alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
3 stars - based on 35 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/555cab40a2c06ed10a8b4580/condom

Condom.

"Butuh kondom berapa banyak sih? Lo tuh beli.. kalau gak salah ya, tiga kotak setiap minggu."

"Masalah gitu buat lo?"

"Nggak sih.. cuma-"

"Yaudah bagus, diem dan scan aja belanjaan gua"


****

Fara, 19 Tahun, berbakat, selalu terorganisir, dan sedikit keras kepala. Fara sudah punya rencana untuk hidupnya kedepan sejak dia kelas 1 SMP, ketika konselor bimbingan membuatnya menangis karena dia mendapat B di satu tes, dia memutuskan dia nggak akan pernah membuat B lagi, dia akan menjadi seorang perawat, and she wouldn't take a shit from anyone.

Dia seorang kasir.

Di sisi lain, Haza, 20 tahun, lebih ke 'go with the flow' tipe, selalu positif, unik, dan suka menyenangkan orang lain. Haza menyerahkan hidupnya pada takdir. Dia pengen menjadi seorang fotografer, atau mungkin menyanyi, atau mungkin menjadi ahli biologi. Haza belum tau, benar-benar belum yakin. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah soal tattoo terukir di kulitnya, permanen.

Dia.... well, he's a drug dealer.


Hidup fara masih normal dan sesuai rencana, sebelum akhirnya cowok pemborong kondom ditokonya datang merusak semua rencana-rencana fara.


INDEX

1. Yakin Ukurannya?
2. Fancy, Hangover, Navel.
3. I'll See You Later
4. Keep Dreaming, Haz
5. Backseat Serenade
6. Hujan, Kunci, Navel.
Diubah oleh langitsaatsenja
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 8
Wih trir baru..
Nyimak dl yah sist fara..
Judulnya seremm amat emoticon-Hammer (S)
Apakah mengandung hal2 yg di inginkan..
Akh sudahlah..
Biar ts dan tuhan yg tau emoticon-Big Grin
trit baru. asik ni kaynya ngikutin dari awal

ijin nancepin paku bumi ganemoticon-Big Grin
wah kayaknya seru nih emoticon-Big Grin
ijin nenda dimari gan

Yakin Ukurannya?

Fara


Fara menghela nafas sambil merapihkan rambut hitam panjangnya. Mata cokelatnya tertuju pada jam, yang digantung di dinding diatas pintu toilet yang bertatahkan sisa-sisa cairan kotor. Sambil berharap entah bagaimana secara ajaib waktu akan mempercepat sendiri. Tapi jam itu seperti meledek fara, pergeseran tiga jam terasa seperti tiga hari, hari-hari yang lambat di minimarket ditempat Fara bekerja. Orang hampir tidak datang ketempat ini. Itu terutama karena produk di sini tidak hanya hampir melewati batas kadaluwarsa, tapi tempat itu tua, kotor dan tersembunyi dari jalan utama.


Fara sering bertanya sendiri kenapa dia mau kerja di minimarket ini, tapi dia nggak punya pilihan lain. Dia harus cari uang untuk tambahan biaya kuliahnya. Selain itu, dia dibayar untuk cuma berdiri di belakang meja selama beberapa jam sambil bernyanyi keras dengan suara fals, dan bahkan kadang-kadang dapet buku buat dibaca.

Hari ini adalah salah satu hari sial Fara, dia sakit tenggorokan, artinya dia nggak bisa nyanyi buat ngusir rasa bosennya diminimarket. Dia juga lupa untuk bawa buku yang bagus, dan dia kelaparan. Dia hanya berdiri di sana, menunggu semacam hal yang menarik untuk muncul entah dari mana. Setelah beberapa saat, dia jadi lebih bosan.

Fara terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, tapi seketika menegakkan postur tubuhnya, masuk laki-laki memakai celana jeans ketat dan baju hitam bertuliskan 'nirvana' dia berjalan tanpa memperhatikan Fara, yang dengan sopan menyambutnya setelah ia masuk.

