alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/555f31051ee5df047f8b4568/a-good-ending

Index

Diubah oleh rojopurwo
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Ghost Story

Sejak kedatanganya di rumah ini aku sudah mencium masalah. Yah, bau badan juga sih. Aku yakin orang ini minimal sudah tiga hari tak menyentuh air. Berpakaian hitam lusuh, celana hitam gombrong dan ikat kepala yang lagi -lagi berwarna hitam. Rambut gondrong acak- acakan dan jenggot bergelantungan bebas dari janggutnya semakin mengesahkan penilaianku bahwa orang ini berpredikat sebagai dukun.

Hey, bukanya aku suka menilai orang dari wujud fisiknya loh ya, bahkan buatku wujud fisik tidak berarti apapun. Aku tidak keberatan jika ternyata diluar sana ada seorang dukun yang berpenampilan perlente, berpakaian jas dan aroma parfum tercium 10 meter dari tubuhnya, sungguh. Cuma dari keadaanku sekarang, aku sudah menduga kejadian seperti ini cepat atau lambat akan terjadi, hanya tinggal soal waktu.

……………………………………………………………………………………………

Semua orang menyukai cerita, novel, film, gosip artis artis yang tiap hari menghiasi layar kaca kita, hingga cerita pengantar tidur yang sering kita dengar ketika kita masih kecil. Hidup manusia itu sendiri sebenarnya adalah sebuah cerita yang berawal dari lahirnya seseorang di dunia dan berakhir pada saat dia mati. Sayangnya pernyataan diatas tidak berlaku untukku. Kisahku tidak berakhir dengan kematian, atau lebih tepatnya kisahku baru dimulai ketika rohku meninggalkan ragaku terkubur dalam sebuah peti mati berukuran 190 x 50 cm. Atau itulah yang aku yakini, karena aku bahkan tidak bisa mengingat masa ketika aku masih hidup atau bagaimana aku mati.

Aku tinggal (atau lebih tepatnya "menghantui") sebuah rumah mungil yang terletak agak terpencil di pinggiran kota sejak 5 tahun? 10 tahun? entah sudah berapa lama. Yang jelas jauh lebih lama dari orang orang yang silih berganti tinggal disini. Pengalamanku tinggal dengan manusia tidak terlalu buruk sebenarnya. Mereka yang dapat merasakan keberadaanku kebanyakan tidak perlu berpikir dua kali untuk segera angkat kaki dari rumah ini. Yah, kecuali pasangan muda ini yang baru pindah ke rumah ini sejak 2 minggu yang lalu. Kecuali rasa takut, aku menduga pasangan ini punya masalah dengan privasi hihihi.

……………………………………………………………………………………………

"Mbah tidak bisa menjanjikan apapun nak Wahyu," kata dukun tersrbut sambil menghembuskan asap rokoknya. "Semalam setelah mbah terawang, mbah melihat kalau hantu ini sudah terikat dengan rumah ini. Biasanya hantu yang seperti ini agak susah untuk diusir."
"Tapi kami sudah mengontrak rumah ini untuk 2 tahun mbah," kata Wahyu. "Terus terang kalau harus pindah, kami merasa agak kesulitan."
"Mbah akan kembali kemari 2 malam lagi, menurut perhitungan weton kalian, mbah rasa itulah saat yang paling tepat. Kalau begitu mbah pamit dulu" kata dukun tersebut dan meninggalkan rumah.

Benar kan apa kataku tadi, dukun berarti masalah. 2 hari lagi aku akan menghadapi konfrontasi terbesar dalam hidupku sebagai hantu. Kalau begitu akan kumanfaatkan dua hari ini untuk membuat hidup keluarga Wahyu bagai di neraka hihihi.
Diubah oleh rojopurwo
Chapter 1


Aku duduk di sudut tempat tidur dimana aku biasa menghabiskan waktuku ketika di kamar, akhir-akhir ini petugas baik kepadaku, dia memberikanku buku-buku untuk aku baca. Aku lupa kapan pertama kali aku mulai tinggal di tempat ini. Kamar berukuran 4x2 meter, dengan tempat tidur cukup untuk 1 orang, seprei putih yang warnanya mulai menguning namun tetap bersih, satu set meja dan kursi yang tidak baru namun masih baik kondisinya. Di meja inilah aku biasa membaca buku-bukuku.

Entah kenapa, aku mulai sering sakit kepala, namun orang-orang nampak senang saat melihatku kesakitan. Mereka tak bisa diam, dan terus memaksaku untuk terus berbicara. Petugas disini memang bermacam-macam, ada yang baik, tapi tak sedikit yang suka marah-marah.

