba-tiba bisa jadi cerai begitu"

"Ayah juga engga tahu bun. Ayah juga bingung. Padahal kalau dilihat-lihat kok ya adem ayem aja".

"Tapi kalau sampai mau cerai, ya pasti masalahnya bukan masalah sepele yah".

"Iya. Menurut ayah juga begitu. Pasti ada masalah besar. Jika itu benar, berarti selama ini, Imam benar-benar merahasiakan keadaan keluarganya. Ia terus berpura-pura". Jamal meraih kopi di depannya, meminumnya seteguk.

"Yang bunda kuatirkan Aura, anak mereka. Baru empat tahun, masih kecil, kasian kalau harus ngalamin kejadian kayak gitu".

"Itu juga yang membuat ayah bingung. Sudah punya anak kok ya masih sempat mikir cerai. Kebanyakan anak yang kedua orang tuanya cerai begitu gedenya malah salah peragaulan. Ayah agak gregetan juga. Anak mereka itu kan lucu banget wajahnya. Imut gitu. Kalau aku jadi imam. Huh, boro-boro mikir cerai".

Nailah diam tak menanggapi. Ia tertunduk di samping suaminya. Seperti sesuatu yang memberatkan kepalanya sehingga terus-menerus menatap tanah.

"Bunda kenapa?" Tanya Jamal heran. Diam istrinya tidak biasa, takut kalau ada kata-katanya yang menyakiti mendorongnya untuk bertanya.

"Engga kenapa-kenapa yah" Jawab Nailah singkat. Jamal kemudian mendekat, meraih kepala istrinya, memalingkannya kearanya. Mata istrinya telah sembab. Ia ternyata sedang menangis. Hati Nailah memang sangat halus, hal kecil saja bisa membuatnya mengharu-biru.

"Loh, bunda kok nangis?"

"Engga kenapa-kenapa kok yah". Kalimat ini, jika diucapkan seorang laki-laki artinya kita tidak perlu kuatir, namun jika yang mengucapkannya seorang wanita, jangan sekali-kali kamu meninggalkannya sendirian.

"Engga kenapa-kenapa kok nangis?"

"Bunda cuma sedih.Bunda jadi benar-benar kepikiran Aura. Kak Imam dan Kak Risa kok ya engga mikir anak. Kalau masih ada niatan cerai, tak usahlah punya anak. Kita yang bertahun-tahun berusaha dan berdoa, belum juga punya anak. Padahal kita baik-baik saja" Nailah akhirnya melepaskan segala gundah dihatinya. Masalah Imam ternyata juga berpengaruh besar padanya.

"Heh, bunda engga boleh ngomong gitu. Jangan disambung-sambung. Sama Allah harus berbaik sangka. Anak itu titipan. Lah mungkin saja kita belum amanah untuk dititipi".

“Apakah menurut Ayah bunda ini orang yang tak amanah?” Nailah memincingkan matanya kearah suaminya. Jamal agak terkejut, ini yang pertama kalinya istrinya melihatnya dengan cara seperti itu. Apakah Nailah tersinggung? Jamal bertanya dalam hati.

“Bunda adalah wanita paling amanah yang ayah kenal. Harta dan aibku kutitipkan padamu bukan? Tapi Bunda, penilaian Sang Maha Tahu tentu berbeda dengan penilaianku yang terbatas ini”

"Bunda takut yah"

"Takut apa?"

"Ayah nikah lagi"

“Nikah lagi?” Jamal mengulang kata-kata istrinya dengan sungging senyum di bibirnya. Ternyata inilah yang sebenarnya membuat Nailah tak enak hati. Jamal tertawa terbahak kemudian memeluk istrinya. Ia berusaha menentramkan hati istrinya yang sedang offside. Masalah yang sedang mereka bahas sama sekali tak ada hubungannya dengan menikah lagi. Jauh sekali pembicaraan itu menyimpang. Wanita memang misterius.

"Bunda engga perlu cemas. Poligami tak segampang itu. Jangan termakan cerita dan perilaku orang yang menggampangkan syariat. Syaratnya aja susah. Adil. Siapa yang bisa menilai kalau ayah sudah punya ilmu adil?".

"Jadi janji ya" seru istrinya.

"Insya Allah. Allah yang mengatur jodoh bunda. Yang mengatur maut dan rizki. Sudah ia tetapkan yang tiga hal itu untuk kita".
"Bersyukurnya aku menjadi istrimu" Nailah membenamkan wajahnya dalam-dalam di dada suaminya. Telinganya mampu mendengar detak jantuk suaminya yang berdegub. Ia membayangkan degub itu berisi namanya yang tak henti disebut.

Jamal memeluk istrinya dengan penuh kehangatan, menghadirkan segenap jiwa dan raga untuk istrinya saat itu. Hanya pikirannya yang tak berada di sana, melalang buana entah kemana. Jamal terlah mengorek cerita lama dengan kalimatnya sendiri. “Orang yang mengganpangkan syariat”, kalimat itu tersenyum sinis padanya. Ia sekarang merasa sedang meludahi dirinya sendiri.

"Kak Imam tak pernah bercerita apa-apa sama ayah?", tanya Nailah seraya mengangkat wajahnya dari dada suaminya yang bidang. Pertanyaan Nailah membuyarkan Jamal dari lamunannya yang singkat.

"Tak pernah bun. Itulah yang bikin gregetan. Ayah kasian tapi juga kesal, kok ya bisa-bisanya dia diam, trus baru sekarang dia ngomong. Itu juga cuma ngomong mau cerai. Alasannya apa, masalahnya apa, engga cerita. Kan bikin bingung.." Jamal meraih korek, hendak menyalakan rokoknya. Namun Nailah dengan cepat mengambil korek di lantai berugak itu.

"Jangan merokok ah. Sebatang di bakar, langsung tak berhenti sampai satu bungkus". Jamal merengut tapi mengalah.

"Itu memang kebiasaan Imam. Diam. Jarang ngomomg, kecuali sama Beni. Kalau Beni ada disini dia akan tahu kalau Imam ada masalah. Pasti langsung dikorek sama dia. Sayang sekali Beni tak disini" Jamal melanjutkan.

"Ayah telepon saja Bli Beni"

"Engga enak"

"Kok malah engga enak?"

Jamal diam. Dia tak bisa mengatakan pada istrinya, jika dia malu dan takut menceritakan masalah itu pada Beni. Benilah yang dulu sangat tak setuju Imam menikah dengan Risma. Dan ia disisi sebaliknya.

"Nantilah, ayah pikir-pikir dulu" Jawab Jamal kemudian.

"Tadi Kak Imam katanya mau kemana?" tanya Nailah.

"Engga tahu, katanya mau pergi dulu".

"Ayah ini gimana seh. Kok ya dibiarin gitu. Nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Harusnya tadi jangan dikasi pulang. Atau engga temenin dulu. Telepon dulu yah orangnya. Takutnya ada apa-apa"

"Astagfirullah. Kok engga kepikiran. Haduh, aku ini memang engga peka. Bodoh" Jamal mengumpati dirinya sendiri. Jamal kemudian segera mengambil ponselnya di dalam rumah. Istrinya mengikuti dari belakang.

Jamal langsung menelpon nomor imam. Namun tenyata nomor tersebut tak bisa dihubungi. Tak pelak hal itu membuat Jamal panik.
"Aduh gimana bun?"

