alexa-tracking

- Sejenak Mengenang -

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55613139de2cf2031a8b456c/sejenak-mengenang
Love 
Sejenak Mengenang
SEJENAK MENGENANG


Quote:


- Sejenak Mengenang -

- Sejenak Mengenang -

Berawal dari insomnia, rasa lelah berkepanjangan, lemah, letih, lesu, sepertinya saya butuh Sangobion, bukan nulis. Aku menuliskan ini untuk mengenang barisan sakit hati nan patah tak berkembang, yang sudah menempaku menjadi perempuan digdaya superpower bak wonderwoman.

Segalanya tiba-tiba poof! jadilah cerita, pokoknya enjoy my story! emoticon-Smilie

- Sejenak Mengenang -


INDEX


#1 Stories of First Love

01. Lahirnya Sang Pencinta
02. Kota Ngapak
03. Keseriusanku Belajar
04. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino?
05. My Destiny
06. My First Love
07. Disana!
08. Surprised Gift From God
[break] 01. Baju Keramat
09. Yes, I Know His Name!
10. Janjiku pada Sahabat

01. Lahirnya Sang Pencinta

Zaman dahulu kala (yaaa ngga dulu-dulu banget lah, kira-kira sekitar taun 90an), lahirlah seorang gadis kecil, mungil, manis nan manja. Bayi mungil ini kemudian di beri nama Silvia. Ya, Silvia itu aku. Iyaaa, akuuu. batting eyelashes.

Kehadiranku di dunia yang fana ini adalah sebagai hadiah untuk ibuku yang galau selama setahun karena kehilangan salah satu bayi kembarnya. Ayahku keturunan Cina dan ibuku seorang wanita Jawa. Aku anak terakhir dari 5 bersaudara. Hasil persilangan terakhir ayah dan ibuku ini, menghasilkan aku yang sipit tapi berkulit gelap.

Aku tinggal di kota kecil nan sejuk bernama Satuhati (anggep aja itu nama kota semacam townsville nya powerpuffgirls, atau bikinibottom nya spongebob). Ayahku seorang pegawai negeri sipil dan ibuku adalah istri pegawai negeri sipil (ya iyalah, kalo istrinya pegawai bank berarti ayahku anggota DPR *makin ngawur*). Mereka pasangan yang paling unyu-unyu, setia, dan serasi sedunia.

Kelahiranku di keluarga yang penuh cinta ini membuatku tumbuh menjadi anak yang periang, tuwir, dan haus akan cinta. (ajegile, masih bayi udah ngomongin cinta!). Ini bukan berarti tiap nangis minta cucu ibu teriaknya "cintaaaa.. cintaaaa.." lho ya..

Bukti kehausannya? Buktinya ada disini. Ketika aku mulai masuk TK. Saat usiaku masih 3 tahun, aku memaksa ibuku memasukkanku ke sebuah TK. Namanya TK Islam Sunan Kalijaga. Di usiaku yang baru 3 tahun ini, aku bisa merasakan hormon veromon pokemon (atau apalah itu namanya I don't know) alias tertarik kepada seorang bocah lelaki tampan bernama Satria.

Bisa dibayangkan gak, balita perempuan macam apa yang sudah merasa tertarik pada lawan jenis di usia 3 tahun? Harusnya mereka mendirikan PAUD sejak dulu, sehingga aku bisa merasakan yang namanya Pacaran Anak Usia Dini (digebukin orang sekampung). Maaf, Pendidikan Anak Usia Dini maksudku. Supaya aku tidak salah fokus waktu sekolah nantinya.

Saking tertariknya aku pada si Satria ini, bahkan waktu hari kartini aku minta di dandanin yang cantik dan di foto bareng dia. Hmm, tapi yang aku rasain ke Satria ini bukan cinta pertama deh kayaknya. Iya, ini bukan cinta. Ini baru rasa tertarik. Tertarik gara2 dia tampan, punya permen banyak, dan namanya mirip sama jagoan kesukaanku di televisi. SATRIA Baja Hitam!! Sama kan??

Kisah tuwir TK ku berakhir disini. Saat aku mau masuk SD, ayahku yang pegawai negeri sipil ini harus dipindahtugaskan oleh pemerintah ke kota lain. Sehingga kami pun, anak-anaknya, harus mengikuti kemana ayah kami pergi. (Tak apalah, kalau namanya naik pangkat juga jalan terus jek! ).

Dari kota kecil yang sejuk bernama Satuhati ini, kami harus pindah ke kota yang panas dan ngapak. Sebut saja kota Sukadia.

02. Kota Ngapak

Usiaku menginjak 5 tahun saat aku harus pindah ke kota ngapak Sukadia.

Tahukah kamu? (Tidaaakk, I don't know) Ternyata kebiasaan sejak balita itu terus melekat di dalam diriku. Jiwa kecil yang haus akan cinta, bergerilya di daerah baru ini. Sehingga saat masuk SD pun, aku lebih fokus kepada teman lelaki daripada pelajaran (oh God, help me!).
Hari pertama aku tiba disini, aku langsung dipertemukan oleh seorang bocah tampan bernama Yudha dan adik perempuannya bernama Ana. Oke, fokus aja ke Yudha. Ana cuma jadi figuran numpang hore-hore doang disini.

Diusiaku yang ke 5 ini, aku terpesona pada pandangan pertama pada Yudha. Berkat permainan petak umpet yang lebih mirip india-indiaan, Silvia kecil yang ingusan langsung terpesona pada sosok Yudha yang tinggi, putih dan tampan.

Pertemuanku dengan Yudha membuatku tidak tertarik melihat bocah-bocah lelaki di sekolahku. Secara, mereka dekil, item, ngapak dan jelek. (Bukan bermaksud SARA, tapi waktu kecil aku merasa asing dengan bahasa ngapak).

Pada akhirnya, lagi-lagi aku tidak fokus sama sekali ke sekolah tetapi pada teman bermainku di rumah, Yudha. Hari-hari kulewatkan bermain bersama Yudha. Bonceng-boncengan naik sepeda dengan gelas aqua di roda biar berasa lagi naik motor. Main bulutangkis dengan kisah aku Susi Susanti dan kamu Alan Budikusuma. Hingga main ayunan yang kemudian membuat celanaku robek terjatuh dari ayunan.

Kesibukanku bermain ini membuat nilaiku di sekolah jeblok! Raporku kebakaran. Bingung bagaimana aku harus memadamkannya. Bahkan tiap kali mencongak matematika, nilaiku hanya doremi. Tragis! Tuhan, kenapa kau menciptakan aku dengan segala ketuwiran ini? Jernihkan pikiranku Tuhan, sehingga aku bisa tumbuh normal sebagai anak kecil biasa yang unyu-unyu.

Naik kelas membuat aku harus berpisah dengan Yudha. Yudha yang terpaut usia cukup jauh dariku (5 tahun) akhirnya beranjak gede (baca : jadi murid SMP). Kini kami tidak bermain bersama lagi. Bahkan kami jarang bertemu. Sekalinya ketemu cuma lihat dia lagi jalan sama pacarnya. Sakitnya tuh disini bro. (Halah!)

Sedih sih, tapiii tidak terus bikin aku nangis 1001 malam. Biasa aja gitu. Jadi ternyata kehadiran Yudha masih juga belum menjawab teka-teki cinta pertamaku. Lagi-lagi, aku hanya merasa tertarik pada bocah tampan.

Tiga kali puasa tiga kali lebaran aku hidup di kota Sukadia, kini ayahku harus pindah tugas lagi (naik pangkat lagi yaaaay!). Dengan berat hati, walau tak seberat batu kali, kami lalu pindah ke kota besar. Sebut saja kota Huruhara. Dan aku harus meninggalkanmu Yudha, selamat tinggaaal...