Sering aku merasa jenuh dengan tempat ini, aku mengeluh kepada petugas yang biasa menemaniku, aku bosan, aku ingin pulang. Petugas itu adalah seorang ibu paruh baya, dia sangat baik kepadaku. Ketika aku bertanya, dia memelukku dan mengusap rambutku dia menatapku, matanya berkaca-kaca. Dia bilang aku akan segera pulang, walaupun aku tak tahu sebenarnya kemana aku harus pulang.

Aku tak banyak mengenal orang di tempat ini, hanya beberapa kenalan yang biasa aku temui saat diruang TV atau saat bermain-main di lapangan. Aku tak bisa banyak mengenal teman-temanku, terkadang mereka berteriak-teriak marah memaki satu sama lain, bahkan tak jarang petugas ikut kesal mendengar teriakan mereka. Aku benar-benar bosan, aku ketakutan, aku harap hidupku akan segera berubah.

Hari ini aku tak diijinkan bermain dilapangan, petugas bilang, setelah makan siang ia akan menemuiku lagi. Aku masih duduk disudut tempat tidur bersandar di dinding saat petugas yang baik kembali membuka pintu kamarku, dia mengajakku keluar, katanya ada seseorang yang ingin menemuiku. Kami berjalan keluar gedung melewati lapangan tempat biasa aku bermain menuju gedung lainya. Kemudian kami melewati taman kecil dengan plang besar bertuliskan "Panti Rehabilitasi Mental Muguet". Menuju sebuah bangunan dimana dari bangunan itu aku bisa memandang keluar pintu gerbang. Memasuki pintu ganda menuju sebuah lorong dengan beberapa pintu lainya, petugas membukakan salah satu pintu dan mempersilahkanku masuk. Beberapa orang sudah berada diruangan itu saat aku masuk, mereka tersenyum memandangku, dan seorang wanita yang tampak seumuran denganku menyebut sebuah nama dan memelukku dengan erat. Nama yang biasa orang-orang sebutkan ketika memanggilku. Mereka memanggilku dengan nama Laila.
Diubah oleh briarroze

Harvesting Fear

Little miss Muffet
Sat on a tuffet
Eating of curds and whey
Along came a spider
Who sat on beside her
And frightened miss Muffet away



"Krieeeeek....." lagi lagi pintu dapur berderak, terdengar sangat nyaring di gendang telinganya.
"Ah mungkin hanya angin" pikirnya menenangkan diri.
Kembali ia tenggelam di depan layar komputernya, mengerjakan novel yang sedang ditulisnya. Editornya di Jakarta berkeras agar ia menyelesaikan tulisanya sebelum akhir minggu ini.

Berkali kali Amira, istri Wahyu menengok jam, gelisah menunggu suaminya pulang. Sebenarnya Wahyu sendiri tidak tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Tapi apa daya, jatah cuti yang diberikan oleh kantornya telah habis. Lagipula proyek yang sedang dikerjakanya membuatnya tidak bisa meninggalkan kantor dalam waktu yang lama.

"Mas, nanti pulang jam berapa?"
"Maaf Mir, aku masih harus menjamu tamu dari Jakarta, aku usahain pulang sebelum jam delapan deh"
"Bener ya mas. Adik tunggu... jaga kesehatan"
Begitulah percakapan mereka tadi di telepon, tapi sudah hampir jam sembilan Wahyu belum juga pulang. Amira kembali menimang nimang hpnya dengan cemas. Ia mengingat hal hal aneh yang terjadi di rumahnya beberapa hari ini. Dari raut wajahnya terlihat jelas, sendirian di rumah yang berhantu sama sekali bukan rencana favoritnya untuk menghabiskan malam.

"Tok... tok... tok..." terdengar suara ketokan di pintu depan. Hampir saja Amira terloncat dari kursi yang sedang didudukinya.
"Akhirnya mas Wahyu pulang... " pikirnya dalam hati.
Bergegas Amira membuka pintu depan untuk menyambut suaminya. Tapi ada yang aneh... dia tidak mendengar suara motor memasuki halaman tadi. Perlahan jantungnya mulai berdegup semakin kencang. Kemudian Amira mengintip dari balik gorden, tapi ia tidak menemukan siapapun di sana.