"Bunda telepon Risma siapa tahu sudah pulang, ayah telepon ibunya dulu. Siapa tahu ia kesana"

Suami istri itupun kompak menghubungi orang-orang terdekat Imam. Informasi yang mereda dapatkan makin membuat cemas, Imam ternyata belum pulang. Istrinya malah mengatakan sejak tadi malam belum pulang. Ibunya mengaku belum bertemu anaknya dua minggu. Jamal berfikir sebentar mencari nama lain yang mungkin menjadi tempat tujuannya. Ia kemudian menghubungi satu persatu orang-orang dalam pikirannya, Irwan, Taufik dan Amron, akan tetapi ketiga orang tersebut mengaku tidak pernah bertemu Imam hampir satu bulan ini.
Dikala otaknya seoalah berhenti berputar, sebuah ingatan terbersit dalam benaknya. Sebuah tempat yang sering di datangi Imam saat ia suntuk. Bendungan Batu Jai. Ia pernah diajak Beni mengikuti Imam diam-diam. Kesanalah tujuannya saat ini. Semoga firasatnya benar, ia berdoa dalam hati.

# # #

EMPAT (1)


Mei 2010...


Telepon siang bolong inilah yang menjadi awal, asal muasal timbulnya gores di gelas kaca persahabatan Jamal dan Beni. Sudah lama, lima tahun yang lalu, namun tetap berbekas di hati. Memang tak meninggalkan dendam abadi karena keduanya telah menyadari khilaf masing-masing. Namun, sebagaimana sebuah gelas yang pecah yang dirangkai kembali, tak akan pernah sama seperti semula.

Bandung menjadi pilihan Allah untuk nasib Rezeki Beni. Di kota itulah, sebuah perusahaan farmasi nasional menerimanya menjadi karyawan. Ia merintis karirnya dari awal di divisi audit. Hingga akhirnya, buah kerja keras dan loyalitasnya dihargai dengan sebuah posisi yang baik. Walaupun, sering kali dalam kesunyian ia bertanya, apakah ini sebuah ujian atau sebuah laknat akan dosa yang mungkin ia tak sadari.

Orang yang amanah berucap istigfar saat diberikan sebuah jabatan, dan orang yang lalai berpesta pora. Tak ada yang lain, selain ujian dalam sebuah tanggung-jawab. Jabatan itu menguras waktu, menggoyang iman sehingga tak seharusnya dirayakan. Tapi lihatlah sekarang, selamatan karena kenaikan jabatan menjadi budaya. Yang aneh malah yang tidak mau selamatan, ramai-ramai orang akan mengatakan, ah munafik. Terbalik-balik, tertukar-tukar.

Bahkan dengan alasan bahwa dengan jabatan baru akan mendapatkan rezeki lebih, hingga patut untuk dirayakan masih merupakan alasan yang naif. Darimana kita tahu bahwa dengan rezeki yang lebih banyak maka hidup kita akan lebih berkah. Tak takutkah kalau dengan rezeki yang lebih banyak, maka akan lebih banyak lagi harta yang kita sia-siakan karena dibelanjakan bukan dijalanNya? Jadi tetap tak ada alasan untuk merayakannya.

Lima tahun yang lalu, di siang hari yang terik. Saat itu sang mentari sedang sangat pongah, mengumbar sinarnya yang panas masuk ke dalam tiap celah yang mampu ia jangkau. Tak terkecuali gedung delapan lantai tempat Beni bekerja. Knator Beni berada di salah satu kawasan ramai kota Bandung, kantor tersebut diapit dua buah kampus dan puluhan pedagang kaki lima. Gedung itu laksana sebuah sarang semut. Di dalamnya terdapat ruangan berpetak-petak yang diisi orang-orang yang sibuk bekerja. Hilir-mudik dengan kertas-kertas penuh tulisan yang sepintas tak berarti. Mirip seperti para semut pekerja yang sedang bekerja keras memuaskan sang ratu. Hebatnya, dari luar, kubus beton itu hanya tampak seperti tempat beristirahat yang tenang, tak nampak bahwa berjuta tekanan mental dan pikiran sedang saling sikut di dalamnya. Dalam salah satu ruangan di lantai paling atas itulah Beni juga sedang sibuk menyelesaikan laporanya yang harus segera ia serahkan kepada atasannya.

Ponsel pabrikan korea jadul miliknya yang teronggok di meja kerja bergetar tanpa suara. Ponsel itu sengaja ia silent, suara deringnya sering menggangu konsentrasi bekerjanya. Beni mengabaikan tanda panggilan masuk tersebut. Namun, yang menelpon sepertinya mempunyai kabar penting yang tak bisa menunggu nanti. Ponsel itu kembali bergetar setelah sempat terdiam sejenak. Dengan berat hati Beni meraihnya, sebuah nama terpampang di layar ponsel berwarna biru tersebut.

‘JAMAL UMBU’.


"Jamal? Tumben" Beni bergumam sendiri. Nama yang tertera pada layar ponsel langsung mengubah moodnya. Suntuk karena pekerjaannya, seolah terurai bersama siang yang terik diluar sana. Beni segera menekan tombol hijau di sisi kiri ponselnya sebelum getarannya berhenti .

"Assalamualaikum!",sapa beni dengan nada gembira "Apa kabar?"

"Waalaikumsalam. Aku baik, kamu gimana? Sibuk betul tampaknya". Terdengar suara yang tak kalah antusias dari laki-laki yang tak lain sahabatnya sejak SMP.

Meskipun dua laki-laki bersahabat, mereka tak pernah berlama-lama berbicara di telepon. Karena, sedekat apapun mereka, laki-laki menelpon laki-laki dalam waktu lama tanpa pembicaraan yang penting itu menjijikkan. Kasar? Betul! Kalau kamu perempuan, tanyakan pada kawan laki-lakimu dan kamu akan mendapatkan jawaban kasar yang sama. Berbeda dengan perempuan, mereka bisa saling mengobrol lama di telepon bahkan setelah sebelumnya bertemu dan berbicang berjam-jam. Dan semua orang maklum. Bila dua laki-laki bersahabat, mereka akan sering saling mengunjungi, sedang bila dua perempuan bersahabat, mereka berbelanja bersama dan mengobrol lama ditelepon. Berbelanja adalah sebuah peristiwa sakral bagi perempuan, hanya bisa dibagi dengan kawan baik.

Kayaknya sibuk, adalah gurauan ringan khas bagi para laki-laki perkerja. Jawaban umunya adalah bantahan yang dibarengi penegasan, seperti ; ah engga cuma lagi repot bla-bla-bla. Fitrah laki-laki sebagai penggali rezeki memang tak bisa dipungkiri, dan tak ada satupun laki-laki yang mau dianggap ongkang-ongkang kaki. Namun Beni menjawab pertanyaan Jamal dengan berbeda, ia tak membuat penegasan itu, ia malah membuat umpan balik. "Kamu bisa aja. Tumben sekali nelpon siang-siang. Bukannya bos ini yang biasanya sibuk siang-siang begini..Hehehe" Beni terkekeh "Imam kabarnya gimana?".

"Bos apaan? Masih pion begini juga. Imam baik, karena dia juga aku menelponmu", jawab Jamal merendah. Posisi Jamal di Bank tempatnya bekerja juga bagus. “Aku ada kabar buatmu" ujar Jamal kemudian. Nada suaranya masih antusias.

"Kabar apa? Nailah udah isi? Alhamdulillah" Beni langsung menebak, jika tebakan itu benar, maka kabar itu akan menjadi kabar terbaik minggu ini, malah jauh lebih baik dari kabar terbongkarnya kasus penggelapan barang di salah satu cabang perusahaan yang menjadi tanggung jawab pengawasannya.

"Kalau yang itu kamu doakan saja. Tapi sayangnya kabar baiknya bukan itu," Nada suara Jamal menjadi sedikit berbeda. Jika laki-laki dewasa memiliki sisi sensitif tentang “Kapan menikah” maka setelah ia menikah maka sensitifitas itu akan berlanjut menjadi “Kapan punya anak”.