03. Keseriusanku Belajar

Kini usiaku menginjak 8 tahun ketika aku pindah ke kota Huruhara. Semakin bertambah besar, kini aku memiliki paras yang manis sehingga banyak juga bocah-bocah ingusan yang suka kepadaku. Dari yang teman sekelas, teman beda kelas, kakak kelas, adik kelas, kakaknya adik kelas, adiknya kakak kelas, kakak kakaknya dari adik kelas dan maaf kalau di teruskan bakal makin ngelantur. Belum lagi predikat "murid pindahan" dan anak pak bos, membuat aku jadi spesial dari yang lain. Dibarengi dengan skill menyanyi yang gak kalah merdu sama suara Susan, kini aku menjadi idola di SD baruku. Tak jarang aku jadi korban "pacok-pacokan" dengan si Deni, si Rangga, si Rendy dan blablabla lainnya.

Tapi tapi tapi! Di antara bocah-bocah yang suka padaku, tidak ada diantaranya satupun yang aku suka. Dia yang aku suka, si tampan Kevin, yang justru tidak tertarik urusan "pacok-pacokan" ini (duh broken heart). Dia adalah seorang bintang kelas yang hanya fokus pada pelajaran. Tak mengherankan pula jika dia juga menjadi ketua kelas, yang tampan tentunya. Terus dia si cinta pertamanya? Bukan. Masih belum. #digetokpakeduit #lamaamat

Hari-hari ku lalui di sekolah ini sebagai bocah kecil yang normal! (akhirnya) Yah, mau bagaimana lagi, si pencari cinta kecil ini tidak menemukan minuman bersoda untuk mengobati kehausannya akan cinta. (Walaupun sebenernya ada sih, mirinda yang di jual di koperasi sekolah.)

Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah percintaan kelas teri, aku mendapatkan ranking di sekolah! #jengjengjeeeng Dan akhirnya akupun menemukan cita rasa dari pekerjaan yang mereka sebut "belajar". Selama dua tahun akhirnya aku belajar di SD Pelopor dengan sungguh-sungguh. Menuai ranking-ranking indah yang menghiasi buku raporku. Hingga akhirnya, ayahku harus dipindahtugaskan (lagi).

Kali ini beliau harus dipindahtugaskan ke kota Metropolitan. Meski kami senang ayah selalu naik jabatan, tapi ayahku merasa kasihan pada kami yang selalu mengikuti kepindahannya. Apalagi ini kota Metropolitan yang konon katanya pergaulan disana cukup mengerikan bagi anak-anak maupun remaja.

Menghindari kemungkinan buruk dari pergaulan bebas dan merasa lelah dengan kehidupan nomaden bangsa pithecanthropus kami, ayahku yang tampan bagai Tao Ming Se tahun 2050 dan sangat bijaksana kemudian memutuskan untuk membangun istananya sendiri. Tebak dimana? Ya, di kota kecil nan sejuk, Satuhati!

Ayahku ternyata suka dengan kota Satuhati yang sejuk dan asri. Jadi beliau memutuskan mendirikan rumah tinggal tetap disini dan rela bolak balik Metropolitan-Satuhati setiap minggunya daripada membiarkan kami terjerumus di jalan yang belum tentu benar disana. So sweet yah.

Dan.. Kembalilah aku ke kota dimana aku pernah menjadi balita tuwir yang haus cinta, Satuhati.


* ("pacok-pacokan" adalah semacam biro jodoh di kalangan anak SD tempo dulu. Mereka di pasang-pasangkan dengan tujuan agar bisa diledek setiap hari).

04. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino?

Sekarang aku sudah kelas 6 SD ketika pindah kembali ke kota Satuhati. Kota kecil nan sejuk yang kini tak sejuk lagi akibat pemanasan gombal. Eh, global maksudku.

Ayahku telah membangun istananya di pinggiran kota ini. Dan kini kami menetap di rumah baru yang bagiku sangat besar dan indah. Rumah ini di dirikan di tengah-tengah lahan yang dimiliki ayahku. Jadi kanan dan kiri rumahku adalah kebun, tidak ada tetangga. Apalagi pacar lima langkah.

Oke, back to the scene. Aku yang telah menikmati sensasi belajar kini harus tergoyahkan jiwa dan ragaku kembali kepada kebiasaan lama, ya hilang fokus! Entah hawa dari kota Satuhati ini atau memang jiwa kesepian ini kambuh. Semacam suster yang menjenguk pasien untuk memberi obat tiga kali sehari, seorang bocah lelaki setiap harinya menemuiku untuk meminjam pensil, cutter, penghapus, atau peralatan ninjutsu lainnya.

Wajahnya biasa saja, bahkan tidak terlalu tampan. Bisa di bilang standar lah kayak papan setrikaan. (Eh, kalau itu datar yah?) Kulitnya hitam bagai si sinyo yang senyumnya manis sekali dengan gigi putih bertaring (gingsul maksudnya).
Aku yang awalnya biasa saja, lama-kelamaan menjadi tidak biasa melihatnya. Oh iya, namanya Rama. Aku ulangi biar jelas, dia hitam, gingsul, standar, dan... tidak pintar. (duh)

Dan, kebiasaanku kambuh! Aku mulai memikirkan Rama si bocah standar akibat seringnya dia menemuiku. Inikah yang mereka sebut "witing tresno jalaran ora ono liyo?"* Ehh, "jalaran soko kulino?"**

Hingga suatu hari, secara kebetulan aku dipertemukan dalam satu kelompok pelajaran memasak dengannya.

Oke, menu masakan kami adalah sup sosis ayam. Biar gampang gitu bok masaknya.

Dalam kesempatan yang berbahagia itu, aku dan Rama mendapatkan tugas mengupas dan memotong wortel. Rama yang standar ini benar-benar cupu. Ngupas wortel aja ngga bisa. Akhirnya ku ajari dia mengupas wortel. (Biar kata anak pak bos aku akrab sama urusan dapur, karena sejak kecil aku biasa membantu si embak memasak. Jadi urusan beginian gampang lah, udah ga takut sama pisau. Malah pisau yang takut sama aku #lah?!). Hingga kami memotong-motong semua wortelnya, sampai tiba-tiba guru tata boga kami datang.

Ibu guru : "loh, ini di potong bulat-bulat biasa?"

Aku : "iya bu"

Ibu guru : "menurutmu kalau potongannya biasa seperti ini nilai tata bogamu bagus gak?"

Aku terdiam. Mikir.

Aku : "ngga kayaknya bu"

Bu guyu (eehh, bu guru. Salah ngetik beneran males backspace) : "nah, coba kamu lihat kelompok lain. Mereka menghias wortelnya"
Ibu guru pun berlalu.

Aku dan Rama lalu sibuk melihat wortel kelompok lainnya. Aku melihat disana, wortelnya ada yang berbentuk bunga sakura, bintang, saint seiya, beetleborg (untuk 2 bentuk terakhir aku ngawur). Dan aku melihat wortel kami yang standar, sestandar mukanya si Rama.

Kembali aku berfikir. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat bentuk bunga. Hingga aku dan Rama harus memotongi beberapa bagian wortel yang sudah terpotong bulat-bulat itu menjadi bentuk bunga. Sangat melelahkan. Hingga tiba-tiba sesosok benda kecil melayang ke wajahku. Plok! Dan terdengar suara mirip kuntilanak tertawa.

"Hah!", aku kaget.

Ternyata itu potongan wortel yang di lempar oleh si standar Rama. Tawanya yang mirip kuntilanak itu membuatku konyol hingga aku membalasnya dengan melempari potongan wortel milikku. Plok! Potongan wortelku sukses mendarat di rambutnya yang agak lengket. Mungkin sudah di oleskan minyak klentik cap ondel-ondel.

Tidak terima mahkota ondel-ondelnya tersangkuti potongan wortel, Rama pun kembali melempariku. Hingga terjadi perang shuriken wortel antara aku dan Rama. Penuh tawa riang hingga terdengar suara orang berdeham di belakangku. Sontak kami memandang asal suara "ehheem!" itu. Ternyata, bu guru berdiri disana sambil melotot.

Ibu guru : "kalian ini sedang apa?! Sudah menghias wortelnya belum?! Malah makanan di pakai main-mainan!"

Rama : "su, su, ..."

Bu guru : "apa kamu! Malah susu!"

Aku : "itu bu, sudah"

Dilihatnya beberapa wortel kami yang berbentuk bunga dan potongan2 kecil wortel yang berantakan dimana-mana.