"Mas... Mas Wahyu... " tidak terdengar suara apapun selain suaranya sendiri.
"Apa aku tadi salah dengar?"
"Ah nggak mungkin, tadi jelas jelas ada suara orang mengetok pintu kok"
Akhirnya ia berbalik hendak menuju ke depan komputernya lagi.
"Tok... tok… tok…" kembali terdengar suara itu. Persis di pintu yang kini berada di belakangnya. Agak lebih keras dan lambat dari ketokan yang pertama. Rasa histeris mulai merayapi tulang punggung Amira. Bulu kuduknya meremang, hawa ruangan itu serasa turun beberapa derajat.

"Mas…" suara Amira pecah, dinding pertahanannya mulai runtuh. Selama ini ia hanya berpura pura tegar di hadapan suaminya ketika teror demi teror mereka hadapi. Kemarin setiap kali Amira merasa ketakutan, Wahyu selalu ada untuk melindunginya, selalu tahu cara untuk menenangkanya. Tapi sayangnya malam ini ia harus menghadapinya seorang diri.

Perlahan lahan Amira berbalik dan membuka pintu rumahnya. Bibirnya membaca segala macam doa yang bisa diingatnya. Namun tidak ada seorangpun disana. Sungguh ia berharap ini hanya lelucon kejam dari suaminya. Atau anak anak kampung sebelah yang iseng ke rumahnya untuk mencuri mangga. Dari kejauhan hanya terdengar suara jangkrik dan kodok bersahutan. Halaman rumahnya benar benar lengang. Ia merutuki kebodohanya yang menyetujui untuk tinggal di rumah yang terpencil itu.

"Krieeeeeek..…………Bam………" kali ini pintu dapur berdebam seperti ada yang membantingnya keras keras dan bersamaan dengan itu listrik rumah mereka tiba tiba padam. Kali ini Amira sudah tidak dapt membendung tangisnya lagi. Badanya gemetar, dan lututnya serasa meleleh. Dalam kegelapan Amira meraba raba mencari flashlight yang seingatnya ia taruh di laci buffet. Dalam keadaan panik ia menarik seluruh laci buffet itu keluar. Sayang flashlight sialan itu tidak berada disana. Tapi ia menemukan lilin dan korek api.

Dengan gemetar, ia menyalakan lilin itu dalam beberapa kali percobaan. Dan saat itulah Amira menemukanku, sedang duduk dengan manis di salah satu sofa kesayanganya, sedang mencoba memberinya senyuman paling manis yang aku bisa atas usahanya yang menyedihkan. Well, itu bila tengkorak bisa tersenyum.

"aaaaaaaaaaahhhhh......."
Diubah oleh rojopurwo
Sepertinya ada yang aneh wkwkwk
Ah sutralah...
Diubah oleh rojopurwo
temenya emak2 yg suka nonton sinetron nih... emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)


emoticon-Bingung (S) emoticon-Bingung (S) terus aku piye kih --a
Diubah oleh briarroze
Quote:


Kan ane nemenin sis wkwkwk
Kasian sendirian...
Tapi serius kalo ente baca dgn cermat ada yg aneh bener... Tapi udah terlanjur ke post sih emoticon-Stick Out Tongue
Edit : iya yak... Ceritanya indonesia bgt wkwkwk
Bentar lagi ada suster keramas jgn2
Diubah oleh rojopurwo
Quote:


bacanya enggak konseen, nanti baca lagi deeeh,,,
disini para bapak2 lg pada ngomongin akik... emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)
ini aku mau di ajak keluar buat cari batu akik cobaaa huhuhuhu... emoticon-Cape d... emoticon-Cape d...
wkwkwkwkwk
Diubah oleh briarroze
Quote:

e buset dah wkwkwk
Hobynya akik ternyata emoticon-Big Grin
Ane nitip akik anti miskin sis kalo ada emoticon-Stick Out Tongue
Quote:


nggak hobi siih... tapi biar kekinian aja mngkin... wkwkkwkw
aku mau yg anti tua aja kalo adaaa... emoticon-Malu (S)


udah pura2 nguap niih gaaan.... kirain mau dibattalin berburu akikny... trnyt cuman di tunda besook.... emoticon-Cape d... (S) emoticon-Cape d... (S)

huhuhuhu
Ini cerita basic.a pa ya gan??
Gendre.a jg..
Ko jd bingung ya gw baca.a..
Mna alur.a maju mundur cantik lg emoticon-Hammer (S)
Klo bisa prolog.a diperjelas gan biar lbh enak buat yg baca..
Trus jg ko gw ngerasa pov.a setan ya..
Akh sutralah..
Mngkin perasaan gw ajah..
Tp tp tuh klo bner kren kan ya..
2015 setan ngaskus.. emoticon-Big Grin
Quote:


Basic itu apanya ya? --a
Kalo prolog itu kata pengantar itu kan? emoticon-Bingung
Sebenernya kita bikin cerita iseng aja gan, buat seneng2 aja
2 pov 2 penulis yng dua duanya juga pertama kali ini coba2 nulis emoticon-Ngakak (S)
Jadi ganti2an gitu, ntar dua karakter ini juga nyambung kok,
Kalo soal genre dan plot kita emang ga tentuin, biar surprise aja cerita ini mau dibawa kemana emoticon-Ngakak (S)
makasih udah mampir emoticon-Big Grin
Diubah oleh rojopurwo
Quote:

Basic.a true story kah atau fiksi kah..
Gk dijelasin di awal gan..
Kamsud.a biar pembaca lbh mudah memahami cerita ente dri awall gtuhh..
Iya kata pengantar.a blum jelas diawal.. Itu prolog bukan bahasa.a.. Akh gw bingung emoticon-Hammer (S)
Poko.a inti.a itu lah..
Okeh ditunggu kelanjutan.a gan..
N slamat menulis emoticon-Metal

Welcom tu the jungle..(apalah ini emoticon-Nohope )
Quote:


ya true sto... Eh fiksi lah gan emoticon-Ngakak (S)
Masa ane hantu beneran emoticon-Ngakak (S)
Ok ntar ane pikirin deh gimana kata pengantarnya... emoticon-Big Grin
Chapter II

“Dia belum siap untuk dimintai keterangan, ingatanya belum benar-benar pulih, bagaimana bisa polisi akan membawanya?”

“Owh Tuhan… malang sekali anak ini… Setelah kematian ibunya pun dia harus mengalami hal semacam ini..”

“Karena itulah, dia harus segera mengingat apa yang terjadi lalu memberikan keterangan yg jelas agar bisa keluar dari tempat ini dan bebas dari tuduhan pembunuhan. Dia tidak gila, jadi dia bisa saja menjadi tersangka dalam kematian ibunya.”

“Itu tidak mungkin, beberapa bulan ini aku sudah cukup mengenalnya, membunuh lalat saja dia tidak mampu, apa lagi membunuh ibunya. Bantulah dia detektif, aku yakin dokter pun sependapat denganku…”

“Walaupun kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, menurutku anak ini anak yang baik, perasaan dinginya muncul karena ibunya, dia tidak gila, kondisi psikisnya memang sedikit berbeda dengan gadis seumuranya.”

“dari orang-orang yang tinggal disekitar rumahnya, dia tak pernah dibawa ibunya keluar rumah,bahkan pengantar susu yang setiap pagi mengantarkan susu kerumahnya tidak mengetahui ada seorang gadis yang tinggal bersama seorang wanita kurang waras dirumah itu.”

“dia hanyalah gadis polos yang seharusnya menikmati masa-masa remajanya bersama teman-temanya…”


Kepalaku terasa berat, mataku masih sulit dibuka, namun suara orang-orang yang berbisik terdengar jelas di telingaku,aku kira meraka berjarak tak lebih dari 5 meter dari tempatku terbaring. itu adalah suara petugas, seorang yang biasa mengenakan jubah putih dan biasa dipanggil dengan sebutan dokter. Entah di hari apa tentunya hari ini dia selalu rutin membawaku untuk diperiksa, dan satu lagi suara dari seorang pria yang akhir-akhir ini sering mengunjungiku, dia biasa mengenakan setelan rapi yang selalu nampak baru, namun rambutnya sedikit acak-acakan tiap kali berkunjung. yang sangat menyebalkan adalah dia ini lelaki yang sedikit cerewet. Tatapanya dingin, sering tersenyum namun terlihat sekali sangat dipaksakan.

Aku mencoba membuka mataku lagi, bayangan mereka bertiga mulai nampak, sedang berdiri dan masih asik mebicarakan sesuatu. Suara mereka tiba-tiba menghilang, dan paku besar seperti ditancapkan berulang kali kekepalaku, rasa sakit yang amat sangat di seluruh kepalaku. Aku sudah tak tahan lagi, erangan kesakitan keluar dari mulutku.

“Aaaaaaaaaargh……….!!!! Saakiiiittt….!!!”


Ibu memegang pisau yang tertancap diperutnya, cairan merah membasahi lantai dimana ibu berbaring ditengah-tengah gambar pentagram yang aku buat dihari sebelumnya. ibu bilang aku anak baik, karena itu ibu melakukan pengorbanan untuk membebaskan ku dari kutukan. Ibu berpesan agar keesokan harinya aku bisa membereskan semuanya sendiri, membersihkan mayat ibu, dan menguburnya dihalaman belakang. Aku mengambil pisau dari tangan ibu, saat akan pergi kedapur untuk membersihkan tempat itu, cairan merah yang keluar dari perut ibu membuatku terpeleset, kepalaku terbentur keras di lantai.