Dalam hitungan detik, ia telah menghilang ke salah satu lorong minimarket, dan kebosanan Fara pun kembali. Dagunya bertumpu dimeja kasir, sambil bersenandung lembut mengikuti irama ia diciptakan dengan ujung jarinya.

Fara mendengar seseorang berdehem, dan dia cepat kembali ke posisi profesionalnya, mata cokelatnya bertemu mata hitam laki-laki tadi. Dengan cuek, laki-laki itu menaruh barang belanjaannya- kondom berukuran besar di meja- menunggu Fara untuk melakukan pekerjaannya.

"Permisi, mas, ini ukurannya sudah benar?" Fara bertanya,

Laki-laki itu mungkin mengira Fara mengejeknya, walaupun pada kenyataannya Fara berhati-hati. Meskipun minimarketnya kurang bagus, itu adalah bagian dari kebijakan mereka untuk selalu memastikan bahwa pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan secara akurat. Jadi dalam hal ini, itu adalah ukuran kondom.

"Iya, gue yakin ukurannya bener," kata laki-laki itu sambil memutar matanya, tanda kesal, sebelum akhirnya tersenyum licik, "Kecuali kalau lo mau meriksa sendiri ukurannya pas atau engga."

"Nggak mas, terima kasih," Fara tersenyum palsu, mencoba menyembunyikan rasa jijiknya, "Saya pikir saya sudah sering melihat penis berukuran kecil."

"Whoa, lo suka nonton porno?" laki-laki itu menaruh tangannya didada, pura-pura terkejut.


Fara membenci pelanggan yang kasar, mereka selalu datang dalam berpikir bahwa mereka lebih baik daripada yang lain.

"menjijikkan," Fara berkomentar, sebelum memindai kotak kondomnya.

"Gue cuma bercanda kali mba," anak itu meletakkan dua jarinya tanda damai, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa, "Oh, dan gue saranin mending dibuang aja itu cemilan yang udah kadaluarsa, kecuali kalo lo mau pelanggan pada kena diare."

Fara tertawa, tapi sarcasm penuh diwajahnya,"Sejak kita lagi ngasih nasihat satu sama lain, saya menyarankan mas untuk mendapatkan kotak kondom yang lebih kecil, kecuali jika mas pengen kondom ini menyelip didalam cewek itu pas mas lagi nidurin dia."

"Ya ampun mba, nggak kok, ukurannya udah bener."


Laki-laki itu dengan cepat membayar belanjaannya dan lalu keluar tanpa menunggu uang kembaliannya.

"Wah, ada yang terlalu semangat banget nih buat make kondom-kondom mereka," kata Fara setengah berteriak, sambil melihat pelanggan itu berjalan kearah pintu keluar.

Fara melihat saat pelanggan itu memutar matanya dan berjalan keluar, tidak peduli untuk membalas atau memikirkan ucapan yang bagus untuk membalas perkataan fara barusan.
Diubah oleh langitsaatsenja
Quote:


nama ane bukan fara gan, hehe

Quote:


Ada nggak ya ada nggak yaaaa emoticon-Ngakak

Quote:


sok mangga kang, semoga pakunya nggak lepas sebelum storynya beres yaa emoticon-Big Grin

Quote:


boleh gan boleh emoticon-Big Grin
akuuh kok belum ngerti and lihat barang yang disebut kondom yaa emoticon-Frown

Siapa yang mau liatin emoticon-Hammer (S)
Eh Malah di godain sama cowok pembeli kondom emoticon-Big Grin
Quote:


HAHAHA PERCAYA BANGET ANE GAN HAHAHA

Quote:


ya gitu dah gan emoticon-Ngakak
Quote:


bunda aku juga ga tau nih emoticon-Hammer (S)
padahal iklan di tv kalo tengah malam ada emoticon-Cape d... (S)

numpang izin parkir disini gan
ane bantu emoticon-Rate 5 Star
Quote:


Hee anak kecil belum boleh tau, apalagi make emoticon-Mad emoticon-Hammer (S)

Kasian yang sudah muda kayak saya emoticon-Hammer (S)

====
Lanjuut gan, bantu baca aja
Quote:

dosa make begituan bund. kasih tau yang bener kek anaknya. malah dimarahin emoticon-Cape d... (S)

maaf om ts ane oot bahaha emoticon-Peace
wuih judulnya balon tiup nih emoticon-Hammer (S)
izin buka warung remang remang dimari ya emoticon-Cool
Quote:


makasih gan emoticon-Big Grin

Quote:


hahaha balom tiup. yakali emoticon-Ngakak
Izin parkir gan emoticon-Big Grin

Fancy. Hangover. Navel.

Haza


Haza adalah pengedar narkoba. Dan, benar-benar, fikiran pertamanya saat dia keluar dari minimarket kemarin adalah ; kasir tadi perlu salah satu dari barang dagangannya. Atau mungkin butuh pelukan? Haza bisa membayangkan kasir cantik itu dengan bibir mungilnya melilit pipa, menghirup tajam, asap mengitari di sulur lembut hidungnya.

Dia juga bisa membayangkan merebahkan kasir itu dikasurnya, memeluknya dari belakang dengan Arctic Monkeys bersenandung di latar.

Haza. Dua puluh tahun. Dengan celana jeansnya yang benar-benar ketat. Memasukkan tangannya lebih jauh ke dalam saku jaketnya dan terus berjalan menyusuri jalan-jalan Jakarta yang akrab. Handphone nya terus berdering non-stop selama seminggu terakhir, banyak yang meminta pesanan untuk diisi, dan karena ia belum transaksi sejak -god-know-when- diapun memutuskan mendatangi para pelanggannya.

Ada pedagang jalanan yang selalu ingin beberapa gram, dan tiga cewek SMA yang selalu membeli kokain pada Haza, dan (favorit haza) mahasiswa hukum yang stress, yang mau membayar hampir dua kali lipat untuk setiap pil tambahan dan membuat haza pergi dengan kantong penuh.

Haza tersenyum saat ia mendekati orang tua yang menjual kue-kue di sudut, membuka kantong plastik di sakunya.

"Boleh nih kang kuenya?" Pria itu pun hanya tertawa di belakang meja. "Mau pake cokelat ngga de haz?"

"Pake dong," kata Haza. Hazapun menerima kantong plastik dari sipenjual. "Harus manjain diri sendiri sekali-sekali." lanjut haza sambil berkedip, membayar kuenya. dan transaksi mereka sudah selesai.


Haza pun meninggalkan jalanan itu dengan cemilan hangat dan sedikit lebih banyak uang di sakunya. Hidup itu Indah, mungkin.


Pada saat Haza balik ke kontrakannya -yang ditinggali bersama beberapa temannya-, cemilannya sudah dingin, perutnya sudah kenyang, dan dia beberapa ratus ribu lebih kaya.

Notes didepan pintu kontrakannya yang hampir rusak bertuliskan "lady gaga bikin ilham bangun" dan haza benar-benar nggak ingin memikirkan apa maksud notes itu.

****


Fara


Fara is not a morning person, alarm fara mulai memainkan Gwen Stefani, dan Icha, teman satu kost fara mendengkur pelan di tempat tidur. Alarm kedua berbunyi, Hollaback Girl, dengan mata masih terpejam Icha mematikan alarm itu, Hanya ketika alarm ketiga berbunyi - kali ini Fancy-nya Iggy Azalea, untuk alasan yang jelas - Fara berhasil bangun dari tempat tidur dan berjalan gontai mematikan alarmnya.