Bu guru : "yasudah, lanjutkan pekerjaan kalian! Jangan main-main lagi dengan makanan. Juga bereskan potongan-potongan yang berserakan ini!"

Aku dan Rama : "baik bu"

Ibu gurupun berlalu. Aku dan Rama saling memandang lalu tertawa. Tak lama kami meneruskan pekerjaan kami memotong wortel. Dan kami memasak sup sosis ayam yang tak ku ingat rasanya, namun ku ingat wortelnya.

Setibanya di rumah, anak tuwir 10 tahun ini merasa berbunga-bunga.

"Tuhan, apakah dia yang menjadi cinta pertamaku?", kataku bertanya-tanya.

Tuhan menjawab, "belum nak!".

"Huff, baiklah", jawabku. (Percakapan ini hanyalah khayalan belaka).

Tak lama berselang, aku mendengar gosip-gosip berhembus. Bahwa Rama yang standar itu di "pacok-pacokan" dengan Putri. Putri si manis jembatan ambrol. Hitam manis sama seperti Rama. Kurasa, mereka cocok. Dan aku seperti yang lainnya, ikut memeriahkan acara "pacok-pacokan" Rama dan Putri. Ikutan berteriak, " ihhiiiiirr, Rama love Putriiii..! Suitsuiiiittt!".

Sedikit merasa kecewa, aku, Silvia, gadis berusia 10 tahun, akhirnya kembali serius belajar! Mengingat pula sekarang aku sudah kelas 6 dan sesaat lagi harus masuk SMP.

Hingga akhirnya hari ujian tiba. Ku kerjakan semua soal-soalku tanpa menyontek. Bukan berarti aku bisa semua, tapi beberapa aku kerjakan dengan menghitung kancing. Dan kini saat itu tiba. Saat-saat kami para siswa kelas 6 SD harus menerima hasil ujian Chunin kami. Berdegup kencang hati kami ketika kami menerima amplop berstempel dari pak guru yang mirip pak Raden (kumisnya tak u'uk cyiiin).

Tahu gak? Jantungku copot lihat isinya! Untung sebelum jatuh ke lantai, jantungnya cepat-cepat ku tangkap dan ku kembalikan ke tempatnya.

Aku, Silvia, mendapat peringkat kedua seSDku. Dan selisih nilaiku dengan si peringkat pertama hanya 0,1 point. Ini luar biasa! Ini ajaib! Tuhaaan, ternyata aku cerdaaas!

Ku akhiri masa SDku disini. Ketika ibuku yang cantik bak Mariah Carey datang mengambil raporku. Dan itulah terakhir kalinya aku melihat Rama. Di ujung jalan, bersama ibunya. Memegang rapor, dan di jewer. (duh)

Ternyata si standar Rama benar-benar tidak pintar. Nilainya pasti sangat jelek sampai ibunya harus menjewer telinganya seperti itu.

Mungkin, itu kisah kecilku. Pernah aku merasa suka pada seseorang karena terbiasa dengannya. Walau bukan bocah lelaki tipe ku, tapi aku merasa suka padanya. Iya kan? Ini rasa suka. Bukan cinta!

Tuhaaan, lalu kapan aku merasakannya? Seperti apa itu cinta pertama? Bagaimanakah rasanya cinta pertama? Atau, siapakah cinta pertamaku?

Tuhan menjawab, "sesaat lagi nak! Jangan kemana-mana, stay tuned!"


*witing tresno jalaran ora ono liyo adalah bahasa Jawa yang artinya munculnya rasa suka karena tidak ada yang lain lagi. Ini adalah pelesetan dari istilah Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.

**Jalaran Soko Kulino adalah bahasa Jawa yang artinya karena terbiasa/kebiasaan. Jadi kadang kala kita merasa tertarik pada seseorang bukan karena apa-apanya, tetapi karena kita sudah terbiasa dengannya, karena kita merasa nyaman bersamanya. Itulah makna dari istilah berbahasa Jawa ini. ^^
nitip lapak di mari
ehm sist ehm
skip aja boleh gak sampe waktu yg berkesan
emoticon-Big Grin
Numpang lapak dlu emoticon-Big Grin
Bacany nnti emoticon-Hammer (S)

05. My Destiny

Yow yow, Silvia kecil kini sudah beranjak gede. Gede umurnya doang, tapi badannya tetap bonsai mirip anak kelas 3 SD jaman sekarang. (Tapi aku bukan cebol lho, hanya imut-imut).

Oke, di usiaku yang merangkak 11 tahun, aku menjadi murid SMP. Masih ingat nilai ujianku? (sombong) Jelaaas! Aku berhasil masuk ke SMP negeri paling kaporit di Satuhati. Ehh, favorit deng. Meski dengan peringkat ke 123 dari sekitar 360 siswa (hasil perkalian 40 siswa dengan 6 kelas di dalamnya), aku berhasil masuk di deretan siswa paling intelek di Satuhati. Waaah, nomor urutku cantik yaaa.. Mungkinkah hidupku disini juga akan cantik? Guess?

Oke, langsung ke hari pertamaku sekolah. Di antar ibuku mengendarai mobil sedan kesayangannya, aku ditinggalkan di sekolah baruku dengan pesan, "nanti pulang sekolah sendiri ya, naik angkot. Mami gak jemput. Mau ada arisan ibu-ibu gaul. Naik dulu angkot nomor 10, baru naik nomor 3. Kalau gak tau jalan, tunggu mas Dika, pulang bareng."

Aku melihat mas Dika yang cuek melenggang turun dari mobil sambil menghela nafas. Maklum, baru 1 tahun sejak kembali ke Satuhati dan aku belum terlalu akrab dengan jalanan disini.

Oh iya, aku perkenalkan mas Dika. Dia adalah kakakku yang ke empat. Dialah kakakku yang sebenarnya kembar. Tetapi sayang kembarannya, mas Dira tidak bisa bertahan hidup saat keduanya sakit di usia 1,5 tahun. Mungkin mas Dira mengalah supaya mas Dika tetap bertahan hidup.

Nah sejak saat itu mas Dika ini kayaknya ada agak-agak kurangnya deh. Karena kehilangan sebelah jiwanya kali ya. Anaknya jadi agak lemot, culun, polos, lucu, gendut, dan porno. Gimana gak porno, waktu SD aja aku pernah nemuin buku orang dewasa di lemarinya. Tapi gak seburuk itulah. Dia juga baik, suka beli-beliin jajan orang-orang di sekitarnya (walau dengan uang belanjaan yang diambil dari laci ibu. | apa bedanya!).

Usianya beda 2,5 tahun denganku tapi kami hanya beda 1 tahun ajaran. Alias, sekarang aku kelas 1 dan dia kelas 2 SMP. Oke, sedikit lemot bikin dia beda sekolah denganku. Dia ada di SMP sebelah. Ya SMP terbaik kedua di Satuhati setelah SMP ku. Letaknya persis bersebelahan. Jadi kami berpisah disana. Dia menuju SMPnya dan aku menuju SMPku.

Berjalan aku memasuki sekolah baruku. Konon katanya bangunan sekolahku ini sudah berdiri sejak jaman Belanda. Ya, bentuknya hampir mirip dengan benteng (bukan ben ten jagoan aneh yang bisa berubah jadi 10 macam monster yah). Kokoh, besar, tua dan seram.
Terlihat kerumunan anak-anak baru dengan seragam merah putihnya sedang berkumpul saling mengobrol. Entah apa yang di obrolkannya. Mungkin gosip dari cek&ricek pelopor gosip di Indonesia, atau mungkin obrolan silet yang tajam mengupas tuntas dunia mistis. Tidak satupun wajah yang ku kenal, dan aku melenggang memilih untuk mengelilingi sekolah. Oke, mengelilingi sekolah ini sebenarnya juga modus. Modus untuk mencari lelaki tampan!