Sakit di kepalaku mulai mereda, orang-orang sudah berkumpul mengelilingiku penglihatanku kembali fokus. Petugas yang baik memegang erat tanganku, wajahnya tampak cemas, namun penuh harap. Orang-orang tersenyum melihat aku kembali sadar. Dan seperti biasanya, dokter menuntunku untuk menceritakan sesuatu.

***


Petugas menuntunku keluar ruangan, aku sedikit kurang nyaman di ruangan itu. aku menjawab banyak sekali pertanyaan, mereka bilang ibu mati. Ibu adalah anggota dari sekte ilmu hitam. Aku tak terlalu mengerti dengan apa yang mereka katakan. aku hanya bisa diam dan tahu betul bahwa ibu pergi demi aku.

“akhirnya kau bisa pulang laila…” mata ibu petugas berkaca-kaca, badanya yang wangi membungkus tubuhku, rambutnya halus terasa ketika menyentuh pipiku.

“benarkah… bisakah aku pulang ketempatmu??” ibu petugas sangat baik, walaupun aku belum mengenalnya lama, aku ingin bersamanya, karena selama ini dia yang menemaniku, dan kata pria berjas rapi bilang aku tidak lagi bisa kembali kerumahku yang dulu.

“Kau bisa main sesekali waktu, aku sangat senang jika kau mau tinggal ditempatku, tapi adik dan ayahmu menunggumu untuk bergabung dengan mereka dirumah kalian yang nyaman laila.” Senyumnya mengembang, rasa senang atas kebebasanku dirasakanya juga.

Diubah oleh briarroze
msh ada yg perlu di edit... bsok aja yak... emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Wkwkwk... Maaf baru paham...
Tenang aja sis, we start slow
Journey just begin emoticon-Wink
Diubah oleh rojopurwo
Quote:


okeeeh... siiiaaap.... emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool

Harvesting Fear II

Code:
Dibawah sinar bulan keperakan, sesosok gadis berpakaian gelap sedang asik bermain - main di pinggir danau, kakinya terendam sebatas lutut. Aku mendatanginya tanpa bersuara, mengendap – endap seperti seekor harimau.  Tapi ketika aku sampai di batas pepohonan gadis itu tiba – tiba menoleh.

“Hey, kemarilah aku sudah lama menunggumu” katanya sambil tersenyum.

“Siapa namamu gadis kecil? Tempat apa ini?” kataku dalam suara yang menggeram dalam, cukup untuk membuat nyali laki – laki paling jantanpun ciut. Tulang – tulang rusukku berkeratakan ketika aku mendekatinya.

“Kemarilah… ” ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun, tanganya terjulur mengundangku untuk mengikutinya masuk ke danau. Aku berhenti beberapa meter darinya sambil menelengkan kepala, mencurigai adanya perangkap. Lalu sambil menelengkan kepala gadis itu berbisik lirih “Samael…”

“Apa?” bukan namanya yang membuat aku kaget, tapi cara dia mengucapkannya menimbulkan desir dingin di tulang punggungku, seolah – olah jantungku bisa kembali berdetak. Aura penuh kekuasaan terpancar dari dirinya. Entah jin, roh, hantu atau entah apapun itu yang jelas gadis itu bukan manusia biasa.

“Mulai hari ini kau kuberi nama Samael”


=============================================================================

Benar – benar absurd. Aku terjaga dari mimpiku ketika matahari sudah hampir terbenam. Masih tersisa kengerian yang ditimbulkan oleh mimpi yang baru saja aku alami. Sebuah nama adalah sebuah pemberian yang sangat aneh. Maksudku kau tidak akan pernah berjalan – jalan dan menamai orang yang kau temui semaumu tanpa dianggap gila kan? Biasanya bila dilakukan dengan ritual yang benar, dengan memberi kami (makhluk halus) sebuah nama, orang yang memberikan nama tersebut akan memiliki kekuasaan penuh atas roh kami. Membelenggu jiwa kami dalam dalam tawanan kemauanya. Tapi aku tak merasakan ikatan apapun, itulah anehnya.

Ah sudahlah, masih ada masalah lain yang lebih mendesak. Perlahan – lahan aku meninggalkan kerangka manusia yang selama ini kupinjam untuk menaungi rohku.