Menikah dan memiliki anak adalah dua hal yang berbeda. Jodoh sudah ditentukan dengan siapa dan kapannya, bukan begitu?. Tiga hal telah ditetapkan Allah pada hambanya, rezeki, maut dan jodoh. Keturunan tidak terdapat pada tiga ketetapan dasar itu. Karena itulah “kapan punya anak?” merupakan pertanyaan paling sensitif yang pernah ada dan harusnya dilarang. Ada dua alasan, yang pertama karena tidak sadar mempertanyakan kehendak Allah. Dan kedua, mempertanyakan kepercayaan Allah pada orang yang ditanya, sebab orang bilang, anak adalah titipan.

Setelah jeda sejenak yang membuat perasaan canggung dua laki-laki tersebut, Jamal berinisiati melanjutkan misinya. Jamal berdehem sebentar seolah sedang mengambil tenaga untuk mengabarkan informasi yang sangat penting "Imam mau menikah", kata Jamal melanjutkan.

Beni terkejut, tak percaya dengan berita yang didengarnya, "Ah masa sih. Jangan bercanda. Mana berani bocah tengil itu melangkahi aku” kata Beni. Namun, disisi lain, ia senang dan bangga. “Kalau memang benar, gadis mana yang sudi dinikahi bocah lugu itu? Hebat sekali gadis itu" Beni terbahak, Jamal ikut terbahak. Rasa bahagia Beni langsung membuncah memenuhi rongga dadanya. Sahabat karibnya akan menikah. Luar biasa.

Jamalpun sempat tak percaya saat anggota termuda dari gank mereka menyampaikan kabar penting tersebut padanya. Jamal dan Beni sering menyebut Imam dengan panggilan bocah, karena umurnya yang satu tahun di bawah mereka berdua. "Sama teman kita juga, kamu pasti kenal orangnya" jawab Jamal.

“Siapa? Tak ada gambaran sama sekali dikepalaku”

“Ingat-ingatlah sedikit”.

Bola mata Beni berputar pelan memikirkan nama beberapa gadis sasak yang ia kenal dan mungkin menjadi calon istri Imam. Dengan cepat ia mengaitkan beberapa pertimbangan, kejadian dan gelagat yang mungkin mengarah ke nama salah satu gadis dalam pikirannya. Sayang, ia tak berhasil.

Sejenak Beni melirik tumpukan kertas di atas mejanya, layar laptopnya masih memperlihatkan kolom Excel yang dipenuhi angka. Ia langsung sadar, pekerjaannya masih menunggu. Waktunya masih belum tepat untuk berkangen-kangen ria dengan sahabatnya dengan bermain tebak-tebakan.

"Ah, aku mengalah saja. Gadis mana yang beruntung itu dan kapan rencananya?" tanya Beni memutuskan menyerah saja.
"Aduh payah kau Ben. Jangan kaget ya, cewek itu si Risma"

"Risma? Risma Putri?". Sekali lagi Beni terkejut. Kali ini bukan karena senang.

"Seratus buat kamu” Jamal menirukan pembawa acara cerdas cermat yang memberikan nilai pada peserta yang menjawab dengan benar. “Ya Risma putri, Risma siapa lagi yang kamu kenal dan dikenal Imam?".

Beni terdiam, pikirannya berputar, ada rasa seolah tak percaya. Risma Putri, teman satu SMA mereka. Lumayan populer, bukan karena pintar, bukan karena cantik, tapi karena gosipnya. Risma itu biang gosip. Sifat Risma dengan Imam seperti kutub utara dan selatan. Imam adalah tipe cowok sederhana dan pendiam, tidak neko-neko. Risma kebalikannya, gadis hiperaktif yang tak bisa diam. Dengan cerita-cerita bombastis dan gaya bicara seolah dibuat-buat. Ah, zaman sekolah dulu siapa yang tidak kenal dengan Risma Putri, Si Ratu Gosip.
Mungkin ada yang akan mengatakan kalau harusnya Beni senang. Orang pendiam seperti Imam tentu cocok dengan orang yang banyak bicara seperti Risma. Kalau hanya sekedar masalah seperti itu tentu Beni tak ambil pusing, namun yang dimaksudkan Beni lebih dari sekedar sifat Risma yang tak bisa tutup mulut saja. Gaya hidup serba wah dan pola pikir yang cenderung oportunis. Dua hal itu saja membuat pasangan itu bertolak belakang satu dengan yang lain. Beni yakin, meskipun lama tak bertemu Risma, orang seperti itu sulit berubah.

"Ben! kamu masih disitu. Hallo!".

Seruan Jamal mengembalikan Beni dari khayalannya. "Eh, iya Mal. Kamu engga lagi ngerjain aku kan?" Beni berharap kalau itu semua hanya gurauan Jamal semata.

Suara desah Jamal yang singkat terdengar sebelum ia menjawab, "Ngapain aku bercanda, ini berita penting Ben. Tentulah aku serius".
"Kok bisa.Bagaimana bisa Imam suka dengan cewek seperti Risma. Aku..aku engga habis pikir sama sekali”
“Kalau yang itu kamu tanya langsung sama orangnya saja”

“Apa pendapatmu Mal?" kini Beni hampir lupa dengan deadline yang diembannya.

"Apa pendapatku? Apa maksudmu? Yah... Untuk seorang muslim yang sedang menjalankan sunnah Nabinya, pendapatku tentu baik. Orang sedang menyempurnakan agamanya kok ditanya apa pendapatku" Sebenarnya Jamal sangat tahu arah pembicaraan Beni, namun, ia tak mau berdebat tentang sesuatu yang bukan urusannya.

"Bukan itu maksudku Mal" Beni mendesah pelan, ia memutar meja kerjanya membelakangi laptopnya.

"Trus maksudmu apa?" nada suara Jamal mulai jengah. Jamal selalu malas kalau sifat Beni yang selalu ringan tangan, ikut campur urusan Imam, mulai ia perlihatkan. Ini adalah tantangan yang ia sadari akan ia hadapi ketika nanti akan mengabari Beni. Beni tak mungkin tak ikut campur kalau ia tahu Imam akan menikahi Risma.

"Ya, Risma. Menurutmu bagaimana? Menurutku mereka tak cocok" Beni menyampaikan pendapatnya dengan cukup jelas.

"Ben, sebaiknya kita percayakan pada Imam. Aku yakin, ia memiliki alasan yang kuat. Ia yang menjalankan, bukan kita. Ingat itu!".

"Tapi kita sebagai sahabatnya, harus bisa kasi masukan, bukan begitu?"

"Tapi menurutku, itu sudah diluar batas kita bro. Mengertilah. Oke! Sudahlah. Tugasku, hanya mengabarkanmu dan memastikan kamu datang, seminggu lagi. Ingat seminggu lagi"

"Aku tetap berpendapat mereka tak cocok. Imam pantas mendapatkan yang lebih baik. Seharusnya kamu yang disana, membisikinya dengan benar. Tak bisa aku bayangkan akan seperti apa rumah tangga mereka nanti" Kata-kata Beni terasa menyudutkan Jamal. Udara Lombok tak kalah gerah dengan Bandung, dan kebetulan, Jamal sedang tidak berada di ruangan ber AC seperti halnya Beni. Kalimat menohok Beni terasa makin menyengat di ubun-ubun Jamal yang terpapar panas matahari.

"Aku tak pernah dan tak akan pernah membisikinya apapun. Ia sudah dewasa, sudah besar. Aku yakin ia memiliki alasannya sendiri. Dan, pendapatku, baik buruknya manusia hanya Tuhan yang mampu menilai" Kalimat terakhirnya sengaja Jamal pelankan, agar Beni tahu kalau itulah pendapatnya yang utama.