Berkeliling aku dari sudut ke sudut, tikungan ke tikungan, tanjakan dan turunan, hingga ke garis finish. Sejauh mata memandang, tidak ada penampakan lelaki tampan. Yang terlihat hanyalah wajah suneo, sinchan, hagemaru, bakabon, bahkan makibao. Mana? Mana tuxedo bertopeng? Mamoru? Atau Shinichi Kudo? Apa mungkin orang pintar disini wajahnya kayak gitu semua ya.

Lesu bercampur lelah aku menuju bangsal untuk mendengar pembagian kelas. Di bangsal aku bertemu salah satu teman SDku, Yani (Wah dia ternyata pintar juga ya, bisa ikutan masuk kesini). Mengobrol sebentar dengan Yani, pembagian kelaspun di mulai. Aku harus berpisah dengan Yani karena Yani masuk kelas 1B, sedangkan aku masuk kelas 1C. Tak satupun makhluk yang ku kenal disini. Terdiam aku di deretan kelas 1C hingga pembagian kelas selesai.

Ternyata banyak juga anak yang merasa belum terpanggil dan datang terlambat, sehingga mereka menemui pak guru yang mengumumkan pembagian kelas. Terlihat sosok cantik dan imut disana, anak yang sangat manis. Melihatnya, aku berdoa semoga dia masuk kelasku. Dan aku kelak bisa berteman dengannya. Doa singkatku di kabulkan, dia berlari menuju gerombolan kelasku. Ahh, leganya hatiku. Walau tidak mendapatkan lelaki tampan, setidaknya aku akan memiliki teman yang manis.

Setibanya ia di gerombolan kelasku, kami tak langsung berkenalan. Karena kami diharuskan menuju ke kelas masing-masing. Duduklah aku di bangku, dan tak lama si anak manis itu muncul di pintu kelasku. Matanya langsung tertuju padaku, dan dia duduk di sebelahku sambil tersenyum manis dia berkata, "hai, aku April".

Aku menjawab, "aku Silvia".

Kami berkenalan disana. Bertanya dari SD mana, rumah dimana, anaknya siapa, hingga jumlah warisan yang akan kami terima. (Ngaco!)

Sayang, rumahnya jauh. Beda arah 180° dengan rumahku.

"Huff~ terpaksa aku harus pulang dengan mas Dika", pikirku.

Akhirnya jam pulang sekolah tiba, dengan lesu aku menuju gerbang sekolah. Menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok gendut yang seharusnya pulang bersamaku. Kulihat dari arah SMPnya.

"Apa dia belum pulang ya?", aku bergumam.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Aku berjalan menuju perhentian angkot nomor 10 di seberang jalan. Lunglai, letih, lesu aku berjalan menunduk sambil membayangkan sesosok pangeran tampan berkuda putih menjemputku disini. Tapi itu hal yang mustahil. Mengingat ini bukan dunia barbie dan bukan jaman kerajaan.

Di tengah lamunanku tentang pangeran tampan, tiba-tiba ada cahaya kemilau tepat di depanku. Sehingga aku yang menunduk dan gontai terpaksa melihat ke arah cahaya itu.

*adegannya di slow motion ya biar yahud*

Sesosok lelaki, tinggi, putih berjalan tepat di depanku. Aku menatap sosoknya dalam-dalam. Hingga terdengar seseorang memanggil namanya, yang waktu itu aku tidak sadar bahwa itu namanya. Ia menengok ke belakang dan wuzzzz~ (masih dalam adegan slow motion dan lagu You are My Destiny by Paul Anka mengalun "jrengjrengjreengg! Destinyyy~ jrengjrengjreengg! You are my desstinyyy~") angin bertiup ke arahku. Mataku, badanku, kakiku, terbang terbawa angin. Yakaliii, gak segitunyaaa.

Mata, badan dan kakiku terasa kaku melihat sosoknya. Mungkin saat itu aku sedang terkena panah asmara sang dewa cinta cupid. Aku terpesona. Ahh, dia sangat tampan! Dan tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Jugijagijugijagijug. (Eh, itu suara kereta api ya).
*masih dalam adegan slow motion*

ada sesuatu yang tidak biasa disini. apa ini? perasaan apa ini?

aku bertanya pada Tuhan dengan setengah terharu, "Tuhaaan, ini kah namanya cinta??"

Tuhan menjawab, "bisa jadi, bisa jadi!"

"Oh ini kah cinta??"

"Bisa jadi"

"Cinta pada jummmpa pertamaa.."

"Malah nyanyi sih? -_-"

"Hehe.."

"Iya nak, bisa jadi"

Seketika hatiku dipenuhi dengan harapan. Harapan akan rasa cinta yang sudah ku nantikan selama 11 tahun sejak aku dilahirkan. Dan aku merasakannya. Ya.. Cinta pertama, sekaligus pada pandangan yang pertama.

06. My First Love

*perhatian. adegan ini dalam keadaan slow motion dan dengan sountrack You are My Destiny by Paul Anka*

Aku yang terpanah dewa asmara langsung jatuh hati pada sang pangeran tampan yang langkahnya terhenti dan kini berdiri di hadapanku. Menghadapku. Memandang ke arahku.

Wajahku memerah. Jantungku berdegup kencang. Sekujur tubuhku kaku. Kepalaku panas. Kemudian, dia berteriak, "hoi!"

*dan adegan slow motion langsung terhenti di iringi dengan suara kaset yang kusut pitanya*

Aku tersadar dari lamunanku. Kepalaku terasa panas karena ternyata matahari yang terik sedang membakar rambutku. Dan teman laki-laki yang memanggilnya dari gerbang sekolah tadi datang menghampiri pangeran tampanku.

"Glek!", aku menelan ludah dan melenggang pergi.

Aku sudah menyeberang jalan untuk menunggu angkot nomor 10 datang. Tapi kulihat pangeran tampanku berjalan bersama 2 teman laki-lakinya. Mereka mengenakan seragam merah putih.

"Ahh, jadi pangeran tampanku anak baru juga?", kataku dalam hati. Kupandangi lagi sosoknya di seberang jalan. Ia melangkah ke arah seharusnya angkot nomor 10 melewati jalan ini. Tanpa sadar kakiku pun ikut melangkah menyusuri jalanan ini sambil ku pandangi pangeranku di seberang jalan. Kecepatan kakiku yang chibi seharusnya tidak secepat kaki panjangnya melangkah. Namun, kini ia bersama 2 temannya menyeberang jalan!

"Aaaargghhh!", teriakku panik dalam hati.

Aku bertanya-tanya ke arah mana ia akan pulang. Jarak diantara kami semakin dekat, mirip pacar tetangga yang jaraknya hanya 5 langkah. Aku masih di belakangnya, seperti penguntit. Tapi lagi-lagi ia membuatku panik sendiri. Kali ini mereka berhenti di sebuah kios buku di pinggir jalan. Melihat-lihat majalah.

"Aduh Tuhaaan, apa lagi ini?", keluhku.

Melihatnya berhenti disana, tidak mungkin aku ikut-ikutan berhenti dengan jarak yang cuma 5 langkah ini. Atau aku harus ikut melihat-lihat majalah juga? Oh, nonono!

Akhirnya, dengan terpaksa aku melewati pangeranku sambil menutup mata. Takut kalau-kalau ketahuan. (tapi, ngapain juga ya?)

Ternyata setelah aku lewat, tak ada satupun diantara mereka yang melihatku. Mereka terlalu sibuk melihat majalah. Aku harap bukan majalah porno yang mereka lihat.

Aku berlalu sambil sesekali menengok ke belakang, hingga jalan yang ku lalui harus berbelok ke kiri. Kini sosoknya tak terlihat.

"Ahhh..", agak kesal aku menggerutu.

Meski masih setengah jalan, aku memutuskan tidak naik angkot, demi mencari tahu kalau-kalau pangeranku yang sudah selesai melihat majalah menyusul di belakangku.

Berjalan pelan aku sambil sesekali menengok ke belakang. Satu meter berlalu. Dua meter berlalu. Tiga meter, empat meter, aku menengok ke belakang sambil terus berjalan tapi tak muncul juga pangeranku. Lima meter, enam meter hingga lima belas meter. Aku makin resah karena ia tak juga muncul. Dan akhirnya aku menyerah. Kupercepat langkahku dan semakin jauh jarak antara aku dan pangeranku berpisah. Tapi sepanjang jalan aku hanya bisa senyam senyum sendiri mirip anak kecil kesurupan setan gundul.