Wujud astralku bersifat ghaib bagi mata manusia, kecuali bagi beberapa orang yang memiliki kemampuan batin yang tinggi. Beberapa hewan seperti kucing, anjing dan kuda juga bisa merasakan kehadiranku. Dalam wujud ini aku lebih leluasa menggunakan kekuatanku, tapi sisi jelek dari wujud ini adalah sinar matahari bisa melemahkanku dan aku akan membutuhkan usaha extra untuk mempengaruhi benda - benda yang bersifat fisik. Itulah sebabnya aku lebih suka bergentayangan dengan meminjam tulang – belulang manusia yang kucuri dari kuburan setempat. Yah, lagipula aku yakin tulang – tulang itu tidak akan keberatan meninggalkan lubang pengap di bawah sana.

Ah, mumpung aku sedang baik hati kuberi kau beberapa tips untuk memilih tubuh fisik yang akan kau pakai jika kau hantu.

Pertama, jangan pernah sekali – sekali masuk kedalam tubuh manusia hidup. Dua pikiran dalam satu tubuh itu benar – benar mimpi buruk. Hanya hantu yang benar – benar kurang waras yang mau merasuki manusia hidup. Aku masih ingat nasib temanku yang melakukan hal itu, pertarungan mental antara dia dan pemilik tubuh yang dirasukinya tersebut benar – benar merusak keduanya. Dan ketika pengusir hantu datang roh keduanya sudah sedemikian rusak hingga tidak dapat diselamatkan. Keduanya berakhir gila. Hiii… membayangkanya saja aku ngeri.

Kedua, jika kau memilih untuk mendiami mayat manusia (atau seperti aku yang merasuki tulang belulang manusia), pilihlah yang sudah meninggal antara 10 – 15 tahun yang lalu, dan jangan pernah memilih mayat baru kecuali kau tidak keberatan ditemani belatung – belatung yang menggerogoti dagingmu saat kau bergentayangan. Percayalah, sama sekali tidak elegan.

Ketiga, benda mati. Sebenarnya konsepnya sama saja sih dengan merasuki mayat. Benda - benda mati yang memiliki hubungan yang kuat dengan pemiliknya sangat mudah disusupi. Seperti boneka misalnya. Ada pula beberapa orang yang memang dengan sengaja memerangkap jin atau makhluk halus lainya dalam benda – benda tertentu agar memiliki efek supernatural khusus. Bisa dalam keris, cincin, atau kalau kalian ingat Aladin dalam kisah seribu satu malam ia memerangkap jin dalam karpet. Bah, kalau menurutku perbudakan tetap saja perbudakan tak peduli korbanya manusia atau makhluk halus.

Sebenarnya masih banyak sih tips – tips lain dalam dunia perhantuan yang aku tahu sih. Tapi lain waktu saja ya, kau tahu sendiri kan aku hantu yang supersibuk. Wahyu dan istrinya telah pergi mengungsi ke rumah kedua orang tua Wahyu untuk sementara waktu. Tapi aku bisa menjamin, Amira akan selalu mengenangku sepanjang sisa hidupnya. Bukan berarti aku sudah menang loh ya, malam ini adalah malam yang dijanjikan oleh dukun sakti yang disewa oleh Wahyu untuk datang mengusirku.

Dan benar saja, sementara aku lengah barusan, tiba - tiba sebuah energi supernatural memasuki daerah kekuasaanku. Kalau saja aku masih keasikan bercerita dengan kalian hampir saja energi atau apapun itu tak terdeteksi olehku. Energi yang baru saja aku rasakan telah sampai di halaman rumah, bergerak perlahan seperti menimbang – nimbang untuk terus masuk ke dalam rumah. Hmmm… sepertinya aku tahu apa ini. Energi itu adalah mata gaib, energi yang dikirimkan oleh orang – orang berkemampuan khusus untuk memata – matai keberadaan makhluk gaib seperti aku.

Aku mendecakan lidah tidak sabar, dan bahkan aku tidak perlu repot – repot menyembunyikan diri. Bagiku urusan ini lebih cepat selesai lebih baik. Aku ingin segera bebas dari urusan ini. Maka yang kulakukan berikutnya adalah hal yang paling keren yang biasanya dilakukan manusia abad ini untuk memulai konfrontasi. Aku keluar menembus pintu depan dan mengacungkan jari tengahku ke arah mata gaib tersebut. Well, kuharap dukun sakti itu tidak terlalu ketinggalan jaman untuk tahu artinya. Sepertinya aku tidak salah duga, setelah melihatku mata gaib itu perlahan memudar seperti asap. Sebagai gantinya dua sosok lain memasuki pekarangan rumah. Dua orang itu adalah Wahyu dan si dukun.