"Minggu ini aku lagi benar-benar sibuk" Kata Beni kemudian.

"Itu bukan alasan. Kita berdua sahabatnya. Kamu harus datang!"

Beni menghela nafas panjang "Aku usahakan, doakan aku dapat izin".

"Ya tentu saja dan jangan lupa, giliranmu. Ingat, tinggal kamu yang belum menikah. Mau sampai kapan? Hukumnya sudah berubah menjadi wajib bagimu"

"Ya, aku tahu".

"Ya sudah, Assalamualaikum".

Sebuah senyum kecut tersungging di bibir Beni. Kalimat terakhir Jamal menohok telak di hatinya. Sayang sekali, Jamal tak bisa melihat ekspresi Beni tersebut.

"Waalaikumsalam"

Empat (2)

Masih lima tahun yang lalu, tiga hari menjelang ijab kabul Imam-Risma. Dengan sedikit beralasan ada keperluan yang sangat mendesak. Beni bisa meluluhkan hati bos-nya dan mengizinkannya cuti 3 hari.

Pesawat tujuan Bandung-Lombok transit Surabaya itu mendarat mulus di Badara Internasional Lombok (BIL). Para penumpang yang sebagian besar bertujuan untuk berwisata itu tumpah ruah di terminal kedatangan domestik. menunggu bagasi masing-masing. Berharap-harap cemas tak ada bagasinya yang tertinggal, atau lebih parah barang hilang. Maskapai yang Beni naiki, cukup terkenal dengan masalah-masalah seperti itu.

Beni menyalakan ponselnya yang sengaja dimatikan. Berdasarkan undang-undang penerbangan, menyalakan telepon genggam di dalam pesawat termasuk pelanggaran. Tapi, tetap saja banyak yang tak patuh. Beni tentu tak ingin menjadi salah satu dari orang-orang tersebut. Ia beranggapan, seorang yang berpendidikan pasti taat aturan.

nanti malam aku kerumahmu
(sms send to jamal umbu)
dreeet...
(sms received from jamal umbu)
oke, aku tunggu.


Beni bergegas, bagasinya telah ia ambil dari tadi. Sebuah travel bag dan tas ransel tanggung. Setelah melewati pemeriksaan petugas bandara, yang mencocokkan tiket dan nomor bagasi ia segera melangkah keluar. Kesekian kalinya ia disuguhkan pemandangan yang sama, tak berubah. Bahkan sejak Lombok masih menggunakan Bandara Selaparang. Banyak sekali orang-orang yang berkerumun mengitari besi pembatas terminal kedatangan. Ia merasa seperti seorang artis yang sedang dinanti para fansnya di bandara.

Mereka adalah para penjemput. Satu orang yang datang, bisa dijemput oleh dua rombongan mobil. Kadang menjadi cerita lucu, dimana orang yang dijemput malah tidak dapat duduk di dalam mobil jemputan. Siapakah orang-orang yang dijemput itu? Mereka adalah para pahlawan keluarga yang baru pulang dari luar negeri, TKI.

Tak usah heran, jika kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan bandara Internasional Juanda atau Ngurai Rai. Hal yang wajar jika di-BIL kita melihat, ibu-ibu dengan kain jarik kumal terbengong-bengong melihat bule yang pakaiannya hampir telanjang. Nenek-nenek yang asik duduk sambil makan sirih. Anak-anak kecil berbajum kumal dengan ingus melambai-lambai saling mengejar. Bahkan tak semua orang yang datang ke bandara untuk mengantar atau menjemput familinya. Banyak yang menjadikannya obyek wisata. Wisata lihat pesawat. Ini tidak berlebihan. Begitulah kiranya, apa adanya.

Beni memang sudah sering naik pesawat, sebelum ia bekerja sebagai audit di perusahaan farmasi swasta. Setahun dua kali, saat liburan semester ia pulang naik pesawat. Dulu ia kuliah di Kota Malang. Bukan karena keluarganya kaya, apalagi gengsi. Namun, semua itu hanya gara-gara monopoli perusahaan bus malam, yang saat tuslah menaikkan harga tiket dua kali lipat, lalu lupa menurunkannya lagi. Terus menerus setiap tahun. Juga karena sebuah perusahaan penerbangan, yang berani menjual tagline, We make people fly, menjual murah tiket pesawat yang jauh lebih murah dari tiket bus Malang-Mataram.

Beni, sama saja. Ia juga salah satu bagian dari orang-orang yang suka dijemput beramai-ramai itu. Dulu, ia kesal luar biasa. Ia malu, lebih tepatnya merasa dipermalukan. Meskipun berulang kali ia mengatakan pada ibunya untuk tidak mengantar atau menjemputnya seperti orang pulang haji tetap saja ia diperlakukan seperti itu. Sanak familinya berebutan minta diajak, bahkan tetangga dari sanak familinya pernah ada yang ikut. Rupanya mereka bercerita, menjadikan Beni obyek dari kebanggaan hatinya. Kebiasaan orang Sasak. Orang sasak memang suka sekali membanggakan orang lain yang ia kenal untuk kebanggaan dia sendiri. Namun kali ini, Beni datang diam-diam. Mencegah segerombolan orang yang sebenarnya hanya berniat berplesiran ke bandara, bukan bermaksud berkangen-kangen dengannya.

Beni melangkahkan kaki menuju taksi-taksi yang berjejer rapi. Setelah sebelumnya mengabaikan ajakan para sopir taksi gelap dengan mobil inova mereka. Bisa ditagih banyak kalau Beni berani mengiyakan. Beni lebih memilih taksi bandara. Lebih fair menurutnya. Tak merasa diperdayai dan sebagainya. Tarif sesuai kota tujuan. Tertera dalam list. Tak perlu menawar lagi.

Saat ia melangkah menuju taksi itulah, matanya sempat menangkap sosok gadis yang sepertinya ia kenal. Agak jauh, karena gadis itu berdiri di terminal keberangkatan, menggandeng mera tangan seorang cowok. Laki-laki itu sepertinya akan berpergian, dan gadis itu sedang mengantarnya. Beni masih mematung, menunggu adegan selanjutnya. Kejadian selanjutnya membuat Beni menyesal, karena kejadian itu akan menjadi kebohongannya suatu hari nanti. Gadis itu mencium pipi laki-laki itu, kemudian memeluknya hangat sebelum mereka berpisah. Beni menjadi begitu risih, kemudian memaksa kakinya segera meninggalkan tempat itu.

Hal seperti ini yang kadang ia benci. Ia selalu benar, dan Allah menunjukkan kalau ia memang benar. Kadang ia berharap ia salah, dan Allah menunjukkan kalau ia salah. Tanggung jawab karena ia benar, sering kali mengikatnya begitu erat. Ia lebih baik dicemooh karena penilaiannya salah dari pada ia mencabut kebahagiaan seseorang karena sebuah kebenaran.

Akhirnya Beni mendapatkan taksinya, hanya dengan menyebutkan tujuan, "Praya pak". Praya, ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. Satu kabupaten dengan bandara BIL. Hanya 15 menit perjalanan. Tak lama.

"Sudah aman sekarang pak?" Beni memulai basa-basinya dengan sopir taksi. Meski dekat, tak ada salahnya berbasa-basi, sekaligus mencari informasi perkembangan daerahnya. Agak susah memantau daerah tersebut dari media, karena bukan daerah yang sering membawa isu baru. Faktor lain, agar bayang-bayang adegan gadis di bandara tadi tak terus menerus menggelayut dalam benaknya.

"Alhamdulillah aman dek, sudah berubah" Sopir taksi paruh baya itu menjawab sopan.

"Wah baguslah pak. Sayang sekali kalau masih seperti dulu".