"Yaah, setidaknya besok-besok aku bisa pulang bareng pangeranku sampai di kios buku itu", kataku menenangkan diri.

Aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Dan langsung melompat-lompat di atas kasurku yang penuh dengan bunga. Ku lempari bunga-bunga itu ke atas hingga terjadi hujan bunga sambil tertawa lebar-lebar. Zzzztt, tapi itu adalah aku yang ada di dalam hatiku. Kenyataannya aku hanya tiduran di kasur memeluk guling sambil senyam-senyum sendiri.

Lagi-lagi aku mengobrol dengan Tuhan.

"Tuhan, inikah yang di sebut cinta?"

"Bisa jadi, bisa jadi."

"Membuat hati berdebar-debar?"

"Iyaa, iyaa."

"Membuat aku tersenyum sendiri?"

"Bisa jadi, bisa jadi."

"Membuat aku selalu terbayang wajahnya?"

"Bisa jadi, bisa jadi."

"Inikah cinta pada pandangan pertama?"

"Iyaaa, iyaaa!"

"Ini cinta pertamaku?"

"Seratuuus buat kamuuuu (pakai logat Papua)"

Astaga, Tuhan bisa bahasa Papua juga! Memang Tuhan Maha kuasa. Segalanya ia kuasai. *langsung sholat*

07. Disana!

Pagi yang sangat cerah! Secerah suasana hatiku pagi ini. Setelah semalam tidur nyenyak di temani bantal dan guling, kini Silvia anak yang beranjak gede siap berangkat sekolah! Penuh semangat, berapi-api, terbakar panah asmara dewa cinta, membaraaa, bagai api neraka (hiiiii, syerem!).

Penuh semangat aku kembali di antar ibuku ke sekolah. Seturun dari mobil, angin semilir menerpa ragaku.

*adegan slow motion*

Berjalan penuh percaya diri, dengan penuh harap melihat pangeran tampanku di sekolah ini. Di kanan jalan wajah-wajah makibao melihatku sambil berbisik-bisik. Aku berlalu. Di kiri jalan wajah-wajah hagemaru berteriak "heeuuuyy!" persis seperti ketika hagemaru d panggil di opening acaranya. Aku berlalu sampai aku sampai di gerbang sekolah dan bertemu April. April melotot melihatku.

*adegan slow motion berhenti*

Dengan cepat April mendekatiku dan berbisik, "heh, kancing bajumu kebuka. Benerin dulu!".

"Apaaaaaaaa?!!!", teriakku.

Jadi dari tadi ini yang di bisikkan para makibao. Ahh, kupikir karena aku terlihat cantik hari ini. Untung saja tidak ada pangeran tampanku. Bisa mati kutu aku nanti.

Langsung cepat-cepat kubetulkan kancingku. Masih berpakaian SD, kami berkumpul di bangsal untuk menjalankan MOS. Yess! Ini kesempatanku mencari di kelas mana pangeranku berada. Bangku di tata rapi di bangsal, berjajar, dan terpisah jarak antar kelas. Kelas 1A ada di ujung paling dalam bangsal, di sebelahnya kelas 1B, sebelahnya lagi kelasku, dan seterusnya hingga 1F yang ada di paling dekat jalan masuk bangsal.

Jadi MOS berlangsung sambil aku celingak-celinguk mencari dimana pangeranku. Sejauh mata kulepaskan (matanya lepas?), tak jua ku temukan sosoknya.

"Dimana siiiih?", kataku dalam hati.

Istirahat tiba, aku bergandengan dengan April menuju kantin. Membeli Fanta dingiiin dari kulkas. Dibungkus dong pake plastik, biar bisa di tenteng-tenteng. Sambil beli-beli gorengan buat ganjel perut yang udah mainin musik screamo kesukaan anak alay jaman sekarang.
Usai menyantap gorengan, aku dan April kembali ke bangsal (lagi-lagi sambil gandengan). Sambil nyeruput sisa-sisa fanta, aku menuju bangsal. Dan...

"UHUK!", aku tersedak.

April langsung menepuk punggungku.

"Pis.. pis..", ujarnya sambil menenangkanku.

Ahh, keselek fanta meeen. Keselek minuman bersoda sakit banget tenggorokan.

Oke, kenapa aku tersedak? Jadi... aku melihat pangerankuuu.. (tralalala~ menari di udara).

Ketika aku dan April hendak masuk bangsal, di saat itulah aku melihat pangeranku duduk disana. Di bangku paling dekat jalan masuk bangsal. Dan disana lah ia bercanda riang dengan teman-temannya. Ahhh, surga dunia. Wajahku panas melihatnya, seperti akan meleleh.
April yang melihatku bengong dengan muka merah langsung memanggilku, "Hoi! Sakit banget ya? Ampe merah gitu mukanya".
Aku tersadar dari lamunanku.

"Ah! Iya nih. Sakit banget eh", kataku ngeles.

"Yaudah, istirahat di bangku aja yuk", ajak April.

"Iya yuk", jawabku singkat.

Aku berjalan menuju bangku ku sambil sesekali melirik di kejauhan, ke kelas paling dekat jalan untuk melihat pangeranku.

"Hohohoo, jadi dia ada disana. Di kelas 1F", aku tertawa licik dalam hati.

Dang deng dong! Saatnya pulaaaangg!

Pangeranku yang paling dekat dengan jalan sudah duluan bergegas menuju gerbang sekolah. April ku tinggalkan dan aku buru-buru mengejarnya dengan kaki kecilku. Berharap kali ini aku bisa melihat kemana ia pulang. Keluar dari gerbang terlihat sosoknya berjalan bersama temannya.

"Ahh! Itu dia!", kataku lantang dalam hati. Tapi, langkahku terhenti.

Di antara ratusan bocah-bocah di jalanan, mobil sedan ibuku terparkir di pinggirannya.

"Uhh, sial..", gerutuku.

Pangeranku sudah menjauh, dan ibuku membunyikan klaksonnya, "diin diiin!".

Berjalan lesu aku menuju mobil ibuku. Kini April yang keluar dari gerbang melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya dengan senyuman hampa sambil duduk di kursi mobil sebelah ibuku. Ibuku langsung menggenjot pedal gas dan berjalanlah kami pulang. Dalam perjalanan pulang itu kulihat pangeranku berjalan bersama teman-temannya. Masih di jalan yang sama seperti kemarin, dan lagi-lagi aku kehilangan sosoknya di jalan ini.

"Kecewaaa.. kecewa hatiiiku.. terlukaa kareeena cintaaa..", lagu dangdut diputar di radio mobil.

"Haish!", kumatikan radionya.

"Loh kok dimatiin dek?", tanya ibuku.

"Iya, ga suka lagu dangdut", kataku sambil cemberut.

"Alah alaaah, kamu ini..", Ibuku menggelengkan kepala sambil tetap mengemudi.

Di perjalanan aku terus cemberut hingga bibirku kian maju hingga sepuluh senti.

"Ehh si donal bebek kenapa sih?", kata ibuku.

"Males ah pake di jemput-jemput", jawabku bete.

"Emang kenapa? Kan enak gak panas-panasan, pake AC"

"Ya males aja, besok-besok ga usah jemput deh. Aku pulang sendiri aja naik angkot", kataku.

"Oooh, yaudah. Malah kebeneran. Mami gak usah repot-repot jadinya", ucap ibuku sambil berseri-seri.

Kemudian, sejak itu aku selalu pulang dan pergi ke sekolah naik angkot. Semua ini kulakukan, demiiiii bertemu pangeranku. Pangeran dari 1F!

08. Surprised Gift From God

Hari berganti hari. Kini aku sudah mengenakan seragam SMP. MOS berlalu biasa saja dan kini kami sudah menempati kelas kami masing-masing. Deretan kelasku terpisah di bangunan dekat lapangan dan hanya terdiri dari 4 kelas. Kelas 1C, 1D, 1E, dan 1F! Jadi aku selalu memandang ke ujung lorong kelas ini demi melihat sesosok wajah tampan disana. Kalau beruntung, aku bisa melihatnya.