Setelah jarak kami tinggal 10 meter, mereka berdua berhenti. Dukun itu masih berpakaian hitam yang sama sejak aku terakhir melihatnya tapi kali ini dia membawa sebatang tongkat berwarna gelap dengan ukiran kepala ular di bagian atasnya. Wahyu membawa sebuah tas yang entah apa isinya. Wajah dukun itu terlihat tegang. Kami berhadapan dengan mentalitas sepasang cowboy yang akan menentukan hidup dan mati dengan adu tembak.

“Kau kuberi kesempatan yang terakhir untuk segera hengkang dari tempat ini, kembali ke alammu sekarang juga atau kau akan kuhancurkan. Dunia ini tempat bagi mereka yang masih hidup. Urusanmu disini sudah selesai”

“Kau yang tak punya urusan disini Pak Tua, apa hakmu mencampuri kehidupanku?” aku menggeram penuh kemarahan. Aku sangat tidak suka diingatkan kalau aku adalah sisa – sisa dari kehidupan, apalagi oleh orang asing.

“Itu jawabanmu? Aku sudah memperhatikanmu sejak bertahun – tahun yang lalu. Keberadaanmu disini sudah meresahkan orang – orang yang hidup di sekitarmu. Sebagai orang yang memiliki ilmu, sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengatasi masalah ini. With great power come great responsibility” Ooooh my Goood… aku shock. Dukun ini mengutip kata – kata di film Spiderman, lengkap dengan bahasa inggrisnya pula. Tampaknya dia benar – benar tidak terlalu ketinggalan jaman. Yah, setidaknya masih ada harapan untuknya.

“Sekali lagi pergi…”, lalu ia menghentakkan ujung tongkatnya ketanah, sebentuk energi menyeruak keluar dari tongkat itu seperti kabut dan menyelimuti mereka berdua. “…atau kau akan menyesal”.

“Ini adalah tempatku, kau yang akan menyesal telah berani menginjakkan kaki di tempat ini” sambil berkata, aku mengumpulkan energiku di telapak tangan kananku hingga berbentuk bola api, siap melontarkanya ke arah mereka berdua.

Kali ini dukun tersebut mengacungkan tongkatnya ke arah langit dan beberapa detik kemudian sebentuk sulur – sulur gelap berbentuk bayangan keluar dari kepala tongkatnya melesat menuju ke arahku. Aku melompat menghindar ke kiri dan melontarkan serangan balasan ke arah mereka berdua.

“Baaaammmmm….!!!” bola apiku membentur dinding kabut. Kabut itu terpencar beberapa saat sebelum kemudian kembali menutup. Sementara itu, sulur – sulur itu masih saja mengejarku, seperti peluru kendali. Sambil bersalto ke belakang aku menembakkan bola api lagi ke arah sulur itu. Yess… berhasil, dengan apiku aku berhasil membakarnya.

Tak tinggal diam sementara aku berjumpalitan kesana kemari, dukun itu komat kamit membaca mantra. Ah sial, harusnya aku tahu, sulur – sulur itu cuma pengalih perhatian. Serangan yang sesungguhnya akan segera datang. Tak berapa lama dari arah langit sebentuk meteor api jatuh ke halaman tepat ke arah posisiku berada. Untungnya aku sadar lebih cepat dan pergi menghindar. “Duaaaaarrrr…!!!”.

Dari tumbukan meteor itu dengan tanah terbentuk lubang yang berbau hangus dan belerang. Tak terbayangkan akibatnya bila meteor itu mengenaiku, aku yakin rohku akan langsung remuk. Untungnya sebagai hantu aku tidak akan kehabisan nafas setelah sekian banyak manuver yang aku lakukan. Setelah beberapa saat pulih dari keterkejutanku, aku tak membuang – buang waktu untuk bersantai. Dari seranganku yang pertama aku tahu kelemahan dinding kabut tadi. Jeda beberapa detik sebelum kabut kembali merapat.

Jadi kali ini aku mempersiapkan dua bola api di tangan kanan kiriku dan bersiap menyerang. Dengan gerakan yang cukup cepat untuk ukuran manusia aku melemparkan bola api di tangan kiriku dan melompat kedepan untuk serangan kombinasi jarak dekat dengan tangan kanan. Sesuai rencanaku, dinding kabut itu terpencar setelah serangan pertama, aku bersiap untuk serangan susulan dengan tangan kanan……..