"Betul dek, kapan bisa majunya. Sekarang, ada pos jaga dibangun di sana. Polisi juga tiap malam patroli" Sopir taksi itu kembali menjelaskan.

Tanak Awu, itulah nama daerah tempat bandara BIL itu berdiri. Masuk kecamatan Praya Barat. Namun lucunya, orang-orang menyebutnya 'lauk' atau selatan. Masyarakat sana disebut 'dengan lauk' atau orang selatan. Lucu kan? Bagaimana bisa selatan menjadi barat.
Daerah selatan termasuk desa tanak awu terkenal sebagai masyarakat yang keras. Dahulu orang sering kena begal. Sebuah desa di selatan bernama Ketare, desas-desus menyebutnya sebagai desa maling. Suka berperang dengan kampung lain, ada mitos, jumlah kepala keluarga di kampung itu tak boleh lebih dari dua ratus kepala keluarga. Jika lebih, siap-siap akan terjadi perang. Paling sering dengan kampung tetangganya. Desa Tanak Awu dan Sengkol. Masyarakat Lombok rata-rata keras, namun orang selatan selalu jauh lebih keras. Tapi setidaknya itu cerita lama yang kadang-kadang muncul kembali. Dulu, sebelum ada BIL, jarang ada yang berani berkendara malam-malam di daerah selatan. Kecuali sedang menjajal ilmu kanuragan.

Tanah bandara itupun dulu menjadi sengketa. Setelah pembebasan lahan berhektar-hektar, pembangunannya mangkrak. Alhasil, masyarakat kembali menanaminya. Ketika pembangunan dilanjutkan, sebagian masyarakat di daerah itu menolak. Alasannya uang penggantian terlalu murah. Mereka minta tambah. Namun syukur permasalahan tersebut selesai, pembangunan bandara bisa dilanjutkan dan berdiri seperti sekarang. Ekonomi masyarakat ikut bangkit berdiri. Mata-mata yang buta melihat peluang, kini samar-samar mulai jeli. Bagi Beni, berdirinya bandara di daerah itu, bisa mengurangi medan laga peperangan kampung-kampung sekitar. Dahulu, jalan raya dan sawah adalah berfungsi ganda, juga sebagai medan laga pertempuran.

Betapa kaget sang ibu, ketika Beni mengucap salam dan muncul di ruang keluarga. Ibunya yang sedang mengupas timun sebagai cemilan ayahnya yang hipertensi segera bergegas menuju suara anaknya. Mamiq (sebutan untuk ayah) yang sedang bertelanjang dada mengipas-ngipas dirinya di dalam kamar juga segera keluar. Seperti biasa, ibunya akan menangis terharu kemudian memeluknya. Lalu dengan hormat, Beni mecium punggung tangan ibu dan mamiq-nya saat ia menyalaminya. Cara mencium tangan yang biasa dilakukan beni adalah dengan, mencium dengan hidung, kemudian ditempelkan juga ke dahi. Dilakukan dengan cepat berurutan.

Setelah berbasa-basi, menjawab pertanyaan ibunya kok pulang tanpa memberikan kabar sebelumnya. Menyerahkan sedikit oleh-oleh yang dibawanya dari bandung. Ia kemudian masuk ke kamarnya, merebahkan badannya yang agak penat karena penerbangan.

-XXX-


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, mereka berdua tidak cocok. Sekarang ditambah lagi kalau aku melihatnya.Dengan mata kepalaku sendiri" sudah tiga kali Beni mengucapkan kalimat yang sama untuk meyakinkan sahabatnya itu. Namun Jamal tetap kukuh bahwa Beni hanya salah lihat.

"Mata bisa menipu. Aku tahu, kamu sayang dengan sahabatmu. Obsesi itu yang mempengaruhi penglihatanmu sehingga menyangka gadis lain sebagai dia" ujar Jamal, masih membantah kejadian diceritakan Beni. "Mungkin kamu juga lagi capek. Pekerjaanmu yang kayak orang gila itu juga menekanmu".

"Eh, apa hubungannya dengan pekerjaanku. Malah, pekerjaanku ini sudah melatihku untuk bisa membedakan mana yang benar dan tidak" bela Beni sengit. Jamal terdiam. Ia menghela nafas pendek. Kemudian menepuk-nepuk pundak Beni dengan pelan.

"Coba kita cari solusi lewat kopi dulu. Minum kopimu, jangan anggurin gitu aja. Nailah bisa ngamuk-ngamuk kalau gelas itu kembali dengan isi masih penuh begitu", Jamal sendiri langsung mengangkat gelas kopinya.

"Ayo bersulang kita" ujar Jamal sambir tertawa. Dengan senyum yang dipaksakan Beni mengangkat gelasnya kemudian mengikuti ajakan Jamal. Kedua gelas itu berdenting kecil. Namun kemudian keduanya terdiam.

Malam itu, Beni menepati janjinya, datang ke rumah Jamal. Beni memang berbeda dengan Imam. Tanpa perlu diminta, ia langsung membuka gerbang yang memang sengaja tak dikunci. Bahkan ia mengucap salam saat menemukan Jamal dengan kaki sebelah diangkat sedang makan di meja makan. Jamal menawarinya ikut makan tapi ia menolak. Beni malah sibuk mencomoti lauk tahu di meja makan itu. Memang kedua sahabat itu sudah sangat akrab. Lebih-lebih sejak Nailah adik sepupu Beni menjadi istri Jamal. Mereka menjadi keluarga. Obrolan itu kemudian dibawa ke berugak, sambil menikmati kopi dan pisang goreng.

Malam Senin, saat itu malam Senin. Saat itu, bulan lebih separuh menampakkan diri. Meski belum penuh sempurna, namun tetap terlihat indah. Langit cerah, awan yang terlihat abu-abu di malam hari hanya tanpak seperti kumpulan asap rokok. Sedikit dan jarang, tak pekat dan tebal. Udara awal bulan Mei memang kering, tak membawa uap air. Sehingga gagahlah sang bulang diatas sana. Berbeda dengan mentari yang tak bisa kita lihat lama-lama, bulan tak akan membuat mata sakit dan perih apalagi berkunang. Yang menyenangkan saat malam hari jika langit cerah adalah saat naik kendaraan, karena bulan seperti sedang mengejar kita.

Malam yang indah, tak didukung dengan obrolan yang menyenangkan. Dua laki-laki itu masih sibuk mengurusi hidup orang lain. Meskipun itu sahabat mereka sendiri.

"Aku mau menguji kehebatan otak auditmu itu!" Jamal menatap Beni dengan tajam. Beni diam, sarkasme Jamal tak berpengaruh padanya.

"Kondisinya saat ini. undangan sudah disebar. Dua ekor sapi telah dibeli. Keluarga Risma yang dari Jawa sana, saat ini sudah di Lombok. Teman-teman sudah tahu. Administrasi sudah selesai" Jamal meraih bungkus rokoknya.

"Mungkin barang yang kau hisap itu juga yang bikin Nailah engga isi-isi" kata Beni.

"Kita lagi bahas Imam, bukan aku" seru jamal.

" Oke lanjutkan!" Kata Beni dengan tenang.

"Apa yang akan kamu lakukan. Memberi tahu Imam 'Mam aku lihat Risma di bandara, sama cowok', kamu jangan nikah sama dia, begitu?" Tanya Jamal.

"Mungkin"

Jamal menatap wajah Beni dengan tatapan tak percaya. Kedua alisnya hampir bertemu dengan mulut sedikit terbuka. "Mungkin katamu!?".
"Oke, aku tanya kamu sekarang. Apalah artinya cowok dan cewek bergandengan tangan di bandara. Apakah itu bisa bermaksud sesuatu, kecuali kamu melihat mereka berciuman di tempat itu?".