Tapi, sejak pindah ke kelas ini aku jarang melihatnya. Bahkan pulang pun aku tak melihat sosoknya. Sama sekali.

Hari kesekian, dan masih tak kunjung kulihat sosok pangeranku.

"Aaahh, aku haus Tuhan! Aku.. Aku ingin melihat pangeranku", pintaku pada Tuhan.

Tapi kali ini Tuhan diam, tak menjawabku.

"Huffff~", aku menghela nafas.

Pulang sekolah, aku berjalan sendirian menyusuri jalan pulang. Untungnya aku tidak tersesat dan masih tau arah jalan pulang, kalau nggak kan aku nanti jadi butiran debu. Itu kata si Rumor.

Sejauh mata memandang tak ku lihat batang hidung pangeranku. Hingga tak terasa aku sudah berada di terminal angkot. Dan kini aku naik ke angkot nomor 3 yang sudah hampir penuh, di penuhi ibu-ibu pasar yang bawa tenggok* dan sayur-sayuran. Karena badanku kecil, aku di suruh duduk di bangku belakang supir. Nyempil di antara emak-emak pasar yang berbadan besar.

Tak lama, angkot berjalan membawaku pulang. Satu persatu ibu-ibu pasar turun di perhentiannya. Ahh, lumayan longgar sekarang. Saat aku menikmati kelonggaran tempat duduk ini, aku melihat sosok di pojokan tempat duduk. Paling ujung, laki-laki, menyendiri, dannn.. akhhh! Aku mengedip-ngedipkan mataku. Aku kucek-kucek pakai rinso. Aaahh..!

Itu.. itu.. ituuuuu! Itu pangerankuuuuu!!

"HAHAHAHA", kali ini Tuhan tertawa kencang sekali.

Astaga, jadi Tuhan tadi tidak diam. Tapi, sedang menyiapkan hadiah untukku? Ahh, terima kasih Tuhan..

Masih setengah tidak percaya aku memperhatikannya, itu benar-benar pangerankuuuu!

"Baguuuss, aku bisa selalu pulang bareng dong kalau gini. Wakakak!", tawaku dalam hati.

Tapi kemudian aku pura-pura tidak melihatnya. Sambil menunggu dan mencari tau, dimanakah dia turun.

Ku tunggu, ku tunggu. Tapi dia tak kunjung turun. Heh, sebenarnya dia turun dimana sih? Kulihat lagi sosoknya di pojokan dan mata kami bertemu. (Lah emang bisa jalan-jalan sendiri ya matanya?).

Waduhh, aku langsung pura-pura memperhatikan jalan supaya wajahku yang memerah tidak terdeteksi olehnya. Tak terasa, angkotnya sudah mendekati rumahku dan kini aku harus turun duluan.

"Candilaras pak", kataku pada pak supir.

Candilaras adalah nama perumahan yang terletak di depan rumahku. Aku sengaja turun disana, supaya orang-orang tidak mengetahui aku anak orang mampu yang tinggal di rumah besar seberang jalan.

Turunlah aku dari angkot.

"Haaahh, pangeranku ternyata anak sini jugaaa.. tapi dia turun dimana ya?", kataku sendirian.

Sambil berjalan dari depan perumahan, aku sesekali menengok ke angkot yang sudah berlalu. Barangkali pangeranku turun dari angkot. Dan angkot berhenti, tapi ku lihat yang turun disana ibu-ibu pasar. Angkot melaju lagi dengan kecepatan mirip putri Solo, dan aku menyeberang jalan menuju rumahku. Angkot masih melaju ke kejauhan.

"Jadi pangeranku rumahnya masih kesana lagi ya", ucapku dalam hati.

Masuk ke kamar aku langsung melompat-lompat sambil berteriak, "omigot omigoooott!".

"Apaaaa?", jawab Tuhan.

"Tuhan kenapa sih gak bilang-bilang dulu kalo nyiapin kado spesial kayak giniii?", kataku pada Tuhan.

"Ya kalau bilang-bilang gak surprise dong neeeng", jawab Tuhan.

"Hahaha.. iya iya. Tapi Tuhan, makasiiihh banget yah. Aku sayang sama Tuhan", kataku gembira.

"Sama-sama nak. Itulah tugasKu, membuat kalian semua bersyukur dan berterima kasih padaKu", jawab Tuhan.

"Iya Tuhaaaan", jawabku sambil mencium sajadah bergambar ka'bah. *sholat*


*tenggok istilah dalam bahasa Jawa, yang artinya sebuah keranjang bambu dengan alas persegi sedang atasnya berbentuk bulat besar. Yaaah, biasa yang di pake tukang jamu gendong atau tukang sayur gendong.

[break] 01. Baju Keramat

Ini hari minggu, hari tes IQ di SMPku. Berpakaian bebas rapi, aku berangkat dari rumah pagi-pagi. Mengenakan baju baruku yang warnanya senada dengan sepatuku, oranye. Genjreng yaaaa.

Bajunya sangat kecil bisa di pakai anak kelas 1 SD jaman sekarang. Bayangin sekecil apa badanku saat masih SMP kelas 1.
Back to nature, eh itu sih harvest moon. Back to the story! Jadi aku datang berdandan ala anak SD, mengikuti tes IQ. Tidak ada yang spesial sih, soalnya gak pake telor. Hanya mengikuti tes biasa.

Tak memakan waktu lama, aku pun pulang. Saat-saat pulanglah yang ku tunggu. Yaps, saat menanti koin keberuntungan berpihak padaku. Cling! Maksudnyaaa, pulang ketemu pangeranku nggak. Gituloh.

Akhirnya aku berjalan, lagi-lagi sendirian menuju terminal angkot nomor 3. Bener-bener alergi naik angkot nomor 10 hanya demi ketemu pangeranku. Tapi mungkin aku belum beruntung, sehingga sepanjang jalan aku tidak melihat lubang hidungnya sama sekali hari ini.

Dalam suasana suntuk, sampai juga aku ke terminal angkot. Naiklah aku ke angkot yang masih kosong. Seperti biasa, aku duduk memojok di kursi belakang supir. Satu persatu penumpang memasuki angkot. Hingga hampir penuh.

"Kurang satu penumpang lagi", kata si supir sambil mengatur duduk penumpang.

Tersisa satu tempat duduk di sebelahku, dan itu sangat sempit meeen. Maksa banget lah pak supir ini. Datanglah satu penumpang terakhir, dan pak supir menyuruhku bergeser lagi. Saat itulah aku melihat sang penumpang terakhir naik angkot.

Jengjengjeeengg!! Destinyyyy.. Jengjengjeeeengg!! Destinyyyy.. You're my destinyyyy..!! (Lagu Paul Anka diputar lagi)

What?? Pangeranku! Itu pangeranku!

Dan saat dia melihat tempat duduknya, ia melihatku. Aaaarghh!

Kalang kabut, malu, gundah gulana putra petir, tapi seneng juga sih.

Oke, angkot berangkaaat. Dan tak seperti biasanya, penumpang angkot kali ini tak ada yang turun di rute jarak dekat. Sehingga aku dan pangeranku duduk bersebelahan (baca : bersempit-sempitan) dalam jangka waktu yang cukup lama. Oke, ini rencana Tuhan. Aku yakin Tuhan yang mempersiapkan segala rencana ini. Sepanjang perjalanan aku diam terpaku, terbelenggu, ter..la..lu.. ehh, malah bang haji ikut-ikutan. Aku membisu.