"Ca... bangun," fara mendesis, menarik-narik selimut icha.

Icha menggeram. Seperti, geraman harimau.

"Gue butuh air sama advil, hangover parah ini. Nanti baru deh gue pertimbangin gue bakal bangun atau engga" ucap icha, masih dengan mata terpejam.

"Mau nitip absen?" balas fara yang disambut senyuman lebar icha

"Makasihhhhh far! you're the bessst"

"yaudah.. gue mandi dulu ya. oh iya, gue balik kelas langsung lanjut shift siang ya"

"Iya iya bawel"


****

Angin meniup kencang rambut fara dan sweater longgar dipakainya sama sekali tidak membantu; Fara kedinginan. Giginya gemeretak antara satu sama lain.

Minimarket tempatnya bekerja mulai muncul dipandangan, dengan papan nama yang menerangi huruf abjadnya 'Berkah Minimarket'. *idk what to think lol* Warna neon yang digunakan pada papan nama cukup indah, berkilauan di tengah gelap. Setelah beberapa menit berjalan dalam diam dan sepi dari ramainya kota, Fara mencapai tujuannya. Dia mendorong pintu kaca kotor, memasuki minimarket.

"Far?" Seseorang berbicara, membuat fara kaget. Matanya melesat menuju tempat kasir , di mana rekan kerjanya, Navel, berdiri dengan senyum kecil di wajahnya, "Tumben dateng sepuluh menit lebih awal, biasanya terlambat sepuluh menit." Ucap navel sambil tertawa kecil.

"Diam deh velll," fara menghela napas, melemparkan tas tangannya di meja. Fara mengalihkan perhatiannya kembali ke ruangan minimarket, dan seperti biasa, itu kosong dan tenang.


Diam mengambil alih suasana, dan dua remaja berdiri di minimarket bisa merasakan kecanggungan yang ada. Bertukar pandang beberapa kali, mereka terdiam. Jam antik adalah satu-satunya hal yang mengganggu keheningan, berdetak tidak rasional setiap detik.

"Nah, shift gue selesai far," Navel berbicara setelah beberapa menit terdiam. Fara mengangguk, melihat navel melepas apron pegawai yang diharuskan dipakai.

Tersenyum, navel berjalan perlahan kearah fara.

"Oh iya, kita jadi kan sabtu malam nanti?" Tanya navel, sambil memiringkan kepalanya. "Maksudnya, ya, kalau kamu bisa, lagi nggak sibuk. Aku nggak maksa atau apa, Ehm, dan nggak usah nggak enak ngomong ya kalau gak bisa far. Kalau kamu ng-"

"Iya navel, aku pasti dateng kok" sela fara, dengan senyum di wajahnya. Ekspresi navel berubah seperti anak kecil baru diberikan hadiah oleh ibunya.


Fara mulai tertawa perlahan lalu lama kelamaan mulai tertawa lepas karena ekspresi navel benar-benar asdfgjkkl.

"Ehm. Bahagia banget kayaknya" Sebuah suara familiar berbicara, pelanggan pemborong kondom kemarin, dan fara langsung berhenti tertawa, kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.

Giliran si pemborong kondom yang tertawa seperti maniak sekarang.

Fara mendengus kesal dan bangkit, menyilangkan tangan di dadanya. Laki-laki itu memakai pakaian yang hampir sama dengan bajunya kemarib, t-shirt band dan skinny jeans hitam. Dan fara mengakui, -walaupun tidak secara terang-terangan- laki-laki ini cukup manis.
lajutttttttbanggggg
Judulnya bagus ni
Ijin bangun base camp gan
Lanjottt....
Lanjut gan,,
Judulny gimana gituhh

Izin gabung ya condom
Diubah oleh nepanne13
Quote:


okkkkeeebangggg

Quote:


bagus belah mananya dah gan aswkwkwkwk

Quote:


sok mangga gan
Halaman 1 dari 8
×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di