Beni memandang Jamal dengan tajam namun ia diam tak menjawab.

"Aku yakin, Imam punya alasan bro. Dia laki-laki dewasa" kata Jamal kembali.

"Cukup dewasa" ralat Beni.

"Ya cukup dewasa. Aku yakin dia bisa mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Membatalkan pernikahan itu. Kalaupun bisa. Mudharat yang akan ditimbulkannya sangat besar. Undangan dibatalkan. Undangan, sapi, terop, itu uang semua. Belum malu dan hutang penjelasan pada setiap orang".

Beni masih terdiam. Ia menunduk, matanya hanyut ke dalam gelas kopi. Pikirannya terpendam dalam ampas kopinyang mengental di bawah dasar gelas.

"Sekarang jawab aku" sambung Jamal "Kamu melihat Risma melakukan apa di bandara. berciuman, berpelukan?".
Beni mengangkat wajahnya.

"Seorang wanita harus bersama muhramnya ketika diluar rumah".

"Engga semua orang ngaji Beni. Dan ini sudah lewat zaman milenium. Syariat memang tak berubah. Tapi hati manusia berubah-ubah. Persepsi mereka berubah-ubah. Sekarang katakan padaku apa yang kau lihat?'

"Satu hal yang aku dapatkan dari pembahasan ini. Bahwa kamu telah menurunkan standar dan martabat wanita yang baik"

"Apa maksudmu?" Tanya Jamal ketus.

"Apakah syariat yang harus mengikuti jaman? Haruskah kita memaklumi sesuatu karena sebagian besar orang tidak bereaksi dengan benar? Lihat apa yang kamu lakukan. Mempertanyakan apa arti seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya bergandengan tangan di muka umum? Makna apa yang kamu cari? Bagiku sudah jelas. Ia tak menjaga dirinya. Tak masalah bagiku jika itu orang lain, akan tetapi wanita seperti itu yang akan kau umpankan pada sahabatmu!", kalimat panjang itu bermakna sangat dalam bagi Jamal. Ia tertohok.

"Sebaiknya kamu balik ke Bandung. Pikiranmu itu benar, tapi tak pada tempatnya. Biarkan Imam bahagia dengan pilihannya. Kamu bukan siapa-siapa".

"Andai kata, kau bukan suami dari adikku. Kamu mungkin sudah terkapar di tanah".

Beni kemudian beranjak, kemudian berlalu pergi. Kembali ke Bandung keesokan paginya.

-XXX-

LIMA



Tahun 2015..



"Ben!"
"Hemm"
"Hoi!"
"Apa?"

Beni dengan malas, mengangkat wajahnya dari daftar menu yang sejak tadi ia bolak-balik. Mereka sebelumnya sudah memesan minuman, namun karena masih menunggu dua teman mereka yang lainnya, mereka menunda untuk memesan makanan.

"Cantik kan?", ujar Heru.

Beni melongo keheranan, memandang Heru dengan tatapan mengevaluasi. "Kamu pake make up apa? Agaknya terlalu tipis Her, jadi engga terlalu keliatan" ujar Beni polos.

"Bukan gue oon. Lu kate gue hombreng. Arah jam dua belas", Heru mendelik.

"Arah jam dua belas? ya muka kamu Her" Beni masih belum mendapatkan pencerahan dengan arah pembicaraan Heru, "Pake sudut koordinat biar engga bingung" lanjut Beni lagi. Beni dan Heru duduk berhadap-hadapan. Dua kursi tersisa untuk dua teman yang masih belum juga datang.

"Ajigile, lu pikir gue pilot sukoi. Eh, dia kesini, kayaknya mau duduk dekat kita Ben".

Beni dapat melihat mata Heru yang bergerak mengikuti seseorang di belakangnya. Lama-lama Beni ikut penasaran juga, ingin tahu cewek seperti apa yang membuat mata Heru menempel seperti lem, tak mau lepas. Beni baru bisa melihat sosok yang dimaksud Heru dengan jelas setelah sosok yang dimaksud tersebut berdiri sejajar dengan kursinya.

"Udah, lo engga usah ikut-ikut, buat gue aja" Sambar Heru melihat Beni yang akhirnya ikut melirik.

Benar saja seorang gadis berdiri dekat meja mereka. Rambut panjang berwarna hitam kecoklatan, wajahnya oval telur, hidungnya mancung dengan mata yang lebar. Dengan blus terusan hingga diatas lutut, krem polkadot. Ikat pinggang bentuk pita yang lucu melingkari pinggang, sehingga baju terusan itu tak jadi mirip karung. Kulitnya yang putih serasi dengan warna bajunya. Wanita itu memutar-mutar kepalanya mencari sesuatu. Sepertinya mencari meja temannya. Sesaat kemudian melambai-lambaikan tangannya. Kemudian berlalu.

Gadis itu juga mungkin sedang menunggu jam makan siang, pikir Beni sesaat. Nongkrong bersama kawan-kawannya seperti halnya Beni dan Heru. Hari libur begini memang pantas untuk sedikit bergaul sambil memanjakan lidah dengan kratifitas para koki. Restoran di Ciwalk Mall tempat mereka saat ini menyajikan ragam makanan tradisional maupun modern. Cukup terkenal, terbukti karena pengunjungnya yang ramai.

Yang datang bersama keluarga biasanya memilih meja di lantai satu dan yang datang bersama kawan biasanya memilih meja di lantai dua. Tidak ada aturan tertulis sebenarnya, tapi para pengunjung sudah mengelompokkan diri mereka sendiri-sendiri.

Heru dan Beni adalah mantan rekan sekerja. Dulu Heru berkerja di perusahaan tempat Beni sekarang, namun dua tahun yang lalu mengundurkan diri dan pindah ditempat lain namun masih di Bandung.

"Benerkan? Cantikkan?" Heru tersenyum-seyum senang.

"Jangan kampungan, ini Bandung, bukan Ngawi"

"Lo pikir, gue kurang kota gitu. Kurang gaul?"

"Dengan kamu mengubah panggilan aku menjadi gue dan kamu menjadi lo, tetap tidak lantas membuatmu menjadi orang kota. Buktinya ya tadi itu, kelakuanmu itu kampungan. Kalau ada cewek cantik, kagumi dalam hati saja, begitu kalau orang kota. Engga perlu sampai matamu ngikutin kemana-mana".

"Ancene koen. Ra tau ñggawe wong seneng setitik" ( dasar kamu. Engga pernah bikin orang senang sedikit).

Beni langsung tertawa, Heru sudah kembali menjadi wujud aslinya. Beni mengerti bahasa Jawa, sudah bertahun-tahun ia tinggal di kota Malang. Derai tawa Beni terhenti karena seorang pelayan datang dengan pesanan minuman mereka di lapak saji. Sejenak kemudian pelayan muda yang ramah itu berlalu setelah mempersilahkan kedua pengunjungnya untuk menikmati minuman yang disajikannya.

"Her!, Arif sama Si Mbah mana ne? Bener udah kamu kasi tahu?"

"Udah, gue sms, gue telepon juga buat mastiin".

"Kok belum datang?".

"Mana gue tahu. Macet kali, tahu sendiri orang Jakarta pada kesini semua kalau libur begini".

"Oh ya-ya. Orang Ngawi aja dah bikin sesak. Eh orang Jakarta engga mau kalah" Beni terbahak, Heru ikut terbahak.

"Eh, tapi beneran cantikkan cewek tadi?".

"Kalau iya trus kenapa, kalau iya trus mau ngapain?" Beni mulai malas dengan arah pembicaraan Heru.

"Ya kenalan Ben. Tukeran PIN, nomor telepon" Heru meraih smartphone miliknya yang tergeletak di meja, kemudian menggerak-gerakkan alisnya keatas.