Hingga kini tiba saatnya aku harus turun dari angkot. Aku harus mengucapkan mantera "Candilaras" pada pak supir. Ahhh, bagaimana bau mulutku? Nanti kalau aku buka mulut terlalu lebar jangan-jangan tercium aroma bawang bombay dari mulutku. Suaraku harus yang merdu biar terngiang-ngiang di telinganya, meski semerdu suara Susan. Terlalu sibuk berfikir, angkot hampir melewati perumahan Candilaras dan aku tak kunjung mengucapkan kalimat manteraku. Entah perasaanku atau ini lamunanku, pangeranku sedikit kebingungan melihatku yang tak kunjung mengucapkan kata "Candilaras" ke pak supir. Ia bolak balik melirikku dan perumahan itu. Sampai aku tersadar dan cepat-cepat aku teriak, "Candilaras pak!". Persetanlah dengan bau mulutku yang di hirupnya, atau suaraku yang melengking mirip Susan nyanyi screamo. Berhentilah angkot walau agak maju sedikit. Pangeranku menghela nafas seolah-olah ia merasa lega.

Aku turun tanpa sepatah kata pun sambil sedikit melirik dan membayar angkot. Hahaha.

Sebetulnya kakiku sangat lemas. Yaa mau gimana, namanya juga duduk bersebelahan dengan sang pujaan hati. Kali ini aku tidak menengok ke belakang, karena aku sudah sangat puas sesekali melihat lubang hidungnya di sebelahku tadi. Secara aku chibi dan dia tinggi, duduk bersebelahanpun dia tetap tinggi.

Melompat-lompat ala Charlie Chaplin aku berjalan masuk ke rumahku.

Aku berfikir lagi. Apa pangeranku hafal aku turun dimana ya? Kenapa dia tadi agak bingung waktu aku tak juga mengucapkan kata Candilaras pada pak supir?

Ahh, sudahlah. Yang penting aku sangat beruntung hari ini. Merdekaaa!!

Keesokan harinya..

Bajuku! Baju bersejarah! Rasanya sangat sayang kalau harus di cuci. Nanti bekas keringat pangeranku yang asem-asem ini gak nempel lagi. AnDiLau (antara dilema dan galau) aku ragu-ragu memasukkan bajuku ke tempat baju kotor. Ini tidak kotor, sungguh!
Tak lama si embak datang hendak mengambil cucian.

"Mbak Via, sini bajunya di cuci dulu. Ini udah jam berapa? Ayo cepetan mandi nanti terlambat sekolah lho"

"Aaah, gak usah deh mbaak. Ini nggak kotor koook. Benerann. Suwer tekewer-kewer"

"Ih, mbak Via jorok banget. Ini kan kemarin sudah habis di pakai ke sekolah. Kena debu, bau acem", si embak ngotot.

"Jangan mbak, nggak kotor. Sumpah!"

Terjadilah perebutan kekuasaan atas baju keramat itu. Dan.. Ketika sang Ibunda Ratu datang, maka dialah pemenangnya.

"Ini apa sih?", ibuku datang.

"Ini lho bu, mbak Via jorok. Baju kemarin gak boleh di cuci katanya gak kotor", jelas si embak.

"Ihhh. Udah sini kasih mami", kata ibuku sambil merebut baju keramatku.

"Nih mbak, cuci yang bersih. Lagian kenapa sih ini anak. Tumben-tumbenan banget baju abis di pake gak mau di cuci. Celana jeans aja biasanya sekali pake langsung di cuci", gerutu ibuku sambil menyerahkan bajuku pada si embak.

"Siap bu", jawab si embak sambil berlalu.

"Mbak, bagian sebelah kanan jangan di kucek banget-banget lho!", teriakku pada si embak.

"Udah sana mandi! Hari senin ini. Berangkat sekolah, nanti telat! Upacara harus makan dulu, minum susunya. Belum naik angkot berangkatnya, nanti lama di jalan. Bla bla bla..", ibuku mulai ngomel.

"Iyaaaa ibundaaaaa berliaaaann", jawabku singkat dan langsung masuk ke kamar mandi.

Meski kecewa bajuku di cuci, setelah pakaian itu sudah tersetrika dengan rapi aku kemudian memberi satu tempat di lemariku khusus untuk satu baju bersejarahku itu. Yaaa, baju keramatku.

09. Yes, I Know His Name!

Hari Jumat, saatnya ekstrakurikuler wajib Pramuka! Praja Muda Karana.

"Tepuk pramuuuka!", ucap salah satu senior.

Kami kelas 1 semua langsung menyambutnya dengan tepukan keras "prok prok prok, prok prok prok, prok prok prok prok prok prok prok!".
Seperti biasa, kami harus berkelompok belajar memecahkan sandi, mencari jejak atau bahkan mengumpulkan sampah.

Aku berkelompok dengan teman-teman sekelasku. Tentu ada April bersamaku yang setia menemaniku dimanapun berada.

Ada Novi, Damien (ini nama perempuan, percayalah!), Dian, Ruru, Lela, Bella, Puri, dan Ratna. Kami mendapat tugas masing-masing kali ini. Berbagi tugas terpecah menjadi 5, dan aku harus bersama Novi menjadi pemulung. Alias mengumpulkan sampah. Ya nasiiib.

Saat memulung bersama Novi di lapangan, lagi-lagi kulihat pangeranku ada tidak jauh dari tempatku berada. Aku terdiam dan mataku hanya tertuju pada pangeranku.

Tanpa sadar Novi sudah memperhatikanku yang bengong sambil ileran menatap seorang bocah lelaki.

"Hoi!", teriak Novi mengagetkanku.

"Hoi, eh. Iya, kumpulin sampah", jawabku sambil ngelap iler.

"Kenapa kamu liatin si Fauzi?", kata Novi.

"Hah? Fauzi?", tanyaku bingung.

"Iyaaa, itu cowok yang ada disana itu kan namanya Fauziii", jawab Novi.

Oh iya ya, aku kan belum tau nama pangeranku.

"Oooh, namanya Fauzi toh? Kamu kenal Nov?", tanyaku setengah modus.

"Iyaaa, kenal. Dulu temen SDku", timpal Novi.

"Wah akrab dong Nov?", tanyaku kepo.

"Gak jugaaa sih. Biasa aja. Orangnya emang ganteng sih, eye catching", jawab Novi.

Glek! Aku menelan ludah. Jangan-jangan Novi juga suka sama pangeranku?

"Terus, kamu naksir dia dong Nov?", tanyaku super penasaran.

"Nggak laaah. Bukan tipeku siih", kata Novi sambil nyodorin sampah plastik bekas cilot.

"Ih Nov, jijiklah sampahnya", ujarku.

"Hahahahaha..", Novi menutup ceritanya dengan tertawa.

Baguuusss, Novi tidak suka pangeranku dan sekarang aku tau namanya! Faauuuuzzziii!

Aku merasa melayang-layang ke udara bersama sampah hasil memulung.

Aku sudahi percakapan itu. Aku ingat baik-baik namanya. Fauzi ohhh Fauzi.

Dan saat pulang tiba! Inilah saat yang kunanti. Dimana pangeranku? Dimana Fauzi?

Saat aku mencari sosok Fauzi, saat itulah aku di panggil oleh April.

"Viiiii! Hooooi, Viiiiaaa!", teriaknya.

"Apaan?", kataku.

"Eh, kamu pulang ke Candilaras kan?", tanya April.

"Iya, emang kenapa?", jawabku.

"Kenapa gak bareng Dian aja? Tadi kan aku sekelompok ama dia. Tadi ngobrol-ngobrolin rumah. Nah dia bilang rumahnya di perumahan Candilaras", kata April lagi.

"Eh serius? Mana orangnya sekarang?", tanyaku.

Lumayan kan ada teman pulang bareng. Jadi aku gak kesepian sepanjang perjalanan pulang.

"Tuh.. tuh..", kata April sambil menunjuk Dian.

"Dian! Niiih Silvia nyaa!", teriak April pada Dian.

Dian ternyata tak sendirian, ia bersama Ruru.

Dian menghampiri kami bersama Ruru.

"Heeey! Kenapa gak bilang rumahmu yang besar di depan perumahan itu?", tanya Dian.

"Heehehe.. iya abis gak di tanyain sih..", jawabku sambil melet.

"Yaudah, yuk pulang bareng kita. Ada Ruru juga nih. Tapi Ruru rumahnya masih kesana lagi. Lebih jauh dari tempat kita", kata Dian.

"Hoh, gitu toh. Wah rame nih. Hihihi. Yaudah yuk pulang", kataku mengajak Dian dan Ruru.