“Aaaaahhkk….” tiba – tiba sesosok lengan yang luar biasa besar mencengkeram leherku dari arah belakang. Aku meronta dan menendang kian kemari. Tapi tangan kokoh itu tetap tak bergeming sedikitpun. “Lepaskan aku… “.

“Hamba menghadap untuk melayanimu tuan” kata makhluk itu. Dari bau belerang yang ditimbulkan kedatanganya aku bisa menduga makhluk ini adalah jin. “Perintahkan hamba…”

Sungguh kacau, aku tak menduga kalau meteor itu sebenarnya adalah jin pelayan dukun sakti itu. Berbeda dari hantu yang memakan rasa takut dari orang – orang yang hidup di sekitarnya untuk bertambah kuat, kekuatan jin alami dari dalam dirinya. Dengan semakin bertambahnya umur, mereka juga akan semakin kuat. Satu – satunya kesempatanku keluar dari situasi ini hidup – hidup adalah kabur.

Dukun itu menatapku dengan pandangan muram. “Inilah akhir bagimu hantu, semoga kau bisa memaafkanku” lalu ia memerintahkan jin tersebut “Baal, hancurkan makhluk ini...”

Jin itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi – giginya yang runcing ketika aku menoleh ke arahnya. Tapi hanya sesaat, seringai itu berubah menjadi teriak kesakitan ketika aku melontarkan bola api di tangan kananku ke arah matanya. Kemudian ketika perhatian jin itu teralihkan, aku melontarkan diri dari cengkeramanya langsung ke arah si dukun, menembus dinding kabut yang menyelimutinya.

“Hancurlah kau pak tua” teriakku dengan kemarahan yang mengalahkan akal sehatku. Wahyu yang sejak tadi bersiaga di belakang dukun itu tidak tinggal diam, ia menyiramkan air yang kuduga telah diberi mantra sebelumnya ke arahku. Dengan panik aku mencoba menghindar.

Efek dari air ini bagi makhluk sepertiku sungguh luar biasa, rohku meleleh di tempat – tempat yang tersentuh. Kini giliranku yang menjerit kesakitan “Aaaaarrrghhh…!!!”.

Setelah sadar dari keterkejutanya, Baal kembali ke rencana awalnya. Kali ini dengan antusiasme yang lebih besar dari sebelum aku melukai matanya. Aku hanya meringkuk di tanah ketika Baal bertubi – tubi menghajarku. Aku sadar, keadaanku sekarang tidak memungkinkanku untuk melawan lagi. Jadi ketika Baal mengangkat kakiku dan melemparkanku ke dinding rumah, aku hanya pasrah. Bahkan itulah yang aku tunggu sejak tadi. Dengan memanfaatkan tenaga lemparan Baal aku melenting dan menambahkan tenagaku sendiri. Kabur, hanya itu harapanku.

Aku terus berlari hingga akhirnya pertahananku habis dan aku menyerah pada rasa sakit. Ketika aku sadar, aku sudah berada di pinggir daerah perkotaan. Malam ini aku benar – benar hancur. Rohku mulai memudar di beberapa tempat. Tanpa rumah dan tubuh fisik untuk kutinggali, aku akan benar – benar mati. Aku sekarat.

Jadi inilah rencanaku sekarang, aku akan meringkuk di balik tong – tong sampah itu dan menunggu, antara rohku yang memudar atau sinar matahari; aku ingin tahu yang mana yang akan membunuhku terlebih dahulu. Ketika aku duduk dan merenungi nasibku, sesosok mata menatapku. Seekor kucing hitam, dengan luka cakar di dahinya.

“Psssshhhh….” Aku mencoba mengusirnya

“Meeww…” bukannya pergi kucing ini malah mendekatiku. Mengendus endus tumpukan sampah di kakiku.

“Pssshhhh…”

Lagi – lagi kucing itu tak mengindahkanku dan malah mendekati wajahku. Akhirnya aku menyerah dan menutup mataku, berharap bahwa sebelum mati aku akan merasakan sedikit kedamaian.

“Meewww…” aku kembali terjaga, kali ini suara itu bukan lagi keluar dari mulut kucing itu. Suara yang baru saja kudengar berasal dari bibirku.
Diubah oleh rojopurwo
woooow.... emoticon-Takut

sepertinya agan sudah berpengalaman sekaliiii..... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

hihiihiiiii
Gw gagal paham.nih emoticon-Confused
Yg punya thread 2 org gtuh..
Tau sati org tp dua id..
Akhh ko jd pucing ya pala ucink ini
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di