Beni tersenyum, "Emang kamu punya nyali?", tanyanya kemudian. Beni yakin, Heru cuma omong besar.

"Eeee. Kelewatan emang. Dikira gue kagak berani. Ntar lo liatin aksi gue".

"Dengan senang hati saya tunggu".

"Tapi beneran cantik kan Ben, cewek tadi?" Heru masih tak patah arang untuk tahu penilaian Beni tentang gadis tadi. Sebenarnya bisa dimaklumi kalau Heru agak terkesan ngotot mencari tahu selera laki-laki tertutup tersebut. Sepanjang pertemanan mereka di Bandung, tak pernah sekalipun Beni membicarakan masalah wanita. Padanya, maupun kepada teman yang lain. Ia sangat tertutup untuk urusan yang satu itu. Usianya Beni kini hampir kepala tiga, tidak ada gelagat akan segera menyudahi masa lajangnya. Itulah kenapa Heru dan sahabat dia yang lain terkadang suka menyindir halus. Namun tak ada yang berani secara frontal membicarakan masalah itu, sikapnya yang tertutup membuat teman-temannya segan.

"Kata orang cantik itu subyektif. Kalau jelek mutlak" kata Beni seraya setengah molotot ke arah Heru.

"Sialan lo, giliran jeleknya kok liatnya ke gue."

Beni terkekeh.

"Tapi, tuh cewek cantik kan Ben?". Ternyata Heru belum menyerah dan masih penasaran dengan pendapat Beni.

"Apa pentingnya seh Her? Kalau aku katakan cewek itu cantik atau yang lainnya tidak? Lagipula, aku yakin cantik versiku dengan versimu pasti berbeda. Aku ini orang kolot. Kamu sudah sering bilangkan?" Beni mengaduk jus lemon di depannya. "Mungkin bagimu agak berlebihan. Tapi menurutku setiap orang punya selera yang sifatnya sangat pribadi”.

"Kalau menurut gue, cewek tadi tergolong cewek cantik Ben. Lihat saja penampilannya, kulitnya putih bersih, rambutnya indah, pasti terawat. Pasti rajin ke salon". Heru akhirnya memberikan penilaiannya sendiri, siapa tahu Bei terpancing untuk, kemudian memberikan penilaiannya juga.

"Merawat dirinya dari fitnah, dari gibbah harusnya juga termasuk dalam krateria. Juga dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Yang paling penting,, merawat shalatnya", sambar Beni.

"Yaelah”, Heru menghela nafas berat tanda kecewa,”Kalau yang begitu engga bakal bisa ketemu di sinilah. Kita nongkrong di Jombang dekat asrama putri pesantren disono, baru ketemu”

Beni tak menanggapi, ia hanya menaikkan kedua bahunya saja untuk menjawab. “Ben,” Panggil Heru kembali “Kalau menurut gue, kalau cewek kayak yang lo sebutin tadi itu pasti ngebosenin”

“Loh kenapa?” Beni memicingkan mata heran.

“Cewek seperti itu pasti kaku banget. Apa-apa engga boleh, apa-apa niat dulu. Ngomong aja engga bisa lepas”.

“Aku punya keponakan umur empat tahun Her” Jawab Beni dengan gayanya yang selalu tenang.

“Ya, lo pernah cerita, tapi apa hubungannya?”

“Dengar dulu”, kata Beni meminta perhatian. Heru mengangguk kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tak terasa, sedari tadi ia terus mencondongkan tubuhnya kedepan. “Keponakanku itu tidak suka salak. Tebakanku karena kulitnya yang hitam dan tanpak seperti berduri. Setiap kali dikupaskan, dia akan menolak meskipun ayah dan ibunya sudah mengatakan dan meyakinkannya kalau salak itu manis, ia tetap tidak mau. Akhirnya suatu hari ibunya memberikannya semangkuk kecil buah yang sudah dipotong kecil-kecil. Sejak ia mencicipi satu potongan kecil, ia tak pernah berhenti hingga potongan buah dalam mangkuk itu habis. Ketika ia bertanya pada ibunya itu buah apa, ibunya menjawab itu buah salak”.

“Maksudmu...” Heru menggantung kalimatnya sambil berfikir.

“Ya” Jawab Beni seperti menebak pikiran Heru, “Jangan jadi orang awam yang sombong”.

Beni berdiri dari kursinya.

“Lo mau kemana?”

“Aku mau shalat dulu. Kamu disini saja, takutnya Arif sama si Mbah datang. Nanti kita giliran”. Heru mengangguk setuju, Beni kemudian berlalu meninggalkan Heru yang masih memikirkan apa yang dikatakan Beni barusan.

Salut untuk Ciwalk Mall, karena memiliki mushalla yang sangat representatif. Sungguh! Nyaman sekali. Menyediakan mushalla yang baik bukan kerugian bagi bisnis seperti ini. Malah tentu sebaliknya. Pengunjung akan lebih merasa “aman”. Bukan SARA namun secara demografi 85% dari penduduk Indonesia bergama Islam. Pengunjung yang sebelumnya ogah-ogahan karena malas harus ketemu waktu saat ke mall dan tak mau berpanas-panasan di basement pasti berubah pikiran. Waktu kunjungan Mallpun akan lebih merata, tak harus malam selepas magrib baru ramai.

Ironi yang kesekian. Ketika perintah shalat turun dengan cara yang paling unik, special dan ajaib dan bahkan merupakan mukjizat yang sangat luar biasa, pengamalan dan penghargaannya sangat jauh dari yang diharapkan. Dimanapun, sebagian besar, ruang direktur megah bukan kepalang, ruang shalat hanyalah selajur sisa sekat di samping tembok. Mall megah yang terang benderang, mushalanya ditempatkan di basement panas dengan cahaya temaram. Terbalik-balik, tertukar-tukar. Jadi kebijakan pengelola Ciwalk Mall patut diapresiasi.

Beni bergegas menuju mushalla, dekat ATM center. Ini yang pertama kalinya ia shalat disana. Sebelumnya, ia selalu memperhitungkan waktu bepergiannya. Pergi setelah azan dan shalat, atau pulang sebelum azan. Ia jarang pergi saat ashar atau sebelum magrib. Jarang jalan-jalan sore.

Ia masuk, gilirannya tiba bersama beberapa bapak dan pemuda. Seorang bapak mendorongnya maju lebih depan dari yang lain. Beni tersenyum mengangguk. Mengkodekan seorang pemuda untuk iqomah. Ia memimpin shalat berjamaah itu.

Dulu ketika masih SMP. Kalau lagi kumpul di rumah Imam dan waktu shalat tiba sedang bapakanya Imam tak lagi di rumah, mereka akan bergantian saling mengimami. Kalau zuhur dan ashar mereka berebut menjadi imam. Kalau magrib dan isya, mereka akan saling dorong dan bertengkar menolak menjadi imam. Karena magrib dan isya, bacaan imamnya terang. Takut kalau salah baca surat pendek.

Tak lama ritual sakral itu selesai. Beni bergegas kembali ke resto. Ia berjalan lambat, sambil memperhatikan stand-stand yang berderet.

"Mas imam!", suara seorang gadis berteriak. Beni terus berjalan karena ia merasa bukan dirinya yang sedang dipanggil.

"Mas imam" Beni mengentikan langkahnya, gadis yang memanggil-manggil tadi sekarang sedang berdiri di sampingnya. Ia kenal dengan gadis ini. Baru saja Heru membuatnya menjadi tema pembicaraan. Apakah aku tadi jadi gibbah pikir Beni dalam hati.

"Mbak manggil saya?" tanya Beni sopan. Gadis itu mengangguk.