Oh iya, April!

"Pril, thanks loh. Hihihi. Kamu pulang sama siapa?", tanyaku pada April.

"Sendiri. Gakpapa kok, udah biasa. Hehehe", jawabnya sambil nyengir.

Berpisahlah aku dengan April dan kini aku bersama sahabat baruku, Dian dan Ruru.

Mendapat sahabat baru membuatku sedikit melupakan pangeranku, Fauzi. Entah dimana dia, aku sudah tidak terlalu terobsesi pulang bersamanya.

Kini aku menikmati perjalanan pulangku bersama sahabat-sahabatku.

10. Janjiku pada Sahabat

Senangnya hatiku pulang bersama sahabat-sahabatku. Dian dan Ruru yang selalu berjalan bersamaku dari SMP sampai terminal angkot. Setiap hari kami selalu menyusuri jalanan ini, sambil bercanda riang, makan es degan, dan tak lupa berbelok ke persewaan buku yang kami lewati. Persewaan buku Godzilla.

Fauzi? Hmm, aku jarang melihatnya. Kalau sedang beruntung aku melihatnya di depan kelas, kadang di lapangan, atau kadang kulihat ia berjalan pulang bersama temannya ke jalan yang lain, yang kata para bakabon itu jalan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan? PSan iya kali. Haha.

Pernah suatu kali ketika aku naik angkot dan duduk di pojok paling belakang, aku melihat Fauzi di bonceng ayahnya. Tapi bonceng di depan dooong! Aku sangat geli melihatnya, sampai-sampai aku tertawa-tawa sendiri di angkot dan di lihat sinis oleh para penghuni angkot lainnya. Mungkin dipikir aku anak kecil gila yang perlu diamankan.

Kulihat sekilas, ayahnya berseragam tentara. Wow, gagah nian pikirku. Tapi kenapa pangeran macam Fauzi harus di bonceng di depan? Padahal motor ayahnya GL-Pro. Dia duduk di tangki macam anak kecil. Semakin geli aku melihat wajah tampannya tersapu angin.
Dan ayahnya menyalip angkot yang ku kendarai, terlihat di jok belakang seorang wanita berkerudung dan sangat cantik.

"Ahh, itukah ibunya?", pikirku.

Ayahnya gagah dan tampan, ibunya juga sangat cantik. Pantas saja Fauzi lahir dengan paras seindah itu. Kiyuuuth sekali.

Apa? Gak tau kiyuth? Ini bahasa Inggris!

Masih belum tau?

Cute! di baca nya apa? Kiyuth kan?


Oke, back to my life. Karena setiap hari aku pulang jalan kaki, kulitku yang sawo matang berubah menjadi sawo busuk. Alias menghitam. Sudah hitam, makin hitam. Di tambah berbagai ekskul yang ku ikuti, yang mengharuskanku panas-panasan hingga aku bermandikan cahaya matahari sore. Wajah yang manis berubah menjadi asem.

Seusai ekskul kadang aku sangat lelah hingga tak mandi dan bahkan tidur dengan masih mengenakan seragam hingga pagi. Sebenarnya faktor malas juga sih.

Masa pubertas datang dan jerawat mulai tumbuh di wajahku yang sangat jelek. Arrghh!

Masa kejayaanku telah habis! Aku menjadi itik buruk rupa saat ini. Tak ada bocah laki-laki yang melirikku. Bahkan teman-teman mas Dika yang dulu berbondong-bondong minta di pacok-pacokan dengan diriku, kini berpaling muka pura-pura tidak melihatku. Okay, I'm totally trashed! Hanya sahabat-sahabatku yang setia menemaniku saat ini.

Komik adalah temanku ketika di rumah. Meski hanya diperbolehkan membaca komik saat hari libur, aku suka diam-diam membawa pulang komik untuk ku baca. Ya, tentunya dari persewaan buku Godzilla. Kadang aku bawa pulang 1-2 komik, sedangkan hari sabtu aku bawa 5 komik ke rumah.

Di persewaan buku Godzilla, aku suka meminjam "cerita hantu di sekolah", "kobochan", "rantaro", "kariagekun", dan kumpulan cerita seram lainnya. Berbanding terbalik dengan Dian yang suka membaca komik-komik cantik. Sedangkan Ruru yang jarang membaca komik, namun sekalinya pinjam dia pinjam komik "Nube" yang ada huruf D nya di bagian sampul. Yang menandakan bahwa bacaan itu untuk dewasa, tapi Ruru berani meminjamnya dan bahkan mas penjaga persewaan mengijinkannya begitu saja sang buku di sewa oleh pelajar SMP?

Di perjalanan pulang, aku tergelitik dengan kenyataan buku Dewasa itu.

"Eh Ru, kamu pinjam komik apaan sih?", kataku.

"Nube. Itu loh cerita guru hantu dan para muridnya", jawab Ruru.

"Tapi kok ada D nya? Bukannya buat orang gede ya? Kan gak boleh di baca anak-anak", timpalku polos.

"Ih, itu tuh ga ada apa-apanya tau. Palingan kadang ada gambar cewek setengah telajang", kata Ruru.

"What?!", ungkapku terkaget-kaget.

"Mending baca komik cantik dehhh", Dian menyela.

"Komik cantik? Emang komiknya bisa dandan?", tanyaku.

"Bukan dandan lagi, tapi bisa operasi plastik!", kata Dian.

"Hah?!", aku semakin bingung.

"Ya nggak laaah. Kalo komik cantik itu lambangnya R. Alias buat Remaja. Pas buat kita-kita. Isinya kisah cinta anak-anak sekolah kayak kita", terang Dian.

"Kisah cinta anak sekolah?", tanyaku penasaran.

"Iyaaah. Kamu ga ada punya cowok yang kamu taksir?", tanya Dian padaku.

"Eh? Cowok yang aku taksir?", jawabku dengan muka memerah.

Seketika aku terbayang wajah Fauzi di kepalaku. Pertemuanku dengannya, dan bahkan saat aku melihatnya di atas tangki motor ayahnya.

"Ciyeeeeee...", ledekan Ruru menyadarkanku.

"Eh apa?", kataku.

"Ciyee mukanya merah-merah keinget siapa tuuuh?", kata Ruru.

"Nggak. Gak keinget siapa-siapa", aku mengelak.

"Hihihi. Via pake malu-malu segala ya sama kita. Kayak penganten bau aja. Eh, penganten baru", timpal Dian.

"Nggak koook. Kalian sendiri gimana?", kataku membela diri.

"Hmm. Kalo aku, suka sama temen satu gerejaku siih", kata Dian.

"Aku sih gak suka sapa-sapa. Orang disini jelek-jelek ah. Lagian aku juga belum tertarik ngomongin cowok", kata Ruru.

"Iiihh.. Ruru gaya bangett..", ledekku.

"Kamu sendiri gimana?", tanya Dian.

"Ehh.. akuuu.. ada deh cowok yang aku sukai", kataku.

"Siapa? Siapa?", tanya Ruru kepo.

"Kasi tau gak yaaaaa?", kataku mengalay.

"Siapa Vi? Anak sekolah kita?", tanya Dian.

"Hmm.. Bisa jadi", jawabku.

"Anak kelas kita?", tanya Ruru.

"Hmm.. Nggak", jawabku lagi.

"Terus siapa dong?", tanya Ruru penasaran.

"Hehe. Nanti deh, kalau sudah waktunya ngomong, aku ngomong ke kalian. Siapa cowok yang aku suka", kataku pada mereka.

"Huuuu.. penonton kecewaaaa.. kembalikan tiket kamiiii..!", kata Ruru.

"Bener gak nih? Janji ya Vi", kata Dian.

"Hmm. Oke, aku janji", kataku sambil kedip-kedip mata setengah kelilipan.

Begitulah janjiku pada sahabatku.
Quote:


Iya om. Maap yak, maklum masi anak baru.
baru belajar nulis. Heheee.
makasi atas keritik dan sarannya. Ditunggu lagi. emoticon-Big Grin
Quote:


Hahaha iya boleh kakaaa.
makasi udah mampir. emoticon-Big Grin