"Imam itu nama sahabat saya, jadi nama saya bukan Imam" kata Beni kemudian.

Gadis itu tersenyum. "Yah, sudah kutebak. Mas-nya tadi yang jadi imam shalatkan. Itu maksud saya”.

Beni tertawa pelan, menyadari kebodohannya. Ia tak berfikir hingga kesana, karena ia memangg tak menyangka jika gadis manis ini salah satu makmumnya.

"Mas juga mau balik ke resto kan. Temannya kan masih disana. Bareng yah. Biar ada teman jalan. Engga enak jalan sendiri". Tidak ada salahnya pikir Beni dan ia pun mengangguk.

Beni dan gadis itupun jalan berdampingan. Tidak terlalu cepat dan juga tak terlalu lambat. Tak telalu dekat, tidak juga terlalu jauh. Cara mereka berjalan seolah seperti kode, kalau gadis manis itu datang dengan seorang laki-laki namun laki-laki itu hanya teman.

"Namaku Keysia" gadis itu mengulurkan tangannya. Beni tersenyum simpul, mengatupkan kedua tangannya. Menolak bersalaman dengan sopan.

"Oh" Seru Keysia hampir berbisik. Gadis itu agak keki.

"Saya Beni" kata Beni menyebutkan namanya.

"Sering makan disini?" Tanya Keysia.

"Engga"

"Mas ini, orangnya irit ngomong yah?", celetukan yang mengejutkan bagi Beni dari cewek yang baru mengenalnya. Beni agak grogi sebenarnya, ia juga tidak tahu kenapa.

"Saya bukan orang Jawa neng Keysia", kata Beni berusaha merubah perspektif yang salah tentang dirinya. Ia mencoba bergurau.

"Hem..kalau gitu panggil abang aja" seru gadis itu cepat.

"Profesi saya bukan tukang bakso" Jawab Beni sambil tersenyum.

"Ye..yang bilang tukang bakso siapa?"

"Lah itu tadi. Abang tukang bakso mari-mari sini..." Beni bernyayi kecil. Gadis itu tergelak.

"Suaranya lumayan. Tapi antara lagu dan usia kayaknya kurang kompak. Tapi, kalau aku sih, yes" Keysia menirukan cara bicara seorang juri dalam ajang kontes menyanyi di televisi. Beni tergelak, mereka tertawa bersama.

"Mau manggil uda, pasti bukan orang padang. Panggil aa, logatnya bukan sunda" Keysia menimang-nimang sendiri tebakannya.
"Panggil Beni saja".

"Ah engga enak, tampangnya tua..ehm, maksudnya teh dewasa gitu" Keysia malu sendiri, terlebih karena Beni tak menanggapi.
Mereka sudah memasuki resto tempat mereka sebelumnya. Meja mereka dilantai dua resto tersebut. Alangkah kagetnya Heru melihat Beni datang bersamaan dengan gadis yang tadi dilihatnya. Terlebih saat melihat mereka sedikit berbincang sebelum menuju meja masing-masing. Arif dan Adam yang dijuluki Si Mbah, sudah duduk di dua kursi kosong sebelumnya.

"Sana, kalau kamu mau shalat dulu" kata Beni pada Heru.

"Kok bisa Ben?".

"Kan Arif sama Mbah udah disini" Jawab Beni.

"Ah oon emang. Kok bisa lo barengan sama cewek tadi".

"Bisa, liat saja tangganya, lebar kan? Dua orang bisa jalan bareng. Yang begitu engga perlu ditanyain Her. Diamti saja. Kamu langsung bisa ambil kesimpulannya" kata Beni sambil menengok-nengok isi meja "Jusku kemana? Belum sempat minum".

"Haus Ben. Jauh parkiran kesini" Jawab Si Mbah polos.

"Engga kamu pesenin lagi?" Tanya Beni. Si Mbah menggeleng.

"Takut kamu berubah pikiran, siapa tahu kamu minta yang lain" katanya kemudian.

Heru dan Arif tertawa terbahak.

"Rasain, makanya kalau jawab orang yang bener. Engga enakkan kalau digituin" sergah Heru senang merasa dendamnya terbalas. Beni merengut. Kemudian ia mencoba memanggil pelayan yang sedang hilir mudik. Namun sepertinya para pelayan sangat sibuk sehingga tak mendengar panggilan. Restoran tersebut sedang ramai-ramainya kalau hari libr begini. Beni berinisitif untuk langsung memesan makanan saja, langsung ke lantai satu.

"Engga sekalian pesan makan?" Tanya Beni.

"Ya udah ne, udah kita tulis. Tinggal kamu yang belum" jawab Heru, ternyata kawan-kawannya juga sudah mulai lapar.

"Aku kayak biasa aja Her".

"Sip".

Heru menulis pesanan Beni, kemudian menyerahkan kertas pesanan itu padanya. Beni kemudian beranjak menuju tempat pemesanan sekaligus kasir di lantai satu.

"Eh, ketemu abang Beni lagi" Keysia yang tiba-tiba sudah disamping Beni menyapanya.

"Eh Keysia, mau bayar?".

"Iya ni, mau balik".

"Mau dibayarin?", gurau Beni.

Keysia tersenyum "Baik bener, sok attuh bayarin".

"Sini uangnya, nanti aku yang ngasi kasirnya" kata Beni kemudian. Kasir di depan mereka tersenyum dengan gurauan Beni.

"Itu mah, namanya nitip dibayarin. Bukan ditraktirin..," kata Keysia, pura-pura merengut, "Tapi, kalau tadi niatnya emang mau traktirin, Jangan! Terima kasih. Aku engga mau berhutang", kata Keysia tegas. Beni mengangguk sambil tersenyum. Sesaat kemudian Beni sibuk berbicara dengan salah seorang pelayan yang menerima pesanannya. Pesanan kawan-kawanya agak sedikit membuat pusing. Tetek-bengeknya terlalu banyak.

Sedang Keysia yang sudah menyebutkan nomor mejanya pada kasir, terlihat cemas sambil merogoh tasnya berulang kali. Sekali lagi, Keysia masukkan tangannya lebih dalam, bibirnya berulang kali tersenyum pada kasir, memintanya bersabar.

"Kenapa Key?" Tanya Beni karena melihat tingkah Keysia yang terus menerus merogoh tas besarnya dengan wajahn yang cemas. Beni mulai menyadari ada yang salah.

"Aku lupa, dompetku kayaknya kebawa mamah " serunya sedih.

"Temanmu?".

"Mereka dah balik duluan".

"Oh ya udah" Beni berbalik ke arah kasir "Berapa mbak?".

"Kamu engga perlu repot, aku telepon mamahku aja biar kesini" tolak Keysia.

"Kayaknya itu yang malah merepotkan lebih banyak orang"

Sepertinya sang kasir sependapat. Dua orang yang mengantri di belakang Keysia juga sepertinya sependapat.

"Dua ratus tiga puluh ribu pak" Jawab kasir tersebut dengsn sopan. Keysia sebenarnya tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi, dia lagi kepepet. Tanpa pikir panjang Beni meraih dompetnya di saku belakang, memberikan sebuah kartu debit.

"Sekarang gimana caranya kamu pulang, kamu bawa kendaraan?" Tanya Beni setelah urusan dengan kasir selesai dan mereka sudah berada di luar restoran.

“Aku pakai taksi saja nanti. Terima kasih Ben. Nanti aku balikin” ucap Keysia tulus. Seperti biasa, Beni mengangguk dan tersenyum. Keysia kemudian berlalu setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih.

“Lama banget di bawah?” tanya Heru ketika Beni muncul dihadapannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Heru, Beni malah balik bertanya. “Apa aku terlihat tua?”

xxxxxx